Beranda » Sejarah Militer » Perang Udara di Elsavador – 1

Perang Udara di Elsavador – 1

Kasihan bangsa yang mengenakan pakaian yang tidak ditenunnya, memakan roti dari gandum yang tidak ia panen, dan meminum anggur yang ia tidak memerasnya. Kasihan bangsa yang mengangkat orang dungu sebagai pahlawan, dan menganggap penindasan penjajahan sebagai hadiah.        Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan, tidak sesumbar kecuali di reruntuhan, dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya sudah berada di antara pedang dan landasan……     Kahlil Gibran

Kita tentunya cukup prihatin dengan banyaknya kerusuhan yang terjadi di negara kita akhir-akhir ini.    Keanekaragaman budaya yang telah lama menjadi pemanis dalam suasana persatuan dan kesatuan bangsa kita seakan terkoyak oleh hawa panas perpecahan yang datang membabi buta.  Nyawa manusia seakan-akan sudah bukan barang yang yang mahal bila perbedaan sudah datang.   Apakah kita tidak ingat bahwa perasaan senasib sepenanggungan yang telah lama di bina dan ditanamkan oleh nenek moyang kita, baru akan teruji pada saat semua pihak merasa tertekan, dan terusik harga dirinya. Pada saat inilah saat yang tepat untuk menunjukkan sikap dan jiwa besar bangsa kita.  Yah, sebuah perang saudara dalam dekade terakhir telah menjadi bahan kajian yang menarik untuk kita cermati, bahwa perang saudara apalagi sampai melibatkan pihak luar hanya akan menambah miskin dan menjadi awal kehancuran rakyat.   Mulai dari perang Korea, perang Vietnam, krisis teluk sampai perang di Amerika Tengah.   Bukankah sebelumnya mereka adalah saudara satu rumpun yang kemudian saling memberangus ?  Untuk itulah, pada kesempatan ini saya menghadirkan kembali perjalanan rakyat El Savador yang pernah saling bunuh, saling serang,  toh sekarang para gerilyawan dan pihak pemerintah yang saat perang sepertinya tidak punya peri kemanusiaan itupun sudah bisa bergandengan tangan. Namun kenapa perdamaian didapatkan setelah saudara-saudara mereka banyak yang terkapar di tanah ?  Perang sipil di El savador ini dianggap perang saudara terbesar dalam dekade terakhir ini, semoga akan menjadi pelajaran yang menarik bagi kita.

Perang sipil yang terjadi di El Savador dan berlangsung mulai tahun 1980 sampai 1992 adalah salah satu pemberontakan paling besar dan paling berdarah yang terjadi di era modern.   Selama 12 tahun pertempuran, diperkirakan 100.000 rakyat tewas.   Ini benar-benar korban yang sangat banyak dari suatu negara yang penduduknya hanya berjumlah 5 juta jiwa.   Perang di Elsavador memperlihatkan sebuah campur tangan Amerika dalam bentuk pemasokan peralatan militer dan bantuan ekonomi, penasehat militer, dan latihan-latihan.   Selama pertempuran berlangsung, Amerika telah mengucurkan 4,5 Miliar Dollar untuk bantuan ekonomi pada negara itu, dan 1 Miliar Dollar dalam bentuk peralatan militer.    Hampir ¼ dari bantuan militer Amerika tersebut ditujukan kepada Angkatan Udara El Savador, Salvadoran Air Force (SAF).   Banyak sekali buku dan media publikasi yang menceritakan pertempuran di El Savador dan keterlibatan Amerika dalam urusan ini.   Walaupun Angkatan Udara telah memainkan peran yang penting dalam konflik tersebut, namun belum ada publikasi yang telah disebarluaskan oleh media massa sebelum ini.   Atau pada intinya, tidak ada satupun buku yang yang secara spesifik telah menelaah peranan kekuatan udara dalam menyelesaikan pemberontakan tersebut.   Berdasarkan pertimbangan yang bisa didapatkan dari perang di El Savador tersebut, ternyata perang tersebut akan menjadi pelajaran yang berharga bagi Angkatan Bersenjata tentang penggunaan kekuatan udara untuk operasi penumpasan pemberontak.   Karena banyak sekali perbedaan bila kita memperhatikan literatur-literatur yang ada, apalagi  dengan inti kajian yang berlainan. Sehingga pada saat ini kita mempunyai sebuah wawasan yang baik tentang bagaimana melaksanakan pengerahan kekuatan udara untuk menumpas pemberontakan.   Dengan mengkaji setiap konflik bersenjata di luar negeri, kita bisa ambil faedahnya untuk mengembangkan doktrin dan taktik yang dimiliki Angkatan bersenjata kita.   Lalu kita bisa merasakan, apakah pola pengembangan Angkatan Bersenjata yang kita miliki sudah sesuai dengan ancaman dan tantangan yang ada.   Karena dengan situasi dan kondisi tanah air yang seperti sekarang, tidak menutup kemungkinan untuk pengerahan kekuatan senjata yang dimiliki ABRI. 

Mari kita menuju pada sebuah masa, yaitu tahun 1980, pada sebuah negeri yang bernama El Savador.   Sebuah negeri yang kenyang dengan pemberontakan.   Sebuah negara kecil, miskin, dengan kepadatan penduduk yang tinggi, didominasi kaum pemberontak dan diperintah oleh pemerintahan yang notabene adalah dinasti militer yang mempunyai rasa kemanusiaan yang kurang terhadap kaum sipil.   Angka kematian bayi juga tinggi, dan sejumlah tekanan ekonomi telah membuat ribuan penduduk menyeberang ke perbatasan Honduras untuk mencari pekerjaan ataupun mendapatkan tanah pertanian.   Beberapa kelompok revolusioner yang berorientasi pada faham Marxist telah terbentuk  di negara itu.   Dan pada tahun 1979, banyak sekali kejadian di negara itu yang menyulut terjadinya pemberontakan secara terbuka.  Suksesnya revolusi yang dilakukan oleh pemberontak Sandinista melawan rezim Somosa di Nicaragua pada tahun 1979 telah menambah keberanian para pejuang revolusioner di Amerika Tengah.   Jika sebuah rezim kuat dan suka menindas bisa dikalahkan dengan sebuah perjuangan dengan senjata yang seadanya, berarti pemerintahan kejam di El Savador pun bisa dikalahkan juga.   Ini mungkin pemikiran para gerilyawan di El Savador.   Sehingga pada bulan Oktober 1979 terjadi kudeta yang diprakarsai pihak militer.   Kudeta ini kemudian membentuk sebuah pemerintahan militer baru dan mengakibatkan kerusuhan dimana-mana.  

Pada saat itu, Angkatan Bersenjata telah terpecah dalam beberapa kelompok baru dan yang lain menjadi kelompok oposisi.   Sebagai akibat dari dari kekacauan dalam pemerintahan dan sisa-sisa rezim, perang gerilya mulai terjadi pada tahun 1980 dan kelompok-kelompok pemberontak mulai meleburkan diri menjadi satu aliansi besar dengan nama, Marxist Farabundo Marti National Liberation Front (FMLN), yang bertujuan untuk kudeta.  Sementara, kelompok-kelompk kecil lain masih banyak yang bertahan dengan identitas masing-masing.   Partai-partai dan kelompok sayap kanan termasuk yang ada dalam tubuh Angkatan bersenjata bereaksi dengan pemberontakan tersebut dengan serangkaian pembantaian kejam yang dijalankan oleh “death squads”, sebuah pasukan khusus yang sangat kejam.   Setiap orang yang dicurigai sebagai simpatisan sayap kiri akan di culik dan ditembak.   Lusinan pembunuhan yang dilakukan oleh kekuatan dan militer pro pemerintah dilakukan pada malam hari.   Diperkirakan 10.000 orang rakyat meninggal dalam operasi penculikan tersebut dalam tahun-tahun pertama perang.   Sehingga akibat dari penindasan rezim terhadap rakyat ataupun pendukung sayap kiri telah memaksa terjadinya kontak senjata secara terbuka dengan para gerilyawan.    Ketika tindak kekerasan meningkat, Pemerintah Amerika yang saat itu dipimpin Jimmy Carter merasa perlu untuk mengembargo pemasokan ekonomi dan senjata ke El Savador dengan alasan pelanggaran HAM.   Sebelum Januari 1991, pemberontak yang berjumlah 10.000 pasukan sudah bersiap-siap untuk menyerang.   Tujuan mereka adalah untuk menduduki El Savador dan menggulingkan pemerintahan lama.   Dengan pertimbangan, bahwa pemberontak akan segera berjaya, maka pemerintahan Carter mengubah kebijaksanaannya dengan mencabut embargo dan mengijinkan adanya bantuan senjata kepada pemerintah El Savador.   Perubahan sikap ini disebabkan oleh pertimbangan, bila pemerintah El Savador kalah, maka gerilyawan di negara lain pun akan ikut-kutan melaksanakan kudeta.   Revolusi yang terjadi di Nicaragua telah memicu pemberontakan di El Savador.   Semua negara di Amerika Tengah seperti ketakutan akan terkena “effek domino”, jatuh satu jatuh semuanya.  Dan Amerika saat itu tidak mau Amerika Tengah akan collapse karena banyaknya revolusi.   Karena jika El Savador jatuh di tangan revolusioner, maka Guatemala dan Honduras pun akan di goyang pemberontak.

Pemberontakan di El Savador mendapatkan tempat yang khusus karena kekuatannya yang besar, namun belum mendapatkan kejayaan di awal tahun 1981.   Pemerintahan Carter yang diikuti pemerintahan Reagan mempunyai kebijaksanaan untuk ikut campur dalam krisis tersebut, dengan maksud untuk mencegah berkembangnya faham komunis Marxist di wilayah itu.   Sehingga untuk tujuan politik luar negerinya, Pemerintahan Reagan berkeputusan membantu pemerintah El Savador untuk mengalahkan pemberotakan yang terjadi di negara tersebut.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: