Beranda

2. Era Perjuangan Kemerdekaan

Tinggalkan komentar

Kasihan bangsa yang mengenakan pakaian yang tidak ditenunnya, memakan roti dari gandum yang tidak ia panen, dan meminum anggur yang ia tidak memerasnya.

Kasihan bangsa yang mengangkat orang dungu sebagai pahlawan, dan menganggap penindasan penjajahan sebagai hadiah.

Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan, tidak sesumbar kecuali di reruntuhan, dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya sudah berada di antara pedang dan landasan……

Kasihan bangsa yang negarawannya serigala, filosofnya gentong nasi, dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru

Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya dengan terompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian, hanya untuk menyambut penguasa baru dengan terompet lagi.

Kasihan bangsa yang meremehkan mimpi-mimpinya disaat tidur, sementara menyerah ketika bangun

Kasihan bangsa yang terpecah-pecah, dan masing-masing pecahan menganggap dirinya sebagai bangsa…….

                                                                                                                                                                         – Kahlil Gibran

Setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu dan bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.   Tak pelak lagi betapa bahagianya seluruh rakyat mendengar bangsa kita telah terbebas dari penjajahan sepanjang 350 tahun.   Maospati pun dengan cepat mendengar berita kemerdekaan tersebut.   Hingga Pangkalan Udara Maospati pun mulai dikuasai oleh para pejuang kita setelah Komandan Dai Nippon di Pangkalan Udara Maospati menyerahkan pangkalan kepada Wedono Maospati pada tanggal 27 Agustus 1945.

Sebenarnya sejumlah pemuda Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan eksponen pejuang lainnya telah bersiap-siap untuk menyerbu pangkalan beberapa hari sebelumnya.   Mereka sudah bersiap-siap di sekeliling pangkalan dengan  senjata di tangan.   Mereka hanya menunggu perintah serbu dari pimpinan masing-masing.  Namun mendengar penyerahan diri Kapten Yamata, maka penyerbuan pun dibatalkan.  Pangkalan Udara Iswahjudi diserahterimakan kepada Wedono Maospati dihadiri perwakilan dari bekas pegawai Kaigun Kokusho di Maospati, kepala BKR Maospati, dan pimpinan pemuda Maospati.  Para pejuang kita cepat-cepat mengambil tindakan pengambil alihan dengan tujuan agar bisa segera memasuki Pangkalan Udara Maospati dan bisa mengambil alih peralatannya sebelum Sekutu masuk dan menghancurkannya.

Kericuhan Menyeruak

Awal bulan September 1945, para bekas pegawai Pangkalan Udara Maospati mulai memasuki pangkalan dan berkonsolidasi dalam satu wadah perjuangan yang diberi nama Gabungan Bekas Pegawai Penerbangan Maospati (GBPPM), yang diketuai oleh Kadmadi.   Namun dipihak lain, Batalyon BKR Maospati pun ternyata sudah memiliki rencana mengenai Pangkalan Udara Maospati.   Disatu pihak GBPPM yang notabene penghuni lama pangkalan masih memiliki hak terhadap kelangsungan roda kegiatan pangkalan, dilain pihak ada BKR  yang merasa dirinya sebagai wadah perjuangan tunggal yang diberi hak untuk mengatur setiap aset peninggalan penjajah.   Batalyon BKR Maospati yang dipimpin Kapten Inf Soekotjo ternyata telah mendahului menguasai Pangkalan Udara Maospati dan menyatakan bahwa seluruh aset yang dimiliki pangkalan berada dibawah pengelolaan BKR.

Saat Pangkalan Udara Maospati berada dikuasai Jepang, Kaigun Kokusho (Angkatan Laut Jepang) merupakan satuan induk pangkalan.  Sehingga sebagian pejuang yang berasal dari bekas pegawai pangkalan menganggap bergabung Angkatan Laut adalah pilihan yang terbaik.   Sehingga mereka mengirim utusan ke Surabaya untuk bertemu para pemimpin Angkatan Laut.  Sayangnya, pada tanggal 10 Nopember 1945 telah pecah pertempuran di Surabaya sehingga utusan dari Maospati kehilangan kontak dan tidak berhasil menemui para pemimpin Angkatan Laut di Surabaya.  Bila utusan tersebut bisa bertemu dengan orang yang dimaksud mungkin sejarah pangkalan udara iswahjudi tidak akan seperti sekarang.   Karena sudah pasti Angkatan Laut akan mengambil alih kendali di Maospati. Dan ditengah suasana yang tidak menentu tersebut, maka diambillah keputusan untuk menyerahkan masalah ini kepada Komite Nasional Indonesia Daerah Madiun.

Dari hasil perundingan yang diadakan KNI, Pangkalan Udara Maospati diserahkan kepada BKR yang telah berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat  (TKR) pada tanggal 5 Oktober 1945.   Sehingga Pangkalan Udara Maospati dinamakan Bengkel Oedara TKR. Mengapa dinamakan Bengkel Oedara  ?  Ini dikarenakan aktivitas yang dilaksanakan di pangkalan masih terbatas pada perbaikan.  Pada masa pendudukan Jepang, pangkalan Maospati memang tidak sekalipun dihuni pesawat terbang.  Pangkalan hanya dijadikan tempat menyimpan mesin-mesin pesawat dan bengkel pemeliharaannya.

Menanggapi keputusan KNI, dikalangan GBPPM sendiri timbul perpecahan pendapat.   Segolongan pegawai menyetujui keputusan KNI Daerah Madiun, dan sebagian yang lain menolak.   Kedua belah pihak tidak ada yang mau mengalah.   Suasana yang demikian ricuh ini tidak mampu terselesaikan sampai akhir kepemimpinan Soekotjo yang kemudian diganti oleh Kapten Inf Soendoro pada akhir tahun 1945.

Dalam GBPPM terbelah menjadi dua kelompok yang berseberangan yaitu, kelompok pro Kadmadi  dan kelompok pro Soeratmin.   Kelompok pro Kadmadi menyetujui keputusan KNI dan menghendaki militerisasi anggota sedangkan kelompok pro Soeratmin menghendaki seluruh anggota GBPPM masuk Barisan Buruh Indonesia (BBI) dan menolak usulan militerisasi pangkalan.   Kelompok pro Soeratmin menghendaki agar Pangkalan Udara Maospati dijadikan pangkalan sipil.   Kelompok pro Kadmadi mendapatkan dukungan dari TKR, hingga membuat kelompok pro Soeratmin naik pitam.   Kelompok pro Soeratmin mengadakan aksi mogok dan aksi intimidasi terhadap kelompok pro Kadmadi.

Anggota Kadmadi berjumlah kurang lebih 201 orang dengan sebutan yang unik yaitu 150 orang disebut laskar, 11 orang disebut kakak, dan 40 orang tokoh pendukung.  Saat gangguan dan perselisihan telah didamaikan, pimpinan pasukan pangkalan diserahkan kepada Kadmadi dan komandan pangkalan masih dijabat oleh Kapten Inf Soendoro dari TKR Maospati. Kelompok 11 kakak dan 150 laskar akhirnya menjadi inti dari pasukan keamanan pangkalan, yang diberi nama Pasukan BKO (Bengkel Kapal Oedara) TKR Maospati, yang selanjutnya diganti dengan nama Tentara Tehnik Penerbangan (TTP) BKO TKR Maospati. Ditunjuk sebagai Komandan TTP Maospati adalah B. Soeprapto, dengan komandan kompi, Soekarno.  Sedangkan yang disebut sebagai kelompok 11 adalah  B. Soeprapto,  Tarimo, Sulasmo, Sandi, Sungkono,     Djoko, Bedjowijono, Sujono, Sukarno, Soponjono dan Kustur.

Kelompok 11 yang membentuk pasukan pertahanan pangkalan ini telah memiliki  senjata  LE peninggalan Jepang.   Sedangkan kelompok 150 menggunakan senjata bambu runcing.  Tugas mereka praktis hanya melaksanakan pengamanan di  wilayah pangkalan.

Pada tanggal 9 April 1946, Angkatan Udara berdiri dan semua  TKR Jawatan Penerbangan yang ada di daerah mulai bergabung. BKO TKR Maospati sendiri segera melaksanakan persiapan penggabungan dengan Markas Besar (MB) AURI, setelah berhasil mengadakan hubungan dengan Yogyakarta.  Pada tanggal 5 Mei 1946, BKO TKR Maospati diserahterimakan dari Komandan Resimen TKR Madiun kepada MB AURI.   Dengan demikian sejak tanggal tersebut, secara resmi BKO TKR Maospati menjadi milik AURI dan disebut sebagai Pangkalan Udara Nasional.  Ditunjuk sebagai komandan pangkalan adalah Opsir Udara I Prof. Dr. Abdulrahman Saleh yang merangkap jabatan sebagai Komandan Pangkalan Udara Bugis, Malang.  Sebagai wakil komandan adalah H. Soejono yang juga berasal dari Lanud Bugis, Malang.

Pada pertengahan tahun 1946, MB AURI mengirim anggota Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) untuk memperkuat Pangkalan Udara Maospati.   Sehingga tugas-tugas yang biasanya dilakukan oleh kelompok 11 dan 150 selesai sudah.   Setelah itu mereka disalurkan ke kesatuan-kesatuan sesuai dengan bakat dan keahliannya masing-masing.

Perjuangan Kemerdekaan I

“Indonesia adalah bangsa yang paling halus di bumi, Het Zachtste volk op aarde,”   kata P. Heijboer dalam bukunya berjudul “Agresi Militer Belanda”.   ”……Negeri ini dihuni oleh suatu kaum yang sangat pemaaf, suatu kaum yang menerima siapapun dengan hati lapang.   Sehingga bangsa asing yang tinggal di Indonesia akan merasa seperti di negaranya  sendiri, termasuk para penjajah Belanda……” lanjutnya.

Mungkin dengan pemahaman seperti diungkapkan oleh P. Heijboer, Belanda pun datang lagi ke Indonesia tanpa malu-malu pasca kemerdekaan, dengan alasan telah ikut membebaskan Indonesia dari penjajahan Jepang.   Di luar dugaan Belanda, ternyata aksi perlawanan berkobar di mana-mana.    Dan dengan terpaksa Belanda harus menandatangani Persetujuan Linggar Jati pada tanggal 25 Maret 1947.  Pertempuran untuk sementara waktu berhenti.

Seperti apa yang terjadi saat ini di Aceh, ternyata jeda pertempuran atau gencatan senjata, hanya dimanfaatkan pihak musuh untuk mengkonsolidasikan kekuatannya.   Tak lama setelah persetujuan gencatan senjata tersebut, Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya baik di darat maupun di udara untuk melancarkan serangan balik terhadap posisi pertahanan TNI.   Pada tanggal 21 Juli 1947, Belanda melancarkan operasi militer yang disebutnya dengan Aksi Polisionil.   Mengapa Aksi Polisionil  ?  Belanda ternyata masih mengasumsikan dirinya sebagai Polisi, sebagai penguasa sah, sebagai bangsa yang berhak atas wilayah Indonesia, sedangkan para pejuang dianggap kelompok pemberontak yang mencoba melawan pemerintahan sah kolonial Belanda.   Para pejuang kita sendiri menyebut tindakan ini sebagai Agresi Militer, ada juga yang menggunakan istilah Clash.  Sedangkan oleh para generasi saat ini, perjuangan para pahlawan tersebut dinamakan Perang Kemerdekaan I.

Dalam Agresi Militer I, Belanda ternyata sudah memperhitungkan kekuatan udara AURI.   Sehingga pangkalan-pangkalan udara AURI ikut menjadi sasaran pengeboman.   Hampir semua pangkalan udara besar di Jawa seperti Gorda, Cibeureum, Kalijati, Jatiwangi, Panasan, Pandanwangi, Bugis, dan Maospati, mendapat jatah serangan dari pesawat-pesawat tempur Belanda.   MB AURI dan Pangkalan Udara Maguwo terhindar dari serangan udara karena tertolong cuaca buruk dan kabut tebal yang menyelimuti kota Yogyakarta, sehingga pesawat-pesawat tempur Belanda tidak dapat masuk.

Serangan terhadap Pangkalan Udara Maospati dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 1947 sekitar jam 06.00 pagi.         Pagi itu, Maospati dikejutkan oleh suara pesawat yang meraung-raung di atas pangkalan.  Setelah itu suara ledakan pun menggelegar, buummmm buummm ddiieeerr !  Bangunan-bangunan di dalam pangkalan banyak yang hancur karena serangan udara tersebut.

Workshop dan tempat montage pesawat menjadi sasaran serangan, hingga keduanya rusak berat.      Para prajurit AURI di Maospati pun ternyata sudah mengetahui rencana serbuan tersebut.  Sehingga pesawat-pesawat (termasuk hasil rancangan Nurtanio), mesin-mesin, dan peralatan lainnya sudah disingkirkan keluar pangkalan.  Pangkalan hanya bisa bertahan/menghindar dari serangan tersebut, mengingat minimnya persenjataan, dipimpin oleh wakil komandan pangkalan, H. Soejono.

Berita sedih menyelimuti seluruh pejuang Maospati mendengar gugurnya komandan pangkalan, Opsir Udara I Prof. Dr. Abdulrahman Saleh, akibat serangan pesawat Kitty Hawk Belanda di atas Maguwo.   Jabatan komandan diserahkan kepada Opsir Udara II Iswahjudi.

Mati satu tumbuh seribu, demikian semboyan para pejuang.   Para prajurit udara Maospati melakukan taktik gerilya dan mundur didaerah hutan-hutan di dekat Magetan, lereng Gunung Lawu saat pasukan Belanda masuk ke Maospati.  Mereka bergabung dengan pasukan dari Angkatan Darat dan Brimob.

Aksi Polisionil berlangsung pada tanggal 21 Juli  s/d 5 Agustus 1947.  Perjanjian Renville kemudian ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948, untuk mengakhiri konflik antara Belanda dan Indonesia.   Saat Belanda meninggalkan Pangkalan Udara Maospati, maka prajurit yang bertugas melaksanakan serah terima adalah Hardjono, komandan gerilya sektor utara Maospati.

Pemberontakan PKI Madiun

Pergolakan kedua yang harus dihadapi oleh Pangkalan Udara Maospati pasca kemerdekaan adalah saat Muso Djokosujono memimpin pemberontakan PKI Madiun.  Pemberontakan dimulai pukul 03.00 dini hari, tanggal 18 September 1948, saat   Muso memproklamirkan negara PKI Madiun Merdeka di salah satu bangunan milik pabrik gula (PG) Rejo Agung, yang terletak di tengah kota Madiun.  Ditandai dengan rentetan tembakan panjang dari pusat kota Madiun,  mereka berusaha merebut obyek-obyek vital, termasuk Pangkalan Udara Maospati.

Beberapa bulan menjelang meletusnya pemberontakan PKI, sebenarnya sudah terlihat gejala-gejala semakin meningkatnya aksi-aksi gangguan keamanan di Madiun termasuk desa-desa sekitar pangkalan.   Perampokan, pemcurian, dan penyerangan instansi pemerintahan terjadi di banyak tempat.   Di kalangan masyarakat menyebar hasutan-hasutan yang isinya mendeskreditkan pemerintah dan mengajak para warga agar ikut mendukung program-program PKI.   Aktivitas PKI meningkat pesat sejak kedatangan tokoh lama PKI, Muso, yang telah belajar taktik dan strategi komunis selama 20 tahun di Uni Soviet.

Dalam waktu setelah pemberontakan dimulai, PKI mulai menguasai kota Madiun.   Pangkalan Udara Maospati tak luput dari sasaran penyerbuan.   Beberapa tindakan yang dilakukan para simpatisan PKI terhadap Pangkalan Udara Maospati adalah  mengepung pangkalan dan merampas senjata-senjata inventaris.  Mereka juga memerintahkan penghancuran landasan tetapi tidak dilaksanakan oleh anggota-anggota pangkalan.   Maksud dari penghancuran landasan adalah agar landasan tidak bisa digunakan untuk pendaratan pesawat bantuan dan pesawat-pesawat yang sudah ada di pangkalan tidak bisa mengudara.Namun perintah ini tidak dilaksanakan oleh para prajurit.  Melarang semua pesawat-pesawat yang ada untuk mengudara.   Namun dengan diam-diam, dua penerbang kita bisa meloloskan sebuah pesawat yang diawaki oleh Suhanda dan Santoso.   Mereka berhasil mengudara dan terbang ke Maguwo, Yogyakarta.

Stasiun radio pangkalan juga dirampas oleh orang-orang PKI sehingga hubungan antara pangkalan dan Markas Besar AURI di Yogyakarta terputus.   Kebetulan sebelum peralatan tersebut dirampas, pimpinan pangkalan sudah menerima instruksi dari  Yogya bahwa AURI tidak mendukung pemberontakan tersebut dan mendukung pemerintah yang sah.

Komandan pangkalan Maospati Opsir Udara I dr. Kornel Singawinata tidak bisa berbuat lebih banyak lagi menghadapi PKI yang menamakan dirinya sebagai Front Demokrasi Rakyat (FDR).   Kekuatan pangkalan hanya satu kompi pasukan tanpa senjata.   Kegiatan mereka hanya mengamankan pesawat terbang peninggalan Jepang, bengkel, dan gudang..

Peristiwa yang sangat mendebarkan adalah saat seluruh pimpinan pangkalan dan 150 anggota dikumpulkan oleh orang-orang PKI yang dipimpin Letkol Djoko Sujono dalam salah satu bangunan di PG Rejo Agung.  Pada awalnya, mereka dipaksa berkumpul disana dengan alasan untuk mendengarkan penjelasan dari Muso.  Namun demikian, pembantaian terhadap orang-orang pemerintah sudah terjadi dimana-mana saat itu.  Rupanya, PKI sudah menyiapkan rencana busuknya.   Mereka akan membantai para pimpinan pangkalan bila dalam pertemuan di PG Rejo Agung itu tidak ada kesepakatan.   Ternyata Tuhan masih melindungi mereka.   Berkat usaha gigih dari komandan POL AU Maospati, Opsir Muda Udara III Istihardi dibantu pejabat lainnya, seluruh pimpinan pangkalan yang disekap berhasil dibebaskan.

Bagi pimpinan pangkalan sendiri, memang mengahadapi sebuah situasi yang serba sulit.   Untuk menentang secara terang-terangan terhadap kaum pemberontak rasanya tidak mungkin dan bisa berarti bunuh diri.   Mungkin tidak ada masalah dengan jiwa para prajurit bila bertempur dengan para pemberontak.   Namun aksi pembantaian terhadap para penentang PKI berlaku terhadap sanak keluarga dan orang di sekitarnya.   Kekuatan PKI Madiun sedemikian besar, sehingga kekuatan militer yang ada di Madiun sendiri sudah tidak ada artinya saat itu.    Sehingga pimpinan pangkalan memutuskan untuk bertindak persuasif.

PKI juga sudah menjadi gerakan klandeistein dan berhasil menyusup kemana-mana.   Di dalam pangkalan sendiri disinyalir telah tersusupi dengan simpatisan PKI, setelah tertangkapnya Darmo Sukiman.   Di tempat lain, batalyon Sukowati AD yang berkedudukan di Maospati telah terlebih dahulu menyingkir secara tiba-tiba ke daerah Wali Kukun, Ngawi.   Sedangkan prajurit AURI tidak mungkin meninggalkan pangkalan dengan berbagai macam aset yang sangat sulit dipindahkan.   Para prajurit udara yang bertahan di pangkalan bertindak sangat hati-hati, sambil berkoordinasi dengan satuan yang lain.

Pada akhir September, pasukan dari Divisi Siliwangi sudah berdatangan di sekitar Madiun.  Opsir Muda Udara III R. Suprantiyo diam-diam menghubungi pasukan Siliwangi yang sudah berada di Magetan.   Setelah diadakan pembicaraan tentang segala taktik penyerbuan pangkalan, pada tanggal 30 September jam 21.00, pasukan Siliwangi menyusup ke dalam pangkalan atas bantuan prajurit udara.   Dengan cepat mereka menyebar ke seluruh  pangkalan, sehingga pada tanggal 1 Oktober  jam 06.00, seluruh pangkalan berhasil dikuasai.

Operasi militer yang dilaksanakan oleh divisi Siliwangi ini disebut Gerakan Operasi Militer (GOM) I dan memakan waktu dua setengah bulan.   Dimulai dua hari setelah pemberontakan meletus dan berakhir bulan Desember 1948.   Banyak pimpinan PKI Madiun yang terpaksa ditembak mati, termasuk Muso sendiri.   Namun sebagian yang lain termasuk Nyoto dan Aidit berhasil melarikan diri ke luar negeri.

 

Perjuangan Kemerdekaan II

Setelah kekacauan nasional akibat agresi militer Belanda dan pemberontakan PKI, pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda dengan terang-terangan melanggar persetujuan gencatan senjata yang tertuang dalam perjanjian Renville.   Belanda melancarkan serangan besar-besaran terhadap pemerintah sah RI.   Yogyakarta yang saat itu menjadi ibukota negara, dikepung dan diserang habis-habisan.   Harapannya, Belanda bisa menangkap para pemimpin kita pada saat itu.   Dengan menangkap semua pemimpin negara, maka perlawanan yang ada di daerah-daerah diperkirakan menjadi lumpuh.  Belanda memang berhasil menangkap para pemimpin RI.   Namun bagi para pejuang, perlawanan ternyata tidak pernah padam.

Selain Yogyakarta, Belanda juga mulai menyisir menuju Solo.   Setelah Solo jatuh, mereka mulai bergerak menuju Madiun.   Pada awalnya pasukan Belanda akan melewati  jalan besar Sragen – Ngawi – Maospati.   Namun rakyat ternyata sudah menutup jalan tersebut dengan menumbangkan pohon di sisi jalan dan menjebol jembatan.   Sehingga Belanda mengubah rutenya melewati lereng Gunung Lawu yaitu, Tawangmangu – Cemorosewu – Sarangan – Plaosan – Magetan – Maospati.   Gerakan ini ternyata mengejutkan para pejuang yang sebagian berada di lereng Gunung Lawu.   Sehingga terjadi kontak senjata yang menewaskan beberapa prajurit Pangkalan Udara Maospati, yaitu  Kopral Dimun,Opsir Muda Udara I Sutanandika, Sumo dan Sujono

Karena mendapatkan tekanan kekuatan Belanda, para pejuang mulai bergerak ke timur menuruni lereng Gunung Lawu.   Para pejuang AURI bergerak menuju Caruban dan menjauh lagi menuju Jombang dan Kertosono.   Dalam suatu serangan kejutan, beberapa prajurit pangkalan gugur lagi, yaitu  Prajurit Udara Suwadji, Kopral Udara Ponidin dan Kopral Udara Suhab.

Setelah terpecah-pecah dalam kelompok-kelompok kecil, komandan pangkalan Maospati, Opsir Udara II RI Mantiri, memerintahkan seluruh pasukan agar bergabung dan kembali ke Maospati.   Hal ini dilakukan karena adanya pengunduran posisi pasukan Belanda menuju Solo.   Setelah pasukan bisa bergabung, mereka bergerak kembali ke Maospati melewati Campur Darat dipimpin oleh Opsir Muda Udara III R. Suprantiyo.  Saat sampai di Lembeyan,  pasukan tersebut bertemu dengan pasukan Angkatan Darat.  Mereka bergabung dan menuju Maospati bersama-sama.  Di Maospati, mereka membagi diri menjadi 3 sektor gerilya yang berposisi di Jajar, Pingkuk, dan Belotan.

Agresi Militer Belanda II akhirnya bisa diselesaikan melalui Konperensi Meja Bundar (KMB) yang dilaksanakan tanggal 23 Agustus s/d  2 Nopember 1949.   Belanda akhirnya mengakui kedaulatan RI.   Daerah pertama di Jawa Timur yang dikosongkan pasukan Belanda adalah Madiun, termasuk Maospati didalamnya.

Nurtanio Dalam Era Andong, Di mana Kamu Sekarang ?

Pada periode pasca kemerdekaan merupakan saat berat bagi bangsa Indonesia.  Konsolidasi hanya bisa dilakukan dengan modal yang sangat terbatas.  Apalagi dalam era 1947 s/d 1948, Maospati menjadi palagan pertempuran yaitu, Agresi Militer I, Pemberontakan PKI, dan Agresi Militer II.  Dalam era ini, perjuangan berat telah dilakukan oleh para prajurit pangkalan Maospati.   Sebelum bergabung dengan MB AURI, para prajurit tidak pernah digaji.   Para prajurit yang tidak memiliki sarana transportasi yang memadai.   Mereka menggunakan andong yang digunakan bersama-sama.   Komandan pangkalan pun berkendaraan dinas sebuah andong.   Salah satu kusir andong komandan pangkalan, tercatat nama Prajurit Dua Sakimin.  Era ini banyak dikenang para sesepuh sebagai “era andong”.

Sebenarnya pasca kemerdekaan, para pejuang udara Maospati sudah menunjukkan hasil kerja yang baik.   Mereka merehabilitasi pesawat latih seperti Curen, Cukiu, dan Guntai. Rehabilitasi yang lain dilakukan pada pesawat tempur peninggalan Jepang seperti, Hayabusha, Nisikoren, dan Belnheim-Sakai.    Salah satu pesawat yang digunakan untuk pengeboman di tiga kota (Semarang, Ambarawa, dan Salatiga) pada tanggal 29 Juli 1947 adalah hasil rehabilitasi di Maospati.

Pangkalan Udara Maospati adalah pangkalan utama bidang tehnik saat itu, dan tidak memiliki kekuatan pesawat satupun. Walaupun tidak memiliki kekuatan pesawat, jawatan bidang tehnik AURI dipusatkan di Maospati.

Usaha yang dilakukan oleh para prajurit udara di Pangkalan Udara Maospati pada era 1945 s/d 1960 adalah dengan mengadakan konsolidasi kegiatan, sebagai berikut  :

1.   Pembentukan Sekolah Tehnik Oedara (STO) pada tanggal 30 September 1946 dengan jumlah siswa 40 orang, dengan perincian 20 siswa berasal dari pangkalan-pangkalan di Jawa seperti, Tasikmalaya 9 orang, Yogyakarta 4 orang, Panasan 2 orang, Kalijati 1 orang, dan Maospati sendiri sebanyak 2 orang.   Siswa umum lulusan SMP dan sederajat sebanyak 20 orang.  Pendidikan di STO dilaksanakan selama 2 tahun.   Beberapa staf pengajar yaitu, Ibrahim Bekti, Wiweko Supono, Sapari, Sidik, Edi dan Suwarna.

2.         Pembentukan bagian tehnik yang dipimpin oleh Opsir Muda Udara I Suratman.  Bagian ini bertugas menyelenggarakan perawatan dan assembling pesawat-pesawat peninggalan Jepang yang ada di Maguwo, Bugis, dan Maospati sendiri.

3.         Pembentukan bagian perhubungan yang dipimpin oleh Opsir Muda Udara II Jan Lakuhay, yang bertugas di bidang radio telegrafi.  Bagian inilah yang menghubungkan pangkalan udara Maospati dengan pangkalan lain di Jawa dan Sumatera.  Bagian ini juga memelihara burung merpati pos.  Merpati pos pernah berjasa saat disertakan dalam operasi penumpasan pemberontakan PKI Madiun.   Komunikasi dari pasukan Siliwangi yang sedang mengejar pemberontak di pelosok desa-desa terpencil ke pangkalan memakai jasa merpati pos ini.

4.         Pembentukan biro rencana dan konstruksi yang dipelopori oleh Opsir Udara II Wiweko Supono dan Opsir Muda Udara II Nurtanio Pringgo Adisuryo, dengan hasil karyanya sebagai berikut   :

  1. Pembuatan glider (pesawat luncur) sebanyak 6 buah.   Bahan-bahan pesawat ini berasal dari sisa-sisa pesawat Jepang.  Pesawat-pesawat tersebut diberi huruf regristasi NWG, Nurtanio Wiweko Glider.  Pesawat glider ini nantinya dipakai oleh calon kadet penerbang kita yang akan berangkat ke sekolah penerbang di India.
  2. Pembuatan pesawat olah raga ²piper cup² yang mesinnya diambil motor Harley Davidson 2 silinder, dengan kekuatan 15 PK.  Pesawat ini dinamakan pesawat NURWEKO.  Pesawat ini selanjutnya bernomor registrasi RI X, dan dikenal  dengan nama WEL I.

3.         Pembuatan pesawat Blenheim yang dibuat dari airframe pesawat Bristol Blenheim MK IV dan mesin Nakajima Sakai dibawah pengawasan Opsir Muda Udara II Sadjad.  Pada tanggal 13 Nopember 1946 diadakan uji terbang oleh Suhanda dan dihadiri Panglima Besar TNI Jendral Sudirman.  Pesawat ini mampu terbang selama 15 menit, namun mengalami kecelakaan karena daya dorong mesin pesawat masih kurang stabil.  Pesawat rusak total, namun       penumpangnya yang berjumlah 6 orang dapat diselamatkan.  Mesin pesawat ini memiliki kemampuan 850 HP dan 7 buah silinder.  Sedangkan pesawatnya sendiri mampu terbang dengan kecepatan 350-480 km/jam. Suhanda adalah penerbang Jepang yang kemudian menjadi warga negara Indonesia.

4.         Usaha merakit helikopter eksperimen juga dilaksanakan oleh Opsir Muda Udara Joem Soemarsono dibantu Sersan Mayor Udara Sunanto.   Kedua orang itu telah menciptakan helikopter pertama di Indonesia dengan registrasi RI – H.   Sayangnya helikopter eksperimen ini rusak total akibat Agresi Militer Belanda II.

Pada saat itu, tidak satupun pesawat peninggalan Jepang di Maospati yang bisa diterbangkan.  Selama masa pendudukan Jepang sendiri, Pangkalan Udara Maospati tidak digunakan sebagai pusat pertahanan.  Pangkalan ini hanya jarang disinggahi armada Jepang, kecuali pada saat Jepang akan menyerbu armada Douglas Mac Arthur di Australia.  Fungsi Pangkalan udara Maospati sendiri hanya menjadi bengkel-bengkel mesin pesawat Jepang, bukan sebagai pangkalan tempur.

Nurtanio memang memiliki peran yang besar dalam pengembangan riset pesawat terbang dalam negeri.  Pada masa selanjutnya, Nurtanio memimpin jawatan tehnik udara dan menghasilkan berbagai macam prestasi, seperti pembuatan pesawat RADAR, penelitian bom napalm dan bahan-bahan roket, pembuatan roket launcher, dan pembuatan pesawat intai ringan NU-200, Si-Kumbang.  Eksperimen ini nantinya berkembang dengan pembuatan NU-225, Si-Kumbang II pada tahun 1957.  Pada tahun 1958, diciptakan lagi pesawat eksperimen NU-25, Si-Kunang, dan NU-85, Si-Belalang.

Tidak berlebihan kiranya bila Nurtanio dan kawan-kawan telah berhasil meletakkan dasar-dasar bagi industri pesawat terbang nasional.  Pada saat itu beliau memprakarsai pendirian Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP).  Kelak, lembaga ini bernama lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (LIPNUR), yang berada di Pangkalan Udara Husein Sastranegara, Bandung.

Perjuangan yang telah dilakukan oleh Nurtanio pada masa awal kelahiran riset pesawat terbang di dalam negeri, tidak bisa dibandingkan dengan pahlawan baru model apapun. IPTN memang telah menjadi besar sekarang.  Tapi yang tidak bisa dilupakan, seorang Nurtanio lah yang melahirkannya.   Nama mungkin boleh berubah, tapi keharuman Nurtanio sudah pasti semerbak hingga hari ini.   Kalau datang ke IPTN, disana anda akan membaca kata-kata, ”IPTN, 23 August 1976, Prof. Dr. Ing Habibie….” .    Lho, Nurtanio, dimana kamu berada ?

Mungkin inilah sudah menjadi cirikhas bangsa kita yang sering lupa untuk menghargai jasa para pendahulu bangsa. Generasi saat ini sepertinya hanya pandai menghujat dan mencari kekurangan tanpa mau berterima kasih dengan apa yang sudah dikorbankan para pahlawan. Saat sebuah generasi bangsa kita merasa menjadi sebuah sosok yang hebat, betapa  sombongnya bila hasil yang diperolehnya itu seakan-akan melebihi dari apa yang telah dilakukan oleh para pejuang sebelumnya.  Sebuah generasi yang hanya bisa sombong di atas nisan para pahlawan, namun tidak pernah berhasil membawa bangsa ini menuju sebuah masa yang lebih baik.   Bila kita ingin mencari perbandingan, lihatlah   bangsa RRC yang dengan bangganya selalu memajang foto Sun Yat Sen dalam setiap Upacara Kemerdekaan, terlepas segala kekurangan dan kelebihan. Tengoklah bangsa kita yang telah melewati tiga presiden, namun semuanya pensiun dengan cara dihujat.

1. Hari-Hari Awal Di Maospati

Tinggalkan komentar

Maospati,  1 Januari 2011

Kepada Yth, Bapak Iswahjudi

Salam hormat saya, semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan rahmat kepadamu selalu.

Bapak, dengan surat ini saya ingin menceritakan kisah hidup saya kepadamu.   Semoga Bapak sudi meluangkan waktu.

Saya ingat sekali saat itu Maospati sedang berada di musim panas.  Semua pohon tampak kering, dan angin bertiup cukup kencang.  Saya adalah si anak kecil bercelana pendek dan bersandal jepit, yang tangannya sedang digandeng oleh ibunda terkasih.  Kami suatu hari terlihat orang sedang berjalan cepat di bawah terik siang hari.  Bermaksud mengimbangi langkah kaki ibunda, saya pun melangkah lebar-lebar dengan terpaksa. Saya, si kecil dekil yang hari itu belum genap berusia 10 tahun, harus absen dari sekolah dan pergi ke rumah sakit.

Sejak pagi saya sudah menyiapkan baju batik, dan satu-satunya celana panjang yang saya miliki.  Ibunda berkata semalam, pagi itu beliau akan mengantar saya berobat ke kota Maospati, 6 km dari rumah.  Bapak Iswahjudi, mungkin banyak orang menyebut Maospati dengan awalan kata desa.   Tapi saya sendiri lebih suka menyebutnya dengan kata kota, karena kondisi tempat tinggal saya sendiri jauh lebih terbelakang dari Maospati.

 Saat berangkat dari rumah tadi, ada sebuah bayangan yang seakan-akan bakal hadir dihadapan saya.  Bayangan akan kehidupan masa depan saya.   Saya memang sering seperti itu Bapak.  Saya sering bermimpi tengah berada dalam kehidupan masa depan yang penuh dengan kebahagiaan perjuangan.  Saya pernah bermimpi berada ditengah badai dan menari diatasnya.  Saya sering bermimpi dipeluk dan digendong para pahlawan,  Saya sering bermimpi dipeluk dan digendong olehmu.   Mimpi-mimpi itu Bapak, adalah sebuah cahaya bagi kehidupan saya yang sehari-harinya penuh derai tetesan keringat dan air mata.

Saat ibunda menarik tangan saya untuk masuk angkutan pedesaan, pandangan saya langsung berkeliaran kemana-mana.  Bapak Iswahjudi terhormat, bepergian adalah sebuah saat yang paling jarang saya lakukan pada masa itu, apalagi merasakan sesuatu yang enak lainnya.  Saya tumbuh dalam kemiskinan.  Hingga saya punya doa yang selalu menjadi teman setia sujud tangis saya, ” Ya Tuhan bersandinglah selalu  dengan harapan-harapan dan keyakinan saya, bawalah keyakinan saya dalam kasih kuasa-Mu, dan jernihkanlah keraguan-raguan saya dengan kepastian-Mu.  Karena apapun yang terjadi, saya adalah milik-Mu……Bila saya melangkah, jadikan itu sebagai langkah-Mu”  Sebuah doa yang selalu membentengi diri saya dari semua kesedihan dalam suasana hidup yang serba kekurangan dan cobaan.

 Bapak Iswahjudi terkasih, yang siang malam selalu terbayang,  saat saya berada dalam angkutan pedesaan, tiba-tiba ada sebuah benda kecil sedang melayang rendah dari kejauhan, tertangkap sudut mata saya.   Dengan mata berbinar-binar saya pun dengan serta merta menepuk-nepuk badan ibunda,   “ibunda…ibunda…ada pesawat……ada pesawat tempur datang !”  Kalimat yang meluncur dari mulut saya begitu menarik perhatian semua penumpang.   Namun saya tidak peduli Bapak.  Saya yakin, semua anak kecil pasti akan berteriak-teriak seperti saya saat melihat pesawat tempur lewat di atas langit.  Bapak, sejak saya mengenal baca tulis saya begitu terpesona dengan pesawat tempur. Suatu saat nanti saya ingin duduk di cockpit pesawat tempur dan memberi salam kepada ibunda yang setiap hari mengirim kekuatan doa untuk saya.      Hingga saat pesawat itu menderu di atas kepala saya, air mata saya menetes tanpa kuasa membendungnya.

Bapak Iswahjudi,  lima belas tahun setelah peristiwa itu saya ternyata sudah mewujudkan bayangan-bayangan itu.  Saya sudah duduk di cocpit pesawat tempur saat ini. Saya bisa melayang-layang dan menukik di sudut cakrawala setiap hari.  Ini tak luput dari jasa-jasamu.  Saya begitu berterima kasih atas rengkuhan kasihmu.   Saya tidak pernah ragu apapun yang akan terjadi di masa depan saya.   Yang terpenting, kini saya sudah ada dalam gendonganmu. 

Bapak Iswahjudi, kata orang kini saya sudah menjadi pemuda gagah.  Bukan lagi anak kecil kerempeng yang setiap pulang sekolah sering berlari-lari di pematang sawah sambil berteriak-berteriak, “Saya ingin mencari keseimbangan…..mencari keseimbangan alam……mencari keseimbangan hukum Tuhan !”

Bapak Iswahjudi terkasih, walaupun kini engkau sudah ada di alam baka, saya akan selalu terkenang kebaikanmu. Engkaulah pengisi impian masa kecilku.   Semoga, saya tetap menjadi penerbang tempur yang baik, setia pada Angkatan Udara, berbhakti pada ibunda, dan mampu memelihara rasa takut pada Tuhan Yang Maha Pengampun.  Bapak, berikan restumu selalu.

 Dari Si Kecil penerusmu

Iswahjudi, Siapa Dia  ?

Iswahjudi lahir pada tanggal 15 Juli 1918 di Surabaya.  Sangat beruntung bila dia termasuk pemuda pribumi yang dapat mengenyam pendidikan di sekolah Belanda.  Iswahjudi menyelesaikan pendidikan HIS dan MULO di Surabaya, sebelum melanjutkan ke AMS Malang. Di AMS Malang,  Iswahjudi hanya bertahan sampai tingkat II (setahun) sebelum berubah pikiran untuk pindah ke NIS (sekolah dokter Belanda) di Surabaya.

Saat di NIS, Iswahjudi mendengar ada pembukaan sekolah penerbang Belanda untuk pemuda pribumi.  Dan cita-citanya pun berubah setelah itu.  Rupanya profesi penerbang lebih menarik minatnya.  Hal ini bisa dimaklumi, karena belum satupun pemuda pribumi yang berkesempatan mengenal apalagi menjadi penerbang.   Dan setelah melalui berbagai macam tes, Iswahjudi termasuk dalam calon siswa penerbang yang akan dididik di sekolah penerbang sukarela Vrijwillig Vliegers Corps (VVC) di Kalijati, Jawa Barat.

Lalu mengapa Belanda tertarik untuk merekrut pemuda pribumi untuk menjadikannya penerbang ?   Semua itu ternyata bersumber pada kekacauan dunia saat itu.  Pada tahun 1940, di Eropa telah berkobar perang besar yang dicetuskan oleh Adolf Hitler.  Sedang di Asia, Jepang sedang gencar-gencarnya mengobarkan Perang Pasifik. Angkatan Udara Belanda, Militaire Luchtvaart (ML), tentunya menjadi sangat khawatir dengan posisinya, baik di Eropa maupun di tanah jajahannya.  Belanda sudah tidak bisa lagi mengirim bantuan tenaga penerbang ke Indonesia, karena di Eropa sendiri mereka sangat kekurangan personel.  Pemerintah kolonial Belanda akhirnya mengumumkan pemberian kesempatan kepada pemuda-pemuda pribumi untuk bergabung dalam korps penerbang sukarela VVC.

Dalam tahun 1941, situasi politik di Asia semakin memanas.  Dalam bulan Oktober, para siswa VVC yang sebenarnya masih dalam proses pendidikan sekolah penerbang direkrut dalam wajib militer.  Kegiatan sekolah penerbang VVC dihentikan dan semua siswa harus mengangkat senjata bergabung dengan pasukan Belanda.  Saat Jepang memulai PD II, dengan melaksanakan serangan udara atas Pearl Harbour pada tanggal 7 Desember 1941, ternyata kedudukan Belanda menjadi semakin terancam.  Pada bulan Pebruari 1942, Para siswa VVC dengan tergesa-gesa dikumpulkan di Jakarta dan dibawa menuju Tanjung Priok.  Dari Tanjung Priok, mereka diangkut oleh kapal KPM Boissevain, yang kemudian berlayar menuju Australia.

Dengan dikawal kapal penyapu ranjau Angkatan Laut Belanda, berangkatlah Boissevain dengan kurang lebih 30 siswa VVC pada tanggal 18 Pebruari 1948.  Mereka mengambil rute pelayaran Selat Sunda – Samudera Indonesia – Australia.  Di sebelah selatan Jawa, kedua kapal berpisah, karena kapal penyapu ranjau harus kembali ke pangkalannya di Selat Sunda.  Beberapa jam kemudian, radio operator kapal Boissevain mendapat kabar bahwa kapal penyapu ranjau tersebut sudah ditenggelamkan di Selat Sunda oleh kapal perang Jepang.  Ternyata Angkatan Laut Jepang sudah mengepung Jawa pada hari itu dan mengahncurkan setiap kapal Belanda yang mencoba melarikan diri.  Dan Boisevan telah mengambil waktu yang tepat. Setelah menempuh waktu 15 hari, kapal Boisevan akhirnya berhasil berlabuh di Adelaide, Australia.

Pada tanggal 6 Maret 1942, armada Jepang berhasil menguasai seluruh Jawa dan melaksanakan operasi pembersihan terhadap kulit putih.   Dengan kekuatan yang dahsyat, mereka menyapu bersih kekuatan Belanda di Indonesia.  Sebagian pasukan Belanda mundur ke Australia untuk bergabung dengan pasukan sekutu.  Di Maospati, pesawat-pesawat tempur Jepang melakukan pengeboman terhadap skadron-skadron ML, membuat pangkalan lumpuh total.  Jepang bahkan sudah menguasai sebagian Papua, Timor dan melakukan pengeboman di pantai utara Darwin.  Pada tanggal 8 Maret 1942 pemerintah kolonial Belanda di Indonesia menyerah tanpa syarat kepada Jepang.

Lalu bagaimana dengan nasib para sukarelawan di Australia  ?  Mereka disebut sebagai kontingen Indonesia, dan akan diikutkan dalam pasukan Sekutu berperang melawan Jepang.  Pada suatu hari dikeluarkan surat edaran yang ditujukan kepada para sukarelawan Indonesia tentang misi pendaratan rahasia di Jawa dengan kapal selam.  Bagi yang berminat diperintahkan mendaftarkan diri segera.  Misi pendaratan rahasia itu adalah untuk mengadakan kontak dengan komandan intelijen sekutu di Jawa.  Rupanya Sekutu sedang mempersiapkan data-data kekuatan Jepang di Jawa yang akan digunakan untuk persiapan serangan balasan.  Pasukan Sekutu di Australia pun sudah begitu khawatir, karena pesawat-pesawat jepang sudah berhasil memborbardir daerah-daerah pantai utara Australia.  Diantara sekian pendaftar misi klandeistein tersebut, ternyata hanya ada satu orang saja yang lolos seleksi.  Ia adalah arek Suroboyo bernama Iswahjudi.

Setelah menyelesaikan latihan khusus, Iswahjudi diberangkatkan dengan kapal selam melewati Samudera Indonesia.    Iswahjudi akan didaratkan di Pantai Selatan Jawa dengan titik pedaratan Pantai Blitar Selatan.  Dan singkat cerita di tengah malam gelap gulita, kapal selam sudah berhasil mendekati Pantai Jawa dan muncul di permukaan air.  Sebuah perahu karet kemudian diturunkan, dan meloncatlah Iswahjudi kedalamnya seorang diri.  Dengan hati-hati perahu karet itu didayungnya.  Namun beberapa saat kemudian, ombak besar menghempaskannya dari perahu.  Pantai Selatan Jawa adalah pantai yang berombak ganas saat itu.  Di kegelapan malam, sangat mustahil bagi Iswahjudi untuk mendapatkan kembali perahu karetnya. Akhirnya, dia berenang sekuat tenaga menuju pantai.  Walaupun akhirnya berhasil mencapai pantai, semua kekuatan Iswahjudi telah habis terkuras.  Dia jatuh pingsan, dan terkulai semalaman di pantai.  Keesokan harinya ia tersadar dari pingsannya. Namun disekelilingnya, bala tentara Jepang telah berdiri mengepung.  Iswahjudi pun ditangkap dan dipenjarakan.

Apa yang terjadi setelah ditawan pasukan Jepang, tidak ada informasi yang akurat.  Namun pada akhirnya, Iswahjudi kemudian dibebaskan dan berstatus sebagai tahanan luar.  Walaupun statusnya adalah tahanan luar, Iswahjudi ternyata masih memiliki pesona sebagai patriot muda. Secara kebetulan Iswahjudi berhasil menggaet seorang gadis cantik bernama Suwarti, putri seorang Asisten Wedono di daerah Slawi, Jawa Tengah.   Suwarti adalah adik dari Bapak Iskak, seorang seniman dan musikus yang cukup terkenal dan ayah dari bintang film terkenal Indriati Iskak.   Indriati Iskak nantinya menikah dengan Makki Perdanakusuma (Marsekal Muda TNI pur).

Kisah cinta Iswahjudi dan Suwarti berawal di Surabaya pada tahun 1943.  Suwarti yang ikut kakaknya di Surabaya, bertemu Djoko Basuki dan Iswahjudi, saat bermain tenis.  Dari perkenalan ini, hubungan keduanya bertambah dekat.  Tidak lama-lama berpacaran, mereka kemudian menikah pada tanggal 27 Maret 1944.

Setelah kemerdekaan Indonesia, BKR Udara mengadakan reorganisasi dan rekruitmen prajurit termasuk pembukaan sekolah penerbang di Maguwo, Yogyakarta.  Iswahjudi pun bergabung kembali dengan dunia kedirgataraan yang lama hilang dari hidupnya.  Ia berangkat ke Yogyakarta dan bergabung dengan teman-temannya yang lain di Pangkalan Udara Maguwo sebagai siswa sekolah penerbang.    Di sana, Iswahjudi bertemu kembali dengan beberapa temannya di VVC dulu.   Kehidupannya ditengah-tengah dunia penerbangan dimulai lagi.

Iswahjudi telah memiliki dasar ketrampilan terbang yang baik, sehingga dengan cepat mendapat jabatan instruktur penerbang.  Iswahjudi bersama penerbang lainnya kemudian sering melaksanakan penerbangan perintis ke daerah-daerah.  Pada tanggal 23 April 1946, Iswahjudi bersama para penerbang Maguwo melaksanakan penerbangan dari Yogyakarta – Jakarta – Gorda (Banten) – Teluk Betung – Branti (Lampung), dengan menggunakan pesawat Cukiu.  Kehadiran pesawat-pesawat berbendera Merah Putih tersebut sebagai bagian dari upaya untuk menggugah semangat perjuangan dan cinta dirgantara di seluruh pelosok tanah air.

Pada tanggal 10 Juli 1946, Iswahjudi bersama-sama Agustinus Adisutjipto, Prof. Dr. Abdulrahman Saleh, Husein Sastranegara, dan Imam Suwongso Wirjosaputro, melakukan terbang formasi dengan pesawat Curen di Tasikmalaya.  Demo udara ini dilakukan dalam rangka memeriahkan pembukaan Pangkalan Udara Tasikmalaya.  Mereka mengadakan joy flight yang diikuti para pemuda setempat dan para pejabat Markas Besar AURI, termasuk KSAU Komodor Udara Suryadarma.

Pada awal tahun 1947, Iswahjudi bersama-sama Adisutjipto mendapat kesempatan untuk belajar menerbangkan pesawat Dakota India VT-CLA yang mendarat di Maguwo.  Mereka hanya memerlukan waktu 3 hari untuk dapat menerbangkan pesawat itu dengan sempurna.  Suatu prestasi yang luar biasa tentunya.  Setelah itu Iswahjudi yang sudah berpangkat Opsir Udara II, diberi tanggung jawab sebagai Komandan Pangkalan Udara Maospati, menggantikan pejabat lama, Opsir Udara I Prof. Dr. Abdulrahman Saleh.

Setelah gugurnya Opsir Udara I Prof. Dr. Abdulrahman Saleh bersama Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto dan Opsir Muda Udara I Adisumarmo, saat pesawat Dakota VTCLA yang ditumpanginya diserang oleh pesawat Kitty Hawk Belanda pada tanggal 29 Juli 1947, jabatannya sebagai Komandan Pangkalan belum ada yang mengganti.   Iswahjudi diperintahkan mengambil alih kendali Pangkalan Udara Maospati setelah itu. Ia bersama perwira-perwira handal lain seperti Nurtanio dan Wiweko Supono, bekerja keras  mengembangkan Pangkalan Udara Maospati.

Sebagai penerbang ataupun sebagai komandan pangkalan, Iswahjudi memiliki pribadi yang karismatik.  Beliau memiliki hobby musik dan menyanyi.  Dan suaranya memang sangat merdu, sehingga dalam setiap pesta, Iswahjudi hampir tak pernah ketinggalan untuk melantunkan lagu kesayangannya, seperti sepasang mata bola, sapu tangan, jembatan merah, don’t fence me in, dan lagu-lagu hit lainnya.

Iswahjudi juga mempunyai profil yang baik dan selaras dengan profesi penerbang tempur. Ia memiliki perawakan sedang dan tinggi 170 cm.  Bibirnya merah dengan senyum yang selalu memberi kesan optimis dan ramah kepada setiap orang.  Iswahjudi juga memiliki sikap periang, humoris dan terbuka dalam pergaulan.  Ayahnya, Bapak Wirjomihardjo, adalah seorang pegawai suiker sindikat Belanda di Surabaya.  Iswahjudi adalah anak kedua dari sembilan bersaudara, dengan silsilah keluarga sebagai berikut    :

Ayah                 :           Bapak Wirjomihardjo (wafat tahun 1946, dimakamkan di Solo)

Ibu                    :           Ibu Wirjomihardjo (wafat tanggal 13 Mei 1970, dimakamkan di Yogyakarta)

Anak                 :           1.   R. Soehardjo

  1. Opsir Udara I Iswahjudi
  2. Ny. Isw ahjudi Tajib
  3. Djoko Basuki   (Brigjen TNI purnawirawan)
  4. Urip Widodo SH  (Brigjen TNI purnawirawan)
  5. Sersan Udara Muh. Punjul (gugur pada Agresi Belanda II tahun 1949, dimakamkan di TMP Madiun)
  6. Ny. Sri Luwih
  7. Ny. Issuharti Sasono
  8. Tranggono SH (Marsekal TNI purnawirawan)

Belum lama menjabat sebagai Komandan Pangkalan Maospati, Iswahjudi dipindahkan ke Bukittinggi untuk merintis pembangunan pangkalan udara serta membina organisasi AURI di sana.  Pada awal bulan Desember 1947, Iswahjudi dan Halim Perdanakusuma, mendapat tugas untuk membawa pulang pesawat Avro Anson VA-BBY (Dakota RI-003), yang baru dibeli pemerintah Indonesia.

Tuhan telah menggariskan setiap takdir manusia.  Pada saat menjalankan tugas mulia, kedua jiwa putra terbaik AURI ini dipanggil pulang ke haribaan-Nya.  Saat penerbangan pulang ke tanah air, kecelakaan menimpa mereka.  Pesawat yang dikemudikan jatuh di pantai dekat Tanjung Hantu, Perak Malaysia, pada tanggal 14 Desember 1947.  Jenasah Iswahjudi tidak berhasil ditemukan, sedangkan jenasah Halim Perdanakusuma ditemukan terdampar di pantai.  Jasad Halim Perdanakusuma dimakamkan di Teluk Murok, Malaysia.

Dua nelayan berkebangsaan Cina yang sempat menyaksikan proses terjadinya kecelakaan, melaporkan kepada polisi tentang kejadian tersebut.  Aparat kepolisian yang dipimpin Mr. Burns dan Inspektor Che Wan segera meluncur ke lokasi kecelakaan setelah itu, namun sudah sangat terlambat.  Cuaca di pantai yang demikian buruk dan jarak pandang yang terbatas, tidak memungkinkan mereka untuk melakukan upaya pencarian.  Pencarian baru dilakukan pada keesokan harinya.

Surat kabar The Strait Times yang diterbitkan Hari Selasa tanggal 16 Desember 1947 memberitakan bahwa pesawat Avro Anson VH-BBY yang jatuh tersebut pada awalnya milik Mr. Keegen dari Brisbane Australia.  Mr. Keegen adalah mantan penerbang RAAF dan sudah kenal baik dengan Iswahjudi dan Halim Perdanakusuma.  Pesawat tersebut kemudian dijual pada saat Mr. Keegen berlibur ke Singora, Siam.

Sebuah tim pemeriksa kecelakaan pesawat dalam laporannya menyatakan bahwa keesokan harinya telah ditemukan sosok mayat yang sudah sangat sulit untuk dikenali identitasnya.  Namun dari data-data yang diperoleh dari tubuh korban, mereka menyimpulkan bahwa tubuh itu adalah mayat Halim Perdanakusuma.  Mereka memperkirakan bahwa kecelakaan terjadi pada jam 13.30 waktu setempat, hari Minggu tanggal 14 Desember 1947.

Beradasarkan keterangan saksi dua nelayan yang ada di pantai, pesawat Avro tersebut melintas rendah di atas lautan dekat Tanjung Hantu menuju selatan. Dari kedua saksi mata tersebut diketahui bahwa cuaca memang sangat buruk saat itu.  Pesawat terlihat dibelokkan ke kiri menuju ke daratan.  Iswahjudi dan Halim Perdanakusuma sepertinya sudah kehilangan penglihatan dan kendali pesawat, selanjutnya memutuskan kembali ke daratan. Kabut yang sangat tebal sepertinya juga menghalangi pandangan mereka untuk melihat daratan.  Pesawat mengarah ke pohon-pohon yang menjulang di tepi pantai.  Kesimpulan yang diambil dari penyelidikan kecelakaan bahwa pesawat mengalami crash landing di pantai karena cuaca buruk.

Kita bisa membayangkan betapa hancur luluh hati Nyonya Iswahjudi yang dengan setia selalu menunggu suaminya, kemanapun Sang Elang Tanah Air pergi bertugas.  Suwarti harus hidup menjanda sebelum memperoleh buah hati dari kekasih tercintanya. Belum hilang kenangan indah saat bersama sang suami.   Suwarti masih terbayang-bayang hari-hari indahnya sebagai istri penerbang AURI, istri penerbang tempur. Iswahjudi yang sering membuatnya gelisah, kangen, dan jengkel, kini telah tiada.   Suwarti selalu mengenang bagaimana ia dengan gelisah menunggu di depan hidangan makan siang yang jarang di santap oleh Iswahjudi, karena sibuknya sang suami tercinta.  Namun Suwarti masih mengingat pesan Iswahjudi kepadanya bahwa istri seorang penerbang tidak boleh cepat gelisah dan khawatir dalam mengahdapi setiap masalah.   Istri seorang penerbang tempur adalah profil yang tabah dalam mengahadapi setiap musibah.   Selamat jalan kekasihku, selamat jalan pujaanku….surga yang terindah telah menantimu……

Seorang sahabat Iswahjudi bernama Dalymonthe mempersembahkan sebuah puisi yang ditulis pada tanggal 20 Desember 1947, untuk menggambarkan kesedihan dan rasa kehilangannya atas seorang sahabat.

Melepas almarhum Opsir Udara R. Iswahjudi

 

            Pecah kiranya rangkaian hati

            Serasa keruh pelabuhan sukma

            Mendengar tewasnya pahlawan sakti

            Setangkai dua gugur mendarma

                        Jika pendapatku kukemukakan

                        Usaha menyinggung kuasanya Tuhan

                        Ratusan yang lain jadi tebusan

                        Timbang melepas kedua pahlawan

            Alangkah ramahmu Raden Iswahjudi

            Penawar risau duka nestapa

            Sekonyong musafir ke barzach abadi

            Dan suaramu masih mengiang di telaga

                        Apa yang tak terlintas di dalam hati

                        Nama yang muskil di rasa kalbu

                        Gundah gulana tuan obati

                        Sanggup mengawal angkasa ibu

            Pesawat udara dibincang orang

            Wajah tuan nampak terbayang

            Angkasa nampak terbayang

            Kenanglah bangsa pahlawan perkasa

                        Kusimak murai berkicau pagi

                        Kudengar lembut membuai nyiur

                        Lesung dan alu serentak bersemedi

                        Mengenang arwahmu mereka tafakur

            Tuan berangkat ke alam baka

            Laporkanlah misi jihadnya bangsa

            Jika penjajahan diijinkan di dunia

            Baiknya Tuhan kiamatkan dewasa ini juga

                        Kami berpegang kan janji Tuhan

                        Insan dijadikan berbangsa-bangsa

                        Indonesia bertarung nuntut keadilan

                        Biar dibakar daripada diperkosa

            Darahmu terhambur tidak percuma

            Takkan lenyap ditelan sang masa

            Laksana melati di sanggul ibunda

            Begitu menilai di sejarah bangsa

                        Walau diatas timbunan mayat

                        Biar melangkahi onggokkan bangkai

                        Kami menyambung bersumpah erat

                        Meneruskan kerjamu yang terbengkalai

                         ……………………

                                                  

                                                Jejakmu kuturut

Kelahiran Pangkalan Maospati

Membayangkan letak Maospati sudah pasti tidak terlalu sulit.   Maospati adalah sebuah desa sekaligus ibukota kecamatan yang berjarak 10 kilometer dari Madiun, salah satu kota kabupaten di Jawa Timur.   Berada  pada garis lintang selatan 07° 36’ 80” dan garis bujur timur 111° 25’ 80”, wilayah ini diapit oleh dua gunung besar yaitu, Gunung Lawu setinggi  10. 712 feet di sebelah barat dan Gunung Wilis setinggi 8.400 feet di sebelah timur.   Di sebelah selatan sampai pantai selatan adalah daerah perbukitan, sedangkan di sebelah utara adalah dataran rendah yang luas.

Pembangunan Pangkalan Udara Maospati terkait dengan persiapan Departemen Van Oorlog Belanda untuk menghadapi serbuan udara Jepang.  Dengan terburu-buru Belanda membangunnya pada tahun 1939, dengan harapan pesawat-pesawat Militeire Luchtvaart dapat segera menempatinya.  Landasan dibangun dengan panjang 4757 feet dan lebar 157 feet.   Landasan berada pada ketinggian 360 feet di atas permukaan laut.

Dengan adanya dua gunung tinggi yang mengapit pangkalan di sebelah timur dan barat ,maka dapat kita pahami bila wilayah tersebut  memiliki arah angin permukaan yang konstan dari utara dan selatan.   Sehingga landasan pun dibangun membujur dari utara ke selatan, sesuai dengan arah angin permukaan dan pesawat bisa mengudara dan mendarat dengan aman.

Namun demikian, keberadaan kedua buah gunung yang menjulang tinggi di sebelah timur dan barat landasan ternyata kurang menguntungkan.  Ruang gerak pesawat di sekitar landasan menjadi sempit dan bisa membahayakan keselamatan pesawat dan penerbang yang akan mengudara dan mendarat.

Pada bulan Nopember sampai April, kondisi cuaca di wilayah Maospati pada umumnya kurang baik bagi kegiatan penerbangan.  Seringnya hujan lebat yang turun sepanjang hari bisa menghentikan operasi penerbangan.   Pada waktu pagi, kondisi penglihatan sangat buruk dengan banyaknya kabut yang menyapu dari puncak gunung.

Pangkalan Udara Maospati saat itu menjadi pusat pertahanan udara Sekutu di Jawa.  Belanda menempatkan 3 skadron udara di Maospati. Skadron Valcon (pemburu), dengan komandan Letnan AJ Leetinga, menempati hanggar Setren. Skadron Brooster (pemburu), dengan komandan Kapten H Aneemaat, menempati hanggar Kleco. Lalu skadron pendidikan, dengan komandan JT Bedeet menempati hanggar Ngujung.

Selain ketiga hanggar tersebut, pangkalan juga sudah dilengkapi dengan berbagai macam bangunan penting lainnya yaitu gedung  workshop  (sekarang hanggar Skadron Tehnik 042), gedung untuk montage di dekat workshop, 4 gudang di Papak dan perumahan yang saat itu disebut dengan campement, yang sudah dilengkapi dengan dapur umum, rumah sakit, gedung pertemuan, dan lain-lain.

Walaupun dibangun oleh penjajah, pembangunan pangkalan ini merupakan hasil pengorbanan rakyat kita juga.  Tanah rakyat diambil alih dan mereka dipaksa ikut bekerja dengan upah murah.  Ada 9 desa yang terpaksa harus dikosongkan dalam rangka pembangunan pangkalan, yaitu Ronowijayan, Pandean, Mranggen, Kincang, Kinandang, Kledokan, Lemahbang, Setren, dan Kleco.  Penduduk harus pindah di daerah lain sekitar pangkalan yang nantinya dinamakan sesuai dengan nama asal desa lama yang telah disita.

Pada tahun 1942, Jepang dengan armada udara yang sangat besar melaksanakan operasi pengusiran besar-besaran terhadap bangsa kulit putih di Asia, termasuk Belanda di Indonesia.  Ekspansi Jepang ini telah mengobarkan Perang Pasifik Raya.   Maospati pun menjadi sasaran utama penyerbuan Jepang dengan keberadaan pangkalan udara Maospati. Pada saat Jepang menyerbu Maospati pada bulan Maret 1942, Kapten HJ Van De Pool yang menjabat sebagai komandan pangkalan, gugur dalam pertempuran udara.  Hanggar skadron pendidikan dihancurkan oleh serangan udara Jepang.   Setelah perang kemerdekaan, hanya hanggar Kleco yang tersisa (dikemudian hari dipakai untuk hanggar pesawat T-33), karena hanggar Setren dihancurkan Belanda pada Agresi Belanda II.

Jepang ternyata telah merencanakan dengan matang serbuan udaranya.   Sebelumnya mereka telah mengirim intel-intelnya untuk menyelidiki dan menentukan posisi pangkalan Belanda.  Banyak diantara mereka menyamar menjadi petani dan memperbedayakan tanaman kol yang berwarna putih.   Tak seorang pun tahu bahwa pertanian kol yang mudah dilihat dari udara itu telah membentuk anak panah yang akan mengarahkan pesawat-pesawat Jepang menuju pangkalan-pangkalan yang akan dibombardir.

Saat Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, Pangkalan Udara Maospati berada dibawah Kaigun Kokusho (Angkatan laut Jepang).   Di sekitar pangkalan ditempatkan pasukan pertahanan pangkalan dari Rikugun (batalyon AD).  Dalam masa penjajahan Jepang, pangkalan tidak mengalami perubahan sama sekali.   Masa pendudukan yang singkat dan kesibukan yang luar biasa dalam Perang Pasifik telah membuat Jepang tidak memiliki kesempatan untuk membangun pangkalan udara Maospati. Pangkalan ini hanya digunakan untuk menyimpan suku cadang motor pesawat.   Sehingga kerusakan fasilitas yang diakibatkan oleh bom-bom pesawat Jepang saat mengusir Belanda dari pangkalan, juga belum sempat diperbaiki sampai Jepang meninggalkan Indonesia pada tahun 1945.

Bagi Angkatan Udara, Jepang memang sama sekali tidak meningggalkan ilmu terbang sedikitpun kepada kita.  Sehingga saat AURI berdiri, para penerbang lulusan ML yang diberi tugas untuk menerbangkan pesawat-pesawat peninggalan Jepang.   Satu-satunya rakyat Indonesia yang masih hidup dengan sertifikat penerbang adalah Agustinus Adisutjipto.   Sehingga pahlawan inilah yang melahirkan seluruh penerbang tempur di awal lahirnya AURI, dan dinobatkan sebagai Bapak Penerbang Indonesia.

Samingoen, Saksi Kekalahan Jepang Di Maospati

                       Mengarungi samudera

                       Mayat-mayat di air

                       Mengarungi gunung-gunung

                       Mayat-mayat bertumpukan di padang

                       Saya hanya ingin mati demi Kaisar

                       Saya tidak akan pernah menoleh ke belakang

Umi Yukaba

 

Mungkin banyak rakyat yang menjadi saksi sejarah kekalahan pasukan dari negeri matahari saat itu.  Mungkin banyak mata memandang carut marut pasukan Jepang saat harus meninggalkan tanah jajahan yang telah dikangkangi selama 3 ½ tahun.   Kekalahan yang tidak terbayangkan sebelumnya, karena mereka merasa tak akan pernah bisa dikalahkan oleh bangsa lain.  Dan Samingoen adalah salah satu dari saksi sejarah tersebut.

Samingoen masih sangat belia, saat diangkat menjadi keimu (satpam) pada bengkel kokusho pangkalan Maospati. Sehingga Samingoen tahu benar segala seluk beluk dalam pangkalan, karena sudah begitu lama mengabdi di pangkalan.  Pada masa pendudukan Belanda, ia pernah menjadi mandor kecil saat pembangunan pangkalan tersebut pada tahun 1938.

Gema perjuangan pemuda Maospati untuk membebaskan pangkalan semakin kencang mendengar berita jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.  Sehari setelah pengeboman tersebut, Kapten Yamata sebagai pimpinan bengkel menerima instruksi dari Surabaya untuk memberhentikan seluruh pegawai pribumi kecuali beberapa orang yang masih dibutuhkan.  Samingoen yang pandai bahasa Jepang termasuk yang tidak dikeluarkan bersama beberapa keimu lainnya.  Ternyata setelah kekalahan Jepang maka pangkalan Maospati akan diserahkan kepada Komisi Tiga Negara (KTN).  Samingoen ikut mengadakan inventarisasi seluruh barang-barang bengkel, sehingga mengetahui letak penyimpanan bahan peledak,mesiu, dan senjata lainnya.

Kesibukan memang begitu meningkat, sehingga para pekerja tidak diijinkan pulang beberapa hari.  Tentara Jepang juga masih banyak berada di pangkalan dengan bersenjata lengkap untuk siaga.  Samingoen sendiri menggunakan senjata mitralyur 7.7 mm untuk tugas jaga.  Namun, berita kekalahan demi kekalahan membuat tentara Jepang sudah tidak memiliki gairah lagi untuk menjalankan tugas dengan baik.   Kesempatan ini dimanfaatkan untuk mencuri bahan-bahan peledak dari pangkalan.   Samingoen bahkan dapat menyelundupkan truk ke dalam pangkalan beberapa kali untuk membawa bahan peledak. Samingoen dapat menangkap suasana hati para prajurit Jepang yang setiap hari selalu mendengarkan berita-berita kekalahan armada Jepang di seluruh dunia lewat radio.

Suatu hari Kapten Yamata menanyakan kepada Samingoen, “Juro, bagaimana kedaan pangkalan ?”  Lalu Samingoen menjawab bahwa semua tentara Jepang telah menyerahkan kekuasaannya kepada pemerintah Indonesia.  Yang tidak menyerah, telah diserbu oleh BKR.  Kempetai Madiun juga sudah menyerah.  Samingoen menambahkan bahwa seluruh air di pangkalan sudah diberi racun.  Dan di luar pangkalan, BKR sudah bersiap-siap menyerbu pangkalan dengan bambu runcing.  Dalam hati kecil, Samingoen merasa was-was dengan intimidasi palsu tersebut.   Hingga Kapten Yamata bertanya, “Kalau saya menyerahkan Pangkalan Maospati ini, kepada siapa ?”  Samingoen menjawab, “Kalau akan menyerahkan pangkalan ini, sebaiknya ke Gunco (Wedono) Maospati, karena beliau adalah pejabat tertinggi di Maospati.  Tadi saya sudah menerima telpon dari Kempetai Madiun, agar pangkalan segera diserahkan.”  Kapten Yamata yang percaya dengan tipu muslihat tersebut, akhirnya mengirim Samingoen untuk pergi ke rumah Gunco Maospati.    Samingoen mungkin akan kena batunya bila Kapten Yamata mengklarifikasi  berita tersebut ke Madiun, karena perintah lewat telepon itu memang tidak ada.   Karena memang sudah merasa putus harapan dengan kelanjutan perang, Kapten Yamata pun  percaya begitu saja akan ucapan Samingoen.

Pukul 16.00, Samingoen sudah menghadap kepada Gunco dan menyampaikan amanat Kapten Yamata.   Gunco Maospati tertawa mendengar tipu muslihat Samingoen yang berhasil mengelabui perwira Jepang tersebut, “Dik Samingoen iki iso-iso wae”   Samingoen menyarankan dibentuk panitia serah terima pangkalan karena 1 jam lagi Kapten Yamata beserta staf akan segera datang.

Samingoen segera kembali ke pangkalan setelah pembicaraan selesai.   Namun sampai didepan pintu depan pangkalan, barisan BKR sudah berkumpul dan siap menyerbu pangkalan.   Samingoen memberitahukan kepada mereka agar jangan bertindak tanpa koordinasi, karena sudah ada persetujuan dengan Gunco bahwa pangkalan sebentar lagi akan diserahkan.   Barisan BKR pun setuju.  Mereka lalu membubarkan diri.  Samingoen akhirnya masuk pangkalan dan menyampaikan hasil pembicaraannya dengan Gunco Maospati kepada Kapten Yamata.

Pada pukul 17.00, Kapten Yamata beserta staf diantar Samingoen menuju pendopo Gunco.   Di sana sudah siap menunggu panitia serah terima dari pemerintah, KNI Madiun, pimpinan PETA/Heiho, dan para pejabat lainnya.   Ketika serah terima telah dilaksanakan, Kapten Yamata memerintahkan seluruh prajurit Jepang agar meluncur ke pendopo.   Komandan pasukan (Keibitai) pun segera memimpin 18 truk/bus menuju pendopo Gunco Maospati. Setiap truk/bus diisi oleh 40 prajurit.  Kendaraan yang telah berjejer di jalan raya Maospati tersebut akhirnya meninggalkan Maospati menuju Pujon/Malang, dipimpin Kapten Yamata.

Dari kekalahan armada Jepang dalam PD II ,ada pelajaran menarik yang bisa kita ambil, seperti apa yang diungkapkan Jendral Douglas Mac Arthur kepada seluruh perwiranya, “Jangan biarkan orang Jepang menyerang anda. Kalau prajurit Jepang mempunyai rencana yang teratur untuk menyerbu, ia akan melangsungkannya dengan lancar. Sebaliknya kalau ia diserang, manakala ia tidak tahu apa yang terjadi, perkaranya akan menjadi lain sama sekali. Dalam setiap pertempuran, orang Jepang adalah sebuah sosok yang paling tidak siap menerima kekalahan, mengapa? Karena keortodokannya yang menganggap bahwa mereka tidak terkalahkan oleh siapapun.”

Bapak F. Djoko Poerwoko – Mentorku Tersayang

4 Komentar

Saya lupa hari dan tanggal peristiwa yang terjadi di akhir tahun 1999 tersebut, namun demikian saya ingat sekali bahwa hari itu merupakan sebuah tipping point buat saya.   Ketika itu saya berada di Skadron Udara 14 menjalankan tugas rutin saya.   Tiba-tiba salah satu anggota menyampaikan, “Ijin Let, tadi ada telepon dari Sispri komandan Lanud, Letnan diperintah menghadap ke kantor beliau….”   Sebagai perwira yunior sayapun segera ijin komandan skadron, untuk menyampaikan berita tersebut berikutnya meluncur ke kantor Komandan Lanud.  Skadron udara adalah salah tempat dimana hirarki adalah superlative dibandingkan di tempat lain.  Terlebih lagi, seorang Letnan dipanggil komandan Lanud adalah sesuatu yang menggentarkan.   Maka sedari membuka pintu komandan Lanud, sayapun melangkah patah-patah menuju arah depan meja kerja beliau.  “Lapor, Lettu Penerbang Budhi Achmadi siap menghadap!”

Itulah moment pertama saya bertemu Almarhum Marsda TNI Purnawirawan Faustius Djoko Poerwoko, yang masih berpangkat Kolonel Penerbang – tiga melati dikelilingi kotak merah.   Saya disalami, dipersilakan duduk dan berikutnya bapak komandan Lanud berbicara panjang lebar tentang bagaimana ia sedari bernama “Djoko cilik” hingga menjadi komandan Lanud Iswahjudi, selalu mencintai dunia tulis-menulis dan dunia penerbangan.  Saya pun mulai memahami bahwa bapak yang berbicara di depan saya tersebut tahu bahwa saya senang tulis-menulis walaupun kelas amatiran.   Sejak itu pula saya tahu bahwa selalu saja kharakter seseorang yang hobby ilmu seperti beliau adalah egaliter, elastis terhadap saran dan perbedaan pendapat, membuka kran kemunikasi terhadap siapapun dan tidak gumede karena beda pangkat di baju seragam.   Sementara saya mulai agak ngantuk karena beliau lama sekali mengungkap sejarah kedekatannya dengan tulis-menulis, lalu pak komandan berkata, “Bud, saya merencanakan membuat buku sejarah Skadron Udara 11, tolong kamu bantu saya cari data ke Makassar.   Minggu depan ada Paum jadi kamu numpang pesawat itu dan pulangnya seminggu lagi, ikut pesawat itu lagi.”  Maka rasa ngantuk saya hilang seketika karena di pipi kiri-kanan saya seakan ada suara “pak-pak-pak”.   Bagi seorang yang baru menulis amatiran seperti saya, perintah tersebut adalah sebuah kekagetan.  Mencari data untuk buku, berarti ya menulis buku itu sendiri, sedangkan saya baru kelas menulis berita pendek mengenai kedirgantaraan.  “Ijin komandan melaporkan sepertinya saya belum mampu untuk menulis buku, tapi ijin kalau bantu-bantu mencari data, ijin kami sanggup dan selanjutnya mohon bimbingan…” Lalu pak komandan pun mengeluarkan kalimat khasnya, “Alah Bud gampang…. nggak ada yang sulitlah di dunia ini…”

Sejak hari itulah saya tertantang untuk lebih giat mengeksplorasi cara menulis dengan lebih komprehensif dalam bentuk yang lebih tebal “buku”.   Dan tidak ayal lagi, saya banyak mendampingi Pak Poerwoko hari-hari berikutnya. Maklum saja bahwa setiap hari-hari libur tidak ada kegiatan lain yang mampu mengalihkan atau lebih menarik untuk seorang penulis seperti Pak Poerwoko, selain menulis itu sendiri.  Maka dengan perasaan takut-takut, saya pun mengikuti ritme kedekatan yang tidak lazim, bahwa seorang perwira pertama (kapten) sering bepergian dengan Marsekal pertama (beberapa bulan setelah dilantik menjadi Komandan Lanud, Pak Poerwoko mendapat kenaikan pangkat menjadi Marsekal Pertama dan saya menjadi Kapten pada beberapa bulan berikutnya).

Saya ingat sekali beliau sering datang ke mess pada saat saya masih bujang dan juga datang ke rumah saya dengan menaiki motor piket, yang beroda tiga dan suaranya meraung-raung.   Kedatangan yang tiba-tiba, sering membuat attire saya hanya seadanya, namun kata beliau, “Wis ora usah ganti Bud, malah kesuwen.   Ayo langsung nyambut gawe.”   Maka kami berdua pun langsung memandangi komputer kelas “AMD” karena jaman itu laptop yang bisa dibawa-bawa masih terlalu mahal untuk dibeli.  Kalau sudah seperti itu bisa berjam-jam kami duduk sejajar di depan komputer dan tidak pernah saya duga itu akan berlangsung dalam beberapa tahun kemudian, yang membuat saya menjadi sangat dekat dengan beliau sekeluarga.

Masih tentang menulis buku.   Ketika almarhum berhasil menyelesaikan buku yang berikutnya, beliau memerintahkan saya untuk mencetak buku tersebut, karena pada buku pertama, beliau kurang puas dengan proses finishing.   Maka kembali saya seperti dididik Almarhum untuk fight belajar memasuki dunia tulis-menulis yang tanpa batas.   Saya memutar otak untuk mendapatkan percetakan yang baik dan murah untuk pak komandan Lanud.    Nah, saya pun membuka-buka buku-buku di kamar dan mencatat semua alamat percetakan di Yogya yang katanya dijamin murah-murah.   Berikutnya karena saat itu biaya menelepon SLJJ juga cukup mahal buat seorang Kapten, maka suatu pagi saya pun pergi ke sentral telepon Lanud dan meminjam telepon dinas.   Satu per satu alamat dari buku pun saya telepon sambil terus berdoa agar ada suara di seberang sana yang mau berbicara begini,”Hallo Pak Budi, silakan datang ke sini untuk cetak buku dan akan saya beri harga semurah-murahnya.”   Tapi ternyata ada tiga penerbit yang menjawab dan salah satunya, bernama Pak Sahrial dari AK Group.   Sore pada hari setelah menelepon, saya langsung ke Yogya naik bus yang sering bermasalah dengan Polisi, Bus Sumber Kencono.  Saya tiba di Yogya jam 8 malam dan turun di Dekat Kota Gede dan dari sana saya naik becak ke percetakan Pak Sahrial.   Mengapa saya langsung ke Pak Sahrial, karena beliaulah satu-satunya dari tiga percetakan yang mengangkat telepon saya dan mau menunggui saya untuk buka kantor hingga malam hari sampai kedatangan saya.    Saya bingung juga ketika disebut bahwa ia adalah pemilik usaha bernama AK Group dan bukan sebagaimana yang tertulis di buku Khalil Gibran, yaitu Penerbit Fajar Pustaka.  Nantinya saya akan tahu bahwa usaha percetakan dan penerbitan berbeda, dan sampai sekarang saya terus bersahabat dengan Pak Sahrial dan anak-anaknya.  Saya pun tahu semua seluk-beluk percetakan dan penerbitan, hingga suatu hari bercita-cita ingin punya usaha percetakan dan penerbitan, karena tahu uang keuntungan lebih banyak mengalir ke penerbitan daripada ke penulisnya he he he. Semua berkat Pak Poerwoko.

Pak Poerwoko adalah mentor yang tidak pelit ilmu dan mudah menjadikan bawahan sebagai teman.   Dalam beberapa momen saya selalu dibawanya serta.   Sehingga suatu kali saya untuk pertama kali masuk ke kantor Kompas untuk menemui Almarhum Djoko Pernomo (Pak Pom) dan Pak Julius Poer (Pak Jup), dua saudara Pak Poer yang berprofesi sebagai wartawan Kompas, berikutnya kami berdua menemui Pak Ninok Leksono.  Saya pun tidak menyia-nyiakan momen itu, karena saya segera minta nomor HP orang-orang itu dan berikutnya saya pun berhubungan dengan Pak Pom dan Pak Jup secara pribadi.  Bahkan ketika Pak Poerwoko sudah bergeser ke Jakarta dan menjadi Panglima Kohanudnas, beliau masih terus membimbing saya untuk menulis dan hal paling menyenangkan untuk saya adalah ketika beliau mengajak pergi ke Rusia dan Polandia karena beliau ingin sambil jalan-jalan beliau ingin mendiskusikan buku otobiografi yang baru beliau tulis dan saya kebagian mengawasi proses edit dan cetak di tempat Pak Sahrial di Yogya.   Saat di Polandia saya ditempatkan di kamar kelas “Suit” dan itu pertama kali saya alami.   Karena kebodohan saya, tiap hari saya menelepon istri di Madiun, karena mengira serba gratis semua.   Beberapa bulan kemudian setelah di tanah air, saya baru tahu bahwa sudah menjadi aturan baku tidak tertulis bagi tamu militer non VIP seperti saya untuk seyogyanya bayar sendiri jika mengambil isi kulkas di kamar, bayar sendiri untuk laundry, juga saat memakai telepon.   Waduh, pastinya tagihan kamar si Kapten akan lebih bengkak dari Bapak Panglima pada saat itu, karena ada tambahan bayar telepon.

Dunia tulis-menulis telah mendekatkan saya dan Almarhum Pak Djoko.   Ada beberapa saat dimana saya mulai berani menanyakan masalah-masalah pribadi, dan pada usia dan pangkat yang belia saya mulai agak paham bahwa menjadi pemimpin bukanlah tugas yang mudah.   Selalu ada saja hal-hal yang sangat manusiawi terjadi dan kembali pada kodratnya, bahwa seberapapun tingginya jabatan dan pangkat maka semua orang adalah makhluk Tuhan biasa yang punya kelemahan.  Namun satu hal,  beliau adalah salah satu kakak terbaik saya.   Dari beliaulah saya bisa akrab dan tahu tentang Generalship -  pola kepemimpinan para Jenderal, karena memang beliaulah perwira tinggi yang saya kenal dekat pertama kali dan bahkan intens bertukar pikiran dalam banyak hal.  Dari dorongan beliau saya bahkan bisa mempelajari detail demi detail menulis dan membuat buku, bahkan menjualpun bisa, karena dari beberapa buku beliau saya minta untuk saya jual sendiri kepada teman-teman he he he.   Saya juga menjadi tahu gudang bukunya Gramedia karena beliau yang mengarahkan semuanya lewat Pak Pom dan Pak Jup.   Satu hal lagi, istri saya pun mempunyai kemampuan membuat brooch (bross) karena diajari oleh Ibu Nining Poewoko.

Kini Pak Pom dan Pak Poewoko telah tiada.   Alhamdulillah, saya menyempatkan hadir di rumah Pak Pom, sehari sebelum keberangkatan Pak Poerwoko ke Brazil.   Pak Poerwoko pun sempat bertandang ke kantor saya pada saat beliau pamitan ke pejabat Mabesau.   Mungkin sudah seperti firasat, beliau waktu itu menelepon saya untuk datang menemani,”Bud kalau tidak ada pekerjaan tolong kemari, ini lagi kesepian karena menunggu antrian masuk.”   Saat menerima telepon itu saya merasa berdosa kepada beliau, karena semenjak saya pindah dinas ke Mabesau sejak enam bulan lalu (April 2011), saya dan istri selalu menunda-nunda untuk bertandang ke rumah beliau hingga pertemuan di Mabesau tersebut menjadi pukulan telak bagi saya, karena justru beliau yang menelepon.   Awalnya karena saya masih membujang maka saya menunggu istri yang masih tinggal di Madiun, setelah itu justru kesibukan lain yang menunda niat saya untuk menghadap.    Maka saya segera meluncur menemui beliau di ruang tamu salah satu pejabat dan ketika mendapat gilirannya masuk, beliau bilang,” Bud, kamu jangan pergi kemana-mana, tunggu saya sampai keluar lagi.”   Maka saya pun menungguinya selama kurang lebih 30 menit.   Ketika keluar, Pak Poerwoko bilang,” Aku pingin ndelok kantormu.” Lalu saya menjawab,”Wah pasti bapak ingin bernostalgia dengan tempat duduk bapak ya…”, karena Pak Poerwoko memang pernah menduduki jabatan di ruangan saya.   “Ah enggak…. wong aku arep ngobrol karo awakmu….” jawab beliau.  Ketika sampai kantor ternyata atasan saya ada di tempat dan saya mempersilakan Pak Poewoko untuk bercengkerama dengan beliau sebentar.   Pak Poerwoko kemudian berpamitan dan saya refleks mengikuti di belakangnya, masuk lift dan turun hingga lobby di lantai satu (kantor saya di lantai lima).   Sampai disitu beliau bilang, “Bud sudah to…kamu mau ikut aku opo… sudah kamu mbalik saja, wong aku mau pergi sendiri kok….”   Beliau kemudian menyalami saya dan pun menyahut,”Siap Bapak selamat jalan dan salam untuk Ibu.”   Berikutnya saya memandangi beliau berjalan sambil bersiul-siul, gaya khasnya semenjak pertama kali mengenalnya.

Bapak, mohon Bapak tahu bahwa saya pernah berjajnji pada diri saya sendiri, bahwa sampai kapanpun saya tidak akan melupakan budi baik Bapak Djoko Poerwoko yang telah banyak mengisi banyak hal dan ilmu dalam hidup saya.  Bapak, sampai sekarang saya masih sering sempatkan lewat Jalan Kyai Sahid bila lewat Kartasuro, rumah Bapak yang beberapa kali Bapak siapkan untuk tempat singgah saya.  Saya masih sering mampir di Warung Mbah Semar, tempat Bapak mentraktir saya “pis roti”.   Saya juga masih menyukai nasi oseng jalan Mbarat Maospati, menu makan siang Bapak dan saya saat menulis sama-sama.  Semua itu saya lakukan karena saya tidak bisa melupakan kebaikan Bapak.  Satu tempat yang saya belum coba kembali, yaitu steak Gajah Wong – Yogya, yang dulu harganya membuat seorang Kapten geleng-geleng karena mengira adalah makanan paling mahal se-Indonesia dan ternyata tidak di kemudian hari.   Saya sangat sedih bahwa Bapak harus pergi lebih awal dari perkiraan saya, sehingga saya belum bisa membuktikan rasa terima kasih saya kepada Bapak.   Bapak, mohon maaf atas segala kesalahan dan semoga Bapak mendapatkan tempat terindah di sisi-Nya. Amin.

Silaturahmi dan Salah Satu Keajaiban Jabat Tangan

Tinggalkan komentar

Beberapa waktu lalu saya menghadiri sebuah presentasi tentang penyembuhan denganp dasar-dasar mengubah energi cinta dari perasaan dan pikiran manusia, kepada Tuhan, kepada sesama, lalu dialirkan dalam tangan, berubah menjadi kekuatan penyembuhan yang luar biasa ajaib.  Dalam salah satu sesi, salah satu pembawa presentasi bernama Bapak Niam Moeis, yang menurut buku tamu adalah Vice President of Quantum Touch of South East Asia. membuat suatu adegan dan rekayasa transfer energi cinta yang sebenarnya telah menjadi rasa penasaran saya dalam beberapa tahun sebelumnya. Beliau menghampiri seorang anak kecil usia 10an tahun, lalu menjabat tangannya. “Apakah kamu datang ke sini dengan niat yang tulus nak. Ingin mendengarkan celotehan cerita orang tua yang sudah uzur ini?” Lalu si anak mengangguk. “Nah bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian,” kata Pak Niam, “maka ketika posisi seperti inilah saya merasakan ada sebuah hati yang dengan kerendahan hati, ketakziman, iman, sedang terus merenggut energi kebaikan yang mungkin ada dari dalam diri saya untuk melipatgandakan energinya sendiri, sehingga bahkan nantinya insyallah anak ini akan lebih hebat dari saya, karena hati dari tangan yang menggenggam tangan saya sekarang ini, nantinya akan menggenggam tangan-tangan yang lebih terhormat dari saya dan orang-orang besar yang akan ia temui sepanjang hidupnya.”

Bapak dan ibu sekalian, lalu kita pasti akan kembali mengenang peristiwa masa lalu ketika kecil, kita ikut berlarian untuk dapat berdiri berjejer di tepi jalan hanya agar bisa disalami oleh seseorang yang sangat terhormat. Ternyata inilah naluri seseorang untuk menyerap energi dari sang tokoh terhormat itu. Namun sesuatu yang saya fikirkan adalah, ternyata kita tidak perlu menunggu momen-momen seperti itu untuk menyerap energi kebaikan seseorang, untuk menjiplak nasib baik dari seseorang yang kita idolakan. Ketika kita berusaha mengulurkan tangan kepada siapapun dengan hati yang rendah hati, penuh ketakziman dan iman, dengan genggam kehangatan dan sorot mata yang penuh maaf, maka energi kebaikan siapapun akan menjadi milik bapak dan ibu sekalian. Anak-anak pun tidak perlu bermimpi dan bercita-cita menjadi ini dan itu, bila hati sudah terisi oleh mukjizat sifat tersebut, dengan segala sesuatu usaha hidup yang normal layaknya usaha orang lain, maka anak-anak itu akan menemukan jalan cepat untuk menjadi lebih hebat dari siapapun kelak.

Mohon maaf lahir dan batin.

Obituari Marsda TNI Purnawirawan Faustinus Djoko Poerwoko

2 Komentar

Dalam sejarah TNI Angkatan Udara, tidak banyak catatan tentang sosok prajurit yang mau dan sudi mendedikasikan pada dunia yang sering terlalu beresiko terhadap karir dirinya.  Namun Almarhum Marsda TNI (Pur) Faustinus Djoko Poerwoko, mantan Komandan Lanud Iswahjudi dan Panglima Kohanudnas, yang akrab dipanggil “Om Poer” adalah sosok yang betul-betul mencintai dunia menulis, melebihi dari pemikiran tentang resiko karier yang akan diterimanya.   Saya masih ingat ketika pertengahan tahun 1999, untuk pertama kalinya mengenal sosok Kolonel Penerbang Faustius Djoko Poerwoko yang baru saja dilantik menjadi Komandan Lanud Iswahjudi.   Saya memang tidak terlalu mengenal Om Poer sebelumnya.  Saya pernah mendengar nama dan melihat foto beliau sebagai penerbang termuda erobatik Spirit 78 yang menggunakan pesawat F-86 Sabre, namun secara umum nama-nama lain dalam angkatannya yang boleh dibilang sebagai generasi emas yang pernah dimiliki TNI, yaitu Alumnus Akabri 1973 yang begitu berjubel nama-nama besar seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Djoko Suyanto, Agus Wirahadikusumah dan sebagainya, mebuat saya lebih familiar kepada sosok-sosok tersebut.   Pertama kali saya mengenal dengan baik secara pribadi tentang Om Poer adalah ketika suatu hari beliau memanggil ke kantor dan menyampaikan banyak hal tentang tulis-menulis.   Saya baru tahu bahwa Om Poer sudah banyak memonitor adik-adiknya di Angkatan Udara yang menekuni dunia tulis-menulis.   Dan dari obrolan awal ini akhirnya sebagai yunior, saya banyak terlibat dalam cita-cita Om Poer untuk mengembangkan dunia tulis-menulis di dalam tubuh Angkatan Udara.  Tidak hanya tentang tulisan artikel lepas, namun bagaimana menyusun “Mahkota” seorang penulis, “Buku”.   Dalam banyak setiap kesempatan, Om Poer membuang jauh kehormatan “pangkat dan jabatannya” lalu melebur dalam pemikiran para yunior bila sudah berdiskusi tentang karya jurnalistik para prajurit yunior.   Ketika ada prajurit yunior yang dianggap salah karena salah menulis di media, saya selalu ingat komentar Om Poer, “Wah mbok ya biarin, wong sudah mau mencoba berkarya kok dimarahin.  Yang harusnya dimarahin ya yang tidak berkarya.”   Dalam banyak kesempatan saya cukup bersukur karena berikutnya, oleh “Om Poer” saya dikenalkan keluarga besarnya yang ternyata ada nama-nama jurnalis besar seperti Julius Poer (kakak kandung Om Poer) dan Djoko Poernomo (Pak Pom), yang beberapa kali akhirnya menjadi mentor saya dan beberapa perwira yunior yang tulisannya dimuat di Kompas. Paling tidak selalu ada bunyi sms “tit tit – tit tit” lalu keluar message “tulisanmu besok dimuat”.  Om Poer juga sering mengajak saya untuk menyambangi para penulis/jurnalis militer yang lain seperti Almarhum Hendro Soebroto, Marsekal Saleh Basarah, Marsekal Chappy Hakim, dan beberapa pendekar di Kompas yang ternyata ruang dan meja kerjanya sebesar para Jenderal di Cilangkap.   Om Poer melawan arus dengan menceritakan beberapa hal-hal rahasia dalam kariernya, tidak peduli saat ditegur para atasan saat tulisan dan komentarnya dianggap sedikit keluar pakem militer murni, namun gagasan Om Poer tentang budaya tulis-menulis di lingkungan militer, sikap egaliternya, kecintaannya kepada dunia kedirgantaraan sehingga setelah pensiun justru menjadi wartawan Majalah Angkasa, adalah sebuah  pemikiran emas yang harus dilestarikan.   Om Poer pun wafat tak jauh dari dunia yang dicintainya.   Saat ia dan Pak Ninok Leksono “jenggot” menjadi tamu kehormatan dari Pabrik pesawat AWACS Embraer Brazilia, ia terkena serangan jantung dan wafat menyusul adiknya Pak Pom yang meninggal sepuluh hari sebelumnya.   Saya dan Agus Suwarto (fotografer kedirgantaraan) masih terngiang saat layatan Pak Pom dua minggu lalu, ketika itu Om Poer datang dengan Pak Julius Pour yang baru saja menyelesaikan buku “Macan Tutul”, mereka berdua berkata  “jangan pernah berhenti menulis karena itulah yang akan menyalakan jiwa-jiwa penulis tua seperti kita.”

Selamat jalan Om Poer.

Letkol Pnb Budhi Achmadi, Ghost Writer, pernah diasuh menulis oleh Three Musketter “Julius Pour (Pak Jup), Djoko Poernomo (Pak Pom – Plompong), Djoko Poerwoko (Om Poer)”.

Entri Lama