Beranda » Penerbang Terbesar Sepanjang Sejarah » 9. Rittmeister Manfred Freiherr von Richthofen, Ordre Pour le Mérite

9. Rittmeister Manfred Freiherr von Richthofen, Ordre Pour le Mérite

BARON MERAH — PENERBANG PEMBURU

MANFRED VON RICHTHOFEN dijuluki Baron Merah sebagai gelar kehormatan Jerman, karena ia menerbangkan pesawat Albatross Scout atau pesawat Fokker Triplane yang dicat warna merah darah. Warna ini adalah warna yang sesuai untuk insting seorang pembunuh. Ia telah meraih 80 kali kemenangan sebelum ia sendiri terbunuh dalam sebuah arena pertempuran yang tak terlihat setelah ia memakan banyak korban. Ia mempunyai ketrampilan dan keberanian yang sebelumnya tidak ia perlihatkan pada Perang Dunia I sebagai seorang petarung sejati.

Pada masa awal Angkatan Udara Jerman sebagian besar dari para pilotnya hanya dianggap sebagai pengemudi pesawat, dan kebanyakan tidak diberi pangkat. Sedangkan pengawasnya adalah para perwira. Richthofen semula adalah seorang pengawas. Dalam sebuah perjalanan naik kereta api pada tahun 1915 ia bertemu dengan seorang pilot tempur dari Saxon, Oswald Boelcke, seorang perwira yang telah memenangkan empat kali pertempuran dengan pesawat Fokker monoplane. Sebelum perang, Boelcke adalah seorang insinyur yang antusias dengan dunia penerbangan, dan pembicaraan dengannya membuat Richthofen terdorong untuk melamar menjadi seorang pilot.

Setelah kematian Max Immelmann, Boelcke menjadi seorang pilot tempur Jerman yang terkenal. Ia terpilih untuk memimpin Jagdstaffel — nama yang diberikan untuk skadron tempur khusus kursi tunggal yang dibentuk oleh Militer Jerman pada tahun 1916 saat pesawat-pesawat tempur Albatross Scout tiba. Letnan Boelcke, yang mengenakan Ordre pour Le Mérite, penghargaan Jerman yang setara dengan Lencana Victoria di Inggris, diberi kebebasan untuk memilih para pilotnya sendiri. Richthofen memperoleh pengalaman bersama Boelcke selama dalam perjalanan kereta api tersebut, dan sekarang Boelcke memberinya kesempatan.

Pada tanggal 17 September 1916, Jagdstaffel melakukan operasi pertamanya dan Richthofen bergabung dengan Boelcke untuk pertama kalinya. Di daerah teritorial Jerman dekat Cambrai, Jagdstaffel menyerang formasi pesawat B.E.2C dari Skadron No. 11 R.F.C. yang didukung oleh pesawat tempur F.E.2.B kursi ganda. Setelah beberapa kali gagal mengejar sebuah pesawat F.E.2B, Richthofen berhasil mengincar ekornya. Dari sudut yang tak terlihat oleh kru Inggris, ia menembak dengan menggunakan senapan mesin Spandau. Kedua krunya pun luka parah. Pilot yang terluka tersebut kemudian mendarat di sebuah ladang di belakang pertahanan Jerman. Dengan gembira Richthofen mendarat di dekatnya, dan hampir merusakkan senjata mesinnya karena tergesa-gesa. Ia membantu sejumlah pasukan infanteri Jerman untuk mengangkat korbannya dari kokpit mereka. Mereka pun tewas tak lama kemudian. Tak ada penyesalan dalam diri Richthofen. Sehari kemudian ia menyurati ibunya : “Aku merasa bangga atas usahaku.” Saat menuju Cambrai ia mendatangi makam kedua korbannya dan meletakkan sebuah batu pada masing-masing makam. Kedua batu tersebut diletakkan pada tumbal pertama dari ketenarannya.

Jagdstaffel mengklaim enam kemenangan pada hari itu. Boelcke mendapatkan satu, dan masing-masing dari kelima pilot di skadronnya juga memperoleh satu kemenangan. Hal ini tidak terlepas dari kemampuan pesawat Albatross Scout tang memiliki keunggulan taktis dalam hal kecepatan, manuver naik, dan kekuatan senapannya. Meskipun kemenangan awalnya diperoleh atas para pilot pemberani yang menggunakan pesawat yang kalah canggih, namun keberhasilan Jagdstaffel disambut dengan suka cita di Jerman. Komandan udara memberikan masing-masing pilot yang telah berhasil menembak pesawat musuh sebuah piala perak bertuliskan nama mereka, piala dengan desain Jerman kuno. Kemudian para pilot Jagdstaffel tersebut merayakan kemenangannya dengan minum anggur merah buatan Perancis. Dan tidak tak heran jika diadakan pesta tarian sepatu, yang diwarnai dengan denting gelas dan tarian khas Jerman yang memadukan gerakan tangan dari dua orang penari seperti orang yang akan berpelukan.

Hadiah dari komandannya itu telah memicu keinginan Richthofen. Ia bertekad untuk mengumpulkan piala dari masing-masing kemenangan yang diraihnya — begitu yakin sehingga melupakan resikonya. Seorang perajin perak Berlin terus-menerus menerima pesanan piala perak setinggi 2 inchi, berlapis emas dan ditulisi dengan nomor seri yang menunjukkan jumlah kemenangannya serta jumlah korban, dan tanggal pertempurann. Ini menciptakan kompetisi egoistis di dalam pikiran Richthofen, yang mendorongnya untuk menambah daftar kemenangannya.

Tindakan seperti ini sulit dibayangkan. Orang Inggris akan merasa muak dengan tindakan ini. Memberikan trofi atas kehancuran hidup seseorang dalam sebuah tugas militer dengan menembaki pesawat lawan menurut pandangan Inggris adalah suatu tindakan keji.

Untuk memahami sikap Richthofen itu kita harus tahu bahwa ia adalah seorang Prussia yang terabaikan. Ia biasa melakukan perburuan dan suka menembak. Ia melakukan pembunuhan untuk olahraga, seperti menembak binatang liar dan menganggap hal itu adalah suatu prestise. Kebiasaan tersebut membentuk sikap mental saat ia menjadi pilot, ketika menembak pesawat lawan serta korbannya dijadikan sebagai sebuah permainan yang menghasilkan trofi untuk dirayakan, meskipun ia harus membeli sendiri emblem untuk sukses perburuannya. Tak ada pilot tempur lain yang memiliki sifat egois dan jahat sepertinya yang bahkan tidak mempunyai rasa belas kasihan. Ia bukanlah instrumen militer yang efisien untuk menghancurkan musuh-musuh negaranya jika dibandingkan dengan pemburu binatang liar di hutan. Saya rasa Richthofen tidak bisa membedakan antara binatang liar dengan seorang penerbang, kecuali secara fisik. Motif perburuan baginya dalam dua hal tersebut sama — yaitu untuk menunjukkan kekuatannya. Sebagian besar pilot Inggris, Perancis, dan Jerman meninggalkan keganasannya saat di darat, kecuali Richthofen.

Ia dilahirkan di Breslau pada tanggal 2 Mei 1892 dan meninggal di dekat Amiens, Perancis pada tanggal 21 April 1918. Ia memperoleh gelar keluarga dari abad ke-17, leluhurnya adalah tokoh politik sayap kanan, pemilik tanah, dan pemburu di hutan. Manfred berambut pirang dan berpenampilan menarik, bertubuh ramping dan tingginya sedang. Pada masa Perang Dunia I ia adalah seorang pahlawan Jerman. Fotonya yang tampan dengan sosoknya yang tegap banyak diburu oleh para wanita.

Dia sekolah ia kurang cemerlang dalam pelajaran, namun ia pandai dalam bidang atletik dan gymnasium. Ayahnya menyekolahkannya ke sekolah kadet militer. Setelah delapan tahun di sana ia ditempatkan di Resimen Pertama di Uhlans pada usia dua puluh tahun. Kehidupan di kavaleri sangat menyenangkan, karena setelah usai bertugas mereka selalu merayakannya dengan pesta. Suatu malam tanggal 2 Agustus 1914 Richthofen dan teman-temannya ditugaskan bergerak ke garis depan menuju Rusia. Perang telah dimulai. Tak lama kemudian ia dipindahkan ke Belgia untuk menghadang kavaleri Perancis. Ia menulis surat kepada ibunya bahwa ia ingin memenangkan penghargaan Iron Cross. Penghargaan selalu menjadi impiannya sejak awal perang. Satu hal yang ia takutkan adalah bahwa kakaknya, Lothar, bisa lebih baik darinya. Dengan tergesa-gesa ia memimpin pasukannya ke medan pertempuran, dan ia mengalami kekalahan hingga 70 persen. Ia pun menyalahkan dirinya sendiri, karena terlalu percaya diri. Setelah parit perlindungan dibuat, resimennya ditarik ke sana di front pertempuran Perancis di dekat Verdun. Menjelang akhir tahun 1914 ia menerima penghargaan Iron Cross setelah menjalani pertempuran yang hebat. Ia merasa bangga karena itu adalah penghargaan Iron Cross pertama dalam keluarganya.

Pada tahun 1915 ia ditunjuk menjadi perwira staf brigade dan beberapa bulan kemudian dikirim untuk bertugas di bagian persediaan. Ini tidak sesuai dengan semangat berburunya. Ia kemudian dipindahkan ke angkatan udara. Pada akhir bulan Mei ia mendapat pelatihan singkat sebagai pilot di Cologne, dan kemudian diberangkatkan ke Rusia. Setelah berpetualang dalam beberapa kali penerbangan melawan pesawat musuh ataupun tentara di darat, ia ditempatkan di pesawat pembom bermesin ganda di Ostend. Ia senang sekali melihat bomnya meledak. Suatu kali, saat memberi tanda agar pesawat temannya menyingkir agar ia bisa melihat ledakannya, ia mengeluarkan tangan kirinya sehingga jarinya putus akibat terkena baling-baling.

Pada bulan Oktober 1915, setelah mendapat senapan mesin baru ia berhasil menembak jatuh sebuah pesawat Farman kursi ganda milik Perancis. Pada bulan yang sama ia terbang sebagai siswa pilot di Döberitz, dekat Berlin, dan pesawatnya menabrak saat melakukan pendaratan solo. Richthofen yang penunggang kuda tidak memahami seluk beluk mesin serta cara kerjanya. Ia dua kali gagal dalam ujian, namun pada akhir Desember 1915 ia berhasil lulus dalam ujiannya yang ketiga.

Setelah tiga bulan penerbangan di Jerman dan mendapatkan pengetahuan teknik di pabrik pesawat Fokker di Jerman, ia ditempatkan di front pertempuran Verdun. Namun pesawat Albatross kursi gandanya yang berasal dari Skadron Tempur Kedua hanya dilengkapi dengan senapan mesin yang cocok untuk pengintaian. Ini kurang sesuai untuk Richthofen. Ia kemudian memasang senapan tambahan di atas sayap untuk menembak. Pada tanggal 26 April 1916 ia menyerang pesawat Perancis jenis Nieuport kursi ganda. Dari jarak 60 yar Richthofen menembakinya. Pesawat Nieuport itu pun mulai kehilangan kendali dan para kru pesawat Jerman menyaksikannya jatuh ke sebuah hutan. Namun pejabat Militer Jerman tidak memberikan penghargaan atas tertembaknya pesawat ini karena jatuh di luar garis pertahanan. Inilah sebabnya mengapa para pilot tempur Jerman selalu menunggu kesempatan untuk bertempur di garis pertahanan mereka sendiri, sedangkan para pilot Inggris selalu masuk ke garis pertahanan Jerman untuk menyerang.

Skadron ini menerima satu atau dua pesawat Fokker kursi tunggal dan Richthofen dipercaya untuk menerbangkannya. Namun setelah ia mengalami kecelakaan saat melakukan pendaratan ia kemudian dipindahkan untuk menerbangkan pesawat kursi ganda di front Timur. Ini menyelamatkan dirinya dari resiko ditempatkan di Korps Terbang Kerajaan Inggris yang terlibat pertempuran di Somme. Di Rusia ia dikenal sebagai pilot pembom. Hampir semua kecelakaan yang dialaminya disebabkan oleh kerusakan mesin. Ia suka membom kereta api dan perkampungan di kota, terutama jembatan penyeberangan Cossacks. Selanjutnya Boelcke datang ke Kovel untuk mengunjungi saudara laki-lakinya, bertemu dengan Richthofen, dan mengajaknya kembali bergabung dengan Skadron Tempur Pertama Jerman, Jagdstaffel yang baru.

Dalam enam minggu pertama operasinya, Jagdstaffel kehilangan sembilan orang pilot — enam meninggal, satu terluka, dan dua lainnya koma. Boelcke meninggal, akibat tabrakan dengan pesawat Albatross lainnya saat bertempur. Richthofen, satu diantara tiga orang yang selamat kemudian diberi tugas untuk memimpin skadron yang diberi nama baru Boelcke Jagdstaffel. Tak lama kemudian ia meraih tujuh kemenangan. Ia mengajarkan pada para pilotnya untuk menggunakan taktik formasi yang lebih baik dalam setiap pertempuran.

Pada tanggal 9 November 1916, sebuah formasi pesawat Inggris yang terdiri dari 16 pesawat pembom F.E.2B yang dikawal oleh 14 pesawat tempur melakukan serangan terhadap sebuah gudang amunisi di daerah Vraumont. Di dekatnya terdapat kantor milik Duke of Saxe-Coburg Gotha, yang merupakan kerabat Keluarga Kerajaan Inggris. Richthofen, yang memimpin enam pesawat Albatross, menyerang pesawat-pesawat pembom tersebut. Beberapa formasi pesawat Jerman lainnya ikut bergabung. Empat pesawat Inggris dan tiga pesawat Jerman hancur dalam pertempuran tersebut, dan Richthofen menembak jatuh korban ke delapannya di dekat pangkalan udara Lagnicourt. Saat mendarat untuk melihat pesawat yang jatuh, Richthofen bertemu dengan para staf perwira yang sedang berpesta. Ia pun diajak menemui Duke yang malam harinya memberikan bintang kehormatan Gotha padanya. Dua hari kemudian Richthofen juga menerima Tanda Jasa House of Hohenzollern. Sejak saat itu ia juga mendambakan penghargaan Pour le Mérite, seperti yang diterima oleh Immelmann dan Boelcke.

Sebelas hari kemudian ia menembak jatuh dua pesawat tempur sekaligus dalam sehari. Ia meminta agar penghargaan untuknya yang kesepuluh dibuat lebih besar dari yang sebelumnya, dan begitu pula untuk penghargaan selanjutnya.

Mungkin pertempuran terbesar dalam hidupnya adalah ketika bertemu dengan Mayor L. G. Hawker. L. G. Hawker setahun lebih tua dari Richthofen . Ia adalah seorang perwira di kesatuan tentara Inggris. Dunia penerbangan sangat menarik bagi Hawker, bahkan sejak sebelum perang. Ia memperoleh sertifikat terbang Aero Club No. 435 pada tanggal 4 Maret 1913 dengan sebuah pesawat Deperdussin di Hendon. Pada bulan Oktober 1914 Central Flying School di Upavon melepasnya untuk bergabung dengan skadron No. 6. Tanggal 16 Oktober berikutnya ia terbang ke Perancis, dan menjadi skadron pertama Pasukan Ekspedisi Inggris. Ia sangat menonjol dengan keberaniannya. Pada tanggal 19 April 1915, ia membombardir gudang pesawat Gontrode. Dengan memanfaatkan balon udara Jerman sebagai pelindung terhadap tembakan dari darat, ia turun hingga 200 kaki untuk memastikan sasaran yang tepat. Untuk ini ia diberi penghargaan Tanda Jasa Bakti Kehormatan. Pada tanggal 25 Juli 1915, dengan menggunakan pesawat Bristol Scout, ia menghadapi tiga pesawat tempur Jerman yang dilengkapi senapan mesin. Sendirian ia menyerang. Satu pesawat melarikan diri, satu pesawat rusak, dan pesawat ketiga tertembak jatuh di garis pertahanan Inggris dengan krunya yang tewas. Ini merupakan pertempuran besar pertama dalam perang tersebut, dan Hawker menerima penghargaan Lencana Victoria.

Pada tanggal 23 November 1916, Hawker memimpin tiga pesawat tempur D.H2 kursi tunggal, yang dilengkapi dengan senapan mesin Lewis. Hawker melihat pesawat Albatross milik Richthofen di bawahnya dan berusaha mendekati kanone Jerman tersebut. Namun sebelum Hawker menembak buruannya segera lenyap dari penglihatannya. Hawker kehilangan kesempatan. Sekarang kedua pesawat saling berputar mengejar, seperti sebuah adegan sirkus. Dalam manuver ini sang pilot Inggris melambaikan tangan ke arah lawannya. Bagaimana Hawker tahu bahwa ia berhadapan dengan pesawat yang lebih canggih dari angkatan udara Jerman?

Sementara itu angin barat telah membawa mereka masuk jauh ke dalam garis pertahanan Jerman, dan selama kejar-mengejar ini mereka telah kehilangan ketinggian hingga 6.000 kaki. Namun pesawat Richthofen lebih cepat dan lebih kuat, sehingga akhirnya ia berada di atas pesawat D.H.2. Kedua pilot masih terus berputar di ketinggian sekitar 3.000 kaki dari permukaan tanah saat Richthofen berada di atas angin. Namun ia tidak ada tembakan lagi setelah Hawker menembak terlebih dahulu.

Dengan pesawat Albatross di atasnya, posisi Hawker kurang menguntungkan. Ia bisa dipaksa mendarat di daerah teritorial Jerman. Satu-satunya alternatif baginya adalah mencoba lolos dan lari. Ia mencari akal, dan berbelok dengan cepat untuk mengelabui Richthofen. Namun sang pilot Jerman ini cukup berpengalaman dan ia pun bermanuver untuk memperbaiki posisi taktisnya. Ia kemudian memuntahkan peluru ke arah pesawat D.H.2 itu. Kedua pesawat berada di ketinggian 300 kaki saat Hawker mencoba menghindari peluru dengan terbang zig-zag. Richthofen berada 150 kaki di belakangnya. Mereka semakin turun hingga 100 kaki. Richthofen mendekat hingga 90 kaki. Dan lawannya kembali dihujani peluru. Satu peluru mengenai kepala Hawker. Pesawat D.H.2. pun oleng dan jatuh ke tanah. Senapan mesin Lewis pada pesawat itu kemudian diambil oleh Richthofen sebagai dekorasi kamar tidurnya di rumah keluarganya di Schweidnitz, Silesia, dimana banyak terdapat hiasan tubuh binatang dari hasil buruan keluarganya.

Hawker adalah korban Richthofen yang ke sebelas. Pada tanggal 4 Januari 1917, korbannya yang ke enambelas jatuh. Ia pun menjadi penerbang tempur terbaik Jerman. Dari Kaisar Wilhelm II ia menerima bintang Ordre Pour le Mérite serta Lencana Perang Austria dari kaisar Francis Joseph.

Mulai saat itu warna digunakan untuk mengkamuflasekan pesawat-pesawat tempur Jerman. Namun Richthofen justru meminta pesawatnya dicat dengan warna merah. Pilot bawahannya menjawab bahwa ini akan menyebabkan pesawat terlihat mencolok dan menjadi target serangan pesawat Sekutu. Mereka meminta semua pesawat dicat merah agar tidak terlalu mencolok. Richthofen setuju namun meminta agar setiap pesawat memiliki ciri yang berbeda seperti ekor yang berwarna putih, hitam, kuning, atau biru. Selanjutnya seluruh pesawat di skadron tersebut dicat dengan warna merah dan ekor berwarna-warni. Sedangkan pesawat Richthofen sendiri seluruhnya merah.

Pada pertengahan Januari 1917 Richthofen menerima perintah untuk memimpin Jagdstaffel No. 11. Berpusat di pangkalan udara Douai, Jasta (singkatan dari Jagdstaffel) biasanya beroperasi antara Lens dan Ypres, namun kadang sampai ke Somme. Selama itu belum ada satu pun pesawat musuh yang menjadi korban. Richthofen memiliki skadronnya sendiri, dan Boelcke Jasta melakukan tugasnya sendiri.

Pesawat Albatross D.III yang menggunakan mesin Mercedes berkekuatan 200 tenaga kuda menjadi pesawat tempur tercepat di dunia. Dengan pesawat ini Richthofen memimpin formasinya dengan Jasta 11 dalam pertempuran tanggal 23 Januari. Di dekat Lens dua pesawat Artileri Inggris sedang beroperasi didukung pesawat pengawal dari skadron No. 40 R.F.C. Richthofen menyerang pesawat tersebut dan merontokkan sebuah pesawat jenis F.E.8 kursi tunggal. Sehari kemudian ia menembak jatuh sebuah pesawat F.E.2B kursi ganda.

Taktik Baron Merah adalah perpaduan dari keberanian dan kewaspadaan. Sebisa mungkin ia mencari pesawat musuh yang kalah canggih untuk diserang, atau jika tak ada alternatif lain baru ia akan menghadapi lawan yang sebanding. Dalam menghitung jumlah kemenangannya Richthofen mengesampingkan kualitas pesawat lawan yang ditaklukkannya. Ia menjelaskan kepada para pilot di skadron barunya bahwa yang terpenting bagi mereka adalah mengetahui kualitas pesawat mereka sendiri. Selain itu mereka harus mengenali tipe pesawat musuh dan kelemahannya. Richthofen juga menjelaskan bagaimana cara untuk menembak pesawat F.E. dari belakang dan dari bawah karena dari arah tersebut musuh tidak dapat menembak. Dengan mengandalkan kecerdikan para pilot mereka tidak perlu memikirkan ketangkasan sebagai seorang pilot ataupun kemampuannya sebagai penembak. Dengan kekuatan ini ia terus melakukan serangan dan menembak jatuh pesawat musuh, membunuh pilotnya, atau menghancurkannya di udara.

Pada tanggal 9 Maret 1917 Richthofen tertembak saat terbang dengan pesawat Albatross. Ia mencium bau bahan bakar pesawatnya. Pesawat pun mulai melambat. Ia kemudian mendarat dan mematikan mesin pesawatnya. Ia memeriksa dua tangki bahan bakarnya yang telah kering dan berlubang akibat tembakan, dan mesinnya pun rusak terkena peluru. Beruntung pesawatnya tidak terbakar dan ia tidak terluka sedikit pun. Bahkan pesawat Albatrossnya juga tidak mengalami kerusakan saat pendaratan. Ia segera kembali ke mess terdekat.

Promosi untuk menjadi perwira dalam Militer Jerman terlalu lama. Meskipun Richthofen telah dipromosikan enam bulan sebelumnya, ia baru diangkat menjadi letnan satu pada tanggal 22 Maret 1917. Tiga hari kemudian kakaknya, Lothar terbang bersamanya setelah bergabung dengan skadronnya. Richthofen mengajari kakaknya bagaimana cara bertempur di udara, memanfaatkan matahari untuk mengecoh lawan dan mendeteksi angin dan tempat pertempuran yang sesuai sehingga apabila tertembak bisa mendarat di tempat yang aman. Bagaimana caranya agar musuh yang tertembak pilotnya dapat ditawan apabila masih hidup dan jika tewas dapat diidentifikasi. Richthofen sendiri jarang terbang di daerah lawan. Dari 80 kemenangan yang diraihnya hanya empat pesawat yang jatuh di garis pertahanan Inggris.

Bulan April 1917 adalah bulan strategi Jerman untuk mundur ke daerah Hindenburg serta penyerangan Inggris terhadap Vimy Ridge dan Scarpe. Korps Terbang Kerajaan Inggris terus menekan dan menembus pertahanan Jerman untuk mencari informasi, foto, target artileri, sekaligus melakukan serangan. Mereka tidak tahu bahwa pesawat tempur Jerman Albatross dan Halberstadt lebih unggul dibandingkan pesawat Inggris yang lama tidak diperbaharui. Tanpa kebijakan ofensif Inggris ini mungkin akan jarang sekali terjadi pertempuran udara. Namun ini sesuai dengan taktik Richthofen, yaitu menemukan pesawat lawan yang jauh lebih lemah. Bulan April 1917 adalah bulan kemenangannya. Dalam waktu 30 hari ia berhasil merontokkan 21 pesawat Inggris, 17 diantaranya adalah pesawat kursi-ganda. Dalam tiga hari lainnya ia menembak jatuh dua pesawat, lalu tiga pesawat dalam sehari, dan di hari lain empat pesawat. Pada pertengahan April Richthofen berhasil melampaui rekor Boelcke dan menjadi pilot tempur Jerman terbesar. Menjelang akhir bulan itu ia menerima ucapan selamat dari Kaisarnya setelah menembak jatuh 50 pesawat lawan. Manfred meninggalkan skadron pada tanggal 1 Mei, untuk memberi kesempatan Lothar memimpin Jasta 11, karena rekornya kalah dibandingkan para pilot lain di skadron tersebut.

Manfred pergi dengan menumpang sebuah pesawat kursi ganda. Saat mendarat di Cologne ia merasa aneh menerima banyak bunga dari para gadis yang menyanjungnya sebagai pahlawan. Ia kemudian terbang menuju Markas Besar Militer untuk menemui Jenderal von Hoeppner, pimpinan tertinggi Angkatan Udara Jerman. Hari berikutnya ia diterima oleh Jenderal Feld Marschal von Hindenburg, bertemu dengan Jenderal von Ludendorff, serta dijamu oleh Kaisar dan Hindenburg. Pada tanggal 3 Mei ia diterima oleh istri Kaisar yang memberinya emas dan kotak rokok pualam putih yang bertuliskan namanya. Namun pesta dan kemegahan tidak menarik baginya, dan ia pun minta ijin untuk pergi berburu ke sebuah hutan di dekat Freiburg. Kemenangan dalam berburu lebih baik baginya dibandingkan dengan kemenangan di istana. Prince of Pless lalu mengundangnya untuk berburu bison dan ia pun berhasil membunuh seekor banteng besar. Sementara itu terdengar kabar bahwa kakaknya Lothar tertembak jatuh dan luka di bagian pinggulnya dalam sebuah pertempuran udara dengan Albert Ball, sedangkan Ball sendiri tewas.

Beberapa skadron di Korps Terbang Kerajaan Inggris mulai dilengkapi dengan pesawat-pesawat tempur yang lebih baik. Pada pertempuran Messines di awal bulan Juni sejumlah pesawat tempur Inggris melindungi zona pertempuran darat dari udara. Tak satu pun pesawat tempur Jerman yang bisa mendekati pasukan Inggris. Keberangkatan Manfred dibatalkan. Ia melapor kepada von Hoeppner pada tanggal 10 Juni, dan kembali dijamu oleh Kaisar, dimana Raja Bulgaria yang menjadi tamu kerajaan menyematkan lencana Bintang Keberanian yang merupakan penghargaan tertinggi Bulgaria kepada Richthoven. Pada tanggal 14 Juni ia kembali ke medan pertempuran dengan memimpin Jasta 11.

Untuk menghadapi strategi menyerang yang diterapkan oleh Inggris angkatan udara Jerman mengembangkan Jagdsgeschwadern atau resimen tempur udara, yang terdiri dari 4 staffeln dan berkapasitas 48 pesawat tempur. Formasi ini bergerak ke medan pertempuran sewaktu-watu diperlukan. Mereka siap untuk beroperasi sekitar pertengahan Juli. Korps Terbang Kerajaan Inggris memperbesar formasi tempurnya untuk menghadapi ancaman Jerman tersebut.

Pangkalan udara Inggris salah satunya terdapat di St. Marie Cappel, dekat Bailleul. Di sana ditempatkan dua skadron, yaitu skadron No. 20 dengan pesawat F.E.2D kursi ganda dan skadron No. 45 dengan pesawat pengintai Sopwith 1 ½ -Strutter kursi ganda. Dua skadron ini ditempatkan untuk menandingi staffeln Richthoven. Kedua skadron ini mengalami kekalahan besar namun tak pernah berhenti menekan dengan membawa foto-foto yang efektif dan informasi penting.

Dalam pertempuran sengit yang berlangsung tiga minggu skadron 45 kehilangan sebagian besar pilotnya. Ini merupakan harga yang harus dibayar oleh strategi ofensif Inggris melawan pertahanan pesawat tempur Jerman yang terorganisir dan lebih cepat dibandingkan dengan pesawat-pesawat Sopwith dan F.E. Dalam pertempuran ini pesawat-pesawat merah Jerman selalu mematahkan formasi pesawat tempur Inggris. Senapan mesin Lewis dan Vickers harus melawan senapan Spandau Jerman yang lebih besar. Kadang beberapa pesawat Jerman berhasil ditembak jatuh. Tetapi yang paling sering adalah pesawat-pesawat Sopwith Inggris yang tertembak di bagian ekor, sayap, atau tangki bahan bakarnya yang membuatnya jatuh terbakar. Pesawat jenis F.E.2D lebih tangguh dibandingkan Sopwith. Pesawat ini dapat menembak dengan dua senapan sekaligus, salah satunya dari senjata jenis Scarff yang dapat berputar dan satunya lagi dipasang di bagian luar pesawat. Senapan ketiga dapat ditembakkan dari bagian atas pesawat namun jangkauan tembakannya terbatas. Cara yang dipakai oleh pesawat F.E.2D untuk menyerang adalah dengan menembakkan kedua senjata sekaligus dengan kecepatan penuh. Pesawat Sopwith dengan satu senapan mempunyai keterbatasan karena hanya bisa menembak dari belakang. Taktik penyerangan yang digunakan oleh skadron No. 20 kemudian diubah dari formasi Vee menjadi formasi terbang berputar dimana setiap pesawat saling melindungi pesawat temannya. Dan formasi ini ternyata cocok untuk skadron No. 20. Satu kombinasi antara pilot dan co-pilot, yaitu Kapten F.H. Thayre dan F.R. Cubbon berhasil menembak jatuh 20 pesawat musuh dalam pertempuran udara sehingga masing-masing mendapatkan penghargaan Lencana Bintang Militer.

Pada tanggal 6 Juli 1917 Richthoven dan skadron Jastanya menyerang skadron No 20 dengan gemilang di dekat perbatasan Jerman. Richthoven kesulitan mendapatkan posisi ideal untuk menyerang, yaitu di belakang ekor pesawat F.E. Ini cukup menyulitkan bagi Richthoven. Skadron No. 20 kehilangan dua pesawat F.E., dan lainnya pulang dalam keadaan terluka. Namun tujuh pesawat lawan tertembak oleh pesawat F.E. yang terbang berputar. Salah satunya adalah pesawat Albatross Richthoven. Pesawat ini menyerang dari depan karena tidak ada alternatif lain. Pesawat F.E. menembak dengan kedua senapannya. Sementara itu pesawat Albatross mendekat dengan keempat senapannya memuntahkan peluru. Pada jarak 20 yar pesawat Albatross menukik jatuh di bawah pesawat F.E. Kapten D. C. Cunnell dan pendampingnya, Letnan Dua A. E. Woodbridge, tidak sempat memperhatikan pesawat Albatross yang jatuh. Mereka terkepung oleh pesawat-pesawat Albatross lain.

Manfred von Richthoven berada di pesawat Albatross merah yang jatuh di bawah pesawat F.E.2D. Salah satu peluru mengenai tulang tengkoraknya. Letusannya telah mempengaruhi syaraf sehingga membuatnya buta sementara. Jika ada pesawat Inggris yang mengikutinya mungkin ini akan menjadi akhir riwayat sang Baron Merah. Namun semua pesawat F.E. sedang sibuk mempertahankan diri dari kepungan pesawat Albatross, sebab saat itu skadron Jasta lainnya telah datang membantu. Richthoven telah jatuh sekitar dua mil saat ia kembali sadar. Pada ketinggian sekitar 500 kaki ia bisa melihat kembali. Karena tak tahu berada di mana ia terbang ke arah timur untuk memastikan ia mendekati wilayah Jerman. Ia tidak perlu khawatir karena ia tidak sedang berada di wilayah Inggris. Karena pandangannya mulai kabur lagi ia segera mendarat. Ia naik ke atas kokpit, jatuh ke tanah dan pingsan. Ia lalu dibawa dengan ambulan ke rumah sakit Courtrai.

Richthoven mulai bertugas kembali pada bulan Agustus 1917. Ia sekarang berpangkat kapten yang menjadi komandan dan membawahi empat atau lima Jasta DI bawah kepemimpinannya. Sebagian kepercayaan dirinya telah hilang, namun semangatnya sebagai seorang pemburu tidak pernah padam. Pada tanggal 16 Agustus ia menembak jatuh korbannya yang ke 58. Pada tanggal 2 September menerbangkan pesawat Fokker Triplane untuk pertama kalinya, dan berhasil merontokkan sebuah pesawat pengintai artileri R.E.8 yang tak terkalahkan (jenis pengganti pesawat B.E.2C) untuk kemenangannya yang ke 60. Ini merupakan kemenangan terakhirnya yang dirayakan dengan piala perak, sebab perekoomian Jerman tertekan oleh blokade Sekutu serta kerugian material di medan pertempuran. Perajin perak di Berlin memberitahu Richthoven bahwa ia tidak bisa lagi mendapatkan perak. Tidak ada lagi piala untuk dua puluh kemenangan Richthoven berikutnya.

Manfred von Richthoven kembali bertugas terlalu cepat padahal ia masih membutuhkan perawatan medis, dan dianjurkan untuk istirahat oleh dokternya. Pada awal september ia meninggalkan rumah sakit. Ia kembali ke fron pertempuran pada bulan November 1917 dan berhasil merontokkan dua pesawat Inggris menjelang Natal. Namun kemenangan besar di masa sebelumnya tinggal sejarah, karena pesawat Jerman tidak lagi terlalu unggul.

Pada bulan Januari 1918 Manfred kembali pergi. Ia mengunjungi Brest-Litovsk, untuk menyaksikan delegasi Rusia menandatangani perjanjian damai yang terpisah dengan Jerman, kemudian ia pergi berburu rusa ke hutan Polandia. Pada bulan Februari ia kembali ke Perancis untuk menyaksikan aktivitas penerbangan yang banyak menguntungkan Sekutu. Pada bulan Maret, Lothar yang telah pulih kembali bergabung dengan saudara laki-lakinya, namun pada pertengahan bulan itu ia tertembak jatuh dan mengalami luka parah. Manfred berhasil menyelamatkan kakaknya karena mengusir satu pesawat lawan dan menembak jatuh sebuah pesawat Sopwith Camel. Lothar dapat diselamatkan, setelah meraih 40 kemenangan, dan ia meninggal hanya karena kecelakaan pesawat pada tahun 1922.

Pada tanggal 21 Maret 1918, serangan darat Jerman terakhir dimulai setelah berlangsung antara tahun 1914-1918. Dengan dipimpin oleh Ludendorff, sasarannya adalah untuk mendesak pasukan Inggris ke pantai dan memecahnya menjadi dua bagian. Pasukan Inggris Kelima sangat terpukul dengan serangan tersebut dan segera melakukan balasan. Serangan udara semakin diintensifkan. Pada kemenangannya yang ke 70 Kaisar Jerman menganugerahkan kepada Richthoven penghargaan kelas 3 Bintang Elang Merah serta sebuah mahkota. Pada saat itu Manfred telah menembak jatuh lima pesawat tempur lagi dan pada hari yang sama pasukan staffelnya telah meraih kemenangannya yang ke 250. Pada tanggal 20 April Richthoven menembak jatuh dua buah pesawat Camel. Dengan demikian skornya menjadi 80.

“Sirkus” Jerman (julukan yang diberikan oleh Sekutu) terbang dengan 50 pesawat Fokker Triplane, Fokker D.VIII sayap ganda, dan D.V Albatross. Pangkalan udara Richthoven terletak di dekat perkampungan Cappy. Pada tanggal 21 April sebuah kelompok militer berkumpul di luar markasnya untuk merayakan kemenangannya yang ke 80. Manfred dijadwalkan tiba dalam waktu tiga hari. Namun pagi itu pukul 11.30 waktu Jerman ia harus memimpin Jasta 11 dengan lima pesawat dan diikuti oleh Jasta 5 dengan formasi yang sama.

Bersamaan dengan itu skadron No. 209 Royal Air Force tinggal landas dari pangkalannya di Bertangles, dengan 15 pesawat Camel yang dibagi menjadi tiga kali keberangkatan. Dua orang pilot kembali karena kerusakan kecil pada mesin. Dengan formasi Vee yang dipimpin oleh seorang komandan skadron, mereka menyerang dua buah pesawat Albatross yang mencoba mendekat. Kapten A. Roy Brown, seorang Kanada mengomandani delapan pesawat Camel yang tersisa. Ia telah dipromosikan menjadi kapten dan komandan tempur pada tanggal 1 April, hari jadi Korps Terbang Kerajaan Inggris dan Dinas Penerbangan Angkatan Laut Inggris (R.N.A.S.) yang bergabung menjadi Angkatan Udara Kerajaan Inggris. Sebelumnya ia bertugas di skadron No. 9 di R.N.A.S., yang kemudian menjadi skadron 209 R.A.F. Ia berhasil menembak jatuh 12 pesawat lawan dan dianugerahi Lencana Bakti Kehormatan. Ia adalah seorang yang sakit-sakitan, dan sering masuk rumah sakit. Namun ia terus bertempur.

Formasi Brown terbang pada ketinggian 12.000 kaki. Dua pesawat R.E.8 dari skadron No.3 (Korps Terbang Australia) berhasil mengambil gambar pesawat Jerman di dekat Hamel pada ketinggian 5.000 kaki di bawahnya. Empat pesawat Fokker Triplane Richthoven menghindari tembakan senapan anti-pesawat dari pesawat R.E. Inggris. Tembakan ke arah pesawat Jerman ini menarik perhatian Brown. Kemudian melihat gerakan dua pesawat merah Jerman tersebut hendak menyerang dua pesawat R.E.8. Ia lalu menggerakkan sayap pesawatnya sebagi isyarat datangnya serangan, lalu berbalik dengan cepat dan menukik ke arah pesawat Jerman itu. Kedua pesawat Fokker Jerman langsung meninggalkan pesawat R.E. dan berbalik menyongsong serangannya.

Delapan pesawat Camel dan sekitar 20 Fokker Triplane dan Albatross sekarang telah berbaur. Letnan F. J. W. Mellersh menembak ke arah pesawat merah yang berekor biru. Pesawat ini menukik secara vertikal. Mellersh mengikutinya turun. Pesawat itu mendarat. Dua pesawat Fokker mengikuti Mellersh, sambil menembak. Ia sempat berputar hingga 50 kaki dari permukaan tanah, lalu berbalik mengejar pesawat Fokker. Angin membawa pertempuran masuk ke wilayah Inggris pada ketinggian ribuan kaki. Kedua pesawat R.E. yang punya kesempatan untuk pulang kembali masuk ke Hamel dan mengambil sejumlah gambar. Letnan W. J. Mackenzie, meskipun terluka di bagian punggung, mengejar dengan pesawat Camel ke arah pesawat Fokker dan berhasil menembaknya hingga jatuh. Letnan Dua W. R. May, pilot Kanada yang baru pertama kali terlibat pertempuran, sempat bertarung dengan pesawat Fokker. Ia telah diperingatkan untuk pulang apabila menjumpai pertempuran udara. Sekarang Richthoven menembaki ekornya. Ia berhasil lolos.

Brown yang baru saja terlibat duel dengan pesawat Triplane dan Albatross, dari atas sempat melihat pesawat Camel terbang zig-zag ke tanah. Ia mencoba menyerang lawannya yang terkenal kejam. Brown menukik dan mengarahkan senapan mesin buatan Australia-nya. Dua senapan mesin Vickers tersebut berhasil melubangi sayap pesawat merah Jerman di bawahnya. Selanjutnya senapan Lewis menembaki pesawat Fokker itu dari jarak dekat. Ia merarik pelatuk senapan buatan Australia ini dan melihat peluru berhamburan menghantam ekor pesawat Fokker. Brown kemudian mengarahkan tembakannya ke badan pesawat dan kokpit. Pesawat itu pun mendarat perlahan dan diikuti oleh Brown dari ketinggian ratusan kaki. Sementara itu, May berhasil lolos dengan peluru bersarang di tangannya.

Pasukan infanteri menemukan tubuh Richthoven di pesawat Fokker Triplane yang tertembak jatuh. Penembak darat menyangka ia telah menembak pesawat Richthoven. Namun pemeriksaan medis menunjukkan bahwa Richthoven terbunuh oleh peluru dari pesawat Camel milik Brown, yang menembus dada kananya ke samping. Inilah yang membuat pesawatnya jatuh. Tubuhnya kemudian dibawa ke pangkalan udara Bertangles dan disemayamkan dengan kebesaran militer. Sehari kemudian ia dimakamkan di pekuburan dekat Bertangles. Hari berikutnya foto pemakamannya beserta sebuah pesan dijatuhkan ke pangkalan udara Cappy oleh seorang pilot Inggris:

Kepada KORPS TERBANG JERMAN

Rittmeister Baron Manfred von Richthoven telah

terbunuh dalam pertempuran udara pada tanggal 21 April 1918.

Ia telah dimakamkan dengan kehormatan militer.

Dari ANGKATAN UDARA KERAJAAN INGGRIS

Meskipun bertugas di Angkatan Udara Kerajaan Inggris, Roy Brown memperoleh tanda jasa dari angkatan laut dua bulan setelah pertempurannya dengan Richthoven. Dalam berbagai pujian disebutkan tanggal dan data pertempuran yang dimenangkannya, namun tidak disebutkan bahwa yang tertembak adalah Richthoven. Brown kemudian diberi penghargaan dengan gelar D.S.O.

Pada tanggal 19 November 1925, jenazah Manfred von Richthoven dibawa kembali ke Jerman dengan menggunakan kereta api. Jenazahnya disemayamkan dengan kebesaran di sebuah gereja di Berlin selama dua hari. Dalam sebuah pemakaman kebesaran Presiden von Hindenburg berbaris di belakang istri dan satu-satunya anak Richthoven yang selamat Bolke. Tubuhnya dimakamkan di pekuburan Marcy, dan sebelas bulan kemudian selubung batu yang bertuliskan nama pilot tempur terbesar Jerman dibuka.

Ketika pada tahun 1935 Angkatan Udara Jerman diperbaharui dengan nama Luftwaffe oleh Hitler, skadron tempur pertamanya diberi nama Richthoven Geschwader. Saat meninggalnya pun nama Manfred von Richthoven tetap mempunyai wibawa dan dikenal sebagai pemimpin para pilot tempur Jerman. Dan pada Perang Dunia I tak ada yang meragukan kebesarannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: