Beranda » Penerbang Terbesar Sepanjang Sejarah » 1. Charles Yeager—Bill Bridgeman—Marion Carl—Arthur Murray

1. Charles Yeager—Bill Bridgeman—Marion Carl—Arthur Murray

MENJELANG PENERBANGAN LUAR ANGKASA

EMPAT PILOT PEMBERANI—Yeager, Bridgeman, Carl dan Murray—adalah para pelopor awal penerbangan luar angkasa. Mereka telah terbang lebih tinggi dan lebih cepat melampaui semua orang di dunia. Menerbangkan pesawat tunggal bertenaga roket, mereka telah meluncur hingga batas luar angkasa. Saat mencapai titik terbang tertinggi lalu meluncur turun dengan cepat pada ketinggian atmosfir yang tipis, mereka seperti kehilangan bobot, mirip perjalanan di luar angkasa.

Bahkan, yang mengherankan, para petugas organisasi penerbangan yang mencatat rekor terbang saat itu, tidak mempercayai rekor kecepatan dan ketinggian ini—karena belum adanya pesawat yang memadai bagi para pemecah rekor tersebut. Ini merupakan catatan awal bahwa dunia penerbangan telah memasuki suatu tahapan baru yang luas, yang berbeda dari masa sebelumnya.

Era roket dimulai pada Perang Dunia II dengan dibuatnya pesawat tempur penyergap Messerschmitt 163, yang dapat mencapai ketinggian 40.000 kaki dari permukaan tanah dalam waktu sekitar tiga menit. Saat melayang pada kecepatan maksimal sekitar 600 mil per jam pesawat ini dapat terbang membelok dan menukik (seperti burung pelatuk hijau), dan sang pilot kadang-kadang mematikan lalu menghidupkan lagi roket untuk menjaga ketinggian sekaligus menghemat bahan bakar. Dia mampu terbang sekitar 11 menit mencapai ketinggian 50.000 kaki sampai bahan bakarnya habis dan kemudian meluncur kembali ke bumi seperti ranting kering.

Setelah berakhirnya Perang Dunia II Amerika mengambil-alih kemajuan teknologi roket sampai jangka waktu yang cukup lama.

Mayor Charles Yeager dari Angkatan Udara AS melakukan penerbangan supersonik pertama di dunia dengan pesawat jet Bell X-1 berkursi tunggal pada tanggal 14 Oktober 1947. Pesawat kecil tersebut pertama-tama diangkut oleh pesawat pembom Boeing B-29 Superfortress. Pada ketinggian sekitar 30.000 kaki pesawat pembom tersebut melepaskannya. Mayor Yeager lalu menyalakan roket pesawat tangki-ganda buatan Reaction Motors, dan meninggalkan pesawat induknya hingga mencapai kecepatan 1.06 Mach, atau sekitar 700 mil per jam.

Pada bulan Agustus 1951 Bill Bridgeman, pilot uji di Douglas Aeroplane Company, terbang dengan kecepatan 1.238 mil per jam pada ketinggian 79.494 kaki dengan pesawat Skyrocket yang dibuat oleh perusahaannya untuk Angkatan Laut AS. Bridgeman berada pada ruang navigasi pesawat B-29 yang terbang hingga 20.000 kaki. Kemudian kru pesawat pembom tersebut membantunya memasuki pesawat kecil Skyrocket. Saat duduk di kokpitnya dia tak dapat melihat apa pun. Pada ketinggian kira-kira 35.000 kaki teknisi peluncur yang ada di panel kontrol pembom tersebut mulai berhitung, “Empat—tiga—dua—satu”, dan Bridgeman meresponnya dengan menekan tombol sinyal (yang menyalakan sebuah lampu pada panel). Pesawat Skyrocket itu pun meluncur turun sehingga membuat Bridgeman terangkat membentur kanopi pesawat.

Masalah penglihatan—dan hal tersulit pada penerbangan itu—dialami oleh Bridgeman saat ia meluncur turun dari pesawat pembom. Pesawatnya meluncur datar, melayang setengah-gagal pada kecepatan sekitar 230 mil per jam, tanpa tenaga. Resiko gagal terbang bisa saja terjadi. Yang terlihat oleh Bridgeman kira-kira adalah batang panjang pada hidung pesawatnya yang tampak dari kanopi kokpitnya. Jika itu bergetar maka berarti merupakan tanda bahaya dan harus segera menukik untuk mencegahnya. Namun dia harus menunggu dua atau tiga detik untuk menyalakan roket yang penuh bahan bakar, sebab bisa saja terjadi bahaya terbakarnya pesawat pembom oleh semburan “gas api asetilen” dari pesawatnya. Selain sejumlah hidrogen peroksida yang digunakan untuk menyalakan motor roket empat tangki, pesawat kecilnya juga diisi alkohol dan oksigen cair dalam kapasitas tertentu. Dalam sepuluh detik roket menyala, dan pesawat Skyrocket melesat jauh tinggi meninggalkan pesawat induknya yang bermesin piston.

Titik luncur tersebut berada kurang lebih 25 mil dari pangkalan pesawat. Bridgeman dijatuhkan meluncur ke arah pangkalan. Jika motor roket gagal menyala, dia bisa melayangkan pesawat ke arah landasan. Roket pesawat menghabiskan hampir satu ton bahan bakar setiap menit. Setelah terbang 45 derajat ke atas bahan bakar di tangki habis pada jarak sekitar 25 mil dari pangkalan. Lalu Bridgeman berbelok, dan melayang turun menuju Pangkalan Udara Edwards, Lake Muroc, California, yang juga merupakan stasiun riset kecepatan-tinggi milik Dewan Penasehat Aeronautika Nasional.

Dua buah jet tempur Sabre milik Angkatan Udara AS segera datang. Satu untuk memeriksa apakah motor roket menyala setelah peluncuran, dan satunya lagi bersiap di ujung peluncuran apabila terjadi kegagalan akibat gangguan penglihatan pada kaca pesawat Bridgeman karena embun, atau halangan struktural lain. Pilot pesawat Sabre tersebut dapat berbicara dengan Bridgeman lewat telepon radio, dan juga dengan petugas di darat, dan demikianlah pesawat merelay stasiun telepon serta stasiun pengawas udara.

Bridgeman berhasil melakukan sejumlah penerbangan luncur untuk meneliti berbagai kejanggalan dalam penerbangan pada ketinggian dan kecepatan tinggi. Pesawatnya dilengkapi dengan sejumlah peralatan. Sebuah perekam foto penerbangan merekam film gambar gerakan seluruh peralatan terbang serta catatannya. Tekanan udara sampai 400 poin pada permukaan sayap dan ekor pesawat dapat diukur secara otomatis. Daya kontrol, serta tekanan pada badan pesawat diukur secara elektrik. Tekanan udara menaikkan temperatur pesawat hingga 270 derajat Fahrenheit, dan badan pesawat menyerap kira-kira setengah dari panas tersebut; namun Bridgeman sendiri tidak menyadari perubahan panas ini.

Penerbangan semacam ini tidak sepenuhnya menyenangkan. Dalam sejumlah penerbangan pesawat Skyrocket tidak dapat dikendalikan. Pengontrol terbang macet dan Bridgeman tak dapat menggerakkannya. Lagi-lagi peralatan tidak terkendali dan Bridgeman tidak dapat menghentikannya. Ketika itu pesawat mulai bergoncang keras. Bridgeman tak dapat menguranginya, dan kendali menjadi kacau sehingga ia harus melepaskan motor roket sebelum menyulut bahan bakarnya. Pada ketinggian itu penggerak tidak mampu mengendalikan pesawat, sehingga sangat sulit untuk membawa pesawat kembali ke landasan akibat kurangnya pengalaman perancang pesawat dalam soal kendali untuk terbang tinggi dan cepat.

Pesawat Skyrocket terbang terlalu cepat bagi pilotnya untuk dapat melontarkan diri dengan melompat atau bahkan dengan kursi lontar. Maka kapsul hidung pesawat dirancang untuk dapat lepas bersama sang pilot jika hal itu terjadi. Saat kapsul pelindung melambat pada kecepatan tertentu, sang pilot melepaskan diri dan jatuh dengan parasut. Untunglah hal ini tidak pernah terjadi.

Pada setiap akhir uji coba terbang Bridgeman mengarahkan pesawatnya ke landasan. Kedua pilot Sabre yang terbang mendampinginya saat melayang turun, menasehatinya agar roda pendaratan turun dengan baik, serta membimbingnya melakukan sudut pendaratan yang terbaik agar berhasil mendarat dengan baik di landasan, yang nampak menipu pandangan setelah terbang tinggi. Kecepatan luncur pesawat Skyrocket adalah 270 mil per jam, dan setelah meliuk-liuk Bridgeman mencapai ujung landasan pada kecepatan 250 mil per jam, serta menyentuh landasan dengan kecepatan sekitar 180 mil per jam.

Pada tanggal 21 Agustus 1953, Letkol. Marion E. Carl dari Korps Marinir AS, meluncur dengan pesawat Skyrocket pada ketinggian 33.500 kaki. Dia mengalami kesulitan untuk menyalakan tangki roket pertamanya, dan turun hingga 28.000 kaki sebelum berhenti. Ketiga tangki lainnya menyala dengan baik. Setelah menanjak pertama-tama 30 derajat dan naik sampai 40 derajat, roket motornya kehabisan bahan bakar pada ketinggian 75.000 kaki. Namun Carl masih naik 8.285 kaki lagi dengan tanpa tenaga selain daya luncur pesawat, membuat garis terbang seperti peluru yang ditembakkan dari sebuah senapan. Saat sampai puncaknya pesawat melayang, setengah tak terkendali dalam keadaan tipis udara, dan sulit mengendalikan pesawat sampai setelah menukik cukup jauh untuk memulikeseimbangan. 10 menit kemudian dia sampai di permukaan tanah. Carl melakukan 5 cara untuk mematahkan rekor kecepatan Bridgeman, namun tidak sanggup melampaui 1.143 mil per jam.

Bulan Desember berikutnya, dengan menerbangkan pesawat Bell X-1A, Yeager dengan mulus mengalahkan Bridgeman dengan rekor kecepatan 1.650 mil per jam, sekitar 2,5 kali kecepatan suara, dan nyaris mencapai titik “batas panas” dimana tingkat perubahan panas sangat membahayakan. Saat menanjak naik dia kehilangan kendali atas pesawatnya, sehingga turun hampir 50.000 kaki sampai dia kembali menguasai pesawat pada kepadatan udara tertentu. Saat turun dengan mengerikan, Yeager terhempas pada salah satu dari dua lapis kanopi kokpitnya, sehingga bahu dan lehernya terluka.

Pada tahun 1945 Mayor Arthur Murray dari Angkatan Udara AS mencapai ketinggian terbaik melampaui semua orang. Dengan pesawat Bell X-1A dia menanjak sampai kira-kira 90.000 kaki setelah dilepaskan pada ketinggian 30.000 kaki dari pesawat B-29. Di atas 50.000 kaki Murray mengalami efek silau matahari karena tiadanya kabut atau debu di atmosfer. Pada puncak ketinggian dia merasa lebih dekat dengan matahari daripada ke bumi. Dia seperti tak dapat lepas dari bola matahari, dan intensitas cahaya matahari langsung serta pantulan dari lapisan kaca menyilaukan matanya. Dia melihat langit menjadi biru tua, lalu berubah ungu, dan semua warna berubah sampai lama setelah dia mendarat di bumi.

Pesawat-pesawat jet riset ini berbobot sekitar 16.000 pon saat peluncuran, dan membawa sekitar 6.000 pon bahan bakar yang akan habis dalam 4 menit. Setelah berkurang bebannya, pesawat akan terbang melayang, meskipun beban di sayap sangat besar, kecuali jika meluncur dengan kecepatan tinggi. Sang pilot mengenakan pakaian khusus terbang. Pakaian ini menutupi seluruh tubuhnya, termasuk tangan, kaki dan wajah (dengan kacamata goggle) dan dapat dipompa dengan cepat. Pada ketinggian kurang lebih 60.000 kaki tekanan atmosfer turun sampai seper-sepuluh dari tekanan di permukaan laut, dan darah manusia akan mendidih pada temperatur badan dengan tekanan yang sangat rendah. Agar terlindung dari bahaya ini, yang dapat membunuh manusia karena sulit menyerap oksigen ke dalam paru-parunya, maka kokpit pesawat diberi tekanan udara tinggi. Sedangkan baju terbang merupakan pelindung kedua jika tekanan udara gagal atau agar sang pilot terbungkus di dalam pesawatnya. Sarung tangan kulit dipasang di luar pakaian yang juga disebut dengan “baju-terbang” ini, dengan demikian sang pilot dapat melepasnya dari tangan sebelum membalutnya untuk mencegah terjadinya pembekuan saat turun dengan cepat dalam temperatur udara rendah. Tanpa perlindungan ekstra ini tangannya bisa saja membeku sehingga harus diamputasi saat sampai di darat.

Ketinggian terbang maksimum untuk sebuah mesin jet adalah antara 60.000 sampai 70.000 kaki. Sebuah jet luncur dapat terbang lebih tinggi sampai sekitar 90.000 kaki. Di atas ketinggian itu, daya dorong roket sangat penting karena tidak ada unit tenaga yang dapat menyerap oksigen dari atmosfer yang jarang. Manusia telah mencapai batas ketinggian yang dapat dijangkau dengan mesin berkekuatan udara. Kecepatan dan ketinggian yang diraihnya dengan pesawat riset roket telah membuatnya menembus batas yang dapat diraih oleh pesawat bermesin minyak. Manusia telah mulai menjelajahi ruang angkasa yang nampak tak terbatas dengan penerbangan roket, dan memasuki ambang baru perjalanan angkasa untuk perang atau perdamaian.

Sekarang kita berada di awal era baru dunia penerbangan. Bagaimana awal era ini diraih akan diungkapkan dalam kisah berikut, tentang para penerbang besar pada pertengahan era penerbangan pesawat.


2 Komentar

  1. wahyu mengatakan:

    salam kenal..
    blognya bagus bgt.. btw, kisah Yeager yg jealous krn ga masuk dlm tim Mercury flight di film The Right Stuff bneran ga yah? Saking terobsesinya, dia terbang pake Starfighter klo ga salah, trs accident saat akan mencapai GSO dan crash.. Hmm, what a story…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: