Beranda » Penerbang Terbesar Sepanjang Sejarah » 12. Señor Don Juan de la Cierva

12. Señor Don Juan de la Cierva

BAPAK PENERBANG SAYAP ROTOR

ORANG CINA telah menerbangkan layang-layang selama ratusan tahun. Mereka juga memiliki mainan terbang lainnya, yaitu baling-baling yang diputar pada batang kayu. Saat diputar pada porosnya baling-baling akan terbang karena karena rotasinya. Barangkali ini merupakan awal dari semua teknik terbang dengan sayap rotor. Ini setara dengan teknik terbang menggunakan sayap tetap. Leonardo da Vinci telah membuat sketsa sebuah helikopter 500 tahun yang lalu.

Banyak usaha yang dilakukan untuk membuat helikopter, beberapa diantaranya menggunakan mesin yang dipasang pada sayap rotor, dan juga mesin yang menggerakkan sayap lewat tangkai sayap. Beberapa diantaranya menggunakan sayap rotor yang terdapat pada kedua ujung badan heli, seperti pada helikopter Bristol 173, Piasecki dan heli-heli lainnya. Jenis helikopter lain menggunakan baling-baling yang dipasang diatas baling-baling lainnya dengan putaran yang berlawanan. Namun diantara mesin ini tak satupun yang memiliki kontrol bagus. Tidak ada satupun yang menyerupai gambaran Jules Verne dalam Clipper of the Clouds, dengan bentuk menyerupai kapal dan memiliki baling-baling.

Semua helikopter pada saat itu tidak stabil, dan ini menyebabkan kerugian keuangan yang besar. Pada  tahun 1924 Departemen Penerbangan Inggris menawarkan hadiah besar untuk pesawat bertenaga sayap rotor, namun tak satupun yang mengikuti kompetisi ini. Pembuatan helikopter di Farnborough pun dihentikan sebelum berhasil diterbangkan.

Sementara itu, seorang insinyur meneliti persoalan ini di Spanyol. Juan de la Cierva dilahirkan pada tanggal 21 September 1895. Ia berpendidikan insinyur. Sejak usia dini perhatiannya terfokus pada dunia aeronautika. Ia mencoba membuat dua buah pesawat layang saat masih berusia 15 tahun, dan setahun kemudian ia membuat pesawat utuh yang diterbangkannya sendiri. Pada tahun 1918 ia membuat pesawat pembom bermesin tiga dengan desain yang bagus, namun pada bulan Mei 1919 pesawat tersebut jatuh dan hancur.

Desainnya tidak sepenuhnya helikopter utuh yang digerakkan oleh sayap rotor. Namun, Cierva menggunakan badan pesawat biasa dengan mesin yang menggerakkan baling-baling di hidung pesawat. Sedangkan di bagian sayap utama ia menggantikannya dengan sayap kecil di atas badan heli. Baling-baling ini bebas bergerak seperti kincir angin dan tergantung pada gerakan pesawat yang ditarik dengan baling-baling depannya.

Cierva melakukan uji terbang sendiri. Ia sering jatuh ketika baru saja mulai terbang. Ia memperhatikan bahwa setiap kecelakaan yang ia alami polanya selalu sama. Pesawat selalu jatuh pada sisi yang sama saat kecelakaan.

Ia menyimpulkan bahwa baling-baling justru menambah beban pesawat saat bergerak ke depan dan condong ke belakang saat bergerak di sisi lainnya, sehingga beban yang tidak seimbang ini menyebabkan pesawat oleng ke satu sisi.

Pada awal tahun 1922 ia menemukan solusi untuk masalah ini, yang juga dialami oleh eksperimenter lain yang membuat helikopter. Sampai saat itu, mereka semua menggunakan (termasuk Cierva) baling-baling tetap untuk helikopter. Kemudian Cierva memasang engsel pada pangkal baling-baling sehingga dapat naik dan turun. Saat bergerak ke depan baling-baling terangkat naik. Saat bergerak turun posisi baling-baling menjadi horisontal kembali. Selain menambah daya dorong, baling-baling berengsel juga menambah rentang ketika turun, dan sekaligus menyeimbangkan gerakan naik helikopter. Dengan cara yang sederhana ini Cierva memecahkan persoalan yang dihadapi oleh para eksperimenter sebelumnya. Selanjutnya ia bisa menerbangkan helikopternya dengan mudah, dan mendarat secara perlahan menggunakan kombinasi mesin dan baling-baling sayap tetap.

Ketika berita tersebar sampai ke Inggris bahwa seorang insinyur muda Spanyol berhasil menerbangkan pesawat bersayap rotor, berita ini diragukan. Namun direktur riset Departemen Penerbangan Inggris mengundang Cierva untuk membawa pesawatnya ke Inggris dan mendemonstrasikannya di Farnborough.

Cierva tidak menyebut pesawatnya helikopter, namun Autogiro, karena tidak menggunakan tenaga rotor untuk mengangkat pesawat. Pesawatnya menjadi pesawat bersayap rotor pertama di dunia. Model yang ia bawa ke Inggris digunakan pada badan pesawat Avro 504, mungkin karena murah dan jumlahnya banyak. Pada awalnya pesawat membutuhkan waktu lama untuk dapat tinggal landas, karena harus menunggu putaran rotor tertentu sebelum Autogiro dapat naik. Namun pesawat dapat turun hampir secara vertikal dan meluncur turun pada kecepatan rendah.

Juan de la Cierva kemudian menetap di Inggris dan mengembangkan karyanya di sana. Ia terus-menerus memperbaiki pesawatnya, pertama-tama dengan memperbaiki mesin penggerak rotor agar mencapai putaran tertentu saat berada di darat. Ini memungkinkan pesawat dapat langsung tinggal landas tanpa gerakan ke depan terlebih dahulu. Kemudian ia merancang baling-baling yang dapat diatur pada sudut yang rata, namun dengan gerakan mesin yang cepat. Begitu kopling dilepas rotor akan berfungsi sebagai sudut pengangkat dan Autogiro naik secara vertikal ke udara pada ketinggian 12 sampai 30 kaki, sehingga dapat tinggal landas dari tempat yang sangat sempit. Model ini dijuluki dengan nama “giro loncat.”

Badan pesawat Autogiro juga didesain ulang. Pesawat ini tidak membutuhkan badan Avro 504 yang panjang, sehingga kemudian diganti dengan badan yang pendek dan sayap bulat dengan sirip dan kemudi di belakang. Pengendalian dilakukan dengan memiringkan kepala rotor, sehingga kontrol seperti pada pesawat biasa tidak dibutuhkan lagi pada Autogiro.

Tidak diragukan lagi bahwa Cierva merupakan pelopor penerbangan dengan sayap rotor, yang telah membuka jalan bagi sukses penerbangan helikopter setelah dua puluh tahun munculnya pesawat Autogiro yang pertama. Namun Cierva adalah orang yang sederhana dan menyenangkan. Ia tidak pernah menilai karya besarnya secara finansial. Pesawat Autogiro digunakan oleh AU Inggris, namun dalam jumlah terbatas. Pesawat ini tidak digunakan secara luas dalam penerbangan sipil di Inggris. Di AS pesawat ini digunakan untuk penerbangan sipil dan transportasi. Di sana pesawat ini berhasil memukau banyak orang, meskipun Cierva tidak mempercayainya. Pesawat ini tidak pernah tergelincir ataupun gagal terbang.

 Langkah yang diambil oleh Cierva selanjutnya adalah memperbaiki kekuatan rotor untuk dapat disebut sebagai helikopter yang sesungguhnya. Namun ini kurang berhasil. Ia meninggal di Croydon pada tanggal 9 Desember 1936, saat menjadi penumpang pesawat terbang biasa dalam sebuah penerbangan. Peristiwa ini mengherankan karena orang yang mempelopori penerbangan aman justru tewas karena kecelakaan pesawat.

Saya menyukai pribadi Cierva. Saya pun pernah menerbangkan Autogironya, dan menemukan bahwa itu merupakan mesin terbang yang paling mudah dikendalikan. Pesawat ini dapat turun secara vertikal meskipun dalam keadaan udara tipis serta menyentuh tanah tanpa gerakan ke depan sama sekali. Saya menganggap Autogiro sebagai sebuah penemuan yang luar biasa dan penemunya adalah orang hebat. Kematiannya merupakan sebuah pukulan bagi dunia penerbangan. Dan tidak diragukan lagi bahwa karyanya merupakan kontribusi terbesar dunia penerbangan oleh seorang putra Spanyol. Ia merupakan bagian dari para penerbang besar, sebagai seorang insinyur, desainer dan sekaligus pilot.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: