Beranda » Novel - Elang » Serpihan Kedua – “Sebuah Mantra Kemiskinan”

Serpihan Kedua – “Sebuah Mantra Kemiskinan”

“You Can Help  Other People With Your Gesture”

Aku tahu banyak kelemahan dalam diriku, tapi kelemahan itulah yang membuatku yakin bahwa cerita hidupku kelak jauh lebih besar dibandingkan orang-orang yang kini lebih sempurna di sekitarku.   Begitulah kira-kira keyakinan Ngalintir untuk mengalahkan tantangan yang menggunung-gunung  sepanjang hidupnya.

Ngalintir kecil tidaklah ceko seperti sekarang, karena ia adalah anak  yang lincah dan pemberani, walaupun miskin.   Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya pada musim penghujan, maka air sungai pun meluber di mana-mana, bahkan di pojok-pojok perkampungan berjamuran kubangan air yang kemudian menjadi arena bermain bagi anak-anak dusun.    Inilah tipping point bagi Ngalintir, bagi anaknya dan menjalar pada jejak langkah seekor Elang pada masa yang berbeda.   Tatkala suatu Senin sore – hari dimana Baginda Rosululloh dilahirkan, wahyu kenabian diturunkan  –   hujan mengguyur bagai gurita raksasa dan petir menyambar membelah angkasa, menyaksikan Ngalintir, Noto dan beberapa anak  berlari-lari kecil menyusuri pinggiran sawah untuk mencari kubangan air.    Seharusnya mereka telah berkecipak kubangan di tengah sawah, namun langkah anak-anak dusun Nggagan itu terhenti di dekat rerimbunan bambu, saat lamat-lamat melihat sebuah kubangan yang berbeda.  
“Horeeee… ono bendung anyar… ono bendung anyar… “
Maka berlarianlah bocah-bocah dusun itu menuju arah kubangan yang baru terbentuk di pinggir sawah.   Bersalip-salipan dan berlomba menjadi yang terdepan, penuh prestise dan egoisme manusia puritan.   Keberanian dan kenekatan yang menurun pada Bendung – super heroku – adalah salah-satu sifat yang menurun dari sang ayah, Ngalintir.   Sebagaimana pada hari itu, ketika semua anak menghentikan langkahnya di tepi kubangan,  Ngalintir  yang merasa bukan orang pertama yang sampai di tepi kubangan, menerobos tanpa ba-bi-bu, membuncahkan magma keberanian dalam jiwanya, untuk terus menghela laju larinya…  lalu meloncat tinggi di atas kubangan air sambil berteriak,
“Auwllooooooohu  Akk…….!!!!”
Sejurus kemudian,
“….krossssaaakkkk…… Auwwhh!!!”  
Ngalintir  tak mampu lagi melanjutkan takbirnya.   Langit, petir, hujan, angin, kelu terpana.  Ngalintir  menggelepar sesaat dan kini teronggok diam di tengah kubangan, dengan menyemburat darah.    Kubangan berwarna coklat muda yang  kebanyakan sebelumnya adalah sahabat, hari itu menipu.   Ia tidak  lagi dalam, tak lagi bersahabat, bahkan menjadi malapetaka.   Air itu memerah-darah di tempat Ngalintir menghunjam.   Ternyata kubangan air itu dipenuhi timbunan carang, potongan ranting dan pohon bambu, yang hanya beberapa senti tak terlihat di bawah permukaan air.     Langit, petir, hujan, angin, kelu terpana, lalu pelan-pelan beringsut dalam persembunyian, hening  segala.   Berikutnya….
 “Tuuuuluuuuuung…   tuuuuluuuuuung… tuuuuluuuuuung…” bersahut-sahutan.

Semua anak yang tersisa di tepi kubangan berlari sambil berteriak-teriak, menuju kampung, kecuali Noto yang mematung, terduduk dan menangis.
Menurut Bapak, itulah momen paling menggiriskan sepanjang hidupnya.    Anehnya, ia tiba-tiba mendapatkan kekuatan untuk  sendiri, duduk menangis di pinggir kubangan, memandangi tubuh Ngalintir yang koyak mengerikan.
“Auwllooooooohu  Akbar…  Auwllooooooohu  Akbar Ya Alloh… Auwllooooooohu  Akbar…”
Bapak melanjutkan takbir Ngalintir yang terhenti,  dengan kalimat yang sempurna, tidak  membahana,  menyayat hati.

Mantra kemiskinan pertama.
Beberapa saat kemudian, warga dusun pun berdatangan, berikutnya satu per satu masuk ke kubangan untuk mengangkat  sekujur tubuh yang telah bersimbah darah.   Seandainya Ngalintir terlahir sebagai anak orang kaya, ia pasti tidak seperti sekarang.    Ia akan dimasukkan di ICU, untuk dibersihkan dan dirawat oleh tim medis, mulai dari spesialis anastesi, bedah tulang, bedah plastik, bedah mulut, rawat medik dan seterusnya.     Ngalintir pun akan mencicipi gas mahal bernama O₂ murni yang dibekapkan dimulutnya, sementara puluhan suster hilir mudik menyiapkan standar penanganan untuk pasien comma.    Tapi inilah dahsyatnya mantra kemiskinan bagi  keluarga Ngalintir.   Mbok Sukiyem, janda miskin yang ikhlas nasuha, rela merawat anaknya yang sekarat, dengan hanya membiarkannya telentang di atas dipan bambu.   Tidak ada ICU, tidak ada tabung oksigen apalagi tim dokter.   Tidak ada pula para kerabat yang terketuk menelponkan ambulans ataupun aparat kesehatan, yang jelas-jelas tidak akan berpihak kepada janda miskin, keluarga miskin, kampung miskin, seperti Mbok Sukiyem, para pengerumun dan segala sesuatu di sekitarnya.   Tapi Mbok Sukiyem tegar segera melepas baju Ngalintir dan menyobek-nyobeknya untuk dijadikan  perban.   Hanya itu kawan….. hanya itu yang dapat dilakukan, lalu mengambil air wudhu, bersujud dan menangis kepada-Nya.

Mantra kemiskinan berikutnya.
Tak lama kemudian,  dari balik kerumunan warga dusun muncul  seseorang.   Ia adalah lelaki separoh baya berpakaian serba hitam, berjenggot dan memperkenalkan diri bukan sebagai malaikat, tapi memiliki mantra.    Tubuh yang terkoyak diobati dengan ramuan-ramuan oleh Mbah Senin.    Yah, itulah yang diingat Bapak.   Mbah Senin namanya, sesuai dengan hari bersejarah di kubangan maut itu.   Mbah Senin adalah seorang dukun dari Plaosan, lereng Gunung Lawu, yang kebetulan sedang bertandang ke dusun Nggagan.   Sehingga saat warga dusun menggerombol di depan rumah Ngalintir, ia tersedot untuk berjalan ke sana.    Kini tangan dan kaki Ngalintir yang patah, ditarik, dipuntir sedikit, lalu dijepit dengan pelepah pisang.   Luka-luka yang banyak menganga ditaburi bubuk tak bernama.   Semuanya diam, tidak ada yang protes, tidak ada yang takut terkena malapraktek, termasuk Mbok Sukiyem.   Mantra kemiskinan berkata, “Itulah tindakan termulia, ikhlas, paling  terjangkau harganya, untuk membantu Ngalintir. “   Bahkan, jika tiba-tiba ada seorang dokter berkaca-mata datang, lalu menyarankan tindakan medis yang tidak ada akhiran kata “gratis”nya, sudah pasti akan babak-bundas dihajar kerumunan massa.    Lalu mantra kemiskinan berkata lagi dan mengusir,  “Dok, jangan main-main kamu dengan orang miskin.  Kami tidak membutuhkan kepintaran dan kehebatan yang membelenggu nuranimu, menyekat semangat silaturahim-mu.    Anak yang sekarat ini akan sembuh tanpamu.” Lalu insyaallah ada suara, “Plak-plak….gedebak-gedebuk…” dan sang dokter pun lebam terbirit.

Mantra kemiskinan berikutnya.
Selama anaknya mengalami comma, Sukiyem memang melihat hal-hal yang aneh terjadi di rumahnya.    Hampir setiap hari, ia melihat ulo dumung, sering mencoba mendekati Ngalintir yang belum sadarkan diri.   Ular itu tidak menggigit, tapi hanya mendongak, seakan ingin mengecek kondisi kesehatan Ngalintir, lalu menghilang entah ke mana.    Tujuh hari tujuh malam menuju siuman, hanya Mbok Sukiyem dan alam semesta yang merawat Ngalintir.   Mbah Senin pun tidak pernah datang lagi dan Mbok Sukiyem pun tidak pernah bermimpi untuk mengundangnya kembali.   Ternyata tidak hanya para dokter, bahkan para dukun pun sudah merupiahisasi mantra dan bubuk langitnya.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan sesungguhnya segala sesuatu yang berasal dari Tuhan maka kepada Tuhan pula kembalinya.   Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” 
    
Mantra kemiskinan berikutnya.
Walaupun tidak sepenuhnya bersalah, Bapak sangat terpukul dengan peristiwa itu.   Apalagi tidak ada yang bisa diberikan kepada keluarga Ngalintir, kecuali sekarung gabah yang disumbangkan Mbah Paniyem.   Bapak tidak mau keluar rumah sampai berhari-hari.  Ia pun tidak berani ke rumah Ngalintir.    Hingga suatu hari, Mbok Sukiyem secara tidak sengaja mampir menemui Bapak.    Saat bertemu pandang di halaman rumah, Bapak sempat berlari terbirit-birit menuju sentong.   Lalu keluar menemui Mbok Sukiyem setelah dituturi Mbah Paniyem.
“Nak Noto, lha wong Gusti Alloh memang sudah menggariskan nasibnya Ngalintir harus seperti itu.   Tidak ada yang bisa mencegah dan tidak ada sebab selain dari kehendak-Nya.    Jadi Lillah-Billah Nak Noto,  tidak usah takut, tidak usah merasa bersalah atau khawatir.    Simbok  tidak apa-apa, justru Simbok menganggap ini sebagai karunia, karena Allah masih memberikan perhatian kepada Simbok, agar Simbok lebih sabar dan menjaga shalat……” demikian bergumpal-gumpal mantra kemiskinan Mbok Sukiyem dihunjamkan ke jantung Bapak.  Sosok wanita tangguh,  yang  ikhlas menerima apapun yang Tuhan takdirkan kepada anak semata wayangnya.   
Butuh waktu dua bulan, hingga Bapak akhirnya berani menengok Ngalintir.   Ngalintir  yang kaki-tangannya masih terbekap pelepah pisang, borok luka dimana-mana, kurus-kering, bisa memaksa diri ceria, menerima  kedatangan Bapak  dan tidak  sekalipun menyalahkan teman-temannya dari peristiwa yang menimpa dirinya.

Mantra kemiskinan berikutnya.
“To, tak ceritakan sesuatu sing nyolowadi …”  Ngalintir berbicara kepada Bapak di siang yang sepi itu.   Ternyata, saat mengalami comma,  Ngalintir melihat rekonstruksi penyelamatan dirinya dari kubangan secara utuh.     Yang aneh, selain melihat Bapak yang menangis, Ngalintir melihat priyayi agung berpakaian serba putih diselimuti cahaya, berada di dekat Bapak, memandang Ngalintir dengan kelembutan matanya.    Bahkan pada saat Ngalintir telentang di tengah kubangan, saat belum satu orang pun datang menolong, priyayi agung itu mengusap tubuhnya dengan kilauan cahaya.   Lalu Ngalintir berdiri tegak dalam kondisi segar-bugar, lalu melesat beriring-iringan menembus langit, melewati lorong besar yang berselimut gumpalan awan putih, dengan kecepatan yang luar biasa.   Perjalanan Ngalintir di terowongan langit  terhenti, saat tiba-tiba mendengar suara Bapak yang bertakbir di pinggir kubangan.  Priyayi agung itu, menurut Ngalintir, berhenti dan menoleh kepada Ngalintir, “Kamu mau ikut saya terus atau kembali bersama temanmu itu?”  Inilah makna yang ditangkap Ngalintir dari wajah sang priyayi agung.   Tanpa menunggu jawaban, sang priyayi yang  memahami keinginan Ngalintir, melepas tangan Ngalintir dan menghilang dalam satu kedipan mata.  Lalu Ngalintir pun siuman, setelah comma tujuh hari yang menderanya, masih terkapar dengan kaki-tangan patah dan banyak luka yang merobek  tubuhnya.

Mantra kemiskinan berikutnya.
Setelah berbulan-bulan tergolek, Ngalintir pun sembuh.  Tapi tidak segar-bugar seperti saat ditolong priyayi agung dalam mimpinya.    Urat syaraf tertarik dan kulit yang menyingkap di batas leher dan kepala, membuat kepala Ngalintir tidak bisa ditegakkan melainkan selalu menengok ke kiri-bawah.   Sedangkan penyambungan tulang yang mengandalkan pelepah pisang, menyebabkan kaki dan tangan kiri Ngalintir menjadi ceko.      Ternampak hal buruk dan menyakitkan bahkan ditipu mentah-mentah sekalipun,  bagi Ngalintir dan Simboknya adalah jalan penghambaan kepada takdir-Nya.   Begitupun saat semua luka menutup dan Ngalintir dapat berjalan ke luar rumah dengan gerakan yang selalu terhuyung-huyung, getar dan berkaki-tangan ceko. Ia tetap riang tak mengenal rasa malu, rendah diri atau sakit hati.   Semangat hidupnya tetap segar-bugar seperti sebelumnya, walaupun tidak bagi tubuhnya.

Mantra kemiskinan berikutnya.
Beberapa tahun kemudian, setelah sembuhnya Ngalintir dari peristiwa berdarah di kubangan, Mbok Sukiyem terkena tubercolusis akut dan meninggal.   Ngalintir kemudian diambil anak angkat oleh Mbah  Paniyem dan ini berarti ia menjadi saudara angkat Bapak.    Kehadiran Ngalintir di tengah keluarga Bapak, bukannya membebani, justru memberikan gairah baru bagi keluarga.    Seorang anak yang cacat dan hampir kehilangan seluruh masa depannya, namun memiliki ketegaran melebihi manusia yang  bertubuh sempurna.   Inilah yang membuat  Mbah Paniyem sekeluarga menyayangi Ngalintir sepenuhnya.   Mbah Paniyem pula yang menikahkan Ngalintir dengan Sri Mujiyatun, gadis pujaan hatinya, hanya sebulan setelah Bapak mengikat janji dengan Ibuku, Siti Maryamah.   Mbah Paniyem juga membangunkan rumah gedhek dan memberikan sepetak kebun untuk bekal Ngalintir.   Posisinya persis di depan rumahnya.

Beberapa hari setelah kelahiranku sak nglebete wulan poso tahun jawi kaping sewu sangang atus gangsal, lahirlah Bendung, sebuah nama yang didapatkan untuk menandai kisah kehidupan sang ayah dan air kubangan atau air terbendung, yang dalam bahasa Jawa disebut “Bendung”.   Sudah menjadi suratan-Nya, aku lahir  sore hari dinten kaping pitulas utawi saged diarani dinten Nuzulul Qur’an, dan Bendung lahir empat hari kemudin, pada sore hari dinten kaping selikur utawi dinten nepaki mandapipun Lailatul Qodar.
Kepulangan Bapak  ke dusun Nggagan, yang berhubungan dengan kondisi kesehatan Ibu yang terus memburuk, semakin merekatkan hubunganku dengan Bendung.    Karena rumah keluarga Bendung masih tinggal berhadap-hadapan dengan rumah Mbah Paniyem.
“Le, nanti kamu nek sekolah satu kelas dengan Bendung.  Kamu harus baik padanya.  Jangan pernah sekalipun kamu menyakitinya atau mengolok-ngolok keluarganya.   Jadikan Bendung sebagai saudaramu dan sahabatmu.   Bapak berhutang budi-pekerti kepada Bapaknya,” pesan Bapak kepadaku.     Awalnya aku tidak benar-benar mengingat pesan Bapak, karena aku sendiri tidak memahami hutang budi-pekerti apa yang telah diberikan Ngalintir kepada Bapak.   Namun setelah mengetahui kisah di bendung, ditambah aksi heroik Bendung di sawah, aku menjadi sangat menghormati keluarga Bendung.   Paklik Ngalintir, begitulah aku memanggilnya.  

Mantra kemiskinan berikutnya.
Sebenarnya Bendung  telah kewahyon, karena terlahir dari orangtua yang memiliki ketabahan yang luar biasa.   Ngalintir bukan lelaki cacat sembarangan.   Hercules memang kuat luar biasa, tapi aku tidak mengidolakannya karena ia tidak cacat seperti Paklik Ngalintir.  Sementara Paklik Ngalintir  kuat luar biasa karena berhasil mengalahkan cacat fisik yang dideritanya, menjadi orang-tua normal, bahkan mendidik anak yang – walaupun ngantukan – namun berhati mulia.    Paklik Ngalintir  tidak perlu berbuat sesuatu yang lebih dahsyat dari apa yang telah dijalaninya.     Semangat hidupnya telah menjadikannya juara dunia, mengalahkan siapapun yang secara fisik jauh lebih sempurna.    Paklik Ngalintir adalah pahlawan bagi mereka yang merasa tersisih, hina, miskin atau menderita.   Gerak tubuh yang  terhuyung-huyung, selalu getar, kaki-tangan ceko, terbalut senyum yang selalu mengembang adalah mutiara terindah tiada tara.   

Mantra kemiskinan yang paling berikutnya.
Semenjak menjadi tentara dan tinggal jauh dari dusun Nggagan, Bapak masih selalu membantu kehidupan Ngalintir.    Apalagi Ngalintir-lah yang  meneruskan merawat Mbah Paniyem.     Kebiasaan ini diikuti Ibu yang begitu sayang kepada keluarga Ngalintir, juga Bendung.   Setiap lebaran, Ibu selalu membuatkan sepasang baju kembar untuk kami berdua.   Inilah kawan, pangkal persoalannya mengapa Bendung menangis meraung-raung, menubrukku sampai pingsan, saat Ibu meninggal.   Ia pasti takut  tak ada lagi orang yang membuatkan baju kembar pada perayaan lebaran berikutnya.

%d blogger menyukai ini: