Beranda » Penerbang Terbesar Sepanjang Sejarah » 5. Sir Geoffrey de Havilland, Knight, C.B.E., A.F.C.

5. Sir Geoffrey de Havilland, Knight, C.B.E., A.F.C.

PILOT PERANCANG

GEOFFREY DE HAVILLAND memiliki sosok yang tinggi kurus, dengan wajah cekung dan kasar, serta sorot mata yang tajam dan cerdas. Ia adalah seorang pendiam, jarang berbicara terutama mengenai dirinya sendiri. Dalam pandangannya sendiri ia bukanlah seorang pahlawan. Wajahnya tidak menunjukkan bahwa ia bangga terhadap diri sendiri, bahkan rendah hati. Jika dilihat dari caranya berpakaian orang akan menyangka bahwa ia adalah seorang pendeta. Namun saat tersenyum ekspresi wajahnya berubah dan terlihat berbinar seperti sinar matahari ketika menerpa jendela gereja.

Ayahnya adalah seorang pendeta, Rector of Crux Easton, di North Hampshire, yang terletak antara Newburry dan Andover. Keluarganya adalah keturunan Guernsey yang berdarah Perancis. Geoffrey dilahirkan pada tahun 1882 dan menjalani pendidikan di St. Edward di Oxford. Ia memasuki sekolah Crystal Palace School of Engineering pada tahun 1900, dimana ia berhasil menciptakan sebuah mesin sepeda motor dari desain yang terdapat di jurnal motor. Ia kemudian berhasil menciptakan mesin sepeda motor kedua dengan desainnya sendiri, dan Burney bersaudara membeli polanya dengan harga £ 10. Blackburn bergabung dengan mereka dan mesin kemudian dinamai Burney-Blackburn, sebuah mesin sepeda motor yang terkenal pada saat itu dan menjadi pelopor mesin Blackburn selanjutnya.

Pada tahun 1903 Geoffrey de Havilland bergabung dengan Willans dan Robinson di perusahaan Rugby (yang sekarang menjadi perusahaan gabungan English Electric Group) sebagai siswa. Disana ia bekerja menggambar desain di toko piston uap, turbin dan mesin bensin. Dua tahun kemudian ia bekerja di bagian desain perusahaan Wolseley Motor-car Company di Birmingham, dan setahun kemudian pindah ke bagian desain Vanguard Omnibus Company di Walthamstow, yang nantinya bernama London General Omnibus Company, yang merupakan pembuat dan operator bus transport umum di London.

Ketika D. H. membaca tentang keberhasilan Wright bersaudara terbang di Kitty Hawk, ia mulai tertarik untuk belajar terbang. Ia berkata padaku : “Saya tidak tahu apa pun tentang aerodinamika, namun saya ingin sekali membuat pesawat terbang.” Ini berarti bahwa ia harus berhenti sebagai teknisi motor, dan ia pun tidak punya biaya. Namun, keinginannya tak bisa ditahan. Kakeknya, yang tinggal di Oxford, cukup kaya. Geoffrey kemudian mendatanginya dan mengutarakan keinginannya. Kakeknya pun kemudian memberinya £ 1000. Dengan uang ini Geoffrey dapat memenuhi ambisinya untuk terbang. Dan sejak saat itu Geoffrey selalu berterima kasih kepada kakeknya, yang tanpanya ia takkan dapat memulai kiprah di dunia penerbangan.

Deainer muda ini mengetahui bahwa belum ada mesin yang cocok untuk pesawat terbang saat itu. Sendirian, ia bekerja selama lima bulan dengan pensil menggambar desain mesin empat silinder horisontal berpendingin air. Perusahaan Iris Motor Company di Willesden, London kemudian membuat mesin dengan gambar buatannya. Mesin ini berbobot 250 pon dengan kekuatan 40 sampai 45 tenaga kuda serta putaran mesin 1500 rpm.

D. H. saat itu menyewa sebuah gudang di Fulham Road, London dan bergabung dengan Francis T. Hearle dari Porthleven. D. H. membuat gambar dan mereka pun menciptakan sebuah pesawat sayap ganda. Badan pesawat berupa rangka balok terbuka, dengan elevator yang dapat digerakkan di bagian depan, sebuah stabiliser dan kemudi yang dapat digerakkan di belakang, mesin di bagian tengah, serta tangki bahan bakar di atas. Dua baling-baling di belakang sayap utama diputar dengan gir siku. Batangnya terbuat dari aluminium yang dapat diatur sebelum pesawat tinggal landas. Sayap pesawat memiliki kemudi, yang dapat bergerak ke bawah. Istri D. H., Lady de Havilland membantu membuatkan kain yang menutupi seluruh pesawat dengan menggunakan mesin jahit Singer. Pesawat ini mempunyai dimensi 450 kaki persegi dan berbobot 850 pon tanpa pilot.

Mereka kemudian membawa pesawat ke Seven Barrows, sebuah daerah pekuburan kuno di Downs dekat dengan gereja ayah D. H. di Crux Easton. D. H. duduk di bangku pilot. Hearle menyalakan mesin. Dengan sebuah pegas yang biasa digunakan oleh tukang jagal, mereka mengukur daya dorong baling-baling pesawat. Ternyata pesawat tidak cukup kuat untuk terbang meninggalkan tanah.

Mereka sangat kecewa dan memutuskan untuk terbang menuruni bukit saja. Suatu hari di bulan Desmber 1909 D. H. terbang menuruni sebuah lereng bukit. Setelah 40 yar ia merasa pesawat terbang cukup kencang. Ia mencoba menarik kontrol elevator dan pesawat naik perlahan hingga 30 kaki di udara. Namun terdengar sesuatu yang retak … kemudian patah. Sayap kiri pesawat patah. Pesawat pun menghunjam ke tanah dan rusak parah. Namun D. H. selamat. Ia justru tersenyum dan berkata, “Setidaknya pesawat bisa terbang. Tapi saya takut pesawat sulit diperbaiki.” Sebuah pengakuan yang jujur dari seorang pilot. Namun perlu dicatat bahwa ini merupakan pertama kalinya ia terbang meninggalkan tanah. Sebelumnya ia sama sekali belum pernah terbang, seperti Wright bersaudara atau Roe dengan pesawatnya.

Mereka membuat sayap pesawat dengan bahan kayu putih, yang kurang kuat untuk menahan beban angin. Mereka kemudian kembali ke Fulham dan membuat sebuah pesawat baru yang lebih sederhana namun kuat, dengan bahan kayu spruce serta sebuah mesin yang menggerakkan kedua baling-baling. Mereka kembali membawa pesawat ke Seven Barrows dengan sebuah kereta lori Commer. Ketika D. H. berhasil terbang Hearle memperhatikan jarak ketinggian pesawat dengan berbaring di rerumputan. Suatu sore hari Sabtu di musim panas tahun 1910, pesawat mereka terbang untuk pertama kalinya. Pada awal September berikutnya jarak terbang pesawat meningkat hingga seperempat mil, dan tak lama kemudian menjadi setengah mil, yang merupakan jarak terjauh yang bisa ditempuh tanpa berbelok. Setelah sering berlatih, D. H. dapat terbang hingga 40 yar, dan ia mulai mencoba terbang berputar hingga 100 kaki. Pada pertengahan Oktober ia telah berhasil terbang hingga totalnya hampir 40 mil. Dalam sebuah penerbangan batang penopang mesin patah saat berada di ketinggian 50 kaki, namun ia dapat mendarat dengan mulus. Selanjutnya, mereka menggunakan penopang dari baja berlapis nikel yang lebih kuat. Dengan perbaikan ini, D. H. berhasil terbang hingga 40 menit. Dengan demikian ia belajar terbang sendiri, dan pada tanggal 7 Februari 1911 ia mendapat penghargaan Sertifikat Penerbang ke-53 dari Royal Aero Club.

Namun sebelum tahun 1910 mereka hanya memiliki sisa hadiah uang £ 1000. D. H. dan Hearle merasa perlu mencari sumber pembiayaan. Mereka berpikir untuk meninggalkan dunia penerbangan dan kembali ke industri mobil. Pada saat krisis ini, ketika mengunjungi pameran dirgantara Aero Show di Paris, D. H. bertemu dengan F. M. Green, seorang insinyur terkenal dari Daimler Motor Company. Green mengatakan bahwa ia telah menjadi staf Army Balloon Factory yang tertarik dengan pesawat terbang.

Balon udara telah digunakan oleh Pasukan Inggris sejak sebelum tahun 1890, ketika balon udara resmi menjadi unit Angkatan Bersenjata. Di bawah pengelolaan Royal Engineers, yang berkedudukan di Chatham dan kemudian pindah ke Aldershot, dua tahun kemudian balon udara mulai dioperasikan di Farnborough pada tahun 1894. Pada tahun 1908 nama perusahaan diubah menjadi His Majesty’s Balloon Factory. Disana de Havilland ditawari menjadi pilot pesawat dan sekaligus pembuat gambar pesawat. Pesawatnya pun dibeli dengan harga £ 400. Sedangkan Hearle bekerja sebagai mekanik. Perkembangan menggembirakan ini terjadi pada bulan Desember 1910, dan merupakan awal keberhasilan mereka.

Perusahaan ini membantu eksperimen pesawat yang dilakukan oleh Letnan J. W. Dunne (seorang pelopor yang menulis buku An Experiment with Time) dan S. F. “Colonel” Cody antara tahun 1907 hingga 1909. Namun ketika biaya eksperimen melonjak hingga mencapai £ 2500 mereka menghentikan bantuan. Hon. C. S. Rolls (salah seorang pendiri perusahaan Rolls-Royce Limited) bergabung dengan perusahaan tersebut sebagi seorang pilot, namun ia tewas ketika terbang di Bournemouth pada bulan Juli 1910. Dalam hal ini kualifikasi Geoffrey de Havilland lebih baik, karena ia merancang dan membuat sendiri pesawatnya, kemudian belajar terbang, dan sekaligus sebagai seorang insinyur yang merancang mesin pesawat. Tak seorang pun pilot yang bekerja di perusahaan tersebut memiliki kualifikasi yang sama dengannya.

Pesawat sayap ganda de Havilland dinamai Farman Experimental No. 1, karena seperti pesawat yang buat oleh Henri Farman, pesawat ini memiliki desain dengan baling-baling di belakang. Nama pesawat ini disingkat menjadi F.E.1. Setiap kali dilakukan perbaikan, mereka mengembangkan kemampuan pesawat, terutama dalam hal kontrol. Sayap ekor pesawat dipasangi dengan elevator yang mengatur gerakan bersama dengan elevator depan. Elevator depan dihilangkan, mesin diganti dengan mesin Gnôme 50 tenaga kuda, dan nama pesawat kemudian diganti menjadi F.E.2. Pesawat F.E.2B dan F.E.2D yang terkenal saat Perang Dunia I merupakan pengembangan dari desain de Havilland yang menggunakan mesin Beardmore dan Rolls-Royce.

Setelah berkutat dengan pesawat untuk Angkatan Bersenjata, yang menggunakan papan luncur sebagai roda depan, D. H. merancang pesawat baru yang menggunakan baling-baling di depan. Dinamai Blériot Experimental (karena menyerupai rancangan Blériot), prototipe pesawat B.E.1. ini menjadi dasar bagi seri pesawat B.E. yang diproduksi dengan tujuh model berbeda untuk Korps Terbang Kerajaan Inggris.

D. H. menerbangkan pesawat B.E.2 secara tidak resmi pada saat Uji Pesawat Militer tahun 1912, namun ia tidak mendapat ijin. Salah seorang pengamat, Mr. G. Holt Thomas berkomentar tentang de Havilland dan pesawatnya. Thomas telah mendirikan perusahaan Aircraft Manufacturing Company di daerah Merton, pinggiran London, untuk membuat pesawat Farman dengan perjanjian lisensi. Perusahaan ini menggunakan sebuah garasi bus pada tahun 1914, tempat dimana Holt Thomas mendesain dan membuat pesawat-pesawat Inggris. Ia lalu mempekerjakan D. H. sebagai perancang dan pilot uji. Pada bulan Mei 1914 D. H. meninggalkan Royal Aircraft Factory untuk bekerja sebagai pembuat gambar di sebuah kantor komisioner yang berada di Hendon.

Hearle telah lebih dulu meninggalkan Farnborough untuk bekerja di Deperdussin Company di Highgate, kemudian pindah di departemen penerbangan Vickers di Weybridge. Ia mengunjungi Amerika Serikat untuk membuat pesawat Vickers Gunbus, sebuah pesawat tempur di awal tahun 1914. Pada tahun 1917 ia bergabung dengan Aircraft Manufacturing Company sebagai seorang manajer bagian eksperimen.

Perang Dunia I dimulai sebelum prototipe pesawat de Havilland dibuat, yaitu pesawat sayap ganda Airco D.H.1. D. H saat itu bergabung dengan Korps Terbang Kerajaan Inggris sejak masih di Farnborough. Selama enam bulan ia menerbangkan pesawat Gnôme Blériot 50 tenaga kuda untuk patroli pertahanan di sekitar Montrose dan Farnborough. Setelah itu ia bertugas di Aircraft Manufacturing Company sebagai desainer di kantor perusahaan.

Pada bulan Februari 1915 ia menerbangkan pesawat D.H.1 yang bermesin Renault 90 tenaga kuda ke Farnborough. Tak lama kemudian dibuat pesawat D.H.1A bermesin Beardmore 120 tenaga kuda. Setelah diujicoba bersama pesawat F.E.2 dan F.E.2B pesawat terakhir kemudian dipilih sebagai produk unggulan.

Sementara itu pesawat pengintai di Perancis menunjukkan keberhasilan dengan kemampuannya mengintai formasi pasukan lawan sekaligus gerakan mereka. Staf angkatan bersenjata sadar bahwa mereka perlu menghentikan usaha musuh untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan mereka. Mereka pun merancang pesawat tempur untuk menghancurkan pesawat pengintai. Jika pesawat pengintai berhasil dihancurkan maka ini akan efektif untuk melindungi pasukan dari “mata-mata musuh”. Sejak saat itu, pesawat tempur ini pun banyak diproduksi dan digunakan untuk menyerang pesawat pengintai lawan.

Ketika D. H. tahu bahwa pesawat F.E.2B terpilih, ia pun merancang pesawat D.H.2 berkursi tunggal. Selama ini pesawat-pesawat tempur Inggris menggunakan kursi ganda. Pesawat kecil D.H.2 menggunakan mesin Gnôme Monosoupape berkekuatan 100 tenaga kuda, dan dianggap cepat karena mampu mencapai 100 mil per jam. Pesawat ini pun banyak dipesan. Skadron No. 24 juga menggunakan pesawat ini dan menjadi skadron tempur kursi tunggal Inggris pertama. Skadron ini terbang ke Perancis pada bulan Februari 1916.

Pesawat D.H.2 sangat rapuh, kurang siap diterbangkan dalam kondisi angin kencang, dimana saat itu jarang ada yang bisa lolos dari angin kencang. Di kokpit yang terbuka di depan sayap, pilot sulit sekali menyelamatkan diri dari kecelakaan saat pesawat menukik. Sejumlah kecelakaan fatal menyebabkan pesawat mempunyai reputasi buruk, sehingga saat tiba di Perancis pesawat ini dijuluki “Putaran Api” karena seringnya pesawat terbakar ketika mengalami kecelakaan. Namun para pilot di skadron No. 24 Inggris tetap melakukan penerbangan dengan percaya diri, sehingga reputasi buruk pesawat sedikit berkurang. Pada pertempuran di Somme pesawat D.H.2 menjadi barisan terdepan dalam pertempuran udara. Pesawat ini merupakan pesawat terbaik di Korps Terbang Kerajaan Inggris pada periode tahun 1916, ketika pesawat pengintai B.E.2C banyak yang berhasil dirontokkan.

Prototipe pesawat D.H. ketiga menggunakan mesin ganda. Saat itu pesawat ini sangat sulit dikejar. Pesawat D.H.4 menyusul dibuat pada tahun 1917, dengan mesin Rolls-Royce Eagle berkekuatan 325 tenaga kuda. Kekuatan mesin meningkat tiga kali lipat sejak perang dimulai. Sebagai pesawat pembom dan pengintai D.H.4 mempunyai kecepatan sama dengan pesawat tempur saat itu, dan mencapai ketinggian 18.000 kaki. Ketika kekuatannya menjadi 370 tenaga kuda, pesawat D.H.4 mampu terbang 133 mil per jam pada ketinggian 10.000 kaki dan meningkat hingga 23.000 kaki. Kru pesawat kadang mengalami kecelakaan karena kurang berpengalaman dalam pertempuran. Pesawat ini diproduksi dalam jumlah ribuan oleh perusahaan Aircraft Manufacturing Company, serta kontraktor lainnya, termasuk pengusaha mebel dan furnitur, karena pesawat berbahan dasar kayu sehingga dapat dibuat oleh seorang tukang kayu sekalipun. Orang-orang Amerika membuat 2.500 pesawat di negaranya untuk kebutuhan angkatan udara mereka setelah terlibat dalam perang pada tahun 1917, dan menggunakannya untuk jasa pos udara setelah perang berakhir.

De Havilland kurang berhasil dalam merancang pesawat D.H.5 kursi tunggal yang muncul di Paris tahun 1917 dengan mesin rotari 110 tenaga kuda Le Rhôme. Ini merupakan perpaduan antara desain baling-baling di depan dan belakang. Mesin diletakkan diantara baling-baling depan dan belakang. Mesin berada di hidung pesawat, namun sayap atas lebih ke belakang dibandingkan dengan sayap bawah, dengan demikian pilot dapat duduk di depan sayap atas dengan pandangan bebas ke depan. Namun pesawat ini tidak sebaik pesaingnya yaitu pesawat Sopwith Camel, serta tidak mampu bertahan lama.

Pesawat D.H.6 merupakan pesawat latih dengan desain yang buruk. Pesawat ini sengaja dibuat agar sulit diterbangkan, dengan asumsi bahwa siswa akan segera belajar dengan baik apabila memegang pesawat yang sukar dikendalikan. Sayapnya yang berat sulit melewati angin karena dibebani dengan mesin Renault 90 tenaga kuda. Para pilot sering menjulukinya dengan “Lengan Apit.”

Prototipe berikutnya adalah D.H.9, sebuah pesawat pembom dengan dua kru serta mesin enam silinder Siddeley Puma 240 tenaga kuda. Setelah sedikit diperbesar dan diperkuat dengan mesin American Liberty V-12 berkekuatan 400 tenaga kuda, pesawat ini menjadi D.H.9.A, yang masih digunakan oleh Royal Air Force untuk kebutuhan di dalam dan luar negeri hingga sepuluh tahun setelah perang. Dua model pesawat ini diproduksi sebagai tambahan untuk pesawat D.H.4 yang menjadi pilihan utama. Pada pesawat D.H.4 pilot duduk persis di belakang mesin pesawat. Sedangkan pendamping pilot duduk jauh di belakangnya, diantara tangki bahan bakar. Ini membuat mereka sulit bekerjasama satu sama lain. Pada pesawat D.H.9 dan 9A tangki bahan bakar terletak di antara mesin sedangkan pilot dan pendampingnya duduk pada kokpit yang berdekatan di belakang sayap utama. Mereka dapat bekerjasama dengan mudah, dan pilot tidak terhalang pandangannya.

Di hari pertama pesawat Jerman Gothas membombardir London pada tahun 1917 terlihat prototipe pesawat pembom mesin ganda D.H.3 terbakar di antara pesawat Airco. Pada saat itu di bawah ancaman Jerman, pejabat pemerintah meminta de Havilland untuk mendesain sebuah pesawat yang menyerupai D.H.3. Namun ini tidak dapat diselesaikan. Pesawat D.H.10A bermesin ganda baru saja mulai diproduksi ketika Jerman menyerah. Pesawat ini tidak pernah muncul dalam skadron.

Selama Perang Dunia I sepertiga dari seluruh kekuatan udara pasukan Sekutu, dan 95 persen pesawat produksi Amerika dirancang oleh Geoffrey de Havilland dan timnya.

Industri pesawat terbang Inggris hancur setelah perang berakhir karena kekuatan pasukan Angkatan Udara Inggris berkurang dari 350.000 menjadi 28.000. Holt Thomas yakin bahwa transportasi udara akan menjadi alternatif baru untuk perjalanan pada saat itu. Ia benar, namun perkembangannya ternyata lebih lambat dari yang ia kira. Perusahaan penerbangannya, bernama Air Transport dan Travel Limited, yang menggunakan pesawat D.H.4 dan 9A bangkrut pada tahun 1920 ketika baru setahun melayani rute London-Paris.

Sementara itu perusahaan Birmingham Small Arms Company telah membeli Aircraft Manufacturing Company. Karena sepinya pesanan dari pihak militer pada tahun 1920, perusahaan ini meninggalkan bisnis penerbangan. Geoffrey de Havilland juga mengalami krisis lain dalam hidupnya. Perusahaan B.S.A. memberi kesempatan untuknya dalam pembuatan desain, dan melakukan apa saja yang bisa dilakukan. Untuk keempat kalinya de Havilland harus kembali mulai dari awal.

Sejumlah mantan pekerja di Aircraft Manufacturing Company membentuk perusahaan De Havilland Aircraft Company Limited di pangkalan udara Stag Lane, London Utara, pada tanggal 25 September 1920, dengan modal awal £ 1875. Hanya ada satu pesanan pada perusahaan ini — membuat dua buah pesawat D.H.18 berkursi delapan, dengan mesin Napier Lion 450 tenaga kuda. Maka segala cara dilakukan untuk mendapatkan pemasukan. Sejumlah dana diperoleh dari perbaikan sekitar 150 buah pesawat D.H.9A milik Departemen Penerbangan dan beberapa pembeli dari luar negeri. Perbaikan pompa bahan bakar pesawat pembom D.H. milik Angkatan Udara Inggris dan pemakai lainnya hanya menghasilkan sedikit keuntungan selama beberapa tahun.

Tidak ada kemewahan sama sekali di Stag Lane. Pada musim dingin ruang gambar di perusahaan tersebut sangat dingin sehingga para staf harus sering keluar dan bermain bola selama sepuluh menit untuk menghangatkan badan. Mesin lama pembuat pesawat diperkecil menjadi tiga silinder, sehingga lebih ekonomis dan menghemat biaya untuk perusahaan. Jika gergaji listrik dinyalakan pada sore hari listrik tidak kuat untuk menyalakan lampu di ruang gambar, dan karyawan harus pulang lebih awal. Hearle menyimpan satu-satunya roll fiber pesawat di bawah mejanya, dan selalu menanyakan pemakaiannya meskipun hanya sedikit untuk menutup kemudi. Ia selalu bertanya : “Ini barang yang sangat mahal. Apakah kamu benar-benar membutuhkannya?”

Silinder mesin Gnôme yang masih dibuat dengan menggunakan palu menunjukkan bahwa cara pembuatan pesawat masih sangat sederhana. Telah lama sekali tidak disediakan makanan kecil untuk para karyawan. Suatu ketika, seorang wanita gipsi datang dan menawarkan untuk menyediakan makanan. Selanjutnya ia menyediakan makanan kecil untuk para karyawan setiap hari. Seorang staf bertugas mengatur waktu. Ia membunyikan bel pada pukul 7.30 pagi hari dan pukul 5.00 sore hari sebagai tanda waktu kerja.

Sebuah sekolah terbang kecil-kecilan mulai dibuka. Pada tahun 1923 Departemen Penerbangan memberikan kontrak untuk pelatihan terbang bagi para pilot cadangan Angkatan Udara Inggris. Sekolah ini melatih 3000 orang pilot selama berlangsungnya Perang Dunia II. Pada tahun 1953 Departemen Penerbangan menghentikan kerjasama karena munculnya pesawat jet. Dinas Persewaan Pesawat De Havilland membantu memberi pemasukan hingga tahun 1924, ketika perusahaan ditutup karena dianggap menyaingi bisnis transportasi udara. Sejumlah pesawatnya disewa oleh koran harian untuk fotografi serta perusahaan pengiriman kilat, perusahaan film untuk pembuatan sinema, usaha jasa penyelamatan, dan pengusaha kaya untuk perjalanan udara. Perusahaan jasa iklan yang memanfaatkan sayap pesawat untuk memasang iklan produk menjadi alternatif baru. Usaha ini dikelola oleh Alan J. Cobham yang mempekerjakan belasan orang di pesawat D.H.9C serta beberapa orang pilot.

Pesawat pertama yang dirancang oleh Geoffrey de Havilland di Stag Lane adalah pesawat D.H.29 sayap tunggal bermesin Napier Lion untuk 8 sampai 10 orang penumpang. Departemen Penerbangan memesan dua buah pesawat, salah satunya dilengkapi senjata. Pada saat pertama kali diuji coba pada bulan Agustus 1921 D.H. menemukan bahwa kontrol depan-belakang agak bermasalah. Perusahaan Daimler Airways, akan mengunjungi Stag Lane untuk membeli delapan buah pesawat dan D.H. harus memutuskan apakah ia akan memperbaiki masalah tersebut atau membuat pesawat baru. Ia kemudian membongkar pesawat tersebut dan mendesain pesawat D.H.34, sebuah pengembangan dari seri D.H.18. pesawat ini memiliki toilet dan membawa petugas kabin, yang menjadi pelopor pramugara sekarang. Pesawat ini terbukti cukup kuat dan ekonomis untuk perusahaan Daimler Airways, dan aman untuk sebuah perusahaan pemula yang mempertaruhkan reputasinya untuk jangka panjang.

Saat berita tentang Daimler Airways menyebar, para tuan tanah di Stag Lane menuduh telah terjadi pelanggaran kesepakatan. Mereka menyatakan bahwa perusahaan telah mendirikan bagunan tanpa persetujuan mereka, dan memaksa perusahaan membayar uang £ 20.000. Banyaknya pesanan pesawat membuka peluang bagi usaha pengamanan pengiriman barang pada tahun 1922. Tanpa adanya pengamanan, pengiriman bisa gagal, dan ini bisa menghancurkan perusahaan. Saat itu perusahaan belum memiliki uang £ 20.000, namun pada tanggal 18 November 1921, perusahaan menarik uang £ 2000 dari bank untuk dibayarkan sebagai cicilan. Namun mereka tidak tahu darimana akan mendapatkan £ 18.000 kekurangannya. Hal yang sama juga terjadi pada F.M. Green dan D.H.

Alan S. Butler merupakan lulusan Eton dan Sandhurst berusia 23 tahun. Ia telah belajar terbang di Bristol saat ia membeli sebuah pesawat bermesin Puma untuk keperluan pribadi. Sekarang ia menginginkan pesawat baru, yang berkursi ganda, kontrol ganda, berukuran lebih panjang dan bagasi yang lebih luas. F.E.N. St. Barbe, manajer perusahaan De Havilland, memberitahukan kepada D. H. tentang keinginan Butler. Geoffrey de Havilland langsung menjawab : “Katakan padanya bahwa biayanya sekitar £ 3.000.” Dan ia tidak begitu yakin bahwa Butler akan setuju.

Namun ternyata Alan Butler serius dan cukup kaya. Ia pun datang ke Stag Lane, membicarakan tentang mesin yang diinginkannya dengan D. H. dan C. C. Walker (kepala mekanik), dan memesan pesawat. Ia sempat melihat kondisi perusahaan yang bisa menghambat perkembangan usaha. Sebelum pergi ia mengatakan : “Apakah kalian membutuhkan uang lain kali?” Ketika tidak ada yang menjawab ia menambahkan : “Saya berpikir mungkin suatu saat saya ingin menanamkan investasi di perusahaan pembuat pesawat.”

Ia menyebut angka £ 50.000.

D. H. dan C. C. berusaha untuk tidak terlalu terburu-buru memutuskan. Kemudian D. H. menjawab pelan : “Kami memang menginginkannya, tapi mungkin tidak sebanyak itu.” Mereka agak segan untuk mengatakan kebutuhan mereka, sampai akhirnya tamu mereka pergi tanpa keputusan apa pun.

Pada kunjungan berikutnya Butler mengajak serta pamannya, seorang pengusaha kawakan. Ia mengatakan bahwa ia telah mempelajari tentang perusahaan D.H. dan siap untuk menanamkan investasi. “Berapa yang kalian inginkan?” tanyanya berterus terang.

Walker menjawab : “Biaya yang telah dikeluarkan untuk pembangunan pangkalan udara adalah £ 5000. Ia tidak bermaksud untuk meminta uang hari itu juga. Namun Butler langsung mengeluarkan cek sebesar £ 5000 dan memberikannya kepada mereka. Masalah keuangan perusahaan pun teratasi. Tiga hari kemudian, pada tanggal 15 Desember 1921, A. S. Butler menjadi direktur perusahaan. Ia membayar tambahan uang sebesar £ 2.500 pada tanggal 23 Desember dan memiliki 7500 lembar saham. Pada tanggal 13 Februari 1924, ia dipilih sebagai pemimpin perusahaan sampai tahun 1950, ketika F. T. Hearle, yang menjadi direktur sejak tahun 1922, menggantikan Butler yang mengundurkan diri.

Sejak saat itu berbagai desain pesawat D.H. tersebar di berbagai perusahaan penerbangan dan instansi militer. Pesawat sipil D.H. banyak digunakan oleh perusahaan penerbangan perlahan merambah Eropa Barat hingga Timur Tengah, India dan Afrika Selatan. Namun De Havilland ingin membuat pesawat idealnya sendiri untuk mempopulerkan terbang. Pada tahun 1924 sejumlah mesin 90 tenaga kuda Royal Aircraft Factory dijual masing-masing seharga 14.6 shilling. D.H. mencoba untuk membuat pesawat murah dengan uang tersebut. Namun mesin berat 8 silinder ini membutuhkan pesawat besar dengan bahan bakar yang banyak, sehingga pesawat D.H.51 sangat mahal. Pesawat hanya dibuat tiga buah.

De Havilland memutuskan untuk membuat pesawat dengan mesin R.A.V. V-8 berbobot 580 pon serta dengan mesin Blackburn V-2 berbobot 97 pon untuk pesawat ringan yang akan diproduksi. Dengan mesin ini ukuran pesawat D.H.51 akan berkurang hingga sepertiganya, demikian juga dengan bobotnya.

Perusahaan Aircraft Disposal Company memiliki cadangan mesin Renault V-8 sisa perang, dan Mayor Frank Halford memperbesar kekuatan mesin dari 90 menjadi 140 tenaga kuda. D. H. menyarankan agar mesin menggunakan empat silinder dan bagian lainnya tetap kecuali blok mesin. Dan Halford pun melakukannya, lalu mesin dinamai Cirrus. Dengan tanpa beban, untuk pertama kalinya D. H. merancang pesawat D.H.60 untuk mesin tersebut dan menerbangkannya sendiri di Stag Lane pada tanggal 22 Februari 1925. Pesawat Moth telah lahir. Pesawat kecil sayap ganda ini sangat sempurna, mudah dan aman untuk diterbangkan.

Pesawat Moth menjadi trend terbang baru. Klub-klub terbang tersebar di seluruh penjuru negeri. Pada tahun 1926 Hubert Broad memenangkan Lomba Terbang King’s Cup dengan pesawat Moth, sedangkan dua pesawat Moth lainnya melakukan penerbangan pesawat kecil pertama kali di India. Tahun berikutnya pesawat Moth terbang ke Cape Town dan kembali. Pesawat ini memenangkan berbagai lomba dan event-event bersejarah di Eropa, Australia, dan Selandia Baru. Pangeran Wales, Prince Henry dan Prince George belajar terbang dengan pesawat Moth dan memiliki satu pesawat. Para Putri kerajaan juga belajar menerbangkannya dan terbang keliling dunia.

Mesin Cirrus yang lebih kuat pun dibuat. Selanjutnya Halford bergabung dengan De Havilland Company untuk membuat mesin. Ia merancang sebuah mesin De Havilland baru berkekuatan 120 tenaga kuda dengan bobot yang hampir sama dengan mesin Cirrus sebelumnya. Dengan mesin ini pesawat Tiger Moth mampu mencapai kecepatan 200 mil per jam. Dengan pengurangan kekuatan menjadi 100 tenaga kuda demi reliabilitas terbaik, dan mesin dijual dengan nama Gipsy One. Selanjutnya dibuat kabin untuk tiga pesawat Puss Moth dengan mesin mengarah ke bawah atas anjuran D.H., agar pandangan tak terhalang dan kaca depan lebih bersih. Pesawat Tiger Moth menjadi standar bagi para pelatih di AU Kerajaan Inggris. Penjualan pesawat Moth mencapai 1800 buah, terdiri dari Tiger Moth sekitar 1000 buah, Push Moth sekitar 300 buah, dan. Sekitar 400 buah lainnya yang merupakan variasi khusus, dinamai Fox Moth, Leopard Moth, dan Hornet Moth, terjual habis. Semua nama ini merupakan anjuran Geoffrey de Havilland. Hobi De Havilland lainnya adalah fotografi, dan fotonya tentang perburuan liar di Afrika Tengah sangat indah.

Pesawat Moth membuat perusahaan De Havilland mencuat. Jumlah pekerjanya meningkat dua kali lipat dan dua kali lipat lagi selama tahun 1928. Geoffrey de Havilland telah menciptakan mobil di udara, dan agennya ada di mana-mana. Jaringan servisnya tersebar di seluruh dunia, mulai dari Australia pada tahun 1927, Kanada tahun 1928, India tahun 1929 dan Afrika Selatan tahun 1930.

Ini tidak diraih dengan mudah. Antara tahun 1930 dan 1931 krisis perdagangan dunia menerpa perusahaan De Havilland. Setelah dipelajari secara hati-hati maka diputuskan untuk membeli tanah di Hatfield dan memindahkan sekolah terbang dan divisi pesawat ke sana. Divisi mesin tetap berada di Stag Lane bersama divisi baling-baling. Pangkalan udara Stag Lane menjadi tempat kerja dan perakitan.

Divisi baling-baling mulai didirikan sejak perlombaan terbang Inggris-Australia pada tahun 1934. D.H. tahu bahwa gerakan baling-baling variabel akan sangat berpengaruh terhadap kemenangan pesawat. Perusahaan Amerika Hamilton Corporation memiliki baling-baling yang siap untuk ini. Perusahaan De Havilland Aircraft Company mencoba untuk mendapatkan lisensi. Namun harga yang ditawarkan terlalu tinggi. Pemerintah Inggris yang dimintai dukungan dengan memberikan order baling-baling, mengatakan kepada De Havilland bahwa baling-baling seperti itu tidak diperlukan untuk pesawat militer. Industrialis Inggris lainnya juga menolak untuk bergabung, sehingga De Havilland harus membeli lisensi sendiri.

C. W. A. Scott dan T. Campbell-Black terbang dengan pesawat D.H. Comet dari Inggris ke Melbourne dalam waktu 71 jam dan memenangkan perlombaan terbang MacPherson Robertson yang diselenggarakan dalam rangka peringatan seratus tahun kota Australia tersebut. Ini merupakan pesawat Inggris pertama yang menggunakan baling-baling variabel, penutup sayap, dan roda pendarat yang dapat ditarik.

Perang Inggris yang terjadi enam tahun kemudian tak akan pernah dimenangkan tanpa peran baling-baling ini, dan sejak saat itu semua pesawat militer menggunakan baling-baling ini. Selama Perang Dunia II perusahaan De Havilland Company memproduksi 140.046 baling-baling.

Di bawah pengawasan Geoffrey de Havilland perusahaan memproduksi sejumlah pesawat terkenal. Tiga pesawat Hercules digunakan oleh perusahaan penerbangan Imperial Airways pertama kali untuk terbang ke India. Pada tahun 1937 perusahaan penerbangan Albatross didirikan, dan setahun kemudian melayani rute London-Paris dengan waktu tempuh kurang dari satu jam. Pesawat bermesin empat silinder ini mempunyai kemampuan seperti pesawat jet Comet yang dibuat pasca perang. Bagian dari pesawat Moth digunakan untuk membuat pesawat Dragon bermesin kembar. Pesawat yang berbobot sama antara lain adalah pesawat Dragonfly, Dragon Rapide (dikenal dengan nama Dominie di R.A.F.), dan pesawat D.H.86 bermesin empat yang dipesan oleh perusahaan penerbangan Australia Qantas.

R.E. Bishop yang bergabung dengan perusahaan sebagai pekerja magang pada tahun 1921, akhirnya menjadi kepala desainer ketika perusahaan penerbangan Flamingo membuka rute London-Channel Islands dua bulan sebelum Perang Dunia II. Raja George VI menggunakannya untuk transportasi pribadi selama berlangsungnya perang.

Perang Dunia II telah merubah semua pemikiran yang ada sebelumnya dan membawanya menuju sumber-sumber keuangan industri pesawat terbang Inggris yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Salah satu produk tim De Havilland untuk perang besar ini adalah pesawat pembom cepat Mosquito, yang dapat terbang cepat selamat sampai Berlin tanpa senjata. Pesawat ini juga berfungsi sebagai pencari jejak, penyerang malam, dan pesawat pengintai yang diperhitungkan.  Berbahan dasar kayu, pesawat ini tak tertandingi oleh senjata logam lainnya. Sejak September 1941 hingga awal tahun 1944 pesawat Mosquito menjadi pesawat tercepat dalam perang. Skadron-skadron pesawat ini telah menjatuhkan 15.000 ton bom, merontokkan 600 pesawat musuh (kebanyakan di malam hari), dan menghancurkan 600 bom terbang selama 60 malam. Mereka menenggelamkan kapal musuh dan menghancurkan komunikasi lawan di malam hari serta mengganggu gerak pasukan lawan. Sejumlah 7844 buah pesawat Mosquito dibuat di Inggris dan Kanada.

Pesawat tempur Hornet kursi tunggal bermesin ganda 4140 tenaga kuda menyerupai pesawat Mosquito, dan pada tahun 1955 masih menjadi pesawat tempur terbaik yang digunakan di Malaya. Namun pada pertengahan Perang Dunia II desain mesin dan pesawat beralih ke pesawat jet tanpa baling-baling.

Geoffrey de Havilland menerbangkan semua pesawat buatannya sendiri hingga munculnya pesawat Mosquito, dimana ia terbang sebagai pilot kedua. Ia tidak menerbangkan pesawat jet, dan pada tahun 1953 ia membiarkan lisensi pilot sipilnya berakhir. Padahal banyak perancang pesawat dan pilot yang menanti lama karir untuk membuat dan menerbangkan pesawat. Ia menerima penghargaan Air Force Cross untuk karyanya dalam Perang Dunia I. Pada tahun 1933 ia memenangkan lomba King’s Cup Air Race dengan pesawat Leopard Moth. Ia ditunjuk sebagai Komandan Order of the British Empire pada tahun 1934, dan menerima gelar ksatria pada bulan Januari 1944. Ia merupakan orang pertama dalam industri pesawat terbang yang diberi penghargaan Royal Designer untuk Industri oleh Royal Society of Arts. Ia merupakan anggota Royal Aeronautical Society, yang menerima medali emas pada tahun 1950, menjadi Siswa Kehormatan di American Institution of the Aeronautical Sciences, dan pada tahun 1952 menerima medali emas Daniel Guggenheim untuk prestasinya di bidang aeronautika. Sampai saat itu ia masih tetap seorang pemalu yang sederhana, namun memiliki kekuatan pemikiran dan semangat sekaligus keahlian sebagai desainer, pilot, dan penasehat teknis.

Di tempat kerjanya di Hatfield seorang mantan pekerja di Vanguard Omnibus Company bergabung untuk mengembangkan usaha pembuatan pesawat. Francis Trounson Hearle, yang lebih muda empat tahun dari Geoffrey de Havilland, telah menjadi rekan terpercaya selama bertahun-tahun. Pada akhir bulan Juli 1954 Hearle mengundurkan diri sebagai pemimpin perusahaan, ketika dokter mengatakan bahwa ia harus mengurangi ketegangan kerja, namun ia masih menjabat direktur hingga tahun 1956. Jika kedua orang ini menengok kembali sejarah suka duka mereka, akan terlintas uji coba pesawat-pesawat De Havilland, kejayaan pesawat Moth dan Mosquito, dan krisis yang menerpa pesawat jet Comet. Mereka menyadari bahwa yang terpenting dari semua itu adalah kokohnya persahabatan yang merupakan harta termahal mereka.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: