Beranda » Penerbang Terbesar Sepanjang Sejarah » 8. Kapten Georges Guynemer

8. Kapten Georges Guynemer

BERTAHAN DARI PENYAKIT DAN MUSUH

ORANG PERANCIS memberi julukan “jagoan” bagi para pilot yang telah berhasil merontokkan lima pesawat musuh. Orang Jerman memberi julukan “meriam”, yang berarti peluru mematikan, bagi mereka yang berhasil membunuh sepuluh lawan. Perancis memiliki banyak pilot jagoan pada Perang Dunia I. Diantara mereka terdapat tiga nama besar yaitu Rene Fonck, Charles Nungesser, dan Georges Guynemer.

Tak seorang pun dari dari para pilot Inggris dan Amerika yang mampu menyamai Guynemer. Hanya Kapten Albert Ball yang dapat menandinginya sebelum akhirnya tertembak jatuh. Guynemer hidup sedikit lebih lama dibandingkan dengan Ball. Dan ketika ia meninggal pada tanggal 11 September 1917, ia telah berhasil menembak jatuh 53 pesawat musuh saat masih berusia 22 tahun.

Sejak kecil Guynemer telah tertarik dengan pesawat terbang. Ia tumbuh di negara yang terdepan dalam dunia penerbangan saat Georges masih berusia 14 tahun. Ketika itu ia sangat mengagumi kemampuan para pilot Perancis. Ia merasa bangga terhadap mereka.

Badannya kurus dan lemah, agak tinggi, dan menderita gangguan penyakit TBC. Sosok fisiknya pantas untuk disebut sebagai manusia burung. Namun ketika pertama kali mendaftar sebagai anggota Angkatan Udara Perancis ia langsung ditolak. Ia tidak memenuhi persyaratan kesehatan yang diberlakukan untuk seorang pilot militer. Mereka telah keliru. Ilmu kesehatan tidak memperhatikan kekuatan keberanian mental seseorang yang mampu mengalahkan kekuatan fisik dan menjadi orang-orang yang tangguh meskipun mempunyai kekurangan fisik.

Guynemer tercatat sebagai pekerja buruh di Angkatan Udara Perancis, ini merupakan satu-satunya cara agar ia dapat selalu dekat dengan pesawat. Ia bekerja keras sebagai mekanik pesawat dan mampu bekerja dengan efisien. Para pilot sangat tertarik padanya dan ia mulai diajak terbang. Ia mampu menunjukkan bakatnya sebagai seorang penerbang. Ia memiliki keberanian yang tidak dimiliki oleh seorang pilot terlatih sekalipun.

Pada awal tahun 1915 Guynemer bergabung dengan escadrille de chase, atau skadron tempur Perancis yang terkenal. Ia dijuluki Cigognes, karena di pesawatnya terdapat gambar burung bangau sebagai tanda emblem identitas. Ia terus menanjak hingga akhirnya terpilih untuk memimpin skadron.

Ia bertempur seperti Albert Ball, dengan kecepatan tinggi tanpa mempedulikan bahaya. Ia mengandalkan kemampuannya sebagai pilot tempur untuk membunuh dan menghindari serangan. Ia sering terbang sendirian dengan ketinggian penuh seperti elang, menunggu pesawat lawan yang ada di bawahnya, lalu menukik sambil melepaskan tembakan dari jarak dekat. Seperti Ball, ia pun sering tertembak pesawatnya, dan pernah delapan kali jatuh ke tanah, namun ia selalu selamat. Suatu kali, ketika senapan pesawatnya macet, ia mendekati pesawat lawan memaksanya turun hingga pesawat Jerman itu jatuh ke menghantam tanah.

Sehari-harinya ia bekerja memeriksa pesawat, dan sering ia bekerja sendirian, karena ingin memastikan bahwa pesawatnya selalu dalam keadaan sempurna saat terbang sehingga menghasilkan penerbangan yang efisien. Orang-orang Perancis sangat antusias menyebut nama Georges Guynemer jika dibandingkan dengan para pilot besar Inggris selama berlangsungnya peperangan. Ia menjadi idola di Perancis. Ketika ia beralih dari pesawat Nieuport ke pesawat Spad, ia memasang dua buah senapan mesin. Suatu kali ia pernah mengganti senapan mesin itu dengan sebuah meriam tunggal kaliber 37 milimeter (1 ½ inchi). Meriam ini tidak bekerja secara otomatis. Setiap kali menembak satu peluru harus dimasukkan dengan tangan. Meskipun demikian, setidaknya Guynemer berhasil meraih satu kemenangan. Namun senjata ini kurang efisien dibandingkan senapan mesin, sehingga kembali diganti dengan senapan mesin.

Seperti kebanyakan orang Perancis lain waktu itu, Guynemer memiliki kebencian yang mendalam terhadap Jerman. Ia bertempur untuk membunuh. Keberaniannya telah menjadi legenda. Keberuntungan seolah berpihak padanya, sekalipun dalam keadaan bahaya. Suatu hari di tahun 1915 ia telah merontokkan dua pesawat musuh. Tiba-tiba salah satu peluru nyasar dari meriam anti-pesawat milik Perancis justru mengenai pesawatnya. (Para penembak sering keliru menembak pesawat sendiri ketika banyak pesawat musuh yang berada di dekatnya. Ini tidak disengaja namun hanya karena semangat tempur yang berlebihan. Misalnya sering terjadi peluru yang ditembakkan meleset dan meledak di dekat pesawat Sekutu yang mengejarnya.)

Ketika itu sayap kiri pesawat Guynemer patah, dan radiatornya sobek. Guynemer berusaha menyeimbangkan pesawat dengan berpindah posisinya. Ia mencoba mengendalikan pesawat yang tetap tidak imbang. Pesawat jumpalitan jatuh ke bawah dan terhempas. Namun Guynemer tidak terluka sedikitpun.

Suatu kali, Guynemer mendapat lawan yang sebanding. Ernst Udet, seorang pilot tempur Jerman yang nantinya memimpin pembuatan pesawat pada Perang Dunia II, menyatakan bahwa ia pernah bertemu Guynemer pada salah satu pertempuran udara di tahun 1916. Ia mengenali Guynemer dari gambar bangau yang ada di pesawatnya serta lencana pribadi Guynemer. Di udara kedua pesawat berputar-putar, dan Udet sadar bahwa ia bertemu dengan orang yang lebih baik darinya. Udet dihujani peluru yang mengenai sayapnya, namun tak ada yang fatal. Ketika pesawat Guynemer dalam posisi target, senapan Udet macet. Ia memukul-mukul senapan dengan tangan kanannya sambil mengendalikan pesawat dengan tangan kiri. Ia berharap senapannya dapat berfungsi kembali, namun ia gagal. Ia memberanikan diri untuk tetap di dekat pesawat Guynemer karena jika menjauh maka pilot sekaliber Guynemer justru akan mengincar ekor pesawatnya untuk ditembak jatuh.

Selama delapan menit mereka hanya berputar-putar, ketika tiba-tiba pesawat Guynemer berbalik di atas pesawat Udet. Saat itu Udet lalu memukul senapannya dengan kedua tangannya dan membiarkan pesawat Albatrosnya terbang sendiri. Kemungkinan Guynemer saat itu tahu bahwa senapan Udet macet. Udet sadar bahwa ia sangat tergantung pada belas kasihan Guynemer. Namun Guynemer tidak menyerangnya. Ia terbang rendah di atas Udet. Saat menengok ke atas, Udet melihat Guynemer melambaikan tangan ke arahnya. Pilot Perancis itu kemudian terbang menjauh membiarkan Udet bebas, melepaskan musuh yang dalam keadaan tak berdaya dan terancam. Hal yang sama tidak akan pernah dilakukan oleh militer Jerman.

Bagaimana Georges Guynemer tewas tidak pernah diketahu pasti hingga hari ini. Di dekat Poelcapelle, di medan pertempuran Ypres, saat pertempuran Pasukan Inggris di Passchendaele, Guynemer mengejar dua pesawat Rumpler Jerman. Seorang pilot Cigogne, Letnan Bozon-Venduras, bertindak sebagai pengawalnya. Saat Guynemer memburu pesawat Rumpler itu, Bozon melihat formasi pesawat Jerman mendekat. Ia berbalik mengejar formasi tersebut dan meninggalkan Georges. Saat Bozon kembali ia tidak melihat tanda adanya pesawat Spad milik Guynemer. Ia berputar-putar hampir selama setengah jam sampai bahan bakar pesawatnya menipis dan memaksanya kembali ke pangkalan. Ia tetap tidak melihat pesawat Guynemer baik di udara maupun di darat.

Tidak ada berita tentang jatuhnya pesawat Guynemer atau tertangkapnya ia dari pihak Jerman, seperti kebiasaan jika ada penerbang tangguh yang dikalahkan. Hilangnya Guynemer juga tidak diberitakan pers karena mungkin ia mendarat di garis yang salah dan kemungkinan bebas dan sedang  berusaha kembali. Namun sebuah koran London memecahkan kesunyian. Ketika koran ini memberitakan tentang hilangnya seorang pilot ternama, pihak Jerman mengumumkan bahwa salah seorang pilot mereka yang bernama Wissemann telah menembak jatuh pesawat Guynemer pada tanggal 10 September. Sehari kemudian mereka meralat berita tersebut menyesuaikan dengan hari kematian Guynemer.

Orang Perancis menginginkan informasi resmi yang rinci tentang kematian Guynemer. Jerman menyatakan bahwa Guynemer tertembak kepalanya, dan pesawatnya ditembak dengan meriam buatan Inggris. Diyakini bahwa pesawat Guynemer jatuh tertembak dan kemudian terbakar di antara sekelompok pasukan. Tentara Jerman menemukan tubuhnya dan lalu menguburnya. Namun kuburan tersebut hancur karena ledakan artileri Inggris dan Jerman di medan pertempuran. Dengan demikian Guynemer yang makamnya tidak diketahui persis dikenang sebagai prajurit pahlawan yang terkubur di medan perang Arc de Triomphe Paris.

Empat hari setelah kematian Guynemer, René Fonck berhasil menembak jatuh sebuah pesawat Rumpler. Tubuh pilot pesawat yang jatuh diidentifikasi sebagai Hauptman Wissemann, pilot Jerman yang sebelumnya diyakini mengalahkan Guynemer, dan dianggap hanya karena keberuntungan akibat peluru yang kebetulan mengenai pesawat Guynemer. Saat itu para tentara percaya bahwa mereka tidak akan pernah tertembak hingga ada peluru yang ditulisi dengan nama mereka. Dan mereka percaya peluru yang mengenai Guynemer bertuliskan nama “Georges Guynemer.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: