Beranda » Syair » Untukmu Cahaya – 9 “Bulan Tiga Malam”

Untukmu Cahaya – 9 “Bulan Tiga Malam”

Malam pertama.
Ketika kubuat perumpaaan tentang bulan dan diriku, ialah sebuah kemegahan dan aku kutukan.
Dia mempesonakan, akulah cebolnya, maka kupanggilnya bedebah karena sinarnya yang selalu menghinakan.   Kini kumiliki sepertiga malam untuk menghujat, mencerca nasibnya yang diuntungkan.  Lalu bulan marah, kedua tangannya yang pucat-pasi menjulur galak dan menampar, plak-plok, plak-plok, plak-plok, gedubrak, aku jatuh terjerembab, belum mati tapi remuk-lebam.    
Bulan masih marah, mengajak ribuan serdadu bintang yang tadi menari,kini bersusun meludahiku, kau bilang aku pengecut, sampah pecundang tak berharga.  Ingin melawan, tak, aku remuk.  Ingin marah meradang, tak, aku sudah hancur.   Mata dan hatiku saja yang masih bisa membenci.  Bulan juga membenci, menyuruh serdadunya mengitari, bercalypso, berpijar, mengutuk sumpah-serapah.  Mati.
Malam kedua.
Ketika kubuat perumpamaan bulan dan diriku, ia adalah Jaka Tarub dan aku adalah kurap.
Bulan pun kini menjadi kisah yang menyebalkan.   Hanya karena pelesir di tepi kali, eh engkau Bulan, si pemuda bodoh, kampungan, pencuri selendang, la kok dapat istri bidadari cantik, lalu menjadi legenda abadi di penjuru negeri.  Gila.  Sedangkan si kurap ini, yang jatuh-bangun berdarah-darah mencari jati diri, kehormatan, selalu saja menjadi mahluk tertindas.   Hanya sekedar numpang bernapas di dunia pun, selalu saja orang menghajarku dengan timah cair panas. Dasar dunia “sarap”.  Kini aku punya sepertiga malam untuk menyebutnya “legenda norak”, juga tentang dunia, “edan”.   Lalu sekonyong-konyong kakinya mengayun cepat, menghajar ulu hatiku. Brakk, mati lagi aku.   Lalu dunia yang kusebut edan pun datang, bertepuk-tangan, nyinyir.
Malam ketiga.
Ketika kubuat perumpamaan bulan dan diriku, ia adalah ayat dan aku adalah termulia.
Bulan menjadi termulia.
Ketika kubuat perumpamaan bulan dan diriku, ia adalah berkah dan aku adalah kalifah pengemban amanah.
Bulan tersenyum, aku pun punya sepertiga malam untuk menikmati senyum terindah yang pernah kutahu. 
Ia bulan adalah apa yang menjadi prasangkaku.

Maospati, 3 Juni 2009.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: