Beranda » Penerbang Terbesar Sepanjang Sejarah » 7. Kapten Albert Ball, V.C., D.S.O., M.C.

7. Kapten Albert Ball, V.C., D.S.O., M.C.

KEBESARAN TIADA TANDING

GEREJA LENTON, Nottingham memiliki peninggalan Lenton Priory berupa prasasti batu abad ke-12 dari seni pahat Perancis yang merupakan salah satu prasasti terbaik di Inggris. Di Lenton pada tanggal 21 Agustus 1896, Albert Ball dilahirkan. Hidupnya sangat singkat, namun namanya diukir dalam sejarah Inggris sebagaimana prasasti Lenton.

Ayahnya, Mr. A. Ball, adalah seorang pemilik perkebunan sukses yang tertarik dengan industri mesin, dan menjadi anggota dewan kota sekaligus Mayor of Nottingham yang diberi gelar ksatria. Putra tertuanya adalah salah satu dari ketiga anaknya. Pada usia lima tahun ia menunjukkan inisiatifnya dengan menyalakan korek api yang diambilnya dengan bantuan sebuah kursi. Namun ketika sekolah di Grantham Grammar School, Nottingham High School, dan Trent College ia hanya memenangkan sekali saja penghargaan sekolah — sebuah medali perak untuk kemenangan lomba halang rintang.

Saat di sekolah, mata pelajaran favoritnya adalah kimia, mekanika, fotografi dan berkebun. Ia membuat sebuah kapal kecil di Trent College dan berlayar pulang dari Long Eaton. Di Skegness (sebuah tempat wisata di Laut Utara) ia membuat sebuah rakit, dan ketika rakit tersebut terlepas dari tambatannya karena gelombang besar ia mati-matian berenang berusaha menyelamatkannya. Kimia telah mengajarkannya cara membuat bubuk mesiu — hingga suatu kali ayahnya menemukan sebuah kota di kamar Albert bertuliskan “bubuk mesiu 117 pon.” Saat menjadi siswa di korps kadet ia menunjukkan bakatnya sebagai penembak ulung dengan revolver. Ia kemudian membeli sebuah mesin rusak, dan di rumah ayahnya di Sedgley House ia dan teman-temannya merombaknya hingga mesin kembali normal. Disana pula ia menciptakan peralatan wireless yang pada saat merupakan sebuah prestasi. Di sela-sela semua itu ia masih sempat menjadi komandan patroli kompi. Ia selalu sibuk dan tak pernah diam.

Ia bercita-cita untuk bergabung dengan industri mesin listrik, dan ketika masih sekolah ia telah memikirkan pengembangan sebuah pembangkit listrik rumah sederhana. Pada usia 17 tahun ia membeli saham di perusahaan mesin Nottingham. Ia tidak ingin meniru bisnis ayahnya namun menggali sesuatu yang berasal dari dirinya sendiri. Namun, ia belum genap berusia 18 tahun ketika Perang Dunia I meletus dan melibatkan Inggris.

Rekrutmen militer sukarela dilakukan secara besar-besaran pada minggu-minggu pertama peperangan. Ball menghadiri sebuah pertemuan perekrutan bersama pamannya, kemudian Mayor of Nottingham, sebagai ketua. Duke of Portland berpidato. Albert merupakan sukarelawan pertama yang mendaftarkan diri sebagai prajurit tamtama anggota batalyon Teritorial kota di Sherwood Foresters, Nottinghamshire dan Derbyshire Regiment. Sekitar dua minggu kemudian ia dipromosikan sebagai sersan. Ia bertemu dengan seorang sersan senior yang mengenakan lencana penghargaan. Ball mengatakan kepada orang itu: “Suatu hari, saya juga akan mengenakan medali kehormatan.” Apakah ini menunjukkan ambisi militer ataukah hanya sekedar ramalan?

Ia pun mendaftar sebagai anggota komisi dan pada bulan Oktober 1914 ia diangkat menjadi letnan dua di resimennya sendiri. Saat mengikuti pelatihan di Inggris, sambil menunggu perintah pengiriman di garis depan, Ball melanjutkan hobi usahanya. Ia melakukan jual-beli motor dan mengirimkan uangnya ke rumah untuk investasi nantinya. Usaha yang telah didirikannya pun berkembang pesat karena bayaknya permintaan peralatan perang mekanis. Ia menanamkan uangnya di kantin kantor militer yang hampir bangkrut, dan setelah ia kelola menghasilkan keuntungan £ 20. Ia kemudian ditugaskan di Korps Motor North-Midland, dan ia percaya ini akan membawanya ke front pertempuran segera.

Apa yang membuatnya tertarik dengan dunia penerbangan tidak diketahui. Suatu kali ia bangun pukul tiga dini hari dan menaiki sepeda motornya dari Luton ke pangkalan udara Hendon, yang berjarak sekitar 30 mil. Beberapa hari kemudian ia memutuskan untuk belajar terbang. Pagi hari setelahnya ia mengikuti kursus penerbangan dengan pesawat Caudron sayap ganda di sekolah penerbangan Ruffi Bauman, dengan membayar £ 75 untuk instrukturnya.

Ball selalu berpenampilan rapi, namun ia adalah seorang pekerja keras. Seringkali ia harus menangani peralatan mekanis seperti mesin sepeda motor, sehingga tubuhnya belepotan oli, dan sekarang ia harus menangani mesin pesawat terbang. Suatu hari salah seorang perwira komandannya, yang akan memberinya tugas lain terharu melihat penampilannya. Dengan sedih Ball menulis surat ke rumah : “Mungkin saya harus berhenti bekerja dan pergi seperti orang gila.”

Sertifikat pilot Royal Aero Club No. 1898 yang dimilikinya dikeluarkan pada tanggal 15 Oktober 1915. Sehari sebelumnya ia dipanggil ke kantor Urusan Perang Inggris dan diberitahu bahwa ia telah diterima di Korps Terbang Kerajaan. Sekitar dua minggu kemudian ia ditugaskan di pangkalan udara di dekat Norwich. Di sana ia diberi kesempatan untuk pergi ke Perancis bersama dengan skadron No. 18 sebagai pendamping pilot; namun setelah dibayar untuk instruksi terbangnya, ia memutuskan untuk tetap tinggal di tempatnya sampai ia menjadi pilot militer yang memenuhi syarat.

Ball beberapa kali mengalami kecelakaan selama masa pelatihannya. Setelah memberitahu keluarganya lewat surat, ia mendapat balasan dari saudara perempuannya Lois yang khawatir terhadap keselamatannya. Ball pun membalasnya dan meminta saudaranya untuk tidak mengatakan itu karena akan membawa nasib buruk.  (Dan kenyataannya bisa mempengaruhi pikiran). Untuk meyakinkan saudara perempuannya ia mengirim salah satu bagian pesawat yang hancur karena kecelakaan ke rumah — suatu penjelasan logis yang jitu.

Ia bertemu dengan beragam orang selama masa pelatihannya. Suatu kali, saat diminta menerbangkan pesawat Maurice Farman Shorthorn setelah instruksi singkat selama lima belas menit, ia melakukan pendaratan yang buruk dan merusakkan pesawat. Instrukturnya yang marah menyuruh ia keluar dan mencari sekolah lain untuk wanita dan ia tidak akan diijinkan untuk menerbangkan pesawat lagi. Ball menjawab dengan kalem kalau ia tidak diperbolehkan terbang lagi maka ia akan kembali bergabung dengan Korps Motor karena ia tak punya waktu untuk melihat siswa lain terbang. Jawaban ini seperti mengejek instrukturnya yang sedang marah agar lebih realistis. Ia lalu menggunakan pesawat Shorthorn lainnya, dan membiarkan Ball terbang dengan hasil lima pendaratan yang mulus.

Setiap malam Ball berlatih biola. Alat musik yang telah lama ia mainkan. Setiap Minggu malam saat bebas tugas ia pergi ke gereja terdekat untuk mencari ketenangan. Ia menganggap sia-sia kebiasaan teman-temannya untuk menghabiskan liburan ke London di klub-klub malam.

Saat Natal 1915 ia dipindahkan ke Central Flying School di Upavon. Disana ia sempat mengalami kecelakaan terburuknya. Saat hendak mendarat angin bertiup kencang dan menghempaskan pesawatnya hingga hancur. Ball pingsan, namun ia tidak terluka.

Meskipun saat itu perang sedang berlangsung, namun di hari Minggu tidak ada kegiatan terbang. Para siswa diijinkan keluar kamp Upavon sejak Sabtu siang jika hari itu tidak ada penerbangan karena cuaca buruk atau hal-hal lain. Suatu ketika Ball tetap tinggal di kamp di akhir pekan. Tak ada seorang pun yang bisa diajak bicara, sehingga ia hampir gila. Ia berkata bahwa ia tak akan melakukannya lagi. Ia tak bisa tinggal diam. Ini menunjukkan bahwa ia adalah orang yang sensitif dan temperamental. Namun menjelang akhir masa pelatihan ia selalu tinggal di kamp untuk belajar agar ia yakin dapat lulus ujian akhirnya.

Pada tanggal 26 januari 1916, ia mendapatkan wing penerbang. Selama beberapa waktu ia menjadi instruktur di pangkalan udara Gosport. Pada tanggal 17 Februari ia menyeberangi Selat Inggris menuju Boulogne untuk bergabung dengan skadron No. 13. Ia kemudian menerbangkan pesawat B.E.2C untuk pengintaian artileri dan kadang pemboman posisi lawan. Ia merasa kurang beruntung karena pesawatnya kurang memiliki perlengkapan ofensif. Namun dalam suratnya ke rumah ia menggambarkan pekerjaannya sebagai “olahraga hebat.”

Tanggal 1 Maret ia terlihat berada lima mil dari daerah musuh, mengawasi sebuah stasiun kereta api diantara senjata anti-pesawat. Saat terbang untuk kembali ia diserang oleh pesawat Fokker yang berada di atas parit pertahanan Jerman. Senapan mesin pesawat Ball langsung menembak, namun ketika baru dua tembakan senapan macet. Ball lalu mengambil revolvernya, membidik pesawat lawan dan menarik pelatuknya. Namun pistolnya juga macet. Sementara itu pesawat Fokker tersebut juga mengalami kesulitan, terbukti ia tidak bisa menghancurkan pesawat Ball yang sudah tak berdaya, dan pilotnya pun segera berbalik saat sadar telah berada di wilayah Inggris.

Pada sebuah patroli lain, saat terjadi hujan salju, Ball tersesat. Saat keluar dari awan berada di ketinggian 500 kaki di atas wilayah Jerman. Ia mencoba pulang dengan dihujani peluru dari darat. Perwira komandannya bertanya apa yang ia lakukan di dalam garis pertahanan Jerman (yang terlarang) dan apa untungnya melakukan itu? Ball menjawab: “Tak ada untungnya Pak, namun kita telah membuat Jerman marah, dan menghabiskan sekitar seratus pon peluru mereka.” Jawaban yang tak disangka-sangka ini membuat komandannya tertawa. Ball tidak jadi mendapat hukuman atas kelalaiannya.

Akhir bulan itu pesawatnya sempat tertembak oleh senjata dari darat. Beruntung pesawat jatuh di dalam wilayah sendiri. Ball dan pendampingnya terjebak dalam puing pesawat, namun tidak terluka. Pada akhir bulan Maret, didampingi oleh dua orang penembak bersenjata mesin, pesawat B.E.-nya berhasil memaksa dua pesawat lawan untuk mendarat, namun Ball tidak yakin kalau keduanya rusak.

Sementara itu, ia selalu memanfaatkan bakat bisnisnya — dengan mewakili ayahnya dalam jual-beli tanah dengan rekan-rekan sesama pilot di skadronnya. Ia menyurati ayahnya agar tidak menjual tembaga mereka karena perang akan berlangsung lama sehingga tembaga akan semakin langka dan bernilai tinggi. Ia juga membuat gambar desain pesawat terbang baru yang dikirimkan kepada ayahnya.

Pada tanggal 3 Mei ia dan pendampingnya berhasil menembak jatuh lima pesawat musuh. Tiba-tiba sebuah pesawat Albatross kursi ganda menyerang. Ball melihat pesawat tersebut menuju ke arahnya hinga berada pada jarak beberapa kaki saja. Masing-masing kru dapat melihat wajah lawannya. Penembak lawan sempat menembak lima kali sebelum akhirnya tewas oleh tembakan pendamping Ball. Pilot Albatross kemudian pergi, namun Ball tak yakin kalau ia terluka.

R.F.C. mulai melengkapi skadronnya dengan sejumlah pesawat tempur kursi tunggal untuk melindungi pesawat kurasi ganda yang banyak mengalami kekalahan. Ball terpilih sebagai pilot tempur pertama di skadron No. 13, dan ditempatkan di depot pesawat untuk menerbangkan pesawat Morane Scout. Ia menembakkan senapan mesinnya pertama kali saat menerbangkan pesawat Scout di sekitar garis perbatasan. Gir pengatur senapan belum disesuaikan sehingga peluru mengenai baling-baling pesawat. Ia harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk sampai ke pangkalan dengan kondisi pesawat yang bergetar hebat. Tak lama kemudian skadron menerima tambahan dua pesawat Scout, satu pesawat Nieuport dan sebuah Bristol. Ia menggunakan kedua pesawat ini pertama kali saat dua pesawat musuh terbang hingga mendekati pangkalannya. Pertama-tama ia menggunakan pesawat Nieuport. Namun kabel senapannya putus. Ia langsung mendarat, pindah ke pesawat satunya, dan tinggal landas lagi, namun pesawat Bristol kalah cepat dibandingkan dengan pesawat musuh yang telah mundur.

Pada awal bulan Mei 1916 ia dipindahkan ke skadron No. 11. Segera setelah bergabung dengan skadron barunya Ball yang menggunakan pesawat Bristol Scout melakukan serangan terhadap sebuah pesawat Albatross dengan menukik dari ketinggian 12.000 kaki ke 5.000 kaki, dan berhasil menghancurkannya 20 mil di dalam wilayah musuh. Namun kemampuan seorang pilot sangat terbatas. Pada akhir bulan Mei kekalahan pesawat B.E. semakin besar. Kebutuhan untuk melindungi skadron dengan tambahan pesawat tempur semakin mendesak. Dalam waktu seminggu semua penerbang kelas B di skadron No. 13 harus diisi oleh pilot baru dari Inggris, dan dalam sehari skadron No. 11 kehilangan enam pesawat.

Ball meminta salah seorang bawahannya untuk membuat pagar seluas 40 yar persegi di sekitar tenda yang ia dirikan di pangkalan udara. Di sini ia menggali tanah untuk sebuah taman, dan menyurati rumahnya untuk mengirim benih yang ingin ia tanam. Ia menemukan pelepasan dari beratnya tugas penerbangan dengan menanam bunga dan sayuran. Ia tinggal di tenda atas kemauannya sendiri, agar selalu siap setiap saat untuk terbang jika diperlukan. Ia kemudian membangun sebuah gubuk kayu dari kayu-kayu sisa. Mess berjarak sekitar dua atau tiga mil, namun ia tak keberatan berjalan kaki untuk mencari makanan.

Seringkali ia harus berlari dari tamannya menuju ke pesawat saat terdengar alarm tanda adanya serangan. Kadang ia harus bangun saat tidur dan bergegas mengenakan pakaian terbang. Ia terbang tanpa menggunakan kacamata debu atau helm, rambutnya yang hitam tebal tertiup angin, sedangkan matanya yang coklat tajam mampu menangkap gerakan lawan sebelum ia sendiri terlihat. Perawakannya tinggi, berhidung panjang, dan rahang yang kuat sesuai dengan jiwa muda seorang petarung. Ia melakukan segala sesuatu dengan penuh semangat, dan merupakan kesenangan atau seperti olahraga. Ia selalu bertindak dengan sepenuh hati.

Pada tanggal 29 Mei ia terlibat empat kali pertempuran dalam satu kali patroli. Tiga kali ia menyerang pesawat Albatross sayap ganda, dan selanjutnya ia sendiri diserang oleh empat pesawat Fokker dan sebuah pesawat L.V.G. kursi ganda 12 mil di daerah lawan. Ia memaksa pesawat L.V.G. untuk mendarat kemudian mendekati pesawat Fokker. Namun mereka melarikan diri dari pesawat Nieuport-nya. Ball mendapati delapan peluru bersarang di pesawatnya, dan saat pulang sebuah “Archie” membuat ekornya sedikit berlubang.

Archie adalah singkatan dari anti-aircraft shellfire atau meriam anti pesawat, sebutan yang digunakan oleh para pilot Inggris. Ini sudah ada sejak awal perang, saat seorang pilot Inggris mendengar ledakan di bawah pesawatnya dari sebuah meriam anti pesawat. Pada Perang Dunia II para pilot sekutu menggunakan istilah Jerman “Flak”, singkatan dari Flakartillerie, atau senjata anti-pesawat.

Ball tidak hanya tinggal diam menunggu alarm tanda serangan. Ia melakukan patroli rutin, seperti elang di atas pangkalan pesawat musuh, dan mengamati setiap pesawatnya yang tinggal landas. Saat mereka mencapai ketinggian 10.000 kaki ia menyerangnya. Sampai tanggal 7 Juni ia merupakan satu-satunya pilot di skadronnya yang berhasil menembak jatuh pesawat musuh. Dan ia merasa beruntung karena terlibat lebih dari dua belas kali pertempuran selama tiga bulan pertama dibandingkan dengan pilot lain di skadron No. 4 dan 13.

Tiga kali ia harus menunda kepergiannya karena ia tidak dapat digantikan oleh pilot tempur lainnya. Namun antara tanggal 10 dan 22 Juni ia harus terbaring sakit di rumah. Empat hari setelah ia kembali disusun sebuah rencana besar untuk menyerang balon pengintai musuh sebagai pembukaan untuk pertempuran Somme. Sekitar 100 pesawat tempur Inggris dikirim untuk menyerang balon-balon udara yang terbang di daerah perbatasan untuk mengamati gerakan pasukan Inggris. Keseluruhannya hanya lima balon yang berhasil ditembak jatuh. Ball dan beberapa pilot lain yang mengincar sebuah balon gagal. Ball lalu pulang dan minta ijin untuk kembali menyerang. Setelah dipersenjatai dengan lebih banyak bom, ia langsung terbang untuk menyerang kembali musuh yang sekarang telah siaga. Terbang perlahan di atas balon dan senjata anti-pesawat musuh, ia menjatuhkan bom dengan tepat. Balon pun terbakar hebat dan jatuh. Atas keberanian ini, ia dianugerahi Lencana Militer.

Sehari kemudian ia melihat konsentrasi kendaraan angkutan musuh di sebuah hutan. Ia turun untuk melihat lebih dekat, dan dihujani tembakan dari darat. Tiba-tiba satu peluru mengenai silinder mesinnya. Baling-baling pesawatnya berhenti berputar, namun pesawatnya masih dapat melayang, dan ia pun melayang turun di daerah pertahanan Inggris lalu mendarat jauh di luar jangkauan senjata musuh. Berdasarkan laporannya sebuah serangan artileri dilancarkan terhadap sasaran yang telah diamatinya.

Hanya empat pilot yang tersisa dari delapan orang. Ball termasuk diantaranya yang terus siaga 19 jam sehari. Di hari-hari awal pertempuran ia telah melakukan 12 kali penerbangan. Ia bersyukur memiliki taman yang aman dari kejaran musuh. Untuk sementara ia bisa lepas dari ketegangan.

Pada tanggal 2 juli dua pesawat Albatross menyerangnya. Salah satunya menukik seperti hendak menabrak pesawatnya, namun Ball berhasil menghindarinya. Dalam waktu lima menit kedua pesawat Albatross itu berhasil dirontokkan dengan senapan pesawat Nieuport. Sampai hari itu ia telah berhasil menembak jatuh enam pesawat musuh dan satu balon. Para pilot lain di kesatuannya masing-masing hanya memiliki satu skor kemenangan. Ia menerima ucapan selamat untuk kedua kalinya dari komandan Angkatan Bersenjata. Mayor-Jenderal H. M. Trenchard, yang mengepalai markas Korps Terbang Kerajaan Inggris mengirim telegraph ucapan selamat, lalu datang sendiri ke pangkalan mereka.

Pertempuran udara telah banyak memakan korban jiwa. Pada tanggal 3 Juli tiga orang rekan Ball tidak kembali, tanggal 9 Juli empat orang hilang, dan sehari kemudian seorang hilang. Pada tanggal 16 Juli terdapat perintah untuk melakukan operasi udara, dan malamnya Ball menyelesaikannya. Ia menyurati ayahnya : “Sebenarnya saya tidak bisa bertahan terus-terusan, dan malam ini saya menemui komandan untuk meminta istirahat dan cuti selama beberapa hari. Ia bilang ia akan mengusahakannya.”

Ball kemudian ditugaskan di skadron No. 8 dan kembali menerbangkan pesawat B.E.2C. Ini merupakan “istirahat” baginya. Pada saat itu pergiliran tugas operasi terbang tidak didasarkan pada jumlah penerbangan yang dilakukan, namun berdasarkan waktu yang dihabiskan. Sepuluh bulan di Perancis merupakan syarat untuk penempatan di Pemerintah Lokal agar dapat beristirahat dari sejumlah tugas lain, seperti menjadi instruktur. Ball baru menyelesaikan setengahnya, meskipun mungkin melakukan tugas dua kali lipat dibandingkan dengan pilot lain. Yang ia inginkan hanyalah istirahat beberapa hari dari kegiatan terbang. Namun ia kecewa karena disarankan untuk bersabar sementara waktu.

Ada maksud dibalik penugasan Ball. Jika ia diijinkan untuk berhenti terbang maka ia akan kehilangan stabilitas syaraf. Ini sama seperti siswa pilot yang langsung diperintahkan terbang dengan pesawat lain setelah mengalami kecelakaan ringan. Dengan demikian ia tak akan sempat memikirkan resiko terbang.

Kembalinya ia dengan pesawat B.E.2C membuat Albert senang. Ini berarti bahwa ia akan terbang lebih sedikit dibandingkan jika ia menggunakan pesawat yang lebih baik. Pesawat ini tidak terlalu diandalkan karena sudah agak tertinggal untuk menghadapi pesawat lawan yang lebih canggih. Dengan demikian ini akan mengurangi ketegangannya. Setelah kepergian Albert orang-orang di skadron No. 11 merawat kebunnya dan mengiriminya bunga dari kebun tersebut.

Ia mendapatkan pengalaman baru dalam penggunaan artileri untuk membidik sasaran lawan dan ikut ambil bagian dalam suatu operasi penyerangan yang melibatkan lebih dari tiga puluh pesawat. Semangatnya tak pernah padam. Jauh hari sebelumnya ia pernah mendaftarkan diri sebagai mata-mata di belakang garis pertahanan musuh, dan melakukan tugas berbahaya ini. Bersama seorang penembak jitu di pesawat B.E. ia menyerang sebuah balon dan memaksa pengendaranya melompat keluar, meskipun penyangga sayapnya rusak terkena senjata anti-pesawat. Di hari lain ia terbang sendirian menyerang sebuah pesawat Albatross dan memaksanya mendarat.

Pada tanggal 15 Agustus ia kembali ke skadron No. 11 dan ditempatkan di pesawat Nieuport terbaru. Untuk menambah kebahagiaannya ia dipromosikan sebagai letnan. Hanya dengan inilah ia dapat terus berkonsentrasi. Sehari kemudian ia bertemu dengan 5 pesawat musuh, menembak jatuh 1 pesawat dan memaksa dua lainnya mendarat dengan semua amunisinya.

Di hari terakhirnya di skadron No. 11 ia bertemu dengan 12 pesawat Hun (pesawat Jerman ini pada Perang Dunia II dijuluki dengan Jerries). Ia menyerang ke arah mereka, merontokkan dua pesawat dan menembak pesawat ketiga hingga jatuh terbakar. Setelah kembali ke pangkalan terdekat untuk mengisi amunisi ia langsung berangkat lagi. Kali ini 14 pesawat Hun menyerangnya pada posisi 15 mil di wilayah Jerman. Peluru mereka menghancurkan kaca depannya, menembus penyangga sayap kiri, dan mematahkan pipa bahan bakar sehingga ia kehabisan bahan bakar. Ia terpaksa mendarat satu mil dari perbatasan dan tidur di dekat pesawatnya. Malamnya ia memperbaiki pesawat. Telah enam kali ia dipaksa mendarat seperti ini dengan mesin yang rusak, namun ia selalu berhasil mendarat dengan baik.

Seluruh pilot tempur kemudian disatukan dengan beberapa skadron tempur. Pada tanggal 23 Agustus 1916, Ball bertugas di skadron No. 60, dimana ia segera menjadi komandan terbang dan kapten. Dua hari kemudian ia merontokkan sebuah pesawat Hun dan memaksa satu pesawat lainnya untuk mendarat. Seorang mayor Perancis mengucapkan selamat kepadanya, dan mengatakan bahwa ia telah merontokkan pesawat musuh lebih banyak dibandingkan dengan para pilot Perancis. Mayor Perancis tersebut menghitung skornya dari 84 kali pertempuran, 16 pesawat musuh dirontokkan dan 1 balon hancur. Namun Ball mencatat hanya 12 pesawat rontok. Pada tanggal 31 Agustus ia menembak jatuh 2 pesawat dari 12 pesawat Hun, dan kemudian diberi penghargaan Bintang Jasa Kehormatan.

Sebuah piringan aluminium besar dipasang pada poros baling-baling pesawat Nieuport Scout untuk menambah dorongan angin. Ini disebut “spinner” karena ikut berputar saat mesin hidup. Meskipun para pilot R.F.C tidak diijinkan untuk mengganti warna standar pesawat mereka, Ball tetap mencat spinner pesawatnya dengan warna merah terang untuk memudahkan pilot Inggris lainnya membedakan pesawat Nieuport-nya. Ini juga untuk menakuti musuhnya, sebagaimana para ksatria kejam mencat wajahnya dengan warna yang buas.

Tekad dan semangat merupakan kunci keberhasilan Ball, disertai dengan keberanian yang mengesampingkan segala hambatan. Ia berkata bahwa sebagian besar lawannya tampaknya tidak berani mengambil resiko dan tidak pernah berani bertarung dari jarak dekat apabila keadaan memungkinkan. “Tantangan langsung di depan lawan akan menciutkan nyali mereka,” katanya. “Pesawat Hun selalu menghindari benturan lebih dulu.” Ball memiliki kemampuan berpikir dan bertindak cepat, ia mampu menentukan taktik untuk menghadapi situasi secepat kilat. Namun suatu ketika ia menemukan lawan yang sebanding. Ia dan seorang pilot Jerman yang tak dikenal terlibat pertempuran satu lawan satu. Masing-masing saling mengejar. Masing-masing mencoba trik untuk mengelabui lawannya. Mereka saling tembak dari berbagai sudut yang berbeda. Keduanya berusaha untuk mengincar ekor lawannya, namun tak berhasil mendapatkan posisi yang tepat untuk melepaskan tembakan. Masing-masing berusaha untuk menghindari sergapan musuhnya. Ini bisa berakibat fatal bagi keduanya karena menemui pertarungan sejati. Akhirnya keduanya saling menembakkan amunisinya sampai habis. Mereka tampaknya menyadari apa yang telah terjadi. Kemudian mereka saling menatap sambil tertawa terbahak-bahak. Mereka pun lalu terbang berdampingan, saling melambaikan tangan dan kemudian berpisah pulang ke pangkalan masing-masing. Ball menganggap pesawat Hun tersebut “sebuah pertarungan sejati.”

Ball mempunyai selera humor. Ia tahu resiko yang ia hadapi, namun ia yakin bahwa tugasnya adalah untuk bertahan demi pertempuran selanjutnya. Suatu ketika dua orang pemuda berkata padanya bahwa mereka ingin sekali bergabung dengan Korps Terbang, dan menyatakan siap untuk mati demi tanah airnya. Ball tertawa dan mengatakan bahwa mereka tak berguna, karena yang dicari adalah orang yang berusaha keras untuk hidup demi negaranya, bukan untuk mati.

Ketika ia telah menghancurkan 32 pesawat lawan Ball dikirim pulang untuk melatih para pilot lain dengan metodenya. Ia kemudian diberi penghargaan gelar D.S.O. dan Bintang Rusia kelas empat St. George. Selama perjalanan bertugas saya bertemu Ball saat menjalani pelatihan sebagai seorang pilot. Perawakannya agak pendek, sekitar 5 kaki 6 inchi, namun terlihat proporsional dan tegap dengan pakaian seragam R.F.C. Ia tidak terlihat menyolok namun sorot matanya yang tajam menunjukkan kepercayaan dirinya. Kepergiannya disambut dengan meriah oleh segenap kota Nottingham, bersama sejumlah jenderal dan Perdana Menteri Lloyd George. Ia telah menjadi penerbang besar dunia, namun kehormatan itu tidak direspon secara berlebihan karena ia adalah orang yang rendah hati. Ia menikah dengan gadis yang mungkin tidak ditakdirkan untuk menjadi istrinya.

Selama beberapa waktu ia tetap menjadi instruktur di Inggris, namun sebenarnya ia lebih senang maju ke medan pertempuran. Ia kemudian dipindahkan ke skadron No. 56, selanjutnya melakukan persiapan untuk menjadi penerbang S.E.5 kursi tunggal. Ia menjadi komandan terbang kelas “A”, dan skadronnya bertugas ke luar negeri pada tanggal 7 April 1917. Sebelum mendarat di pangkalan udara Perancis, Ball sempat menyeberangi perbatasan dan merontokkan satu pesawat Jerman dan memaksa sebuah pesawat lainnya untuk mendarat. “Tak ada waktu untuk kalah!” katanya saat mendarat.

Ia mencat bagian atas pesawat S.E.-nya dengan warna merah, namun ia lebih suka dan terbiasa dengan pesawat Nieuport. Ia kemudian diberi tambahan pesawat S.E.5. biasanya ia memimpin penerbangan untuk melakukan patroli dua atau tiga kali sehari. Sisa waktunya digunakan untuk menerbangkan pesawat Nieuport sendirian di garis depan antara daerah Lens dan Arras, di dekat pangkalan skadronnya. Ia berusaha keras untuk memecahkan rekor Perancis, yang berhasil mengunggulinya saat ia istirahat di Inggris. Guynemer, seorang pilot Perancis terkemuka, meraih 36 kali kemenangan, sedangkan Boelcke dari Jerman mencatat 40 kemenangan sebelum ia meninggal. Di akhir minggu pertama operasinya Ball telah menembak jatuh 5 pesawat lawan. Minggu berikutnya ia berhasil merontokkan 5 pesawat lagi. Di suatu malam tanggal 26 April, sendirian ia berhasil menyerang empat formasi pesawat Hun yang masing-masing terdiri dari lima pesawat, dan menembak jatuh 2 diantaranya. Namun ia kehabisan amunisi. Ia harus menunggu sampai gelap untuk dapat kembali dengan aman ke pangkalannya. Suatu kali ia diserang oleh 5 pesawat tempur Jerman. Ia berhasil mengunggulinya. Dua pesawat berhasil ia rontokkan, kemudian ia menukik turun secara vertikal, diikuti oleh tiga pesawat lawan yang tersisa. Ia terbang sangat rendah sehingga pesawat Hun lawannya hampir terhempas ke tanah. Ball naik dan menembak korban ke empatnya. Pesawat ke lima langsung melarikan diri. Saya ingat pengumuman harian R.F.C. yang dipasang di mess kami saat saya menerbangkan pesawat Sopwith kursi-ganda. Nama Ball sering sekali dicantumkan di sana. Semua orang berkeinginan agar namanya tertulis dalam pengumuman tersebut.

Seringkali pesawatnya tertembak dan rusak parah. Setelah itu maka Albert kembali berladang, dimana ia bisa bekerja sambil menyanyi. Namun mekipun ia bersantai sebenarnya ia amat lelah. Semangat tempurnya selalu mendorong ia untuk kembali. tak lama kemudian ia telah berhasil melampaui skor Guynemer dua angka. Di malam yang sama skadron No. 56 mengadakan konser. Mendadak alarm tanda kebakaran berbunyi. Saat Ball memeriksanya ternyata gubugnya terbakar.

Staf jenderal R.F.C. menganggap Ball sebagai bintang pilot Inggris. Saat ia mengalami masalah dengan pesawat S.E.5 miliknya ia segera mendapat ganti dua pesawat, untuk memastikan bahwa ia tidak kehilangan kesempatan. Kepercayaan diri para staf semakin kuat. Pada awal Mei Ball kembali menembak jatuh pesawat lawan dalam jangka waktu sekitar dua hari.

Malam tanggal 5 Mei ia bertemu dengan dua pesawat Albatross Scout. Ia langsung menyerang yang terdekat, masuk ke bawahnya, dan menembakkan senapan mesin Lewis ke arahnya. Pilotnya tewas dan pesawatnya jatuh. Ia sekarang siap menghadapi pesawat kedua. Tiba-tiba pesawat tersebut menuju ke arahnya seolah-olah hendak menabraknya. Ia pun menghadapinya sehingga sekarang pesawat saling berhadapan dan saling tembak. Saat pesawat hampir bertabrakan mesin pesawat Ball terkena peluru. Oli panas menyembur mengenai wajah dan matanya. Selama beberapa saat ia tak bisa melihat apa pun. Saat ia bisa melihat kembali, ia mendapati pesawat Hun sedang menukik jatuh tak terkendali seperempat mil dari perbatasannya. Ball sempat menyerang lagi saat pulang, namun ia kehabisan amunisi dan terpaksa mendarat sebelum mesinnya rusak.

Dengan total 42 kemenangan Ball sekarang melampaui skor Guynemer. Jenderal Trenchard menelponnya dan memberitahu bahwa ia akan dihadapkan dengan Marsekal Lapangan Sir Douglas Haig, panglima tertinggi Angkatan Bersenjata Inggris. Namun itu tak pernah dilaksanakan. Pada tanggal 5 Mei Ball menyurati tunangannya : “… akan lebih baik jika perlombaan saling bunuh ini berakhir, dan kita bisa menikmati hidup tanpa melukai orang lain. Aku benci permainan ini, namun ini satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang.” Di hari yang sama ia menyurati ayahnya: “Sungguh saya dilindungi oleh Tuhan, namun ah! Saya capek terus-terusan hidup untuk membunuh, dan merasa menjadi seorang pembunuh.”

Malam hari merupakan saat favoritnya untuk melakukan patroli. Seringkali ia harus pulang saat hari gelap dan menjadi orang yang teralkhir pulang ke mess. Menjelang gelap tanggal 6 Mei ia terlibat pertempuran dengan empat pesawat Albatross dan merontokkan satu diantaranya.

Suatu malam tanggal 7 Mei 1917, Ball keluar berpatroli bersama sepuluh pilot lain di skadronnya. Udara saat itu mendung disertai hujan gerimis. Pandangan sangat terbatas dan kabur, sehingga pesawat mereka terpisah. Banyak pesawat musuh yang terbang saat itu, karena jumlah satuan Albatross baru saja diperbesar. Ball dan dua orang pilot sepakat untuk bertemu di Cambrai. Mereka akhirnya bertemu, namun mendung sangat tebal. Mereka kembali terpisah. Empat pesawat Albatross merah menyerang dari atas. Salah seorang teman Ball diserang dengan gencar. Satu musuh yang telah ia tembak sebelumnya, menembak dengan pistol dan dengan kemudi yang patah ia melarikan diri; turun melewati perbatasan dan mendarat lalu pingsan. Ball menembak pesawat lainnya, namun ia segera terlibat pertempuran dengan pesawat-pesawat tempur Jerman yang jumlahnya sangat banyak, karena terus berdatangan. Pesawat S.E. yang tersisa harus menghadapi serangan dari 12 pesawat Albatross.

Salah seorang pilot Inggris melaporkan telah terjadi pertempuran sengit dimana Ball berada di tengah-tengahnya. Ia melihat dari bawah peluru senapan pesawat Hun dimuntahkan ke arah Ball, sedangkan bom dijatuhkan dari atasnya.

Ball pun jatuh, seperti biasa ketika ia bertempur sendirian. Siapa yang menembaknya tidak pernah diketahui. Lothar von Richthofen diyakini sebagai pelakunya, namun tampaknya sebelum itu ia telah terluka dalam pertempuran tersebut. Mungkin ini hanya sebuah kebetulan, dimana peluru nyasar mengenai kepala Ball, atau orang lain yang menembaknya juga tewas dalam pertempuran. Tak ada yang mengaku bertanggung jawab atas kematian Ball baik dari pihak Inggris maupun Jerman. Dan Jerman salah mengira ia terbang dengan pesawat sayap tiga, meskipun pesawatnya jatuh di daerah mereka.

Di mess skadron No. 56 malam itu para pilot senior menunggu kepulangan Ball, seperti yang biasa mereka lakukan. Namun malam itu tidak ada suara raungan pesawat dari langit yang diselimuti awan pekat, tanpa bintang. Ball yang belum genap 21 tahun, telah melakukan penerbangan terakhirnya.

Albert Ball adalah seorang anak dan kakak yang penuh kasih sayang. Ia dicintai oleh orang lain karena keberanian dan keramahannya. Namun ia bukan seorang “anak gaul.” Ia tidak pernah bersantai di mess. Ia juga tidak minum ataupun merokok. Ia senang dengan bunga dan musik yang indah. Ia tak banyak berbicara dengan orang lain. Sejak kecil ia selalu diajarkan untuk berdoa oleh orang tuanya, sehingga ia sangat religius. Ia percaya akan kekuatan doa. Ketika ayahnya menulis surat dan menanyakan apakah ia berdoa setiap akan melakukan pekerjaan dan setelah usai, ia menjawab: “Tak perlu diragukan lagi aku selalu melakukannya. Bahkan aku juga melakukannya saat sedang bertempur. Sungguh, aku berserah diri kepada Tuhan, itulah yang membuatku merasa damai, dalam keadaan apa pun.” Dan kepada ibunya ia menulis: “… Janganlah engkau mempertanyakan apakah aku percaya pada Tuhan sebelum percaya pada yang lain. Aku tidak pernah melupakan kewajiban itu.” Setelah menjalankan kewajiban tertinggi tersebut, Albert Ball tak pernah melalaikan kewajiban lainnya.

Tentara Jerman menguburkannya di Annoeullin, sekitar 5 mil di sebelah timur La Bassée, di Makam Kebesaran. Mereka mengalungkan bunga di salib kayunya, bertuliskan: “Ia Telah Mempersembahkan Hidupnya Untuk Tanah Airnya.”

Penghargaan Lencana Victoria diberikan secara anumerta. Raja menyerahkan Lencana tersebut kepada orang tua Albert Ball di Istana Buckingham pada tanggal 22 Juli 1917. Ball sendiri telah mengklaim 44 kemenangan. Raja George V memberitahu ayah Ball bahwa skor kemenangan putranya adalah 47. Selanjutnya, Raja mengirim surat pribadi yang ditandatanganinya kepada ayah Ball, berbunyi:

“Sungguh merupakan penyesalan yang dalam buat saya mendengar kematian Letnan Albert Ball, D.S.O., M.C., dari Resimen Notts and Derby dan Korps Terbang Kerajaan, menghilangkan kebanggaan saya pribadi untuk menganugerahkan penghargaan Lencana Victoria, penghargaan tertinggi untuk keberanian dan kesetiaan dalam menjalankan tugas.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: