Beranda » Penerbang Terbesar Sepanjang Sejarah » 2. Wilbur dan Orville Wright

2. Wilbur dan Orville Wright

YANG PERTAMA KALI TERBANG

WILBUR DAN ORVILLE adalah dua anak termuda dari empat bersaudara dari empat bersaudara putra Pendeta Milton Wright, kepala United Brethren yang sebelumnya menjadi editor The Religious Telescope, dan kemudian menjadi uskup di gerejanya. Bakat sang anak untuk merancang dan membuat sesuatu didukung oleh ayah mereka yang bijak, dengan mendorong mereka memenuhi hobi yang bermanfaat, banyak membaca, dan menyelidiki sesuatu yang membuat mereka penasaran.

Nenek moyang mereka berasal dari Inggris dan Belanda. Samuel Wright, yang berimigrasi ke Amerika pada tahun 1836, merupakan keturunan John Wright, pemilik Kelvedon Hall (di sebuah desa yang namanya sama di Essex) pada tahun 1538. Darah Belanda mereka berasal dari Van Cleve yang datang ke Amerika pada abad ke-17.

Wilbur dan Orville sudah menghasilkan uang sejak muda, dengan menggunakan otak dan ketrampilan tangannya, mereka bekerja mandiri. Mereka merancang dan membuat mesin cetak sendiri, yang mencetak sebuah koran kecil namun berhasil, menunjukkan bakat jurnalisme mereka, dan menambah penghasilan dengan pekerjaan mencetak.

Tahun 1890 merupakan dekade maraknya sepeda. Wilbur masih berusia 23 tahun, sedangkan Orville 19 tahun. Mereka mulai menjual dan memperbaiki sepeda, dan kemudian membuatnya sendiri. Pada tahun 1892, mereka mendirikan pabrik sepeda Wright Cycle Company yang terletak di 1127 West Third Street, Dayton, Ohio, yang menghasilkan sepeda Van Cleve.

Empat tahun kemudian mereka mendengar kematian Otto Lilienthal saat mencoba terbang di dekat Berlin. Hal ini mengalihkan perhatian mereka pada dunia penerbangan. Tiga tahun berlalu, dan mereka mulai belajar tentang terbang dengan sayap. Balon udara terbang pertama kali pada tahun 1783, menyusul balon Zeppelin pada tahun 1852; sesuatu yang tampak alami. Namun di mata Wilbur dan Orville hal ini terlihat “bertentangan dengan hukum alam” yaitu terbang dengan sayap. Inilah yang mendorong keingintahuan mereka, sehingga berusaha meneliti segala hal yang terkait.

Mereka menyurati Smithsonian Institution dan mendapatkan sejumlah pamflet serta rekomendasi terhadap sejumlah buku. Dari studi ini mereka tahu bahwa telah banyak uang yang dikeluarkan untuk meneliti masalah terbang dengan sayap; namun dengan penemuan dan pengetahuan manusia itu belum ditemukan solusi yang nyata.

Mereka membaca tentang eksperimen terbang Lilienthal di Jerman dari tahun 1891 sampai 1896, Percy Pilcher di Inggris dari tahun 1895 sampai 1899, dan pesawat layang Amerika Octave Chanute (yang diterbangkan oleh A. M. Herring dari tahun 1896 sampai 1902). Eksperimen kedua orang Inggris dan Jerman berakhir dengan kematian akibat jatuh. Chanute bereksperimen dengan sayap yang dapat digerakkan, dan sayap ganda meskipun pesawat lain bersayap tunggal.

Semakin sering dua bersaudara Wright membaca, mereka semakin yakin bahwa inti masalah terletak pada ketidakseimbangan mesin yang lebih berat daripada udara, namun demikian harus didukung oleh udara.

Mereka mempelajari segala hal yang sudah menjadi pengetahuan umum tentang meningkatnya daya dorong pada permukaan yang menikung dari depan ke belakang seperti sayap burung, serta bagaimana tekanan pada permukaan berpindah ke depan dan ke belakang saat udara mengalir ke sayap pada sudut tertentu. Mereka segera sadar bahwa diperlukan suatu alat penyeimbang depan-belakang untuk menahan perubahan semacam ini dan menjaga sayap tetap terkendali. Sejumlah eksperimenter telah menggunakan penyeimbang seperti ini dan mencoba membuatnya dapat digerakkan. Pilcher adalah salah satunya. Dan dia tewas. Wright bersaudara yakin bahwa ada sesuatu yang terlupakan.

Saat memperhatikan merpati terbang mereka melihat burung itu memiringkan sayapnya dari satu sisi ke sisi lainnya. Melihat hal ini, mereka berkesimpulan bahwa burung memutar ujung salah satu sayapnya ke sudut yang lebih besar dan ujung satunya lagi ke sudut yang lebih kecil atau negatif, sehingga sayapnya mengarahkan angin mendorong tubuhnya ke samping. Selama ini, orang-orang yang mencoba terbang mengendalikan sayap dengan menggerakkan tubuh dan kaki mereka ke samping, seperti bandul. Kedua bersaudara ini memutuskan untuk memanfaatkan reaksi udara untuk tujuan ini. Kemudian mereka mengamati bahwa burung yang terbang tinggi, seperti elang, hanya sedikit menggerakkan sayapnya ke depan-belakang, sehingga mempengaruhi keseimbangan depan-belakang. Wright bersaudara berpikir bahwa jika mereka mengkombinasikan gerakan sayakedua burung tersebut mereka akan dapat menciptakan kendali yang lebih baik dari orang-orang sebelumnya.

Wilbur sedang mendemonstrasikan ini, dengan kotak papan tipis bekas tempat sereal, saat dia tiba-tiba sadar bahwa itu merupakan struktur pesawat bersayap ganda yang dapat berputar pada ujungnya yang terbuka sehingga menghasilkan kendali yang baik. Dari ketidaksengajaan ini kedua bersaudara itu membayangkan pesawat terbang mereka — dengan sayap ganda, yang satu dipasang lebih tinggi dari yang lainnya dan menempel kuat di depan dan belakang, namun tidak pada ujungnya. Pada konstruksi sesungguhnya, penyangga berengsel dipakai untuk menggabungkan kedua sayap yang memungkinkan permukaannya digeser ke depan dan belakang dengan dua buah tuas, yang masing-masing mengatur satu ujung sayap dengan kabel. Jika kedua tuas didorong ke depan sayap atas akan bergeser lurus ke depan sehingga pesawat menanjak naik. Jika salah satu tuas digeser ke depan satunya lagi ditarik ke belakang, sayap pesawat akan melengkung, membuat sudut besar pada salah satu ujungnya dan sudut kecil pada ujung lainnya. Kata Wilbur: “Kami pikir bahwa dengan melengkungkan sayap kita dapat mengatur keseimbangan sisi pesawat, baik demi keseimbangan atau pun pengendalian seperti terlihat pada burung yang pada saat miring berputar dengan sayap tertutup.”

Pada akhir musim panas 1899 mereka membuat sebuah pesawat layang kecil sayap ganda dengan rentang 5 kaki dan lebar sayap 12 inchi. Sayap pesawat itu dapat dilengkungkan, sedangkan sayap atas dapat digerakkan ke depan, dengan mengatur kawat dari darat. Setelah percobaan terbang tersebut menunjukkan efisiensi sistem kendali, mereka lalu bertekad untuk membuat pesawat yang dapat membawa manusia.

Dimanakah tempat terbaik untuk melakukan eksperimen mereka? Mereka mempelajari laporan dari badan cuaca Washington, dan memilih Kitty Hawk, North Carolina, sekitar 1000 mil dari tempat mereka tinggal. Tempat ini merupakan padang pasir tandus yang sempit namun memanjang yang terletak antara Albemarle Sound dan Samudera Atlantik, dimana angin berhembus kencang dan stabil dengan kecepatan antara 15 sampai 20 mil per jam. Disana Wright bersaudara memilih tiga buah bukit pasir untuk eksperimen mereka — Little Hill setinggi 30 kaki, West Hill setinggi 80 kaki, dan Kill Devil Hill sekitar 100 kaki.

Kakak beradik itu juga masih mengelola bisnis sepeda mereka, baik untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun membiayai eksperimen terbang mereka, selain juga tempat menghabiskan waktu luang dan liburan mereka. Pada bulan Oktober 1900 pesawat layang mereka telah siap. Mereka menemukan bahwa akan lebih praktis jika digunakan pengangkat kecil (mereka menyebutnya kemudi horisontal) untuk kendali depan-belakang. Mereka memasang pengangkat ini di depan sayap utama. Ujung depannya dibikin tetap, sedang ujung belakangnya dapat digerakkan. Dalam keadaan netral permukaannya akan rata, namun jika bergerak akan melengkung, dan semakin bertambah lengkungan (serta kekuatannya) jika terus bergerak. Sang pilot, yang berbaring pada sayap bawah, menghadap ke depan dan ke bawah, mengendalikan pengangkat dengan sebuah pemutar genggam yang bergerak ke depan dan belakang. Dia mengatur keseimbangan sisi pesawat dengan melengkungkan sayap melalui kabel-kabel yang mengikat beban dan dihubungkan dengan pinggul serta mengikuti gerakan tubuhnya.

Kedua bersaudara ini memutuskan untuk mencoba dahulu pesawat layang dengan membawa manusia. Salah satu dari mereka berbaring di bagian tengah sayap bawah. Pesawat layang itu terbang menuruni lereng Little Hill, dengan hembusan angin antara 25 dan 30 mil per jam, namun sudut sayapnya terlalu besar sehingga sang pilot kesulitan menguasai kendali.

Pasti ada sesuatu yang salah.

Sebelumnya mereka mengacu pada perhitungan Lilienthal untuk rancangan pesawatnya. Namun belakangan mereka tahu bahwa ada sesuatu yang salah — namun di mana? Mereka memasang rantai pada pesawat layang yang menggantikan beban pilot, dan menerbangkannya seperti layang-layang yang terbang pada hembusan angin tertentu, dengan tali kendali dari darat. Dari percobaan ini mereka menemukan bahwa daya angkatnya lebih lemah dari perkiraan mereka, dan mereka sadar bahwa dengan alat ini mereka tidak akan dapat melayang seperti burung, kecuali hanya meluncur pendek menuruni lereng.

Demi menghindari resiko fatal seperti yang terjadi pada eksperimen-eksperimen sebelumnya, mereka melakukan terbang layang pertama pada kecerpatan angin sekitar 14 mil per jam, dengan hanya menggunakan pengangkat depan agar mudah memperoleh keseimbangan depan-belakang, sehingga mereka dapat mendarat dengan cepat apabila pesawat miring ke samping atau menunjukkan tanda-tanda lepas kendali.

Mereka melakukan serangkaian uji terbang antara 15 sampai 20 detik, dan setelah menemukan cara terbang lurus, mereka mencoba mengemudikan pesawat dengan mekanisme lengkung-sayap. Namun demikian pesawat tidak dapat terkendali seperti harapan mereka. Awalnya mereka tidak begitu yakin apa yang terjadi, karena terlalu sibuk memperhatikan masalah pengendalian. Namun setelah beberapa kali nyaris mengalami kecelakaan mereka tahu bahwa sayap yang melengkung ternyata menahan angin dan menyebabkan pesawat tergelincir ke samping tak terkendali, sehingga jatuh ke darat dan mengakhiri penerbangan.

Sampai tanggal 23 Oktober total waktu terbang mereka hanya dua menit, namun mereka tahu bahwa tidak ada lagi yang dapat dipelajari dari pesawat tersebut. Mereka kembali ke Dayton untuk membuat pesawat lain, dengan rentang sayap antara 18 sampai 22 kaki, dan lebar sayap antara 5 sampai 7 kaki. Bobot pesawat naik dari 52 lb menjadi 98 lb. Sayap pesawat baru ini sangat melengkung sampai 290 kaki persegi (tidak termasuk 18 kaki persegi pengangkat) melampaui pesawat yang pernah dibuat oleh Lilienthal, Pilcher ataupun Chanute.

Mereka mulai menerbangkannya pada tanggal 27 Juli 1901, namun mereka segera menemukan bahwa kendali pengangkat tidak stabil. Mereka mengurangi lengkung sayap, dan ini berhasil mengatasi masalah. Selanjutnya  “pengatur kendali bisa menyebabkannya … meluncur ke tanah, karena permukaannya yang tidak rata, atau … melayang sejajar dengan titik luncur, naik ke atas kaki bukit, lalu berangsur-angsur turun ke tanah.”

Pesawat layang yang mereka buat pada musim panas ini mengungguli pesawat-pesawat eksperimen sebelumnya. Namun kedua bersaudara ini belum merasa puas. Pengalaman Lilienthal membuat mereka yakin bahwa mereka sebenarnya bisa meningkatkan daya angkat tiga kali lipat dari yang mereka hasilkan saat ini, sehingga dapat terbang lebih lama. Meskipun bekerja pagi hingga petang, mereka belum juga bisa terbang sampai lima menit dalam sehari, yang menurut Wilbur merupakan waktu minimal untuk ukuran keberhasilan eksperimen mereka. Dalam kekecewaannya dia berkata bahwa orang tidak akan bisa terbang sampai seribu tahun lagi.

Mereka kembali ke Dayton untuk meneliti masalah yang berkaitan dengan model sayap. Pertama-tama mereka memasang sebuah plat rata dan sayap lengkung mini pada sepeda, dan mengayuhnya untuk membandingkan daya angkat pada kedua permukaannya. Namun metode ini kurang memadai.

Selanjutnya mereka mengambil sebuah kotak kayu, melepas ujung-ujungnya, dan mengalirkan udara lewat sebuah kipas angin bermesin. Mereka mengimbangkan permukaan model tersebut dengan sebuah penopang di dalam kotak tersebut.

Kemudian pada tahun itu juga mereka telah menciptakan lorong angin yang lebih baik dengan panjang 5 kaki dan luas 16 inchi persegi, serta sebuah lubang pada ujung belakang untuk menambah tekanan udara dari kipas. Mereka menempelkan model tersebut pada sebuah bingkai yang dibuat dari ujung gergaji dan ruji ban sepeda, dan dengan alat ini mereka berhasil menjalankan idenya. Pada bulan Desember 1901, menggunakan sayap logam mini dengan rentang 6 inchi dan lebar sayap 1 inchi, mereka menguji sejumlah rancangan sayap yang berbeda pada kecepatan angin 27 mil per jam. Dalam dua bulan lebih kedua bersaudara ini telah menguji lebih dari 200 model sayap dan mencatat ribuan tulisan.

Dari riset inilah pertama kali mereka memperoleh informasi yang meyakinkan, yang mengantarkan mereka sukses menjadi pilot pesawat bersayap sebelum semuorang lain. Ini merupakan dasar seluruh kegiatan aeronautika mereka hingga meninggalnya Wilbur pada tahun 1912. Sejumlah penulis keliru menganggap Wright bersaudara hanyalah dua orang mekanik sepeda yang beruntung karena berhasil menciptakan pesawat pertama sementara orang lain gagal. Ini tidak benar. Para pendahulunya, ataupun penerusnya, tidak ada yang melakukan riset seperti mereka dalam persoalan yang serupa atau memperoleh pengetahuan aerodinamika yang tepat.

Setelah memperoleh data mereka sendiri untuk pertama kalinya, kedua bersaudara tersebut membuat pesawat layang ketiga dengan rentang sayap 32 kaki dan lebar sayap 5 kaki. Bentuk sayap baru ini, dengan dua kali lipat perbandingan rentang dan lebar sayapnya, menghasilkan efisiensi daya angkat yang mereka harapkan sebelumnya namun gagal karena mereka menerapkan teori Lilienthal. Di belakang sayap mereka memasang dua ekor vertikal yang tak dapat digerakkan dengan permukaan lebih dari 11½ kaki persegi, dan pengangkat di depan sayap selebar 15 kaki persegi. Berat keseluruhan pesawat adalah 116 ½ pon, dan menjadi 250 atau 260 pon jika salah satu dari mereka menjadi pilot.

Pada akhir September 1902 mereka pertama kali berhasil terbang seperti layang-layang. Setelah beberapa kali terbang Orville menjadi terampil menggunakan kendali depan-belakang. Ketika suatu saat mulai terbang, dia melihat sayap kanan pesawat sedikit lebih tinggi dari yang kanan. Dengan mantap dia mencoba kendali lengkung untuk pertama kalinya. Namun ketika menarik sayap kiri ke atas, sayap kanan juga terangkat lebih tinggi. Saat itu Orville menyangka bahwa ia melakukan gerakan yang salah. Untuk memastikan bahwa ia tidak salah, ia mencoba lagi menariknya ke atas. Dia tidak memperhatikan pengangkatnya. Wilbur dan satu atau dua orang lain yang ada di darat, melihat pesawat itu terus naik dan menanjak ke depan dengan posisi yang membahayakan. Teriakan peringatan mereka tidak terdengar karena tertiup angin. Orville masih asyik mencoba mengangkat sayap dengan kendali lengkung.

Pesawat tersebut terbalik. Dari ketinggian sekitar 30 kaki pesawat melayang terbalik secara diagonal. Sang pilot sempat sekilas melihat ke belakang sebelum pesawat terpuruk ke tanah dan dia terkapar di antara puing pesawat yang berserakan. Beruntung, Orville tidak terluka atau memar, meskipun sebagian pakaiannya sobek.

Peristiwa ini adalah satu-satunya kecelakaan yang pernah dialami sepanjang eksperimen terbang kedua bersaudara tersebut. Pesawat baru selanjutnya dirancang dengan baik oleh para pekerja selama beberapa hari, dan tidak pernah rusak lagi setelah terbang hingga ratusan kali. Wilbur menyatakan pandangan mereka : “Ketrampilan muncul dari usaha biasa yang terus-menerus dan bukan dari usaha keras yang dilakukan oleh orang yang belum siap. Sebelum mencoba mencapai ketinggian yang membahayakan seseorang harus tahu bahwa dalam keadaan darurat otak dan ototnya akan bekerja berdasarkan insting dan bukan berdasar kesadaran. Kita tidak sempat lagi berpikir.”

Kecelakaan tersebut menunjukkan bahwa ada yang kurang pada sistem kendali mereka. Mereka memerlukan suatu kontrol, atau kombinasi sejumlah kontrol, yang mengatur ujung sayap ke depan dan ke belakang sesuai kehendak pilot, sehingga mencegah ujung sayap turun dan terbalik secara mendadak saat gagal terbang dan menyebabkan pesawat jatuh menukik ke bumi. Mereka menyimpulkan bahwa jawabannya adalah bagaimana membuat ekor vertikal dapat digerakkan. Mereka melepas dua buah ekor tetap dan menggantikannya dengan sebuah ekor yang dapat digerakkan. Mereka lalu menghubungkan gerakan ekor ini dengan mekanisme lengkung-sayap.

Kedua bersaudara ini menerapkan kendali angin tiga dimensi yang dapat membelokkan sayap, mengatur ujung sayap ke depan-belakang, serta merubah sudut depan-belakang. “Sekarang kami mempunyai struktur seperti yang dikukiskan dalam bentuk gambar dan spesifikasi penemuan kami,” kata Wilbur. “Dengan perlengkapan ini kami telah terbang hampir 700 kali dalam dua atau tiga minggu ini. Jika dibuat dengan baik, alat ini terbukti dapat menyempurnakan kontrol terhadap kekuatan angin yang dapat mengganggu keseimbangan. Kami menerbangkannya pada kecepatan angin rendah dan kecepatan angin hingga 35 mil per jam. Kami mengemudikannya ke kiri dan ke kanan, dan melakukan semua gerakan yang diperlukan dalam penerbangan. Pesawat seperti berkembang lebih baik daripada operatornya; sehingga kami merasa seperti orang baru dalam bidang ini.”

Kalimat terakhir Wilbur tidaklah mengherankan, sebab — meskipun dia dan adiknya telah menciptakan pesawat yang dapat dikendalikan — pesawat itu sendiri tidak stabil, yang keseimbangannya tergantung pada ketrampilan dan kewaspadaan sang pilot. Demikian juga dengan susunan kontrol seperti kendali alami dan instingtif yang dikembangkan setelahnya.

Kedua bersaudara ini menghitung bahwa jumlah seribu kali terbang adalah sama dengan terbang terus selama empat jam — cukup waktu untuk memahami misteri terbang dengan pesawat yang tidak stabil dan merupakan sesuatu yang langka di dunia.

Eksperimen mereka pada tahun 1902 berlangsung selama sekitar lima minggu; namun berkurang beberapa hari, karena hujan dan tiadanya angin; sebab jika kecepatan angin di bawah 18 mil per jam diperlukan tenaga fisik yang besar untuk meluncurkan pesawat. Pada enam hari terakhir penerbangan mereka tahun itu kedua bersaudara tersebut telah terbang lebih dari 375 kali, dengan jarak terpanjang 622 kaki selama 26 detik. Sebelum itu belum pernah ada yang menerbangkan pesawat dengan kontrol sempurna. Belum ada yang melakukan uji coba terbang seperti mereka. Tak heran jika pada tahun tersebut kedua bersaudara itu meninggalkan pesawat Kitty Hawk dengan kepercayaan diri yang besar.

Sekarang mereka telah siap memasang mesin untuk pesawat. Saat itu belum terdapat mesin yang cocok, sehingga (bersama seorang mekanik, Charles E. Taylor) mereka membuat sebuah mesin, dengan empat silinder horisontal 4 inchi berpendingin-air. Jika diisi air dan bahan bakar penuh maka beratnya adalah 200 pon lebih, dan menghasilkan 13 sampai 14 tenaga kuda pada putaran 1200 rpm. Mereka merancang sebuah rangka sayap ganda sepanjang 40 kaki 4 inchi, dengan lebar 21 kaki 1 inchi, serta tinggi 8 kaki 1 inchi, berlapis kain selebar 510 kaki persegi, dan berat total 745 pon. Mereka belum mendapat ide bagaimana merancang baling-baling, sehingga menggunakan kalkulasi yang sama untuk pesawat mereka dan berhasil menerapkannya dengan putaran spiral. Mereka memasang mesin di bagian tengah sayap bawah untuk menyeimbangkan berat dengan pilot, dan menggerakkan kedua baling-baling melalui rantai dengan arah putaran yang berlawanan.

Wright bersaudara menyebut pesawat bermotor mereka dengan sebutan “Flyer”. Mereka membuatnya lebih kuat daripada pesawat layang mereka, agar mampu menahan goncangan yang lebih besar saat mendarat cepat. Pada bagian depan terdapat tuas sayap ganda, dan di bagian belakangnya terdapat dua buah kendali yang dapat digerakkan, dua perubahan dari desain pesawat sebelumnya. Ketika telah siap mereka memasang sebuah kaki pada tiap ujung sayap, dan memasang beban pada sayap bawah bagian tengah dengan muatan terbangnya. Ternyata tutup sayapnya melengkung. Seperti sebelumnya, mereka lalu memperbaiki ikatan serta merubah jumlah kabel lengkung-sayap. Kemudian mereka berhasil melakukan tes muatan beban tanpa cacat, dan memutuskan siap untuk terbang.

Menjelang akhir September 1903 kedua bersaudara kembali ke Kitty Hawk. Cuaca berangin keras, namun jika memungkinkan mereka menerbangkan pesawat ketiganya, dan mendaki bukit Kill Devil Hill pada kecepatan angin 20 sampai 30 mil per jam. Penerbangan terlama berlangsung sekitar 72 detik. Cuaca buruk menunda penerbangan pesawat Flyer. Pada tanggal 14 Desember Wilbur melakukan percobaan pertama. Dia membubung dengan tajam, dan tidak mampu membelokkan Flyer sebelum akhirnya jatuh. Saat mendarat dengan keras pesawat tergores dan terjadi kerusakan kecil. Dibutuhkan waktu dua hari untuk perbaikannya. Angin utara bertiup buruk pada malam tanggal 16 Desember. Keesokan harinya muncul sejumlah genangan air diantara lapisan es, dan angin dingin masih bertiup dengan kecepatan antara 25 sampai 27 mil per jam. Namun kedua bersaudara tetap memutuskan untuk terbang. Sekarang adalah giliran Orville.

Kitty Hawk adalah tempat yang terpencil, bahkan di musim panas sekalipun. Penduduk terdekat adalah para penjaga pantai di Stasiun Kill Devil, yang berjarak lebih dari satu mil, dimana kedua bersaudara mengatakan bahwa mereka hendak terbang. Saat semuanya telah siap ada lima orang saksi di sana. Mereka melihat sebuah benda dari kayu dengan bantalan besi diatasnya, dipasang pada sayap kayu diantara hamparan pasir sekitar seperempat mil di barat daya Kill Devil Hill, dan melayang bersama angin. Sebuah balok kayu, yang membawa poros roda tanpa ruji terpasang melintang pada alur sayap. Gerakan pesawat Flyer disangga dengan balok ini, dan kaki-kaki memperkuat ujung sayapnya.

Sekitar pukul 10.30 kedua bersaudara melihat anemometer menunjukkan kecepatan angin 22 mil per jam pada ketinggian 4 kaki dari permukaan tanah. Orville berbaring di sayap bawah Flyer, meletakkan tubuhnya sebagai beban yang menggerakkan lengkung sayap dan kendali secara simultan, serta menggenggam tuas kontrol elevator dengan tangan kirinya. Selama beberapa menit mesin dinyalakan untuk pemanasan. Pada pukul 10.35 Orville melepaskan tali yang mengikat Flyer. Mesin menyala pada putaran 1020 rpm, meraung dengan knalpot terbuka, dan menghasilkan 12 tenaga kuda, serta memutar baling-baling 3 kali setiap 10 putaran mesin.

Flyer mulai bergerak pelan sepanjang lintasan. Wilbur berlari di sampingnya, menyeimbangkan satu ujung sayap dengan sebelah tangannya. Flyer bergerak naik setelah meluncur sejauh 40 kaki. Kedua bersaudara telah memasang sebuah kamera pada ujung lintasan. Penjaga pantai J. T. Daniels mengambil gambarnya. Gambar ini memperlihatkan pesawat Flyer yang sedang melayang 2 kaki di atas ujung lintasan.

Ini merupakan penerbangan pertama untuk prototipe pesawat pertama di dunia. Berikut ini adalah pernyataan pilot uji Orville : “Gerakan melayang naik turunnya sangat tidak menentu, pertama karena ketidakstabilan angin dan juga kurangnya pengalaman mengendalikan pesawat ini. Kendali tuas agak sulit dalam hal hitungan keseimbangan pada titik tengahnya. Ini cenderung berbelok sendiri saat dinyalakan, sehingga sering bergeser dari satu sisi ke sisi lainnya. Akibatnya pesawat akan menanjak 10 kaki, lalu tiba-tiba menukik ke tanah. Jika pesawat tiba-tiba menukik pada jarak 100 kaki dari ujung lintasan atau sekitar 120 kaki dari titik pertama naik ke udara, maka pesawat akan jatuh.

“Penerbangan ini hanya berlangsung 12 detik, namun demikian ini merupakan yang pertama dalam sejarah dunia dimana sebuah mesin yang mengangkut manusia mampu melayang penuh dengan kekuatannya sendiri, meluncur ke depan tanpa berkurang kecepatannya, dan akhirnya mendarat pada titik ketinggian yang sama seperti saat berangkat.”

(Sejak saat itu sejumlah pilot uji lainnya harus berkutat pada soal kendali keseimbangan aerodinamis seperti pada tuas kendali pesawat Wright Flyer yang pertama.)

Sekitar setengah jam kemudian Wilbur mencoba terbang, lebih singkat satu detik dibandingkan Orville. Berikutnya Orville terbang selama 15 detik. Siangnya Wilbur kembali melayang. Dia berhasil terbang sejauh 800 kaki di atas landasan saat ia harus sedikit naik untuk menghindari sebuah bukit pasir. Mungkin dia kurang memperhitungkan gerakan elevator dengan tepat. Dia dipastikan telah salah memperkirakan gerakan yang diperlukan untuk mengembalikan Flyer pada ketinggian semula. Pesawat ini menukik lebih cepat dari yang diperkirakan, dan penyangga elevator depan patah saat menabrak pasir. Dia telah terbang selama 59 detik pada kecepatan 30 mil per jam, sejauh 852 kaki dari landasan dengan ketinggian sekitar setengah mil di udara.

Saat kedua bersaudara membahas penerbangan tersebut, mendadak hembusan angin menghantam pesawat tersebut. Pesawat itu berputar. Seorang penjaga pantai yang hendak menyelamatkannya terhantam sayap pesawat, namun hanya menderita luka memar. Sayap dan mesin pesawat rusak, baling-baling yang digerakkan dengan rantai bengkok. Wright bersaudara terpaksa harus mengemasi barang mereka dari Kitty Hawk kembali ke Dayton. Sekarang mereka tahu “bahwa setidaknya era mesin terbang telah tiba”.

Sore itu Orville mengirim telegraph kepada ayahnya : “Sukses empat penerbangan Kamis pagi dalam kecepatan angin 21 mil, mulai terbang dari darat sepenuhnya dengan kekuatan mesin, kecepatan rata-rata di udara 31 mil, lama terbang 59 detik, beritahu pers dari rumah saat Natal.” Operator telegraph di Norfolk yang menyampaikan pesan ini berbohong kepada seorang reporter koran lokal. Karena tak dapat menghubungi Wright bersaudara, wartawan ini lalu menulis sendiri kisah tersebut dengan dibesar-besarkan, menambah jarak terbang sampai tiga mil serta membuat pernyataan imajinatif lain. Koran lain mengangkat kisah ini dari koran Virginian Pilot pada tanggal 18 Desember 1903. Pada bulan Januari 1904 Wright bersaudara membuat pernyataan yang sebenarnya, namun koreksi pers mereka tidak banyak berpengaruh sebagaimana perbaikan elevator yang dilakukan Wilbur pada pesawat Flyer.

Flyer yang asli tidak pernah terbang lagi sejak itu. Pada bulan Januari 1904 kedua bersaudara mulai membangun sebuah mesin baru yang lebih besar dan bertenaga. Seorang bankir lokal bernama Torrence Huffman meminjamkan sebuah padang rumput sepanjang delapan mil di sebelah timur Dayton. Saat pertama kali mencoba menerbangkan mesin baru mereka, kedua bersaudara ini mengundang wartawan koran dari Dayton dan Cincinnati. Namun tidak seperti di Kitty Hawk, angin bertiup tidak tetap di Padang Huffman. Pesawat gagal terbang dari lintasan. Di akhir hari kedua para wartawan merasa jenuh dan kemudian pergi.

Kedua bersaudara itu kemudian memutuskan untuk menggunakan akselerator untuk menerbangkan pesawat. Mereka membuat sebuah derek kayu yang mampu mengangkat beban hingga 1.600 pon. Beban dapat diangkat sampai ketinggian 16 ½ kaki dengan menggunakan tali dan balok katrol. Ujung tali satunya diikatkan pada ujung jalur, melewati sebuah katrol, dan ditarik kembali ke titik awal, serta disambungkan dengan pesawat. Beban jatuhnya menghasilkan tarikan ratusan pon di ujung tali pada jarak 49 kaki. Dengan bantuan alat tinggal landas ini pesawat dapat diterbangkan meski dalam keadaan tanpa angin sampai ketinggian 50 kaki.

Pada tahun 1904 mereka melakukan 105 kali penerbangan di Padang Huffman, dengan ketinggian tidak lebih dari 30 kaki, dan seluruhnya dilakukan di ladang tersebut, sehingga total terbang mereka adalah 45 menit. Pada bulan September mereka berhasil terbang menikung, kemudian terbang melingkar yang memungkinkan mereka kembali pada titik awal terbang. Waktu terbang terlama mereka pada tahun itu adalah 5 menit 4 detik — dengan kecepatan sekitar 34 mil per jam dan tenaga 17 tenaga kuda.

Keadaan padang tersebut berawa-rawa. Permukaannya dipenuhi gundukan-gundukan kecil, seperti onggokan tanah. Pada musim hujan keadaannya sangat riskan untuk pendaratan. Musim panas tahun 1905 sangat lembab, dan sampai tanggal 6 September kedua bersaudara hanya terbang delapan kali, sehingga rekor tahun 1904 tak dapat diperbaiki dan bahkan mereka mengalami tujuh kali kecelakaan kecil.

Mereka membuat sejumlah perubahan desain pada pesawat sehingga bobotnya naik sampai 925 pon. Silinder mesinnya diperbesar sampai 4 ½ inchi, serta pompa oli menggantikan pelumas percik sehingga menghasilkan kekuatan 18 sampai 20 tenaga kuda.

Dengan perbaikan ini mereka memperoleh hasil yang lebih baik. Pada tanggal 26 September mereka mampu terbang sampai 11 mil lebih, tanggal 3 Oktober sampai 15 mil, dan hari berikutnya sampai 23 ¾ mil. Pada penerbangan-penerbangan ini mereka sempat kehabisan bahan bakar dan panas mesin berlebih. Mereka lalu memasang kotak oli pada mesin dan tangki bahan bakar yang lebih besar.

Posisi sang pilot masih rentan bahaya, karena mengendalikan kemudi hanya dengan balok kendali. Pilot harus mendongakkan kepala untuk melihat arah gerakan pesawat. Setelah sekian lama terbang dengan cara seperti itu, Orville merasa bahwa leher belakangnya bisa patah jika terbang lebih dari satu putaran; dan cukup mengherankan karena kedua bersaudara tersebut tidak segera merubah posisi duduk pilot saat itu.

Sejak saat itu penerbangan mereka mulai menarik perhatian. Seringkali mereka terbang menderu di atas para pengamat. Di kedua sisi padang rumput terdapat dua buah jalan yang dilalui oleh trem listrik, sehingga penumpang trem bisa melihat pesawat yang berputar-putar di atasnya. Selama setahun lebih, para petani setempat telah biasa melihat mereka terbang.sehingga kisah penerbangan telah dianggap biasa. Suatu kali, tanggal 5 Oktober, saat mendengar deru pesawat warna putih seperti ngengat, seorang petani yang sedang memotong jagung sempat bergumam : “Ya, anak-anak itu lagi.”

Hari itu mereka berencana melakukan penerbangan mereka yang ke empat puluh sembilan yang akan berlangsung selama satu jam lebih. Namun setelah 30 putaran selama 38 menit bahan bakar habis dan mesin mati. Mereka lupa mengisi bahan bakar sebelum terbang. Uji terbang ini telah mencapai 24 ¼ mil dengan kecepatan 38 mil per jam. Salah seorang yang menyaksikannya adalah teman Wright, seorang ahli pengobatan bernama Foust. Kedua bersaudara sebelumnya telah melarangnya untuk memberitahu orang lain, namun ia tetap melakukannya, sehingga sehari kemudian padang tersebut dipenuhi oleh para pengamat dan fotografer.

Wright bersaudara telah membuat paten untuk penemuan mereka di Amerika Serikat pada tanggal 23 Maret 1903, dan pada bulan Maret 1904 mereka mencoba mendapatkan paten internasional untuk pesawat serta alat kendali mereka. Klaim mereka cukup sederhana, namun mendasar dan benar. Mereka menyatakan : “Kami adalah orang pertama yang secara fungsional menerapkan ekor vertikal yang dapat digerakkan pada pesawat terbang. Kami juga yang pertama menggunakan sayap yang dapat digerakkan pada sudut tertentu dalam sebuah pesawat. Kamilah orang pertama yang menggunakan kedua kombinasi tersebut pada pesawat terbang.” Namun paten mereka belum diakui sampai tanggal 23 Mei 1906. Sementara itu mereka harus membuat hak kepemilikan atas penemuan mereka, dan mencegah orang lain untuk menggunakannya tanpa seijin mereka. Sikap tidak bijaksana Foust memaksa mereka untuk tidak melanjutkan eksperimen mereka demi mencegah konstruksi mesin mereka tersebar luas di masyarakat. Mereka membongkar pesawat Flyer dan membawanya kembali ke bengkel mereka di Dayton.

Mereka menawarkan pesawat mereka kepada Pemerintah Amerika Serikat pada tahun 1905, namun ditolak. Mereka lalu menawarkan kesempatan pertama kepada Pemerintah Inggris untuk membeli hak mereka di luar negeri. Kantor Urusan Perang Inggris meminta informasi, dan menyuruh atase militer mereka di Washington untuk melihat uji terbang pesawat tersebut dan melaporkan apa yang dilihatnya. Kedua bersaudara merasa mempunyai bukti yang cukup untuk klaim mereka lewat para saksi dan gambar foto. Mereka menolak untuk merakit kembali pesawat dan melakukan penerbangan hanya untuk memuaskan seseorang yang mungkin hanya sekedar penasaran. Pemerintah Inggris menolak tiga kali tawaran mereka antara tahun 1906 dan 1908, dua kali lewat Kantor Urusan Perang dan sekali lewat Departemen Angkatan Laut. Pemerintah Perancis mengirim Kapten F. Ferber, yang pernah melakukan uji terbang layang di Perancis, untuk melihat pesawat tersebut dan melaporkannya. Wright bersaudara tidak mau memperlihatkan pesawat mereka, namun hanya menjelaskan apa yang telah mereka buat. Sang kapten melaporkan penemuan mereka, namun mengatakan bahwa tak seorang pun di Perancis akan percaya. Pemerintah Perancis pun menolak untuk membeli.

Selama tahun 1906 dan 1907 Wright bersaudara tidak pernah melakukan uji terbang. Pada tahun 1907 mereka membuat sebuah pesawat baru dengan menggunakan tuas kendali tangan untuk menggantikan balok kendali. Mereka merancang sebuah mesin vertikal baru, yang menghasilkan kekuatan 23 tenaga kuda. Pada bulan Mei 1907 Orville menawarkan kepada Departemen Perang Amerika Serikat sebuah pesawat kursi ganda dengan kemampuan terbang 125 mil, dan Wilbur pergi ke Eropa untuk bernegoisasi dengan sebuah perusahaan Eropa. Pesawat Flyer baru pun menyusul. Pesawat tersebut berada dalam kontainer di Le Havre. Orville tiba pada bulan Juli. Kedua bersaudara kemudian mengunjungi Inggris, Perancis, dan Jerman, semuanya tanpa hasil. Mereka lalu pulang pada akhir tahun itu, meninggalkan pesawat mereka. Pada tanggal 23 Desember 1907, Departemen Perang Amerika Serikat pertama kali mensyaratkan spesifikasi untuk sebuah pesawat terbang, dan menawarkan 25.000 dollar (lalu £ 5000) untuk pesawat berat yang dapat membawa dua orang pada kecepatan 36 mil per jam, dan kapasitas bahan bakar untuk 125 mil. Pesawat tersebut harus dapat terbang setidaknya satu jam, serta dapat diangkut dengan kendaraan perang. Pada tanggal 3 Maret 1908, sebuah perusahaan gabungan Perancis menawarkan uang £ 20.000 untuk membeli hak paten Wright di Perancis serta sejumlah pesawat, dengan syarat dapat terbang dua kali dalam seminggu minimal sampai 31 mil, dapat membawa seorang penumpang atau beban yang setara, pada kecepatan angin tak kurang dari 24 ½ mil per jam.

Kedua bersaudara tidak pernah terbang selama dua tahun lebih. Mereka menghidupkan lagi pesawat lama tahun 1905 mereka, membawanya ke Kitty Hawk, serta melatih kembali ketrampilan terbang mereka. Di sana mereka membuat sejumlah perubahan pada pesawat. Untuk pertama kalinya pilot terbang dengan duduk pada kursi terbuka yang berada pada tiang depan pesawat, serta dengan sebuah sandaran penyeimbang. Sebuah tuas kendali menggunakan tangan kanan untuk mengatur arah pesawat ke kiri-kanan serta kemudi untuk gerakan ke depan-belakang. Tuas satunya lagi, bergerak ke depan-belakang dengan tangan kiri untuk mengatur elevator.

Di bagian tengah tiang depan pesawat dipasang kursi kedua serta sandaran untuk penumpang berdampingan dengan pilot serta mesin pesawat. Baik pilot maupun penumpang tidak terikat pada kursi, namun pilot memegang tuas kendali dengan kedua tangan. Penumpang hanya dapat berpegangan pada penopang vertikal depan untuk menahan angin serta gerakan pesawat. Tentu saja penumpang yang baru pertama kali terbang dengan cara ini akan merasa takut, bahkan Wilbur menyebutnya lucu karena mereka “mendekap erat penopang dengan ketakutan.”

Pada bulan Mei 1908 Wilbur berlayar ke Perancis, sedangkan Orville pergi ke Dayton dan membuat sebuah pesawat baru dengan desain tahun 1907 untuk percobaan bagi Angkatan Bersenjata AS.

Wilbur membawa pesawat Flyer ke Le Havre, lalu merakitnya di pabrik mobil Léon Boléé di Le Mans, dan menyelesaikannya dengan model kursi-ganda dan tipe kendali baru. Pada tanggal 8 Agustus dia melakukan penerbangan singkat pertama di Eropa.

Sementara itu Orville telah membuat pesawat baru, dan pada bulan Agustus ia membawanya ke Fort Myer, dekat Washington, Virginia. Dia melakukan uji terbang singkat pada tanggal 3 September. Lima hari kemudian, disaksikan oleh sejumlah tentara, ia terbang selama 58 menit di pagi hari. Berita ini menyebar ke sekitarnya. Sore harinya banyak orang yang menyaksikan ia terbang selama 62 menit, sejauh 40 mil. Pada tanggal 12 September dia membawa penumpang pertamanya terbang selama sembilan menit.

Pada tanggal 17 September Letnan Thomas E. Selfridge menjadi penumpangnya. Mereka duduk di bagian bawah sayap, tanpa pelindung apapun kecuali rangka penyeimbang elevator terbuka. Baling-baling pesawat berputar lemah, sehingga kawat ekor putus dan kemudi melintir horisontal. Mereka jatuh dari ketinggian 125 kaki. Letnan Selfridge menjadi korban fatal pertama di dunia dalam kecelakaan pesawat terbang. Orville mengalami retak kaki dan paha kiri, sejumlah rusuknya patah, luka yang mempengaruhi kesehatannya setelah itu.

Kedua bersaudara lalu sepakat untuk memecahkan rekor durasi terbang satu-jam di Amerika. Wilbur pun melanjutkannya. Pada tanggal 21 September 1908, dia melakukan terbang solo di Le Mans selama 91 menit, kemudian membawa Mr. Arnold Fordyce selama 64 menit. Empat hari kemudian M. Painlevé (selanjutnya menjadi Menteri Penerbangan Perancis dua kali) terbang bersamanya selama 69 menit.

Orang-orang Perancis sangat kagum pada kemampuan terbang Wilbur di udara. Sejak Santos Dumont memperoleh penghargaan Archdeacon Cup, pada tanggal 23 Oktober 1906, sebagai orang pertama di Perancis yang berhasil terbang dengan jarak sekitar 80 yar, para pionir Perancis saling berlomba terbang, baik dengan kendali tunggal atau ganda, di berbagai tempat. Diantara mereka, Henri Farman keluar sebagai pemenang dengan pesawat Voisin di Ghent pada tanggal 6 Juli 1908 dengan catatan waktu 19 menit. Namun pada tanggal 31 Desember Wilbur berhasil terbang non-stop selama 2 ½ jam, sampai 77 ½ mil, dan memperoleh penghargaan utama International Michelin Cup.

Wilbur membuka sebuah sekolah terbang di Pau, barat daya Perancis, khusus untuk siswa Perancis. Dia bergabung dengan Orville dan adik perempuan mereka, Katharine, pada awal tahun 1909. Lord Northcliffe yang mengunjungi mereka berkata : “Saya belum pernah melihat trio yang begitu solid dan tak terpisahkan. Setelah tinggal di Eropa selama beberapa pekan, mereka menjadi tokoh dunia, dan saat di Pau demonstrasi mereka dikunjungi oleh ribuan orang dari seluruh penjuru Eropa — baik pejabat maupun orang biasa — namun saya kira kekaguman dan ketertarikan orang pada prestasi mereka sama sekali tidak mengubah kesederhanaan trio Amerika itu.”

Siswa pertama Wilbur, Comte de Lambert, melakukan terbang solo pada tanggal 17 Maret 1909, dan sebulan kemudian menjadi kepala instruktur terbang. Wilbur lalu pergi ke Roma, melakukan sejumlah penerbangan, dan membuka sekolah baru. Pada bulan Mei ketiga trio tersebut mengunjungi London. Royal Aeronautical Society dan Royal Aero Club memberikan medali emas pertamanya kepada kedua bersaudara. Sekitar enam bulan sebelumnya Short Brothers telah setuju untuk membuat enam pesawat Wright, dan dengan demikian merupakan pabrik pesawat pertama di Inggris. Wright bersaudara sempat mengunjungi pabrik tersebut di Sheppey sebelum kembali ke Amerika.

Wilbur dan Orville menyelesaikan seluruh uji coba untuk Angkatan Bersenjata AS, dan pada tanggal 29 September 1909 Wilbur terbang mengitari patung Liberty. Mereka lalu membuka sekolah terbang di Padang Huffman. Selanjutnya Orville mengunjungi Berlin, terbang selama sepuluh menit dengan pesawat Crown Prince pada tanggal 2 Oktober, dan memecahkan rekor ketinggian 1.600 kaki dua hari kemudian. Namun ia gagal menjual pesawatnya kepada Pemerintah Jerman.

Para perancang dan konstruktor di berbagai tempat segera tahu bahwa rahasia kesuksesan Wright bersaudara terletak pada perpaduan tiga buah kontrol. Pada mulanya sistem kontrol triple diterapkan pada semua desain, dengan beragam alat pengatur mulai dari kursi pilot, serta perbaikan di sejumlah bagian pesawat. Kemudi putar menggantikan tuas untuk kontrol sayap lateral, namun penggunaan kontrol triple ini melanggar hak paten Wright. Tugas untuk memperoleh hak paten diberikan kepada Wilbur. Diperkirakan biaya untuk hak paten di Amerika, Perancis, dan Jerman mencapai £ 50.000 lebih. Namun mereka menang, dan sejak itu pabrik pesawat terbang harus mempunyai lisensi Wright sebelum menerapkan prinsip kontrol Wright. Wilbur tak pernah punya waktu untuk istirahat. Pada tahun 1912 ia terserang demam tipus, dan tak dapat bertahan hingga meninggal pada tanggal 30 Mei dalam usia 45 tahun.

Sebuah perusahaan gabungan di London mengurus kepentingan Wright bersaudara di Inggris. Ketika pecah Perang Dunia Pertama klaim untuk pesawat terbang pada pabrik Pemerintah di Farnborough belum selesai. Letnan-Jenderal Sir David Henderson, Direktur-Jenderal Penerbangan Militer pada Kantor Urusan Perang Inggris lalu menyelesaikannya. Jumlah yang disetujui lebih sedikit daripada royalti dan akan diberikan untuk pesawat yang dibuat sebelum dan selama perang. Pada tahun 1916, ketika Orville meminta perusahaan untuk menaikkan bayaran, Lord Northcliffe mengatakan : “Jika menerima £ 15.000 untuk penemuan berharga bagi negeri ini, tidak hanya untuk kepentingan industri dan penghidupan bagi ribuan rakyat kita, namun juga alat utama pertahanan negara di masa mendatang, Wright bersaudara bertindak bijaksana.”

Orville hanya menerima sedikit dari pemerintah Perancis, Italia, dan Jerman. Dan ketika ia memutuskan untuk tidak memperbaharui patennya dia menyerahkan hak patennya kepada pabrik-pabrik di seluruh dunia. Dia mengunjungi Eropa untuk terakhir kalinya pada tahun 1913 bersama saudara perempuannya. Dua tahun kemudian ia memutuskan untuk menjual seluruh kepentingannya pada Perusahaan Wright, melepas semua urusan bisnisnya, dan memusatkan perhatiannya pada riset aeronautika. Dia menghindari acara-acara publik, terutama yang menempatkannya sebagai figur utama. Dia meninggal pada usia 77 tahun tanggal 30 Januari 1948.

Kejeniusan Wright bersaudara telah memecahkan kesulitan dalam masalah kontrol penerbangan, yang mereka percaya berasal dari ketidakstabilan pesawat. Berdasarkan tesis tersebut mereka mulai mengesampingkan instabilitas pada pesawat mereka. Hasilnya keseimbangan pesawat tergantung sepenuhnya pada pengaturan kontrol berkesinambungan. Menerbangkan pesawat berarti menyeimbangkannya dengan konsentrasi penuh.

Para pionir lain, karena tidak memahami perkembangan teori Wright, berusaha terbang dengan mengupayakan kestabilan pesawat. Sifat pesawat yang dapat dikendalikan namun tidak stabil segera dikombinasikan dengan desain pesawat yang stabil namun tak dapat dikendalikan. Desain sayap ganda Wright segera menghilang dari dunia penerbangan, namun pesawat Flyer asli dipajang di Smithsonian Institution di Washington pada tempat terhormat sebagai pesawat unik yang dipakai orang untuk terbang pertama kali dengan sayap; dan di Museum Sains London terdapat replikanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: