Beranda » Kedirgantaraan » Para Pilot Terbaik Pada PD II

Para Pilot Terbaik Pada PD II

Pertempuran udara pertama kali terjadi pada PD I (1914-1918), berhasil melambungkan nama-nama harum penerbang tempur Jerman, namun secara keseluruhan berakhir dengan tragis.   Semua industri militer Jerman ditutup Sekutu termasuk industri kedirgantaraannya.   Namun demikian semangat ekspansi bangsa Jerman memang tak pernah pudar.   Pada tahun 1936, Jerman telah ikut bermain api  lagi di Spanyol.   Negara ini memang sedang dilanda perang sipil saat itu, dan melibatkan campur tangan negara-negara sekitar.   Perang sipil di Spanyol inilah nantinya yang menyulut berkobarnya PD II.

Perang sipil Spanyol awalnya adalah konflik internal antara kelompok berideologi fasis dan komunis.   Kemudian Hitler dan Mussolini berada di belakang gerakan fasis dan Stalin menyokong gerakan komunis.   Pada tanggal 21 Juli 1936, pesawat Nieuport NiD52 Spanyol telah menembak pesawat Spanyol lain yang bertipe sama, menandai dimulainya perang sipil di Spanyol.   Setelah itu pesawat dan penerbang sukarela Jerman berdatangan ke Spanyol untuk memerangi kelompok komunis yang juga mendapat bantuan dari  Soviet.  Tanggal 1 September  1939,  Jerman mengekspansi Polandia.   Perancis dan Inggris pun mengumumkan pernyataan perang kepada Jerman. Jerman dan Italia akhirnya memerangi semua negara di sekitarnya.   Eropa diguncang perang besar yang kemudian bernama PD II.

Selama masa jeda perang pasca PD I, Jerman memang menyiapkan mesin perangnya dengan baik sekali.  Sehingga saat PD II berkobar, Angkatan Perang Jerman adalah kekuatan paling siap, termasuk Angkatan Udaranya, Luftwaffe.   Apalagi dalam tradisi perang udara, Jerman memiliki penerbang-penerbang besar.   Tersebut beberapa ace Jerman pada PD I seperti Max Immelman, Oswald Boelcke, Ernest Udet, dan Red Baron.

Ace, kalau kita cari dalam kamus bahasa Inggris memiliki arti “kartu as”.  Dalam dunia penerbang tempur, istilah ace dipakai sejak perang udara dimulai pada PD I.  Ace bukan lagi berarti kartu as, namun lebih ditujukan pada istilah bagi penerbang yang mampu menembak lima atau lebih pesawat musuh.  Sedangkan penerbang yang mampu menembak dalam jumlah yang jauh lebih banyak lagi dinamakan ace of aces.  

 Banyak Melahirkan Penerbang Jagoan

Ace pertama Jerman di PD II adalah Hannes Gentzen, seorang penerbang Bf-109D, yang berhasil menembak dua pesawat tempur dan sebuah pesawat bomber pada tanggal 3 September 1939, dan menjatuhkan 4 pesawat lain sehari kemudian.   Selama pertempuran di Perancis (Battle of France), Gentzen kembali berhasil menembak jatuh 10 pesawat korban dengan pesawat Bf-110.  Nasib Gentzen sepertinya melanjutkan kemalangan para penerbang jago pendahulunya yang banyak mati di usia muda  !   Pada tanggal 26 Mei 1940, dia tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat.  

Saat meninggal, Gentzen menduduki sebagai ace dengan jumlah korban tertinggi dari semua penerbang yang terlibat dalam PD II.  Namun demikian, rekor yang dicapai Gentzen hanya bertahan sebentar saja, karena setelah itu AU Jerman melahirkan penerbang jagoan lain dengan angka korbang yang mencapai ratusan.   Kalau di PD I, Red Baron memegang rekor tertinggi dengan 80 pesawat korban, maka Luftwaffe mempunyai 158 penerbang yang berhasil melewati rekor tersebut di PD II.   Kecuali Jepang, tak satupun negara selain Jerman yang berhasil melahirkan ace yang mampu menembak lebih dari 100 pesawat musuh.   Luftwaffe memiliki 105 penerbang yang mampu menembak jatuh  pesawat musuh di atas angka 100, dan 15 penerbang mampu menembak jatuh di atas angka 200.   Ada dua nama yang memiliki rekor di atas 300, yaitu Erich Hartmann dengan 352 pesawat korban dan Gerhard Barkhorn dengan 301 pesawat korban.

Kunci kesuksesan dari para penerbang Luftwaffe adalah pada pola latihan dan pengalaman.   Mereka dilatih dengan sangat baik, terbang dengan pesawat yang canggih pada masanya, dan terbang secara kontinyu.  Dalam perang, penerbang-penerbang yang terlatih dan berpengalaman tersebut muncul sebagai senjata yang sangat mematikan.  Yang juga patut di catat, seperti nasib Manfred Von Richthofen “Red Baron” yang mayatnya ditemukan di cockpit pesawat kesayangannya yang hancur dengan peluru bersarang di dada, beberapa penerbang ace Jerman lain juga bernasib tragis seperti dia.   Banyak di antara mereka yang tidak pernah melihat akhir dari PD II karena sudah tewas sebelumnya.  

Selain Hartmann dan Barkhon, para penerbang Jerman yang memiliki korban di atas angka 200 adalah  Gunther Rall dengan 275 pesawat korban, Otto Kittel dengan 267 pesawat korban, Walter Nowotny dengan 258 pesawat korban, Wilhelm Batz dengan 237 pesawat korban,  Erich Rudorffer dengan 222 pesawat korban, Heinrich “Pritzl” Bar dengan 220 pesawat korban, Herman Graf dengan 212 pesawat korban, Heinrich Ehrler dengan 209 pesawat korban, Theodore Weissenburger dengan 208 pesawat korban, Hans Philip dengan 206 pesawat korban, Walter Schuck dengan 206 pesawat korban, Anton Hafner dengan 204 pesawat korban, dan Helmut Lipfert dengan 203 pesawat korban.  

Penerbang yang cukup terkenal di awal PD II adalah Werner Molders.  Karena dialah orang pertama yang berhasil melewati rekor Red Baron di PD I.  Werner Molders yang kemudian memiliki rekor 115 pesawat korban, adalah pemegang rekor saat perang sipil Spanyol dan pertempuran Perancis, dua pertempuran yang terjadi di masa awal PD II.  Saat meninggal pada tahun 1941, Molders masih menjadi penerbang top di PD II.   

Luftwaffe juga menjadi Angkatan Udara pertama yang mengoperasikan pesawat jet di PD II.   Penerbang jet Jerman pun banyak menyabet rekor kemenangan.   Rekor tertinggi pertama di pesawat jet disabet oleh Kurt Welter dengan 29 pesawat korban.  Dia diikuti oleh Heinrich Bar dengan 16 pesawat korban dan Franz Scahll dengan 14 pesawat korban.   Luftwaffe juga melahirkan penerbang ace khusus pertempuran malam hari, yatiu Heinz Wolfgang Schnaufer dengan 121 pesawat korban.    Emil Lang memegang rekor paling banyak menembak pesawat musuh dalam sehari, yaitu 18 pesawat korban, sedangkan Erich Rudorffer memegang rekor paling banyak pesawat korban dalam satu kali penerbangan dengan 13 pesawat korban.  

Banyak pihak yang menganggap bahwa besarnya kemenangan yang diraih oleh para penerbang Jerman karena keunggulan pesawat yang dimiliki.  Namun demikian, di front timur, dimana para penerbang Jerman harus berhadapan dengan pesawat-pesawat yang lebih canggih milik AU Inggris, Jerman juga banyak melahirkan penerbang ace.  Salah satu penerbang termashur di front ini adalah Hans Joachim Marseille dengan 158 pesawat korban, sekaligus rekor tertinggi di front tersebut sampai PD II usai.   Joachim tewas pada tanggal 30 September 1942 dalam sebuah kecelakaan udara. 

Dari banyak penerbang Jerman yang berprestasi di PD II, maka Adolf Galland dan Erich Hartmann adalah nama paling populer hingga saat ini.   Perjalanan kariernya sebagai penerbang tempur pun penuh pergolakan batin dan dapat dijadikan contoh bagi kita, bahwa kehebatan seseorang tidak bisa ditukar secara otomatis dengan kecermelangan karier.   Untuk menjadi seorang berhasil ternyata tidak cukup dengan kecakapan kerja atau lebih keren disebut dengan profesionalisme.   Keberhasilan karier memerlukan faktor-faktor lain yang penuh dengan warna-warni kehidupan, termasuk suratan takdir.

Penerbang Muda Itu Berpangkat Jendral  !

Adolf Galland lahir pada tanggal 19 Maret 1912 di Westerholt.   Di usia muda, Adolf Galland sudah belajar menerbangkan terbang layang dan mengikuti banyak turnamen terbang.   Pada tahun 1934 bergabung dengan Angkatan Darat dan menjadi anggota resimen infantry, namun setahun kemudian dipindahkan ke satuan udara bernama JG 1.   Pada bulan Mei 1937 Galland tiba di Spanyol, bergabung dengan Condor Legiun dan jabatannya adalah komandan Jagdstaffel 88.   Selama di Spanyol, Galland belum menjadi penerbang ace.   Namun kepemimpinannya banyak diacungi jempol oleh para atasannya di Jerman.

Saat PD II dimulai, Galland semakin menunjukkan kecemerlangannya baik sebagai penerbang atau sebagai komandan.   Banyak penghargaan diraihnya dalam tahun 1938 sampai 1940 atas kepemimpinannya, walaupun jumlah angka korban yang dicapainya hanya 17 pesawat.    Pada tanggal 22 Agustus 1940, Adolf Galland diangkat menjadi Komodor (Brigadir Jendral) dalam usia 28 tahun !   Sebuah prestasi yang menakjubkan.

Galland sendiri adalah sebuah pribadi yang penuh warna.   Ia lebih pas disebut bintang film daripada seorang penerbang tempur.   Galland sering terlihat bepergian dengan wanita-wanita selebritis dari kalangan ningrat, ke Paris dan berpesta pora.   Tidak seperti mess penerbang tempur lain yang sunyi dan sederhana, maka mess Galland penuh dengan makanan lezat dan pesta.   Di cockpit pesawatnya, Bf-109, Galland membuat tempat korek api, karena ia sering bertempur sambil merokok.  

Hari-harinya sebagai komandan JG 26 yang bermarkas di Abbeville, Perancis Utara, dipenuhi dengan perang dan pesta.   Suatu hari Galland berangkat menuju pesta Jendral Theo Osterkamp, sahabatnya yang juga penerbang ace  dengan 32 pesawat korban.   Galland mengemudikan pesawat sendiri saat itu, dengan lobster dan botol anggur di cockpitnya.   Tiba-tiba ada 3 pesawat Spitfire Inggris menyerangnya.   Galland langsung beraksi Saat bertempur, Galland sengaja terus melakukan komunikasi radio dengan para koleganya yang sudah berpesta di rumah Jendral Theo, hingga pesta sempat terhenti untuk mengikuti pertempuran Galland. Pesta berubah kembali menjadi hingar bingar saat Galland mengumumkan kemenangannya dengan menembak jatuh ketiga pesawat tersebut..   Saat mendarat di dekat rumah Jendral Theo, Galland langsung memamerkan lobster dan botol anggurnya yang masih utuh, sebagai bukti bahwa ia berhasil menembak jatuh 3 pesawat musuh dengan mudah.

Cerita lain yang menarik adalah kisah persahabatan Galland dan Douglas Bader, penerbang ace Inggris yang hanya memiliki kaki satu dan terbang dengan kaki palsu.   Pada tanggal 9 Agustus 1941, Bader tertembak oleh anak buah Galland, namun Bader berhasil selamat dengan melaksanakan pendaratan darurat.   Setelah tertangkap, Bader justru mendapat perlakuan yang istimewa dari Galland.   Bader diundang dalam acara pesta malam dan Galland memerintahkan pesawat palang merah internasional untuk melintas di atas pangkalan JG 26 dan menerjunkan kaki palsu pengganti bagi Bader yang hilang saat pesawatnya tertembak.   Sayangnya niat baik Galland justru dibalas dengan buruk oleh Inggris.   Pesawat palang merah yang melintas ternyata tidak hanya menerjunkan kaki palsu Bader, namun juga menjatuhkan bom.  Bader akhirnya dipenjarakan, namun menjadi sahabat kental Galland setelah PD II usai.

Sebelum akhir tahun 1942, Galland yang berusia 30 tahun, dipromosikan menjadi Mayor Jendral dan menjadi Letnan Jendral dua tahun kemudian.   Jabatan Galland adalah Inspektur Jendral Unit Pesawat Tempur Luftwaffe.   Akhir 1944, terjadi perselisihan antara para komandan lapangan dan pimpinan pusat Luftwaffe tentang strategi yang akan dijalankan di PD II.   Para komandan lapangan berhadapan dengan Herman Goring, Kepala Staf Luftwaffe.   Para perwira lapangan yang kukuh pendirian lalu mengundurkan diri dari tugas termasuk Galland.   Hitler ternyata berpihak pada Goring.   Galland ditarik ke pusat, bekerja di staf namun masih berhak menyandang pangkat lamanya.  

Sampai akhir perang, Galland memiliki rekor 104 pesawat korban.   Galland ditangkap oleh pasukan Sekutu tanggal 14 Mei 1945 dan menjadi tawanan perang sampai tahun 1947.   Saat keluar penjara, ia dilarang untuk menjadi penerbang, hingga harus kerja serabutan sebelum mendapat undangan dari AU Argentina untuk menjadi penasehat.   Galland membantu AU Argentina untuk menyusun doktrin-doktrin tempur yang nantinya dipakai dalam Perang Faklands di tahun 1982.  Pada tahun 1955, Galland kembali ke Jerman.   Galland memilih Jerman Barat, dan mengajukan permohonan untuk dapat kembali berdinas di Angkatan Udara.   Permohonannya ditolak oleh Menteri Pertahanan.   Tragisnya nasib seorang pahlawan perang, Galland memilih mendirikan sebuah biro konsultan kedirgantaraan di Bonn dan baru meninggal tanggal 9 Pebruari 1996 karena serangan jantung.

Erich Hartmann, Penerbang Terhebat Yang Merana Di usia Senja

Erich Alfred Hartmann adalah penerbang ace of aces, penerbang yang paling banyak menembak pesawat musuh sepanjang sejarah.   Rekornya yang 352 pesawat korban, masih bertahan hingga saat ini.   Dia telah terbang dalam 1425 misi pertempuran udara sepanjang Oktober 1942 hingga Mei 1945 dan ia termasuk sembilan penerbang yang mendapatkan penghargaan tertinggi dari pemerintah Jerman.   Di Jerman, dia dikenal dengan julukan “Ksatria Pirang”, namun bagi penerbang musuh dia dijuluki “Si Setan Hitam,” karena hidung pesawatnya dicat hitam berpola bunga tulip.   Selama terbang, Hartmann menggunakan nama panggilan “Karaya 1”, jika diterjemahkan berarti  “Kekasihku No. 1”, untuk menunjukkan kecintaannya yang mendalam terhadap pacarnya.   Teman-temannya sendiri sering memanggilnya “Bubi”, karena wajahnya yang baby face.

Erich Hartmann lahir di Weissach, dekat Stuttgart, pada tanggal 19 April 1922.   Ayahnya adalah seorang Doktor fisika bernama Dr. Alfred Erich Hartmann.   Sejak umur 14 tahun Erich sudah mulai belajar terbang dari ibunya yang penerbang pesawat layang.   Erich sebenarnya bercita-cita menjadi seorang Doktor seperti ayah dan kakaknya, namun perang telah merubah jalan hidupnya.   Di awal PD II, nama-nama harum penerbang tempur Jerman seperti Adolf Galland dan Werner Molder telah menjadi semerbak dan menjadi idola anak-anak muda Jerman, termasuk Erich yang telah memiliki lisensi penerbang sebelumnya.   Pada bulan Oktober 1940, Erich bergabung dengan Luftwaffe.  Sampai pertengahan tahun 1942, Erich masih berada di garis belakang dan terbang dengan pesawat Bf-109, pesawat yang kemudian membawanya ke puncak kejayaan karier.

Pada bulan Oktober 1942, Erich bergabung dengan satuan JG 52 yang bertempur di pedalaman Soviet.   Di tempat ini Erich mulai terbang dengan penerbang besar seperti Gunther Rall (275 pesawat korban) dan Walter Krupinski (197 pesawat korban).   Dalam setiap patroli terbang tempur, Erich berada di bawah pimpinan Krupinski.   Erich juga mendapatkan teman penerbang tangguh lainnya yaitu Gerhard Barkhorn (301 pesawat korban).  Satuan tempur JG 52 sampai saat ini masih memegang rekor dalam jumlah pesawat korban yang berhasil dijatuhkan.   Bayangkan, dalam masa empat tahun perang, satuan ini mampu menembak jatuh 10.000 pesawat korban.

Erich berhasil menembak jatuh pesawat musuh untuk pertama kali pada tanggal 5 Nopember 1942.   Namun, si “baby face” ini perlu waktu dua bulan untuk berhasil menembak korban keduanya.  Mengapa  ?   Erich ternyata masih terlalu ngeri dengan pertempuran, sehingga sering menembak dari jarak yang terlalu jauh.  Sehingga sang leader, Krupinski, sering berteriak  “Get closer Buby,”  yang selalu terngiang-ngiang di telinganya kemudian.  Mengapa  ?  Karena setelah itu kengerian Erich sirna, dan puluhan pesawat korban pun berjatuhan kerena semburan tembakan yang dilakukannya dari jarak yang dekat.  

Pada tanggal 17 Agustus 1943, korban Erich telah menyamai rekor Red Baron di PD I yaitu 80 pesawat. Tiga hari kemudian Erich menambah 10 korban, namun naas hampir menghancurkan kariernya.   Pesawatnya tertembak oleh serangan dari darat.   Erich tertangkap tentara musuh untuk pertama kali.   Kondisi kesehatan Erich yang sangat memburuk saat ditangkap membuat tentara Soviet lengah.   Erich melarikan diri dan berhasil masuk kembali ke Jerman.   Erich mengudara lagi setelah kesehatannya pulih.  Dan pada tanggal 29 Oktober 1943, jumlah korbannya telah meningkat menjadi 150 pesawat korban dan bertambah banyak lagi setelah itu.

Pada awal tahun 1945, Erich sebenarnya telah ditarik pulang oleh Jendral Adolf Galland untuk bergabung dengan satuan elit dengan pesawat jet Messerschmitt Me-262, JV 44.    Erich sempat bergabung namun hanya sebentar.  Erich merasa tidak betah berada di garis belakang dan ingin kembali ke garis depan kembali bersama JG 52.   Erich merasa langkah itulah yang paling tepat, walaupun rekornya sebagai nomor satu di dunia telah tercapai saat itu.   Namun beberapa bulan kemudian hal itu justru menjadi kenyataan paling menyakitkan dalam hidupnya.   Bulan April 1945, angka korbannya telah menjadi 351.  Namun di awal bulan Mei, seluruh kekuatan Jerman mulai ditarik dan JG 52 adalah kekuatan terakhir yang tetap bertempur di garis depan.   Tanggal 8 Mei, Erich terbang dalam misi pengintaian untuk mengetahui jarak pasukan Soviet dari pangkalan JG 52 berada.   Saat terbang, Erich berhasil menembak jatuh sebuah pesawat Soviet, korban ke-352-nya (terakhir). Pesawat Erich berhasil mendarat kembali ke pangkalan,namun ia mendapatkan informasi bahwa perang ternyata sudah usai.   Nah, sebagai komandan, Erich memutuskan untuk menyerahkan diri kepada Amerika yang menurutnya akan lebih beradab daripada Inggris.  Erich memutuskan untuk tinggal di pangkalan itu dan menunggu kedatangan tentara Amerika, karena Jerman telah dipenuhi tentara Inggris.   Malang tak bisa ditolak, wilayah itu ternyata telah ditentukan sebagai bagian pendudukan Soviet, bukan Amerika.   Erich Hartmann, penerbang tempur yang terkenal itu akhirnya ditawan oleh pasukan Soviet yang kejam.   Andaikan ia tidak lagi ke garis depan, pastilah nasibnya tidak seperti ini.

Hartmann bersama tawanan lain, dibawa pergi lebih jauh lagi ke pedalaman Soviet, menjalani kerja paksa di kamp dekat Gryazovets.   Saat putranya lahir pada tanggan 21 Mei 1946, Erich sedang berada di gerobak truk dan melewati padang rumput Soviet yang gersang.   Pada tahun 1947, Erich bahkan divonis sebagai penjahat perang dan divonis 25 tahun kerja paksa. Ia tak sekalipun menerima surat, bahkan tidak pernah tahu wajah putranya yang terlahir tahun 1945 dan meninggal di usia 2 tahun, juga ayahnya yang meninggal pada tahun 1952.  Kecermelangan kariernya telah sirna.   Selama di tahanan ia diperlakukan dengan kejam oleh polisi rahasia Soviet.  

Pada tahun 1953, Erich dibebaskan sebagai bagian dari upaya perbaikan hubungan antara Jerman Barat dan Soviet.   Erich bertemu kembali dengan teman-teman dan keluarganya.   Para petinggi AU Jerman Barat seperti Barkhon, Krupinski, dan Rall, yang juga mantan sahabatnya di masa PD II mengundangnya untuk bergabung.   Erich bisa terbang kembali dan menjabat komandan Wing Tempur JG 51 dengan kekuatan pesawat F-104 Starfighter.   Wing tempur ini menjadi satuan paling top semasa kepemimpinan Erich.   Sayangnya, meniti karier di masa damai memiliki seni yang jauh berbeda dengan di masa perang.   Erich yang tidak memiliki kemampuan berpolitik banyak menemui masalah dengan kariernya.   Jasa-jasanya semasa perang telah dilupakan oleh AU Jerman Barat, bahkan oleh teman-temannya.  Kariernya tak pernah mencapai puncak. Sehingga Erich memutuskan untuk pensiun dini dan bekerja untuk perusahaan penerbangan sipil.   Erich meninggal pada tahun 1993.

Hebat Di Cockpit, Gagal di Darat

 “Manusia belajar terbang seperti burung-burung, dan belajar berenang laksana ikan, namun mereka banyak gagal hidup di bumi sebagai manusia.”

Dalam sejarah perang, banyak pahlawan telah muncul dari garis depan.   Namun demikian hidup sebagai mantan pahlawan ternyata tak semudah yang kita bayangkan.   Justru banyak orang yang gagal hidup setelah dia menyandang predikat pahlawan.   Kita bisa temukan orang-orang seperti Hitler, Mussolini, Khadafi, Fidel Castro, Soekarno, sampai Soeharto.   Mereka telah menyandang predikat pahlawan di separoh perjalanan hidupnya.   Namun di separoh hidupnya yang kemudian, mereka justru banyak mendapatkan masalah besar bahkan dihujat orang banyak.   Jasa-jasa mereka sebelumnya seperti sudah tidak ada harganya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: