Beranda » Novel - Elang » Serpihan Kesatu – “Turbulence”

Serpihan Kesatu – “Turbulence”

“Elang sejati selalu bertempur seorang diri”

Akhirnya Tuhan menunjukkan sedikit rahasia alam semesta.    Bukan tentang cahaya. Ini adalah impian manusia tentang airfoil  bermesin yang dapat lepas-landas dari cengkeraman bumi, yang akhirnya diintepretasikan teori fluida dinamis Daniel Bernoulli, dibuktikan oleh Orville dan Wilbur Wright, sebagai akibat hembusan udara relatif dari depan – head wind.   Bukan seperrti sebelumnya, dimana manusia begitu yakin bahwa dorongan angin belakanglah yang membuat pesawat airborne.   Dengan jenius – atas izin Tuhan yang maha pandai – beberapa manusia itu pun mengubah the nature of headwind, menjadi nilai guna yang luar biasa.    Sayap didesain lebih panjang lengkungan atasnya, sehingga kecepatan udara yang mengalir di permukaan atas sayap pun melambat.  Hasil yang luar biasa.   Tolakan di permukaan bawah sayap menjadi lebih besar dan pesawat pun mengudara.

Semua orang yakin bahwa the real leader was born in the battlefield, apapun skenario dan bentuk pertempurannya.   Ketika seluruh pilot  yakin rumusan head wind  makes an aircraft fly, bahwa tolakan udara depan menyebabkan pesawat air borne.  Manusia pun harus yakin bahwa rintangan, cobaan dan tantangan adalah  “the battlefield” untuk  take off menapaki kesuksesan dan kejayaan.   Semakin besar penghalang, semakin kuat pula potensi untuk sukses apabila kuat atau memiliki energi untuk menghadapi.   Perjalanan mungkin menjadi sangat mengerikan dari waktu ke waktu.  Sebagaimana konfigurasi pesawat yang  pada titik tertentu hampir menyerah, oleng lalu stall.   Harmoni aliran udara laminar yang digambarkan oleh Bernoulli  pun bisa berubah bentuk menjadi kekacauan – turbulence.

Tapi itulah hidup yang selalu dinamis dari hari ke hari, berubah dari satu titik ke titik yang lain.   Ya tak beda dengan pesawat,    yang  tidak selalu equilibrium, tidak selalu aman dari bidikan musuh, tidak pula selalu melewati cuaca cerah.    Ada saatnya harus jink out,  harus bermanuver, meliuk-liuk dalam bad weather  atau hilang kendali tersambar turbulence.

Usiaku masih sebelas tahun saat sebuah Jum’at pagi memaksa duduk di sebuah sekolah berlantai tanah, berdinding papan totoren dan berbau apak dari persawahan yang membentang di belakangnya.   Ada dua puluh anak menduduki bangku-bangku panjang, yang kaki-kakinya amblas menancap ke dalam lantai tanah.    Kelas yang hanya dihuni satu murid perempuan itu, sebenarnya masih menyisakan beberapa bangku kosong.   Namun mereka yang duduk di sekelilingku, sepertinya adalah jumlah maksimal yang bisa dipaksa masuk sekolah, karena begitu pula keadaannya pada kelas-kelas di bawahku.

Ini adalah lawan dari keadaan seminggu lalu.    Rasanya aku adalah siswa yang paling lusuh.    Lingkungan sekolah yang bersih, tampilan anak-anak perwira yang rapi dan bersemangat.   Sementara di dusun ini, yang terduduk dengan seragam putih-merah adalah sejumlah manusia mini bermotivasi rendah, bahkan terbebani dan tercuri masa kanak-kanaknya.    Bisa hadir lengkap dan tepat waktu adalah sebuah prestasi.    Tidak mudah bagi anak-anak untuk menyisihkan waktu lima jam di siang hari.   Bukan karena malas.   Tapi mereka telah bekerja terlalu keras.   Nanti akan kuceritakan mengapa aku tiba-tiba berada di kelas ini.  Yang pasti, Tuhan sedang mengajakku terbang lebih tinggi.   Hingga seminggu yang lalu aku masih tersesat di tengah belantara, terus mendongak, rendah diri dan  takjub.     Kini aku dapat memandang dunia yang lebih luas.  Anak-anak yang lebih menderita, kekurangan, tersisihkan, namun pernah tidak mendongak dan rendah diri.

Kini di sebelah kiriku teronggok sosok mirip patung drupala gendut, tanpa gada, berkulit hitam dan bermahkota kriting kriwil.    Ia duduk tegap hingga sebatas bahu, sementara sejak ujung leher berputar  seperti baling-baling helikopter.   Sampai detik ini,  Drupala gendhut inilah murid paling pendiam di kelas.   Bukan karena mulia sifat dan runtut tutur-bahasa, namun akibat komitmen pribadinya yang selalu menjadikan semua sudut  sekolah sebagai peraduannya.  Bahkan dalam posisi duduk di kelas, goyangan acak kepalanya menyambar ke mana-mana.  Sekali tidak waspada, kepalanya pernah menghajar pelipis hingga benjol.     Tapi karena ia adalah Bendung, super hero-ku, sepupu angkatku, maka aku tak lekang bersamanya selalu.

*****

Super hero itu menunjukkan jati dirinya seminggu lalu.   Sekelompok anak gembala menghadang, melempari dengan lendhut dan akhirnya mendorong-dorongku terjerembab di sawah.    Tentu saja seragam putih-merahku berubah menjadi warna hitam lendhut sawah,  sementara anak-anak gembala itu bersorak-sorai meneriakkan kalimat-kalimat kasar.    Melawan tujuh berandal kecil bermulut amis, bergigi hitam bergerigi dan sadis itu,  jelas bukan pilihan tepat.   Apalagi sampai detik itu, aku belum membukukan jam terbang berkelahi, kecuali sambil meraung-raung menghadapi cubitan Bapak.   Dari raut wajah para berandal cilik itu, terbayang rencana mereka untuk mencicipi rasa daging dan darahku.   Celakanya.   Jangankan mendekat. Beberapa anak yang lewat  malah mengambil langkah seribu.   Pertanda eksistensi berandal cilik  itu diakui oleh anak-anak dusun.

Tapi rasa takut itu tidak masuk hitungan Sang Drupala tambun, hitam dan kriting, yang  tiba-tiba meloncat, berdiri atau lebih tepat teronggok di atas lendhut sawah bagaikan kuda nil.  Matanya terpejam dan mulutnya komat-kamit mengucapkan mantra.    Sejurus kemudian, mulutnya berdehem, lalu mengerang keras.

“Allahuma urup arep sirep…  Demit aku ora mangan… Setan aku ora doyan Allahuma urup arep sirep…  Demit aku ora mangan… Setan aku ora doyan…”  berulang-ulang.

Sang drupala memasang kuda-kuda, tangannya berputar-putar sebagaimana seorang pendekar yang sedang menyiapkan jurus-jurus andalannya.    Aku sendiri tidak dapat menangkap kalimat-kalimat lanjutan dari bibir tebal yang komat-kamit tersebut.   Yang jelas, kalimat-kalimat pelecehan mulai berhenti.  Anak-anak gembala liar itu kini bergerak mengelilingi Sang Drupala yang sedang memejan.

“Allahuma urup arep sirep…  Demit aku ora mangan… Setan aku ora doyan…  Allahuma urup arep sirep…  Sopo wani mesti dadi bathang… Ayo Maju!”  kembali Sang Drupala menghardik.   Tidak sejengkalpun berandal-berandal itu berani mendekat atau lebih tepatnya mereka ngeri bukan main.   Mereka bergidik dengan kekuatan di balik kedua tangan dan kaki Sang Drupala yang sama besar.     Apalagi saat mendesis air liurnya menyemburat kemana-mana.   Wuih pasti asin sekali rasanya.   Aku menyangka Sang Drupala sudah kerasukan jin ular cobra, sehingga air liur yang muncrat dari mulutnya akan mematikan siapapun yang terkena.    Namun saat kulitku tersemprot dan tidak merasakan apapun,  aku berubah pikiran.   Jin yang tersesat dalam tubuh gendut itu ternyata penunggu pohon kamboja kuburan.  Menurut cerita Bapakku, anak-anak kecil yang  terlambat pulang bermain hingga sore hari akan dicari jin yang bentuknya gendut  tersebut.

Ajaib.   Musuh kini hanya bisa saling  tolah-toleh.   Berikutnya tanpa dikomando, satu per satu dari berandal itu meninggalkan Bendung yang terus memejan dan komat-kamit.   Kupikir anak-anak itu sedang mempersiapkan counter attack, namun ternyata terus menjauh, terus menjauh, menjauh ke seberang sawah.   Sang Drupala terus mengirimkan sihir jahatnya.   Penunggu pohon kamboja  terus menguasai amarah Sang Drupala.  Badannya bergetar keras, menggigil, memejan, dengan mata tetap terpejam.  Terus, terus dan lama sekali.

“Heh!!  Heh!! Gendut!! Gendut!! buka matamu, mereka sudah pergi!!”   teriakku kepada Sang Drupala tambun yang masih memejamkan mata.    Lalu mata itupun mulai membuka sebelah kiri, mulut tetap komat-kamit, lalu tersenyum dan membukalah yang sebelah kanan.

“Hore… Hore… aku menang… aku menang… tang kintong kintong kintong…  tang kintong kintong kintong…” Sang drupala meloncat-loncat, girang bukan main, telah berhasil bersandiwara menjadi pendekar sakti .   Ia berjalan ke arahku dengan tawa cekikikan, mengulurkan tangan dan membantu membebaskanku dari lendhut sawah.   Inilah Bendung sepupu angkatku, seorang anak pemberani yang nantinya akan memetik pelajaran dari karakternya itu.

“Dalam keadaan takut dan tertekan, kamu tak akan pernah menjadi dirimu.”

Jikalau baling-baling helikopter mengancam di sebelah kiri, situasi sebelah kananku sangat bersahabat.   Dialah seorang bocah ceking  yang biasa dipanggil dengan nama Modin.   Nama aslinya adalah Abdul Kadir Jaelani.   Setelah Bendung di urutan pertama, anak inilah murid pendiam ranking kedua di kelas.   Modin sebenarnya adalah jabatan bapaknya  sebagai staf Lurah yang mengurusi orang meninggal dan kegiatan agama.    Karena Abdul Kadir Jaelani sudah menunjukkan talenta sebagaimana ayahnya, maka anak-anak pun memanggilnya dengan sebutan Modin, kecuali di hadapan Pak Modin yang asli tentunya.   Sebenarnya Bendung yang telah lebih dulu bersahabat dengan Modin.   Karena saat menjadi murid baru, aku hanya kenal Bendung, akhirnya Modin pun mengalah.   Aku pun duduk di antara Bendung  dan Modin.

Modin memiliki kebiasaan yang aneh, tapi sebagian lainnya menganggapnya sebagai kebiasaan mulia karena kemanapun pergi selalu memutar  tasbeh dan mengenakan kupluk (topi haji), termasuk saat pergi ke sekolah.   Hanya selama di dalam kelas saja ia melepas kupluk.     Ia tidak pernah bilang siapa yang menginspirasinya, yang jelas Modin sepertinya tidak ingin menghayati kemuslimannya secara batiniyah saja, namun secara lahiriyah pun ia tak ragu menunjukkan komitmennya kepada semua orang.    Kegemparan terjadi kemarin siang.   Bendung yang penasaran dengan kupluk Modin, merencanakan niat usil .  Aku menolak menjadi makmum, karena Bendung adalah imam dari kenakalan kerah putih yang membahayakan murid baru sepertiku.  Akhirnya ia menjalankan aksinya dengan beberapa anak lain.   Kupluk diambil dari dalam bangku, disembunyikan di buku Mujayin yang duduk persis di belakangku.   Celakanya, saat istirahat Mujayin harus mengurus kambing-kambingnya  di pinggir sawah dan tidak kembali ke kelas.   Bagi sekolah baruku ini, perbuatan seperti ini dibolehkan.   Mengurus kambing dan sekolah adalah dua pekerjaan yang sama pentingnya.   Karena kalau sekolah melarang, pasti banyak orangtua yang tidak mengijinkan anaknya masuk sekolah.

Singkat cerita  kupluk  itu pun terbawa pulang.    Modin mengaduk-aduk kelas karena kupluk wajib dipakai setiap istirahat.   Bahkan sampai pelajaran usai, ia berjanji tidak mau beranjak dari kelas sebelum menemukan kupluk hitamnya.   Ia beryakinan bahwa kupluknya ada yang menzalimi, alias menyembunyikan atau mencuri.

“Firasatku mengatakan bahwa ada beberapa umat yang meniru amal perbuatan kaum jahiliyah, kaum kafir Quraisy Mekkah,  yang mencoba mengganggu seorang hamba Alloh yang sedang mencoba taat kepada Sang Khalik.   Semoga mereka diberi ampunan…” kobah Modin di siang itu.
“Aamiiin…”  jawab seluruh satu kelas.   Bendung yang paling keras dan panjang jawabannya.    Bendung sepertinya yang paling menikmati, terus menahan tawa, melihat kegelisahan Modin yang kehilangan jimat kesayangannya.     Apalagi setelah Modin menyebut-nyebut  kaum jahiliyah, kaum kafir Quraisy, terlibat dalam persekutuan jahat.  Aku – karena biasa pergi dan pulang sekolah dengan Bendung – pun ikut berpura-pura mencari, hingga tiba-tiba Modin berjalan mendekati kami berdua.
“Temanku Elang dan Bendung… Subhanalloh, kalian harus paham mengapa aku begitu mencintai kupluk itu dan menginginkannya kembali.   Kupluk itu adalah sebuah tanda bagiku.  Sebuah tanda kecintaan kepada Dzat yang  telah menciptaku.   Bahkan aku mencuci dan memberinya wewangian, hanya pada hari Jum’at kawanku…   Semoga tidak ada yang mengambilnya… Subhanalloh Ya Alloh…”  Begitu sedih, begitu mengiris hati, begitu kecewa.

“Iya Din, sudahlah kita pulang saja, toh kalau memang  kupluk itu ditakdirkan ketemu ya pasti akan ketemu.   Tapi Subhanalloh… kalau sudah takdirnya hilang… ya dicari sampai besok pagi pun nggak akan ketemu Din… Subhanalloh…” hasut Bedung.

“Iya Din, udahlah kita pulang saja… besok juga kembali sendiri.   Pasti ada yang iseng menyimpan kuplukmu dan membawanya pulang… walaupun orang itu bukan kafir Quraisy,”   aku mencoba berpura-pura menghibur.   Tapi bibir tebal Bendung menyeringai.  Modin memandangku, beralih ke Bendung, beralih ke yang lain.   Pandangannya sedih.   Bibirnya tak henti-henti mengucapkan kalimat  toyibah.
Pandangan mataku, yang lain, mengarah ke Bendung.   Kedua kali, sebuah bibir  tebal menyeringai.

“Saudaraku, apakah pernah kau dengar cerita bahwa saat nabi naik ke langit ketujuh, Tuhan memperingatkan,”  tiba-tiba suara Modin menyeruak di antara para pencari kupluk dengan logat campuran Indonesia – Arab – Jawa medok, “Wahai nabi pemberi peringatan.  Peringatkan kaummu agar mereka tidak memasuki rumah-Ku kecuali dengan hati yang tulus, lidah yang  jujur, tangan yang bersih, kehormatan yang suci.   Jangan biarkan orang yang berbuat zalim dan merugikan orang lain, masuk ke rumah-Ku, karena Aku akan terus-menerus melaknat dia selama dia berdiri salat di hadapan-Ku, sampai ia mengembalikan hak orang yang dizaliminya….”  Pandangan mata Modin yang  sedih berubah menjadi kilatan pedang.  “Takutilah olehmu doanya orang yang dizalimi, sekalipun kafir, karena tak ada lagi penghalang antaranya dengan Allah.”  Seakan-akan mengingatkan kami, para kafir Quraisy yang senang menyembah berhala, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kupluk-nya.   Akupun sebenarnya terkejut, ternyata anak sekecil Modin sudah fasih menirukan ayat-ayat, sebagaimana khatib sholat Jum’at melakukannya.  Tapi karena aku bukan kafir Quraisy, maka aku lebih asyik melihat tingkah-polah Bendung untuk mengatasi skenario yang  ia rancang sendiri.

Mata Modin mulai memejam, meneteskan air mata.  Ia mulai mengangkat kedua tangannya, siap untuk berdoa.   Tangannya terasa begitu berat dan sangat berat.  Dicoba lagi dengan tenaga lebih, tapi tetap tidak kuat.   Bendung  yang mencengkeram keduanya.

******

Masih seperti hari sebelumnya.   Baling-baling  tetap berputar dan jari-jemari Modin memutar tasbih putih.   Dua sisi paradoks yang hebat dan berani untuk anak umur seumurku.   Keberanian tidur di kelas dan tampil agamis di sebuah alam serba sekuler.  Beruntunglah yang berdiri di depan kelas adalah sosok dan pelajaran yang sangat menghibur.   Pak Taslimun bertubuh ceking, berkulit sawo matang, berambut keriting, selalu kusut dan kumal pada sisi buruknya.    Suka melucu dan pintar bercerita pada sisi baiknya.
“Anak-anak, siapakah nama nabi penutup…..”
“Nabi Muhammaaaaaaaaaad,” belum selesai pertanyaan diucapkan, semua murid sudah menjawab dengan gegap gempita.   Kecuali Bendung dan Modin.
“Apa julukannya waktu masih kecil?”
“Al Amiiiiiiiiin.”  Kecuali Bendung dan Modin.
“Artinyaaa?”
“Yang dapat dipercayaaaa.”   Kecuali Bendung dan Modin.
“Anak-anak,  Nabi Muhammad adalah nabi penutup yang sekaligus diciptakan sebagai makhluk termulia… mangkanya Mbah Nabi Adam pernah melihat nama beliau tertulis bersanding lafadz Alloh di atas langit ketujuh.  Bukan Nabi Ibrahim, Musa, Isa ataupun Nabi Adam sendiri…”

Bendung tetap pulas tak sadarkan diri.   Modin terus memutar tasbeh, mulutnya komat-kamit, memperhatikan seperlunya.   Aku memandang ke depan penuh perhatian.   Walaupun sudah berulang kali mendengarkan cerita tentang Nabi Muhammad Solallohu Alaihi Wassalam di langgar, namun penuturan yang runut dari Pak Taslimun mengenai sosok Nabi – yang oleh Michael H. Hart ditempatkan urutan pertama di antara seratus tokoh paling berpengaruh di dunia – telah menarik perhatianku.    Seorang anak yang  terlahir dalam suasana miskin  di era kegelapan peradaban Arab, menjadi yatim piatu sejak berusia enam tahun, buta huruf, ternyata mampu menjadi cahaya dunia.    Aku yakin siapapun yang mau patuh dan taat mencontoh budi-pekerti Nabi, pasti dapat menjadi cahaya bagi sekelilingnya.  Di dalam ruang kelas apak itu, imajinasiku melayang di antara sosok-sosok berbaju putih-merah lusuh dan sayu, hingga ujung mataku berhenti lagi pada sosok Bendung.

Inilah kenyataan itu.
“Bendung… Bendung… bangun Ndung…” entah berapa kali kutelan suaraku demi membangunkannya.  Modin pun melirik Bendung, melirikku, karena suaraku mungkin terlalu berisik baginya.
“Weleh-weleh Ndung…  moga-moga Alloh membukakan pintu taubat untukmu…  moga-moga Alloh memberikan petunjuk kebaikan lewat mimpi-mimpimu,” doa Modin lewat mimik wajahnya.
Sebenarnya, setiap malam Jum’at, banyak anak-anak dusun terperangkap di langgar untuk mengikuti pengajian bersama para orangtua. Itulah yang sedikit kutahu tentang  teman-teman baruku.  Tadi malam, aku untuk pertama kali ikut pengajian bersama Bendung dan Bapak.   Beberapa orangtua sering tidak sadar bahwa anak-anaknya harus belajar dan tidur cukup agar fit disekolah.  Jagong-nya sering lebih lama daripada pengajiannya.  Sementara halaman langgar yang diterangi lampu pompa “petromaks” dijadikan arena bermain untuk anak-anak.   Apalagi setelah acara di langgar, anak-anak sering ikut menemani para orangtua untuk mengecek saluran air sawah.   Banyak belut yang keluar dari sarang pada malam hari, dan itu akan menjadi cerita terhebat di sekolah bila berhasil menangkapnya.   Usai sholat Subuh mereka pun harus menggiring ternak keluar kandang, dipatok di pinggir sawah, sekalian mandi di sumber.   Tak ayal, hanya beberapa murid saja yang betul-betul siap menerima pelajaran di kelas itu.   Tapi Bendung dan aku adalah pengecualian, karena kami langsung pulang usai pengajian di langgar.

Kutendang kaki Bendung.   Badannya tegak, matanya melek-merem, melek-merem dan merem lagi.    Lalu akupun melirik Modin yang berzikir.   Kudengarkan lirih, “Subhanallah… Alhamdulilah… Wala illaha Ilallahuwallahu Akbar…”  Modin pun kembali melirikku sesaat, melirik Bendung, lalu kembali memandang Pak Taslimun, tak mempedulikan kami.  Aku pun melirik Bendung… lalu Modin…  lalu Bendung lagi.   Dua sisi di sela kehidupanku, bagai bumi dan langit, air dan minyak, asam dan garam, namun sampai hari ini bersatu dalam harmoni.   Tak terbayangkan, kisah haru-biru akan mewarnai perjalanan kami bertiga kelak kemudian hari.

“Assalamu ‘Alaikum, Pak Tas.   Mohon maaf mengganggu.”

Tiba-tiba saja sebuah suara berat dan serak yang sudah kukenal, menghentikan kisah Sang Nabi.    Pak Tentara, demikian para  tetangga memanggil, kini sudah berdiri di depan pintu dengan wajah tegang, berbuih peluh membasahi wajah, badan serta pakaian dinas yang dikenakannya.   Pagi di kelas menjadi terasa ganjil karena kehadirannya.   Apalagi dengan kondisi terengah-engah seperti ini.  Bapak seharusnya ada di pangkalan, karena usai shalat Subuh tadi buru-buru berangkat bekerja dengan sepeda onta kesayangannya.   Selayaknya ia kini sudah berada di bawah ketiak pesawat dengan baju bengkelnya.    Tiba-tiba ia sudah berada di sini, berarti hanya beberapa menit saja berada di kantor lalu mengayuh sepedanya kembali ke arah sekolahku.
“Wa ‘Alaikum Salam… Eh Pak Tentara.   Ada perlu apa Pak Tentara kok dengaren kesini…”
“Saya…. saya mau berbicara sebentar Pak Guru,” jawab Pak Tentara terengah-engah.   Bapak mendekati Pak Taslimun, berjalan keluar berdua dan menghilang  di balik pintu.   Aku tidak tahu apa yang diperbincangkan dua orangtua itu.   Yang jelas, pandangan semua mata di ruang kelas – kecuali Bendung – yang tadinya mengarah ke Pak Taslimun, beralih ke Pak Tentara, kini berakhir pada sekujur tubuhku.   Tebakanku, sebagian dari mereka  pasti memprotes kehadiran Bapak yang merusak suasana kelas.   Sebagian yang lain berterima-kasih, karena sejak menghilangnya Pak Taslimun di balik pintu, beberapa murid langsung bertumbangan di atas bangku.
Ketika sosok Bapak dan Pak Taslimun telah menyembul lagi dari balik pintu dan berjalan ke arahku, maka beberapa siswa yang masih bangun melepaskan sandi suara dengan berdehem-dehem.  Kini semuanya duduk tegak, kecuali Bendung.

“Elang, sekarang kamu pulang  bersama Bapak ya,” kata Pak Taslimun.
“Inggih Pak Guru.”
Tidak ada jawaban dari Pak Taslimun.  Beliau berjalan begitu dekat, lalu mengelus kepalaku beberapa kali.    Beliau pun tidak mempedulikan kepala  Bendung yang menari-nari di sampingku.   Biasanya tarian kepala Bendung langsung diganjel dengan penghapus, diiringi cekikikan semua murid.
Aku segera menutup satu-satunya buku tulis kusam dan lecek yang kumiliki. Kucium tangan Pak Taslimun, lalu bergegas keluar ruang kelas mengikuti langkah Bapak yang terburu-buru menuju sepeda pancalnya.     Bapak yang masih terengah-engah, basah-kuyup oleh keringat, kini sudah bersiap kembali mengayuh sepeda.   Pak Taslimun berdiri mematung di depan pintu.   Beberapa anak menyembulkan kepalanya di jendela kaca.   Tidak ada wajah Modin atau Bendung.   Padahal waktu keluar dari bangku, aku sempat memaksa Bendung beringsut.
“Pegangan yang erat yo le, kakinya jangan sampai nyerimpet ruji.   Bapak arep rodo ngebut iki!”
“Inggih Bapak,” jawabku polos.
Bapak pun segera line up, mulai mengayuh sepeda dan aku terayun-ayun dalam boncengan.   Keluar dari halaman SD Taji, sepeda menyusuri jalanan makadam yang membelah persawahan dusun.    Tak sepatah katapun keluar dari mulut Bapak, melainkan suara dengus nafas dan beberapa lafadz Al-Quran.    Ini juga aneh.    Biasanya Bapak selalu banyak bercerita atau memintaku bertanya saat memboncengku, karena khawatir aku tertidur.    Oh iya, Bapak juga tidak pernah terlihat terburu-buru.
“Pak, apakah Bapak tahu….”
“Gedubrakk…  brakk… brakk…”  beradu dengan suara “Ya Alloh… Ya Alloh…”
Belum juga satu pertanyaan lengkap kuucapkan, sepeda Bapak oleng berjibaku di jalan yang dipenuhi lubang-lubang menganga.   Rasa sakit terasa di bagian pantat, kaki, perut, menjalar ke seluruh saraf.   Kini aku enggan mengganggu dengus nafas Bapak.

Melewati bentangan persawahan, kini kami harus menuruni jalan penuh cadas yang licin.   Aku berjalan di samping Bapak yang menuntun sepedanya.   Hampir satu kilometer berjalan, kini terbentang sungai penuh bebatuan yang  telah mengisolir kampung-halaman Bapak selama berabad-abad .   Lebarnya kira-kira 100 meter, namun kini hanya 20 meteran yang dilewati arus air setinggi lututku.   Melewati sungai inilah, setiap hari warga dusun Nggagan harus berinteraksi dengan masyarakat luar.  Tidak ada jembatan  ataupun jalan alternatif.   Selepas sungai, tanjakan jalan cadas membalas jalan menurun yang telah terlewati.   Sama panjangnya, kira-kira satu kilometer, hingga mendapatkan jalan tanah tak berpenghuni.

Bapak kembali memboncengku. Rumah Simbah tak lebih dari empat kilometer sejak sungai tak bernama itu.    Tidak seperti biasanya.   Ada sebuah tiang bambu dengan kain putih terpasang di ujungnya, terpancang di ujung jalan tadi.   Walaupun tidak sedang berkibar, aku paham sekali bahwa bendera seperti itu adalah pertanda bahwa kampung sedang berduka, karena salah satu warganya ada yang meninggal.  Beberapa wanita juga terlihat sedang berjalan beriringan, masing-masing membawa baskom tertutup kain.   Ini adalah kebiasaan di kampung, ketika ada suatu perhelatan, maka para wanita menyumbang kebutuhan dapur seikhlasnya, seperti beras, mie kering, kedelai, kacang dan sebagainya.   Anehnya, iring-iringan para wanita yang sedang membawa baskom itu bertambah banyak  di sepanjang  jalan.    Beberapa kali Bapak mengucapkan salam kepada warga yang ada di jalan.   Aku tak menyangka bahwa puncak kerumunan itu berlangsung  tepat di halaman rumah bertembok blabak, yang di depannya terdapat papan nama putih, bertuliskan huruf latin hitam.   Kalau dibaca bunyinya, “Suro Karyo Dusun Nggagan”, ayah dari Bapakku.

Inilah turbulence itu.    Para wanita dengan baskom itu ternyata menuju rumah Pak Tentara, rumahku, rumah Simbahku.   Bendera putih  itu ternyata untuk Ibuku.    Untuk pertama kalinya Bapak menangis di hadapanku, di hadapan Ibu, yang hingga akhir hidupnya masih tidak menampakkan sakit yang di deritanya, serta sabar melayani suami dan anak-anaknya.   Hingga seminggu lalu,  aku hanya mendengar kata kanker  dalam  beberapa pembicaraan di rumah, namun tidak memahami makna kata tersebut lebih jauh.  Saat keluarga pulang ke dusun, aku pun tidak mengerti bahwa itu berhubungan dengan penyakit Ibu yang semakin mengkhawatirkan.    Di depan kami, Ibu tetaplah sosok yang tegar dan tidak pernah berkeluh-kesah dengan penyakitnya, hanya kondisi tubuhya yang semakin kurus tak dapat menyembunyikan rasa sakit yang dideritanya.

Aku belum pernah melihat suasana  kedukaan sehebat pagi itu.   Aku tidak bisa menghitung  satu per satu, karena banyak sekali orang menangis.   Bapak Tentara menangis.   Mbah Paniyem yang sudah menjanda menangis.   Ibunya Bendung menangis.   Banyak wajah-wajah tak kukenal menangis.    Akupun seharusnya menangis meraung-raung, tapi hanya segaris air mata yang menetes di pipiku.   Airmata dari seorang Elang.    Tak lama kemudian, Bendung dan Modin menyembulkan kepalanya dari balik pintu, nafasnya terengah-engah.   Bendung langsung menangis meraung-raung.  Modin berdiri dengan pandangan kosong.   Pak Taslimun dan satu per satu murid SD Klampok menyusul, menyembul mengikuti pasangan air dan minyak itu.   Kini nafasku sesak, gelap… akhirnya pingsan…  Gedubrak!!!
Terhimpit badan drupala gendut yang menubrukku.


4 Komentar

  1. Mr WordPress mengatakan:

    Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

  2. enie mengatakan:

    Allahuma urup arep sirep… Demit aku ora mangan… Setan aku ora doyan
    wkwkwk lucu tuh mantranya, setan-setan podo maburr mas.

    cukup menarik mas, mengangkat kehidupan anak-anak desa di jawa. Pas baca cerita ini juga sedikit tergambarkan bagaimana kehidupan mereka disana. tapi di awal aku nggak terlalu ngerti, haha…mungkin karena aku nggak tau ya istilah-sitilah yang berkaitan dengan pesawat.

  3. seliara mengatakan:

    Sebuah cerita yg mampu mengantarkan angan ke kehidupan masa kecil…🙂
    Ijin Bapak, sekedar masukan, mungkin perlu dibuatkan catatan kaki utk menjelaskan istilah2 yang masih asing bagi orang awam….. terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: