Beranda » Penerbang Terbesar Sepanjang Sejarah » 6. Anthony H. G. Fokker

6. Anthony H. G. Fokker

SANG PENERBANG BELANDA

TERAKHIR KALI saya bertemu Anthony Fokker adalah sekitar delapan belas bulan sebelum Perang Dunia II. Kami mendarat di danau es di Samadan pada ketinggian sekitar 6000 kaki dari permukaan laut, yang digunakan oleh perusahaan penerbangan Swissair untuk tempat pendaratan di dekat St. Moritz. Pesawat yang kami gunakan adalah Douglas D.C.2 Amerika, dan itu merupakan penerbangan non-stop pertama dari London ke St. Moritz. Anthony Fokker kemudian tinggal di sebuah villa atas danau. Ketika pesawat banyak menjadi perhatian ia kemudian turun untuk menemui 14 penumpang pesawat Douglas.

Ia adalah seorang yang kaya, namun usia 48 tampaknya terlalu dini untuk pensiun di Swiss. Mungkin ia tahu akan datangnya Perang Dunia II, dan tidak ingin salah berpihak lagi. Swiss merupakan tempat yang netral. Kami banyak bertukar pendapat, dan saya merasa bahwa ia masih tetap seorang Fokker yang tangguh, teguh pendirian, dan percaya diri dalam usia pensiunnya.

Saat itu salju ada di mana-mana. Permukaan danau yang membeku dijadikan sebagai landasan pesawat. Jalan menuju villa Fokker berada jauh di atas bukit. Jalan tersebut tidak dapat dilewati oleh mobil biasa. Namun hal semacam itu tidak membuat Fokker menyerah. Ia menggunakan kereta salju. Kereta ini menggunakan roda khusus dan kipas yang menghisap salju dan membuangnya ke belakang seperti pada haluan kapal. Saat ia meninggalkan danau dan mulai naik bukit kipas tersebut bekerja dan kendaraannya menghilang di antara salju. Ini merupakan cara yang termudah yang digunakan Fokker demi keinginannya.

Saya pertama kali bertemu dengannya di Gothenburg pada tahun 1923, saat kemi berdua terbang pada peringatan limaratus tahun kota di Swedia tersebut. Ia menerbangkan pesawat tempur kursi ganda yang didesainnya sendiri, sebuah mesin yang bagus, namun kurang cocok untuk memenangkan kompetisi yang diadakan. Karena itu, ia hanya menerbangkannya berputar di sekitar pangkalan udara, menukik dan naik, berbelok ke kiri dan kanan dan mengulanginya lagi dari arah yang berbeda. Ini merupakan hal biasa bagi seorang pilot yang berpengalaman, namun hasilnya cukup efektif bagi para penonton, karena pesawat terbang rendah dan tetap berada di sekitar pangkalan udara, sehingga terlihat oleh para penonton. Dan ia memenangkan hadiah pertama untuk aerobatik, karena orang Swedia cukup bermurah hati dan memberikan yang terbaik bagi para tamunya.Sebelumnya saya sangat membenci nama Fokker karena itu merupakan nama pesawat musuh yang sempat bertemu dengan kami di Perancis Barat ketika Perang Dunia I. Kami dulu merasa bahwa pesawat-pesawat Fokker cukup berbahaya, meskipun ia adalah orang Belanda, yang orang-orangnya netral. Bahkan Fokker telah membuat pesawat musuh yang sangat tangguh. Jadi bagaimana mungkin kita berteman dengan orang yang menyebabkan beberapa sahabat kita terbunuh?

Namun bukan kesalahan Fokker yang menyebabkan hal itu terjadi. Ia telah menawarkan desain pesawatnya ke Perancis dan ditolak. Selanjutnya ia menawarkannya kepada Pemerintah Inggris, dan tidak ada tanggapan. Belanda hanyalah sebuah negara kecil yang tidak membutuhkan banyak pesawat untuk tentaranya. Jadi apa lagi yang bisa dilakukan selain bekerjasama dengan Jerman?

Jerman yang Kaisar terakhirnya dikalahkan dalam perang, telah siap dan menunggu kesempatan. Sebelum musim panas 1914 Jerman masih ragu-ragu, namun akhirnya bertahan. Selanjutnya sekelompok Serbia anggota komitadjis (mereka menyebutnya patriot bawah tanah) terlibat pembunuhan Pangeran dan Putri Austria, yang sedang berkunjung ke Sarajevo untuk meresmikan sebuah bangunan baru. Sebelumnya, Pasukan Austria telah bergerak ke Serbia, dan Pemerintah Rusia memerintahkan mereka untuk mundur. Kemudian pasukan Rusia mulai bergerak ke Austria dan Jerman berpihak pada Rusia. Pemerintah Inggris dan Perancis mengultimatum Jerman untuk berhenti. Dan ultimatum ini diabaikan. Ketika ultimatum telah habis, Perancis dan Inggris menyatakan perang dengan Jerman yang merupakan sekutu Rusia. Pasukan Jerman bergerak melewati Belgia meninggalkan Belanda. Jauh sebelumnya konflik pertama telah terjadi dengan pasukan Inggris di Mons, Belgia. Jerman telah berbuat kesalahan dengan langsung menyerang Paris, hanya karena mereka ditahan di sungai Marne, yang belakangan dianggap sebagai pertempuran awal yang sangat menentukan dalam perang tersebut. Italia bergabung dengan pihak kita setahun kemudian, dan Amerika dua tahun setelah itu.

Ketika peristiwa besar ini terjadi Fokker harus mengambil keputusan. Sulit sekali baginya untuk pergi ke Perancis atau Inggris kecuali sebagai seorang individu, dan bagaimana ia tahu bahwa kedua negara itu akan menerima tawarannya untuk membuat pesawat? Selain itu, ia juga harus mengurusi bisnisnya, dan ini sama sekali tidak mudah. Ia telah memiliki hubungan dengan Jerman dalam soal penerbangan, yang berdampingan dengan Belanda. Bisnis memang sederhana. Disamping itu, Jerman sangat berpeluang menang. Banyak orang yang memperkirakan demikian ketika perang baru dimulai. Keadaan membuat Fokker bekerjasama dengan Jerman untuk membuat mesin perang.

Anthony Fokker dilahirkan di Jawa pada tahun 1890, kemudian ayahnya, seorang petani kopi yang sukses, membawanya pulang ke Belanda untuk pensiun. Anthony muda adalah seorang siswa yang malang. Ia membenci peraturan dan rutinitas sekolah yang dianggapnya membosankan. Ia menyenangi pelajaran ketrampilan kayu dan logam. Waktu luangnya digunakan untuk membuat mainan dan benda-benda penting lainnya. Ia dan anak-anak lain menciptakan ban anti bocor; sederhana namun praktis; sayangnya hak patennya telah dimiliki orang lain di atas kertas, sehingga penemuan ini berakhir tanpa ada kelanjutan. Ketika beranjak dewasa ia mulai mempelajari ilmu penerbangan Wright bersaudara. Ini menarik perhatiannya. Ia mulai belajar untuk pertama kalinya tentang seluk beluk pengetahuan pesawat terbang. Ia pun belajar tentang teorinya. Dalam pikirannya ketidakstabilan lateral merupakan ganjalan dalam dunia penerbangan. Jika ini bisa teratasi maka terbang akan lebih mudah. Ia lalu berpikir jika terdapat sayap belakang yang menghadap ke depan pada satu sudut tertentu, dan bobot pesawat tetap berat, maka kestabilan akan didapatkan, sehingga penerbangan lebih aman.

Ia menciptakan pesawat pertamanya pada usia dua puluh tahun. Meskipun ia belum pernah terlatih sebagai seorang insinyur, pesawatnya berhasil terbang. Ia belum pernah mendapat pelatihan terbang sebagai seorang pilot, namun ia belajar terbang sendiri dengan menjalankan pesawatnya di darat sambil mengendalikan kontrol dan merasakan kecepatannya. Kemudian ia melakukan loncatan pendek, kemudian lebih jauh hingga 500 yar. Selanjutnya ia berhasil menemukan cara untuk terbang berputar. Pada tanggal 16 Mei 1911, ia mendapat sertifikat pilot yang mengijinkannya terbang pada pameran dirgantara. Nomor sertifikatnya adalah 88. Ia mulai unjuk kebolehan di Belanda dan Jerman. Di waktu luangnya ia membuat desain pesawat, namun ia selalu kehabisan uang. Suatu kali, ayahnya datang membantu dan memberinya uang, meskipun ia kecewa terhadap pendidikan Anthony, dan kurang yakin terhadap masa depan dunia penerbangan.

Pada tanggal 1 September 1913, seorang pilot Perancis Adolph Pégoud, dengan menggunakan pesawat sayap tunggal Blériot, berhasil memukau dunia dengan terbang untuk pertama kalinya. Prestasinya membuat sensasi yang luar biasa, sehingga koran-koran memuat beritanya beserta gambar-gambar yang menunjukkan bagaimana ia melakukannya. Ini sangat menarik perhatian. Fokker lebih cepat dibandingkan Pégoud, dan reputasinya segera mencuat di Belanda dan Jerman. Namun Pemerintah Belanda belum tertarik untuk membeli pesawatnya, sehingga ia beralih ke Jerman.

Pesawatnya adalah pesawat sayap tunggal, dengan sayap yang dikat kawat serupa dengan pesawat Blériot. Suatu ketika seorang pejabat Militer Jerman sedang terbang bersamanya ketika kawat pengikat sayap putus pada ketinggian 2400 kaki. Kawat yang putus menjuntai pada rangka bagian bawah pesawat. Tiang yang mengikatnya pun bengkok, sehingga sayap di sisi itu hampir patah. Jika mereka jatuh pada ketinggian tersebut maka akibatnya akan sangat fatal. Mereka tidak memilik parasut. Fokker kemudian memperlambat pesawatnya untuk mengurangi ketegangan pada sayap. Hanya itu yang bisa ia lakukan.

Saat meluncur turun ia tiba-tiba berpikir jika penumpangnya bisa menahan sayap maka bebannya akan berkurang sehingga mencegah sayap patah. Anthony pun memberi tanda padanya. Tanpa ragu-ragu pejabat tersebut naik ke atas sayap, namun ia tidak dapat menjaga keseimbangan sehingga salah satu kakinya terpeleset. Fokker memperhatikannya dengan hati berdebar. Jika penumpangnya menyentuh kawat pendaratan maka ia akan menambah beban sayap sehingga sayap akan langsung patah. Fokker sambil menahan laju pesawat memperhatikan penumpangnya berusaha kembali ke kokpit tanpa menyentuh kawat, ia tak tahu harus berbuat apa.

Sayap pesawat tampaknya mampu menahan beban hingga saat pendaratan. Namun ketika hampir mendarat, angin bertiup kencang. Pesawat berguncang keras. Sayap semakin bengkok dan akhirnya patah. Pesawat pun jatuh pada ketinggian rendah. Penumpangnya tewas dan Fokker terluka parah.

Meskipun demikian, Fokker justru kemudian mendirikan sebuah sekolah terbang dan pabrik pembuatan pesawat, dengan bantuan uang dari ayah, paman dan teman-temannya. Ia menjual dua buah pesawatnya kepada Militer Jerman. Sekolah terbangnya pun menjadi populer untuk pelatihan pilot Militer Jerman. Ia kembali menjual 12 buah pesawatnya kepada militer Jerman. Angkatan Laut Jerman kemudian datang memesan pesawat air. Saat itu terdapat 150 orang pekerja di perusahaan Fokker. Antara tahun 1914-1918 perang meletus. Sekolah terbang Fokker dan perusahaannya semakin berkembang.

Roland Garros, seorang pilot terkenal Perancis, merupakan orang pertama yang menembakkan senapan mesin lewat baling-baling pesawat. Untuk mencegah baling-baling terkena tembakan ia memasang plat baja pada ujung belakangnya. Jika peluru mengenai baling-baling, maka akan dipantulkan ke arah lawan. Garros, sang pilot pemberani masuk ke garis pertahanan Jerman. Fokker diminta oleh Jerman untuk mempelajari pesawat dan sistem persenjataannya. Ia melepas senapan pesawat. Fokker melihat bahwa plat baja tersebut dapat menggantikan fungsinya. Yang diperlukan adalah alat yang dapat memastikan bahwa peluru tidak akan ditembakkan saat baling-baling berada persis di depannya. Ia menemukan ide menggunakan baling-baling untuk menembakkan peluru, menghentikan tembakan ketika ujung baling-baling sejajar dan menembak lagi setelah ujungnya lewat. Ini cukup sederhana dan efektif. Senjata ini sangat mematikan. Banyak pilot Sekutu yang menjadi korban sebelum Inggris dan Perancis menyadarinya.

Fokker berhasil menyelesaikan persoalan ini dalam waktu 48 jam. Staf militer Jerman memperhatikannya dari belakang saat ia menembakkan senapan dari kokpit. Peralatan mekanis memungkinkan baling-baling menjadi satu dengan senapan. Staf tersebut kemudian mempelajari senapan dan baling-baling, namun masih belum begitu yakin. Mereka meminta dilakukan uji coba. Fokker lalu mengambil pesawat dan mengarahkan hidungnya di dekat para staf berada, kemudian ia menembak. Ia tertawa ketika melihat para staf berlarian mencari perlindungan. Mereka pun membalas dengan meminta Fokker membuktikan efektifitas senjatanya untuk merontokkan pesawat musuh. Ia diminta berada front terdepan untuk merontokkan pesawat Inggris atau Perancis.

Perintah ini memaksa seorang penerbang sipil seperti Fokker untuk terbang di Front Barat pertempuran. Ia tidak mengatakan apa pun, namun jelas sekali bahwa ia belum pernah terbang melewati garis pertempuran. Ia bisa saja tertembak oleh pesawat Sekutu. Ia terbang beberapa hari di daerah pertahanan Jerman sebelum ia melihat sebuah pesawat Perancis Farman kursi ganda. Ia pun mendekatinya dari belakang.

Pesawat Perancis itu sama sekali tak bisa menembak ke arahnya, baik dengan senapan angin maupun lewat baling-baling pesawat. Dan Fokker berada dalam posisi yang aman saat itu, dengan pesawat yang lebih cepat hingga 70 mil per jam. Ia bisa melihat dengan jelas pesawat Perancis tersebut, dan membayangkan apa yang akan terjadi apabila ia menembaknya. Sang pilot Perancis yang tidak menyadarinya dan hanya melihat manuver pesawat Fokker penuh tanda tanya.

Saat jari Fokker hampir menarik pelatuk tiba-tiba ia berubah pikiran. Ia tidak ingin membunuh siapa pun. Biar saja orang lain saling bunuh. Ia pun berbalik dan kembali ke pangkalan udara Militer Jerman. Ia mengatakan pada sang komandan bahwa ia telah sampai ke sana tapi tidak ingin menembak pesawat musuh.

Letnan Oswald Boelcke mengambil prototipe pesawat Fokker E.IV, dan dalam pertempuran yang ketiga kalinya ia menembak jatuh sebuah pesawat Perancis. Pesawat Fokker ini menjadi momok yang menakutkan bagi pesawat-pesawat Sekutu selama beberapa bulan, sedangkan mekanisme senjatanya belum diketahui oleh Perancis atau Inggris.

Fokker tidak sependapat secara pribadi dengan perintah yang diberikan kepadanya. Namun sebagai seorang penemu dan pembuat mesin perang ia secara tidak langsung merupakan agen pembunuh di wilayah udara Perancis, tanpa mempedulikan resiko yang dihadapi oleh penerbang pesawatnya.

Oberleutnant Max Franz Immelmann adalah seorang bintang Fokker, dan merupakan jagoan udara pertama, dengan 15 kemenangan selama pertempuran. Namun kemenangan itu disebabkan karena musuh yang tidak dapat membalas. Reputasinya sangat ditentukan oleh senjata, serta kemampuan terbangnya. Ia adalah pendahulu terbang berbelok mendadak, yang dikenal oleh para pilot dengan istilah “the Immelmann turn.” Max Immelmann tahu bahwa manuver ini akan menjadi serangan kilat bagi pesawat yang mengejarnya. Ini merupakan trik yang sangat bagus karena musuh tidak dapat membalas. Ini menjadi dasar terbang akrobatik yang digunakan oleh Fokker delapan tahun kemudian di Gothenburg, dan disebut dengan istilah Fokker kanone, yang dalam bahasa Jerman berarti “jagoan”.

Perancis kemudian menggunakan pesawat Nieuport dengan senapan mesin dipasang di atas sayap bagian atas, sedangkan Inggris menggunakan pesawat D.H.2 dan F.E.2.B senjata di bagian depan, maka Fokker mendapat lawan yang seimbang. Kanone Jerman pertama kali ditembak jatuh oleh Letnan G.R . Mc Cubbin, saudara laki-laki dari pilot Inggris V.C., ketika Immelmann sedang menyerang pesawat F.E. lainnya dalam skadron McCubbin.

Munculnya pesawat tempur tangguh di Front Barat telah melambungkan nama Fokker di mana-mana. Banyaknya pesawat B.E.2C yang rontok ketika melakukan terbang pengintaian menjadi bahan pembicaraan di Parlemen. Koran-koran menyebut pesawat Fokker sebagai kemenangan lawan. Publikasi in digunakan oleh Jerman untuk menjatuhkan mental para pilot di sekolah terbang di Inggris. Dengan demikian sensasi pesawat Fokker berhasil dengan baik, karena memberi gambaran kepada semua orang bahwa udara adalah juga merupakan tempat pertempuran, bukan hanya tempat pengintaian dan fotografi. Ini menjadi strategi udara tersendiri dengan pertempuran yang terpisah dengan laut dan darat serta sangat berpengaruh terhadap kemenangan pasukan. Diluar semua itu, industri-industri baru pun bermunculan, senjata baru dibuat, taktik baru dikembangkan, metode pelatihan baru juga ditemukan, keberanian baru ditunjukkan kepada lawan.

Setelah dominasi kemenangan pesawat Fokker berakhir, muncul suatu masa dimana gaya perang tertentu ditampilkan oleh para penerbang tempur. Mereka mengembangkan semacam kavaleri udara yang merupakan temuan mereka sendiri, didasarkan pada fakta bahwa dalam petrtempuran modern mereka mungkin akan bertarung satu lawan satu.

Sebelum mengetahui rahasia senjata mesin Fokker, baling-baling pesawat Inggris dilapisi dengan baja anti peluru dan senapan mesin ditembakkan diantara putaran baling-baling pesawat. Kemudian perusahaan Sopwith Aviation Company membuat gir sela senapan mesin yang ditemukan oleh sersan penerbang R.F.C. Lalu sebuah gir yang lebih baik diciptakan oleh Kauper. Dan gir ketiga yang merupakan senjata terbaik diciptakan oleh seorang Rumania yang bernama Constantinesco, berupa gir sela hidrolis pertama di dunia. Tangkai gigi mekanis digunakan pada saat terbang dan senjata mendadak macet. Gigi hidrolis menggunakan oli, yang tidak akan macet dan dapat bertahan lama apabila dirawat dengan baik.

Namun kekalahan di Perancis banyak disebabkan karena masa pelatihan pilot yang dikurangi, dan pilot sering dikirim ke medan pertempuran tatkala mereka belum begitu menguasai tugas secara efisien. Letnan Jendral Sir David Henderson yang menjadi komandan R.F.C. di Perancis ditanyai mengapa kekalahan bisa sedemikian besar. Ia menjawab : “Karena latihan yang kurang memadai.” Ia kemudian ditanya : “Mengapa latihan kurang memadai?” Dan ia pun menjawab : “Karena kekalahan begitu besar.”

Anthony Fokker merupakan seorang jenius yang mampu mengatasi persoalan ini sekaligus dan mengembangkan strategi udara dengan senjata yang mematikan. Namun, ia tidak pernah menjadi tentara, ataupun ingin menjadi tentara. Ia adalah seorang individualis. Perang baginya merupakan kesempatan untuk meraih ambisinya pribadinya. Ia melayani orang-orang Jerman dengan baik, dan mereka pun membayarnya dengan baik pula.

Sebenarnya ia memiliki musuh pribadi yaitu perusahaan penerbangan Jerman yang menjadi pesaingnya. Namun pesawat buatannya lebih populer bagi para pilot Jerman, sehingga ia bisa memenangkan persaingan. Ia merancang dan membuat dua pesawat tempur lainnya untuk angkatan udara Jerman, yaitu Fokker Triplane dan Fokker D.VII. Pesawat Triplane mampu terbang cepat dan bermanuver dengan mudah, yaitu melakukan belokan tajam; namun pesawat D.VII lebih baik lagi, dengan sejumlah keunggulan. Ini merupakan pesawat terbaik Jerman selama perang berlangsung. Selama Perang Dunia I 7600 buah pesawat Fokker diproduksi, dan 4000 buah diantaranya dibuat sendiri di pabrik Fokker, dimana ia mempekerjakan 6000 orang karyawan yang membuat pesawat, mesin, pesawat air, dan juga senapan mesin.

Karena semua orang tahu bahwa seluruh pabrik tersebut berada di Jerman, dan sebagian besar pekerjanya adalah orang Jerman, maka tak heran jika Fokker diminta untuk menjadi warganegara Jerman. Namun ia menolak. Ia diberitahu bahwa jika ia tidak menjadi warganegara Jerman maka ia tidak akan mendapat order lagi. Ia kembali menolak, dan mengatakan bahwa ia akan menjual pabriknya dan kembali ke Belanda. Namun ia tidak diijinkan untuk pergi. Ia telah mengetahui banyak hal tentang rahasia mesin perang Jerman sehingga tidak diijinkan pergi. Ia seperti dipenjara di alam bebas, bebas bergerak namun tidak boleh pergi ke luar Jerman. Ia pun lalu dipaksa untuk mengikuti wajib militer Jerman, yang berarti bahwa ia bisa dikirim ke medan pertempuran. Terhadap semua bujukan dan ancaman ini Fokker tetap berkeras hati. Dan karena ia sangat berharga bagi mereka, pemerintah Jerman harus mengalah dan menyadari bahwa ia adalah seseorang yang tidak bisa dipaksa. Demikian juga Sekutu.

Ketika perang berakhir industri pesawat terbang Jerman pun mengalami kemerosotan. Perjanjian Damai yang dibuat mengatur keberadaan pesawat dan semua mesin terbang lainnya. Fokker kemudian berencana untuk menggunakan kesempatan ini untuk menjalankan program komersial untuk semua pesawat yang telah dan sedang dibangun demi kelanjutan usahanya. Namun ia tidak mengetahui perjanjian perdamaian dengan Sekutu. Ketika tahu bahwa ia harus mengikuti kesepakatan yang telah dibuat ia sadar bahwa tinggal di Jerman akan sangat buruk baginya. Ia memutuskan untuk segera kembali ke Belanda dan membawa apa saja yag bisa dibawa sebelum disita oleh pasukan Sekutu. Ketika Komisi Sekutu datang ke pabriknya mereka memerintahkan untuk menyerahkan semua pesawat dan mesin yang telah jadi dan menghancurkan semua yang belum jadi. Namun Komisi tersebut tidak berhasil menemukan 200 pesawat dan 400 mesin yang disembunyikan oleh Fokker.

Fokker memutuskan untuk membawa seluruh aset ini ke Belanda. Ia menyuap sejumlah pejabat, mengelabui yang lainnya, dan mengambil resiko yang sangat besar, apabila Sekutu sampai mengetahuinya. Ia menyebarkan berita bohong tentang adanya penyelundupan di tempat tertentu. Pasukan Sekutu pun mengirimkan pejabat untuk menyelidiki. Mereka dikirim ke tempat yang disebutkan, namun ketika mereka mereka berada di sana kereta api Fokker pun mulai berangkat. Para pengawas disuap untuk membiarkan kereta lewat, dan di Jerman hal ini cukup mudah dilakukan, karena mereka tidak memiliki uang dan bagaimanapun orang-orang Jerman tidak ingin tunduk pada perintah Sekutu. Sebuah mesin Belanda dikirim ke Jerman untuk membawa kereta keluar perbatasan Jerman. Mereka melakukan perjalanan non-stop kecuali untuk mengganti mesin dan melewati pengawasan. Enam puluh gerbong dibawa meskipun yang diijinkan hanya empat puluh. Dengan cara yang sama, enam kereta api berangkat keluar Jerman di depan mata Sekutu. Dengan begitu Fokker berhasil membawa keluar 400 mesin dan 120 buah pesawat D.VII beserta ribuan suku cadang dan mesin-mesin lainnya menuju Belanda. Ini merupakan penyelundupan internasional besar-besaran.

Terjadi revolusi di Jerman sebelum gencatan senjata, dan ini berlanjut hingga setelah gencatan senjata. Berlin dituntut untuk membeli perusahaan. Para karyawan menuntut pembayaran, dan mengancam akan menembak bosnya apabila mereka tidak dibayar. Perusahaan pun beralih memproduksi kapal. Namun gagal. Kemudian beralih membuat timbangan. Namun gagal lagi. Dan Jerman pun akhirnya ditinggalkan.

Salah satu pesawat yang diselundupkan keluar Jerman adalah Fokker F.II, yang memiliki kabin tertutup untuk lima orang penumpang. Dengan mesin Rolls-Royce pesawat ini dinamai F.III. Pesawat ini merupakan pelopor pesawat komersial. Pesawat ini menggunakan sayap kayu yang tebal yang dipasang pada bagian atas badan pesawat. Badan pesawat dibuat dari baja ringan dengan kerangka yang disatukan dan ditutup dengan fiber. Konstruksi ini cukup murah. Selama beberapa tahun Departemen Penerbangan Inggris tidak mengijinkan perusahaan Inggris membuat konstruksi yang menyatu, karena akan sulit diperiksa jika terbakar dan akan melemahkan logam. Namun pesawat Fokker dibuat seperti ini dan dijual di luar negeri, serta terbang ke bandara London dengan membawa penumpang dari berbagai negara, termasuk Inggris. Dibutuhkan waktu lebih dari sepuluh tahun sebelum pesawat Avro (yang mendapat lisensi dari Fokker) diijinkan untuk menggunakan konstruksi ini.

Perusahaan penerbangan Belanda K.L.M. didirikan, dengan menggunakan pesawat Fokker. Perusahaan penerbangan Skandinavia pun menggunakannya. Air France juga menggunakannya. Demikian juga dengan perusahaan Polandia dan Swiss. Pesawat ini dipakai dan juga dibuat di Amerika Serikat. Dari model mesin tunggal mereka mengembangkannya hingga menggunakan tiga mesin dan kemudian empat mesin. Fokker kemudian pergi ke Amerika untuk mengembangkan pesawatnya di sana. Pesawatnya terbang ke Atlantik, hingga ke daerah Kutub, menyeberangi Samudera Pasifik dan Laut Tasman.

Fokker juga membuat pesawat militer setelah Perang Dunia I, dan menyediakan pesawat tempur dan pembom untuk Angkatan Udara Kerajaan Belanda dan negara lain. Pesawat dibuat di Belanda dengan menggunakan mesin buatan Amerika atau Inggris untuk memenuhi keinginan pelanggannya.

Akhirnya setelah sekian lama perusahaan pesawat Amerika mengambil alih pasar yang sebelumnya dikuasai oleh Fokker. Perusahaan pesawat Douglas mulai menggeser Fokker ketika mesin baru mereka dibuat. Fokker mungkin telah mencapai puncak konstruksi mereka dengan pesawat F.32, yang membawa 32 orang penumpang, dan menjadi pesawat terbesar di Amerika saat itu. Perusahaan pesawat Fokker masih ada di Amsterdam sampai saat ini, namun tidak lagi menguasai dunia penerbangan seperti ketika Anthony Fokker mengelolanya. Perusahaan ini membuat pesawat dengan lisensi dari Inggris dan Swedia, dan sebagai sub kontraktor dari desain pesawat N.A.T.O. Perusahaan ini memang membuat pesawat dengan desainnya sendiri untuk pesawat latih dan sebagian lainnya untuk perusahaan penerbangan menengah. Tampaknya sulit sekali bagi sebuah negara kecil untuk bersaing dengan negara besar dalam pengembangan pesawat sipil dan militer. Dapat disimpulkan bahwa saat Anthony Fokker memutuskan untuk pensiun dan tinggal di Swiss ia telah mengetahui masa depan usahanya dan meninggalkan reputasi terbaiknya di dunia penerbangan. Ia telah tiada sekarang, namun namanya tetap hidup dalam sejarah sepanjang legenda para pionir penerbangan masih dikenang. Dan hingga saat ini perusahaan Fokker di Amsterdam tetap mempertahankan tradisi besar dari pendirinya.


1 Komentar

  1. wahyu mengatakan:

    Konon, Fokker lahir di kota yg sama dimana Bung Karno dan Wiweko Soepono dilahirkan, Blitar.. Ketiganya punya sejarah di bidang penerbangan
    Di jamannya, Bung Karno membangun kekuatan udara yg paling disegani di Asia. Yang dgn Tu-16 smpat menyusup ke Aussie sekedar psycho war. Dan membeli Seulawah di era perang kemerdekaan.
    Bersama Nurtanio, Wiweko meletakkan dasar-dasar penerbangan republik ini dgn terciptanya RI-X, WEL, dan NWG. Dan pelopor FFCC yg diaplikasikan pd Airbus A300-B4 dgn two-man cockpitnya yg banyak ditentang, walau akhirnya industri penerbangan dunia mengadopsinya utk pesawat2 wide body.
    What a coinsidence… ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: