Beranda » Penerbang Terbesar Sepanjang Sejarah (Page 3)

Category Archives: Penerbang Terbesar Sepanjang Sejarah

10. Marsekal AU Kerajaan Inggris, Viscount Trenchard of Wolfeton

MENGOLAH KEKUATAN UDARA

JIKA SESEORANG BERKATA bahwa seorang mayor infanteri yang sudah berumur masuk ke Angkatan Udara sebagai seorang pilot dan tiga tahun berikutnya menjadi komandan lapangan, dan tiga tahun setelah itu menjadi kepala staf, ia mungkin akan ditertawakan karena keinginannya tersebut.

Tetapi Mayor Hugh Montague Trenchard melakukannya.

Saya bertanya kepada Lord Trenchard : maukah ia memberitahu rahasia di balik suksesnya? Berbicara dengan kearifan seorang pria berusia 80 tahun, ia berkata pada saya di perjamuan House of Lords : Yang membentuk pribadi seseorang adalah kritik dan ketegaran menghadapi rintangan. Jika ia hanya menerima pujian maka sesungguhnya ia sudah berakhir.”

Seseorang yang menghadapi langsung musuh-musuhnya, menderita karena kecaman-kecaman, dan menghadapi pertentangan, dalam pandangan Trenchard rintangan ini menguji seseorang dan membangkitkan kekuatannya. Seseorang yang kuat akan berpegang teguh pada pendiriannya dan tidak akan terpengaruh ataupun meratapi dan menyesali apa pendapat orang tentang dirinya. Semangat juang Trenchard mengantarkannya ke puncak kejayaan sebagai Marsekal pertama Angkatan Udara Inggris. Namun ia tidak akan sampai ke sana jika ia tidak memiliki kemampuan untuk mengesampingkan omong kosong tentang apa yang ia baca, apa yang dikatakan orang lain, dan apa yang ia pikirkan sendiri.

Awal karirnya tidak begitu cemerlang. Ia gagal dalam unjian masuk angkatan bersenjata, dimana ayahnya menjadi seorang kapten.

Akhirnya ia bergabung dengan milisi — yang tidak memerlukan ujian — sebagai cara untuk mencapai tujuannya. Dari seorang milisi ia segera memperoleh pangkat letnan-dua di Resimen Tentara Skotlandia. Ia adalah seorang kapten di kesatuannya pada saat perang Afrika Selatan berlangsung. Disana ia menemukan arah baru, bergabung dengan Korps Perintis dan Pandu Kanada. Kerja kerasnya menarik perhatian Lord Kitchener yang memberinya brevet mayor. Ini bukan promosi dalam resimennya, karena Trenchard telah keluar, dan perlu waktu dua belas tahun sebelum ia menjadi mayor di Resimen Tentara Skotlandia.

Ketika perang Afrika Selatan usai ia tidak ingin menjadi tentara rumahan. Ia bergabung dengan Pasukan Perbatasan Afrika Barat, dan pada tahun 1906 memenangkan penghargaan Tanda Bakti Kehormatan di Nigeria.

Kantor Urusan Perang menariknya kembali ke Inggris pada tahun 1910. Ia mencoba untuk keluar dengan bergabung ke dalam pasukan Pertahanan Kolonial di Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan atau ke Gendarmerie Macedonia, sebuah pasukan polisi Balkan. Namun Kantor Urusan Perang Inggris memerintahkannya tetap di Inggris.

Kekosongan ini mengusik semangat berpetualangnya. Karena itu meskipun ia telah berumur 39 tahun, dan belum pernah terbang sekalipun hanya menjadi penumpang, ia memutuskan untuk bergabung dengan penerbangan militer, dimana ia akan menemukan hal-hal baru yang menyenangkan. Namun untuk dapat masuk ke Korps Terbang Kerajaan ia harus memiliki sertifikat penerbang dari Royal Aero Club. Trenchard diberi waktu sepuluh hari untuk mendapatkan sertifikat tersebut. Setelah itu ia diberitahu bahwa ia sudah terlalu tua untuk dapat diterima. Biasanya orang akan ragu-ragu apabila ia sudah cukup berumur. Namun Trenchard tidak mempedulikan ini.

Dengan mata biru, tinggi enam kaki tiga inchi, berat 178 pon ia akhirnya memilih sekolah penerbangan Sopwith di Brooklands. T. O. M. Sopwith, yang saat itu merupakan kepala perusahaan Hawker-Siddeley, perakitan pesawat terbang terbesar di Inggris, adalah seorang pilot yang luar biasa. Meskipun Trenchard tidak berpengalaman dengan pesawat dan sudah berumur, Sopwith membimbing murid barunya dengan baik. Dalam waktu seminggu, setelah menerbangkan pesawat Farman, Trenchard berhasil memperoleh sertifikat penerbang No. 270 pada tanggal 13 Agustus 1912.

Selanjutnya Trenchard berhasil lolos dalam kursus penerbangan militer serta ujian di Central Flying School di Upavon. Pada tanggal 1 Oktober 1912 ia menjadi staf instruktur dan pada tanggal 23 September 1913 ia menjadi asisten komandan.

Ketika Perang Dunia I dimulai Korps Terbang Kerajaan menerbangkan hampir semua pesawat yang ada ke Perancis. Trenchard dipromosikan menjadi Letnan Kolonel dan dikirim dari Upavon ke Farnborough, dimana ia mendapati para pilot yang kurang terlatih dan tidak efisien serta sejumlah pesawat apkiran. Dari sini ia mulai membangun organisasi pelatihan dan cadangan Korps Terbang Inggris, sehingga skadron dapat dikelola dan berkembang. Ia memberdayakan energi yang ada, menghargai pekerja keras, dan membuang yang malas.

Di bawah bimbingannya pasukan cadangan berkembang pesat, dan wing-wing baru didirikan dari semula hanya satu wing Trenchard. Lebih banyak skadron yang terbang ke Perancis untuk memenuhi panggilan tugas militer untuk operasi udara. Kemudian Trenchard ditempatkan di Perancis untuk mengepalai wing pertama di luar negeri yang baru saja dibentuk, yang ditugaskan di Pasukan Pertama Haig. Selama pertempuran Neuve Chapelle pada musim semi 1915, Trenchard mengoperasikan skadronnya untuk bekerjasama dengan pasukan infanteri dan artileri. Ini merupakan pertama kalinya pesawat terlibat secara luas dalam operasi meskipun mengalami kekalahan besar. Trenchard dikritik oleh markas R.F.C. karena kekalahan dialaminya, namun ini diabaikannya. Ia memutuskan untuk melanjutkan operasinya, dan ia sadar bahwa tak akan ada kemenangan tanpa pengorbanan yang besar. ketika pada pertengahan Agustus 1915 seorang jenderal baru akan ditunjuk memimpin Korps Terbang Kerajaan di Perancis, inisiatif dan kepribadiannya selalu di depan teman-temannya.

Trenchard akhirnya terpilih. Ia segera meraih kesempatan terbesar dalam hidupnya, dan tak lama kemudian dipromosikan dari kolonel menjadi Brigadir Jenderal dan akhirnya Mayor Jenderal. Ia tidak lagi menjadi pilot. Ia bekerja di kantor dan harus meninggalkan kokpit. Ia tidak lagi pergi dengan pesawat melainkan dengan mobil Rolls-Royce.

Meskipun tidak pernah terlibat pertempuran, Trenchard telah terbang dan memahami dunia seorang pilot, ia tahu bagaimana harus memerintah dan menanamkan kesetiaan seseorang. Ia berpandangan bahwa seorang yang berwibawa adalah “orang yang tahu bagaimana memperlakukan bawahannya sebagaimana mestinya.” Ia dapat melakukannya dengan baik meskipun ia menuntut banyak hal dari mereka. Ia adalah seorang yang tegas, dan tidak segan-segan “menghukum” siapa pun yang melakukan kesalahan. Ia mengatakan kepada salah satu skadron pembom bahwa jika ada serangan yang memungkinkan mereka semua habis, maka tugasnya adalah untuk menyelamatkan mereka.

Ia bukanlah seorang yang “pandai bergaul.” Ia tak pernah memanggil temannya dengan nama baptis mereka dan tidak seorang pun yang mau berbicara dengannya secara langsung. Namun ia menjadi sosok yang legendaris dengan para penerbang mudanya; mereka menjuluki komandannya dengan sebutan “bom” karena suaranya yang dalam.

Korps Terbang Kerajaan di Perancis menjadi pendukung pasukan darat, dan Trenchard bekerjasama dalam kolaborasi dengan markas komando tertinggi, Sir Douglas Haig. Ia merencanakan tugas dari skadron udaranya untuk melakukan serangan tanpa henti. Pertempuran udara selalu dilakukan di garis pertahanan Jerman. Dengan ini Trenchard membangun semangat dari Angkatan Udara.

Dengan persetujuan Haig Trenchard membentuk pasukan khusus pembom yang terdiri dari lima skadron pada tahun 1917. Namun pasukan ini tetap menjadi bagian dari Korps Terbang Inggris, sehingga bisa digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk dukungan langsung terhadap pasukan darat. Pada tahun 1918 Pemerintah menjadikan pasukan ini sebagai Angkatan Udara Independen untuk pemboman strategis terhadap industri Jerman, dan menempatkannya langsung di bawah perintah Kabinet Perang.

Perdana Menteri menunjuk Mayor Jenderal Sir Hugh Trenchard sebagai kepala staf Dewan Penerbangan yang baru dibentuk pada tanggal 1 Januari 1918. Trenchard sebenarnya lebih senang tinggal di Perancis. Setelah terpaksa pulang, ia sekarang harus bekerja sama dengan sipil untuk pertama kalinya.

Kepala Dewan Penerbangan adalah Menteri Negara yang merupakan wakil langsung dari Pemerintah, dan bertanggung jawab kepada Parlemen untuk Angkatan Udara Kerajaan Inggris. Kepala staf angkatan udara diwajibkan memberi saran kepada Pemerintah tentang persoalan militer di bidangnya dan menunggu instruksi Pemerintah untuk dilaksanakan oleh Angkatan Udara. Dengan demikian Departemen Penerbangan dan kepala staf angkatan udara harus bertindak dengan persetujuan.

Ketika Angkatan Udara Inggris dibentuk serangan besar Jerman yang dirancang oleh Ludendorff telah dialami oleh Pasukan Kelima Inggris yang berada di Perancis. Trenchard percaya bahwa Inggris berada di ambang kekalahan oleh Jerman jika dibandingkan dengan Battle of Britain tahun 1940. Inggris memiliki dua juta pasukan di Perancis, sedangkan pasukan Perancis telah habis, dan Italia kalah, Rusia telah mundur dan Amerika Serikat belum masuk. Saat itu semua tergantung pada kekuatan pasukan Inggris. Melihat ini Sir Douglas Haig pada tanggal 11 April 1918 menulis pesan yang nantinya ia sebarluaskan : Tak ada jalan lain bagi kita kecuali bertempur habis-habisan! Setiap posisi harus dipertahankan oleh semua orang: kita tidak boleh berhenti. Dengan segenap kemampuan kita, dan keyakinan bahwa keadilan akan datang, kita semua harus bertempur sampai titik darah penghabisan.

Angkatan Bersenjata pun melakukannya. Mereka terus bertempur dalam pertempuran di Lys selama empat puluh hari empat puluh malam, dengan kekuatan tiga atau empat lawan satu, Inggris kehilangan 209.466 pasukan yang tewas atau terluka, namun Jerman kehilangan 308.825 tentara dan dengan demikian Inggris menang. Saat itu banyak pemuda Inggris yang mati seperti bunga-bunga layu yang hanyut di sungai Lys. Namun pengorbanan dan keberanian mereka tercatat dalam sejarah Inggris, seperti fleurs-de-lis, menghiasi cerita kepahlawanan Kerajaan Inggris.

Di tengah-tengah pertempuran besar tersebut, Angkatan Udara pertama di dunia yaitu Royal Air Force dibentuk pada tanggal 1 April 1918. Pada mulanya mereka tidak melakukan tugas tersendiri seperti sekarang. Angkatan perang ini merupakan gabungan dari dua kekuatan Dinas Penerbangan Angkatan Laut dan Korps Terbang Kerajaan Inggris. Setelah itu tidak ada lagi dinas penerbangan angkatan laut, ataupun angkatan darat, namun merupakan gabungan diantara keduanya. Hanya ketrampilan dan waktu yang menjadikannya sebagai satu bagian tak terpisahkan.

Sementara itu kebijakan untuk mengatur kekuatan Angkatan Udara yang baru ini harus dipikirkan. Trenchard ingin berkonsentrasi pada kekuatan udara di Perancis untuk mendukung pasukan darat yang terdesak oleh serangan Jerman. Departemen Luar Negeri menginginkan untuk mengirim skadron udara yang didampingi oleh angkatan laut. Trenchard mengatakan bahwa Angkatan Laut tidak membutuhkannya. Ia menolak untuk memecah Angkatan Udara. Untuk melakukannya ia harus menentang Haig yang terkenal dengan kekuatan pasukannya.

Daripada mengambil kebijakan yang bertentangan dengan keyakinannya, Trenchard memilih mundur. Saat melakukannya ia menghadapi krisis terbesar dalam hidupnya, karena sedikit mantan pejabat yang mampu bertahan dari efek pengunduran dirinya. Dan Trenchard mempertaruhkan masa depannya. Ia telah mendapatkan reputasi baik dalam memimpin Korps Terbang Kerajaan Inggris di Perancis, dan kabar pengunduran dirinya menjadi perdebatan di Parlemen. Banyak suara yang mendukung Departemen Penerbangan namun ia telah mundur. Sementara Trenchard masih mempunyai reputasi, ia tidak bisa kembali ke Dewan Penerbangan karena tempatnya telah digantikan oleh orang lain.

Selama beberapa waktu ia tidak mempunyai pekerjaan dalam keadaan negara yang sedang berperang. Kemudian ia ditawari untuk memimpin sebuah Angkatan Udara Independen. Kekuatan ini dimaksudkan untuk membentuk ratusan skadron pembom, meskipun pada prakteknya hanya terdapat sembilan. Meskipun kekuatan ini diatur oleh Kabinet Perang, Trenchard diberi kebebasan. Dengan demikian, ia bisa melakukan sesuatu menurut pemikirannya, seperti membom pangkalan udara dan membantu pasukan darat saat mereka terdesak, dan juga menyerang pusat industri musuh. Foch seorang jenderal Perancis, yang pernah menjabat sebagai komandan tertinggi ingin mengembalikan kekuatan angkatan perang Perancis seperti Inggris. Untuk itu, ia menginginkan Angkatan Udara Independen mendukungnya. Ini ditolak oleh Trenchard dengan alasan ia selalu membantu Foch jika diperlukan, dan ini sama saja.

Ketika perang berhasil dimenangkan Trenchard diberi gelar baronet dan ditunjuk sebagai kepala staf angkatan udara Royal Air Force pasca perang. Sesuai dengan peraturan pemerintah kekuatannya dikurangi dari 350.000 menjadi 28.000 personel. Skadron tempurnya dikurangi dari 200 menjadi 25, sedangkan 199 skadron pelatihannya mengalami penurunan drastis. Dengan kekuatan kecil ini Trenchard harus membangun dasar kekuatan dari Royal Air Force seperti pada Perang Dunia II. Untuk jasanya ia sering dijuluki “bapak Angkatan Udara”.

Semula Royal Air Force menerapkan gelar yang sama dalam kepangkatan militer. Pada bulan Agustus 1919 Trenchard mengubahnya menjadi pangkat-pangkat terpisah yang masih dipakai hingga sekarang. Ia sendiri menjadi Marsekal Udara pertama, pangkat yang setara dengan letnan jenderal bintang tiga. Ia mulai melatih siswa Angkatan Udara Kerajaan di sekolah khusus Angkatan Udara dengan mendirikan Royal Air Force College, Cranwell, dan Royal Air Force Staff College. Ia juga membentuk Royal Air Force Reserve sebagai pasukan cadangan dan menerima para pilot di Perang Dunia I. Ia memperkenalkan komisi jangka pendek, sehingga para pilot cadangan dapat berkembang. Ia juga mendirikan Auxiliary Air Force, sebagai “pendukung” kekuatan udara.

Diperlukan seorang seperti Trenchard yang mampu memisahkan tugas profesional kemiliteran sesuai dengan kebutuhannya. Musuh berusaha memecah belah kekuatan militer lewat ini. Namun Royal Air Force dapat membedakan eksistensi dirinya dengan menjalani kebijakan selama masa damai seperti yang dilakukan oleh Angkatan Laut dan Angkatan Darat. Trenchard juga mengemban tugas penjaga perdamaian di Iraq dengan skadron-skadron R.A.F. serta di Syria dengan seper lima anggaran Kantor Urusan Perang Inggris; ia juga melakukannya di Aden dan Somalia. Ini membuat posisi Angkatan Udara tetap aman dari Angkatan Bersenjata.

Namun Angkatan Laut berbeda. Pesawatnya tidak memiliki kebebasan seperti sekarang. Saat itu mereka tidak dapat melakukan patroli seperti sekarang. Pada tahun 1922 Pasukan Armada Udara dibentuk, dengan pilot dari Royal Air Force yang ditugaskan di kapal induk. Akhirnya bagian Royal Air Force yang bertugas di laut diambil alih oleh Angkatan Laut secara terpisah. Lord Trenchard tidak pernah setuju dengan pemisahan Angkatan Udara, dan saat menjabat sebagai kepala staf angkatan udara ia bisa menolaknya.

Ia mendapatkan pangkat tertinggi saat menjadi Marsekal bintang lima di Royal Air Force pada tahun 1927. Pada tahun 1929 ia meninggalkan Departemen Penerbangan setelah lama memimpin staf angkatan udara, dan mendapat kehormatan dari dalam dan luar negeri. Setahun berikutnya ia diberi gelar baron, dan diikuti dengan gelar viscount.

Laksamana Armada, Marsekal lapangan Angkatan Darat, dan Marsekal Angkatan Udara hanyalah jabatan yang tidak pernah berhenti. Karena itu Lord Trenchard sering menyeragamkannya. Ia sering berbicara di depan House of Lords, menjunjung tinggi Royal Air Force di hadapan musuh, menekankan perlunya biaya, personel dan persenjataan untuk itu, dan menjelaskan strateginya sebagai suatu kekuatan terpisah. Surat yang ditandatanganinya sering dimuat oleh koran-koran nasional, yang menunjukkan pandangannya tentang angkatan udara dan bagaimana fungsinya. Pada masa Perang Dunia II ia sering berkunjung ke berbagai negara untuk melihat aksi Royal Air Force dan mempromosikan kesejahteraannya. Ia terbang sebagai penumpang ke Alaska, Kanada, dan Amerika Serikat beberapa kali. Ia juga ke Afrika, Timur Tengah, Mediterania dan Eropa. Ia tidak tahu berapa jam terbangnya, baik sebagai pilot maupun penumpang, arena ia tidak mempunyai catatan untuk itu. Saat usianya hampir delapan puluh tahun ia terbang sebagai penumpang pesawat latih Meteor untuk merasakan sensasi pesawat jet; ambisinya adalah dapat melebihi kecepatan suara.

Ia tidak sempat menjadi pilot besar. Ia mulai terbang di saat cukup berumur. Namun ia adalah pengolah kekuatan udara untuk tujuan militer, setara dengan kehebatan para penerbang besar, dan di atas prestasi mereka pula reputasinya dibangun. Ia tak pernah berjanji. Ia sadar akan keterbatasan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan. Ia senang membantu siapa pun, namun tidak akan membantu mereka yang tidak memerlukan bantuan. Ia tidak pernah bertindak serampangan. Ia tidak senang menonjolkan sifat humor. Karakternya seperti batu yang tak akan pecah oleh gempa bumi. Ia berkeyakinan bahwa kekuatan yang dimiliki individu — sebagaimana juga pada Royal Air Force — berasal dari dalam dan bukan karena pengaruh luar. Dan setelah dua puluh lima tahun ia meninggalkan Departemen Penerbangan ia tetap dianggap sebagai pelopor dan pendiri Angkatan Udara yang paling berani di dunia. Ia bekerja sampai akhir hayatnya. Meskipun kebutaan usia lanjut menimpanya semangatnya tak pernah padam. Ia meninggal pada tanggal 10 Februari 1956. Dalam sebuah pemakaman kebesaran tubuhnya disemayamkan diWestminster Abbey. Sesuai dengan keinginannya, topi dan pedangnya disimpan di Galeri Perintis di Royal Air Force College, Cranwell. Di tempat itu kenangannya disimpan berdampingan dengan fotonya, dan diresmikan oleh Marsekal Udara Pertama Sir Dermot Boyle, yang saat itu menjabat kepala staf angkatan udara, panglima tertinggi yang merupakan lulusan sekolah tersebut.

9. Rittmeister Manfred Freiherr von Richthofen, Ordre Pour le Mérite

BARON MERAH — PENERBANG PEMBURU

MANFRED VON RICHTHOFEN dijuluki Baron Merah sebagai gelar kehormatan Jerman, karena ia menerbangkan pesawat Albatross Scout atau pesawat Fokker Triplane yang dicat warna merah darah. Warna ini adalah warna yang sesuai untuk insting seorang pembunuh. Ia telah meraih 80 kali kemenangan sebelum ia sendiri terbunuh dalam sebuah arena pertempuran yang tak terlihat setelah ia memakan banyak korban. Ia mempunyai ketrampilan dan keberanian yang sebelumnya tidak ia perlihatkan pada Perang Dunia I sebagai seorang petarung sejati.

Pada masa awal Angkatan Udara Jerman sebagian besar dari para pilotnya hanya dianggap sebagai pengemudi pesawat, dan kebanyakan tidak diberi pangkat. Sedangkan pengawasnya adalah para perwira. Richthofen semula adalah seorang pengawas. Dalam sebuah perjalanan naik kereta api pada tahun 1915 ia bertemu dengan seorang pilot tempur dari Saxon, Oswald Boelcke, seorang perwira yang telah memenangkan empat kali pertempuran dengan pesawat Fokker monoplane. Sebelum perang, Boelcke adalah seorang insinyur yang antusias dengan dunia penerbangan, dan pembicaraan dengannya membuat Richthofen terdorong untuk melamar menjadi seorang pilot.

Setelah kematian Max Immelmann, Boelcke menjadi seorang pilot tempur Jerman yang terkenal. Ia terpilih untuk memimpin Jagdstaffel — nama yang diberikan untuk skadron tempur khusus kursi tunggal yang dibentuk oleh Militer Jerman pada tahun 1916 saat pesawat-pesawat tempur Albatross Scout tiba. Letnan Boelcke, yang mengenakan Ordre pour Le Mérite, penghargaan Jerman yang setara dengan Lencana Victoria di Inggris, diberi kebebasan untuk memilih para pilotnya sendiri. Richthofen memperoleh pengalaman bersama Boelcke selama dalam perjalanan kereta api tersebut, dan sekarang Boelcke memberinya kesempatan.

Pada tanggal 17 September 1916, Jagdstaffel melakukan operasi pertamanya dan Richthofen bergabung dengan Boelcke untuk pertama kalinya. Di daerah teritorial Jerman dekat Cambrai, Jagdstaffel menyerang formasi pesawat B.E.2C dari Skadron No. 11 R.F.C. yang didukung oleh pesawat tempur F.E.2.B kursi ganda. Setelah beberapa kali gagal mengejar sebuah pesawat F.E.2B, Richthofen berhasil mengincar ekornya. Dari sudut yang tak terlihat oleh kru Inggris, ia menembak dengan menggunakan senapan mesin Spandau. Kedua krunya pun luka parah. Pilot yang terluka tersebut kemudian mendarat di sebuah ladang di belakang pertahanan Jerman. Dengan gembira Richthofen mendarat di dekatnya, dan hampir merusakkan senjata mesinnya karena tergesa-gesa. Ia membantu sejumlah pasukan infanteri Jerman untuk mengangkat korbannya dari kokpit mereka. Mereka pun tewas tak lama kemudian. Tak ada penyesalan dalam diri Richthofen. Sehari kemudian ia menyurati ibunya : “Aku merasa bangga atas usahaku.” Saat menuju Cambrai ia mendatangi makam kedua korbannya dan meletakkan sebuah batu pada masing-masing makam. Kedua batu tersebut diletakkan pada tumbal pertama dari ketenarannya.

Jagdstaffel mengklaim enam kemenangan pada hari itu. Boelcke mendapatkan satu, dan masing-masing dari kelima pilot di skadronnya juga memperoleh satu kemenangan. Hal ini tidak terlepas dari kemampuan pesawat Albatross Scout tang memiliki keunggulan taktis dalam hal kecepatan, manuver naik, dan kekuatan senapannya. Meskipun kemenangan awalnya diperoleh atas para pilot pemberani yang menggunakan pesawat yang kalah canggih, namun keberhasilan Jagdstaffel disambut dengan suka cita di Jerman. Komandan udara memberikan masing-masing pilot yang telah berhasil menembak pesawat musuh sebuah piala perak bertuliskan nama mereka, piala dengan desain Jerman kuno. Kemudian para pilot Jagdstaffel tersebut merayakan kemenangannya dengan minum anggur merah buatan Perancis. Dan tidak tak heran jika diadakan pesta tarian sepatu, yang diwarnai dengan denting gelas dan tarian khas Jerman yang memadukan gerakan tangan dari dua orang penari seperti orang yang akan berpelukan.

Hadiah dari komandannya itu telah memicu keinginan Richthofen. Ia bertekad untuk mengumpulkan piala dari masing-masing kemenangan yang diraihnya — begitu yakin sehingga melupakan resikonya. Seorang perajin perak Berlin terus-menerus menerima pesanan piala perak setinggi 2 inchi, berlapis emas dan ditulisi dengan nomor seri yang menunjukkan jumlah kemenangannya serta jumlah korban, dan tanggal pertempurann. Ini menciptakan kompetisi egoistis di dalam pikiran Richthofen, yang mendorongnya untuk menambah daftar kemenangannya.

Tindakan seperti ini sulit dibayangkan. Orang Inggris akan merasa muak dengan tindakan ini. Memberikan trofi atas kehancuran hidup seseorang dalam sebuah tugas militer dengan menembaki pesawat lawan menurut pandangan Inggris adalah suatu tindakan keji.

Untuk memahami sikap Richthofen itu kita harus tahu bahwa ia adalah seorang Prussia yang terabaikan. Ia biasa melakukan perburuan dan suka menembak. Ia melakukan pembunuhan untuk olahraga, seperti menembak binatang liar dan menganggap hal itu adalah suatu prestise. Kebiasaan tersebut membentuk sikap mental saat ia menjadi pilot, ketika menembak pesawat lawan serta korbannya dijadikan sebagai sebuah permainan yang menghasilkan trofi untuk dirayakan, meskipun ia harus membeli sendiri emblem untuk sukses perburuannya. Tak ada pilot tempur lain yang memiliki sifat egois dan jahat sepertinya yang bahkan tidak mempunyai rasa belas kasihan. Ia bukanlah instrumen militer yang efisien untuk menghancurkan musuh-musuh negaranya jika dibandingkan dengan pemburu binatang liar di hutan. Saya rasa Richthofen tidak bisa membedakan antara binatang liar dengan seorang penerbang, kecuali secara fisik. Motif perburuan baginya dalam dua hal tersebut sama — yaitu untuk menunjukkan kekuatannya. Sebagian besar pilot Inggris, Perancis, dan Jerman meninggalkan keganasannya saat di darat, kecuali Richthofen.

Ia dilahirkan di Breslau pada tanggal 2 Mei 1892 dan meninggal di dekat Amiens, Perancis pada tanggal 21 April 1918. Ia memperoleh gelar keluarga dari abad ke-17, leluhurnya adalah tokoh politik sayap kanan, pemilik tanah, dan pemburu di hutan. Manfred berambut pirang dan berpenampilan menarik, bertubuh ramping dan tingginya sedang. Pada masa Perang Dunia I ia adalah seorang pahlawan Jerman. Fotonya yang tampan dengan sosoknya yang tegap banyak diburu oleh para wanita.

Dia sekolah ia kurang cemerlang dalam pelajaran, namun ia pandai dalam bidang atletik dan gymnasium. Ayahnya menyekolahkannya ke sekolah kadet militer. Setelah delapan tahun di sana ia ditempatkan di Resimen Pertama di Uhlans pada usia dua puluh tahun. Kehidupan di kavaleri sangat menyenangkan, karena setelah usai bertugas mereka selalu merayakannya dengan pesta. Suatu malam tanggal 2 Agustus 1914 Richthofen dan teman-temannya ditugaskan bergerak ke garis depan menuju Rusia. Perang telah dimulai. Tak lama kemudian ia dipindahkan ke Belgia untuk menghadang kavaleri Perancis. Ia menulis surat kepada ibunya bahwa ia ingin memenangkan penghargaan Iron Cross. Penghargaan selalu menjadi impiannya sejak awal perang. Satu hal yang ia takutkan adalah bahwa kakaknya, Lothar, bisa lebih baik darinya. Dengan tergesa-gesa ia memimpin pasukannya ke medan pertempuran, dan ia mengalami kekalahan hingga 70 persen. Ia pun menyalahkan dirinya sendiri, karena terlalu percaya diri. Setelah parit perlindungan dibuat, resimennya ditarik ke sana di front pertempuran Perancis di dekat Verdun. Menjelang akhir tahun 1914 ia menerima penghargaan Iron Cross setelah menjalani pertempuran yang hebat. Ia merasa bangga karena itu adalah penghargaan Iron Cross pertama dalam keluarganya.

Pada tahun 1915 ia ditunjuk menjadi perwira staf brigade dan beberapa bulan kemudian dikirim untuk bertugas di bagian persediaan. Ini tidak sesuai dengan semangat berburunya. Ia kemudian dipindahkan ke angkatan udara. Pada akhir bulan Mei ia mendapat pelatihan singkat sebagai pilot di Cologne, dan kemudian diberangkatkan ke Rusia. Setelah berpetualang dalam beberapa kali penerbangan melawan pesawat musuh ataupun tentara di darat, ia ditempatkan di pesawat pembom bermesin ganda di Ostend. Ia senang sekali melihat bomnya meledak. Suatu kali, saat memberi tanda agar pesawat temannya menyingkir agar ia bisa melihat ledakannya, ia mengeluarkan tangan kirinya sehingga jarinya putus akibat terkena baling-baling.

Pada bulan Oktober 1915, setelah mendapat senapan mesin baru ia berhasil menembak jatuh sebuah pesawat Farman kursi ganda milik Perancis. Pada bulan yang sama ia terbang sebagai siswa pilot di Döberitz, dekat Berlin, dan pesawatnya menabrak saat melakukan pendaratan solo. Richthofen yang penunggang kuda tidak memahami seluk beluk mesin serta cara kerjanya. Ia dua kali gagal dalam ujian, namun pada akhir Desember 1915 ia berhasil lulus dalam ujiannya yang ketiga.

Setelah tiga bulan penerbangan di Jerman dan mendapatkan pengetahuan teknik di pabrik pesawat Fokker di Jerman, ia ditempatkan di front pertempuran Verdun. Namun pesawat Albatross kursi gandanya yang berasal dari Skadron Tempur Kedua hanya dilengkapi dengan senapan mesin yang cocok untuk pengintaian. Ini kurang sesuai untuk Richthofen. Ia kemudian memasang senapan tambahan di atas sayap untuk menembak. Pada tanggal 26 April 1916 ia menyerang pesawat Perancis jenis Nieuport kursi ganda. Dari jarak 60 yar Richthofen menembakinya. Pesawat Nieuport itu pun mulai kehilangan kendali dan para kru pesawat Jerman menyaksikannya jatuh ke sebuah hutan. Namun pejabat Militer Jerman tidak memberikan penghargaan atas tertembaknya pesawat ini karena jatuh di luar garis pertahanan. Inilah sebabnya mengapa para pilot tempur Jerman selalu menunggu kesempatan untuk bertempur di garis pertahanan mereka sendiri, sedangkan para pilot Inggris selalu masuk ke garis pertahanan Jerman untuk menyerang.

Skadron ini menerima satu atau dua pesawat Fokker kursi tunggal dan Richthofen dipercaya untuk menerbangkannya. Namun setelah ia mengalami kecelakaan saat melakukan pendaratan ia kemudian dipindahkan untuk menerbangkan pesawat kursi ganda di front Timur. Ini menyelamatkan dirinya dari resiko ditempatkan di Korps Terbang Kerajaan Inggris yang terlibat pertempuran di Somme. Di Rusia ia dikenal sebagai pilot pembom. Hampir semua kecelakaan yang dialaminya disebabkan oleh kerusakan mesin. Ia suka membom kereta api dan perkampungan di kota, terutama jembatan penyeberangan Cossacks. Selanjutnya Boelcke datang ke Kovel untuk mengunjungi saudara laki-lakinya, bertemu dengan Richthofen, dan mengajaknya kembali bergabung dengan Skadron Tempur Pertama Jerman, Jagdstaffel yang baru.

Dalam enam minggu pertama operasinya, Jagdstaffel kehilangan sembilan orang pilot — enam meninggal, satu terluka, dan dua lainnya koma. Boelcke meninggal, akibat tabrakan dengan pesawat Albatross lainnya saat bertempur. Richthofen, satu diantara tiga orang yang selamat kemudian diberi tugas untuk memimpin skadron yang diberi nama baru Boelcke Jagdstaffel. Tak lama kemudian ia meraih tujuh kemenangan. Ia mengajarkan pada para pilotnya untuk menggunakan taktik formasi yang lebih baik dalam setiap pertempuran.

Pada tanggal 9 November 1916, sebuah formasi pesawat Inggris yang terdiri dari 16 pesawat pembom F.E.2B yang dikawal oleh 14 pesawat tempur melakukan serangan terhadap sebuah gudang amunisi di daerah Vraumont. Di dekatnya terdapat kantor milik Duke of Saxe-Coburg Gotha, yang merupakan kerabat Keluarga Kerajaan Inggris. Richthofen, yang memimpin enam pesawat Albatross, menyerang pesawat-pesawat pembom tersebut. Beberapa formasi pesawat Jerman lainnya ikut bergabung. Empat pesawat Inggris dan tiga pesawat Jerman hancur dalam pertempuran tersebut, dan Richthofen menembak jatuh korban ke delapannya di dekat pangkalan udara Lagnicourt. Saat mendarat untuk melihat pesawat yang jatuh, Richthofen bertemu dengan para staf perwira yang sedang berpesta. Ia pun diajak menemui Duke yang malam harinya memberikan bintang kehormatan Gotha padanya. Dua hari kemudian Richthofen juga menerima Tanda Jasa House of Hohenzollern. Sejak saat itu ia juga mendambakan penghargaan Pour le Mérite, seperti yang diterima oleh Immelmann dan Boelcke.

Sebelas hari kemudian ia menembak jatuh dua pesawat tempur sekaligus dalam sehari. Ia meminta agar penghargaan untuknya yang kesepuluh dibuat lebih besar dari yang sebelumnya, dan begitu pula untuk penghargaan selanjutnya.

Mungkin pertempuran terbesar dalam hidupnya adalah ketika bertemu dengan Mayor L. G. Hawker. L. G. Hawker setahun lebih tua dari Richthofen . Ia adalah seorang perwira di kesatuan tentara Inggris. Dunia penerbangan sangat menarik bagi Hawker, bahkan sejak sebelum perang. Ia memperoleh sertifikat terbang Aero Club No. 435 pada tanggal 4 Maret 1913 dengan sebuah pesawat Deperdussin di Hendon. Pada bulan Oktober 1914 Central Flying School di Upavon melepasnya untuk bergabung dengan skadron No. 6. Tanggal 16 Oktober berikutnya ia terbang ke Perancis, dan menjadi skadron pertama Pasukan Ekspedisi Inggris. Ia sangat menonjol dengan keberaniannya. Pada tanggal 19 April 1915, ia membombardir gudang pesawat Gontrode. Dengan memanfaatkan balon udara Jerman sebagai pelindung terhadap tembakan dari darat, ia turun hingga 200 kaki untuk memastikan sasaran yang tepat. Untuk ini ia diberi penghargaan Tanda Jasa Bakti Kehormatan. Pada tanggal 25 Juli 1915, dengan menggunakan pesawat Bristol Scout, ia menghadapi tiga pesawat tempur Jerman yang dilengkapi senapan mesin. Sendirian ia menyerang. Satu pesawat melarikan diri, satu pesawat rusak, dan pesawat ketiga tertembak jatuh di garis pertahanan Inggris dengan krunya yang tewas. Ini merupakan pertempuran besar pertama dalam perang tersebut, dan Hawker menerima penghargaan Lencana Victoria.

Pada tanggal 23 November 1916, Hawker memimpin tiga pesawat tempur D.H2 kursi tunggal, yang dilengkapi dengan senapan mesin Lewis. Hawker melihat pesawat Albatross milik Richthofen di bawahnya dan berusaha mendekati kanone Jerman tersebut. Namun sebelum Hawker menembak buruannya segera lenyap dari penglihatannya. Hawker kehilangan kesempatan. Sekarang kedua pesawat saling berputar mengejar, seperti sebuah adegan sirkus. Dalam manuver ini sang pilot Inggris melambaikan tangan ke arah lawannya. Bagaimana Hawker tahu bahwa ia berhadapan dengan pesawat yang lebih canggih dari angkatan udara Jerman?

Sementara itu angin barat telah membawa mereka masuk jauh ke dalam garis pertahanan Jerman, dan selama kejar-mengejar ini mereka telah kehilangan ketinggian hingga 6.000 kaki. Namun pesawat Richthofen lebih cepat dan lebih kuat, sehingga akhirnya ia berada di atas pesawat D.H.2. Kedua pilot masih terus berputar di ketinggian sekitar 3.000 kaki dari permukaan tanah saat Richthofen berada di atas angin. Namun ia tidak ada tembakan lagi setelah Hawker menembak terlebih dahulu.

Dengan pesawat Albatross di atasnya, posisi Hawker kurang menguntungkan. Ia bisa dipaksa mendarat di daerah teritorial Jerman. Satu-satunya alternatif baginya adalah mencoba lolos dan lari. Ia mencari akal, dan berbelok dengan cepat untuk mengelabui Richthofen. Namun sang pilot Jerman ini cukup berpengalaman dan ia pun bermanuver untuk memperbaiki posisi taktisnya. Ia kemudian memuntahkan peluru ke arah pesawat D.H.2 itu. Kedua pesawat berada di ketinggian 300 kaki saat Hawker mencoba menghindari peluru dengan terbang zig-zag. Richthofen berada 150 kaki di belakangnya. Mereka semakin turun hingga 100 kaki. Richthofen mendekat hingga 90 kaki. Dan lawannya kembali dihujani peluru. Satu peluru mengenai kepala Hawker. Pesawat D.H.2. pun oleng dan jatuh ke tanah. Senapan mesin Lewis pada pesawat itu kemudian diambil oleh Richthofen sebagai dekorasi kamar tidurnya di rumah keluarganya di Schweidnitz, Silesia, dimana banyak terdapat hiasan tubuh binatang dari hasil buruan keluarganya.

Hawker adalah korban Richthofen yang ke sebelas. Pada tanggal 4 Januari 1917, korbannya yang ke enambelas jatuh. Ia pun menjadi penerbang tempur terbaik Jerman. Dari Kaisar Wilhelm II ia menerima bintang Ordre Pour le Mérite serta Lencana Perang Austria dari kaisar Francis Joseph.

Mulai saat itu warna digunakan untuk mengkamuflasekan pesawat-pesawat tempur Jerman. Namun Richthofen justru meminta pesawatnya dicat dengan warna merah. Pilot bawahannya menjawab bahwa ini akan menyebabkan pesawat terlihat mencolok dan menjadi target serangan pesawat Sekutu. Mereka meminta semua pesawat dicat merah agar tidak terlalu mencolok. Richthofen setuju namun meminta agar setiap pesawat memiliki ciri yang berbeda seperti ekor yang berwarna putih, hitam, kuning, atau biru. Selanjutnya seluruh pesawat di skadron tersebut dicat dengan warna merah dan ekor berwarna-warni. Sedangkan pesawat Richthofen sendiri seluruhnya merah.

Pada pertengahan Januari 1917 Richthofen menerima perintah untuk memimpin Jagdstaffel No. 11. Berpusat di pangkalan udara Douai, Jasta (singkatan dari Jagdstaffel) biasanya beroperasi antara Lens dan Ypres, namun kadang sampai ke Somme. Selama itu belum ada satu pun pesawat musuh yang menjadi korban. Richthofen memiliki skadronnya sendiri, dan Boelcke Jasta melakukan tugasnya sendiri.

Pesawat Albatross D.III yang menggunakan mesin Mercedes berkekuatan 200 tenaga kuda menjadi pesawat tempur tercepat di dunia. Dengan pesawat ini Richthofen memimpin formasinya dengan Jasta 11 dalam pertempuran tanggal 23 Januari. Di dekat Lens dua pesawat Artileri Inggris sedang beroperasi didukung pesawat pengawal dari skadron No. 40 R.F.C. Richthofen menyerang pesawat tersebut dan merontokkan sebuah pesawat jenis F.E.8 kursi tunggal. Sehari kemudian ia menembak jatuh sebuah pesawat F.E.2B kursi ganda.

Taktik Baron Merah adalah perpaduan dari keberanian dan kewaspadaan. Sebisa mungkin ia mencari pesawat musuh yang kalah canggih untuk diserang, atau jika tak ada alternatif lain baru ia akan menghadapi lawan yang sebanding. Dalam menghitung jumlah kemenangannya Richthofen mengesampingkan kualitas pesawat lawan yang ditaklukkannya. Ia menjelaskan kepada para pilot di skadron barunya bahwa yang terpenting bagi mereka adalah mengetahui kualitas pesawat mereka sendiri. Selain itu mereka harus mengenali tipe pesawat musuh dan kelemahannya. Richthofen juga menjelaskan bagaimana cara untuk menembak pesawat F.E. dari belakang dan dari bawah karena dari arah tersebut musuh tidak dapat menembak. Dengan mengandalkan kecerdikan para pilot mereka tidak perlu memikirkan ketangkasan sebagai seorang pilot ataupun kemampuannya sebagai penembak. Dengan kekuatan ini ia terus melakukan serangan dan menembak jatuh pesawat musuh, membunuh pilotnya, atau menghancurkannya di udara.

Pada tanggal 9 Maret 1917 Richthofen tertembak saat terbang dengan pesawat Albatross. Ia mencium bau bahan bakar pesawatnya. Pesawat pun mulai melambat. Ia kemudian mendarat dan mematikan mesin pesawatnya. Ia memeriksa dua tangki bahan bakarnya yang telah kering dan berlubang akibat tembakan, dan mesinnya pun rusak terkena peluru. Beruntung pesawatnya tidak terbakar dan ia tidak terluka sedikit pun. Bahkan pesawat Albatrossnya juga tidak mengalami kerusakan saat pendaratan. Ia segera kembali ke mess terdekat.

Promosi untuk menjadi perwira dalam Militer Jerman terlalu lama. Meskipun Richthofen telah dipromosikan enam bulan sebelumnya, ia baru diangkat menjadi letnan satu pada tanggal 22 Maret 1917. Tiga hari kemudian kakaknya, Lothar terbang bersamanya setelah bergabung dengan skadronnya. Richthofen mengajari kakaknya bagaimana cara bertempur di udara, memanfaatkan matahari untuk mengecoh lawan dan mendeteksi angin dan tempat pertempuran yang sesuai sehingga apabila tertembak bisa mendarat di tempat yang aman. Bagaimana caranya agar musuh yang tertembak pilotnya dapat ditawan apabila masih hidup dan jika tewas dapat diidentifikasi. Richthofen sendiri jarang terbang di daerah lawan. Dari 80 kemenangan yang diraihnya hanya empat pesawat yang jatuh di garis pertahanan Inggris.

Bulan April 1917 adalah bulan strategi Jerman untuk mundur ke daerah Hindenburg serta penyerangan Inggris terhadap Vimy Ridge dan Scarpe. Korps Terbang Kerajaan Inggris terus menekan dan menembus pertahanan Jerman untuk mencari informasi, foto, target artileri, sekaligus melakukan serangan. Mereka tidak tahu bahwa pesawat tempur Jerman Albatross dan Halberstadt lebih unggul dibandingkan pesawat Inggris yang lama tidak diperbaharui. Tanpa kebijakan ofensif Inggris ini mungkin akan jarang sekali terjadi pertempuran udara. Namun ini sesuai dengan taktik Richthofen, yaitu menemukan pesawat lawan yang jauh lebih lemah. Bulan April 1917 adalah bulan kemenangannya. Dalam waktu 30 hari ia berhasil merontokkan 21 pesawat Inggris, 17 diantaranya adalah pesawat kursi-ganda. Dalam tiga hari lainnya ia menembak jatuh dua pesawat, lalu tiga pesawat dalam sehari, dan di hari lain empat pesawat. Pada pertengahan April Richthofen berhasil melampaui rekor Boelcke dan menjadi pilot tempur Jerman terbesar. Menjelang akhir bulan itu ia menerima ucapan selamat dari Kaisarnya setelah menembak jatuh 50 pesawat lawan. Manfred meninggalkan skadron pada tanggal 1 Mei, untuk memberi kesempatan Lothar memimpin Jasta 11, karena rekornya kalah dibandingkan para pilot lain di skadron tersebut.

Manfred pergi dengan menumpang sebuah pesawat kursi ganda. Saat mendarat di Cologne ia merasa aneh menerima banyak bunga dari para gadis yang menyanjungnya sebagai pahlawan. Ia kemudian terbang menuju Markas Besar Militer untuk menemui Jenderal von Hoeppner, pimpinan tertinggi Angkatan Udara Jerman. Hari berikutnya ia diterima oleh Jenderal Feld Marschal von Hindenburg, bertemu dengan Jenderal von Ludendorff, serta dijamu oleh Kaisar dan Hindenburg. Pada tanggal 3 Mei ia diterima oleh istri Kaisar yang memberinya emas dan kotak rokok pualam putih yang bertuliskan namanya. Namun pesta dan kemegahan tidak menarik baginya, dan ia pun minta ijin untuk pergi berburu ke sebuah hutan di dekat Freiburg. Kemenangan dalam berburu lebih baik baginya dibandingkan dengan kemenangan di istana. Prince of Pless lalu mengundangnya untuk berburu bison dan ia pun berhasil membunuh seekor banteng besar. Sementara itu terdengar kabar bahwa kakaknya Lothar tertembak jatuh dan luka di bagian pinggulnya dalam sebuah pertempuran udara dengan Albert Ball, sedangkan Ball sendiri tewas.

Beberapa skadron di Korps Terbang Kerajaan Inggris mulai dilengkapi dengan pesawat-pesawat tempur yang lebih baik. Pada pertempuran Messines di awal bulan Juni sejumlah pesawat tempur Inggris melindungi zona pertempuran darat dari udara. Tak satu pun pesawat tempur Jerman yang bisa mendekati pasukan Inggris. Keberangkatan Manfred dibatalkan. Ia melapor kepada von Hoeppner pada tanggal 10 Juni, dan kembali dijamu oleh Kaisar, dimana Raja Bulgaria yang menjadi tamu kerajaan menyematkan lencana Bintang Keberanian yang merupakan penghargaan tertinggi Bulgaria kepada Richthoven. Pada tanggal 14 Juni ia kembali ke medan pertempuran dengan memimpin Jasta 11.

Untuk menghadapi strategi menyerang yang diterapkan oleh Inggris angkatan udara Jerman mengembangkan Jagdsgeschwadern atau resimen tempur udara, yang terdiri dari 4 staffeln dan berkapasitas 48 pesawat tempur. Formasi ini bergerak ke medan pertempuran sewaktu-watu diperlukan. Mereka siap untuk beroperasi sekitar pertengahan Juli. Korps Terbang Kerajaan Inggris memperbesar formasi tempurnya untuk menghadapi ancaman Jerman tersebut.

Pangkalan udara Inggris salah satunya terdapat di St. Marie Cappel, dekat Bailleul. Di sana ditempatkan dua skadron, yaitu skadron No. 20 dengan pesawat F.E.2D kursi ganda dan skadron No. 45 dengan pesawat pengintai Sopwith 1 ½ -Strutter kursi ganda. Dua skadron ini ditempatkan untuk menandingi staffeln Richthoven. Kedua skadron ini mengalami kekalahan besar namun tak pernah berhenti menekan dengan membawa foto-foto yang efektif dan informasi penting.

Dalam pertempuran sengit yang berlangsung tiga minggu skadron 45 kehilangan sebagian besar pilotnya. Ini merupakan harga yang harus dibayar oleh strategi ofensif Inggris melawan pertahanan pesawat tempur Jerman yang terorganisir dan lebih cepat dibandingkan dengan pesawat-pesawat Sopwith dan F.E. Dalam pertempuran ini pesawat-pesawat merah Jerman selalu mematahkan formasi pesawat tempur Inggris. Senapan mesin Lewis dan Vickers harus melawan senapan Spandau Jerman yang lebih besar. Kadang beberapa pesawat Jerman berhasil ditembak jatuh. Tetapi yang paling sering adalah pesawat-pesawat Sopwith Inggris yang tertembak di bagian ekor, sayap, atau tangki bahan bakarnya yang membuatnya jatuh terbakar. Pesawat jenis F.E.2D lebih tangguh dibandingkan Sopwith. Pesawat ini dapat menembak dengan dua senapan sekaligus, salah satunya dari senjata jenis Scarff yang dapat berputar dan satunya lagi dipasang di bagian luar pesawat. Senapan ketiga dapat ditembakkan dari bagian atas pesawat namun jangkauan tembakannya terbatas. Cara yang dipakai oleh pesawat F.E.2D untuk menyerang adalah dengan menembakkan kedua senjata sekaligus dengan kecepatan penuh. Pesawat Sopwith dengan satu senapan mempunyai keterbatasan karena hanya bisa menembak dari belakang. Taktik penyerangan yang digunakan oleh skadron No. 20 kemudian diubah dari formasi Vee menjadi formasi terbang berputar dimana setiap pesawat saling melindungi pesawat temannya. Dan formasi ini ternyata cocok untuk skadron No. 20. Satu kombinasi antara pilot dan co-pilot, yaitu Kapten F.H. Thayre dan F.R. Cubbon berhasil menembak jatuh 20 pesawat musuh dalam pertempuran udara sehingga masing-masing mendapatkan penghargaan Lencana Bintang Militer.

Pada tanggal 6 Juli 1917 Richthoven dan skadron Jastanya menyerang skadron No 20 dengan gemilang di dekat perbatasan Jerman. Richthoven kesulitan mendapatkan posisi ideal untuk menyerang, yaitu di belakang ekor pesawat F.E. Ini cukup menyulitkan bagi Richthoven. Skadron No. 20 kehilangan dua pesawat F.E., dan lainnya pulang dalam keadaan terluka. Namun tujuh pesawat lawan tertembak oleh pesawat F.E. yang terbang berputar. Salah satunya adalah pesawat Albatross Richthoven. Pesawat ini menyerang dari depan karena tidak ada alternatif lain. Pesawat F.E. menembak dengan kedua senapannya. Sementara itu pesawat Albatross mendekat dengan keempat senapannya memuntahkan peluru. Pada jarak 20 yar pesawat Albatross menukik jatuh di bawah pesawat F.E. Kapten D. C. Cunnell dan pendampingnya, Letnan Dua A. E. Woodbridge, tidak sempat memperhatikan pesawat Albatross yang jatuh. Mereka terkepung oleh pesawat-pesawat Albatross lain.

Manfred von Richthoven berada di pesawat Albatross merah yang jatuh di bawah pesawat F.E.2D. Salah satu peluru mengenai tulang tengkoraknya. Letusannya telah mempengaruhi syaraf sehingga membuatnya buta sementara. Jika ada pesawat Inggris yang mengikutinya mungkin ini akan menjadi akhir riwayat sang Baron Merah. Namun semua pesawat F.E. sedang sibuk mempertahankan diri dari kepungan pesawat Albatross, sebab saat itu skadron Jasta lainnya telah datang membantu. Richthoven telah jatuh sekitar dua mil saat ia kembali sadar. Pada ketinggian sekitar 500 kaki ia bisa melihat kembali. Karena tak tahu berada di mana ia terbang ke arah timur untuk memastikan ia mendekati wilayah Jerman. Ia tidak perlu khawatir karena ia tidak sedang berada di wilayah Inggris. Karena pandangannya mulai kabur lagi ia segera mendarat. Ia naik ke atas kokpit, jatuh ke tanah dan pingsan. Ia lalu dibawa dengan ambulan ke rumah sakit Courtrai.

Richthoven mulai bertugas kembali pada bulan Agustus 1917. Ia sekarang berpangkat kapten yang menjadi komandan dan membawahi empat atau lima Jasta DI bawah kepemimpinannya. Sebagian kepercayaan dirinya telah hilang, namun semangatnya sebagai seorang pemburu tidak pernah padam. Pada tanggal 16 Agustus ia menembak jatuh korbannya yang ke 58. Pada tanggal 2 September menerbangkan pesawat Fokker Triplane untuk pertama kalinya, dan berhasil merontokkan sebuah pesawat pengintai artileri R.E.8 yang tak terkalahkan (jenis pengganti pesawat B.E.2C) untuk kemenangannya yang ke 60. Ini merupakan kemenangan terakhirnya yang dirayakan dengan piala perak, sebab perekoomian Jerman tertekan oleh blokade Sekutu serta kerugian material di medan pertempuran. Perajin perak di Berlin memberitahu Richthoven bahwa ia tidak bisa lagi mendapatkan perak. Tidak ada lagi piala untuk dua puluh kemenangan Richthoven berikutnya.

Manfred von Richthoven kembali bertugas terlalu cepat padahal ia masih membutuhkan perawatan medis, dan dianjurkan untuk istirahat oleh dokternya. Pada awal september ia meninggalkan rumah sakit. Ia kembali ke fron pertempuran pada bulan November 1917 dan berhasil merontokkan dua pesawat Inggris menjelang Natal. Namun kemenangan besar di masa sebelumnya tinggal sejarah, karena pesawat Jerman tidak lagi terlalu unggul.

Pada bulan Januari 1918 Manfred kembali pergi. Ia mengunjungi Brest-Litovsk, untuk menyaksikan delegasi Rusia menandatangani perjanjian damai yang terpisah dengan Jerman, kemudian ia pergi berburu rusa ke hutan Polandia. Pada bulan Februari ia kembali ke Perancis untuk menyaksikan aktivitas penerbangan yang banyak menguntungkan Sekutu. Pada bulan Maret, Lothar yang telah pulih kembali bergabung dengan saudara laki-lakinya, namun pada pertengahan bulan itu ia tertembak jatuh dan mengalami luka parah. Manfred berhasil menyelamatkan kakaknya karena mengusir satu pesawat lawan dan menembak jatuh sebuah pesawat Sopwith Camel. Lothar dapat diselamatkan, setelah meraih 40 kemenangan, dan ia meninggal hanya karena kecelakaan pesawat pada tahun 1922.

Pada tanggal 21 Maret 1918, serangan darat Jerman terakhir dimulai setelah berlangsung antara tahun 1914-1918. Dengan dipimpin oleh Ludendorff, sasarannya adalah untuk mendesak pasukan Inggris ke pantai dan memecahnya menjadi dua bagian. Pasukan Inggris Kelima sangat terpukul dengan serangan tersebut dan segera melakukan balasan. Serangan udara semakin diintensifkan. Pada kemenangannya yang ke 70 Kaisar Jerman menganugerahkan kepada Richthoven penghargaan kelas 3 Bintang Elang Merah serta sebuah mahkota. Pada saat itu Manfred telah menembak jatuh lima pesawat tempur lagi dan pada hari yang sama pasukan staffelnya telah meraih kemenangannya yang ke 250. Pada tanggal 20 April Richthoven menembak jatuh dua buah pesawat Camel. Dengan demikian skornya menjadi 80.

“Sirkus” Jerman (julukan yang diberikan oleh Sekutu) terbang dengan 50 pesawat Fokker Triplane, Fokker D.VIII sayap ganda, dan D.V Albatross. Pangkalan udara Richthoven terletak di dekat perkampungan Cappy. Pada tanggal 21 April sebuah kelompok militer berkumpul di luar markasnya untuk merayakan kemenangannya yang ke 80. Manfred dijadwalkan tiba dalam waktu tiga hari. Namun pagi itu pukul 11.30 waktu Jerman ia harus memimpin Jasta 11 dengan lima pesawat dan diikuti oleh Jasta 5 dengan formasi yang sama.

Bersamaan dengan itu skadron No. 209 Royal Air Force tinggal landas dari pangkalannya di Bertangles, dengan 15 pesawat Camel yang dibagi menjadi tiga kali keberangkatan. Dua orang pilot kembali karena kerusakan kecil pada mesin. Dengan formasi Vee yang dipimpin oleh seorang komandan skadron, mereka menyerang dua buah pesawat Albatross yang mencoba mendekat. Kapten A. Roy Brown, seorang Kanada mengomandani delapan pesawat Camel yang tersisa. Ia telah dipromosikan menjadi kapten dan komandan tempur pada tanggal 1 April, hari jadi Korps Terbang Kerajaan Inggris dan Dinas Penerbangan Angkatan Laut Inggris (R.N.A.S.) yang bergabung menjadi Angkatan Udara Kerajaan Inggris. Sebelumnya ia bertugas di skadron No. 9 di R.N.A.S., yang kemudian menjadi skadron 209 R.A.F. Ia berhasil menembak jatuh 12 pesawat lawan dan dianugerahi Lencana Bakti Kehormatan. Ia adalah seorang yang sakit-sakitan, dan sering masuk rumah sakit. Namun ia terus bertempur.

Formasi Brown terbang pada ketinggian 12.000 kaki. Dua pesawat R.E.8 dari skadron No.3 (Korps Terbang Australia) berhasil mengambil gambar pesawat Jerman di dekat Hamel pada ketinggian 5.000 kaki di bawahnya. Empat pesawat Fokker Triplane Richthoven menghindari tembakan senapan anti-pesawat dari pesawat R.E. Inggris. Tembakan ke arah pesawat Jerman ini menarik perhatian Brown. Kemudian melihat gerakan dua pesawat merah Jerman tersebut hendak menyerang dua pesawat R.E.8. Ia lalu menggerakkan sayap pesawatnya sebagi isyarat datangnya serangan, lalu berbalik dengan cepat dan menukik ke arah pesawat Jerman itu. Kedua pesawat Fokker Jerman langsung meninggalkan pesawat R.E. dan berbalik menyongsong serangannya.

Delapan pesawat Camel dan sekitar 20 Fokker Triplane dan Albatross sekarang telah berbaur. Letnan F. J. W. Mellersh menembak ke arah pesawat merah yang berekor biru. Pesawat ini menukik secara vertikal. Mellersh mengikutinya turun. Pesawat itu mendarat. Dua pesawat Fokker mengikuti Mellersh, sambil menembak. Ia sempat berputar hingga 50 kaki dari permukaan tanah, lalu berbalik mengejar pesawat Fokker. Angin membawa pertempuran masuk ke wilayah Inggris pada ketinggian ribuan kaki. Kedua pesawat R.E. yang punya kesempatan untuk pulang kembali masuk ke Hamel dan mengambil sejumlah gambar. Letnan W. J. Mackenzie, meskipun terluka di bagian punggung, mengejar dengan pesawat Camel ke arah pesawat Fokker dan berhasil menembaknya hingga jatuh. Letnan Dua W. R. May, pilot Kanada yang baru pertama kali terlibat pertempuran, sempat bertarung dengan pesawat Fokker. Ia telah diperingatkan untuk pulang apabila menjumpai pertempuran udara. Sekarang Richthoven menembaki ekornya. Ia berhasil lolos.

Brown yang baru saja terlibat duel dengan pesawat Triplane dan Albatross, dari atas sempat melihat pesawat Camel terbang zig-zag ke tanah. Ia mencoba menyerang lawannya yang terkenal kejam. Brown menukik dan mengarahkan senapan mesin buatan Australia-nya. Dua senapan mesin Vickers tersebut berhasil melubangi sayap pesawat merah Jerman di bawahnya. Selanjutnya senapan Lewis menembaki pesawat Fokker itu dari jarak dekat. Ia merarik pelatuk senapan buatan Australia ini dan melihat peluru berhamburan menghantam ekor pesawat Fokker. Brown kemudian mengarahkan tembakannya ke badan pesawat dan kokpit. Pesawat itu pun mendarat perlahan dan diikuti oleh Brown dari ketinggian ratusan kaki. Sementara itu, May berhasil lolos dengan peluru bersarang di tangannya.

Pasukan infanteri menemukan tubuh Richthoven di pesawat Fokker Triplane yang tertembak jatuh. Penembak darat menyangka ia telah menembak pesawat Richthoven. Namun pemeriksaan medis menunjukkan bahwa Richthoven terbunuh oleh peluru dari pesawat Camel milik Brown, yang menembus dada kananya ke samping. Inilah yang membuat pesawatnya jatuh. Tubuhnya kemudian dibawa ke pangkalan udara Bertangles dan disemayamkan dengan kebesaran militer. Sehari kemudian ia dimakamkan di pekuburan dekat Bertangles. Hari berikutnya foto pemakamannya beserta sebuah pesan dijatuhkan ke pangkalan udara Cappy oleh seorang pilot Inggris:

Kepada KORPS TERBANG JERMAN

Rittmeister Baron Manfred von Richthoven telah

terbunuh dalam pertempuran udara pada tanggal 21 April 1918.

Ia telah dimakamkan dengan kehormatan militer.

Dari ANGKATAN UDARA KERAJAAN INGGRIS

Meskipun bertugas di Angkatan Udara Kerajaan Inggris, Roy Brown memperoleh tanda jasa dari angkatan laut dua bulan setelah pertempurannya dengan Richthoven. Dalam berbagai pujian disebutkan tanggal dan data pertempuran yang dimenangkannya, namun tidak disebutkan bahwa yang tertembak adalah Richthoven. Brown kemudian diberi penghargaan dengan gelar D.S.O.

Pada tanggal 19 November 1925, jenazah Manfred von Richthoven dibawa kembali ke Jerman dengan menggunakan kereta api. Jenazahnya disemayamkan dengan kebesaran di sebuah gereja di Berlin selama dua hari. Dalam sebuah pemakaman kebesaran Presiden von Hindenburg berbaris di belakang istri dan satu-satunya anak Richthoven yang selamat Bolke. Tubuhnya dimakamkan di pekuburan Marcy, dan sebelas bulan kemudian selubung batu yang bertuliskan nama pilot tempur terbesar Jerman dibuka.

Ketika pada tahun 1935 Angkatan Udara Jerman diperbaharui dengan nama Luftwaffe oleh Hitler, skadron tempur pertamanya diberi nama Richthoven Geschwader. Saat meninggalnya pun nama Manfred von Richthoven tetap mempunyai wibawa dan dikenal sebagai pemimpin para pilot tempur Jerman. Dan pada Perang Dunia I tak ada yang meragukan kebesarannya.

8. Kapten Georges Guynemer

BERTAHAN DARI PENYAKIT DAN MUSUH

ORANG PERANCIS memberi julukan “jagoan” bagi para pilot yang telah berhasil merontokkan lima pesawat musuh. Orang Jerman memberi julukan “meriam”, yang berarti peluru mematikan, bagi mereka yang berhasil membunuh sepuluh lawan. Perancis memiliki banyak pilot jagoan pada Perang Dunia I. Diantara mereka terdapat tiga nama besar yaitu Rene Fonck, Charles Nungesser, dan Georges Guynemer.

Tak seorang pun dari dari para pilot Inggris dan Amerika yang mampu menyamai Guynemer. Hanya Kapten Albert Ball yang dapat menandinginya sebelum akhirnya tertembak jatuh. Guynemer hidup sedikit lebih lama dibandingkan dengan Ball. Dan ketika ia meninggal pada tanggal 11 September 1917, ia telah berhasil menembak jatuh 53 pesawat musuh saat masih berusia 22 tahun.

Sejak kecil Guynemer telah tertarik dengan pesawat terbang. Ia tumbuh di negara yang terdepan dalam dunia penerbangan saat Georges masih berusia 14 tahun. Ketika itu ia sangat mengagumi kemampuan para pilot Perancis. Ia merasa bangga terhadap mereka.

Badannya kurus dan lemah, agak tinggi, dan menderita gangguan penyakit TBC. Sosok fisiknya pantas untuk disebut sebagai manusia burung. Namun ketika pertama kali mendaftar sebagai anggota Angkatan Udara Perancis ia langsung ditolak. Ia tidak memenuhi persyaratan kesehatan yang diberlakukan untuk seorang pilot militer. Mereka telah keliru. Ilmu kesehatan tidak memperhatikan kekuatan keberanian mental seseorang yang mampu mengalahkan kekuatan fisik dan menjadi orang-orang yang tangguh meskipun mempunyai kekurangan fisik.

Guynemer tercatat sebagai pekerja buruh di Angkatan Udara Perancis, ini merupakan satu-satunya cara agar ia dapat selalu dekat dengan pesawat. Ia bekerja keras sebagai mekanik pesawat dan mampu bekerja dengan efisien. Para pilot sangat tertarik padanya dan ia mulai diajak terbang. Ia mampu menunjukkan bakatnya sebagai seorang penerbang. Ia memiliki keberanian yang tidak dimiliki oleh seorang pilot terlatih sekalipun.

Pada awal tahun 1915 Guynemer bergabung dengan escadrille de chase, atau skadron tempur Perancis yang terkenal. Ia dijuluki Cigognes, karena di pesawatnya terdapat gambar burung bangau sebagai tanda emblem identitas. Ia terus menanjak hingga akhirnya terpilih untuk memimpin skadron.

Ia bertempur seperti Albert Ball, dengan kecepatan tinggi tanpa mempedulikan bahaya. Ia mengandalkan kemampuannya sebagai pilot tempur untuk membunuh dan menghindari serangan. Ia sering terbang sendirian dengan ketinggian penuh seperti elang, menunggu pesawat lawan yang ada di bawahnya, lalu menukik sambil melepaskan tembakan dari jarak dekat. Seperti Ball, ia pun sering tertembak pesawatnya, dan pernah delapan kali jatuh ke tanah, namun ia selalu selamat. Suatu kali, ketika senapan pesawatnya macet, ia mendekati pesawat lawan memaksanya turun hingga pesawat Jerman itu jatuh ke menghantam tanah.

Sehari-harinya ia bekerja memeriksa pesawat, dan sering ia bekerja sendirian, karena ingin memastikan bahwa pesawatnya selalu dalam keadaan sempurna saat terbang sehingga menghasilkan penerbangan yang efisien. Orang-orang Perancis sangat antusias menyebut nama Georges Guynemer jika dibandingkan dengan para pilot besar Inggris selama berlangsungnya peperangan. Ia menjadi idola di Perancis. Ketika ia beralih dari pesawat Nieuport ke pesawat Spad, ia memasang dua buah senapan mesin. Suatu kali ia pernah mengganti senapan mesin itu dengan sebuah meriam tunggal kaliber 37 milimeter (1 ½ inchi). Meriam ini tidak bekerja secara otomatis. Setiap kali menembak satu peluru harus dimasukkan dengan tangan. Meskipun demikian, setidaknya Guynemer berhasil meraih satu kemenangan. Namun senjata ini kurang efisien dibandingkan senapan mesin, sehingga kembali diganti dengan senapan mesin.

Seperti kebanyakan orang Perancis lain waktu itu, Guynemer memiliki kebencian yang mendalam terhadap Jerman. Ia bertempur untuk membunuh. Keberaniannya telah menjadi legenda. Keberuntungan seolah berpihak padanya, sekalipun dalam keadaan bahaya. Suatu hari di tahun 1915 ia telah merontokkan dua pesawat musuh. Tiba-tiba salah satu peluru nyasar dari meriam anti-pesawat milik Perancis justru mengenai pesawatnya. (Para penembak sering keliru menembak pesawat sendiri ketika banyak pesawat musuh yang berada di dekatnya. Ini tidak disengaja namun hanya karena semangat tempur yang berlebihan. Misalnya sering terjadi peluru yang ditembakkan meleset dan meledak di dekat pesawat Sekutu yang mengejarnya.)

Ketika itu sayap kiri pesawat Guynemer patah, dan radiatornya sobek. Guynemer berusaha menyeimbangkan pesawat dengan berpindah posisinya. Ia mencoba mengendalikan pesawat yang tetap tidak imbang. Pesawat jumpalitan jatuh ke bawah dan terhempas. Namun Guynemer tidak terluka sedikitpun.

Suatu kali, Guynemer mendapat lawan yang sebanding. Ernst Udet, seorang pilot tempur Jerman yang nantinya memimpin pembuatan pesawat pada Perang Dunia II, menyatakan bahwa ia pernah bertemu Guynemer pada salah satu pertempuran udara di tahun 1916. Ia mengenali Guynemer dari gambar bangau yang ada di pesawatnya serta lencana pribadi Guynemer. Di udara kedua pesawat berputar-putar, dan Udet sadar bahwa ia bertemu dengan orang yang lebih baik darinya. Udet dihujani peluru yang mengenai sayapnya, namun tak ada yang fatal. Ketika pesawat Guynemer dalam posisi target, senapan Udet macet. Ia memukul-mukul senapan dengan tangan kanannya sambil mengendalikan pesawat dengan tangan kiri. Ia berharap senapannya dapat berfungsi kembali, namun ia gagal. Ia memberanikan diri untuk tetap di dekat pesawat Guynemer karena jika menjauh maka pilot sekaliber Guynemer justru akan mengincar ekor pesawatnya untuk ditembak jatuh.

Selama delapan menit mereka hanya berputar-putar, ketika tiba-tiba pesawat Guynemer berbalik di atas pesawat Udet. Saat itu Udet lalu memukul senapannya dengan kedua tangannya dan membiarkan pesawat Albatrosnya terbang sendiri. Kemungkinan Guynemer saat itu tahu bahwa senapan Udet macet. Udet sadar bahwa ia sangat tergantung pada belas kasihan Guynemer. Namun Guynemer tidak menyerangnya. Ia terbang rendah di atas Udet. Saat menengok ke atas, Udet melihat Guynemer melambaikan tangan ke arahnya. Pilot Perancis itu kemudian terbang menjauh membiarkan Udet bebas, melepaskan musuh yang dalam keadaan tak berdaya dan terancam. Hal yang sama tidak akan pernah dilakukan oleh militer Jerman.

Bagaimana Georges Guynemer tewas tidak pernah diketahu pasti hingga hari ini. Di dekat Poelcapelle, di medan pertempuran Ypres, saat pertempuran Pasukan Inggris di Passchendaele, Guynemer mengejar dua pesawat Rumpler Jerman. Seorang pilot Cigogne, Letnan Bozon-Venduras, bertindak sebagai pengawalnya. Saat Guynemer memburu pesawat Rumpler itu, Bozon melihat formasi pesawat Jerman mendekat. Ia berbalik mengejar formasi tersebut dan meninggalkan Georges. Saat Bozon kembali ia tidak melihat tanda adanya pesawat Spad milik Guynemer. Ia berputar-putar hampir selama setengah jam sampai bahan bakar pesawatnya menipis dan memaksanya kembali ke pangkalan. Ia tetap tidak melihat pesawat Guynemer baik di udara maupun di darat.

Tidak ada berita tentang jatuhnya pesawat Guynemer atau tertangkapnya ia dari pihak Jerman, seperti kebiasaan jika ada penerbang tangguh yang dikalahkan. Hilangnya Guynemer juga tidak diberitakan pers karena mungkin ia mendarat di garis yang salah dan kemungkinan bebas dan sedang  berusaha kembali. Namun sebuah koran London memecahkan kesunyian. Ketika koran ini memberitakan tentang hilangnya seorang pilot ternama, pihak Jerman mengumumkan bahwa salah seorang pilot mereka yang bernama Wissemann telah menembak jatuh pesawat Guynemer pada tanggal 10 September. Sehari kemudian mereka meralat berita tersebut menyesuaikan dengan hari kematian Guynemer.

Orang Perancis menginginkan informasi resmi yang rinci tentang kematian Guynemer. Jerman menyatakan bahwa Guynemer tertembak kepalanya, dan pesawatnya ditembak dengan meriam buatan Inggris. Diyakini bahwa pesawat Guynemer jatuh tertembak dan kemudian terbakar di antara sekelompok pasukan. Tentara Jerman menemukan tubuhnya dan lalu menguburnya. Namun kuburan tersebut hancur karena ledakan artileri Inggris dan Jerman di medan pertempuran. Dengan demikian Guynemer yang makamnya tidak diketahui persis dikenang sebagai prajurit pahlawan yang terkubur di medan perang Arc de Triomphe Paris.

Empat hari setelah kematian Guynemer, René Fonck berhasil menembak jatuh sebuah pesawat Rumpler. Tubuh pilot pesawat yang jatuh diidentifikasi sebagai Hauptman Wissemann, pilot Jerman yang sebelumnya diyakini mengalahkan Guynemer, dan dianggap hanya karena keberuntungan akibat peluru yang kebetulan mengenai pesawat Guynemer. Saat itu para tentara percaya bahwa mereka tidak akan pernah tertembak hingga ada peluru yang ditulisi dengan nama mereka. Dan mereka percaya peluru yang mengenai Guynemer bertuliskan nama “Georges Guynemer.”

7. Kapten Albert Ball, V.C., D.S.O., M.C.

KEBESARAN TIADA TANDING

GEREJA LENTON, Nottingham memiliki peninggalan Lenton Priory berupa prasasti batu abad ke-12 dari seni pahat Perancis yang merupakan salah satu prasasti terbaik di Inggris. Di Lenton pada tanggal 21 Agustus 1896, Albert Ball dilahirkan. Hidupnya sangat singkat, namun namanya diukir dalam sejarah Inggris sebagaimana prasasti Lenton.

Ayahnya, Mr. A. Ball, adalah seorang pemilik perkebunan sukses yang tertarik dengan industri mesin, dan menjadi anggota dewan kota sekaligus Mayor of Nottingham yang diberi gelar ksatria. Putra tertuanya adalah salah satu dari ketiga anaknya. Pada usia lima tahun ia menunjukkan inisiatifnya dengan menyalakan korek api yang diambilnya dengan bantuan sebuah kursi. Namun ketika sekolah di Grantham Grammar School, Nottingham High School, dan Trent College ia hanya memenangkan sekali saja penghargaan sekolah — sebuah medali perak untuk kemenangan lomba halang rintang.

Saat di sekolah, mata pelajaran favoritnya adalah kimia, mekanika, fotografi dan berkebun. Ia membuat sebuah kapal kecil di Trent College dan berlayar pulang dari Long Eaton. Di Skegness (sebuah tempat wisata di Laut Utara) ia membuat sebuah rakit, dan ketika rakit tersebut terlepas dari tambatannya karena gelombang besar ia mati-matian berenang berusaha menyelamatkannya. Kimia telah mengajarkannya cara membuat bubuk mesiu — hingga suatu kali ayahnya menemukan sebuah kota di kamar Albert bertuliskan “bubuk mesiu 117 pon.” Saat menjadi siswa di korps kadet ia menunjukkan bakatnya sebagai penembak ulung dengan revolver. Ia kemudian membeli sebuah mesin rusak, dan di rumah ayahnya di Sedgley House ia dan teman-temannya merombaknya hingga mesin kembali normal. Disana pula ia menciptakan peralatan wireless yang pada saat merupakan sebuah prestasi. Di sela-sela semua itu ia masih sempat menjadi komandan patroli kompi. Ia selalu sibuk dan tak pernah diam.

Ia bercita-cita untuk bergabung dengan industri mesin listrik, dan ketika masih sekolah ia telah memikirkan pengembangan sebuah pembangkit listrik rumah sederhana. Pada usia 17 tahun ia membeli saham di perusahaan mesin Nottingham. Ia tidak ingin meniru bisnis ayahnya namun menggali sesuatu yang berasal dari dirinya sendiri. Namun, ia belum genap berusia 18 tahun ketika Perang Dunia I meletus dan melibatkan Inggris.

Rekrutmen militer sukarela dilakukan secara besar-besaran pada minggu-minggu pertama peperangan. Ball menghadiri sebuah pertemuan perekrutan bersama pamannya, kemudian Mayor of Nottingham, sebagai ketua. Duke of Portland berpidato. Albert merupakan sukarelawan pertama yang mendaftarkan diri sebagai prajurit tamtama anggota batalyon Teritorial kota di Sherwood Foresters, Nottinghamshire dan Derbyshire Regiment. Sekitar dua minggu kemudian ia dipromosikan sebagai sersan. Ia bertemu dengan seorang sersan senior yang mengenakan lencana penghargaan. Ball mengatakan kepada orang itu: “Suatu hari, saya juga akan mengenakan medali kehormatan.” Apakah ini menunjukkan ambisi militer ataukah hanya sekedar ramalan?

Ia pun mendaftar sebagai anggota komisi dan pada bulan Oktober 1914 ia diangkat menjadi letnan dua di resimennya sendiri. Saat mengikuti pelatihan di Inggris, sambil menunggu perintah pengiriman di garis depan, Ball melanjutkan hobi usahanya. Ia melakukan jual-beli motor dan mengirimkan uangnya ke rumah untuk investasi nantinya. Usaha yang telah didirikannya pun berkembang pesat karena bayaknya permintaan peralatan perang mekanis. Ia menanamkan uangnya di kantin kantor militer yang hampir bangkrut, dan setelah ia kelola menghasilkan keuntungan £ 20. Ia kemudian ditugaskan di Korps Motor North-Midland, dan ia percaya ini akan membawanya ke front pertempuran segera.

Apa yang membuatnya tertarik dengan dunia penerbangan tidak diketahui. Suatu kali ia bangun pukul tiga dini hari dan menaiki sepeda motornya dari Luton ke pangkalan udara Hendon, yang berjarak sekitar 30 mil. Beberapa hari kemudian ia memutuskan untuk belajar terbang. Pagi hari setelahnya ia mengikuti kursus penerbangan dengan pesawat Caudron sayap ganda di sekolah penerbangan Ruffi Bauman, dengan membayar £ 75 untuk instrukturnya.

Ball selalu berpenampilan rapi, namun ia adalah seorang pekerja keras. Seringkali ia harus menangani peralatan mekanis seperti mesin sepeda motor, sehingga tubuhnya belepotan oli, dan sekarang ia harus menangani mesin pesawat terbang. Suatu hari salah seorang perwira komandannya, yang akan memberinya tugas lain terharu melihat penampilannya. Dengan sedih Ball menulis surat ke rumah : “Mungkin saya harus berhenti bekerja dan pergi seperti orang gila.”

Sertifikat pilot Royal Aero Club No. 1898 yang dimilikinya dikeluarkan pada tanggal 15 Oktober 1915. Sehari sebelumnya ia dipanggil ke kantor Urusan Perang Inggris dan diberitahu bahwa ia telah diterima di Korps Terbang Kerajaan. Sekitar dua minggu kemudian ia ditugaskan di pangkalan udara di dekat Norwich. Di sana ia diberi kesempatan untuk pergi ke Perancis bersama dengan skadron No. 18 sebagai pendamping pilot; namun setelah dibayar untuk instruksi terbangnya, ia memutuskan untuk tetap tinggal di tempatnya sampai ia menjadi pilot militer yang memenuhi syarat.

Ball beberapa kali mengalami kecelakaan selama masa pelatihannya. Setelah memberitahu keluarganya lewat surat, ia mendapat balasan dari saudara perempuannya Lois yang khawatir terhadap keselamatannya. Ball pun membalasnya dan meminta saudaranya untuk tidak mengatakan itu karena akan membawa nasib buruk.  (Dan kenyataannya bisa mempengaruhi pikiran). Untuk meyakinkan saudara perempuannya ia mengirim salah satu bagian pesawat yang hancur karena kecelakaan ke rumah — suatu penjelasan logis yang jitu.

Ia bertemu dengan beragam orang selama masa pelatihannya. Suatu kali, saat diminta menerbangkan pesawat Maurice Farman Shorthorn setelah instruksi singkat selama lima belas menit, ia melakukan pendaratan yang buruk dan merusakkan pesawat. Instrukturnya yang marah menyuruh ia keluar dan mencari sekolah lain untuk wanita dan ia tidak akan diijinkan untuk menerbangkan pesawat lagi. Ball menjawab dengan kalem kalau ia tidak diperbolehkan terbang lagi maka ia akan kembali bergabung dengan Korps Motor karena ia tak punya waktu untuk melihat siswa lain terbang. Jawaban ini seperti mengejek instrukturnya yang sedang marah agar lebih realistis. Ia lalu menggunakan pesawat Shorthorn lainnya, dan membiarkan Ball terbang dengan hasil lima pendaratan yang mulus.

Setiap malam Ball berlatih biola. Alat musik yang telah lama ia mainkan. Setiap Minggu malam saat bebas tugas ia pergi ke gereja terdekat untuk mencari ketenangan. Ia menganggap sia-sia kebiasaan teman-temannya untuk menghabiskan liburan ke London di klub-klub malam.

Saat Natal 1915 ia dipindahkan ke Central Flying School di Upavon. Disana ia sempat mengalami kecelakaan terburuknya. Saat hendak mendarat angin bertiup kencang dan menghempaskan pesawatnya hingga hancur. Ball pingsan, namun ia tidak terluka.

Meskipun saat itu perang sedang berlangsung, namun di hari Minggu tidak ada kegiatan terbang. Para siswa diijinkan keluar kamp Upavon sejak Sabtu siang jika hari itu tidak ada penerbangan karena cuaca buruk atau hal-hal lain. Suatu ketika Ball tetap tinggal di kamp di akhir pekan. Tak ada seorang pun yang bisa diajak bicara, sehingga ia hampir gila. Ia berkata bahwa ia tak akan melakukannya lagi. Ia tak bisa tinggal diam. Ini menunjukkan bahwa ia adalah orang yang sensitif dan temperamental. Namun menjelang akhir masa pelatihan ia selalu tinggal di kamp untuk belajar agar ia yakin dapat lulus ujian akhirnya.

Pada tanggal 26 januari 1916, ia mendapatkan wing penerbang. Selama beberapa waktu ia menjadi instruktur di pangkalan udara Gosport. Pada tanggal 17 Februari ia menyeberangi Selat Inggris menuju Boulogne untuk bergabung dengan skadron No. 13. Ia kemudian menerbangkan pesawat B.E.2C untuk pengintaian artileri dan kadang pemboman posisi lawan. Ia merasa kurang beruntung karena pesawatnya kurang memiliki perlengkapan ofensif. Namun dalam suratnya ke rumah ia menggambarkan pekerjaannya sebagai “olahraga hebat.”

Tanggal 1 Maret ia terlihat berada lima mil dari daerah musuh, mengawasi sebuah stasiun kereta api diantara senjata anti-pesawat. Saat terbang untuk kembali ia diserang oleh pesawat Fokker yang berada di atas parit pertahanan Jerman. Senapan mesin pesawat Ball langsung menembak, namun ketika baru dua tembakan senapan macet. Ball lalu mengambil revolvernya, membidik pesawat lawan dan menarik pelatuknya. Namun pistolnya juga macet. Sementara itu pesawat Fokker tersebut juga mengalami kesulitan, terbukti ia tidak bisa menghancurkan pesawat Ball yang sudah tak berdaya, dan pilotnya pun segera berbalik saat sadar telah berada di wilayah Inggris.

Pada sebuah patroli lain, saat terjadi hujan salju, Ball tersesat. Saat keluar dari awan berada di ketinggian 500 kaki di atas wilayah Jerman. Ia mencoba pulang dengan dihujani peluru dari darat. Perwira komandannya bertanya apa yang ia lakukan di dalam garis pertahanan Jerman (yang terlarang) dan apa untungnya melakukan itu? Ball menjawab: “Tak ada untungnya Pak, namun kita telah membuat Jerman marah, dan menghabiskan sekitar seratus pon peluru mereka.” Jawaban yang tak disangka-sangka ini membuat komandannya tertawa. Ball tidak jadi mendapat hukuman atas kelalaiannya.

Akhir bulan itu pesawatnya sempat tertembak oleh senjata dari darat. Beruntung pesawat jatuh di dalam wilayah sendiri. Ball dan pendampingnya terjebak dalam puing pesawat, namun tidak terluka. Pada akhir bulan Maret, didampingi oleh dua orang penembak bersenjata mesin, pesawat B.E.-nya berhasil memaksa dua pesawat lawan untuk mendarat, namun Ball tidak yakin kalau keduanya rusak.

Sementara itu, ia selalu memanfaatkan bakat bisnisnya — dengan mewakili ayahnya dalam jual-beli tanah dengan rekan-rekan sesama pilot di skadronnya. Ia menyurati ayahnya agar tidak menjual tembaga mereka karena perang akan berlangsung lama sehingga tembaga akan semakin langka dan bernilai tinggi. Ia juga membuat gambar desain pesawat terbang baru yang dikirimkan kepada ayahnya.

Pada tanggal 3 Mei ia dan pendampingnya berhasil menembak jatuh lima pesawat musuh. Tiba-tiba sebuah pesawat Albatross kursi ganda menyerang. Ball melihat pesawat tersebut menuju ke arahnya hinga berada pada jarak beberapa kaki saja. Masing-masing kru dapat melihat wajah lawannya. Penembak lawan sempat menembak lima kali sebelum akhirnya tewas oleh tembakan pendamping Ball. Pilot Albatross kemudian pergi, namun Ball tak yakin kalau ia terluka.

R.F.C. mulai melengkapi skadronnya dengan sejumlah pesawat tempur kursi tunggal untuk melindungi pesawat kurasi ganda yang banyak mengalami kekalahan. Ball terpilih sebagai pilot tempur pertama di skadron No. 13, dan ditempatkan di depot pesawat untuk menerbangkan pesawat Morane Scout. Ia menembakkan senapan mesinnya pertama kali saat menerbangkan pesawat Scout di sekitar garis perbatasan. Gir pengatur senapan belum disesuaikan sehingga peluru mengenai baling-baling pesawat. Ia harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk sampai ke pangkalan dengan kondisi pesawat yang bergetar hebat. Tak lama kemudian skadron menerima tambahan dua pesawat Scout, satu pesawat Nieuport dan sebuah Bristol. Ia menggunakan kedua pesawat ini pertama kali saat dua pesawat musuh terbang hingga mendekati pangkalannya. Pertama-tama ia menggunakan pesawat Nieuport. Namun kabel senapannya putus. Ia langsung mendarat, pindah ke pesawat satunya, dan tinggal landas lagi, namun pesawat Bristol kalah cepat dibandingkan dengan pesawat musuh yang telah mundur.

Pada awal bulan Mei 1916 ia dipindahkan ke skadron No. 11. Segera setelah bergabung dengan skadron barunya Ball yang menggunakan pesawat Bristol Scout melakukan serangan terhadap sebuah pesawat Albatross dengan menukik dari ketinggian 12.000 kaki ke 5.000 kaki, dan berhasil menghancurkannya 20 mil di dalam wilayah musuh. Namun kemampuan seorang pilot sangat terbatas. Pada akhir bulan Mei kekalahan pesawat B.E. semakin besar. Kebutuhan untuk melindungi skadron dengan tambahan pesawat tempur semakin mendesak. Dalam waktu seminggu semua penerbang kelas B di skadron No. 13 harus diisi oleh pilot baru dari Inggris, dan dalam sehari skadron No. 11 kehilangan enam pesawat.

Ball meminta salah seorang bawahannya untuk membuat pagar seluas 40 yar persegi di sekitar tenda yang ia dirikan di pangkalan udara. Di sini ia menggali tanah untuk sebuah taman, dan menyurati rumahnya untuk mengirim benih yang ingin ia tanam. Ia menemukan pelepasan dari beratnya tugas penerbangan dengan menanam bunga dan sayuran. Ia tinggal di tenda atas kemauannya sendiri, agar selalu siap setiap saat untuk terbang jika diperlukan. Ia kemudian membangun sebuah gubuk kayu dari kayu-kayu sisa. Mess berjarak sekitar dua atau tiga mil, namun ia tak keberatan berjalan kaki untuk mencari makanan.

Seringkali ia harus berlari dari tamannya menuju ke pesawat saat terdengar alarm tanda adanya serangan. Kadang ia harus bangun saat tidur dan bergegas mengenakan pakaian terbang. Ia terbang tanpa menggunakan kacamata debu atau helm, rambutnya yang hitam tebal tertiup angin, sedangkan matanya yang coklat tajam mampu menangkap gerakan lawan sebelum ia sendiri terlihat. Perawakannya tinggi, berhidung panjang, dan rahang yang kuat sesuai dengan jiwa muda seorang petarung. Ia melakukan segala sesuatu dengan penuh semangat, dan merupakan kesenangan atau seperti olahraga. Ia selalu bertindak dengan sepenuh hati.

Pada tanggal 29 Mei ia terlibat empat kali pertempuran dalam satu kali patroli. Tiga kali ia menyerang pesawat Albatross sayap ganda, dan selanjutnya ia sendiri diserang oleh empat pesawat Fokker dan sebuah pesawat L.V.G. kursi ganda 12 mil di daerah lawan. Ia memaksa pesawat L.V.G. untuk mendarat kemudian mendekati pesawat Fokker. Namun mereka melarikan diri dari pesawat Nieuport-nya. Ball mendapati delapan peluru bersarang di pesawatnya, dan saat pulang sebuah “Archie” membuat ekornya sedikit berlubang.

Archie adalah singkatan dari anti-aircraft shellfire atau meriam anti pesawat, sebutan yang digunakan oleh para pilot Inggris. Ini sudah ada sejak awal perang, saat seorang pilot Inggris mendengar ledakan di bawah pesawatnya dari sebuah meriam anti pesawat. Pada Perang Dunia II para pilot sekutu menggunakan istilah Jerman “Flak”, singkatan dari Flakartillerie, atau senjata anti-pesawat.

Ball tidak hanya tinggal diam menunggu alarm tanda serangan. Ia melakukan patroli rutin, seperti elang di atas pangkalan pesawat musuh, dan mengamati setiap pesawatnya yang tinggal landas. Saat mereka mencapai ketinggian 10.000 kaki ia menyerangnya. Sampai tanggal 7 Juni ia merupakan satu-satunya pilot di skadronnya yang berhasil menembak jatuh pesawat musuh. Dan ia merasa beruntung karena terlibat lebih dari dua belas kali pertempuran selama tiga bulan pertama dibandingkan dengan pilot lain di skadron No. 4 dan 13.

Tiga kali ia harus menunda kepergiannya karena ia tidak dapat digantikan oleh pilot tempur lainnya. Namun antara tanggal 10 dan 22 Juni ia harus terbaring sakit di rumah. Empat hari setelah ia kembali disusun sebuah rencana besar untuk menyerang balon pengintai musuh sebagai pembukaan untuk pertempuran Somme. Sekitar 100 pesawat tempur Inggris dikirim untuk menyerang balon-balon udara yang terbang di daerah perbatasan untuk mengamati gerakan pasukan Inggris. Keseluruhannya hanya lima balon yang berhasil ditembak jatuh. Ball dan beberapa pilot lain yang mengincar sebuah balon gagal. Ball lalu pulang dan minta ijin untuk kembali menyerang. Setelah dipersenjatai dengan lebih banyak bom, ia langsung terbang untuk menyerang kembali musuh yang sekarang telah siaga. Terbang perlahan di atas balon dan senjata anti-pesawat musuh, ia menjatuhkan bom dengan tepat. Balon pun terbakar hebat dan jatuh. Atas keberanian ini, ia dianugerahi Lencana Militer.

Sehari kemudian ia melihat konsentrasi kendaraan angkutan musuh di sebuah hutan. Ia turun untuk melihat lebih dekat, dan dihujani tembakan dari darat. Tiba-tiba satu peluru mengenai silinder mesinnya. Baling-baling pesawatnya berhenti berputar, namun pesawatnya masih dapat melayang, dan ia pun melayang turun di daerah pertahanan Inggris lalu mendarat jauh di luar jangkauan senjata musuh. Berdasarkan laporannya sebuah serangan artileri dilancarkan terhadap sasaran yang telah diamatinya.

Hanya empat pilot yang tersisa dari delapan orang. Ball termasuk diantaranya yang terus siaga 19 jam sehari. Di hari-hari awal pertempuran ia telah melakukan 12 kali penerbangan. Ia bersyukur memiliki taman yang aman dari kejaran musuh. Untuk sementara ia bisa lepas dari ketegangan.

Pada tanggal 2 juli dua pesawat Albatross menyerangnya. Salah satunya menukik seperti hendak menabrak pesawatnya, namun Ball berhasil menghindarinya. Dalam waktu lima menit kedua pesawat Albatross itu berhasil dirontokkan dengan senapan pesawat Nieuport. Sampai hari itu ia telah berhasil menembak jatuh enam pesawat musuh dan satu balon. Para pilot lain di kesatuannya masing-masing hanya memiliki satu skor kemenangan. Ia menerima ucapan selamat untuk kedua kalinya dari komandan Angkatan Bersenjata. Mayor-Jenderal H. M. Trenchard, yang mengepalai markas Korps Terbang Kerajaan Inggris mengirim telegraph ucapan selamat, lalu datang sendiri ke pangkalan mereka.

Pertempuran udara telah banyak memakan korban jiwa. Pada tanggal 3 Juli tiga orang rekan Ball tidak kembali, tanggal 9 Juli empat orang hilang, dan sehari kemudian seorang hilang. Pada tanggal 16 Juli terdapat perintah untuk melakukan operasi udara, dan malamnya Ball menyelesaikannya. Ia menyurati ayahnya : “Sebenarnya saya tidak bisa bertahan terus-terusan, dan malam ini saya menemui komandan untuk meminta istirahat dan cuti selama beberapa hari. Ia bilang ia akan mengusahakannya.”

Ball kemudian ditugaskan di skadron No. 8 dan kembali menerbangkan pesawat B.E.2C. Ini merupakan “istirahat” baginya. Pada saat itu pergiliran tugas operasi terbang tidak didasarkan pada jumlah penerbangan yang dilakukan, namun berdasarkan waktu yang dihabiskan. Sepuluh bulan di Perancis merupakan syarat untuk penempatan di Pemerintah Lokal agar dapat beristirahat dari sejumlah tugas lain, seperti menjadi instruktur. Ball baru menyelesaikan setengahnya, meskipun mungkin melakukan tugas dua kali lipat dibandingkan dengan pilot lain. Yang ia inginkan hanyalah istirahat beberapa hari dari kegiatan terbang. Namun ia kecewa karena disarankan untuk bersabar sementara waktu.

Ada maksud dibalik penugasan Ball. Jika ia diijinkan untuk berhenti terbang maka ia akan kehilangan stabilitas syaraf. Ini sama seperti siswa pilot yang langsung diperintahkan terbang dengan pesawat lain setelah mengalami kecelakaan ringan. Dengan demikian ia tak akan sempat memikirkan resiko terbang.

Kembalinya ia dengan pesawat B.E.2C membuat Albert senang. Ini berarti bahwa ia akan terbang lebih sedikit dibandingkan jika ia menggunakan pesawat yang lebih baik. Pesawat ini tidak terlalu diandalkan karena sudah agak tertinggal untuk menghadapi pesawat lawan yang lebih canggih. Dengan demikian ini akan mengurangi ketegangannya. Setelah kepergian Albert orang-orang di skadron No. 11 merawat kebunnya dan mengiriminya bunga dari kebun tersebut.

Ia mendapatkan pengalaman baru dalam penggunaan artileri untuk membidik sasaran lawan dan ikut ambil bagian dalam suatu operasi penyerangan yang melibatkan lebih dari tiga puluh pesawat. Semangatnya tak pernah padam. Jauh hari sebelumnya ia pernah mendaftarkan diri sebagai mata-mata di belakang garis pertahanan musuh, dan melakukan tugas berbahaya ini. Bersama seorang penembak jitu di pesawat B.E. ia menyerang sebuah balon dan memaksa pengendaranya melompat keluar, meskipun penyangga sayapnya rusak terkena senjata anti-pesawat. Di hari lain ia terbang sendirian menyerang sebuah pesawat Albatross dan memaksanya mendarat.

Pada tanggal 15 Agustus ia kembali ke skadron No. 11 dan ditempatkan di pesawat Nieuport terbaru. Untuk menambah kebahagiaannya ia dipromosikan sebagai letnan. Hanya dengan inilah ia dapat terus berkonsentrasi. Sehari kemudian ia bertemu dengan 5 pesawat musuh, menembak jatuh 1 pesawat dan memaksa dua lainnya mendarat dengan semua amunisinya.

Di hari terakhirnya di skadron No. 11 ia bertemu dengan 12 pesawat Hun (pesawat Jerman ini pada Perang Dunia II dijuluki dengan Jerries). Ia menyerang ke arah mereka, merontokkan dua pesawat dan menembak pesawat ketiga hingga jatuh terbakar. Setelah kembali ke pangkalan terdekat untuk mengisi amunisi ia langsung berangkat lagi. Kali ini 14 pesawat Hun menyerangnya pada posisi 15 mil di wilayah Jerman. Peluru mereka menghancurkan kaca depannya, menembus penyangga sayap kiri, dan mematahkan pipa bahan bakar sehingga ia kehabisan bahan bakar. Ia terpaksa mendarat satu mil dari perbatasan dan tidur di dekat pesawatnya. Malamnya ia memperbaiki pesawat. Telah enam kali ia dipaksa mendarat seperti ini dengan mesin yang rusak, namun ia selalu berhasil mendarat dengan baik.

Seluruh pilot tempur kemudian disatukan dengan beberapa skadron tempur. Pada tanggal 23 Agustus 1916, Ball bertugas di skadron No. 60, dimana ia segera menjadi komandan terbang dan kapten. Dua hari kemudian ia merontokkan sebuah pesawat Hun dan memaksa satu pesawat lainnya untuk mendarat. Seorang mayor Perancis mengucapkan selamat kepadanya, dan mengatakan bahwa ia telah merontokkan pesawat musuh lebih banyak dibandingkan dengan para pilot Perancis. Mayor Perancis tersebut menghitung skornya dari 84 kali pertempuran, 16 pesawat musuh dirontokkan dan 1 balon hancur. Namun Ball mencatat hanya 12 pesawat rontok. Pada tanggal 31 Agustus ia menembak jatuh 2 pesawat dari 12 pesawat Hun, dan kemudian diberi penghargaan Bintang Jasa Kehormatan.

Sebuah piringan aluminium besar dipasang pada poros baling-baling pesawat Nieuport Scout untuk menambah dorongan angin. Ini disebut “spinner” karena ikut berputar saat mesin hidup. Meskipun para pilot R.F.C tidak diijinkan untuk mengganti warna standar pesawat mereka, Ball tetap mencat spinner pesawatnya dengan warna merah terang untuk memudahkan pilot Inggris lainnya membedakan pesawat Nieuport-nya. Ini juga untuk menakuti musuhnya, sebagaimana para ksatria kejam mencat wajahnya dengan warna yang buas.

Tekad dan semangat merupakan kunci keberhasilan Ball, disertai dengan keberanian yang mengesampingkan segala hambatan. Ia berkata bahwa sebagian besar lawannya tampaknya tidak berani mengambil resiko dan tidak pernah berani bertarung dari jarak dekat apabila keadaan memungkinkan. “Tantangan langsung di depan lawan akan menciutkan nyali mereka,” katanya. “Pesawat Hun selalu menghindari benturan lebih dulu.” Ball memiliki kemampuan berpikir dan bertindak cepat, ia mampu menentukan taktik untuk menghadapi situasi secepat kilat. Namun suatu ketika ia menemukan lawan yang sebanding. Ia dan seorang pilot Jerman yang tak dikenal terlibat pertempuran satu lawan satu. Masing-masing saling mengejar. Masing-masing mencoba trik untuk mengelabui lawannya. Mereka saling tembak dari berbagai sudut yang berbeda. Keduanya berusaha untuk mengincar ekor lawannya, namun tak berhasil mendapatkan posisi yang tepat untuk melepaskan tembakan. Masing-masing berusaha untuk menghindari sergapan musuhnya. Ini bisa berakibat fatal bagi keduanya karena menemui pertarungan sejati. Akhirnya keduanya saling menembakkan amunisinya sampai habis. Mereka tampaknya menyadari apa yang telah terjadi. Kemudian mereka saling menatap sambil tertawa terbahak-bahak. Mereka pun lalu terbang berdampingan, saling melambaikan tangan dan kemudian berpisah pulang ke pangkalan masing-masing. Ball menganggap pesawat Hun tersebut “sebuah pertarungan sejati.”

Ball mempunyai selera humor. Ia tahu resiko yang ia hadapi, namun ia yakin bahwa tugasnya adalah untuk bertahan demi pertempuran selanjutnya. Suatu ketika dua orang pemuda berkata padanya bahwa mereka ingin sekali bergabung dengan Korps Terbang, dan menyatakan siap untuk mati demi tanah airnya. Ball tertawa dan mengatakan bahwa mereka tak berguna, karena yang dicari adalah orang yang berusaha keras untuk hidup demi negaranya, bukan untuk mati.

Ketika ia telah menghancurkan 32 pesawat lawan Ball dikirim pulang untuk melatih para pilot lain dengan metodenya. Ia kemudian diberi penghargaan gelar D.S.O. dan Bintang Rusia kelas empat St. George. Selama perjalanan bertugas saya bertemu Ball saat menjalani pelatihan sebagai seorang pilot. Perawakannya agak pendek, sekitar 5 kaki 6 inchi, namun terlihat proporsional dan tegap dengan pakaian seragam R.F.C. Ia tidak terlihat menyolok namun sorot matanya yang tajam menunjukkan kepercayaan dirinya. Kepergiannya disambut dengan meriah oleh segenap kota Nottingham, bersama sejumlah jenderal dan Perdana Menteri Lloyd George. Ia telah menjadi penerbang besar dunia, namun kehormatan itu tidak direspon secara berlebihan karena ia adalah orang yang rendah hati. Ia menikah dengan gadis yang mungkin tidak ditakdirkan untuk menjadi istrinya.

Selama beberapa waktu ia tetap menjadi instruktur di Inggris, namun sebenarnya ia lebih senang maju ke medan pertempuran. Ia kemudian dipindahkan ke skadron No. 56, selanjutnya melakukan persiapan untuk menjadi penerbang S.E.5 kursi tunggal. Ia menjadi komandan terbang kelas “A”, dan skadronnya bertugas ke luar negeri pada tanggal 7 April 1917. Sebelum mendarat di pangkalan udara Perancis, Ball sempat menyeberangi perbatasan dan merontokkan satu pesawat Jerman dan memaksa sebuah pesawat lainnya untuk mendarat. “Tak ada waktu untuk kalah!” katanya saat mendarat.

Ia mencat bagian atas pesawat S.E.-nya dengan warna merah, namun ia lebih suka dan terbiasa dengan pesawat Nieuport. Ia kemudian diberi tambahan pesawat S.E.5. biasanya ia memimpin penerbangan untuk melakukan patroli dua atau tiga kali sehari. Sisa waktunya digunakan untuk menerbangkan pesawat Nieuport sendirian di garis depan antara daerah Lens dan Arras, di dekat pangkalan skadronnya. Ia berusaha keras untuk memecahkan rekor Perancis, yang berhasil mengunggulinya saat ia istirahat di Inggris. Guynemer, seorang pilot Perancis terkemuka, meraih 36 kali kemenangan, sedangkan Boelcke dari Jerman mencatat 40 kemenangan sebelum ia meninggal. Di akhir minggu pertama operasinya Ball telah menembak jatuh 5 pesawat lawan. Minggu berikutnya ia berhasil merontokkan 5 pesawat lagi. Di suatu malam tanggal 26 April, sendirian ia berhasil menyerang empat formasi pesawat Hun yang masing-masing terdiri dari lima pesawat, dan menembak jatuh 2 diantaranya. Namun ia kehabisan amunisi. Ia harus menunggu sampai gelap untuk dapat kembali dengan aman ke pangkalannya. Suatu kali ia diserang oleh 5 pesawat tempur Jerman. Ia berhasil mengunggulinya. Dua pesawat berhasil ia rontokkan, kemudian ia menukik turun secara vertikal, diikuti oleh tiga pesawat lawan yang tersisa. Ia terbang sangat rendah sehingga pesawat Hun lawannya hampir terhempas ke tanah. Ball naik dan menembak korban ke empatnya. Pesawat ke lima langsung melarikan diri. Saya ingat pengumuman harian R.F.C. yang dipasang di mess kami saat saya menerbangkan pesawat Sopwith kursi-ganda. Nama Ball sering sekali dicantumkan di sana. Semua orang berkeinginan agar namanya tertulis dalam pengumuman tersebut.

Seringkali pesawatnya tertembak dan rusak parah. Setelah itu maka Albert kembali berladang, dimana ia bisa bekerja sambil menyanyi. Namun mekipun ia bersantai sebenarnya ia amat lelah. Semangat tempurnya selalu mendorong ia untuk kembali. tak lama kemudian ia telah berhasil melampaui skor Guynemer dua angka. Di malam yang sama skadron No. 56 mengadakan konser. Mendadak alarm tanda kebakaran berbunyi. Saat Ball memeriksanya ternyata gubugnya terbakar.

Staf jenderal R.F.C. menganggap Ball sebagai bintang pilot Inggris. Saat ia mengalami masalah dengan pesawat S.E.5 miliknya ia segera mendapat ganti dua pesawat, untuk memastikan bahwa ia tidak kehilangan kesempatan. Kepercayaan diri para staf semakin kuat. Pada awal Mei Ball kembali menembak jatuh pesawat lawan dalam jangka waktu sekitar dua hari.

Malam tanggal 5 Mei ia bertemu dengan dua pesawat Albatross Scout. Ia langsung menyerang yang terdekat, masuk ke bawahnya, dan menembakkan senapan mesin Lewis ke arahnya. Pilotnya tewas dan pesawatnya jatuh. Ia sekarang siap menghadapi pesawat kedua. Tiba-tiba pesawat tersebut menuju ke arahnya seolah-olah hendak menabraknya. Ia pun menghadapinya sehingga sekarang pesawat saling berhadapan dan saling tembak. Saat pesawat hampir bertabrakan mesin pesawat Ball terkena peluru. Oli panas menyembur mengenai wajah dan matanya. Selama beberapa saat ia tak bisa melihat apa pun. Saat ia bisa melihat kembali, ia mendapati pesawat Hun sedang menukik jatuh tak terkendali seperempat mil dari perbatasannya. Ball sempat menyerang lagi saat pulang, namun ia kehabisan amunisi dan terpaksa mendarat sebelum mesinnya rusak.

Dengan total 42 kemenangan Ball sekarang melampaui skor Guynemer. Jenderal Trenchard menelponnya dan memberitahu bahwa ia akan dihadapkan dengan Marsekal Lapangan Sir Douglas Haig, panglima tertinggi Angkatan Bersenjata Inggris. Namun itu tak pernah dilaksanakan. Pada tanggal 5 Mei Ball menyurati tunangannya : “… akan lebih baik jika perlombaan saling bunuh ini berakhir, dan kita bisa menikmati hidup tanpa melukai orang lain. Aku benci permainan ini, namun ini satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang.” Di hari yang sama ia menyurati ayahnya: “Sungguh saya dilindungi oleh Tuhan, namun ah! Saya capek terus-terusan hidup untuk membunuh, dan merasa menjadi seorang pembunuh.”

Malam hari merupakan saat favoritnya untuk melakukan patroli. Seringkali ia harus pulang saat hari gelap dan menjadi orang yang teralkhir pulang ke mess. Menjelang gelap tanggal 6 Mei ia terlibat pertempuran dengan empat pesawat Albatross dan merontokkan satu diantaranya.

Suatu malam tanggal 7 Mei 1917, Ball keluar berpatroli bersama sepuluh pilot lain di skadronnya. Udara saat itu mendung disertai hujan gerimis. Pandangan sangat terbatas dan kabur, sehingga pesawat mereka terpisah. Banyak pesawat musuh yang terbang saat itu, karena jumlah satuan Albatross baru saja diperbesar. Ball dan dua orang pilot sepakat untuk bertemu di Cambrai. Mereka akhirnya bertemu, namun mendung sangat tebal. Mereka kembali terpisah. Empat pesawat Albatross merah menyerang dari atas. Salah seorang teman Ball diserang dengan gencar. Satu musuh yang telah ia tembak sebelumnya, menembak dengan pistol dan dengan kemudi yang patah ia melarikan diri; turun melewati perbatasan dan mendarat lalu pingsan. Ball menembak pesawat lainnya, namun ia segera terlibat pertempuran dengan pesawat-pesawat tempur Jerman yang jumlahnya sangat banyak, karena terus berdatangan. Pesawat S.E. yang tersisa harus menghadapi serangan dari 12 pesawat Albatross.

Salah seorang pilot Inggris melaporkan telah terjadi pertempuran sengit dimana Ball berada di tengah-tengahnya. Ia melihat dari bawah peluru senapan pesawat Hun dimuntahkan ke arah Ball, sedangkan bom dijatuhkan dari atasnya.

Ball pun jatuh, seperti biasa ketika ia bertempur sendirian. Siapa yang menembaknya tidak pernah diketahui. Lothar von Richthofen diyakini sebagai pelakunya, namun tampaknya sebelum itu ia telah terluka dalam pertempuran tersebut. Mungkin ini hanya sebuah kebetulan, dimana peluru nyasar mengenai kepala Ball, atau orang lain yang menembaknya juga tewas dalam pertempuran. Tak ada yang mengaku bertanggung jawab atas kematian Ball baik dari pihak Inggris maupun Jerman. Dan Jerman salah mengira ia terbang dengan pesawat sayap tiga, meskipun pesawatnya jatuh di daerah mereka.

Di mess skadron No. 56 malam itu para pilot senior menunggu kepulangan Ball, seperti yang biasa mereka lakukan. Namun malam itu tidak ada suara raungan pesawat dari langit yang diselimuti awan pekat, tanpa bintang. Ball yang belum genap 21 tahun, telah melakukan penerbangan terakhirnya.

Albert Ball adalah seorang anak dan kakak yang penuh kasih sayang. Ia dicintai oleh orang lain karena keberanian dan keramahannya. Namun ia bukan seorang “anak gaul.” Ia tidak pernah bersantai di mess. Ia juga tidak minum ataupun merokok. Ia senang dengan bunga dan musik yang indah. Ia tak banyak berbicara dengan orang lain. Sejak kecil ia selalu diajarkan untuk berdoa oleh orang tuanya, sehingga ia sangat religius. Ia percaya akan kekuatan doa. Ketika ayahnya menulis surat dan menanyakan apakah ia berdoa setiap akan melakukan pekerjaan dan setelah usai, ia menjawab: “Tak perlu diragukan lagi aku selalu melakukannya. Bahkan aku juga melakukannya saat sedang bertempur. Sungguh, aku berserah diri kepada Tuhan, itulah yang membuatku merasa damai, dalam keadaan apa pun.” Dan kepada ibunya ia menulis: “… Janganlah engkau mempertanyakan apakah aku percaya pada Tuhan sebelum percaya pada yang lain. Aku tidak pernah melupakan kewajiban itu.” Setelah menjalankan kewajiban tertinggi tersebut, Albert Ball tak pernah melalaikan kewajiban lainnya.

Tentara Jerman menguburkannya di Annoeullin, sekitar 5 mil di sebelah timur La Bassée, di Makam Kebesaran. Mereka mengalungkan bunga di salib kayunya, bertuliskan: “Ia Telah Mempersembahkan Hidupnya Untuk Tanah Airnya.”

Penghargaan Lencana Victoria diberikan secara anumerta. Raja menyerahkan Lencana tersebut kepada orang tua Albert Ball di Istana Buckingham pada tanggal 22 Juli 1917. Ball sendiri telah mengklaim 44 kemenangan. Raja George V memberitahu ayah Ball bahwa skor kemenangan putranya adalah 47. Selanjutnya, Raja mengirim surat pribadi yang ditandatanganinya kepada ayah Ball, berbunyi:

“Sungguh merupakan penyesalan yang dalam buat saya mendengar kematian Letnan Albert Ball, D.S.O., M.C., dari Resimen Notts and Derby dan Korps Terbang Kerajaan, menghilangkan kebanggaan saya pribadi untuk menganugerahkan penghargaan Lencana Victoria, penghargaan tertinggi untuk keberanian dan kesetiaan dalam menjalankan tugas.”

6. Anthony H. G. Fokker

SANG PENERBANG BELANDA

TERAKHIR KALI saya bertemu Anthony Fokker adalah sekitar delapan belas bulan sebelum Perang Dunia II. Kami mendarat di danau es di Samadan pada ketinggian sekitar 6000 kaki dari permukaan laut, yang digunakan oleh perusahaan penerbangan Swissair untuk tempat pendaratan di dekat St. Moritz. Pesawat yang kami gunakan adalah Douglas D.C.2 Amerika, dan itu merupakan penerbangan non-stop pertama dari London ke St. Moritz. Anthony Fokker kemudian tinggal di sebuah villa atas danau. Ketika pesawat banyak menjadi perhatian ia kemudian turun untuk menemui 14 penumpang pesawat Douglas.

Ia adalah seorang yang kaya, namun usia 48 tampaknya terlalu dini untuk pensiun di Swiss. Mungkin ia tahu akan datangnya Perang Dunia II, dan tidak ingin salah berpihak lagi. Swiss merupakan tempat yang netral. Kami banyak bertukar pendapat, dan saya merasa bahwa ia masih tetap seorang Fokker yang tangguh, teguh pendirian, dan percaya diri dalam usia pensiunnya.

Saat itu salju ada di mana-mana. Permukaan danau yang membeku dijadikan sebagai landasan pesawat. Jalan menuju villa Fokker berada jauh di atas bukit. Jalan tersebut tidak dapat dilewati oleh mobil biasa. Namun hal semacam itu tidak membuat Fokker menyerah. Ia menggunakan kereta salju. Kereta ini menggunakan roda khusus dan kipas yang menghisap salju dan membuangnya ke belakang seperti pada haluan kapal. Saat ia meninggalkan danau dan mulai naik bukit kipas tersebut bekerja dan kendaraannya menghilang di antara salju. Ini merupakan cara yang termudah yang digunakan Fokker demi keinginannya.

Saya pertama kali bertemu dengannya di Gothenburg pada tahun 1923, saat kemi berdua terbang pada peringatan limaratus tahun kota di Swedia tersebut. Ia menerbangkan pesawat tempur kursi ganda yang didesainnya sendiri, sebuah mesin yang bagus, namun kurang cocok untuk memenangkan kompetisi yang diadakan. Karena itu, ia hanya menerbangkannya berputar di sekitar pangkalan udara, menukik dan naik, berbelok ke kiri dan kanan dan mengulanginya lagi dari arah yang berbeda. Ini merupakan hal biasa bagi seorang pilot yang berpengalaman, namun hasilnya cukup efektif bagi para penonton, karena pesawat terbang rendah dan tetap berada di sekitar pangkalan udara, sehingga terlihat oleh para penonton. Dan ia memenangkan hadiah pertama untuk aerobatik, karena orang Swedia cukup bermurah hati dan memberikan yang terbaik bagi para tamunya.Sebelumnya saya sangat membenci nama Fokker karena itu merupakan nama pesawat musuh yang sempat bertemu dengan kami di Perancis Barat ketika Perang Dunia I. Kami dulu merasa bahwa pesawat-pesawat Fokker cukup berbahaya, meskipun ia adalah orang Belanda, yang orang-orangnya netral. Bahkan Fokker telah membuat pesawat musuh yang sangat tangguh. Jadi bagaimana mungkin kita berteman dengan orang yang menyebabkan beberapa sahabat kita terbunuh?

Namun bukan kesalahan Fokker yang menyebabkan hal itu terjadi. Ia telah menawarkan desain pesawatnya ke Perancis dan ditolak. Selanjutnya ia menawarkannya kepada Pemerintah Inggris, dan tidak ada tanggapan. Belanda hanyalah sebuah negara kecil yang tidak membutuhkan banyak pesawat untuk tentaranya. Jadi apa lagi yang bisa dilakukan selain bekerjasama dengan Jerman?

Jerman yang Kaisar terakhirnya dikalahkan dalam perang, telah siap dan menunggu kesempatan. Sebelum musim panas 1914 Jerman masih ragu-ragu, namun akhirnya bertahan. Selanjutnya sekelompok Serbia anggota komitadjis (mereka menyebutnya patriot bawah tanah) terlibat pembunuhan Pangeran dan Putri Austria, yang sedang berkunjung ke Sarajevo untuk meresmikan sebuah bangunan baru. Sebelumnya, Pasukan Austria telah bergerak ke Serbia, dan Pemerintah Rusia memerintahkan mereka untuk mundur. Kemudian pasukan Rusia mulai bergerak ke Austria dan Jerman berpihak pada Rusia. Pemerintah Inggris dan Perancis mengultimatum Jerman untuk berhenti. Dan ultimatum ini diabaikan. Ketika ultimatum telah habis, Perancis dan Inggris menyatakan perang dengan Jerman yang merupakan sekutu Rusia. Pasukan Jerman bergerak melewati Belgia meninggalkan Belanda. Jauh sebelumnya konflik pertama telah terjadi dengan pasukan Inggris di Mons, Belgia. Jerman telah berbuat kesalahan dengan langsung menyerang Paris, hanya karena mereka ditahan di sungai Marne, yang belakangan dianggap sebagai pertempuran awal yang sangat menentukan dalam perang tersebut. Italia bergabung dengan pihak kita setahun kemudian, dan Amerika dua tahun setelah itu.

Ketika peristiwa besar ini terjadi Fokker harus mengambil keputusan. Sulit sekali baginya untuk pergi ke Perancis atau Inggris kecuali sebagai seorang individu, dan bagaimana ia tahu bahwa kedua negara itu akan menerima tawarannya untuk membuat pesawat? Selain itu, ia juga harus mengurusi bisnisnya, dan ini sama sekali tidak mudah. Ia telah memiliki hubungan dengan Jerman dalam soal penerbangan, yang berdampingan dengan Belanda. Bisnis memang sederhana. Disamping itu, Jerman sangat berpeluang menang. Banyak orang yang memperkirakan demikian ketika perang baru dimulai. Keadaan membuat Fokker bekerjasama dengan Jerman untuk membuat mesin perang.

Anthony Fokker dilahirkan di Jawa pada tahun 1890, kemudian ayahnya, seorang petani kopi yang sukses, membawanya pulang ke Belanda untuk pensiun. Anthony muda adalah seorang siswa yang malang. Ia membenci peraturan dan rutinitas sekolah yang dianggapnya membosankan. Ia menyenangi pelajaran ketrampilan kayu dan logam. Waktu luangnya digunakan untuk membuat mainan dan benda-benda penting lainnya. Ia dan anak-anak lain menciptakan ban anti bocor; sederhana namun praktis; sayangnya hak patennya telah dimiliki orang lain di atas kertas, sehingga penemuan ini berakhir tanpa ada kelanjutan. Ketika beranjak dewasa ia mulai mempelajari ilmu penerbangan Wright bersaudara. Ini menarik perhatiannya. Ia mulai belajar untuk pertama kalinya tentang seluk beluk pengetahuan pesawat terbang. Ia pun belajar tentang teorinya. Dalam pikirannya ketidakstabilan lateral merupakan ganjalan dalam dunia penerbangan. Jika ini bisa teratasi maka terbang akan lebih mudah. Ia lalu berpikir jika terdapat sayap belakang yang menghadap ke depan pada satu sudut tertentu, dan bobot pesawat tetap berat, maka kestabilan akan didapatkan, sehingga penerbangan lebih aman.

Ia menciptakan pesawat pertamanya pada usia dua puluh tahun. Meskipun ia belum pernah terlatih sebagai seorang insinyur, pesawatnya berhasil terbang. Ia belum pernah mendapat pelatihan terbang sebagai seorang pilot, namun ia belajar terbang sendiri dengan menjalankan pesawatnya di darat sambil mengendalikan kontrol dan merasakan kecepatannya. Kemudian ia melakukan loncatan pendek, kemudian lebih jauh hingga 500 yar. Selanjutnya ia berhasil menemukan cara untuk terbang berputar. Pada tanggal 16 Mei 1911, ia mendapat sertifikat pilot yang mengijinkannya terbang pada pameran dirgantara. Nomor sertifikatnya adalah 88. Ia mulai unjuk kebolehan di Belanda dan Jerman. Di waktu luangnya ia membuat desain pesawat, namun ia selalu kehabisan uang. Suatu kali, ayahnya datang membantu dan memberinya uang, meskipun ia kecewa terhadap pendidikan Anthony, dan kurang yakin terhadap masa depan dunia penerbangan.

Pada tanggal 1 September 1913, seorang pilot Perancis Adolph Pégoud, dengan menggunakan pesawat sayap tunggal Blériot, berhasil memukau dunia dengan terbang untuk pertama kalinya. Prestasinya membuat sensasi yang luar biasa, sehingga koran-koran memuat beritanya beserta gambar-gambar yang menunjukkan bagaimana ia melakukannya. Ini sangat menarik perhatian. Fokker lebih cepat dibandingkan Pégoud, dan reputasinya segera mencuat di Belanda dan Jerman. Namun Pemerintah Belanda belum tertarik untuk membeli pesawatnya, sehingga ia beralih ke Jerman.

Pesawatnya adalah pesawat sayap tunggal, dengan sayap yang dikat kawat serupa dengan pesawat Blériot. Suatu ketika seorang pejabat Militer Jerman sedang terbang bersamanya ketika kawat pengikat sayap putus pada ketinggian 2400 kaki. Kawat yang putus menjuntai pada rangka bagian bawah pesawat. Tiang yang mengikatnya pun bengkok, sehingga sayap di sisi itu hampir patah. Jika mereka jatuh pada ketinggian tersebut maka akibatnya akan sangat fatal. Mereka tidak memilik parasut. Fokker kemudian memperlambat pesawatnya untuk mengurangi ketegangan pada sayap. Hanya itu yang bisa ia lakukan.

Saat meluncur turun ia tiba-tiba berpikir jika penumpangnya bisa menahan sayap maka bebannya akan berkurang sehingga mencegah sayap patah. Anthony pun memberi tanda padanya. Tanpa ragu-ragu pejabat tersebut naik ke atas sayap, namun ia tidak dapat menjaga keseimbangan sehingga salah satu kakinya terpeleset. Fokker memperhatikannya dengan hati berdebar. Jika penumpangnya menyentuh kawat pendaratan maka ia akan menambah beban sayap sehingga sayap akan langsung patah. Fokker sambil menahan laju pesawat memperhatikan penumpangnya berusaha kembali ke kokpit tanpa menyentuh kawat, ia tak tahu harus berbuat apa.

Sayap pesawat tampaknya mampu menahan beban hingga saat pendaratan. Namun ketika hampir mendarat, angin bertiup kencang. Pesawat berguncang keras. Sayap semakin bengkok dan akhirnya patah. Pesawat pun jatuh pada ketinggian rendah. Penumpangnya tewas dan Fokker terluka parah.

Meskipun demikian, Fokker justru kemudian mendirikan sebuah sekolah terbang dan pabrik pembuatan pesawat, dengan bantuan uang dari ayah, paman dan teman-temannya. Ia menjual dua buah pesawatnya kepada Militer Jerman. Sekolah terbangnya pun menjadi populer untuk pelatihan pilot Militer Jerman. Ia kembali menjual 12 buah pesawatnya kepada militer Jerman. Angkatan Laut Jerman kemudian datang memesan pesawat air. Saat itu terdapat 150 orang pekerja di perusahaan Fokker. Antara tahun 1914-1918 perang meletus. Sekolah terbang Fokker dan perusahaannya semakin berkembang.

Roland Garros, seorang pilot terkenal Perancis, merupakan orang pertama yang menembakkan senapan mesin lewat baling-baling pesawat. Untuk mencegah baling-baling terkena tembakan ia memasang plat baja pada ujung belakangnya. Jika peluru mengenai baling-baling, maka akan dipantulkan ke arah lawan. Garros, sang pilot pemberani masuk ke garis pertahanan Jerman. Fokker diminta oleh Jerman untuk mempelajari pesawat dan sistem persenjataannya. Ia melepas senapan pesawat. Fokker melihat bahwa plat baja tersebut dapat menggantikan fungsinya. Yang diperlukan adalah alat yang dapat memastikan bahwa peluru tidak akan ditembakkan saat baling-baling berada persis di depannya. Ia menemukan ide menggunakan baling-baling untuk menembakkan peluru, menghentikan tembakan ketika ujung baling-baling sejajar dan menembak lagi setelah ujungnya lewat. Ini cukup sederhana dan efektif. Senjata ini sangat mematikan. Banyak pilot Sekutu yang menjadi korban sebelum Inggris dan Perancis menyadarinya.

Fokker berhasil menyelesaikan persoalan ini dalam waktu 48 jam. Staf militer Jerman memperhatikannya dari belakang saat ia menembakkan senapan dari kokpit. Peralatan mekanis memungkinkan baling-baling menjadi satu dengan senapan. Staf tersebut kemudian mempelajari senapan dan baling-baling, namun masih belum begitu yakin. Mereka meminta dilakukan uji coba. Fokker lalu mengambil pesawat dan mengarahkan hidungnya di dekat para staf berada, kemudian ia menembak. Ia tertawa ketika melihat para staf berlarian mencari perlindungan. Mereka pun membalas dengan meminta Fokker membuktikan efektifitas senjatanya untuk merontokkan pesawat musuh. Ia diminta berada front terdepan untuk merontokkan pesawat Inggris atau Perancis.

Perintah ini memaksa seorang penerbang sipil seperti Fokker untuk terbang di Front Barat pertempuran. Ia tidak mengatakan apa pun, namun jelas sekali bahwa ia belum pernah terbang melewati garis pertempuran. Ia bisa saja tertembak oleh pesawat Sekutu. Ia terbang beberapa hari di daerah pertahanan Jerman sebelum ia melihat sebuah pesawat Perancis Farman kursi ganda. Ia pun mendekatinya dari belakang.

Pesawat Perancis itu sama sekali tak bisa menembak ke arahnya, baik dengan senapan angin maupun lewat baling-baling pesawat. Dan Fokker berada dalam posisi yang aman saat itu, dengan pesawat yang lebih cepat hingga 70 mil per jam. Ia bisa melihat dengan jelas pesawat Perancis tersebut, dan membayangkan apa yang akan terjadi apabila ia menembaknya. Sang pilot Perancis yang tidak menyadarinya dan hanya melihat manuver pesawat Fokker penuh tanda tanya.

Saat jari Fokker hampir menarik pelatuk tiba-tiba ia berubah pikiran. Ia tidak ingin membunuh siapa pun. Biar saja orang lain saling bunuh. Ia pun berbalik dan kembali ke pangkalan udara Militer Jerman. Ia mengatakan pada sang komandan bahwa ia telah sampai ke sana tapi tidak ingin menembak pesawat musuh.

Letnan Oswald Boelcke mengambil prototipe pesawat Fokker E.IV, dan dalam pertempuran yang ketiga kalinya ia menembak jatuh sebuah pesawat Perancis. Pesawat Fokker ini menjadi momok yang menakutkan bagi pesawat-pesawat Sekutu selama beberapa bulan, sedangkan mekanisme senjatanya belum diketahui oleh Perancis atau Inggris.

Fokker tidak sependapat secara pribadi dengan perintah yang diberikan kepadanya. Namun sebagai seorang penemu dan pembuat mesin perang ia secara tidak langsung merupakan agen pembunuh di wilayah udara Perancis, tanpa mempedulikan resiko yang dihadapi oleh penerbang pesawatnya.

Oberleutnant Max Franz Immelmann adalah seorang bintang Fokker, dan merupakan jagoan udara pertama, dengan 15 kemenangan selama pertempuran. Namun kemenangan itu disebabkan karena musuh yang tidak dapat membalas. Reputasinya sangat ditentukan oleh senjata, serta kemampuan terbangnya. Ia adalah pendahulu terbang berbelok mendadak, yang dikenal oleh para pilot dengan istilah “the Immelmann turn.” Max Immelmann tahu bahwa manuver ini akan menjadi serangan kilat bagi pesawat yang mengejarnya. Ini merupakan trik yang sangat bagus karena musuh tidak dapat membalas. Ini menjadi dasar terbang akrobatik yang digunakan oleh Fokker delapan tahun kemudian di Gothenburg, dan disebut dengan istilah Fokker kanone, yang dalam bahasa Jerman berarti “jagoan”.

Perancis kemudian menggunakan pesawat Nieuport dengan senapan mesin dipasang di atas sayap bagian atas, sedangkan Inggris menggunakan pesawat D.H.2 dan F.E.2.B senjata di bagian depan, maka Fokker mendapat lawan yang seimbang. Kanone Jerman pertama kali ditembak jatuh oleh Letnan G.R . Mc Cubbin, saudara laki-laki dari pilot Inggris V.C., ketika Immelmann sedang menyerang pesawat F.E. lainnya dalam skadron McCubbin.

Munculnya pesawat tempur tangguh di Front Barat telah melambungkan nama Fokker di mana-mana. Banyaknya pesawat B.E.2C yang rontok ketika melakukan terbang pengintaian menjadi bahan pembicaraan di Parlemen. Koran-koran menyebut pesawat Fokker sebagai kemenangan lawan. Publikasi in digunakan oleh Jerman untuk menjatuhkan mental para pilot di sekolah terbang di Inggris. Dengan demikian sensasi pesawat Fokker berhasil dengan baik, karena memberi gambaran kepada semua orang bahwa udara adalah juga merupakan tempat pertempuran, bukan hanya tempat pengintaian dan fotografi. Ini menjadi strategi udara tersendiri dengan pertempuran yang terpisah dengan laut dan darat serta sangat berpengaruh terhadap kemenangan pasukan. Diluar semua itu, industri-industri baru pun bermunculan, senjata baru dibuat, taktik baru dikembangkan, metode pelatihan baru juga ditemukan, keberanian baru ditunjukkan kepada lawan.

Setelah dominasi kemenangan pesawat Fokker berakhir, muncul suatu masa dimana gaya perang tertentu ditampilkan oleh para penerbang tempur. Mereka mengembangkan semacam kavaleri udara yang merupakan temuan mereka sendiri, didasarkan pada fakta bahwa dalam petrtempuran modern mereka mungkin akan bertarung satu lawan satu.

Sebelum mengetahui rahasia senjata mesin Fokker, baling-baling pesawat Inggris dilapisi dengan baja anti peluru dan senapan mesin ditembakkan diantara putaran baling-baling pesawat. Kemudian perusahaan Sopwith Aviation Company membuat gir sela senapan mesin yang ditemukan oleh sersan penerbang R.F.C. Lalu sebuah gir yang lebih baik diciptakan oleh Kauper. Dan gir ketiga yang merupakan senjata terbaik diciptakan oleh seorang Rumania yang bernama Constantinesco, berupa gir sela hidrolis pertama di dunia. Tangkai gigi mekanis digunakan pada saat terbang dan senjata mendadak macet. Gigi hidrolis menggunakan oli, yang tidak akan macet dan dapat bertahan lama apabila dirawat dengan baik.

Namun kekalahan di Perancis banyak disebabkan karena masa pelatihan pilot yang dikurangi, dan pilot sering dikirim ke medan pertempuran tatkala mereka belum begitu menguasai tugas secara efisien. Letnan Jendral Sir David Henderson yang menjadi komandan R.F.C. di Perancis ditanyai mengapa kekalahan bisa sedemikian besar. Ia menjawab : “Karena latihan yang kurang memadai.” Ia kemudian ditanya : “Mengapa latihan kurang memadai?” Dan ia pun menjawab : “Karena kekalahan begitu besar.”

Anthony Fokker merupakan seorang jenius yang mampu mengatasi persoalan ini sekaligus dan mengembangkan strategi udara dengan senjata yang mematikan. Namun, ia tidak pernah menjadi tentara, ataupun ingin menjadi tentara. Ia adalah seorang individualis. Perang baginya merupakan kesempatan untuk meraih ambisinya pribadinya. Ia melayani orang-orang Jerman dengan baik, dan mereka pun membayarnya dengan baik pula.

Sebenarnya ia memiliki musuh pribadi yaitu perusahaan penerbangan Jerman yang menjadi pesaingnya. Namun pesawat buatannya lebih populer bagi para pilot Jerman, sehingga ia bisa memenangkan persaingan. Ia merancang dan membuat dua pesawat tempur lainnya untuk angkatan udara Jerman, yaitu Fokker Triplane dan Fokker D.VII. Pesawat Triplane mampu terbang cepat dan bermanuver dengan mudah, yaitu melakukan belokan tajam; namun pesawat D.VII lebih baik lagi, dengan sejumlah keunggulan. Ini merupakan pesawat terbaik Jerman selama perang berlangsung. Selama Perang Dunia I 7600 buah pesawat Fokker diproduksi, dan 4000 buah diantaranya dibuat sendiri di pabrik Fokker, dimana ia mempekerjakan 6000 orang karyawan yang membuat pesawat, mesin, pesawat air, dan juga senapan mesin.

Karena semua orang tahu bahwa seluruh pabrik tersebut berada di Jerman, dan sebagian besar pekerjanya adalah orang Jerman, maka tak heran jika Fokker diminta untuk menjadi warganegara Jerman. Namun ia menolak. Ia diberitahu bahwa jika ia tidak menjadi warganegara Jerman maka ia tidak akan mendapat order lagi. Ia kembali menolak, dan mengatakan bahwa ia akan menjual pabriknya dan kembali ke Belanda. Namun ia tidak diijinkan untuk pergi. Ia telah mengetahui banyak hal tentang rahasia mesin perang Jerman sehingga tidak diijinkan pergi. Ia seperti dipenjara di alam bebas, bebas bergerak namun tidak boleh pergi ke luar Jerman. Ia pun lalu dipaksa untuk mengikuti wajib militer Jerman, yang berarti bahwa ia bisa dikirim ke medan pertempuran. Terhadap semua bujukan dan ancaman ini Fokker tetap berkeras hati. Dan karena ia sangat berharga bagi mereka, pemerintah Jerman harus mengalah dan menyadari bahwa ia adalah seseorang yang tidak bisa dipaksa. Demikian juga Sekutu.

Ketika perang berakhir industri pesawat terbang Jerman pun mengalami kemerosotan. Perjanjian Damai yang dibuat mengatur keberadaan pesawat dan semua mesin terbang lainnya. Fokker kemudian berencana untuk menggunakan kesempatan ini untuk menjalankan program komersial untuk semua pesawat yang telah dan sedang dibangun demi kelanjutan usahanya. Namun ia tidak mengetahui perjanjian perdamaian dengan Sekutu. Ketika tahu bahwa ia harus mengikuti kesepakatan yang telah dibuat ia sadar bahwa tinggal di Jerman akan sangat buruk baginya. Ia memutuskan untuk segera kembali ke Belanda dan membawa apa saja yag bisa dibawa sebelum disita oleh pasukan Sekutu. Ketika Komisi Sekutu datang ke pabriknya mereka memerintahkan untuk menyerahkan semua pesawat dan mesin yang telah jadi dan menghancurkan semua yang belum jadi. Namun Komisi tersebut tidak berhasil menemukan 200 pesawat dan 400 mesin yang disembunyikan oleh Fokker.

Fokker memutuskan untuk membawa seluruh aset ini ke Belanda. Ia menyuap sejumlah pejabat, mengelabui yang lainnya, dan mengambil resiko yang sangat besar, apabila Sekutu sampai mengetahuinya. Ia menyebarkan berita bohong tentang adanya penyelundupan di tempat tertentu. Pasukan Sekutu pun mengirimkan pejabat untuk menyelidiki. Mereka dikirim ke tempat yang disebutkan, namun ketika mereka mereka berada di sana kereta api Fokker pun mulai berangkat. Para pengawas disuap untuk membiarkan kereta lewat, dan di Jerman hal ini cukup mudah dilakukan, karena mereka tidak memiliki uang dan bagaimanapun orang-orang Jerman tidak ingin tunduk pada perintah Sekutu. Sebuah mesin Belanda dikirim ke Jerman untuk membawa kereta keluar perbatasan Jerman. Mereka melakukan perjalanan non-stop kecuali untuk mengganti mesin dan melewati pengawasan. Enam puluh gerbong dibawa meskipun yang diijinkan hanya empat puluh. Dengan cara yang sama, enam kereta api berangkat keluar Jerman di depan mata Sekutu. Dengan begitu Fokker berhasil membawa keluar 400 mesin dan 120 buah pesawat D.VII beserta ribuan suku cadang dan mesin-mesin lainnya menuju Belanda. Ini merupakan penyelundupan internasional besar-besaran.

Terjadi revolusi di Jerman sebelum gencatan senjata, dan ini berlanjut hingga setelah gencatan senjata. Berlin dituntut untuk membeli perusahaan. Para karyawan menuntut pembayaran, dan mengancam akan menembak bosnya apabila mereka tidak dibayar. Perusahaan pun beralih memproduksi kapal. Namun gagal. Kemudian beralih membuat timbangan. Namun gagal lagi. Dan Jerman pun akhirnya ditinggalkan.

Salah satu pesawat yang diselundupkan keluar Jerman adalah Fokker F.II, yang memiliki kabin tertutup untuk lima orang penumpang. Dengan mesin Rolls-Royce pesawat ini dinamai F.III. Pesawat ini merupakan pelopor pesawat komersial. Pesawat ini menggunakan sayap kayu yang tebal yang dipasang pada bagian atas badan pesawat. Badan pesawat dibuat dari baja ringan dengan kerangka yang disatukan dan ditutup dengan fiber. Konstruksi ini cukup murah. Selama beberapa tahun Departemen Penerbangan Inggris tidak mengijinkan perusahaan Inggris membuat konstruksi yang menyatu, karena akan sulit diperiksa jika terbakar dan akan melemahkan logam. Namun pesawat Fokker dibuat seperti ini dan dijual di luar negeri, serta terbang ke bandara London dengan membawa penumpang dari berbagai negara, termasuk Inggris. Dibutuhkan waktu lebih dari sepuluh tahun sebelum pesawat Avro (yang mendapat lisensi dari Fokker) diijinkan untuk menggunakan konstruksi ini.

Perusahaan penerbangan Belanda K.L.M. didirikan, dengan menggunakan pesawat Fokker. Perusahaan penerbangan Skandinavia pun menggunakannya. Air France juga menggunakannya. Demikian juga dengan perusahaan Polandia dan Swiss. Pesawat ini dipakai dan juga dibuat di Amerika Serikat. Dari model mesin tunggal mereka mengembangkannya hingga menggunakan tiga mesin dan kemudian empat mesin. Fokker kemudian pergi ke Amerika untuk mengembangkan pesawatnya di sana. Pesawatnya terbang ke Atlantik, hingga ke daerah Kutub, menyeberangi Samudera Pasifik dan Laut Tasman.

Fokker juga membuat pesawat militer setelah Perang Dunia I, dan menyediakan pesawat tempur dan pembom untuk Angkatan Udara Kerajaan Belanda dan negara lain. Pesawat dibuat di Belanda dengan menggunakan mesin buatan Amerika atau Inggris untuk memenuhi keinginan pelanggannya.

Akhirnya setelah sekian lama perusahaan pesawat Amerika mengambil alih pasar yang sebelumnya dikuasai oleh Fokker. Perusahaan pesawat Douglas mulai menggeser Fokker ketika mesin baru mereka dibuat. Fokker mungkin telah mencapai puncak konstruksi mereka dengan pesawat F.32, yang membawa 32 orang penumpang, dan menjadi pesawat terbesar di Amerika saat itu. Perusahaan pesawat Fokker masih ada di Amsterdam sampai saat ini, namun tidak lagi menguasai dunia penerbangan seperti ketika Anthony Fokker mengelolanya. Perusahaan ini membuat pesawat dengan lisensi dari Inggris dan Swedia, dan sebagai sub kontraktor dari desain pesawat N.A.T.O. Perusahaan ini memang membuat pesawat dengan desainnya sendiri untuk pesawat latih dan sebagian lainnya untuk perusahaan penerbangan menengah. Tampaknya sulit sekali bagi sebuah negara kecil untuk bersaing dengan negara besar dalam pengembangan pesawat sipil dan militer. Dapat disimpulkan bahwa saat Anthony Fokker memutuskan untuk pensiun dan tinggal di Swiss ia telah mengetahui masa depan usahanya dan meninggalkan reputasi terbaiknya di dunia penerbangan. Ia telah tiada sekarang, namun namanya tetap hidup dalam sejarah sepanjang legenda para pionir penerbangan masih dikenang. Dan hingga saat ini perusahaan Fokker di Amsterdam tetap mempertahankan tradisi besar dari pendirinya.