Beranda » Penerbang Terbesar Sepanjang Sejarah » 10. Marsekal AU Kerajaan Inggris, Viscount Trenchard of Wolfeton

10. Marsekal AU Kerajaan Inggris, Viscount Trenchard of Wolfeton

MENGOLAH KEKUATAN UDARA

JIKA SESEORANG BERKATA bahwa seorang mayor infanteri yang sudah berumur masuk ke Angkatan Udara sebagai seorang pilot dan tiga tahun berikutnya menjadi komandan lapangan, dan tiga tahun setelah itu menjadi kepala staf, ia mungkin akan ditertawakan karena keinginannya tersebut.

Tetapi Mayor Hugh Montague Trenchard melakukannya.

Saya bertanya kepada Lord Trenchard : maukah ia memberitahu rahasia di balik suksesnya? Berbicara dengan kearifan seorang pria berusia 80 tahun, ia berkata pada saya di perjamuan House of Lords : Yang membentuk pribadi seseorang adalah kritik dan ketegaran menghadapi rintangan. Jika ia hanya menerima pujian maka sesungguhnya ia sudah berakhir.”

Seseorang yang menghadapi langsung musuh-musuhnya, menderita karena kecaman-kecaman, dan menghadapi pertentangan, dalam pandangan Trenchard rintangan ini menguji seseorang dan membangkitkan kekuatannya. Seseorang yang kuat akan berpegang teguh pada pendiriannya dan tidak akan terpengaruh ataupun meratapi dan menyesali apa pendapat orang tentang dirinya. Semangat juang Trenchard mengantarkannya ke puncak kejayaan sebagai Marsekal pertama Angkatan Udara Inggris. Namun ia tidak akan sampai ke sana jika ia tidak memiliki kemampuan untuk mengesampingkan omong kosong tentang apa yang ia baca, apa yang dikatakan orang lain, dan apa yang ia pikirkan sendiri.

Awal karirnya tidak begitu cemerlang. Ia gagal dalam unjian masuk angkatan bersenjata, dimana ayahnya menjadi seorang kapten.

Akhirnya ia bergabung dengan milisi — yang tidak memerlukan ujian — sebagai cara untuk mencapai tujuannya. Dari seorang milisi ia segera memperoleh pangkat letnan-dua di Resimen Tentara Skotlandia. Ia adalah seorang kapten di kesatuannya pada saat perang Afrika Selatan berlangsung. Disana ia menemukan arah baru, bergabung dengan Korps Perintis dan Pandu Kanada. Kerja kerasnya menarik perhatian Lord Kitchener yang memberinya brevet mayor. Ini bukan promosi dalam resimennya, karena Trenchard telah keluar, dan perlu waktu dua belas tahun sebelum ia menjadi mayor di Resimen Tentara Skotlandia.

Ketika perang Afrika Selatan usai ia tidak ingin menjadi tentara rumahan. Ia bergabung dengan Pasukan Perbatasan Afrika Barat, dan pada tahun 1906 memenangkan penghargaan Tanda Bakti Kehormatan di Nigeria.

Kantor Urusan Perang menariknya kembali ke Inggris pada tahun 1910. Ia mencoba untuk keluar dengan bergabung ke dalam pasukan Pertahanan Kolonial di Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan atau ke Gendarmerie Macedonia, sebuah pasukan polisi Balkan. Namun Kantor Urusan Perang Inggris memerintahkannya tetap di Inggris.

Kekosongan ini mengusik semangat berpetualangnya. Karena itu meskipun ia telah berumur 39 tahun, dan belum pernah terbang sekalipun hanya menjadi penumpang, ia memutuskan untuk bergabung dengan penerbangan militer, dimana ia akan menemukan hal-hal baru yang menyenangkan. Namun untuk dapat masuk ke Korps Terbang Kerajaan ia harus memiliki sertifikat penerbang dari Royal Aero Club. Trenchard diberi waktu sepuluh hari untuk mendapatkan sertifikat tersebut. Setelah itu ia diberitahu bahwa ia sudah terlalu tua untuk dapat diterima. Biasanya orang akan ragu-ragu apabila ia sudah cukup berumur. Namun Trenchard tidak mempedulikan ini.

Dengan mata biru, tinggi enam kaki tiga inchi, berat 178 pon ia akhirnya memilih sekolah penerbangan Sopwith di Brooklands. T. O. M. Sopwith, yang saat itu merupakan kepala perusahaan Hawker-Siddeley, perakitan pesawat terbang terbesar di Inggris, adalah seorang pilot yang luar biasa. Meskipun Trenchard tidak berpengalaman dengan pesawat dan sudah berumur, Sopwith membimbing murid barunya dengan baik. Dalam waktu seminggu, setelah menerbangkan pesawat Farman, Trenchard berhasil memperoleh sertifikat penerbang No. 270 pada tanggal 13 Agustus 1912.

Selanjutnya Trenchard berhasil lolos dalam kursus penerbangan militer serta ujian di Central Flying School di Upavon. Pada tanggal 1 Oktober 1912 ia menjadi staf instruktur dan pada tanggal 23 September 1913 ia menjadi asisten komandan.

Ketika Perang Dunia I dimulai Korps Terbang Kerajaan menerbangkan hampir semua pesawat yang ada ke Perancis. Trenchard dipromosikan menjadi Letnan Kolonel dan dikirim dari Upavon ke Farnborough, dimana ia mendapati para pilot yang kurang terlatih dan tidak efisien serta sejumlah pesawat apkiran. Dari sini ia mulai membangun organisasi pelatihan dan cadangan Korps Terbang Inggris, sehingga skadron dapat dikelola dan berkembang. Ia memberdayakan energi yang ada, menghargai pekerja keras, dan membuang yang malas.

Di bawah bimbingannya pasukan cadangan berkembang pesat, dan wing-wing baru didirikan dari semula hanya satu wing Trenchard. Lebih banyak skadron yang terbang ke Perancis untuk memenuhi panggilan tugas militer untuk operasi udara. Kemudian Trenchard ditempatkan di Perancis untuk mengepalai wing pertama di luar negeri yang baru saja dibentuk, yang ditugaskan di Pasukan Pertama Haig. Selama pertempuran Neuve Chapelle pada musim semi 1915, Trenchard mengoperasikan skadronnya untuk bekerjasama dengan pasukan infanteri dan artileri. Ini merupakan pertama kalinya pesawat terlibat secara luas dalam operasi meskipun mengalami kekalahan besar. Trenchard dikritik oleh markas R.F.C. karena kekalahan dialaminya, namun ini diabaikannya. Ia memutuskan untuk melanjutkan operasinya, dan ia sadar bahwa tak akan ada kemenangan tanpa pengorbanan yang besar. ketika pada pertengahan Agustus 1915 seorang jenderal baru akan ditunjuk memimpin Korps Terbang Kerajaan di Perancis, inisiatif dan kepribadiannya selalu di depan teman-temannya.

Trenchard akhirnya terpilih. Ia segera meraih kesempatan terbesar dalam hidupnya, dan tak lama kemudian dipromosikan dari kolonel menjadi Brigadir Jenderal dan akhirnya Mayor Jenderal. Ia tidak lagi menjadi pilot. Ia bekerja di kantor dan harus meninggalkan kokpit. Ia tidak lagi pergi dengan pesawat melainkan dengan mobil Rolls-Royce.

Meskipun tidak pernah terlibat pertempuran, Trenchard telah terbang dan memahami dunia seorang pilot, ia tahu bagaimana harus memerintah dan menanamkan kesetiaan seseorang. Ia berpandangan bahwa seorang yang berwibawa adalah “orang yang tahu bagaimana memperlakukan bawahannya sebagaimana mestinya.” Ia dapat melakukannya dengan baik meskipun ia menuntut banyak hal dari mereka. Ia adalah seorang yang tegas, dan tidak segan-segan “menghukum” siapa pun yang melakukan kesalahan. Ia mengatakan kepada salah satu skadron pembom bahwa jika ada serangan yang memungkinkan mereka semua habis, maka tugasnya adalah untuk menyelamatkan mereka.

Ia bukanlah seorang yang “pandai bergaul.” Ia tak pernah memanggil temannya dengan nama baptis mereka dan tidak seorang pun yang mau berbicara dengannya secara langsung. Namun ia menjadi sosok yang legendaris dengan para penerbang mudanya; mereka menjuluki komandannya dengan sebutan “bom” karena suaranya yang dalam.

Korps Terbang Kerajaan di Perancis menjadi pendukung pasukan darat, dan Trenchard bekerjasama dalam kolaborasi dengan markas komando tertinggi, Sir Douglas Haig. Ia merencanakan tugas dari skadron udaranya untuk melakukan serangan tanpa henti. Pertempuran udara selalu dilakukan di garis pertahanan Jerman. Dengan ini Trenchard membangun semangat dari Angkatan Udara.

Dengan persetujuan Haig Trenchard membentuk pasukan khusus pembom yang terdiri dari lima skadron pada tahun 1917. Namun pasukan ini tetap menjadi bagian dari Korps Terbang Inggris, sehingga bisa digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk dukungan langsung terhadap pasukan darat. Pada tahun 1918 Pemerintah menjadikan pasukan ini sebagai Angkatan Udara Independen untuk pemboman strategis terhadap industri Jerman, dan menempatkannya langsung di bawah perintah Kabinet Perang.

Perdana Menteri menunjuk Mayor Jenderal Sir Hugh Trenchard sebagai kepala staf Dewan Penerbangan yang baru dibentuk pada tanggal 1 Januari 1918. Trenchard sebenarnya lebih senang tinggal di Perancis. Setelah terpaksa pulang, ia sekarang harus bekerja sama dengan sipil untuk pertama kalinya.

Kepala Dewan Penerbangan adalah Menteri Negara yang merupakan wakil langsung dari Pemerintah, dan bertanggung jawab kepada Parlemen untuk Angkatan Udara Kerajaan Inggris. Kepala staf angkatan udara diwajibkan memberi saran kepada Pemerintah tentang persoalan militer di bidangnya dan menunggu instruksi Pemerintah untuk dilaksanakan oleh Angkatan Udara. Dengan demikian Departemen Penerbangan dan kepala staf angkatan udara harus bertindak dengan persetujuan.

Ketika Angkatan Udara Inggris dibentuk serangan besar Jerman yang dirancang oleh Ludendorff telah dialami oleh Pasukan Kelima Inggris yang berada di Perancis. Trenchard percaya bahwa Inggris berada di ambang kekalahan oleh Jerman jika dibandingkan dengan Battle of Britain tahun 1940. Inggris memiliki dua juta pasukan di Perancis, sedangkan pasukan Perancis telah habis, dan Italia kalah, Rusia telah mundur dan Amerika Serikat belum masuk. Saat itu semua tergantung pada kekuatan pasukan Inggris. Melihat ini Sir Douglas Haig pada tanggal 11 April 1918 menulis pesan yang nantinya ia sebarluaskan : Tak ada jalan lain bagi kita kecuali bertempur habis-habisan! Setiap posisi harus dipertahankan oleh semua orang: kita tidak boleh berhenti. Dengan segenap kemampuan kita, dan keyakinan bahwa keadilan akan datang, kita semua harus bertempur sampai titik darah penghabisan.

Angkatan Bersenjata pun melakukannya. Mereka terus bertempur dalam pertempuran di Lys selama empat puluh hari empat puluh malam, dengan kekuatan tiga atau empat lawan satu, Inggris kehilangan 209.466 pasukan yang tewas atau terluka, namun Jerman kehilangan 308.825 tentara dan dengan demikian Inggris menang. Saat itu banyak pemuda Inggris yang mati seperti bunga-bunga layu yang hanyut di sungai Lys. Namun pengorbanan dan keberanian mereka tercatat dalam sejarah Inggris, seperti fleurs-de-lis, menghiasi cerita kepahlawanan Kerajaan Inggris.

Di tengah-tengah pertempuran besar tersebut, Angkatan Udara pertama di dunia yaitu Royal Air Force dibentuk pada tanggal 1 April 1918. Pada mulanya mereka tidak melakukan tugas tersendiri seperti sekarang. Angkatan perang ini merupakan gabungan dari dua kekuatan Dinas Penerbangan Angkatan Laut dan Korps Terbang Kerajaan Inggris. Setelah itu tidak ada lagi dinas penerbangan angkatan laut, ataupun angkatan darat, namun merupakan gabungan diantara keduanya. Hanya ketrampilan dan waktu yang menjadikannya sebagai satu bagian tak terpisahkan.

Sementara itu kebijakan untuk mengatur kekuatan Angkatan Udara yang baru ini harus dipikirkan. Trenchard ingin berkonsentrasi pada kekuatan udara di Perancis untuk mendukung pasukan darat yang terdesak oleh serangan Jerman. Departemen Luar Negeri menginginkan untuk mengirim skadron udara yang didampingi oleh angkatan laut. Trenchard mengatakan bahwa Angkatan Laut tidak membutuhkannya. Ia menolak untuk memecah Angkatan Udara. Untuk melakukannya ia harus menentang Haig yang terkenal dengan kekuatan pasukannya.

Daripada mengambil kebijakan yang bertentangan dengan keyakinannya, Trenchard memilih mundur. Saat melakukannya ia menghadapi krisis terbesar dalam hidupnya, karena sedikit mantan pejabat yang mampu bertahan dari efek pengunduran dirinya. Dan Trenchard mempertaruhkan masa depannya. Ia telah mendapatkan reputasi baik dalam memimpin Korps Terbang Kerajaan Inggris di Perancis, dan kabar pengunduran dirinya menjadi perdebatan di Parlemen. Banyak suara yang mendukung Departemen Penerbangan namun ia telah mundur. Sementara Trenchard masih mempunyai reputasi, ia tidak bisa kembali ke Dewan Penerbangan karena tempatnya telah digantikan oleh orang lain.

Selama beberapa waktu ia tidak mempunyai pekerjaan dalam keadaan negara yang sedang berperang. Kemudian ia ditawari untuk memimpin sebuah Angkatan Udara Independen. Kekuatan ini dimaksudkan untuk membentuk ratusan skadron pembom, meskipun pada prakteknya hanya terdapat sembilan. Meskipun kekuatan ini diatur oleh Kabinet Perang, Trenchard diberi kebebasan. Dengan demikian, ia bisa melakukan sesuatu menurut pemikirannya, seperti membom pangkalan udara dan membantu pasukan darat saat mereka terdesak, dan juga menyerang pusat industri musuh. Foch seorang jenderal Perancis, yang pernah menjabat sebagai komandan tertinggi ingin mengembalikan kekuatan angkatan perang Perancis seperti Inggris. Untuk itu, ia menginginkan Angkatan Udara Independen mendukungnya. Ini ditolak oleh Trenchard dengan alasan ia selalu membantu Foch jika diperlukan, dan ini sama saja.

Ketika perang berhasil dimenangkan Trenchard diberi gelar baronet dan ditunjuk sebagai kepala staf angkatan udara Royal Air Force pasca perang. Sesuai dengan peraturan pemerintah kekuatannya dikurangi dari 350.000 menjadi 28.000 personel. Skadron tempurnya dikurangi dari 200 menjadi 25, sedangkan 199 skadron pelatihannya mengalami penurunan drastis. Dengan kekuatan kecil ini Trenchard harus membangun dasar kekuatan dari Royal Air Force seperti pada Perang Dunia II. Untuk jasanya ia sering dijuluki “bapak Angkatan Udara”.

Semula Royal Air Force menerapkan gelar yang sama dalam kepangkatan militer. Pada bulan Agustus 1919 Trenchard mengubahnya menjadi pangkat-pangkat terpisah yang masih dipakai hingga sekarang. Ia sendiri menjadi Marsekal Udara pertama, pangkat yang setara dengan letnan jenderal bintang tiga. Ia mulai melatih siswa Angkatan Udara Kerajaan di sekolah khusus Angkatan Udara dengan mendirikan Royal Air Force College, Cranwell, dan Royal Air Force Staff College. Ia juga membentuk Royal Air Force Reserve sebagai pasukan cadangan dan menerima para pilot di Perang Dunia I. Ia memperkenalkan komisi jangka pendek, sehingga para pilot cadangan dapat berkembang. Ia juga mendirikan Auxiliary Air Force, sebagai “pendukung” kekuatan udara.

Diperlukan seorang seperti Trenchard yang mampu memisahkan tugas profesional kemiliteran sesuai dengan kebutuhannya. Musuh berusaha memecah belah kekuatan militer lewat ini. Namun Royal Air Force dapat membedakan eksistensi dirinya dengan menjalani kebijakan selama masa damai seperti yang dilakukan oleh Angkatan Laut dan Angkatan Darat. Trenchard juga mengemban tugas penjaga perdamaian di Iraq dengan skadron-skadron R.A.F. serta di Syria dengan seper lima anggaran Kantor Urusan Perang Inggris; ia juga melakukannya di Aden dan Somalia. Ini membuat posisi Angkatan Udara tetap aman dari Angkatan Bersenjata.

Namun Angkatan Laut berbeda. Pesawatnya tidak memiliki kebebasan seperti sekarang. Saat itu mereka tidak dapat melakukan patroli seperti sekarang. Pada tahun 1922 Pasukan Armada Udara dibentuk, dengan pilot dari Royal Air Force yang ditugaskan di kapal induk. Akhirnya bagian Royal Air Force yang bertugas di laut diambil alih oleh Angkatan Laut secara terpisah. Lord Trenchard tidak pernah setuju dengan pemisahan Angkatan Udara, dan saat menjabat sebagai kepala staf angkatan udara ia bisa menolaknya.

Ia mendapatkan pangkat tertinggi saat menjadi Marsekal bintang lima di Royal Air Force pada tahun 1927. Pada tahun 1929 ia meninggalkan Departemen Penerbangan setelah lama memimpin staf angkatan udara, dan mendapat kehormatan dari dalam dan luar negeri. Setahun berikutnya ia diberi gelar baron, dan diikuti dengan gelar viscount.

Laksamana Armada, Marsekal lapangan Angkatan Darat, dan Marsekal Angkatan Udara hanyalah jabatan yang tidak pernah berhenti. Karena itu Lord Trenchard sering menyeragamkannya. Ia sering berbicara di depan House of Lords, menjunjung tinggi Royal Air Force di hadapan musuh, menekankan perlunya biaya, personel dan persenjataan untuk itu, dan menjelaskan strateginya sebagai suatu kekuatan terpisah. Surat yang ditandatanganinya sering dimuat oleh koran-koran nasional, yang menunjukkan pandangannya tentang angkatan udara dan bagaimana fungsinya. Pada masa Perang Dunia II ia sering berkunjung ke berbagai negara untuk melihat aksi Royal Air Force dan mempromosikan kesejahteraannya. Ia terbang sebagai penumpang ke Alaska, Kanada, dan Amerika Serikat beberapa kali. Ia juga ke Afrika, Timur Tengah, Mediterania dan Eropa. Ia tidak tahu berapa jam terbangnya, baik sebagai pilot maupun penumpang, arena ia tidak mempunyai catatan untuk itu. Saat usianya hampir delapan puluh tahun ia terbang sebagai penumpang pesawat latih Meteor untuk merasakan sensasi pesawat jet; ambisinya adalah dapat melebihi kecepatan suara.

Ia tidak sempat menjadi pilot besar. Ia mulai terbang di saat cukup berumur. Namun ia adalah pengolah kekuatan udara untuk tujuan militer, setara dengan kehebatan para penerbang besar, dan di atas prestasi mereka pula reputasinya dibangun. Ia tak pernah berjanji. Ia sadar akan keterbatasan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan. Ia senang membantu siapa pun, namun tidak akan membantu mereka yang tidak memerlukan bantuan. Ia tidak pernah bertindak serampangan. Ia tidak senang menonjolkan sifat humor. Karakternya seperti batu yang tak akan pecah oleh gempa bumi. Ia berkeyakinan bahwa kekuatan yang dimiliki individu — sebagaimana juga pada Royal Air Force — berasal dari dalam dan bukan karena pengaruh luar. Dan setelah dua puluh lima tahun ia meninggalkan Departemen Penerbangan ia tetap dianggap sebagai pelopor dan pendiri Angkatan Udara yang paling berani di dunia. Ia bekerja sampai akhir hayatnya. Meskipun kebutaan usia lanjut menimpanya semangatnya tak pernah padam. Ia meninggal pada tanggal 10 Februari 1956. Dalam sebuah pemakaman kebesaran tubuhnya disemayamkan diWestminster Abbey. Sesuai dengan keinginannya, topi dan pedangnya disimpan di Galeri Perintis di Royal Air Force College, Cranwell. Di tempat itu kenangannya disimpan berdampingan dengan fotonya, dan diresmikan oleh Marsekal Udara Pertama Sir Dermot Boyle, yang saat itu menjabat kepala staf angkatan udara, panglima tertinggi yang merupakan lulusan sekolah tersebut.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: