Beranda » Penerbang Terbesar Sepanjang Sejarah » 4. Sir Alliott Verdon-Roe, Knight, O.B.E.

4. Sir Alliott Verdon-Roe, Knight, O.B.E.

INSINYUR YANG BERBAKAT

KETIKA MASIH KECIL Alliott Verdon-Roe dijuluki “Springer” (= peloncat) karena kebiasaannya tiba-tiba jumpalitan dan berakrobat saat berlarian dan bermain lompat-lompatan.

Saat pertama kali menerbangkan pesawat berat badannya adalah 140 pon dan tingginya 5 kaki 8 ½ inchi. Saat berusia 77 tahun perawakannya tetap tegap, dan langkahnya masih luwes. Rambutnya putih, dengan alis hitam, mata yang cerah, kulit yang sehat dan wajahnya senantiasa ceria dan murah senyum. Sosoknya yang tinggi tidak banyak berubah sehingga ia tidak tampak tua.

Dilahirkan di Patricroft, Manchester, tanggal 26 April 1877, ia merupakan anak ke empat dari seorang dokter yang mengharapkan anaknya mengikuti jejaknya. Namun A. V. punya keinginan lain. Haliford House School di dekat Brooklands, Shorne College di Buckinghamshire, serta St. Paul School, London melihat bahwa ia tak tertarik dengan sekolah namun sangat senang dengan olahraga — seperti lari, lompat jauh, dan renang. Saat ia berusia 14 tahun salah seorang teman ayahnya menawarinya pekerjaan sebagai insinyur sipil di British Columbia, dan pada bulan Maret 1892 ia berlayar dengan kapal Labrador dengan biaya £ 10. Selama perjalanan enam hari melintasi Kanada dengan kereta api ia sempat melewati daerah pedesaan Winnipeg dan Victoria.

Di Pulau Vancouver saat itu sedang terjadi krisis perdagangan. Prospek usahanya kurang begitu bagus. Bahkan, ia harus bekerja menanam pohon dengan bayaran 16 shilling per hari. Ia juga menangkap ikan untuk dijual. Namun ia kemudian tahu bahwa lebih baik membeli ikan dari orang-orang Indian. Dengan uang tersebut ia membeli saham bagi hasil di kantor pos lokal Balfour.

Pada tahun 1893 ia kembali ke Inggris dan ikut magang menggarap proyek mesin kereta api selama lima tahun. Ia harus bekerja mulai pukul enam dan bangun pukul empat pagi untuk berangkat ke tempat kerja dengan sepedanya. Balap sepeda adalah hobinya. Sebagai seorang jago balap sepeda ia sempat memenangkan lomba dari Carlisle ke Plymouth dan mendapat hadiah uang beberapa ratus poundsterling, yang kemudian ia gunakan untuk membiayai eksperimen terbangnya.

Setelah namanya mulai ditulis di koran, ia kemudian bekerja di Portsmouth Dockyard, mempelajari teknik kelautan di King’s College, London. Ia gagal menyelesaikan ujian akhir untuk dapat bekerja di dinas Angkatan Laut sebagai seorang insinyur teknik. Ia kemudian diangkat sebagai perwira muda di Merchant Navy. Ketika berlayar menuju Cape Town ia melihat burung albatros terbang di atas ombak dan berpikir, ‘Kenapa orang tidak bisa melakukan hal serupa?’

Ia kemudian membuat model pesawat albatros. Awalnya pesawat tidak bisa terbang dengan baik. Meskipun mendapat cemoohan dari sejumlah kru, ia tetap berusaha, dan mempelajari cara agar model yang ia buat dapat terbang. Ia membawanya pulang, dan dari jendela atas rumahnya ia mencoba menerbangkannya, kemudian mengambilnya kembali dari keranjang pakaian dan mengulanginya lagi. Rumah di sebelahnya adalah panti jompo. Salah seorang pengasuhnya mengatakan pada keluarga Roe bahwa salah satu pasien mental di tempat itu bilang : “Ini pasti rumah sakit jiwa, seperti orang di rumah sebelah yang selalu membuang barang-barang dari jendela sepanjang hari.”

A. V. Roe keluar dari angkatan laut pada tahun 1902 dan bergabung dengan sebuah industri mobil sebagai juru gambar. Hampir seluruh waktu luangnya ia gunakan untuk mempelajari ilmu penerbangan, dengan membuat dan menerbangkan model pesawat. Pada akhir tahun 1903 ia membaca tulisan di koran tentang uji coba terbang yang dilakukan oleh Wright. Ia menyurati Wright bersaudara dan mendapat tanggapan yang menggembirakan. Pada tahun 1906 ia memutuskan untuk mencurahkan perhatian penuh pada dunia penerbangan. Ia menjadi sekretaris di Aero Club, namun keluar untuk bekerja sebagai juru gambar di G. L. O. Davidson, yang merancang sebuah helikopter dengan dibiayai oleh Lord Amstrong dari Amstrong-Whitworth. Davidson dan Roe berangkat ke Denver, Colorado untuk membuat helikopter. Helikopter tersebut menggunakan dua buah mesin uap Stanley yang berkekuatan 20 tenaga kuda dengan dua rotor 30 kaki yang masing-masing memiliki 120 blade. Sebelum helikopter selesai Roe kembali ke London untuk membuat paten di Inggris. Tanpa Davidson helikopter dinyalakan. Helikopter pun terbang, lalu turun dengan cepat, dan hancur. Davidson lalu kembali ke Inggris. Roe kemudian dibayar dan kembali menganggur.

Lebih dari 200 karya terdaftar saat diadakannya kompetisi yang diselenggarakan oleh harian Daily Mail pada tahu 1907 yang menawarkan hadiah uang £ 250 untuk model pesawat yang bisa terbang. Roe mendaftarkan tiga karyanya. Karya-karya tersebut dipamerkan di London’s Agricultural Hall, sedangkan modelnya diujicoba di luar Alexandra Palace. Hanya sedikit yang bisa terbang. Sebagian besar lainnya gagal. Pesawat sayap ganda Roe sepanjang 8 kaki, dengan elevator depan sayap tunggal, berhasil terbang lebih dari 100 kaki, jarak minimum yang ditetapkan untuk memperoleh hadiah pertama £ 150. Modelnya yang kedua dan ketiga juga mengalahkan pesaing lainnya. Juri lomba menyatakan tidak ada karya yang memenangkan hadiah pertama, namun memberi hadiah uang £ 75 kepada A. V.

Roe memutuskan untuk membuat pesawat untuk mengangkut manusia dengan desain model terbaik yang dibuatnya. Ia menempatkan pilot di depan, mesin di bagian tengah, dan baling-baling di belakang. Mesinnya terdiri dari dua silinder, berpendingin air dengan kekuatan 9 tenaga kuda J.A.P. ia menggunakan dua cakram logam yang dipasangi baut untuk roda dengan ban angin. Ia memasangnya pada bagian bawah pesawat dan mengatur roda depannya agar dapat dibelokkan. Kain fiber halus digunakan pada sayap pesawat dan diukur agar mampu menahan angin. Namun ia hanya menutup bagian dalam, yang menunjukkan bahwa ia tidak begitu mengerti teori angkatan sayap. Tidak terdapat kemudi pada pesawat itu. Juga tidak ada pengatur angin pada sayap. Kendali yang mirip setir mobil dipasang pada elevator depan yang berukuran besar, yang melengkung dan memiliki poros, yang merupakan kontrol lateral depan-belakang. Roe membuat paten untuk ini, dan mengklaim bahwa ini merupakan pertama kalinya keseimbangan lateral dan depan-belakang dihubungkan dengan satu kendali.

Brooklands Automobile Racing Club menawarkan uang £ 2500 untuk penerbang pertama yang mampu melewati jalur mereka sebelum akhir tahun 1907. Roe membawa pesawatnya ke sana pada bulan September, dan berharap dapat memenangkan hadiah tersebut. Dia mendapat ijin untuk membangun sebuah gudang di tempat itu, serta membuat tungku untuk memenuhi kebutuhannya.

Mesin pesawatnya tak cukup kuat untuk membawanya terbang. Ia meminta seorang pengendara motor untuk menarik pesawatnya sepanjang jalur. Namun laju pesawatnya melenceng. Pesawatnya kemudian menabarak dan rusak, dan memerlukan waktu beberapa hari untuk memperbaikinya. Karena itu ia harus bekerja cepat sendirian. Ia bermaksud untuk meminjam mesin pesawat Antoinette yang berkekuatan 24 tenaga kuda, namun batas waktu untuk memenangkan hadiah akan habis sebelum mesin itu tiba. Sementara itu untuk menghemat uang ia pun harus tidur di gudangnya.

Dengan mesin Antoinette seberat 98 pon, berat total pesawatnya adalah 450 pon termasuk pilot. Panjang pesawat tersebut adalah 20 kaki dan rentang sayap 36 kaki. Mesin yang lebih kuat mengakibatkan ujung baling-baling patah. Baling-baling tersebut terbang ke udara dan hampir melukai A. V. saat jatuh ke tanah. Ia berhasil mengatasi masalah tersebut.

Pada tanggal 8 Juni 1908, ia sedang terbang dengan cepat ketika ia menyadari bahwa roda pesawatnya baru pertama kali tinggal landas. Penerbangan pertamanya berlanjut hingga sekitar 150 kaki, dan mendarat dengan mulus. Hari itu ia terbang beberapa kali. Dapat dibayangkan betapa antusiasnya Mr Roe dengan sukses pertamanya sehingga tak terpikirkan olehnya untuk mengundang pengamat dari Aero Club menyaksikan peristiwa bersejarah ini. Bahkan ia tidak tahu bahwa ada orang lain yang menyaksikannya, yang belakangan diketahui adalah seorang tukang kayu, penjaga gerbang serta teman-temannya yang menyatakan telah melihat apa yang terjadi.

Tepat dua puluh tahun kemudian Royal Aero Club, Royal Aeronautical Society, Air League of the British Empire, dan Society of British Aircraft Constructors mengadakan perjamuan untuk A. V. Roe di Hotel Savoy. Sepanjang malam itu mereka berdiskusi tentang siapa yang pertama kali terbang di Inggris.

Jauh hari sebelumnya, tepatnya tanggal 8 Maret 1910, Royal Aero Club telah memberikan sertifikat Penerbang Pertama kepada Mr. J. T. C. Moore-Brabazon, yang kemudian dikenal dengan Lord Brabazon dari Tara. Beberapa persyaratan harus dipenuhi sebelum sertifikat dapat diberikan. Seorang pilot harus terlebih dahulu memiliki skill tertentu lewat latihan yang keras sebelum meminta pengamat menilai untuk pemberian sertifikat. Posisi Lord Brabazon sebagai penerbang Inggris No. 1 tidak diragukan lagi. Namun pertanyaannya adalah siapa yang pertama kali berhasil terbang dengan pesawat terbang.

Royal Aero Club kemudian membentuk sebuah komite untuk menentukan sejarah hari pertama adanya penerbangan di Inggris. Setelah menyelidiki bukti-bukti yang ada, komite ini kemudian menyatakan A. V. Roe sebagai orang pertama yang terbang pada tanggal 8 Juni 1908. Diketahui bahwa J. T. C. Moore Brabazon adalah orang pertama yang melakukan penerbangan resmi di Inggris dengan pesawat Voisin di Eastchurch hampir setahun setelah A. V. Roe terbang di Brooklands.

A. V. Roe masih kurang percaya dengan penemuan itu. Ia mengatakan bahwa hasil temuan menunjukkan bahwa pesawatnya meluncur tak lebih dari 70 kaki tanpa meninggalkan tanah dan terbang ke udara. Dalam catatan biografi bukunya tertulis : “Pesawat utuh … berkekuatan 24 tenaga kuda bermesin Antoinette, yang melakukan penerbangan pertama di Inggris, !908 (tidak resmi).” Sedangkan di bawah Lord Brabazon dari Tara tertulis : “Pilot Inggris pertama yang terbang.”

Tak lama setelah penerbangan pertamanya A. V. pergi dari Brooklands, dan menjual gudangnya karena bangkrut. Saudara laki-lakinya, Dr. S. Verdon Roe meminjamkan sebuah kandangnya di daerah Putney, dan di sana A. V. Roe membuat sebuah pesawat sayap tiga. Namun dimana ia dapat menerbangkannya? Kantor Urusan Perang Inggris menolak memberi ijin terbang di dataran rendah Laffan (yang sekarang menjadi pangkalan udara Farnborough). Pejabat sipil juga menolak memberi ijin terbang di daerah Wimbledon Common dan Wormwood Scrubs. Dari peta ia memilih daerah Lea Marshes yang sangat tidak ideal untuk terbang karena banyak pagar dan tambatan untuk domba dan keledai. Di sana ia menyewa bekas gudang kereta api yang tidak memiliki jendela untuk hangar dan bengkel pesawatnya. Atap gudang tersebut telah rapuh, dan lantainya becek, bahkan terkadang banjir. Tungku batu dipakai untuk memasak. Dan ia tidak sanggup membeli mesin Antoinette, sehingga terpaksa memakai mesin 9 tenaga kuda J.A.P.

Saat itu ia mempunyai beberapa orang asisten. Salah satunya adalah Howard-Flanders, yang nantinya juga merancang pesawat sendiri. Mereka bekerja di sana karena tertarik dengan bidang tersebut, bukan karena gaji rendah yang ditawarkan oleh AV.

Ketika Wilbur Wright melakukan demonstrasi terbang di Perancis, A. V. memutuskan untuk datang dan melihat mesin pesawat dari dekat. Ia bersepeda ke Southampton, membawanya naik kapal dan bersepeda 100 mil ke Le Mans. Disana Wilbur, yang pernah menerima suratnya, menunjukkan pesawat Flyer dan menjawab semua pertanyaan A. V. yang berkesempatan bertemu dengan orang terpenting dalam dunia penerbangan. Dia menilai Wilbur adalah seorang pendiam, yang tidak banyak berbicara dan omong kosong. Malam harinya Wilbur membawa sepeda A.V. ke dalam mobilnya dan mengantarnya ke kota Le Mans. Roe lalu bersepeda di malam hari ke St. Malo karena khawatir ketinggalan kapal yang akan membawanya pulang.

Pada tanggal 13 Juli 1909, kru Avro berkumpul dini hari pukul empat pagi bersama pesawatnya yang telah siap. Meskipun menggunakan konstruksi lama, penampilannya lebih modern dibandingkan dengan pesawat baru lainnya. Mereka mempersiapkan pesawat yang akan dikemudikan oleh A. V. “Ayo jalan!” katanya, dan pesawat maju dengan kecepatan penuh. Para kru pun mengikutinya. Pesawat mulai naik. Terbang hingga 100 kaki A.V. mengklaim bahwa itu adalah pertama kalinya pesawat Inggris terbang dengan mesin buatan Inggris. Dua hari kemudian ia mencoba lagi. Uji terbang berlanjut, pada ketinggian antara 6 sampai 10 kaki dan jarak 10 sampai 120 yar, pesawat jatuh dan membutuhkan waktu dua minggu untuk perbaikan.

Seorang wanita muda yang putus asa datang ke Lea suatu pagi. Melihat kru pesawat ia lalu mengurungkan niatnya. Ia pulang dan kemudian menyurati Roe memohon agar ia diperbolehkan membawa pesawat untuk bunuh diri demi meyelamatkan hidupnya.

Sementara itu pejabat sipil setempat memeriksa dokumen mereka dan mengetahui bahwa Roe tidak memiliki ijin terbang di tempat umum seperti Lea Marshes. Seorang polisi pun dikirim untuk mencari bukti adanya penerbangan ilegal di tempat itu. Namun eksperimen mereka telah usai sebelum polisi tersebut datang menjalankan tugas. Sebelum polisi menemukan bukti, Blériot terlebih dulu melintasi Selat Inggris. Lembaga pengadilan di Lea Marshes lalu memutuskan bahwa seorang warga Inggris tidak bisa dituntut apabila justru ada warga Perancis yang mendarat di Inggris tanpa diusut terlebih dahulu.

Roe lalu membawa pesawat 9 tenaga kuda miliknya ke pameran dirgantara Aero Club di Blackpool pada bulan Oktober 1909. Saat itu musim hujan. Sayap pesawat lalu ditutup dengan kertas minyak kuning. Namun kabut membuat sayap menjadi kendur. Dari warnanya atau dari sifatnya pesawat itu pun dijuluki “Bahaya Kuning.” Pesawat itu sempat melakukan sejumlah penerbangan pendek. Meskipun lebih baik jika dibandingkan dengan eksperimenter Inggris lainnya namun masih kalah jauh jika dibandingkan dengan prestasi Henri Farman dan Hubert Latham. Belakangan ada kabar yang keliru memberitakan bahwa Roe menggunakan mesin J.A.P. empat silinder berkekuatan 24 tenaga kuda, dan terbang sampai 40 atau 50 yar.

Pada akhir tahun 1909, dengan keuangan yang semakin menipis, A. V. membuat pesawat untuk yang ketiga kalinya dengan mesin J.A.P. empat-silinder berkekuatan 14 tenaga kuda. Ia bahkan tak punya uang untuk membeli pipa baja seharga £ 10 dan menggantinya dengan kayu, lalu membawanya sendiri dengan sepeda dari Wandsworth ke Wembley Park. Di tempat itu beberapa waktu kemudian ia berhasil terbang mengitari bangunan taman.

Ayah dan saudara laki-lakinya Humprey membantunya dalam hal keuangan, namun pada awal tahun 1910, tanpa penghasilan, ia hampir bangkrut. Humprey membantunya sebagai partner. Bentuk kerjasamanya sangat sederhana. Humprey membiayai seluruh usahanya, menangani bisnis, dan mendapat setengah dari keuntungan. A. V. bertugas merancang dan membuat pesawat, dan juga mendapat separuh dari keuntungan. Sebelum mencapai sukses investasi yang ditanam oleh Humprey adalah sekitar £ 10.000. Uang Humprey berasal dari perusahaan pribadinya Everard Company, yang membuat celana panjang pria dengan produknya yang terkenal “Bullseye Braces”. Orang-orang yang tahu hal ini membuat lelucon bahwa pesawat Avro disangga dengan Bullseye Braces.

A. V. membuat dua buah pesawat sayap tiga di Brownsfield Mills, Manchester, yang merupakan tempat perusahaan Humprey. Salah satu pesawatnya menggunakan mesin Green berkekuatan 35 tenaga kuda dan satu pesawat lainnya menggunakan mesin 35 tenaga kuda J.A.P. A. V. membawa kedua pesawat itu ke Brooklands, dimana manajemen yang baru membuat sebuah pangkalan udara yang memiliki 40 buah gudang pada tahun 1910. Setelah mengalami beberapa kali kecelakaan dan dimodifikasi, kedua pesawat itu dapat terbang dengan mulus, namun mesin J.A.P. tak pernah terbang lebih dari 20 menit. Kedua pesawat itu kemudian dibawa menuju Blackpool untuk mengikuti pameran dirgantara yang akan diselenggarakan di sana tahun 1910, namun percikan api dari mesin kereta api yang membawanya menyambar kain penutup truk dan menyebabkan pesawat ikut terbakar dalam perjalanannya ke Blackpool. A. V. langsung pergi ke Manchester dan membuat sebuah pesawat baru dengan suku cadang yang tersisa dalam waktu tiga hari dua malam. Pesawat mulai dirakit sore sebelum pameran dirgantara dimulai. Setelah bekerja semalam penuh pagi harinya pukul enam pesawat selesai dirakit namun mesin baru datang pukul sembilan. Akhirnya siang harinya pesawat siap diuji coba.

Saat A. V. mulai tinggal landas dua ban pesawat meletus. Ia telah merubah setting ekor dan menyebabkan ekor menjadi terlalu berat. Ia harus mempertahankan kemudi ke depan dan lututnya ikut menopang beban tangan untuk mempertahankan keseimbangan. Meskipun mengalami kesulitan ia mendapat sambutan yang luar biasa dari penonton. Ia berhasil terbang berputar tiga kali dan mendarat dengan mengandalkan pelek roda pesawat. Ia sempat menabrak tiga kali selama pameran itu, namun mendapat hadiah hiburan sebesar £ 75.

Perusahaannya lalu menjual sebuah pesawat ke Harvard Aeroplane Society. Pesawat pun tiba di Amerika Serikat namun belum terbang. Claude Grahame-White dan A. V. Roe diminta melakukan demonstrasi terbang di AS, A. V. juga diminta menerbangkan dua pesawat yang dibuatnya di Harvard dan Blackpool. Sebelum meninggalkan Blackpool ia menikah di Trinity Church, South Shore, dan tiga hari kemudian ia meninggalkan istrinya untuk pergi ke Boston lewat bandara Cymric.

A. V. mengalami tiga kali kecelakaan di Amerika Serikat. Menjelang akhir pameran dirgantara Boston ia terbang di daerah Atlantic Field, melewati sejumlah pepohonan dan jatuh karena angin kencang sehingga pesawatnya berantakan dan ia terluka. Beruntung ia tak mengalami patah tulang. Setelah dirawat dua hari di rumah sakit dengan tiga jahitan di kepala, ia pun segera pulih. Beberapa hari kemudian ia dan Grahame-White bertemu dengan Presiden Taft di rumah beliau yang berjarak 30 mil dari Boston. Disana mereka ditanyai tentang masa depan dunia penerbangan.

Grahame-White Farman sedikit lambat dalam beberapa hal. Ia dikirimi sebuah pesawat Blériot. Dengan mesin ini ia tampil memukau, dan memenangkan hadiah £ 6420, sekaligus trofi Gordon-Bennett di Belmont Park, New York. Seorang pilot yang berhasil, ia pun terbang mengunjungi Presiden, dan mendarat di Executive Avenue, Washington, dan terbang lagi untuk mengakhiri kunjungan di Gedung Putih. Saat kembali ke Royal Aero Club, Air League memberinya medali emas.

A. V. justru pulang tanpa sambutan, setelah merancang dan menguji coba pesawat di Brooklands. Rancangan ke empatnya adalah sebuah pesawat sayap ganda yang menyerupai pesawatnya sebelumnya. Kurang puas dengan pesawat tersebut, ia pun membuat pesawat kelima dengan mesin E.N.V. 8 silinder. Sayap bagian bawah pesawat tersebut dipasang pada badan pesawat. Ia menyebutnya tipe 500 karena angka yang besar kelihatan bagus. Desain ke enamnya yaitu sebuah pesawat bermesin rotari Gnôme 50 tenaga kuda dinamai tipe 501.

Sejauh ini Kantor Urusan Perang Inggris kurang memperhatikan konstruktor pesawat dari Inggris. Sejumlah pionir, termasuk Roe, mendatangi Dewan Perwakilan Rakyat dan mengadukan permasalahan mereka kepada Menteri Urusan Perang, Mr. Haldane. Sekretaris pribadinya di parlemen, Kolonel E. E, Seely yang dijuluki Lord Mottistone, pun menanggapinya. Mr. Roe mengatakan : “Bapak-bapak, kami menyesal tidak bisa membantu ikut menjaga ketentraman, kami telah menjadi kepercayaan masyarakat, dan kami berharap pesawat tidak dibuat untuk tujuan perang.”

Ketika Kantor Urusan Perang Inggris memutuskan untuk membeli pesawat, mereka memesan pesawat Perancis. Namun kemudian perusahaan A. V. Roe diminta untuk membuat dua pesawat Avro Gnôme. Setelah menawarkan harga yang rendah agar mendapatkan pesanan, mereka mendapat pesanan tiga buah pesawat. Satu pesawat terjatuh dengan keras saat diuji coba. Dua pesawat lainnya berhasil terbang, dan mereka pun mendapat pesanan lebih banyak lagi.

Pada bulan Agustus 1912, Uji Pesawat Militer dilakukan di Salisbury Plain oleh Kantor Urusan Perang untuk mencari tipe pesawat terbaik bagi Angkatan Bersenjata. Mereka menawarkan uang £ 4000 kepada pihak luar, dan tambahan £ 1000 khusus untuk perusahaan dari Inggris. A. V. merancang sebuah pesayap dengan kabin tertutup bermesin Green 60 tenaga kuda. Pesawat ini ditawarkan dan dipiloti oleh Letnan Wilfred Parke R.N. Saat uji coba Parke mendarat di permukaan tanah yang kasar, sehingga pesawat jungkir balik. Namun ia tidak terluka. Rongsokan pesawat lalu dikirim ke Manchester, diperbaiki dan dikirim kembali menjelang dimulainya kompetisi. H. V. membawa sebuah mesin ketik ke dalam kabin dan menjadi orang pertama di dunia yang mengetik di udara. Parke sempat melewati badai namun berhasil mendarat dengan mulus, namun siapa pilot pertama yang berhasil lolos dari badai tidak diketahui.

Sekitar dua puluh pesawat tiba untuk mengikuti kompetisi itu, dan dua belas diantaranya ikut uji coba. Pesawat Avro berpeluang menjadi pemenang, namun akhirnya hanya memperoleh uang £ 100. S. F. “Kolonel” Cody memenangkan kedua hadiah utama dengan pesawat bermesin Austro-Daimler berkekuatan 120 tenaga kuda. Dua pesawat pun dipesan oleh Kantor Urusan Perang, namun belakangan terbukti kurang sesuai untuk tujuan militer.

Saat pesawat Avro kembali ke Brooklands, F. P. Raynham berhasil memecahkan rekor terbang non-stop selama 7 ½ jam. Pada hari yang sama, yaitu tanggal 12 Oktober 1912, Harry G. Hawker berhasil menumbangkan rekor tersebut dengan terbang non-stop selama 8 jam 23 menit di Brooklands dengan pesawat Amerika T.O.M. Sopwith. Pesawat tersebut bermesin A.B.C. berkekuatan 40 tenaga kuda yang sebelumnya belum pernah terbang lebih dari 10 menit. Ketika akan melakukan penerbangan selanjutnya, pesawat langsung rusak begitu dinyalakan dan tidak pernah terbang lagi.

Selama tahun 1912 kedua bersaudara Roe melihat peluang sukses mereka mulai terbuka ketika mereka mendapat pesanan dua belas buah pesawat Avro dengan mesin Gnôme 50 tenaga kuda. Tahun berikutnya perusahaan mereka terdaftar sebagai perusahaan terbatas ketika Mr. James Grimble Groove, seorang pengusaha makanan di Manchester, bergabung dan mengepalai perusahaan tersebut. Salah seorang anaknya menjadi komandan H.M. Airship R. 34 saat terbang kembali dari Atlantik Utara pada tahun 1919.

Perusahaan pun berkembang dengan cepat menjadi perusahaan besar di Manchester. A. V. tidak lagi terbang, dan berkonsentrasi pada pekerjaan merancang dan mengembangkan pesawat baru. Ini menghabiskan waktunya untuk bekerja di pangkalan udara setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pesawat baru. Ia mendapat sertifikat penerbang No. 18 dari Royal Aero Club, yang dikeluarkan pada tanggal 26 Juli 1910. Namun, ia tidak pernah mendapat lisensi pilot sipil dari Departemen Penerbangan yang diwajibkan pada tahun 1919. Ia tidak memiliki catatan berapa lama ia telah terbang sebagai seorang pilot.

Pesawat Avro 504 diproduksi pertama kali pada tahun 1913 sebagai pengembangan dari seri 501. Pesawat ini merupakan produk terbaik pertama dari perusahaan. A. V. Roe mengatakan : “Saya tidak hanya merancang pesawat ini secara garis besarnya saja, namun juga membuat seluruh detailnya. Termasuk rancangan tempat duduk, kontrol, setir, batang kemudi, dan badan pesawat semuanya saya rancang sendiri.” Badan pesawat, serta penopang teleskopik yang dilengkapi peredam kejut karet ditutup dengan fairing yang kesemuanya merupakan rancangan A. V.

Fred Raynham terbang dengan pesawat Avro berkursi ganda untuk pertama kalinya di pangkalan udara Hendon. Pesawat ini memiliki kecepatan tinggi. Sejak saat itu pesawat dibuat dengan kecepatan tertentu karena tipisnya perbedaan kecepatan tertinggi dan terendah sebuah pesawat. Pada saat itu merupakan kebanggan bagi pilot untuk menunjukkan kecepatan pesawat dan mengalahkan pesaingnya, baik kecepatan tertinggi maupun kecepatan terendah.

Departemen Angkatan Laut dan Kantor Urusan Perang Inggris memesan beberapa pesawat Avro 504, sedangkan Jerman memesan satu buah untuk pesawat air yang melakukan penerbangan pertama dari Jerman ke Heligoland. Harian Daily Mail membeli sebuah prototipe pesawat yang dapat digunakan baik di air maupun di darat. Saat itu Birmingham belum memiliki pangkalan udara, dan pesawat 504 diterbangkan dari sebuah waduk di tengah kota.

Pada tahun 1914 perusahaan A. V. Roe mengirim sebuah pesawat terbang air ke Calshot untuk mengikuti lomba khusus jenis tersebut yang diselenggarakan oleh Daily Mail di Inggris. Untuk mengawasi pembuatan pesawat tersebut, A. V. menginap di sebuah hotel di Havant, dekat Chicester. Ia terbangun pagi harinya karena mendengar penjual koran berteriak : ”Inggris menyatakan perang terhadap Jerman!” Pesawat air berhasil terbang dengan baik, dan kemudian dibeli oleh Pemerintah (yang pada saat itu mau membeli semua pesawat yang ada di Inggris). Perlombaan pun dibatalkan karena perang.

Pasukan Cepat Inggris berlayar ke Perancis. Empat skadron Korps Terbang Inggris menyusul terbang ke sana pada tanggal 13 Agustus, 1914. Pesawat Avro 504 menjadi pendukung Skadron 5 dan menjadi satu-satunya pesawat yang membawa senapan mesin ke Perancis. Avro 504 merupakan pesawat pertama yang membawa senapan mesin di udara, sekaligus menjadi pesawat pertama yang merontokkan pesawat musuh dengan senapan mesin.

Saat itu belum terdapat pesawat pengangkut. Dinas Penerbangan Angkatan Laut Inggris belum mampu memenuhi kebutuhan angkutan armadanya. Padahal mereka bertanggung jawab terhadap pertahanan negara. Mereka melakukan serangan udara terhadap Pangkalan Zeppelin. Salah satu serangan terbesarnya adalah terhadap pabrik Zeppelin di Friedrichshafen di Lake Constance pada awal tahun 1914. Empat pesawat pembom Avro 504 dikirim ke Belfort, di timur-laut Perancis, sekitar 100 mil dari target serangan. Mereka berhasil tinggal landas dengan membawa masing-masing 20 pon bom. Salah satu pesawat tertembak dan pilotnya ditawan. Dua pesawat lainnya berhasil membombardir pabrik dan pulang ke Belfort. Ini merupakan serangan udara strategis pertama yang teroganisir.

Pesawat Avro 504 tidak bisa terus diandalkan untuk peperangan dan pemboman. Semakin lama, peperangan membutuhkan pesawat yang bisa terbang lebih tinggi, lebih cepat, lebih jauh, dan membawa lebih banyak senjata, amunisi, bom serta kamera. Dan pada awal peperangan pesawat Avro 504 cukup memadai untuk digunakan sebagai pesawat latih. Selanjutnya digunakan beberapa tipe pesawat latih, dan instruktur mengajarkan siswa tentang dunia penerbangan.

Orang yang memilih pesawat Avro 504 sebagai pesawat latih adalah Letnan-Kolonel R. R. Smith-Barry, yang menjadi komandan Gosport Special School of Flying. Sekolah terbang Gosport didirikan untuk menjadikan para pilot terlatih sebagai instruktur  penerbangan. Sekolah ini mengajarkan sistem penerbangan universal, yang dikeluarkannya sendiri. Setiap gerakan kontrol harus dianalisa sendiri. Koordinasi kontrol pesawat dijelaskan pada tiap siswa. Mereka yang belum pernah terbang sebelumnya, tak akan mengerti bagaimana sekolah Gosport membuat instruksi terbang secara aman dan efisien jika dibandingkan dengan organisasi lain. Smith-Barry menggunakan Avro 504 untuk standar pesawat pelatihan. Ia mengatakan : “Mr. Roe mendesain pesawat secara alami berdasarkan burung camar dan burung laut. Karena itu, setiap orang yang menerbangkan pesawat Avro seperti terbang dengan sayap burung.” Menurutnya, sistem pengajaran Smith-Barry “berasal dari alam …karena kita selalu belajar dari alam sehingga kita tidak akan membuat kesalahan.”

Metodenya merupakan revolusi dalam bidang pelatihan terbang. Seusai perang metode tersebut tetap digunakan di Royal Air Force dengan nama baru Central Flying School System. Setelah perang usai para instruktur yang terlatih di Gosport pergi ke luar negeri untuk melatih angkatan udara di berbagai negara. Akhirnya metode instruksi  Smith-Barry tersebar ke seluruh dunia, dan dipakai di mana-mana karena dianggap baik.

Ini berpengaruh besar terhadap nasib perusahaan A. V. Roe, yang telah menciptakan Avro 504 sebagai pesawat latih paling terkenal di dunia. Saat perang, pesanan pesawat banyak berasal dari Perancis dan Amerika. Setelah perang pesawat tersebut dipesan oleh berbagai negara di dunia yang memperkenalkan sistem baru pelatihan terbang. Mereka pun belum sanggup memenuhi pesanan angkatan udara Inggris yang terus berkembang. Dari empat skadron awal meningkat sampai 200 buah, dari beberapa pesawat latih tertentu dan satu Central Flying School berkembang menjadi 199 skadron pelatihan. Produksi pesawat di Manchester berkembang hingga mencapai 60 buah pesawat per bulan. Jumlah pekerja pun meningkat dari beberapa orang menjadi 5000 orang. Selama perang pabrik tersebut membuat tak kurang dari 10.000 pesawat Avro 504, dan beberapa diantaranya dibuat oleh perusahaan lain dengan lisesnsi.

Pesawat Avro 504 merupakan kontribusi besar A. V. Roe terhadap dunia penerbangan. Merupakan kebetulan baginya bahwa pesawat yang ia rancang sebenarnya bukan untuk tujuan membunuh namun untuk keamanan pelatihan terbang. Tak terhitung lagi jumlah siswa yang terselamatkan lewat sistem yang dikembangkan oleh sistem Gosport dengan pesawat Avro 504. Namun cukup disayangkan bahwa Smith-Barry kurang begitu memahami karya besar ini. Ia terlalu individualis dan berambisi untuk memenuhi keinginannya sendiri.

Ketika perang berakhir, pesanan pesawat pun berkurang. Cukup banyak stok pesawat Avro 504, dan pembeli bisa mendapatkan harga yang lebih murah dari pemerintah dibandingkan dengan pabriknya sendiri. Perusahaan pun mencoba membuka penerbangan untuk umum dari kota menuju tempat-tempat wisata di tepi pantai. Namun mereka mengalami kesulitan pembiayaan pesawat karena hanya mampu membawa dua penumpang. Pada tahun 1919, keuangan perusahaan A. V. Roe mulai melemah. Penerbangan wisata pun dihentikan. Negosiasi berakhir dengan pertukaran saham Avro dengan Crossley Motors Limited, yang menghasilkan pesanan pembuatan badan motor kepada perusahaan Avro. Usaha ini juga mengalami kemerosotan. Saham Crossley merosot hingga tinggal seperduapuluh dari nilai saham tahun 1919. Pada tahun 1928 Crossley, A. V. Roe, dan pemegang saham Avro lainnya menjual saham mereka kepada Mr. John D. Siddeley yang dikenal dengan nama Lord Kenilworth.

A. V. Roe dan direktur perusahaan Avro lainnya, yaitu John Lord, kemudian tertarik bergabung dengan perusahaan S. E. Saunders Limited, pembuat kapal yacht di Cowes yang juga pernah membuat pesawat terbang, dan mengganti nama perusahaan menjadi Saunders-Roe Limited. Pada tahun 1929 A. V. mendapat gelar kehormatan untuk jasanya dalam dunia penerbangan. Setelah beberapa saat mengepalai Saunders-Roe ia pensiun dan kemudian tinggal di daerah pedesaan South Hampton. Namun di dalam pemikirannya ia masih aktif mencipta dan mempatenkan sesuatu. Bantalan panel kaca untuk badan sepeda motor yang terbuat dari karet merupakan temuannya. Ia sering mengunjungi Kantor Hak Paten di London dan kadang-kadang membahas tentang koleksinya yang luas.

Ia adalah orang yang merintis dari awal dan tidak pernah merokok. Saat terakhir saya bertemu dengannya di Royal Aero Club dalam acara minum teh bersama, A. V. sedang memesan Bovril. Ia mengatakan : “Saya baru tahu kalau ini lebih enak dari teh. Ini seperti makanan, sedangkan teh hanyalah sekedar stimulan. Dan saya tidak membutuhkan stimulan, meskipun usia saya hampir tujuh puluh tujuh tahun.”

Jika A. V. merasa bahwa banyak yang menolak klaimnya, serta lambatnya Pemerintah dalam membantu perjuangannya, siapa yang dapat menyalahkannya? Namun kita perlu memperhatikan tulisan Sir Walter Raleigh tentang sejarah penerbangan pada Perang Dunia I : “Sejarah awal Mr. A. V. Roe telah ditulis, bukan untuk memujinya, meskipun ia pantas dipuji, dan juga bukan untuk menyalahkan Pemerintah, namun untuk menunjukkan peristiwa yang terjadi di Inggris. Karirnya, meskipun termasyur, namun sangat spesial. Beberapa pionir dan penemu lainnya yang kisahnya tidak pernah ditulis, juga mengalami kesulitan seperti ia dan berperan meletakkan dasar baru bagi seni penerbangan. Hampir menjadi kebiasaan bagi para penulis untuk mengungkap bahwa tugas para pejabat dan wakil masyarakat, adalah untuk membantu warga dalam berpikir dan bertindak untuk diri mereka sendiri. Jika negara memahami hal ini, kejayaan Inggris akan dapat diraih.”

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa baja pesawat masih harus ditempa dengan palu. Bahkan, jika bukan karena bantuan keuangan yang diberikan oleh saudara dan ayah A. V., maka pesawat Avro 504 tidak akan pernah ada. Jika demikian, maka Sekolah Gosport tidak akan bisa menciptakan sistem instruksi penerbangan. Dan itu berarti bahwa tidak akan ada pilot-pilot terlatih dalam peperangan seperti yang ditunjukkan oleh para pilot Inggris. Seperti kata Smith-Barry, kita dapat belajar banyak banyak hal dari alam. Dan yang bisa kita pelajari dari kisah ini adalah bahwa kita tidak perlu takut akan kegagalan, yang terpenting bagi kita adalah terus berusaha dan tidak pernah berhenti mencoba.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: