Beranda » Fenomena » Serangan Asteroid

Serangan Asteroid

Saya tidak tahu apakah saya boleh keluar ke dunia.  Karena saya sendiri masih merasa seperti anak kecil yang bermain di pantai.  Saya hanya berusaha merubah hobby, dengan mencari kerikil yang lebih halus atau kerang yang lain dari biasanya sambil melihat laut luas yang menyimpan kebenaran yang belum terungkap isinya sebelum saya.  (Saya dan rahasia semesta)

Beberapa waktu lalu ada sebuah film yang sempat menjadi sangat populer dikalangan masyarakat (tentunya mereka yang punya hobby nonton ya !).   Armageddon adalah judul film tersebut.   Sebuah film fantasi produksi Hollywood yang memberikan gambaran seram tentang masa depan bumi kita.  

Film itu diawali dengan sebuah kejadian yang tidak disengaja saat seorang ahli astronomi, atau bisa dikatakan seorang peneropong tua menemukan sebuah benda angkasa meluncur ke arah bumi dengan ukuran yang luar biasa.   Dan dunia pun dikejutkan ketika hujan kerikil besar menyerang beberapa bagian dunia.   Pada saat kerikil raksasa yang berkecepatan sangat tinggi tersebut jatuh di laut, maka ombak setinggi ratusan meter pun terjadi.   Gedung-gedung pun runtuh di sambar kerikil raksasa.   Polusi debu yang ditimbulkan oleh setiap ledakan mencapai ribuan hektar persegi.  

NASA pun dibuat bingung oleh benda-benda aneh tersebut.   Kebingungan NASA akan banyaknya batu raksasa yang berjatuhan di beberapa penjuru bumi itu terjawab saat si-peneropong tua memberitahukan kepada NASA tentang sebuah benda raksasa yang bergerak cepat dan terlihat dalam teropong bintangnya.  Sepertinya benda itu siap untuk menghunjam ke bumi.   Setelah koordinat si-batu raksasa didapatkan, maka seluruh teropong dan satelit pengamat ruang angkasa pun diarahkan ke sana.  

Setelah benda itu dapat dideteksi dan divisualisasikan ke bumi, maka gemparlah semua ahli antariksa NASA.   Karena batu-batu raksasa yang telah berjatuhan ke bumi lalu  menimbulkan gempa super besar dan ombak setinggi ratusan meter itu ternyata hanya serpihan dari induknya yang sebesar negara bagian Alaska.   Si batu induk yang ternyata meteor besar yang nyasar itu pun juga sedang bergerak untuk menghantam bumi.  

Dari ramalan para ahli NASA disimpulkan akan terjadi bencana besar di bumi. Bukan hanya benua Amerika yang hancur total, bahkan akibat besarnya ledakan yang diakibatkan akan mengakibatkan polusi yang menyebar di seluruh penjuru dunia dan berlangsung lama.   Bahkan pada saat itulah kiamat akan terjadi. 

Beberapa Jendral mengusulkan agar meteor itu ditembak dengan nuklir.  Ternyata usul itu tidak bisa di terima, mengingat terbatasnya jarak jangkau nuklir dan momen ledakan yang masih mengarah ke bumi sehingga akibat muncratan dari ledakan malah akan menyebar kemana-mana.  Dan sebuah usul yang masuk akal kemudian mulai dipersiapkan yaitu dengan mengirim orang ke badan meteor itu dan menanam nuklir didalamnya.   Nuklir akan meledakkan meteor sebelum batu raksasa itu masuk ke dalam atmosfer.   Lalu dibentuklah sebuah regu penyelamat dunia yang akan meledakkan meteor tersebut di luar angkasa.   Untuk menarik perhatian dan memuaskan selera penonton, maka para astronot itu pun berhasil meledakkan meteor dan menyelamatkan dunia dari kiamat.  Film Armageddon memang berhasil meraih sukses luar biasa.   Bahkan sempat menguras airmata yang menonton, ada juga yang melotot (ceweknya cakep-cakep sih !).  Namun sekarang kita bertanya dengan berdasar logika kita, mungkinkah hal ini menjadi benar adanya. Mungkin saja si sutradara ini banyak mendapat bocoran dari orang-orang NASA tentang beberapa fenomena ruang angkasa.   Mengapa ?   Karena ide dari film ini adalah sebuah kenyataan yang benar adanya (percaya atau tidak, marilah kita berdoa agar cerita di film itu tidak akan pernah terjadi).  

Saya sendiri sempat teringat kata-kata orang-orang bijak di kampung saya, Madiun.   Mereka mengatakan, “Nak, banyak berdoa…..mengaji, karena perjalanan waktu itu tidak terasa dan semakin lama semakin cepat saja rasanya…sekarang  setahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu….”.    Sebelumnya, kata-kata itu hanya seperti angin lalu, sampai saya menemukan sebuah buku tentang gerak dan relativitas.   Bukankah gerakan seluruh benda-benda di alam semesta ini menjadi teratur karena gaya gravitasi antar benda yang ada di alam semesta.   Jadi menurut saya, wajar bila terjadi perubahan dan variasi dari gaya gravitasi yang biasanya, sehingga membuat rotasi/revolusinya berubah semakin cepat.   Bahkan perubahan itu mungkin juga membuat sebuah meteor/planet lepas dari orbitnya.    

Kita mungkin sering melihat di malam hari, melihat garis menyala di malam hari.   Apabila sebuah meteor kecil bergerak masuk ke dalam atmosfer, maka akan terlihat seperti garis merah menyala tersebut.   Sebelum mencapai bumi biasanya si meteor itu sudah hancur di atmosfer.   Namun demikian, sebuah meteor di dekat bumi dengan ukuran yang lebih besar akan mampu menembus atmosfer dan menghantam bumi.  

Semua benda angkasa yang terletak di sekitar bumi inilah yang disebut dengan Near Earth Objects (NEO).   Akhir-akhir ini para ahli telah mengungkap bukti tentang sebuah asteroid yang paling sedikit berdiameter 1 mil (1,8 km).   Asteroid telah mampu menembus atmosfer dan menghantam lautan sebelah tenggara dari sebuah daerah yang sekarang disebut Kota Washington pada 35 juta tahun lalu.   Daerah bekas hantaman asteroid itu membentuk teluk Chesapeake.   Kalau peristiwa jatuhnya asteroid itu terjadi pada saat ini, maka pasti akan menimbulkan kehancuran di seluruh dunia.   Sehingga para ahli antariksa banyak memperingatkan akan terjadinya kehancuran total dari mahluk di bumi bila manusia tidak menyiapkan sebuah sistem pertahanan planet dari kehadiran NEO di bumi.  

Tulisan ini akan memberikan gambaran tentang ancaman NEO pada bumi kita dan tugas-tugas berat para antariksawan dalam mengamati keberadaan NEO.   Kalau beberapa waktu lalu orang hanya mengenal UFO, maka sekarang akan kita kenal sebuah benda luar angkasa yang akan menghantui ketentraman hidup manusia di bumi.  

Yang termasuk di dalam istilah NEO adalah semua obyek alam di luar angkasa (asteroid, komet, lintasan meteor) dalam berbagai jenis ukuran yang datang mendekat, lewat di orbit bumi, atau bahkan menghantam bumi.   Dalam 15 tahun terakhir, penelitian tentang NEO telah meningkat secara dramatis saat para astronom dan ahli geologi mengungkapkan kenyataan yang ada bahwa bumi kita ini sekedar bola bilyard yang berada dalam arena permainan alam semesta.   Dimasa lampau, bumi kita sudah terbiasa terhempas-hempas dalam pola pergerakan alam, dan demikian juga di masa yang akan datang.   

Kalau kita perhatikan di berbagai penjuru bumi ini, terdapat banyak tanda-tanda alam yang menunjukkan pernah terjadinya benturan yang sangat besar di masa lampau.   Kawah atau lekukan di atas bumi mungkin tidak bisa bertahan lama karena pengaruh cuaca dan erosi batuan.   Sehingga banyak yang sudah tertutup kembali menjadi tanah dataran.   Namun para ahli geologi telah menemukan beberapa kawah yang berumur sangat tua masih bisa diidentifikasi bentuknya.   Salah satu kesimpulan yang diambil oleh para ahli adalah bahwa sebuah NEO telah menghantam Quebec pada 214 juta tahun yang lalu.   Ledakannya menimbulkan permukaan bumi melesak ke bawah sebesar 100 km².   Lobang menganga itu kemudian disebut dengan Kawah Manicouagan.   70 juta tahun kemudian, NEO yang lain membuat kawah berdiameter 22 km²  di Australia Tengah.  

Bukti dari kejadian ini sering dihubungkan dengan musnahnya bangsa dinosaurus yang terjadi pada 65 juta tahun yang lalu karena adanya ledakan sebuah NEO yang berdiameter 10 km.   Ledakan tersebut telah menimbulkan kemusnahan seluruh mahluk hidup yang ada saat itu.   Polusi udara yang diakibatkan oleh debu ledakan itu malah diperkirakan menutupi bumi selama berbulan-bulan.   Dan tak satupun mahluk hidup termasuk dinosaurus yang tersisa.

Neo Menghancurkan 2000 km² Hutan Tunguska

Perihal tentang jatuhnya beberapa meteorit besar di masa lalu telah menjadi kajian yang menarik, apalagi dihubungkan dengan punahnya kawanan dinosaurus.   Maka benda antariksa di dekat bumi atau NEO-lah yang dianggap sebagai penyebab kiamat dimasa lalu tersebut.   Peristiwa tubrukan antara bumi dengan benda langit yang besar dan berakibat musnahnya kehidupan itu disebut para ahli dengan “K/T EVENT”, K/T adalah kependekan dari kilo ton.   Para ahli juga telah menemukan bukti tentang asteroid yang menghantam bumi dengan kekuatan yang sebanding 100.000.000.000 ton ledakan TNT.   Tempat ledakan itu telah membentuk sebuah kawah dengan lebar 180 km² di sepanjang pantai Yucatan Peninsula Mexico.   Bahkan Amerika Utara telah dikunjungi oleh NEO kira-kira 50.000 tahun yang lalu dan membentuk kawah meteor di Arizona.   Sampai hari ini telah ditemukan 140 bekas ledakan di bumi dan ratusan yang lain  dalam taraf penyelidikan.  

Planet kita sebenarnya bukan satu-satunya planet yang berada dalam bahaya tubrukan dengan benda langit lain.   Pada bulan Juli 1994, planet Jupiter telah dihantam juga oleh komet Shoemaker-Levy 9.   Komet tersebut bergerak terlalu dekat dengan planet yang yang diselubungi gas raksasa tersebut.   Komet tersebut mampu menembus lingkaran gas di Jupiter karena gaya gravitasi yang luar biasa besarnya di sana, lalu menghantam dan membuat beberapa kawah  di Jupiter.  

Para ahli yang memantau ledakan komet Shoemaker-Levy 9 tersebut merasa merinding juga melihat dahsyatnya akibat tubrukan itu.   Lalu mereka berandai-andai, bagaimana kalau si komet menghantam bumi.   Kemudian melalui komputer mulai digambarkan akibat ledakan bila tabrakan itu terjadi pada bumi.   Mau tahu hasilnya  ?   Sebuah kerusakan total dari mahluk hidup di bumi dan sebuah kawah sebesar benua Amerika.  

Hujan meteor di planet kita sering terjadi saat bumi melewati reruntuhan meteor yang berada di belakang dari orbit komet.   Reruntuhan meteor tersebut memiliki ukuran bervariasi, mulai dari diameter sentimeter sampai milimeter.   Walaupun tidak membahayakan kehidupan mahluk hidup di permukaan bumi, satelit dan stasiun luar angkasa mungkin akan terkena terjangan batu-batu ini, sehingga merusak susunan energi solar atau sensor optic yang dimiliki.  

Sebenarnya telah banyak Near-Earth Objects (NEO) yang mencapai permukaan bumi.   Dari tahun 1975 sampai 1992, satelit pendeteksi ledakan nuklir luar angkasa telah mencatat 136 ledakan di atmosfer dalam ukuran megaton dari ledakan bom TNT. 

NEO juga tidak harus mencapai permukaan bumi untuk memusnahkan kehidupan planet kita.   Salah satu contohnya adalah peristiwa di Tunguska, Siberia pada tahun 1908.   Berdasarkan pemelitian para ahli, sebuah asteroid atau komet telah meledak di atmosfer dekat Tunguska.   Tidak ada bekas tabrakan di permukaan bumi, dan tidak ada kawah meteor.   Namun akibat ledakan NEO di atmosfer itu telah menghasilkan energi gelombang yang memusnahkan hutan seluas 2000 km².   

Untuk itu marilah kita simak kembali peristiwa yang sudah terjadi di awal abad 20 ini, yang mana saat itu Wright bersaudara pun baru memulai tehnologi penerbangan dengan sebuah pesawat yang hanya melayang secepat larinya sepeda motor. 

Berdasarkan keterangan para saksi mata, pada malam itu tanggal 30 Juni 1908, telah terjadi ledakan dahsyat di daerah hutan lebat di dekat sungai Podka-Mennaya Tunguska, Siberia Rusia.   Ledakan itu berupa debu raksasa berbentuk cendawan yang membumbung tinggi di langit sampai 85 kilometer.    

Seluruh Eropa menjadi terang benderang pada saat itu.   Seluruh pepohonan di hutan perawan itu musnah hangus.   Getaran gelombang ledakan itu bisa dirasakan sampai 650 kilometer. Wilayah Asia Barat pun setelah itu menemui hal yang ganjil saat hujan turun dengan air yang berwarna kehitaman.  Namun yang mengherankan dari peristiwa Tunguska adalah tidak satupun jatuh korban jiwa.  

Para ahli luar angkasa dan ahli geologi bekerja jeras untuk menemukan jawaban yang pasti dari peristiwa ini.   Sayang pada saat itu belum ada satelit yang mengamati ledakan energi nuklir di atmosfer seperti sekarang.   Sehingga penyelidikan yang dilaksanakan hanya berdasar bukti yang ditemukan setelah kejadian.   Namun para ahli telah memiliki dugaan yang kuat bahwa peristiwa ini disebabkan oleh NEO yang sedang berusaha menghunjam ke bumi namun meledak di atmosfer.  

Memang ada sebuah kebetulan, jika pada hari itu juga sebuah komet Encke sedang melintas di dekat bumi.   Di perkirakan pecahan meteor terlempar di atmosfer bumi.   Ledakan itu sendiri diperkirakan sebesar 1500 kali ledakan bom nuklir yang dijatuhkan di Hirosyima pada tahun 1945.  

Kita pasti akan merinding jika mendengar pengakuan salah satu saksi mata bernama SB Semenov, seorang petani yang tinggal di daerah Sanovara.   Jarak daerah ini dengan Tunguska adalah 60 kilometer.   Menurutnya efek dari ledakan di Tunguska hampir membakar baju yang dipakainya.   “Pada malam itu saya sedang berada di beranda rumah.   Sebelum ledakan terjadi, saya melihat benda seperti bola api raksasa meluncur ke arah hutan Tunguska dan terjadilah ledakan.   Saya sampai terlempar beberapa kaki.   Rumah bergetar, memecah kaca jendela, dan merusak gudang”, demikian kesaksian Semenov.  

Sehingga beberapa peneliti berandai-andai bagaimana kalau si-NEO itu masuk lagi ke atmosfer Tunguska sekarang ini.   Maka Moskwo pun akan rata dengan tanah terkena kekuatan yang dahsyat itu.  

Pada tahun 1992, sebuah asteroid yang berharga, dengan sinarnya yang terang terlihat dalam kegelapan malam di langit Peekskill, New York.     Kebetulan juga saat itu sedang diadakan pertandingan sepakbola antar SMU, sehingga peristiwa melintasnya asteroid tersebut berhasil terjepret salah satu kamera yang digunakan untuk dokumentasi pertandingan itu. Salah satu pecahan asteroid sampai di permukaan dan merusak sebuah mobil. 

Area pusat ledakan di Tunguska adalah 2 kali lebih besar dari kota New York, dan 3 kali lebih besar dari kota Washington.   Kita pantas bersyukur karena tidak semua NEO yang berdekatan dengan bumi menimbulkan malapetaka bagi kehidupan kita.   Tetapi dari ilustrasi yang didapat, kita jadi mengerti bahwa planet kita tidak terbebas dari gerakan benda-benda di luar angkasa yang punya daya perusak yang tinggi bagi kehidupan di bumi.  

Dalam sebuah pengamatan di tahun 1972, telah tertangkap dalam kamera video sebuah asteroid menggores atmosfer bumi seperti kilatan cahaya di dekat pegunungan Grand Teton di Wyoming Amerika, namun meluncur kembali ke luar angkasa.   Pada tahun 1989, para ahli astronomi menemukan sebuah lintasan asteroid yang di beri label 1989FC pada saat berada pada posisi terdekatnya dengan bumi.    Hal ini tentunya memberikan sebuah ilustrasi yang mengerikan bagi kenyamanan bumi kita, karena suatu saat, si asteroid bisa saja melintas dengan posisi yang semakin mendekat ke atmosfer bumi.  

Pada jaman sekarang, hanya ahli astronomi yang telah berdebar-debar merasakan bahaya dahsyat yang siap menngancam bumi.   Mereka telah mengamati dan berusaha mencari lokasi dan jalur lintasan NEO.   Ternyata hasilnya cukup mengerikan !    Mengapa  ?   Seperti di awal tulisan saya….ternyata bumi kita ini hanyalah bola bilyard yang setiap saat, siap untuk disodok.

Si Neo Akan Kembali Dalam 100 Tahun

Setelah diadakan pengamatan yang dilakukan oleh para ahli astronomi.   Maka didapatkan hasil yang mencengangkan.   Sampai akhir tahun 1992, sejumlah 163 benda langit yang berada di dekat bumi (NEO) telah dideteksi dan di masukkan katalog.   Dari deteksi yang didapat, hanya 5% dari 2000 sampai 5000 NEO yang berdiameter lebih dari 1 kilometer.   Para ilmuwan yakin bahwa peristiwa Tunguska akan terjadi setiap abad dan “kiloton event”, yaitu tabrakan yang maha besar dan menghancurkan peri kehidupan di bumi akan mempunyai siklus 25 sampai 26 juta tahun.   Kesimpulan ini diperoleh berdasarkan penelitian pada kepadatan bekas ledakan pada kawah-kawah di bulan.    Simaklah grafik 1, tentang “average impact interval versus size”.   Equivalent yield adalah produksi ledakan dari tabrakan bumi dan NEO dalam satuan mega ton ledakan TNT.   Perhitungan ini didasarkan pada sebuah NEO dengan kepadatan 3 gram/centimeter  (CM³) dengan kecepatan 20 kilometer/detik (km/sec).   Sedangkan bagian kelabu pada sebelah kiri grafik menggambarkan ukuran NEO yang akan terbakar atau meledak di atmosfer.   Seperti ledakan di di Tunguska, dia meledak di ambang atmosfer.    Sedikit saja lolos, maka batuan padat itu akan menghantam bumi.   Di grafik tersebut juga ada istilah ukuran global consequences yang terletak setelah ukuran 1 kilometer.   Bila NEO yang mempunyai ukuran diatas 1 kilometer menghantam bumi maka akan mengakibatkan kerusakan global.   Itulah mengapa dinamakan global consequences.   Diperkirakan akan membunuh 25% dari semua populasi penduduk di dunia bila NEO berdiameter 1 Kilometer lolos ke permukaan bumi.   Mengapa efek yang ditimbulkan menjadi begitu besar  ? Ini dikarenakan efek tidak langsung yang dihasilkan oleh ledakan itu ternyata mematikan juga.    Tabrakan langsung menghasilkan gempa dan kebakaran, sementara NEO yang menhantam di lautan akan menghasilkan gelombang Tsunami setinggi ratusan meter bahkan pusaran air raksasa disertai badai topan yang memuncratkan air di angkasa.   Sehingga iklim di seluruh dunia pun bisa berubah.   Ledakan tersebut, baik yang ada di daratan ataupun di lautan mempunyai akan mempengaruhi munculnya musim dingin secara menyeluruh di bumi.  Sedangkan ledakan di udara berbahaya karena besarnya jumlah abu dan debu yang ada di atmosfer, menghalangi sinar matahari dan tumbuhan yang berfotosintesis akan mati, karena tidak adanya sinar matahari.   Tanah pertanian akan mati dan kelaparan di dunia akan terjadi.   Suhu di permukaan bumi pun menjadi tidak menentu.

Bagaimana perbandingan kematian karena asteroid bisa mencapai angka 1 dalam 25.000  ?   Para ahli memperkiraan ada siklus 500.000 tahunan tabrakan “kiamat” antara asteroid besar dan bumi.   Jika perbandingan tabrakan pada setiap tahun adalah 1 dalam 500.000. dan 25% penduduk bumi meninggal dalam setiap tabrakan, maka resiko kematian dalam setiap tabrakan adalah 1 dibanding 4.   Padahal peristiwa K/T EVENT itu hanya terjadi dalam siklus 500.000 tahunan, sehingga resiko kematian dalam setahun adalah 1 dalam 2.000.000.   Apabila usia manusia dirata-rata hanya sampai 75 tahun, maka resiko kematian karena asteroid adalah 1 dibanding 25.000.    Perbandingan ini adalah suatu realita yang mungkin kita hadapi.  

Memang kalau kita melihat perbandingan tersebut, sangat kecil sekali terjadi serbuan NEO ke bumi.   Namun sekali saja NEO yang berdiameter diatas 1 kilometer mampir ke permukaan bumi, maka kehancuran bumi secara total yang akan didapat.  

Membangun Pertambangan NEO

Masalah eksplorasi luar angkasa, kita patut berterima kasih kepada negara-negara maju seperti Amerika yang telah menyisihkan sedikit anggarannya untuk pengamatan Near Earth Objects (NEO).  Mulai dari mempelopori tehnologi luar angkasa sehinga kita pun iut numpang pesawat untuk meluncurkan satelit yang kita beli dari negara itu juga, sampai usaha penelitian yang lain di planet lain. Pada tahun 1990. American Institut of Aeronautics and Astronautics (AIAA) mengumumkan hasil penyelidikan tentang ancaman dan posisi NEO setelah Asteroid Apollo 1989FC menempati posisi terdekat dengan bumi.   Hasil yang didapatkan telah memberikan gambaran bahwa benda itu semakin lama akan semakin mendekat dengan bumi.   Konggres Amerika kemudian menerima laporan tersebut dan pada tahun 1991 memerintahkan National Aeronautics and Space Administration (NASA) untuk melakukan laboratorium pendeteksian NEO.   Komite khusus tentang masalah luar angkasa Gedung Putih lalu menerima laporan juga dan mengadakan dengar pendapat tentang ancaman asteroid raksasa dan NEO lainnya yang meng-orbit disekitar bumi pada tanggal 24 Maret 1993.  

Dan yang menjadi hal lucu  adalah pada hari itu juga komet raksasa Shoemaker-Levy 9 menampakkan diri dan menghantam planet Jupiter.   Sehubungan dengan hal ini, maka konggres memerintahan NASA untuk membangun sebuah program dan menghitung anggaran yang dibutuhkan untuk mendata NEO selama 10 tahun kedepan.  

Laporan NASA tentang semakin gentingnya ancaman NEO akhirnya ikut mempengaruhi dunia internasional dan US Air Force.   Karena NASA sendiri walaupun sudah diperintahkan untuk mengkalkulasi biaya yang dibutuhkan, NASA belum punya rencana tambahan dalam penyelidikan NEO.    Belum pasti apa yang harus dilakukan oleh NASA dan umat manusia bila NEO itu benar-benar mampir di permukaan bumi.  

US Air Force sebenarnya telah banyak mengadakan kajian tentang ancaman NEO.   Para petinggi militer di Amerika bahkan sudah banyak yang memunculkan sebuah rencana masa depan tentang “Planetary Defense”, sebuah sistem pertahanan planet kita untuk menghadapi NEO.   Pada tahun 1997, Kepala Staf US Air Force telah memerintahkan pembuatan sebuah kajian tentang sistem pertahanan planet tersebut. Kajian tentang sistem pertahanan ini dilakukan oleh Air Space Space Command.

Beberapa ahli luar angkasa sebenarnya telah mempunyai gambaran tentang  sistem pertahanan tersebut.   Tentunya yang menjadi inti tujuan adalah bagaimana untuk mengurangi efek dari tabrakan antara bumi dan benda langit lain.  

Beberapa hal yang dianggap paling penting oleh para ilmuwan dalam menghadapi masalah NEO adalah sebagai berikut; pertama, koordinasi yang sistematis untuk mengontrol atmosfer/langit.   Banyak sekali lembaga ataupun ahli astronomi di seluruh dunia yang mengadakan pengamatan terhadap benda-benda di langit.   Namun tanpa adanya saling tukar menukar informasi dan kerjasama, akan sulit untuk mendapatkan kesimpulan yang baik.   Amerika sekarang sedang mengharap pada kemajuan sistem deteksi luar angkasa yang dikembangkan US Air Force untuk membantu mengamati NEO.   Kedua adalah penyesuaian jenis/obyek pendeteksian yang diperlukan.    Tentunya tidak semua benda langit harus dideteksi secara terus menerus (berapa biayanya  ?).   Maka sekarang sedang dipilah-pilah mana NEO yang mendapatkan prioritas deteksi, berapa ukurannya, orbitnya, dan kapan muncul di dekat bumi.   Ketiga, diperlukan ilmu pengetahuan yang baik untuk menganalisa kharakteristik material NEO.   Karena dengan mengetahui material tersebut bisa diketahui apakah benda itu akan menimbulkan kerusakan pada mahluk hidup atau dengan bahan apa si-NEO dapat dilawan.   Untuk itu diperlukan peralatan untuk melakukan pengetesan material NEO.   Perlu juga diselidiki apakah orbit dari benda-benda angkasa itu bisa dibelokkan menjauh dari bumi.   Mungkin para pembaca masih ingat perjuangan Bruce Willis dalam film Armageddon untuk menghentikan laju asteroid yang akan menghantam bumi.  Diciptakan kendaraan ruang angkasa yang kuat lalu mereka diluncurkan di asteroid untuk mengebor batu itu.   Asteroid itu harus diledakkan sebelum mencapai atmosfer bumi.  Bila asteroid telah melewati atmosfer maka akan percuma juga diledakkan karena efek dari ledakan itu tetap akan menghunjam ke permukaan bumi.  Maka diledakkanlah asteroid itu di luar atmosfer dengan menanam nuklir didalam perut asteroid.   Nah, kemungkinan-kemungkinan yang akan digunakan untuk membelokkan orbit asteroid inilah yang harus benar-benar di selidiki.   Keempat adalah eksplorasi pada NEO.   Sehingga bisa disurvey bagaimana posisi orbit NEO dan mengetahui bagaimana cara menghancurkan atau membelokkan asteroid itu.    Dengan mengadakan eksplorasi dan mengirim orang ke NEO maka akan didapatkan informasi yang baik untuk membentuk sistem pertahanan bumi melawan NEO.  Tak seorangpun tahu sekarang dengan apa NEO harus dilawan atau diledakkan di luar angkasa. Kelima adalah konsep operasi.   Mungkin NEO hanya bisa diatasi dengan penghancuran dan pembelokan.  Untuk melakukan itu semua tentunya diperlukan konsep operasi/uji coba yang baik sebelum dipraktekkan dalam kondisi yang sebenarnya.    Keenam adalah saran yang melegakan bagi umat manusia namun masih “berandai-andai”, yaitu mengambil manfaat dari NEO.   Para ahli mengandaikan si-NEO dapat ditangkap dan dimanfaatkan bahan-bahan yang terkandung di dalamnya.   Bahkan para ahli membayangkan sebuah pertambangan di luar angkasa (lucu ya ?).   Tidak ada yang tidak mungkin khan.  Tapi jangan bermimpi dulu, si-NEO ini nggak mampir saja sudah bersyukur lho. Ketujuh adalah sistem peringatan pada seluruh manusia di bumi tentang bahaya NEO.  Amerika sendiri telah memiliki satelit pendeteksi ledakan nuklir di atmosfer, namun hanya mengamati saja.   Bila si-NEO nakal itu lolos dari atmosfer, kita semua pun hanya sanggup menyaksikan tanpa ada perlawanan.   Mengapa ? Karena belum ada satupun negara di dunia ini yang menyisihkan anggaran negaranya untuk membuat sebuah sistem pertahanan melawan NEO (AS baru membuat rancangan).   Mungkin perhatian negara-negara di dunia yang masih sibuk dengan perang antar negara harus berubah.   Dan isu akan datangnya NEO ini siapa tahu bisa meredakan ketegangan negara-negara yang sedang mengalami konflik.   Dengan memfokuskan perhatian pada masalah NEO, akan banyak manfaat yang diambil.   Dana untuk riset akan bertambah besar, Angkatan Bersenjata akan bersatu melakukan pengkajian tentang sistem pertahanan terbaik untuk melindungi kehidupan manusia di bumi.   Air Force Space Command (AFSC) sebagai satuan di bawah US Air Force telah menghabiskan 100 juta dollar untuk meningkatkan misi pengamatan luar angkasa yang modern dan didasarkan pada Ground Based Electrical-Optical Deep Space System (GEODSS).    Usaha keras dari AFSC tersebut pantas mendapatkan acungan jempol, apalagi negara ketiga seperti kita yang baru bisa menikmati hasil jerih payah negara lain.   Tehnologi yang dihasilkan tidak hanya mampu mendeteksi secara akurat puing-puing meteor di orbit bumi, tetapi juga meningkatkan kemampuan pengamatan NEO di luar angkasa.   Dengan adanya eksplorasi NEO ini maka akan terjadi sebuah tonggak sejarah bagi pihak militer.   Dunia akan kembali pada jaman penjajahan atau perang dunia, dimana aset yang dimiliki oleh Angkatan Bersenjata benar-benar dibutuhkan kembali oleh masyarakat, karena akan menentukan nasib mereka.   Dan itu akan kembali sekarang.   Angkatan Bersenjata yang keberadaannya kadang-kadang dikecam karena dianggap sebagai pemicu kesengsaraan akan kembali berkibar dan menjadi pahlawan perang  di bumi…..melawan asteroid.   

Penyelidikan, eksplorasi, dan misi pencarian Near Earth Objets rencananya akan berlangsung selama 20 tahun.   Pada saat ini USAF Air Command dan staf college study telah berusaha mencari sistem yang terbaik untuk mendeteksi masalah NEO, bagaimana keuntungan dan kerugiannya, bentuk sistem dan dana yang akan digunakan.   Pendeteksian yang akan dilaksanakan meliputi sistem pencarian posisi NEO, pengadaan daftar katalog NEO, perkiraan jumlah NEO, juga rencana pengadaan operasi dan dukungannya.   Eksplorasi yang diadakan sekarang ini mengkosentrasikan pada penentuan “siapa sebenarnya NEO ?”.  Para ahli berusaha menyelidiki bagaimana orbit yang dimiliki  NEO dan bagaimana orbit tersebut bisa berubah, apakah karena posisi planet sendiri atau tabrakan yang tidak sengaja.   Pengetahuan tentang material NEO juga sangat penting untuk segera di pecahkan.

NASA sudah sepantasnya memiliki semboyan “FOR ALL MANKIND”.   Dalam banyak hal tentang tehnologi luar angkasa, NASA  telah menjadi pioner.   Dalam penyelidikan masalah NEO ini, NASA dengan program Near Earth Asteroid Rendezvous (NEAR) telah meluncurkan misi-misi seperti Galileo, Clementine I dan Clementine II.   Sistem NEAR dengan menggunakan radar Goldstone dan Arecibo telah berhasil meningkatkan pengetahuan tentang NEO.   NASA melalui misi penemuan jejak NEO telah melakukan simulasi bila sebuah NEO berada di orbit bumi.   Telah dilakukan uji coba tentang metode untuk membelokkan atau menghancurkan sebuah NEO.   Beberapa cara sudah dicoba dengan latihan kecil-kecilan.   Rencananya penghancuran atau pembelokkan itu dilaksanakan dalam hitungan bulan atau tahun sebelum NEO menghantam bumi.   Misi-misi ilmu pengetahuan dan tehnologi seperti ini memang membutuhkan waktu yang lama.   Dan salah satu yang harus dipecahkan adalah menciptakan kendaraan untuk memburu NEO.   NASA sendiri telah mengeluarkan perkiraan biaya yang akan diperlukan untuk program NEO ini.   Sistem pertahanan akan membutuhkan 14 juta dollar untuk kegiatan pendeteksian per tahun,  kegiatan eksplorasi perlu 23 juta dollar per tahun,  misi pencarian jejak  perlu 75 juta dollar per tahun (yang lebih hebat lagi, perlu waktu 20 tahun untuk misi ini).  Sehingga misi pencarian jejak NEO perlu 1,5 milyar dollar.  Perkiraan biaya ini sudah diajukan ke gedung putih.   Kita bisa bayangkan betapa NASA telah mengeluarkan biaya yang besar untuk program ini.   Untuk membentuk sebuah sistem yang sederhana saja dalam menangani masalah NEO ini, NASA memerlukan waktu 3 tahun dan dana sebesar 1 milyar dollar diluar dana penelitian diatas.   Bila dibentuk sebuah tim yang akan melakukan uji coba kecil-kecilan tentang bagaimana untuk menghancurkan NEO maka diperlukan dana sebesar 120 sampai 150 juta dollar per tahun dalam waktu 10 tahun.   Mengingat besarnya biaya yang dibutuhkan oleh NASA, konggres hanya geleng-geleng kepala saja.   Sehingga karena jengkel, banyak petinggi NASA yang berharap adanya contoh kecil seperti tragedi Tunguska, agar konggres merilis permohonan biaya yang diajukan.   Konggres sendiri sedang dilanda ketakutan dengan sepak terjang NASA dengan misi ini, karena pasti akan meningkatkan daya hancur sistem senjata mereka.   Apabila percobaan mengalami kegagalan berapa banyak biaya dan nyawa manusia yang dikorbankan.   Bayangkan saja, sebuah senjata dengan daya ledak super dahsyat untuk menghancurkan logam berdiameter 1 kilometer akan dibawa melayang-layang di atmosfer bumi.   Sistem deteksi yang dikembangkan oleh NASA saat ini termasuk pemasangan sensor infra red baru pada tahun 2003 sebagai tambahan sensor sistem optic.   Untuk misi eksplorasi, direncanakan 3 kali yaitu tahun 2003, 2007 dan 2013.   Dan misi pencarian jejak akan dilaksanakan tahun 2008 dan 2017.

Bahaya yang timbul dari ancaman NEO ini memang belum banyak menjadi kekhawatiran kebanyakan orang.   Bahkan ada yang bilang hanya sekedar proyek prestisius NASA untuk menaikkan alokasi pendanaan yang ada.   Bahkan kalau dibuka program asuransi untuk jaminan keselamatan dari bahaya NEO, maka tak seorangpun akan mendaftar.   Tetapi sekali saja serbuan itu datang, maka resikonya adalah kelanjutan sejarah kehidupan di bumi ini.   Memang belum ada alasan yang kuat buat kita untuk dilanda ketakutan yang teramat sangat.   Kita memiliki akal untuk mengatasi setiap masalah yang ada, termasuk masalah NEO.   Kita mempunyai tehnologi untuk melacak dan memprediksi ledakan NEO dan kemungkinan-kemungkinan pencegahan dari kerusakan alam yang fatal.   Kita tidak bisa mencari teman kerja lain dalam menghadapi NEO karena hanya manusia-lah yang diberi akal.   Jadi sudah sangat pantas bila dibutuhkan biaya yang besar dalam setiap usaha pengembangan ilmu pengetahuan apalagi medianya di luar angkasa.   Kita bisa melihat bagaimana kecilnya dana yang dimiliki oleh negara kita, apalagi dana buat badan penelitian dan pengembangan  sipil/militer.  Jarang sekali orang yang mau ditempatkan di badan ini, karena perhatian dan promosi karir yang kurang. Sehingga di jaman yang serba konsumtif ini, kita harus menempatkan mereka pada posisi kelas atas. Mereka terlalu sibuk untuk mempromosikan dirinya di media massa, sehingga wajar bila harus didukung dengan kehidupan yang baik.

(pernah dimuat di Majalah Intisari)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: