Beranda » Sejarah Militer » Serangan Pearl Harbour

Serangan Pearl Harbour

Satu aspek paling menarik saat membicarakan sejarah adalah interpretasi yang selalu muncul dalam setiap pergantian masa.   Kadang-kadang sebuah kenyataan terpendam dalam sekian masa, lalu muncul ke permukaan dengan tiba-tiba.   Sehingga, orang tak akan pernah bosan untuk membicarakan atau memperdebatkan sejarah.  

Penyerbuan atas Pearl Harbor oleh Jepang adalah salah satu sejarah yang masih selalu menarik untuk dibicarakan.    Sebuah peristiwa yang mengawali Perang Pasifik Raya, sekaligus mencoreng moreng wajah Amerika di Asia.  Orang Amerika sudah pasti tak akan pernah melupakan tragedi memalukan ini. Siapa menyangka negara sekecil Jepang berani menantang hegemoni Amerika dengan serbuan mematikan.   Saking kesalnya, Amerika pun akhirnya menjatuhkan bom atom untuk membalaskan rasa malu yang dideritanya.  

Naasnya Laksamana Kimmel

Di akhir Nopember 1941,  sesuatu yang tidak lazim telah berkembang di kawasan Pasifik.   Laksamana Husband E. Kimmel yang saat itu memegang dua jabatan penting yaitu, Panglima AL Wilayah Pasifik (CinCPac) dan Panglima Kapal Perang Amerika (CinCUS), menerima peringatan dari Laksamana Harold R. Stark, Komandan Pusat Operasi AL, tertanggal 27 Nopember 1941.   Peringatan tentang perubahan suhu politik yang terjadi di Washington, dimana hubungan diplomatik antara Jepang dan Amerika telah dibekukan.   Sesuatu dimungkinkan akan terjadi di Samudera Pasifik dalam waktu dekat.  Mengapa peringatan itu ditujukan kepada Kimmel ? Pusat kapal-kapal  Kimmel yang di Pangkalan Pearl Harbor, Hawaii, adalah inti kekuatan AL di Pasifik.

Namun demikian, Hawaii hanyalah sebuah pulau kecil yang jauh dari pergolakan politik, lain dengan Washington. Di Hawaii tak ada pembicaraan politik, sehingga kalaupun suhu politik Washington memanas, tak akan dirasakan oleh para prajurit yang sudah pasti lebih suka berlatih di lapangan.   Para personel militer AS yang ditempatkan di Hawaii melewatkan hari-harinya bersama pantai yang indah dan tidak pernah menyangka bahwa serbuan Jepang akan terjadi sebelum ada pernyataan perang.  Malang tak bisa ditolak, ternyata serangan kejutan dan besar-besaran terhadap pangkalan Pearl Harbor menjadi tanda dimulainya perang sekaligus menjadi pernyataan perang Jepang terhadap Amerika.   Bagi Kimmel sendiri, peristiwa ini tentunya sebuah naas terburuk sepanjang kariernya di AL Amerika.

Cukup menarik memang, hanya satu hari sebelum Laksamana Stark mengirim peringatan perang terhadap panglima mandala AL di Pasifik, Laksamana Kimmel, armada Jepang yang terdiri dari 6 kapal induk, 2 kapal perang, 2 kapal penjelajah berat, 2 kapal penjelajah ringan dan 9 kapal perusak terlihat sedang meluncur bersama 3 kapal selam meninggalkan Kepulauan Kuril.   Menuju kemana, tak seorang pun mengetahuinya kecuali beberapa orang penting di Tokyo.  Latihan perang memang sering di gelar di sana, sehingga pergerakan grup kapal ini tidak menimbulkan kecurigaan khalayak ramai.

Pearl Harbor adalah kekuatan utama Amerika di Pasifik, sekaligus pusat kekuatan kapal-kapal perang dibawah komando Laksamana Kimmel.  Letak geografis yang sangat jauh dari Hawaii, telah menjadi satu asumsi bagi para petinggi militer Amerika bahwa Jepang tidak mungkin berani menyeberang lautan Pasifik yang luas, menyerang Pearl Harbor dan bertempur jauh di luar pusat pertahanan.   Apalagi orang Amerika masih menganggap remeh kekuatan Jepang.  

Fasilitas militer di Pearl Harbor sendiri berusia kurang dari tiga tahun.   Kekuatan kapal-kapal di bawah komando Kimmel memiliki tugas pokok sebagai kekuatan penyangga menghadapi agresivitas militer Jepang di Timur Jauh.   Namun kekuatan sudah melemah saat Kimmel diangkat menjadi komandan sejak tanggal 1 Pebruari 1945.   Ia telah kehilangan beberapa unit penting.   Banyak kekuatan penting dan mesin perang baru malah dialokasikan untuk komando Atlantik yang menghadapi Jerman.   Kekuatan Pasifik tidak kebagian jatah, karena kekuatan Jepang memang tidak diperhitungkan sebelumnya.  Sebenarnya Kimmel adalah orang yang gila kerja dan tidak mudah menyerah.   Saat para pelaut di Atlantik sudah terlibat perang dengan Jerman, maka hari-hari pasukan Kimmel di Pasifik diisi dengan berlatih dan berlatih.

Memang ironis sekali  nasib manusia.   Saat Kimmel memulai tugas mulianya, bekerja keras lagi tekun untuk negara, sebagai komandan CinCUS/CinPac, di awal Pebruari 1941 (sepuluh bulan sebelum serbuan Jepang), justru rencana Jepang untuk menyerbu Pearl Harbor dimulai.   Ide penyerangan dari kapal induk muncul dari Laksamana Isoroku Yamamoto, Panglima Gabungan Kapal AL Kekaisaran Jepang.  Walaupun tidak setuju terhadap kebijakan Kaisar yang menabuh genderang perang melawan Amerika dan Inggris, Yamamoto tetap menaruh sikap respek dan loyal  kepada Kaisar.   Dengan tepat ia menggariskan bahwa kemungkinan menang melawan Amerika sangatlah kecil, kecuali Jepang melancarkan serangan pertama yang mematikan.

Asumsi Yamamoto, jika perang pecah maka kapal-kapal Amerika akan berpangkalan di Pearl Harbor. Sehingga serangan itu harus mematikan Pearl Harbor dan menjadi lapanglah jalan invasi Jepang ke selatan yaitu, Malaysia, Indonesia, dan Filipina.   Para Laksamana Jepang memang tak bisa melihat alasan lain tentang keberadaan Pangkalan Pearl Harbor yang dibangun sejak musim panas 1940, selain untuk menghadang laju armada Jepang.   Presiden Roosevelt sendiri memang begitu khawatir dengan agresivitas negeri matahari terbit terhadap China.   Sehingga ia memutuskan ditempatkannya kapal-kapal perang di perairan Hawaii.   

Yamamoto sendiri sebenarnya adalah perwira yang teguh dan cerdas. Ia mulai mempresentasikan rencana tersebut pada awal bulan September, di  Naval War College, Tokyo.   Para petinggi AL Jepang tidak begitu saja menerima rencana ini, karena para Laksamana Jepang pada dasarnya adalah penganut setia konsep perang gaya defensif. Namun Yamamoto berkeras hati. Untuk meloloskan rencana penyerangan yang telah disusunnya, ia bahkan mengancam akan pensiun dini.   Laksamana Osami Nagano, Kepala Staf AL, akhirnya dengan segan hati memberikan lampu hijau terhadap rencana “Operasi Hawaii” tersebut.   Yamamoto, tetap menjadi Komandan Gabungan Kapal, dan diberi tugas untuk menyiapkan secara teknis peralatan perang yang akan digunakan.

Rencana Mulai Dijalankan

Pada tanggal 21 Nopember 1941, menerima persetujuan akhir tentang rencana serangan.   Empat hari kemudian, dia meminta Laksamana Madya Chuichi Nagumo untuk memimpin kekuatan di lapangan.   Kapal-kapal berkumpul di Teluk Hitokappu dan mulai bergerak meninggalkan pantai pada jam 06.00, 26 Nopember 1941, menuju Kepulauan Hawaii.   Mereka berlayar melewati Lautan Pasifik Utara yang sepi dan menghindari lalu lintas kapal dagang.  Para personel bersiaga penuh dan siap bertempur sampai titik darah penghabisan.   Selama perjalanan, cuaca sempat memburuk, namun armada tetap bergerak ke depan pasti dengan harapan bisa mencapai target operasi dan bertempur.   Dalam tradisi militer Jepang, bila telah memutuskan untuk menyerang maka pantang untuk berbalik mundur.

Di lain pihak,  radio intelijen Amerika mengalami kepanikan dengan adanya perubahan call sign  bagi kapal-kapal AL Jepang sejak tanggal 2 Desember.   Posisi kapal-kapal AL Jepang tidak bisa dipantau lagi setelah itu.   Dalam keadaan yang genting tersebut, Laksamana Kimmel menjadi bertambah murka saat menerima pertanyaan menjengkelkan dari perwira intelijennya   “Apakah anda bermaksud mengatakan bahwa kapal-kapal induk Jepang itu bersiap-siap menyerang kita dan kita tidak mengetahuinya ?”   Sebuah pertanyaan yang harusnya dijawab sendiri oleh perwira tersebut.

Tanggal 2 Desember, adalah juga saat-saat kritis bagi armada Jepang.   Kekuatan perang sudah jauh meninggalkan Jepang.   Namun mereka masih menunggu hasil perundingan diplomatik.   Bila perundingan mencapai kesepakatan, maka dengan terpaksa mereka harus pulang balik ke Jepang.   

Dan ternyata Amerika tidak mau kehilangan satu sen pun dalam perundingan tersebut.  Sehingga pada hari itu, kekuatan perang menerima pesan kode bahwa perang harus dimulai, berbunyi “Climb Mount Niitaka”, berarti kematian telah digariskan.   Jepang memang akan segera membunyikan lonceng kematian di Pearl Harbor.  Bayangkan, dari sepuluh kapal induk yang dimiliki, maka enam kapal induk ditarik dalam misi ke Pearl Harbor ini.

Saat enam kapal induk Kekaisaran Jepang menuju Pearl Harbor, di pihak yang berseberangan 3 kapal induk Kimmel malah tidak ada di tempat karena tugas penting di tempat lain.   Lexington (CV-2) sedang memindahkan pesawat-pesawat marinir Brewster-F2A ke Pulau Midway, Enterprise (CV-6) memindahkan pesawat-pesawat marinir F4F-3 ke Pulau Wake, dan Saratoga (CV-3) sedang berada di San Diego.   Kapal-kapal perang Kimmel juga bagian kekuatan tua yang akan mengakhiri masa akhir tugas.  

Walaupun krisis semakin memuncak sampai tanggal 6 Desember, pihak intelijen di Washington ternyata tidak banyak memperhatikan pesan-pesan rahasia dari Tokyo ke Kedutaan Jepang di Washington yang berhasil disadap.   Sehingga satu hal yang harusnya dipertanyakan, sudahkah para komandan pasukan di Hawaii mendapat peringatan akan bahaya serangan tersebut sebelumnya  ?   Laksamana Kimmel sendiri sebenarnya sudah mendapatkan sesuatu yang tidak beres beberapa hari sebelum serangan.   Dari analisa lalu lintas kapal-kapal perang Jepang ditemukan bahwa kapal-kapal induk Jepang tidak diketahui lagi posisinya.   Salahkah Kimmel bila akhirnya armada Pearl Harbor akhirnya menjadi bulan-bulanan dalam serangan tersebut, sedangkan Washington sendiri juga tidak tahu bagaimana dan apa cara terbaik untuk mencegah terjadinya serangan kejutan tersebut !  Yah, perang dimulai tanpa ada peringatan akan bahaya perang  !

Sementara itu, armada Jepang sudah mencapai jarak 300 mil dari Kepulauan Hawaii dan belum terendus oleh siapapun.     Untuk meyakinkan situasi di Pearl Harbor, kapal penjelajah berat Tone dan Chikuma masing-masing meluncurkan pesawat pengintai Aichi E13A-1. Pesawat yang terbang dari kapal Tone terbang menyusuri pelabuhan Lahaina, Maui, namun tidak menemukan apapun.   Sedangkan pesawat yang terbang dari pesawat Chikuma terbang melintas di atas Pearl Harbor pukul 05.30 dan menemukan kapal-kapal Amerika berjajar santai di bawah, namun tanpa kapal induk.

Tepat pukul 06.00, 7 Desember 1941, posisi 200 mil dari Pearl Harbor, kapal-kapal induk mulai meluncurkan 189 pesawat sebagai bagian dari serbuan gelombang pertama.   Semua komando dipegang oleh Letkol Mitsuo Fuchida, yang terbang dalam salah satu pesawat dari 40 bomber Nakajima B5N1 “Kates” terdepan.   Mengikuti dibelakangnya adalah 50 bomber Nakajima B5N1 “Kates” dikomandani Letnan Kolonel Murata, yang dipersenjatai dengan Torpedo.   Pesawat lainnya adalah bomber 54 Aichi D3A1 tipe 99 “Val” dikomandani Letnan Kolonel Takahashi dan 45 pesawat tempur Mitsubishi A6M2 tipe O dikomandani Letnan Kolonel Itaya.   Sebelum pukul 06.18, semua pesawat telah tinggal landas dari kapal induk dan meluncur menuju Pearl Harbor.   Bayangkan, 353 pesawat tempur siap memangsa Pearl Harbor !

Dikira Latihan

Bersamaan dengan pesawat terakhir yang tinggal landas dari kapal induk Jepang, pesawat-pesawat tempur Enterprise justru melakukan patroli rutin di sekitar Wake.   Seharusnya kapal induk ini sudah kembali ke Pearl Harbor hari itu, namun tertunda karena cuaca buruk.  

Sementara aktivitas di pantai, Antares (AKS-3) yang sedang menarik kapal pengangkut baja di jalur masuk Pearl Harbor, menangkap obyek mencurigakan melalui layar radar pada jarak 1500 yard dari pantai.   Obyek tersebut terlihat sebagai kapal selam, namun tak satu orangpun bisa memastikan.   Wilayah di mana ditemukan obyek mencurigakan tersebut adalah daerah terlarang, sehingga Antares menugaskan kapal perusak tua Ward (DD-139) untuk mendekatinya.

Ward, dikomandani oleh Letnan William W. Outerbridge, lulusan US Naval Academy tahun 1927.    William baru dua hari memangku jabatan tersebut, dan pagi itu adalah patroli hari keduanya di sekitar jalur masuk pelabuhan.   Perwira deck kapal Ward, Letnan Oscar Goepner, segera bangun dari ngantuknya dan segera memberitahu William setelah mendapat berita dari Antares.   Masih memakai kimono, William segera menuju ruang yuda dan meneropong obyek yang dimaksud melalui kaca binocular.  Yakinlah kemudian, bahwa obyek tersebut memang kapal selam.   “Perintahkan kepada seluruh kru” teriak William “Ward dalam posisi tempur.” 

Sementara Ward berputar haluan dan meluncur ke arah obyek, seluruh kru mulai menempati pos masing-masing dengan cepat.   Sebagian besar dari para kru berasal dari Minnesota sekaligus pelaut senior yang telah lama meninggalkan kampung halamannya.   Dengan antusias, mereka bersiap-siap untuk perang dan ingin membuktikan cerita-cerita para pendahulu mereka yang berseragam lengkap dengan helmet perang bertempur di PD I.   Para prajurit muda AL Amerika memang belum memiliki pengalaman perang sebelumnya.  Namun, pagi itu mereka menemukan hal yang ironis.   Komandan mereka bertempur tanpa baju perang, tapi dengan kimono !     

Ward terus mendekat menuju obyek, dan satu dari empat senapan mesin kaliber 4 inch yang dimiliki menyalak.   Diikuti oleh tiga senapan mesin lainnya.    Peluru-peluru tepat mengenai tower kapal selam.   Mendapat serangan, kapal selam mulai bergerak turun dan melarikan diri.  

Sesaat setelah pertempuran, kira-kira pukul 06.45, William mengirimkan berita ke Pearl Harbor dengan sangat spesifik.   Namun malang, berita dari tersebut dikirmkan bukan dengan bahasa percakapan, namun dengan kode.   Sehingga pukul 07.20, perwira piket distrik ke-14 AL Pearl Harbor, Lieutenant Commander Harold Kaminski, baru menerima terjemahan kode berita yang dikirimkan.

Sementara kode berita dari kapal perusak Ward masih dalam perjalanan, layar radar di Opana Point berhasil menangkap gelombang pesawat sedang menuju ke Pearl Harbor.   Namun demikian,  para kru mendapat perintah agar tidak terlalu khawatir dengan pesawat-pesawat tersebut.  Di tengah lautan, kapal perang Helm (DD-388) juga tenang-tenang saja saat mendengar soal kapal selam asing tersebut.   Bahkan, seluruh moncong senjatanya masih selubungi lapisan pelindung.

Kira-kira pukul 07.55, Laksamana Muda William R. Furlong, Senior Officer Present Afloat (SOPA), semacam perwira piket rutin, sedang menikmati udara di pantai Pearl Harbor.   Ia berjalan di dek kapal yang berdekatan dengan kamarnya, sambil melihat bangga armada kapal yang menjadi tulang punggung Amerika di Pasifik.   Tiba-tiba matanya menangkap sebuah pesawat bermesin tunggal keluar dari awan, muncul dari perbukitan di utara Pearl Harbor.    Pesawat tersebut lalu memuntahkan bom yang jatuh di pantai di dekat armada kapal.   Ledakan yang dahsyat pun menggema.   Furlong menggerutu dalam hati, “Wah, ceroboh sekali penerbang ini.   Dia hampir saja menghancurkan kapal-kapal!”   Ia menganggap saat itu sedang ada latihan di atas Pearl Harbor.   Lalu pesawat tersebut berputar lagi dan terbang rendah di atas kepala Furlong.   Saat itulah ia bisa melihat gambar bulatan merah menyala di badan pesawat, yang tak lain adalah lambang pesawat-pesawat tempur Jepang.

Bersamaan dengan suara histeris di segala penjuru, Furlong langsung berteriak, “Serangan udara musuh, ini bukan latihan!” Ia berlari menuju markas dan memerintahkan agar bendera “Roger” dinaikkan, tanda untuk memberikan tembakan balasan.   Namun suara tembakan sporadik telah terdengar di seluruh penjuru Pearl Harbor, sebelum bendera tersebut berkibar.   Furlong sempat melihat pesawat-pesawat B5N1 melepaskan Torpedo, yang membuat kapal West Virginia dan Oklahoma mulai menelan air, karena lubang besar menganga di badannya.

Sebuah B5N1 datang dari arah yang lain, melepaskan Torpedo ke arah dek no. 1010, tempat kapal Pennsylvania biasa bersauh.   Namun di situ ada kapal Oglala.  Rudal gagal menghantam kapal Oglala yang kebetulan ada di dek, namun berhasil menghantam lambung kapal tambang Helena. Helena meledak keras dan mulai tenggelam.  Semua kru kapal melarikan diri menuju daratan.

Sementara pertempuran untuk melindungi kapal Oglala masih berlangsung, grup B5N1 yang lain mengarah ke timur laut Pearl Harbor.   Di sana bersauh kapal Tangier (AV-8), Utah (AG-16), Raleigh (CL-7) dan Detroit (CL-8).  Satu Torpedo berhasil menghantam Raleigh, lainnya menghancurkan Utah.  Kapal-kapal lain menyusul tenggelam setelah itu.

Serangan Yang Sempurna

Pada pukul 09.45, Jepang mengakhiri serangannya di Pearl Harbor.   Setelah itu, pesawat-pesawat Jepang masih sempat menyerang Stasiun Udara AL di Teluk Kaneohe, barak AD di Schofield, dan pangkalan udara Wheeler dan Hickam.   Armada Laksamana Madya Nagumo benar-benar membuat Pearl Harbor bertekuk lutut dan kembali ke Jepang dengan kejayaan.

Segera setelah hari kehancuran tersebut, Sekretaris AL, Frank Knox, terbang ke Hawaii, untuk mendata segala kerugian.   Dua orang Laksamana paling bertanggung jawab, Stark dan Kimmel, menunggunya dengan wajah bermuram durja di hadapan puing-puing kehancuran armadanya.   Delapan belas kapal tenggelam dalam serangan di hari Minggu pagi itu; lebih dari dua ribu orang pelaut dan marinir tewas – hampir separuhnya ada di dalam kapal Arizona; AD kehilangan 200 prajurit.  Jepang hanya kehilangan 29 pesawat tempur.  Namun dalam waktu tak lebih dari dua jam, Jepang sudah menguasai Pasifik.

Hari Minggu, tanggal 7 Desember 1945, adalah hari yang tak bisa dilupakan oleh rakyat Amerika.   Presiden Roosevelt bahkan menyebutnya dengan “A day that will live in infamy”, sebuah hari yang benar-benar memalukan.  Laksamana Stark dan Kimmel, orang yang paling bertanggung jawab dengan peristiwa ini, dipecat.   Sebagai gantinya, Laksamana Chester W. Nimitz menduduki Panglima AL Pasifik (CincPac).

Tulisan Pribadi (Pernah dimuat Majalah Intisari Edisi Desember 2001)


1 Komentar

  1. bobby mengatakan:

    Serangan yg sangat mematikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: