Beranda » Kedirgantaraan » Rudal Udara dan Penangkalnya

Rudal Udara dan Penangkalnya

           Hingga era 60-an, para pakar air power masih terlena, karena lebih memfokuskan ide air superiority pada penciptaan kemampuan manuver dan daya serang pesawat.  Tak heran pada saat perang udara terjadi, begitu banyak pesawat berjatuhan akibat lemahnya perangkat pertahanannya.  Bahkan teknologi radar yang berkembang sejak tahun 1941, desainnya terlanjur identik sebagai alat menyerang (intercept radar), terletak di moncong pesawat dan hanya mampu mendeteksi benda-benda yang ada di arah depan.  Area lainya yang tidak dapat dijangkau radar –belakang, atas, bawah, samping – akhirnya menjadi neraka yang mematikan, apalagi setelah diciptakan jenis rudal canggih yang dilepaskan beyond visual range, yang semakin sulit terdeteksi oleh intercept radar.   
            Perubahan mulai terjadi tahun 60-an, saat pesawat-pesawat bomber AU dan AL AS harus menghadapi sistem hanud Vietnam Utara.  Walaupun radar tetap menjadi sistem utama, namun pesawat-pesawat AS harus dilengkapi sistem penangkal rudal.  Maka lahirlah penangkal rudal generasi pertama yaitu warning receiver dan defensif jammer.   Gelontoran rudal darat ke udara (SAM) yang dipandu sistem radar terbaru Rusia dan besarnya kekuatan udara AS, menjadikan perang Vietnam sebagai “perang elektronika” terlama dalam sejarah perang.  Kekuatan pesawat AU AS yang sudah dilengkapi RWR dan jammer  saat itu adalah EB-66, F-100F dan F-105G, sedangkan dari AL AS adalah EA-6A, EA-6B, A-6B, dan F-4F.   Jammer yang digunakan adalah ALQ-75, 77 dan 87 (AU) dan ALQ-76 dan 81 (AL), sedangkan RWR yang digunakan adalah APR-25 dan ALR-46.   Inilah kemudian dinamakan sebagai perangkat perang elektronis (Electronic Warfare – EW), yang bermakna harfiah sebagai penggunaan energi elektromagnetik untuk menentukan, mengeksploitasi, mengurangi atau mencegah penggunaan spektrum gelombang elektromagnetis lawan.   EW dibagi dalam dua kelompok, yaitu Warning Receiver dan ECM (Electronic Counter Measure).
 
Penangkal Pasif  “Warning Receiver “
           Warning receiver  paling populer dan dipakai secara luas di semua jenis pesawat ataupun helikopter militer adalah Radar Warning Receiver (RWR).  Prinsip kerjanya berlawanan dengan radar.   Jika radar pesawat memancarkan gelombang radar ke arah depan, maka RWR berfungsi sebagai penangkap gelombang radar dari arah manapun yang mengarah ke pesawat.  RWR dapat mendeteksi pancaran radar yang datang dari segala arah karena antenanya dipasang di 4 posisi, yaitu 2 di kiri-kanan moncong pesawat dan 2 di kiri-kanan bagian ekor.
           Bagaimana hanya dengan menangkap pancaran radar, menjadikan RWR sebagai penangkal rudal yang handal?   Ini tak lepas dari penggunaan radar pesawat, kapal atau baterai rudal, sebagai perangkat utama untuk memandu rudal udara.  Kinerja sistem rudal udara yang meluncur ke sasaran udara – baik rudal permukaan ke udara (SAM) maupun udara ke udara (AAM) – pada dasarnya relatif sama, yaitu radar pesawat, kapal, atau baterai SAM akan mencari target (searching), mengambil data jarak, ketinggian dan posisi sudut dari target terpilih (acquire/track), mengunci (lock on)  lalu rudal ditembakkan (launch).   Kinerja rudal udara biasanya dibedakan berdasarkan sistem penjejak yang digunakan. Nah, saat pancaran radar terdeteksi antena RWR, prosesor RWR melaksanakan komparasi antara pancaran radar yang ditangkap dan dicocokkan data radar dalam bank data (library) RWR.   RWR harus diisi data radar pesawat, kapal, baterai SAM atau rudal yang digunakan di seluruh dunia, agar saat menangkap pancaran radar, monitor langsung menampilkan nama sumber radar sesuai bank data.   Library akan mengkomparasi jenis radar, sehingga penerbang dapat menyimpulkan “friend, enemy or unknown”.    Bila RWR tidak memiliki data radar yang lengkap maka monitor hanya menampilkan target yang tidak diketahui (unknown target).    Permasalahan paling serius bagi pemakai jasa RWR adalah mahalnya harga yang dipatok produsen RWR untuk mengisi dan meng-update bank data radar.   
           Hingga kini RWR pun belum dapat melokalisasi posisi lawan atau menampilkan posisi sumber pancaran radar secara presisi. Jarak yang ditampilkan hanyalah jarak relatif yang didapatkan dari kuat-lemahnya pancaran.   Sehingga pancaran yang lebih kuat diasumsikan berada dari sumber yang berposisi lebih dekat.    RWR dapat mengenali bahwa pesawat sedang di-lock on atau tidak oleh sebuah rudal, berdasarkan intensitas pancaran radar lawan.   Saat radar kondisi tidak me-lock on sebuah target (searching),  intensitas pancaran yang diterima masih lemah.    Saat radar sudah lock on maka sudut radar sudah mengunci dan secara terus-menerus mengarah ke target dalam intensitas tinggi untuk menuntun rudal.  Nah, intensitas pancaran yang terus-menerus dan lebih besar inilah yang menyalakan alarm “lock on missile” pada RWR.  Pengkodean Pentagon terhadap RWR adalah ALR (A = piloted Aircraft, L = Countermeasure, R = Receiver), misalnya ALR-69 untuk pesawat F-16, ALR-91 untuk pesawat F-5, ALR-67 untuk pesawat F-18 dan sebagainya.   Sedangkan Rusia menggunakan RWR berkode SPO, seperti SPO-15 Beroza untuk pesawat MiG-29, SPO-29 Pastel untuk pesawat Su-27 dan SPO-32 Pastel untuk pesawat Su-30/32.
            Selain RWR, pabrikan juga memproduksi jenis warning receiver  yang tidak berbasis radar yaitu Missile Approach Warning (MAW) dan Laser Warning System (LWS).   Apabila yang ditembakkan adalah rudal “fire and forget” yang dilengkapi sistem penjejak radar independen (active homing) atau rudal berpenjejak radar receiver yang mengarah ke target berdasar pantulan radar yang mengenai target (semi active homing), maka RWR dapat menampilkan posisi relatif pesawat serta pergerakan rudal yang telah lepas dari pesawat/kapal/baterai.  Namun, saat yang ditembakkan adalah rudal berpenjejak inframerah (AIM-9) atau laser,  maka monitor RWR hanya mampu menampilkan posisi peluncur rudal dan tidak menampilkan pergerakan rudal, karena rudal berpenjejak inframerah atau laser tidak memancarkan gelombang radar.   Akibatnya saat rudal melesat, RWR akan buta.   Untuk itulah gunanya MAW dan LWS dipasang, agar rudal-rudal berpenjejak inframerah atau laser dapat dimonitor oleh penerbang.   MAW lebih populer dibanding LWS.  Pentagon menggunakan kode standar AAR untuk MAW, misalnya armada C-130 dan C-17 USAF menggunakan AAR-47, AC/AMC-130 dan sepuluh jenis pesawat lainnya menggunakan AAR-54 Northrop Grumman dan Su-30MKM Malaysia menggunakan jenis MAW-300 SAAB.  
 
Penangkal Aktif  “ECM”
            Electronic Counter Measure (ECM) merupakan perangkat perang elektronik yang bekerja aktif untuk menipu atau mengelabui deteksi radar, sonar, infrared dan laser.  ECM pertama kali digunakan pada PD I, digunakan untuk mengganggu dan menyadap frekuensi radio komunikasi.   Sejak PD II, kegiatan ECM mulai berkembang pada kegiatan jamming dan spoofing radar serta sinyal navigasi, yang berlanjut hingga kini.  ECM pun dapat digunakan untuk menyerang maupun bertahan, dalam berbagai metode melawan sebuah target. 
              ECM yang paling populer digunakan pada pesawat adalah “Radar ECM”, yakni ECM untuk menangkal kinerja radar lawan yang dilaksanakan dengan cara mengenterferensi pancaran radar, modifikasi target dan mengubah kinerja perangkat elektromagnetis di udara.  Teknik menginterferensi target terdiri dari jamming dan deception (pengelabuan).   Modifikasi target dilakukan dengan menyerap pancaran radar, serta memodifikasi bentuk permukaan dengan desain pesawat siluman (stealth) atau mengkacaukan pantulan radar dengan alat decoy. Pengubahan perangkat elektromagnetis di udara dilaksanakan dengan menyebarkan logam-logam kecil (chaff)  atau gumpalan sinar inframerah (flare) untuk menipu penjejak rudal.
          Jamming dilaksanakan dengan cara noise jamming dan deception jamming.    Noise jamming dilaksanakan dengan memancarkan suara elektronis yang menyebabkan kacaunya pantulan radar (echo) sehingga gagal mendeteksi target.    Saat penerbang mengetahui radarnya sedang di-jamming biasanya ia akan mengubah frekuensi radar untuk melawan kinerja jammer, yang berikutnya disebut dengan Electronic Counter Countermeasure (ECCM).  Deception jamming tidak dilaksanakan dengan cara menyembunyikan keberadaan pesawat dari radar lawan seperti noise jamming,  namun dengan memancarkan sinyal radar mirip pantulan radar yang sebenarnya.   Macam dari deception jamming sangat beragam dan setiap jammer pod atau radar memiliki kemampuan yang berbeda-beda, namun secara umum dibedakan menjadi dua bagian besar yaitu pembuatan target palsu (false target generator) dan penangkal missile lock on (track breaker).
           Deception jamming dengan cara “false target generator” dilakukan untuk menangkal radar lawan yang sedang posisi scanning atau searching, dengan cara memancarkan pantulan radar palsu atau menunda pantulan yang sebenarnya, berikutnya menciptakan beberapa target palsu yang dapat membingungkan lawan.   Sulitnya teknik untuk menciptakan target palsu menyebabkan para penerbang sering menggabungkan teknik ini dengan teknik noise jamming.   Track breaker adalah teknik deception jamming yang paling banyak digunakan dan dikembangkan para penerbang, karena berfungsi untuk membebaskan diri dari missile lock on SAM, AAM, AAA lawan.   Saat pesawat target melancarkan serangan  “track breaker” maka pantulan radar penyerang akan dibungkus, digeser dari pesawat target dan akhirnya lepaslah kuncian rudal (break lock).   Apabila pesawat gagal melaksanakan “track breaker” dapat disimpulkan bahwa pancaran radar penyerang lebih kuat dibandingkan radar target, karena tidak bisa dibungkus atau dibelokkan.  Pengkodean Pentagon untuk perangkat ECM adalah ALQ, misalnya ALQ-126B sebagai jammer standar US Navy, ALQ-94 untuk pesawat F-111, ALQ-155 ALT-2B untuk pesawat B-52, ALQ-161 untuk pesawat B-1B dan sebagainya.  Rusia yang tak mau kalah,  menginstalasi tail radar untuk men-jamming serangan rudal.   Semua jenis jammer tersebut dapat diintegrasikan dengan RWR. 
           Bila teknik ECM dengan menciptakan pesawat berteknologi siluman masih terkendala biaya yang super mahal, maka teknik ECM terakhir yang cukup praktis dan lebih murah operasionalisasinya adalah mengubah kinerja gelombang elektromagnetik radar lawan dengan melepaskan chaff dan flare.   Chaff adalah semburan metal foil atau metal berselubung plastik yang dipotong kecil-kecil, sedangkan flare adalah semburan sinar inframerah.  Semburan chaff dan flare ke bagian belakang pesawat akan mengecoh rudal atau radar, dapat bekerja otomatis, bergantian maupun bersama-sama, berdasarkan kontrol sistem RWR.   Pengkodean Pentagon untuk perangkat ini adalah ALE (ALE = piloted Aircraft, Countermeasures, Ejection/release), misalnya ALE-39 untuk pesawat A-4, A-6, A-7, F-14 dan F-18.   

 
Siapa yang  jadi Juaranya?
          Di tengah meluasnya sikap anti perang dan resesi ekonomi yang  telah berdampak pada keengganan banyak negara untuk membeli pesawat tempur baru, maka program peningkatan kemampuan operasional pesawat yang masih laik pakai (Operational Capability Upgrade – OCU) semakin diminati.   Instalasi perangkat ECM terbaru menjadi pilihan paling tepat.    AU AS telah meningkatkan kemampuan RWR standar F-16, dari tipe lama ALR-69 (didesain 30 tahun lalu) menjadi ALR-69A (V), dimana harga per buahnya adalah 920.000 dollar AS.  AU Australia mengganti ALR-67 standar pesawat F-18 dengan tipe ALR-2002.  Su-27UB menambahkan perangkat tail radar warning untuk jamming rudal. Tidak berhenti sampai di sini, karena beberapa pabrikan pun mendesain sistem perangkat elektronis yang mampu mengendalikan kinerja penangkal rudal jenis RWR, MAW, jammer, chaff dan flare, secara terintegrasi dan otomatis.  
          Untuk menghadapi kokohnya perangkat penangkal rudal, mau tidak mau  pabrikan radar harus berinovasi.   Maka mereka pun menciptakan radar modulasi kecil yang dinamakan Low Probability Intercept Radar (LPIR) atau Active Electronically Scanned Array (AESA).  Selain berfungsi menyergap musuh, LPIR memiliki kemampuan jamming, sulit terdeteksi RWR dan sulit untuk di-jamming.  Beberapa LPIR  yang telah operasional adalah AN/APG-77 (F-22 Raptor), AN/APG-80 (F-16E/F blok 60), AN/APG-81 (F-35), AN/APG-63(V)2 dan AN/APG-63(V)3 (F-15C Eagle), APG-79 (F/A-18E/F Super Hornet), Erieye AEW&C dan Nora AESA (JAS 39 Gripen), Phazotron NIIR Zhuk-AE (MiG-35) dan sebagainya.
          Pabrikan Rusia punya opsi lain, karena teknologi radar Rusia telah menjadi masalah paling serius dan jauh tertinggal dibandingkan AS.   Rencana desan radar Su-27 dipatok mampu mengalahkan jangkauan radar APG-63 (pesawat F-15) yang mencapai 180 km.   Namun berlarut-larutnya proses perancangan dan tes, akhirnya hanya dapat melahirkan seri radar Tikhomirov (NIIR) N001, dengan kualitas prosesor yang belum selevel teknologi AS, sering menampilkan alarm palsu (false alarm) dan blind spot.   Sehingga pabrikan terus berupaya memodifikasinya sehingga lahir varian N001V, N001VE, N001VEP dan rencananya N001 seri LPIR.  
          Rendahnya kemampuan radar Rusia, sekaligus semakin canggihnya RWR dan perangkat ECM untuk melaksanakan jamming, menggiatkan ide lama yang sempat stagnan yaitu perangkat penjejak target udara berteknologi non radar, yaitu Infra-Red Search/Track (IRST).  Pada masa lalu, F-14 Tomcat pernah menggunakan IRST namun setelah tidak dioperasionalkan, maka pesawat AU AS yang diinstalasi dengan IRST adalah versi ekspor F-16, F-15K Korea Selatan dan F-15SG Strike Eagle.   Kini IRST mulai menjadi andalan pesawat MiG-29, Su-27/30 dan Typhoon.   Rencananya F/A-18 E/F Super Hornet blok II akan segera menyusul dipasang.   Penggunaan IRST akan meningkatkan kerahasiaan posisi pesawat yang melaksanakan tugas penyergapan, karena IRST (sebagaimana yang ditempatkan di moncong pesawat Su-27UB dan F-35) mencari dan me-lock on target berdasarkan deteksi panas (pesawat jet dan helikopter). Tidak seperti pada rudal AIM-9 yang hanya menjejak dari jarak pendek, maka IRST dapat menjejak sama jauhnya dengan intercept radar.  Kehebatannya, penggunaan IRST memungkinkan pesawat menembakkan rudal berpenjejak inframerah dan acive radar homing, dalam kondisi radar pesawat mati. 
          Lalu apalagi berikutnya? Teknologi terus berpacu dengan berbagai inovasi.  Teknik meluncurkan dan menangkal rudal menjadi beragam.  Hingga kini belum ada yang tahu siapa juara sejatinya.  Mungkin hanya Tuhan yang tahu, tapi Ia selalu sabar menunggu, untuk memberikan gelar itu pada mereka yang selalu tekun, sabar dan bekerja keras.

                                       (Pernah dimuat Majalah Angkasa ed. Maret 2009)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: