Beranda » Sejarah Militer » Marathon – Perang Dunia I

Marathon – Perang Dunia I

Kapan perang dunia terjadi untuk pertama kali? Sampai saat ini orang mengenal bahwa PD I terjadi antara tahun 1914-1918.   Padahal sebenarnya ini bukan perang dunia yang benar-benar pertama. Sejarawan militer klasik, Herodotus, mengatakan bahwa perang besar yang bisa dikategorikan sebagai PD I terjadi sebelum manusia mengenal peradaban.  PD I yang dikenal orang sekarang, antara Kekaisaran Jerman yang berhadapan dengan Inggris dan Perancis (1914-1918), adalah perang besar pertama di era modern, abad ke-20.      

Tahukah anda tentang Marathon? Dan apa hubungan PD I dengan Marathon?   Sebelumnya marilah kita melihat letak dan kondisi geografinya. Marathon sebenarnya adalah sebuah lembah di pantai timur Attica – Yunani, berjarak 22 mil ( 1 mil setara dengan 1,85 km) dari Athena.  Lembah ini berbentuk bulan sabit, dibatasi pegunungan dan pantai.  Pegunungan membentuk setengah lingkaran dan berkelok 6 mil, yang kedua tebingnya menjulur ke pantai sekaligus mengurung lembah Marathon.  Sedang jarak terjauh pegunungan dari pantai adalah 2 mil.  

Kalau hanya sekedar nama lembah, mengapa Marathon ramai-ramai diabadikan dalam bentuk olahraga lari 22 mil?  Tentunya orang akan bertanya demikian. Marathon, yang menurut legenda Yunani adalah tempat yang dihadiahkan kepada Hercules, merupakan saksi pertempuran 12.000 prajurit Persia dan 10.000 prajurit Yunani. Marathon adalah tempat terjadinya PD I yang sesungguhnya, sekaligus tanda lahirnya clash of civilization antara bangsa Asia dan Eropa, dalam rentang 2492 tahun yang lalu (490 SM).

 Ekspansi Bangsa Persia

Prajurit Persia mulai berdatangan di Marathon pada musim panas 490 SM.  Mereka menggunakan 600 kapal, dengan panglima Datis, didampingi keponakan Raja Persia, Artaphernes.  Menyikapi hal ini, para pejabat militer Yunani dan pasukannya segera berkumpul di lereng pegunungan Marathon.  Mereka segera menyusun strategi perang, menghadapi prajurit Persia yang telah berlabuh dan membuat perkemahan di Lembah Marathon. 

Hadir di sana, sebelas anggota dewan perang Yunani.  Kesebelas orang itu dipilih setiap tahun dari sepuluh suku terbesar.  Kesemuanya berpangkat Jenderal dan satu orang ditunjuk sebagai panglima gabungan (Polemarch).   Tiap-tiap Jenderal menguasai pasukan  dari suku masing-masing dan memiliki kedudukan yang sama.   Sedangkan Polemarch mendapatkan hak istimewa untuk memimpin penyusunan strategi dan dalam perang berhak memimpin pasukan sayap kanan. 

Panglima gabungan, salah satu bangsawan Yunani bernama Callimachus, memimpin pertemuan di pegunungan Marathon itu. Masih ada kegamangan dari bangsa Yunani untuk menghadapi lawan yang jauh lebih kuat.  Apalagi, para prajurit Persia – anak buah Raja Darius, sekarang telah mendarat di Yunani.   Rakyat Yunani sudah melihat keganasan prajurit Persia di masa sebelumnya, yang telah berhasil membakar kerajaan-kerajaan lain dengan mudah.  

Persia adalah negara adikuasa di masa itu.   Dengan jumlah penduduk laki-laki dewasa yang tak lebih dari 30.000 orang, dan belum terlatih untuk perang, Yunani akan kesulitan menghadapi lebih dari 10.000 prajurit terlatih Persia. Namun perang ataupun tidak, rasanya pilihan yang sama beresikonya.  Andaikan prajurit Persia menguasai Yunani tanpa perang pun, maka penjarahan, pemerkosaan dan pembunuhan juga akan terjadi.  Sehingga dengan menjunjung tinggi kebesaran sejarah Yunani, para jenderal itu memutuskan untuk memerangi Persia. Jumlah pasukan Yunani yang ada di puncak pegunungan Marathon ada 12.000 orang.  Jumlah ini sudah termasuk milisi yang tidak terlatih.

Sebelum perang dimulai, Yunani menentukan panglima mandala Marathon. Yang kemudian diserahkan kepada Miltiades.   Ia adalah seorang ksatria kerajaan yang sudah kenyang dengan peperangan.  Miltiades muda pernah ikut berperang untuk Persia, namun memboikot dan pulang ke tanah airnya, Yunani. Sehingga ia tahu kelemahan-kelemahan prajurit Persia. Konon, nenek moyang Miltiades adalah semut-semut yang diubah menjadi manusia oleh Dewa Zeus, bernama Myrmidon.  Selain Miltiades dan Callimachus, Jendral Yunani yang nantinya punya andil besar di Marathon, yaitu Themistocles dan Aristides.  Themistocles nantinya menjadi pendiri angkatan laut Yunani.

 Genderang Perang Ditabuh

 Suatu sore, September 490 SM, Miltiades memberi instruksi kepada para prajurit untuk mempersiapkan diri.   Sesuai dengan kebiasaan Yunani, prajurit dikelompokkan dalam suku masing-masing.   Karena saat itu belum ada seragam, cara ini digunakan agar mereka lebih mudah dikenali dan dikomando.  Urutan pasukan juga disesuaikan dengan kedekatan wilayah antar suku, untuk mempermudah bahasa, kekompakan dan koordinasi.

Prajurit Yunani pun segera siaga.  Sesuai dengan perundingan, mereka dibagi menjadi tiga sayap.  Callimachus memimpin sayap kanan, serta Themistocles dan Aristides memimpin di tengah.   Di sayap kiri, ada ribuan pasukan suku Platæan yang terkenal gagah berani.   Miltiades berdiri di depan dan berteriak, “Saudaraku putra Yunani yang agung!   Mari berperang untuk negaramu.   Mari berperang untuk anak dan istrimu – yang begitu membanggakan ayahnya.   Mari bertempur demi kejayaan negeri ini.  Semuanya……serbu!”  Yang diikuti dengan raungan suara terompet perang.

Themistocles dan Aristides, memimpin prajuritnya yang ada di tengah berlari menuruni pegunungan.  Sedangkan pasukan sayap masih bersembunyi.  Ini adalah taktik untuk mengelabui dan menjepit musuh.  Jumlah prajurit tengah pun dibuat lebih kecil daripada yang ada di sayap.   Namun para prajurit ini adalah prajurit berani mati yang sudah mendapat pelatihan di sekolah wrestling, Athena.  Mereka adalah ahli pertempuran jarak dekat.    Miltiades menginstruksikan agar mereka berlari sekencang mungkin, sehingga prajurit Persia terpojok di pantai.

Melihat prajurit Yunani dalam jumlah kecil berlari menuruni gunung tanpa kuda dan pelindung badan, prajurit Persia malah mengira ada prajurit gila yang akan bunuh diri.  Apalagi kekuatan utama prajurit Persia adalah tentara berkuda (kavaleri).   Dengan pongah mereka menyambut serangan Yunani.  Miltiades, yang terkenal jenius, masih menunggu saat yang tepat untuk menggerakkan pasukan sayapnya.  Ia masih berada di balik gelapnya pegunungan Marathon saat pasukan tengah bergerak turun.

Pertempuran berat sebelah tidak terhindarkan.   Pasukan tengah yang diumpankan terlihat  kuwalahan dan bergerak mundur.  Saat inilah terompet perang berbunyi untuk kedua kali.   Miltiades memimpin pasukan sayap bergerak turun dan mengejutkan prajurit Persia.   Pasukan sayap Yunani yang datang tanpa disangka-sangka telah menurunkan mental prajurit Persia.  Prajurit sayap Yunani langsung menusuk pusat pertahanan.  Ini membuat prajurit Persia kacau balau, karena menghadapi musuh dari kiri – kanan dan depan.

Di malam gelap itu, pertumpahan darah terbesar pertama dalam sejarah perang tak bisa dihindarkan.  Namun pertempuran ternyata tidak berlangsung lama.  Beberapa jam kemudian, prajurit Persia mulai kehilangan percaya diri.   Datis memerintahkan anak buahnya mundur ke kapal untuk melarikan diri.   Prajurit Yunani pun berusaha membakar kapal-kapal Persia.   Pertempuran berkecamuk di sepanjang pantai dan berubah menjadi ajang pembantaian prajurit Persia yang mencoba meloloskan diri.

Di saat kritis menjelang kemenangan, dua Jenderal Yunani gugur, yaitu panglima gabungan Callimachus dan  Jenderal Stesilaus.  Kapal-kapal prajurit Persia bisa meninggalkan pantai Marathon.   Namun Miltiades segera memutar otaknya.  Ia mencurigai bahwa kapal-kapal prajurit Persia akan menuju Athena yang lengang, karena semua prajurit berada di Marathon. Ini juga berarti sepertiga penduduk laki-laki dewasa Yunani tidak ada di rumahnya.  Bila Datis menyerang Athena, akan mudah sekali untuk menghancurkan ibukota negara itu. Maka Miltiades pun membawa sebagian pasukan berbaris (sebagian  sejarawan menyebutkan dengan kata “berlari”) ke Athena, meninggalkan Aristides dan pasukannya di Marathon.   Dan betul adanya, pagi-pagi kapal-kapal prajurit Persia sudah mulai merapat di pantai Athena.   Namun Datis begitu kecewa, karena ia melihat ribuan pasukan Miltiades sudah menunggu di pantai.   Kapal-kapal itupun berbalik arah dan pulang ke Persia yang ada di seberang lautan.

Yunani berhasil menangkap tujuh kapal dan membunuh 6400 prajurit Persia.  Korban di pihak Yunani adalah 192 prajurit.  Prajurit Yunani yang gugur dimakamkan di Marathon.   Ini sebenarnya tidak sesuai dengan tradisi Yunani, yang memakamkan pahlawannya di sebuah makam kehormatan di tepian kota Athena, bernama Cerameicus.  Hal ini dimaksudkan untuk menghormati jasa para prajurit sekaligus lembah Marathon, yang telah ikut menjadi saksi peristiwa besar di malam itu.  Di Marathon dibangun sepuluh tugu untuk penghormatan kepada sepuluh suku Yunani yang ikut bertempur di Marathon.

Demokrasi Sejak Zaman Batu

Kilas balik ke belakang, Persia adalah icon keunggulan Asia terhadap Eropa.  Asia juga menjadi kiblat budaya dan kehidupan sosial lainnya.  Negara-negara Asia begitu disegani saat itu. Namun demikian perkembangan peri kehidupan sosial dan demokrasi tidak seperti apa yang terjadi di Eropa.   Saat pertempuran Marathon terjadi, Yunani sudah berbentuk republik dan mengembangkan pemerintahan demokratis.   Sedangkan Persia walaupun sudah menjadi negara kaya masih diperintah oleh Raja yang memilih dirinya sendiri.   Asia dipenuhi dengan praktek poligami, korupsi, dan berbagai macam tindakan barbarian.   Hingga saat inipun, Asia masih belum meninggalkan praktek-praktek era zaman batu tersebut.

Lihatlah bagaimana Yunani menyusun kekuatan perangnya di Marathon.  Praktek-praktek demokrasi pun sudah digunakan dalam kehidupan militer.   Setiap suku diperlakukan secara adil dan memiliki kedudukan sederajat.   Bahkan Panglima Gabungan pun dipilih setiap tahun dan dirotasi antar suku. Kita yang sudah hidup ribuan tahun setelah perang Marathon, belum tentu bisa melakukan hal ini.   Melaksanakan kaidah-kaidah demokrasi di negeri Indonesia yang katanya kaya akan nilai luhur dan budaya agung, bagaikan menegakkan benang basah.   Setiap ada pergantian pemimpin diikuti dengan saling sikut dan keributan.

Sekarang ini kita mewarisi tradisi negara-negara Asia zaman dulu.  Kita mewarisi tradisi  Raja-Raja Asia yang  memiliki kekuasaan tak terbatas dan memerintah negara dengan seenaknya sendiri.  Namun demikian,  seorang Raja adalah panutan dan idola rakyat walau perilakunya tidak pantas untuk dicontoh. Kebiasaan nenek moyang ini mengakar pada diri kita bahwa hidup yang enak akan didapatkan bila berkuasa. Kekuasaan diberikan untuk dinikmati, bukan untuk berbuat kebaikan.  Tak heran bila di negeri kita yang miskin ini, semua orang dari yang berstatus pejabat pemerintah sampai pemulung, mewarisi sifat-sifat Raja.  Mengapa? Raja itu kalau tidak tercapai keinginannya pasti marah, membuat huru-hara dan membunuh. Pernahkah anda mengenal dua aturan dasar seseorang berhati Raja?  Pertama, Raja tidak pernah salah.  Kedua, bila Raja akhirnya melakukan kesalahan maka kembali ke aturan pertama.

Lari Marathon yang sering digelar di berbagai negara sebenarnya adalah peringatan kemenangan bangsa Eropa atas Asia.  Zaman dulu, ini adalah momen penghinaan kepada Asia. Namun kita tidak perlu risau dengan itu, karena merencanakan apa yang akan kita kerjakan ke depan lebih berguna dibanding membanggakan masa lalu. 

(Pernah dimuat di Majalah Intisari)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: