Beranda » Sejarah Militer » Gugurnya Netanyahu di Entebbe

Gugurnya Netanyahu di Entebbe

“Kisah Pembajakan Paling Dramatis” dalam serbuan pasukan elite Israel untuk membebaskan 257 penumpang Air France yang disandera di Bandara Entebbe, Uganda, telah menjadi kisah populer hingga saat ini.  Keterlibatan organisasi teroris internasional, Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP), dan Presiden Uganda Idi Amin, membuat drama ini bertambah seru.  Entebbe berada di sebuah negara yang mendukung pembajakan  dan berjarak 3700 km dari Israel.  Bagaimana pemerintah Israel membebaskan warga negaranya?  Simaklah kisahnya berikut ini.

Lebih dari seratus warga Israel yang ikut dalam penerbangan no. 139 tanggal 27 Juni 1976, sedang menikmati penerbangan indah dari Tel Aviv menuju Athena, dilanjutkan ke Paris.   Tak satupun menyangka, diantara mereka ada tiga pria dan satu wanita bersenjata telah siap mengalihkan arah liburan mereka.

“Kami orang Palestina, jika kamu duduk tenang dan mengerjakan apa yang saya perintahkan, tak seorangpun akan disakiti. Namaku Ahmed el Kubesi, anggota komando Che Guevara Jalur Gaza, satu unit dibawah PFLP”  tiba-tiba intercom berbunyi, saat pesawat jenis Airbus itu baru saja mengudara dari bandara Athena, persinggahan pertamanya setelah Tel Aviv.   Ternyata satu dari  pembajak sudah  berdiri di belakang cockpit dengan pistol  menempel di kepala kapten pilot. Pesawat tidak lagi mengarah ke Paris, namun menuju bandara Benghazi, Libya.  Di Benghazi, pesawat mengadakan pengisian bahan bakar dan menurunkan satu penumpang yang sedang hamil.  Sembilan jam kemudian, pesawat terbang kembali melewati Mesir, Sudan, lalu mendarat di bandara Entebbe, Uganda.   Drama besar baru saja dimulai.

Siapa Pembajak Itu?

Perdana menteri Yitzhak Rabin, juga menteri pertahanan Shimon Peres pun dibuat ketakutan dengan ancaman para pembajak yang menuntut dibebaskannya 53 pejuang Palestina yang ditawan Israel.   Sedangkan di Entebbe, sekian ratus warga Yahudi Israel sedang menunggu proses eksekusi.  Semuanya serba dilematis.   Menolak berarti membiarkan warganya mati di tangan teroris.   Mengabulkan tuntutan, nantinya akan terjadi ratusan bahkan ribuan kasus pembajakan seperti di Entebbe.  Pemerintah Israel hanya punya waktu 4 hari untuk membuat keputusan tepat atau membiarkan warganya dibantai.  Mereka yakin bahwa organisasi teroris internasional berada dibelakang drama tersebut.  Namun siapa sebenarnya mereka dan bagaimana mengawali aksinya ?

Aksi yang dirancang dengan sangat rapi itu dimulai pada dini hari Minggu, 27 Juni 1976, saat tiga pria dan satu wanita bertemu di sebuah apartemen di Kuwait City.  Pemimpin grup pembajak itu adalah seorang pengacara muda berkebangsaan Jerman, 28 tahun, jenius sekaligus teroris berbahaya, bernama Wilfred Boese. Orang ini sangat dekat hubungannya dengan teroris paling top saat itu, Carlos “The Jackal” Ramirez.  Carlos juga yang menghubungkan Boese dengan PFLP pada tahun 1974.      Anggota grup pembajak itu adalah dua orang Palestina yang tinggal di Kuwait dan seorang gadis Jerman berusia 24 tahun, Gabrielle Kroecher Tiedemann.  Gadis ini telah bergabung dengan teroris sejak masih belia.  Maka tak ayal bila ia tumbuh menjadi wanita yang kejam dan berbahaya.  Dalam tahun 1976, Tiedemann mulai bergabung dengan PFLP dengan nama sandi Kalimiri.  Keempat orang inilah nantinya yang menjadi pelaksana aksi pembajakan Air France nomor penerbangan 139 dengan rute Tel Aviv-Athena-Paris.  Latihan keras telah mereka laksanakan selama 2 bulan, dan hari itu adalah hari pembuktian.

Dari apartemen itu, mereka meluncur ke bandara dan terbang ke Athena. Dengan tiket kelas VIP yang sudah ada di tangan, Boese-Tiedemann yang telah tersembunyi dibalik wig barunya duduk-duduk di ruang tunggu internasional bandara Athena seperti penumpang lainnya, untuk menunggu kadatangan pesawat nomor penerbangan 139 dari Tel Aviv.   Sedangkan kedua orang Palestina yang masing-masing telah membawa satu kaleng berisi dua pistol otomatis Czech 7.65 mm dan dua granat, masuk lewat ruang transfer penumpang agar terhindar dari pengecekan.   Yakin bahwa kedua orang Palestina sudah ada di dalam, Boese dan Tiedemann pun menyusul.  Nah, didalam toilet ruang tranfer penumpang itulah, Boese menerima satu pistol dan Tiedemann menerima   satu pistol dan dua granat.  Kedua orang Palestina masih dengan satu kaleng berisi senjata yang tersisa.    Dengan taktik jitu, loloslah mereka ke dalam pesawat yang mereka incar.

Dukungan Idi Amin

Setelah terbang sekian jam, akhirnya pesawat mendarat di bandara Entebbe, Uganda.  Para penumpang yang masih harap-harap cemas, akhirnya agak sedikit lega melihat pintu pesawat telah terbuka dan mereka dipersilakan untuk keluar.   Barisan pasukan Uganda yang berjaga-jaga dengan senjata otomatis juga membuat kepanikan mereka sedikit reda.   Sehingga para penumpang berjalan dengan teratur menuju sebuah gedung tua yang berada di bandara Entebbe.  

Namun betapa terkejutnya 257 penumpang tersebut saat melihat Boese dan grupnya keluar dari pesawat dengan tawa dan sorak gembira para prajurit Uganda.   Ternyata keberadaan prajurit itu bukan untuk membebaskan mereka.  Para prajurit itu justru sedang mendukung gerakan Boese.  Dan semakin aneh lagi saat para penumpang sudah sampai di dalam gedung tua, karena senjata-senjata otomatis para prajurit  Uganda  itu  justru  sedang  mengarah pada para penumpang.  Mereka ternyata masih menjadi sandera, bahkan oleh kekuatan yang lebih hebat.

Beberapa saat kemudian sebuah helikopter mendarat.   Seorang pria separoh baya berjalan keluar diikuti seorang bocah kecil berusia 4 tahun.    Semua pasukan memberi penghormatan kebesaran kepada pria yang kemudian berjalan menuju ruangan sandera itu.   Dengan pengawalan ketat, pria itu berkata dihadapan semua penumpang, “Kalian pasti tidak tahu nama saya.  Tapi saya yakin kalian pernah mengenal dan mendengar nama saya.  Saya adalah Marsekal Dr. Idi Amin, Presiden Republik Uganda.” Lalu ia memeluk semua penumpang dengan hangat,  “Kalian tidak perlu khawatir.   Saya akan memperlakukan kalian seperti seorang ayah.  Saya akan melihat kalian dibebaskan dan saya adalah orang baik-baik.”

Sampai hari Selasa, semangat para sandera semakin menurun, walaupun Presiden Idi Amin sudah menjenguknya 2 kali dan memberi harapan baik.  Para sandera semakin khawatir dengan nasibnya saat mereka mulai melihat banyak gerilyawan Palestina berkeliaran dengan bebas di sekitar mereka bersama prajurit Uganda.  Diluar pengetahuan para sandera, para tokoh kunci dibelakang drama pembajakan itu memang sudah berada di Entebbe.   Mereka adalah Antonio Degas Bouvier, Haj Feiz Gaber, dan Idi Amin sendiri.  Sama seperti Boese, Bouvier adalah orang dekat Carlos “The Jackal”.   Bouvier ikut terlibat dalam operasi penculikan di olimpiade Munich dan pembunuhan kepala hipermarket Mark & Spencer yang Yahudi, Edward Sieff.   Sedangkan Gabier adalah salah satu tokoh berdirinya organisasi radikal PFLP.   Operasi pembajakan ini dikendalikan dari Somalia oleh pimpinan PFLP, Dr Wahddie Haddad.

 Mulai hari Rabu, 47 sandera yang disusul dengan 101 sandera lainnya diterbangkan Paris atas keputusan para pembajak, menyambut sambutan positif pemerintah  Israel  yang  memberi  harapan untuk melepaskan beberapa tawanan.   Para pembajak ternyata mau mengundurkan batas akhir tuntutan mereka sampai Minggu malam.  Namun betapa terkejutnya Israel melihat kenyataan yang ada di Paris.   Ternyata semua sandera yang dibebaskan oleh pembajak, tak satupun yang warga Yahudi Israel.  

Maka meledaklah amarah para petinggi Israel.   Operasi militer akan segera dimulai, karena mereka sudah pasti tidak akan mengabulkan tuntutan para pembajak.

Serbuan Udara Dimulai

 Untungnya ada Panglima AU Israel, Marsekal Beni Peled.  Sejak hari Rabu, Peled  membeberkan rencana penyerbuannya ke Entebbe bila sewaktu-waktu dibutuhkan.  Menurutnya, Entebbe hanya bisa bisa ditundukkan dengan serangan kilat.   Sehingga serbuan udara menjadi pilihan utama.    Mereka akan menyusupkan pasukan ke Entebbe, mengambil para sandera, dan menerbangkannya ke Nairobi.   Setelah mengisi bahan bakar, pesawat akan terbang pulang ke Israel.

Dalam waktu singkat, Israel telah mengumpulkan pasukan elitnya di bawah komando Brigjen Dan Shomron.  Sedangkan sebagai komandan pelaksana adalah Letkol Yonatan Netanyahu, yang akrab dipanggil Yoni.   Yoni dan 180 anak buahnya hanya sempat berlatih sehari saja di gurun Sinai.   Kebodohan yang pernah dibuat Idi Amin adalah menyuruh orang Israel untuk membangun bandara Entebbe dan ia cepat melupakannya.   Sedangkan kebodohan pembajak adalah melepaskan beberapa sanderanya.   Orang-orang itulah yang memberi keterangan lengkap tentang bandara Entebbe, termasuk dimana tempat tangki minyak, radar, posisi pasukan/pembajak, pesawat tempur dan saluran komunikasi.   Pada hari Sabtu malam, tujuh hari setelah pembajakaan berlangsung, Operasi Entebbe pun dimulai.

Pada malam itu, tiga buah C-130 terlihat menyusuri Laut Merah pada ketinggian rendah dan dalam formasi dekat, sementara 20 km diatasnya rombongan pesawat tempur F-4 Phantom mengawalnya dengan penuh kecermatan.  Phantom hanya mengawal sampai di perbatasan dan kembali karena daya jelajahnya tidak mampu untuk mencapai Entebbe. 

Pada saat yang sama juga telah terbang dua pesawat Boeing 707 yang disamarkan menjadi penerbangan komersial ke Nairobi LY 167.   Kedua pesawat tersebut terbang dalam formasi dekat pada ketinggian 10 km, sehingga radar Mesir, Saudi Arabia, dan Ethiopia hanya mendeteksi satu pesawat yang melintas di area mereka.  Pada kenyataannya ada dua pesawat berbadan lebar yang melintas.   Pesawat pertama adalah LY 167 yang berisi rumah sakit terbang Israel yang akan mendarat di Nairobi.  Pesawat kedua adalah pesawat beregistrasi militer 4XBY8 dengan nama sandi LY 169, yang akan berfungsi sebagai pos komando operasi Entebbe dan akan melindungi ketiga Hercules saat pesawat Phantom kembali ke pangkalannya.   Didalam LY 169 ada Marsekal Peled dan wakil panglima AB Jendral Yekuti Adam mengawasi situasi ketiga Hercules yang sedang menyusuri lembah-lembah di perbatasan Ethiopia dan Kenya.  Mereka saling berkomunikasi pada suatu frekuensi radio yang sangat rahasia dan anti sadap.

Pesawat LY 169 memisahkan diri di atas wilayah Sudan dan masuk ke wilayah udara Uganda dengan nama African Airways Boeing 707.  Mengapa di atas Sudan?  Karena radar Sudan pun sudah dirusak oleh agen-agen Israel.  Seakan-akan sedang mengalami kerusakan, pesawat memasuki wilayah udara Uganda.  Pesawat sengaja dibiarkan nampak pada layar radar bandara Entebbe.  Penerbang LY 169 lalu melapor ke tower Entebbe, “Pesawat saya sudah tidak bisa dikendalikan dan akan mendarat darurat di Entebbe.”   Dan tiba-tiba pesawat Boeing itu bergerak turun dan menghilang dari layar radar bandara.   Petugas tower menyangka bahwa pesawat itu sudah jatuh di sekitar

Danau Victoria yang terletak di 5 km kepanjangan landasan.  Mereka mencoba menelfon keluar namun saluran telfon sudah mati.   Pada detik sebelumnya, agen Israel  telah memutus saluran telfon bandara.  Agen lainnya bersiap di jalan antara bandara menuju markas Angkatan Perang Uganda dengan detonator yang siap diledakkan.   Apa yang terjadi dengan pesawat LY 169 yang akan menjadi pos komando tersebut?   Ternyata mudah saja.   Penerbang merubah kecepatan pesawat dari 200 knot ke 296 knot.   Pada kecepatan ini, radar Uganda tidak akan mampu mendeteksi Boeing 707.   Pesawat tidak jatuh ataupun mengalami kerusakan.   Ia terbang turun, lalu naik lagi di ketinggian 10 km dan berputar mengawasi tiga Hercules yang telah muncul dari kegelapan lembah.  Belum habis keterheranan 3 petugas tower, tiba-tiba mereka mendengar radio berbunyi, “Tower, ini adalah penerbangan no. 166 yang membawa tawanan perang dari Tel Aviv.   Dapatkah saya mendapat ijin mendarat?”     Suara ini berasal dari salah satu pesawat Hercules yang sudah berada 5 km diujung landasan.

Wah, masih terbengong-bengong petugas tower itu saat melihat tiga pesawat besar telah mendarat di kegelapan landasan.   Dua petugas berusaha mengeplot letak jatuhnya pesawat LY 169, satu petugas berusaha menelfon ke direktorat penerbangan sipil untuk menanyakan ijin ketiga pesawat yang sudah nyelonong masuk ke Entebbe.  Yang menambah mereka heran adalah saat melihat bahwa tiga pesawat yang datang bukan pesawat sipil, namun pesawat gemuk yang disamarkan dalam warna militer. 

Di dalam pesawat, Yoni berdiri tegak di pintu keluar memandang anak buahnya.  Sebuah mercedes hitam dikawal dua land rover telah siap bergerak bersama-sama keluarnya pasukan.   Mobil itu adalah mobil palsu Presiden Idi Amin, untuk mengelabui musuh.

Gugurnya Yoni Netanyahu 

“Go!” teriak Yoni.   Satu land rover bergerak keluar diikuti mercedes, lalu land rover kedua.   Ketiga mobil itu bergerak mendekat gedung tua bersama pasukan para yang dipimpin perwira muda berusia 30 tahun tersebut.   Para pembajak dan pasukan Uganda tentunya sangat terkejut melihat Presiden datang  malam-malam ke bandara dengan pesawat besar.   “Bukankah Presiden sedang mengikuti konferensi di Mauritius?”  tanya mereka dalam hati.   Seorang pasukan Uganda mendekat ke mobil dan disambut dengan rentetan tembakan.  Dia menjadi korban pertama dalam Operasi Entebbe.

Sesuai latihan yang hanya dilaksanakan pada hari Jum’at,  pasukan hanya punya waktu 45 detik untuk mencapai ruangan para sandera.   Latihan yang hanya sempat dilaksanakan itu terbayar sudah.   Walaupun pasukan Uganda berusaha menghadang, pasukan Yoni yang menyerbu bagai air bah telah merangsek cepat.  Melihat itu semua, Gabrielle Tiedemann meraih pistolnya dan membidik seorang prajurit yang sedang berlari di halaman gedung.  Baru satu tembakan meletus, lusinan peluru telah menghunjam di badannya dari senapan otomatis pasukan Israel yang telah bermunculan.    Wilfred Boese yang berada di dalam ruangan juga segera meraih senapan mesinnya setelah mendengar suara rentetan tembakan di luar gedung.   Segera dia membidik para sandera.   Saat jari-jemarinya siap menarik picu senapan, Boese sudah harus meregang nyawa oleh peluru pasukan Israel.  Para sandera yang tidak tahu akan adanya operasi itu menjadi histeris.   Untungnya, pasukan Israel langsung berteriak-teriak menggunakan bahasa Hebrew, “Kami akan membawamu pulang…!” berkali-kali teriakan terdengar.

Selain menyerbu gedung tua tempat sandera, dua unit pasukan dengan jeep bersenjata otomatis bergerak terpisah.  Satu unit bergabung dengan agen Israel menutup jalan yang menghubungkan bandara ke markas angkatan perang Uganda.   Unit yang lain menuju markas skadron Mig dan menanaminya dengan puluhan detonator.   Dan sesaat kemudian terdengar suara ledakan dahsyat.  Pesawat-pesawat Mig Uganda hancur berkeping-keping.   Sebuah roket melesat cepat menghantam tower.  Pasukan Uganda  yang berhasil berkelompok terus mengadakan perlawanan sengit.   Di atas gedung, sebuah granat meledak menyebabkan tewasnya 2 pembajak berkebangsaan Palestina.   Mengelilingi ketiga Hercules, dokter-dokter bedah kelas satu bertiarap dengan senapan mesin.  Selain mengevakuasi korban, merekapun mendapat tugas tambahan menjaga pesawat selama proses penyerbuan.

Setelah gedung tua dikuasai, Yoni terlihat bergerak keluar untuk melihat pasukannya.   Tak ada yang menyangka sebuah senapan telah mengintipnya dari atas tower, “Ret…tet… tet… tet…” dan Yoni pun roboh.   Peluru prajurit Uganda itu menembus punggungnya.  Tim dokter yang ada di pesawat coba untuk menolongnya namun gagal.   “Yoni tertembak !” teriakan itu menggema ke seluruh penjuru, ke pesawat pos komando yang terbang berputar di atas Entebbe, juga ke markas tertinggi di Israel.   Namun demikian, operasi terus berlanjut.   Pasukan Israel mengumpulkan semua sandera dan menghitungnya, 104 sandera dan 12 awak pesawat.   Mereka semua digiring menuju pesawat dengan perlindungan barikade prajurit Israel.

Di seberang sana, di dalam pesawat Hercules ketiga, Brigjen Dan Shomron berusaha mengamankan pergerakan pasukan dan warga Israel menuju pesawat.   Mereka sudah 53 menit berada di bandara Entebbe.  Pasukan Uganda sudah kocar kacir.  Beberapa prajurit Israel menghitung dan menghitung lagi jumlah sandera yang berhasil dibebaskan.   Setelah jumlahnya lengkap, satu persatu dari tiga Hercules mulai bergerak meninggalkan Entebbe.   Hercules terakhir adalah tempat Shomron berada.   Saat pesawat terakhir ini bergerak ke landasan, moncong senapan mesin masih menyembul di pintu belakang pesawat yang sengaja di buka.   Membuat pasukan Uganda takut untuk mendekat.   Beberapa pasukan Uganda lari ke tower dan mematikan lampu landasan.  Namun sia-sia juga usaha mereka.   Lampu lendasan memang mati, namun pesawat ketiga itupun mengangkasa meninggalkan Uganda menuju Nairobi, untuk kemudian meneruskan perjalanannya pulang ke Israel.

Di atas Danau Victoria,  tiga buah Hercules sedang terbang rendah menuju Nairobi.   Pada awalnya penerbang akan membuang mobil mercedes hitam Idi Amin palsu di danau ini.   Namun mengingat besarnya jasa yang telah diberikan pada negara, mercedes hitam itu dibawa pulang ke Israel.  Bukan untuk menjadi mobil palsu Idi Amin lagi, namun sebagai saksi sejarah.   Di atas Laut Merah, dua skadron pesawat Phantom terbang bergerombol menyambut kedatangan 3 Hercules dan 2 Boeing-707 yang telah mencatat sejarah.  Di bandara Ben Gurion, Tel Aviv, massa menyambut kedatangan para sandera dengan gegap gempita.  Di hari Minggu tersebut, semua orang Yahudi serasa 10 senti lebih tinggi dari sehari sebelumnya.   Dan pada hari yang sama, Idi Amin terbangun dengan sebuah kejutan paling dahsyat semasa kariernya.


2 Komentar

  1. Unggun Dahana mengatakan:

    Salam Pak Budhi Achmadi, ulasan bapak ini sangat menarik dibanding ulasan Operasi Entebbe yang lain.
    Bolehkah tulisan bapak ini saya posting di kompasiana.com?
    terimakasih sebelumnya..
    salam,
    unggun dahana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: