Beranda » Kehidupan » Lavy – Singa Gurun Pasir

Lavy – Singa Gurun Pasir

Pangkat tertinggi bagi seorang prajurit bukan karena bintang di pundaknya. Ia adalah sebuah kematian patriotis dalam komitmen profesi dan nilai kehormatan perwira, dan tak ada puncak yang melebihi daripadanya. Saat terjun dalam pertempuran hidup dan kehidupan…… Setiap manusia dikarunia kemenangan dan ketidakberuntungan yang datang tidak berupa deret ukur aritmetika.  Nasib buruk tidak selalu datang sebagai kehinaan, sebagaimana tidak pastinya harapan indah masa depan dari tetes perjuangan karier.  Yang selamat dalam kefanaan jangan juga takjub lagi sombong, lalu terurai senyum duka penghinaan.  Sebuah ironi, kita menyangka telah lolos dari jeratan kegagalan, dengan melihat diri selalu bersanding gelimang harta dan tahta kebahagiaan. Keberhasilan hidup tentunya bagi mereka yang berhasil menghadapi cobaan, yang gugur meninggalkan harum nama. Ingat bahwa Tuhan adalah maha rahasia abadi yang kokoh. Kalaupun kita mati muda atau hancur hidup dalam komitmen, yakin akan ada dunia pengganti di sisi-Nya.  Kalian harus tahu……adikku ini bukan manusia gagal dalam hidupnya, walaupun harus pergi sebelum kita. Ia bahkan tauladan, dan terlalu kuat untuk manusia seusianya. Ia tinggalkan semua yang tercinta, karena memahami apa yang menjadi hak dan tujuan keberadaannya. Saat ia pergi, tidak ada lagi airmata di pipinya, karena linangannya telah terkuras habis dalam doa-doanya. Yakin, Tuhan telah punya rencana untuknya.

Saya mengenal pertama kali nama Andis Solikhin Makhfud, saat berada di Mess Pringgodani. Saya saat itu saya berpangkat Letnan Dua, sedangkan Andis seorang Kapten.   Menurut saya Andis adalah seorang pemuda yang berperangai lembut, tampan, dengan seuntai senyum selalu menghiasi wajahnya.  Sering saya menyamakan guratan wajah dan perangainya dengan Kapten Albert Ball, penerbang terbaik Inggris di PD I.   Tipe penerbang yang lembut, penyayang, dan religius.

Kelembutan Andis tersebut tentunya bertolak belakang dengan call sign yang dipilihnya “Lavy”, singa padang pasir yangcerdik dan garang.  Tidak bisa ditutupi oleh para penerbang tempur, bahwa nickname akan membawa konsekuensi psikologis pada perangai.  Dan saya yakin bahwa Andis sendiri tidak dengan kebetulan memilih Lavy sebagai nicknamenya.  Sosok sahabat, adik, ayah dan suami yang penuh kelembutan dalam kehidupan sehari-hari, namun di atas ia adalah seorang penerbang tempur yang cekatan.

Dalam pertemuan atau acara pesta, cukup mudah wajah Andis dikenali. Ini karena kepiawaiannya dalam menyanyi dan musik.  Kalaupun diberi kesempatan, saya yakin Andis yang kualitas suaranya memang berbasis pada kemampuan qori’ (ahli baca Al qur’an), akan menjadi penyanyi terkenal.  Namun Tuhan ternyata memberikan profesi yang menjadi pilihannya, penerbang tempur.  Profesi yang kemudian menjadikannya begitu ternama di kalangan Angkatan Udara kita.

Andis menikah dengan Atiek Rosalina dan memiliki satu putra Achmad Afha Assalamy (Ami). Dia telah menambah perbendaharaan tanda penghargaannya sebagai siswa terbaik Sekolah Instruktur Penerbang TNI AU, Instruktur Penerbang Teladan TNI AU, dan puncaknya sebagai penerbang senior dalam tim aerobatik Jupiter Blue.  Pada masa ini saya benar-benar mengenal penerbang yang memiliki kemampuan dan attitude yang benar-benar mengagumkan.  Maka tak secuilpun tutur kata keluar dari mulutnya darinya kecuali hal-hal yang baik.  Begitu yang saya tahu dan saya dengar dari beberapa orang dekatnya.

Andis Solikhin Makhfud, lahir di Jombang, 26 Juni 1966.  Ibunya masih kerabat dekat mantan Presiden kita, Gus Dur.  Saat tim aerobatik Jupiter Blue beraksi di Jakarta, Gus Dur menyempatkan berbicara dengannya.  Tak satupun dari keluarganya menjadi tentara ataupun penerbang.  Hanya Andis saja memilih profesi yang lain daripada yang lain di antara saudaranya. Namun berkat ketekunannya, ia menjadi penerbang yang memiliki profesionalisme tinggi.

Lahir dalam keluarga pemeluk Islam yang taat dari rahim seorang ibu bernama Hj. Choiriyah dan ayah H. Abdullah Fananie, ternyata tidak membuatnya tumbuh menjadi seorang santri muda. Andis justru tumbuh layaknya sebagai pemuda biasa saja, yang lebih banyak main musik dan larut dalam kehidupan anak muda.  Ia menjadi joki kuda balap dan memenangkan beberapa lomba nyanyi di Jombang – Jawa Timur.  Ia sangat suka sekali menyanyikan lagu-lagu dari penyanyi favoritnya, Julio Iglesias.  Andis di saat muda jauh dari kesan seorang santri, meskipun dirinya lulusan pesantren yang kental dengan ajaran Islam.

Walaupun demikian, ia seakan telah terpilih untuk hidup dekat dengan Tuhan.  Sejak lepas dari SMP, Andis cepat berubah dan mulai tumbuh menjadi sosok religius. Ia mulai berguru ke beberapa ulama, yang kemudian menjadikannya mahir dalam agama.  Dengan bekal yang dimiliki ia memang menjadi istimewa. 

Mengapa Andis bisa berubah dengan cepat? Dari sosok pemuda gaul berganti menjadi seorang santri.  Ternyata suatu mukjizat telah datang padanya.  Saat seorang kerabatnya mengajaknya pergi ke tanah pemakaman, tiba-tiba Andis dimampukan oleh Yang Maha Kuasa untuk melihat kehidupan di alam kubur.  Andis melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa di tempat orang-orang mati itu ternyata ada kehidupan.  Dalam pandangan matanya, ia melihat compang-campingnya nasib manusia yang tergeletak di pemakaman.  Akhirnya ia meyakini dengan benar hari akhirat, bahwa orang yang berbuat jahat akan disiksa dan yang berbuat baik akan mendapatkan pahala, dengan mata kepala sendiri.  Andis menjadi takut akan siksaan Tuhan bila mengulangi kesalahannya.  Momen inilah yang mengubah pola kehidupan Andis hingga timbul sifat mulianya.

Cerita di atas sepertinya berbau mistik, namun inilah kenyataan yang disampaikannya di sela-sela latihan terbang di Lanud Iswahjudi.   Mungkin anda bisa mengatakan bahwa Andis berkata yang tidak benar, namun kalau anda sudah tahu dan dekat dengannya, melihat ketulusan wajahnya, pasti anda akan mempercayai setiap perkataannya. 

Saat menjadi siswa penerbang, bakat terbangnya sudah mulai terlihat di atas rata-rata.  Ia dengan cepat menyerap semua pelajaran yang diberikan.  Namun ia selalu mengatakan bahwa kemampuan itu ia tak memilikinya sama sekali, hanya Tuhan yang memampukan.  “Saya tidak tahu mengapa saya bisa mampu terbang baik, karena saya hanya terbang sebagaimana instruktur mengajarkan saya.  Setiap hari terbang saya hanya bermodalkan doa agar saya bisa menjalankan yang terbaik yang saya bisa,” begitu ucapnya kepada beberapa kawannya.

Di sekolah penerbang, Andis juga meninggalkan beberapa keajaiban kecil pada teman-temannya.  Sebenarnya ia pernah hampir dikeluarkan karena gendang telinganya robek dalam masa pendidikan terbang.  Kondisi kesehatan ini tentunya tidak bisa ditolerir dalam profesi penerbang.  Namun karena kemampuan terbangnya baik, dokter langsung didatangkan dari Jakarta untuk mengevaluasi kondisi gendang telinganya. Hasil investigasi dokter, untuk bisa sembuh maka diperlukan waktu yang lama dan Andis dilarang untuk terbang lagi.  Pada suatu Jum’at, Vonis pun akan segera diambil untuk Andis karena gendang telinganya memang tidak bisa diperbaiki lagi.  Namun Andis pun izin untuk pulang berobat ke Jombang dan meminta vonis ditangguhkan sampai hari Senin.   Ajaibnya, saat cek terakhir di hari Senin, gendang telinga Andis sudah normal seperti sebelumnya.  Ia terbang lagi dan lulus menjadi yang terbaik.

Bagaimana ihwal kesembuhannya?  Ia bercerita bahwa dalam kebingungan ia mendatangi guru spiritualnya dan mengadukan nasibnya yang malang.  Sang guru hanya berkata,”Janganlah manusia menjadi sok pintar dengan mengatakan masa depannya sendiri menjadi begitu malang.  Manusia hanya sebuah wayang yang menjalankan ketentuan-Nya.  Yang membuat masa depan adalah Tuhan beserta seluruh konsekuensinya dalam kehidupan manusia. Sehingga Tuhan pula yang akan mengurai bila ada benang kusut di dalamnya. Tugas manusia hanyalah ikhlas dalam menghadapi setiap cobaan dan hasilnya terserah bagaimana kehendak Tuhan.”  Sang guru kemudian  memasukkan beberapa butir nasi putih ke telinga yang bermasalah itu.  Apa hasilnya?  Tuhan telah menjadikannya obat yang mampu merekatkan kembali milyaran sel-sel gendang telinga Andis yang sebelumnya terkoyak karena benturan.  Hari Senin, saat dokter memeriksa ulang telinga Andis, hasilnya sangat mengejutkan.   Telinga Andis sudah sembuh total dan seakan tidak pernah terjadi sakit apapun.

Dalam istilah Jawa dikenal “upo”, yang berarti beberapa gelintir nasi putih.  Upo dapat dijadikan lem karena memiliki sifat perekat.  Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa menjadikannya pengganti lem kertas.  Namun upo untuk menyambung gendang telinga Andis adalah suatu mukjizat Tuhan yang mampu menggugurkan teori kedokteran.  Andis pun tidak merasa dendam sama sekali kepada senior yang telah mengakibtkan telinganya terluka.  Kepada saya pun dia tidak pernah menyebut nama.  Bila didesak untuk bercerita tentang masalah ini, ia hanya memuji nama Allah.

Andis resmi menjadi penerbang Angkatan Udara pada tahun 1990 dan masuk di Skadron Udara 14, sebagai penerbang F-5 E/F.  Di Skadron ini, Andis benar-benar terbentuk menjadi penerbang tangguh.  Ia mengikuti berbagai macam latihan dan operasi udara yang digelar di dalam maupun di luar negeri.  Andis adalah penerbang Skadron Udara 14 ke-55 yang mampu menerbangkan pesawat F-5 E/F, sehingga berhak memakai callsign Eagle-55.

Menyelesaikan sekolah instruktur sebagai yang terbaik, pada tahun 1996 Andis ditugaskan mengajar di sekolah penerbang tingkat lanjut di Skadron Udara 15 – Iswahjudi, yang bertetanggaan dengan Skadron Udara 14.  Hal ini membukakan kesempatan untuk bergabung dengan tim aerobatik Jupiter.  Andis sendiri menjadi penerbang Skadron Udara 15 ke-69 yang mampu menerbangkan pesawat MK-53 HS Hawk.  Nantinya sebagai instruktur, ia juga mendapat callsign Jupiter 333.  Anehnya, walaupun memiliki lebih dari satu callsign adalah kebanggaan, namun hal ini sering membuat repot dalam karier.

Paska Indonesian Air Show yang sukses dengan tim aerobatik pesawat F-16 Elang Biru, menggugah Angkatan Udara untuk menampilkan format baru dengan pesawat MK-53 HS Hawk.   Maka para instruktur yang ada di Skadron Udara 15 ditunjuk untuk membentuk tim aerobatik, yang akan ditampilkan dalam HUT ke-50 Angkatan Udara.  Dan Lettu Pnb Andis menjadi anggota tim aerobatik termuda saat itu dengan salah satu rekannya, Lettu Pnb Dadang.  Dan sampai ajalnya datang ia merupakan anggota senior dalam tim. 

Saat ikatan dinas wajib kepada Angkatan Udara habis, Andis dan Dadang pernah mendapatkan pengalaman menarik.   Kedua orang itu sebenarnya punya hak prerogatif apakah mau keluar kepenerbangan sipil atau melanjutkan pengabdiannya kepada Angkatan Udara.  Pada hari yang ditentukan, tanpa ada komitmen satu sama lain, mereka menghadap kepada Komandan Skadron Udara 15, yang pada intinya mereka berdua ingin tetap mengabdi kepada Angkatan Udara.  Setelah keluar ruangan, mereka saling bertanya mengapa mengambil keputusan untuk tetap tinggal bersama Angkatan Udara.  “Setelah berdoa, saya mendapat mimpi!” kata Andis.  Lalu Dadang pun menyahut, ”Setelah berdoa, saya juga mendapat mimpi itu!”  Dan anehnya, setelah mereka berdiskusi, mimpi kedua orang itu sama persis.

Andis mengajarkan kepada teman-temannya agar memiliki rasa takut yang besar kepada Tuhan.  Suatu malam hari Andis mengajak rekan-rekannya,  dua penerbang dan satu pewira teknik Lanud Iswahjudi untuk membuktikan ucapannya bahwa rasa takut Tuhan akan menciptakan  kedamaian hidup dalam situasi apapun.  Mereka memasuki sebuah hutan di lereng Gunung Lawu di tengah malam dan Andis berendam di sebuah Sungai untuk berdoa.  Hanya kepala Andis saja yang menyembul di permukaan air.  Ia bertafakur dan tidak peduli dengan bahaya dari alam, karenaa takut kepada Tuhan dan memiliki keyakinan bahwa Tuhan akan melindunginya dari bencana apapun. Bayangkan saja, andaikan Andis lebih takut pada ular atau banjir di sungai, ia tidak akan melakukan hal itu. 

Di dalam agama Islam ada doa yang bernama shalawat nabi, yaitu doa dengan cara menyebut nama Nabi Muhammad.   Andis mampu membaca doa ini sampai belasan ribu kali sehari.  Mengapa demikian?  Ia berdoa setiap saat.  Sambil belajar, bekerja, terbang, dan melakukan kegiatan-kegiatan di luar ibadah rutin,  ia lakukan sambil berdoa. “Suatu masa saya memiliki teman sebuah kerikil yang ada di saku, ia adalah tanda hati dan pengingat bahwa setiap saya menyentuhnya maka saya harus mengucap doa shalawat,” katanya.  Karenanya hebatnya ia berdoa, maka perwujudan Nabi Muhammad beberapa kali menampakkan diri di hadapannya.  Awalnya hanya berdiri saja di hadapannya.  Kemudian Saat Andis terlelap dalam doa, ia mendengar suara derap langkah kuda.  Ia melihat Sang Nabi datang dengan naik kuda yang berlari kencang lalu tangan Nabi menjangkaunya dan Andis duduk di pelana kuda memeluk Nabi.  Di kemudian hari, saat terlelap lagi dalam doa Andis mendengar suara angin ribut.  Ternyata Nabi mendatanginya kembali dengan menaiki badai yang menderu.  Nabi Muhammad menggandeng lengan Andis, dan berdua menari di atas badai.

Puncak kekaguman Andis kepada kebesaran Tuhan yang didatangkan kepadanya adalah saat ia menjadi menusia tanpa bayangan.  Pada suatu siang yang terik, Andis berjalan melintasi sinar matahari, dan tidak disangka-sangka ia sempat melirik ke bawah.  Tuhan Maha Besar, begitu pekiknya.  Andis mengembangkan tangannya, menggeleng-gelengkan  kepalanya, dan menggoyang-goyang kakinya, dan ia sama sekali tidak melihat ada bayangan tubuhnya di sana.  Semakin penasaran sampai ia seperti bermimpi saat mengalami kejadian itu.  Malam harinya ia pulang ke Jombang dan menemui beberapa guru spiritualnya untuk memecahkan mukjizat itu.  Andis menceritakan pengalaman menjadi manusia tanpa bayangan termasuk beberapa kejadian yang dialami sebelumnya.  Dari sang guru, Andis mendapatkan jawaban yang menyejukkan.  Menurut sang guru, di dunia ini ada dua materi yang sinarnya melebihi terangnya pancaran matahari.  Yang pertama adalah cahaya Tuhan, dan kedua adalah cahaya Nabi.  Maka saat itu, menurut gurunya, Nabi sedang ada di samping Andis.

Masih teringat dalam ingatan kita, momen besar Indonesia Air Show bulan Juli 1996.  Andis menjadi salah satu penerbang yang ikut mencoba kehebatan Sukhoy-30KI di bandara Seokarno-Hatta.  Saat itu, Lettu Andis yang masih berstatus sebagaia penerbang F-5 duduk di kokpit depan dan ditemani penerbang uji Rusia yang termashur, Igor Votintsev, di kokpit belakang.  Hampir seluruh manuver dilaksanakan sendiri oleh Andis.  Selesai penerbangan, Igor mengatakan bahwa Andis memiliki bakat terbang yang besar dan kemampuan kontrol yang halus dalam membuat manuver.

Tanggal 28 Maret 2002, yang jatuh pada hari Kamis, merupakan hari terakhir Andis mengarungi angkasa.   Disaksikan ribuan pasang mata, termasuk Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI Hanafie Asnan, jenasah Andis dilepas berbalut bendera merah putih dan diterbangkan helikopter khusus ke tanah kelahirannya.   Kecelakaan yang terjadi dalam misi latihan terbang aerobatik di Lanud Iswahjudi, telah merenggut nyawanya. 

Saya adalah saksi kepergian anak muda penuh tauladan dan potensi.  Beberapa saat sebelum kejadian, Andis sendiri nampaknya sudah mendapatkan firasat  kuat bahwa sesuatu akan terjadi pada dirinya. Ia pun banyak minta maaf kepada beberapa teman dan sanak saudaranya. Ia mungkin tahu bahwa Tuhan telah punya rencana untuknya, dan dengan ikhlas ia menyambutnya.  “Jodoh, rezeki, mati, adalah ketentuan Allah!” ini yang selalu diucapkannya.  Jika Allah sudah berkata “Jadi” maka “Jadilah peristiwa itu” dan tidak ada satupun manusia yang mampu menolaknya.

Penerbangan aerobatik yang dilakukan di hari duka itu sebenarnya penerbangan biasa. Terbang aerobatik tiga pesawat yang mempertontonkan beberapa atraksi yang berkali-kali dicoba sebelumnya. Namun Tuhan memang benar-benar telah punya rencana kepada mereka. Dari keempat penerbang yang gugur, Mayor Hutasuhut, Kapten Andis, Kapten Masrial, dan Kapten Weko, maka Andis adalah penerbang paling senior di pesawat MK-53 Hawk, diukur dari jam terbang yang dimiliki.  Penerbang yang terhindar dari kecelakaan adalah Letkol Fahru dan Kapten Tedi.

Andis sendiri meninggalkan kenang-kenangan menarik menjelang kepergiannya.  Inilah beberapa SMS yang dikirim Andis kepada sanak keluarga dan rekan-rekannya  :

 “Dunia hampir kiamat……kematian telah dekat, lebih baik gila daripada lupa…… atau mati daripada hidup pura-pura…… maka sembahlah Allah……pandanglah dengan lurus……”

 “Tidak ada bedanya kita ini apa dan siapa, karena “TIDAK ADA YANG ADA…… YANG ADA HANYALAH ALLAH”, itulah manunggaling kawulo ing Gusti ……”

 “Jakarta ibarat sebuah akuarium.   Di sini saya tidak menginginkan apa-apa…… Saya hanya selalu dekat dekat dengan-Nya.

Andis juga menyisakan kenangan sebagai sosok sederhana, mewakili kesederhanaan kehidupan para penerbang tempur lainnya.  Setelah sukses tampil dalam demo udara Jupiter Blue pada HUT TNI 1999, Andis begitu kangen kepada anak dan istrinya.  Ia sudah lama berpisah dan ingin segera bertemu dengan mereka. Saat itu sebenarnya Andis dalam status sebagai siswa Sekkau di Lanud Halim Perdanakusuma.  Karena tim aerobatik Jupiter Blue membutuhkan personel, ia dipinjam sementara.   Karena keterbatasan uang, Andis memilih naik kereta api bisnis, yang rencananya “tanpa karcis” agar bisa pulang ke Madiun.    Mungkin ini adalah ironi, pagi harinya dielu-elukan sebagai penerbang jago, siang harinya naik angkutan kota dan blusukan ke stasiun untuk bisa naik kereta murahan.  Untungnya, Andis kepergok dengan salah satu temannya di Sekkau, yang kemudian membantunya membeli tiket.

Saat kecelakaan pesawat terjadi dan merenggut jiwanya.  Dokter dari rumah sakit Lanud Iswahjudi yang kebetulan meluncur cepat ke rumah Andis, tercenung sesaat saat membuka kerudung nasi di rumahnya.  “Aduh, ternyata seperti ini menu seorang penerbang tempur kelas satu TNI AU.  Betapa sederhananya……”

Apapun yang telah terjadi, saya yakin itulah perjalanan hidup seorang penerbang hebat yang pernah hidup di depan mata saya.  Mungkin ia tidak sebesar tokoh atau penerbang lain . Namun saya pribadi menganggap pemuda ini cukup besar untuk saya tokohkan.  Banyak orang menganggap orang-orang berbakat seperti Andis adalah berada pada “right job in the wrong country”, namun saya akan selalu katakan bahwa TNI Angkatan Udara adalah salah satu tempat terbaik untuk kita berkarya dan mengabdi. 

“Keterangan KSAU tersebut tentunya cukup jelas memberikan gambaran tentang kecelakaan tanggal 28 Maret  2002 yang merenggut empat nyawa penerbang Lanud Iswahjudi.  Segala kemungkinan termasuk kecelakaan bisa terjadi pada siapapun, termasuk pada para penerbang yang paling jago dan terampil.  Penjelasan yang cukup menyejukkan itu juga menyejukkan hati pelaku di lapangan dan menunjukkan pemahaman yang mendalam atas resiko latihan.

Beberapa pakar penerbangan, termasuk Prof Oetojo Diran bahkan mengungkapkan kekagumannya kepadap para penerbang yang telah menyabung nyawa berusaha menyelamatkan pesawat di detik-detik terakhir hidupnya.


1 Komentar

  1. wisnu mengatakan:

    sekali lagi..
    kisah ini menggambarkan sosok prajurit TNI AU adalah gabungan keistimewaan yang akan selalu dikenang orang disekitarnya. semua itu dikuatkan dengan ketegaran terhadap kondisi yang serba sulit tetapi kalian selalu siap menjadi sayap tanah air penjaga nusa apapun resikonya….
    terbang tinggi dan menarilah fighter-ku,kami akan selalu mendoakanmu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: