Beranda » Kedirgantaraan » Burung dan Pesawat Terbang

Burung dan Pesawat Terbang

Burung telah menciptakan sejarah istimewa dalam dunia penerbangan, atau dapat dikatakan sebagai musuh abadi.  Saat pesawat bermesin pertama Flyer mengudara, burung seperti tidak ingin kalah untuk membuat berita.  Wright bersaudara mencatat dalam jurnal uji-coba penerbangan tanggal 7 September 1905, “Orville… terbang 4.751 meter dalam waktu 4 menit dan 45 detik, empat keliling penuh.   Dua kali melewati pagar memasuki pertanian jagung yang rimbun.   Sekawanan burung tertabrak dan mati satu, terjatuh di atas sayap, beberapa saat kemudian terjatuh saat pesawat membuat belokan tajam…”   Ini adalah tabrakan pesawat dan burung pertama yang tercatat dalam sejarah. Tak menunggu lama, sekawanan burung menelan korban manusia pertama, yaitu Calbraith Rodgers, tanggal 3 April 1912.   Penerbang ini baru saja mengukir sejarah sebagai orang pertama yang berhasil terbang melintasi daratan AS, namun nyawanya tak terselamatkan saat burung bangau menghantam sistem-kendali pesawat Flyer yang diawakinya, di Long Beach, California.  
Sejak peristiwa Calbraith Rodgers hingga tahun 2008, penerbangan sipil telah mencatat 52 kecelakaan fatal yang mengakibatkan 259 korban jiwa dan 102 pesawat hancur.  Kecelakaan yang menimpa maskapai penerbangan dan pesawat jet eksekutif terjadi 15 kali, menghancurkan 41 pesawat dan menelan 188 korban jiwa.  Kecelakaan yang menimpa pesawat dengan berat di bawah 5,7 ton terjadi 31 kali, menghancurkan 53 pesawat dan menelan 61 korban jiwa. Kecelakaan helikopter terjadi 6 kali, menghancurkan 8 helikopter dan menelan korban 10 jiwa.   Dalam kurun waktu 1990-hingga kini dicatat 82 ribu peristiwa tabrakan burung dan pesawat dari 1600 bandara, sebagian besar terjadi pada fase take off dan landing.
Pesawat-pesawat militer pun tidak luput dari sergapan pasukan burung, karena sejak tahun 1950 telah terjadi 286 kecelakaan di 32 negara, dimana 63 di antaranya merupakan kecelakaan fatal dan menelan 141 korban jiwa.   Dekade 90-an merupakan tahun paling berat karena terjadi 68 kecelakaan, kerugian yang dialami lebih besar dibandingkan kerugian pesawat dalam Perang Teluk.  Dalam penerbangan militer, kasus terbanyak terjadi pada penerbangan pesawat jet tempur atau jet serang bermesin satu (179 kecelakaan), jet tempur atau serang bermesin dua (40 lebih), jet latih (34 lebih) dan 7 pesawat angkut bermesin empat.   Potensi untuk mengalami tabrakan dengan burung dalam misi-misi militer ternyata lebih besar dibandingkan dengan pada pelaksanaan penerbangan sipil karena seringkali pesawat dan helikopter tempur terbang dalam ketinggian rendah, dimana kawanan burung banyak melaksanakan aktivitasnya. 
Pada saat tabrakan terjadi, benturan burung sebenarnya tidak menghancurkan semua bagian pesawat.   Namun demikian, kecelakaan fatal sering terjadi akibat masuknya burung ke dalam lubang mesin (engine intake).   Walaupun pabrik mesin pesawat sudah punya simulator khusus untuk menguji kemampuan mesin pesawat terhadap masuknya burung atau binatang lain, namun dalam beberapa kasus dimana jumlah burung lebih bayak maka mesin pun tetap saja rontok dan mengalami kegagalan fungsi.   Pesawat bermesin lebih dari satu juga lebih aman dalam menghadapi tabrakan dengan burung, karena masih ada kemungkinan mesin lain yang hidup pada saat satu mesin dimasuki burung.   Namun sebagaimana kasus di Sungai Hudson atau kasus-kasus sebelumnya, kawanan burung di Amerika atau Eropa yang sering melaksanakan migrasi dan hidup dalam kelompok besar, akan mampu merontokkan berapapun jumlah mesin terbaik yang terpasang di pesawat.
Berdasarkan hasil uji yang diselenggarakan di simulator, Federal Aviation Administration (FAA) telah menetapkan tabrakan burung dan pesawat menjadi 6 kategori.  Kecelakaan kategori 1-4 dapat menyebabkan kecelakaan fatal, sedangkan kategori 5-6 hanya akan menyebabkan potensi kerugian minor.   Berdasarkan hasil uji itu, burung yang beratnya melebihi 1,8 kg akan berpotensi menyebabkan mati mesin (kategori 1-3), berat 1-1,8 kg akan menyebabkan gangguan mesin fatal, dan berat di bawah 1 kg menyebabkan kerusakan minor. Namun demikian hitungan ini bukan rumus yang sempurna, karena faktor-faktor lain seperti jumlah burung, jenis spesies serta kondisi pesawat ikut mempengaruhi dampak tabrakan burung dan pesawat.   Burung seberat 0,5 kg pun dapat membuat dua mesin Airbus berukuran “jumbo” langsung mati bila sedang terbang dalam kelompok besar.
Ancaman serangan burung pun terjadi pada dunia penerbangan dalam negeri, baik operator penerbangan sipil maupun TNI.   Bandara Soekarno-Hatta dan Juanda hingga kini sering dipusingkan urusan usir-mengusir burung “kuntul” dari area landasan.  Pesawat Batavia Air menabrak sekelompok burung elang di Bandara El Tari Kupang (2006), kaca kokpit Boeing 737 seri 200 Merpati Nusantara Airlines retak bagian depan sebelah kiri akibat menabrak burung saat dalam perjalanan Denpasar-Kupang (2007), Boeing 737-200 Garuda nomor penerbangan GA 232 nyaris celaka saat menabrak burung menjelang pendaratan di Bandara A.Yani (2008), Boeing 737-200 Sriwijaya Air nomor penerbangan 593 mengalami kebakaran pada sayap kiri pesawat  saat mengudara, karena seekor burung tersesat dalam mesin (2008).  Para penerbang tempur TNI AU pun seringkali berjibaku dengan manuver burung saat melaksanakan misi terbang rendah dan latihan pendaratan.   Bersyukur di negeri kita tidak banyak migrasi burung, kelompok burung, atau ukuran burung besar, sebagaimana di negara-negara lain.    Namun burung tetaplah musuh abadi di udara.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: