Beranda » Penerbang Terbesar Sepanjang Sejarah » 13. Sir Charles Kingsford-Smith, Knight, M.C., A.F.C.

13. Sir Charles Kingsford-Smith, Knight, M.C., A.F.C.

SANG PIONIR PASIFIK

SEMUA TEMAN-TEMANNYA — serta beberapa orang lain — memanggilnya “Smithy.” Ia adalah seorang anak yang gagah, dengan tinggi badan sekitar 5,8 kaki, berkulit bersih, mata biru, rambut lurus, hidung agak bengkok, serta bibir yang murah senyum. Logat bicaranya menunjukkan aksen Australia yang terdengar seperti campuran Cockney dan Kanada yang menarik. Ia berbicara dengan kalem dan sederhana, dan suara yang dalam. Namun yang paling menonjol adalah pandangan matanya yang teduh. Pancaran matanya mencerminkan sifatnya yang baik.

Pada tahun 1915 di ulang tahunnya yang ke-18 mendaftarkan ke Sidney di bagian Teknik Sinyal, begitu lulus sekolah. Minat utamanya adalah pada bidang kelistrikan dan mesin. Di Korps Sinyal ia ditugaskan di Mesir dan Gallipoli. Kemudian ia pergi ke Perancis sebagai pengirim berita dengan sepeda motor. Pada tahun 1916 ia dipindahkan ke Korps Terbang Kerajaan Inggris untuk mengikuti pelatihan sebagai seorang pilot. Ia kemudian bertugas di skadron No. 23 menerbangkan pesawat Spad. Ia berhasil menembak jatuh beberapa pesawat lawan namun sempat tertembak dan terluka. Pada musim panas tahun 1918 ia menjadi instruktur terbang. Dan ia mengakhiri tugasnya dengan mendapat Lencana Militer setelah kehilangan tiga jari kaki saat pertempuran di Perancis.

Dalam waktu yang singkat ia dan dua temannya menerbangkan pesawat D.H.6 kursi-ganda yang dibeli dari Badan Penyelesaian Perang pada penerbangan komersil untuk para penumpang di Inggris. Mereka mengusulkan untuk menerbangkan pesawat Blackburn Kangaroo untuk penerbangan Inggris-Australia dalam rangka memenangkan hadiah £ 10.000 dari Pemerintah Persemakmuran. Perdana Menteri W. M. Hughes menolak rencana mereka karena dianggap kurang pengalaman. Smithy kemudian pindah ke Hollywood untuk beberapa saat, di bawah kontrak sebagai pilot stunt dan akrobat, hingga ia sadar bahwa kehidupan semacam itu sangat singkat. Ia lalu kembali ke Australia.

Selama dua tahun ia terbang sebagai seorang pilot di perusahaan penerbangan Western Australia Airways dengan kerja keras — hingga akhirnya ia bosan. Masa kerja sebagai partner usaha di sebuah perusahaan truk berakhir ketika ia membeli sebuah pesawat tempur Bristol dengan uang tabungannya serta karena desakan untuk kembali ke Sidney dengan Keith Anderson. Di sana pada tahun 1927 ia bertemu dengan Charles Ulm. Mereka memutuskan bahwa yang menjadi angan-angan mereka adalah terbang ke Pasifik. Tetapi bagaimana cara mendapatkan dana dan pesawat? Mereka harus tahu terlebih dahulu.

Suatu siang di bulan Juni Smith dan Ulm terbang mengelilingi Australia dengan pesawat tua Bristol. Smithy berpikir bahwa sepuluh hari mendatang adalah saat-saat tersulit dalam hidupnya. Namun mereka terbang hampir lima jam dalam waktu sepuluh hari. Mereka telah melakukan sesuatu, tanpa mereka sadari. Pemerintah New South Wales mendukung ide mereka untuk terbang ke Pasifik dan menjanjikan bantuan finansial. Demikian juga dengan harian Sidney Sun. Anderson, Ulm dan Smith lalu menuju ke Amerika Serikat. Mereka mendarat di San Francisco pada tanggal 5 Agustus 1927. Di Amerika mereka membeli sebuah pesawat bekas tanpa mesin Fokker F.7 dari seorang petualang Australia Hubert Wilkins, namun uang mereka terbatas dan mereka tak sanggup membeli ketiga mesinnya serta peralatan yang diperlukan. Mereka kehabisan uang. Untuk mendapatkan uang mereka mencoba memecahkan rekor durasi terbang pesawat, namun mereka gagal menyamai rekor Jerman 52 jam 22 menit bahkan masih kurang 2 jam 18 menit. Mereka sekarang tidak punya apa-apa lagi, dan terpaksa berhutang. Mereka tak dapat membayar hotel, ataupun membeli makanan dan rokok. Anderson disarankan untuk pulang ke Australia oleh temannya. Pemerintah New South Wales ingin agar mereka menjual pesawatnya dan pulang.

Kemudian setelah mencari akal, Smith dan Ulm menemui Kapten G. Allan Hancock, yang mengundang mereka untuk berpesiar dengan kapat yacht-nya. Ia menanyai mereka dengan berbagai pertanyaan, kemudian mengatakan bersedia membeli pesawat mereka, meminjami uang untuk kembali ke Australia, dan membantu keuangan mereka.

Jangkauan terbang pesawat Fokker dengan bahan bakar penuh adalah 3.645 mil. Jarak tempuh maksimal saat itu adalah 3.138 mil dari Kauai di Hawaii ke Suva dai Fiji; jarak sebelumnya lebih pendek yaitu 730 mil, kemudian 1.160 mil. Ketiga mesin pesawat masing-masing menghasilkan 220 tenaga kuda. Pesawat menjalani pemeriksaan di pabrik Douglas. Kapten H. Lyon bergabung sebagai navigator, dan James Warner sebagai operator radio. Dini hari tanggal 31 Mei 1928, pesawat Fokker yang dinamai Southern Cross oleh Anderson tinggal landas dari bandara Oakland, San Francisco. Siang hari berikutnya pesawat telah melintasi Honolulu, dan mulai mendarat di Wheeler Field, pangkalan Angkatan Udara AS, setelah menempuh 2.400 mil sampai ke kepulauan dimana sang petualang Kapten James Cook terbunuh bertahun-tahun sebelumnya.

Pada tanggal 2 Juni Smithy menerbangkan Southern Cross ke Barking Sands yang memiliki pantai lebih panjang dibandingkan dengan Wheeler Field. Pagi berikutnya, pukul 5.30 mereka kembali tinggal landas dengan membawa beban berat untuk perjalanan terpanjang mereka. Selama 300 mil pertama radio dari Wheeler Field membantu navigasi mereka. Ketika sinyalnya hilang, matahari mulai tertutup mendung. Lyon membuat rencana untuk perjalanan selanjutnya mengandalkan perhitungan semata.

Malam itu pesawat terbang melintasi badai tropis. Bintang yang diharapkan dapat membantu mereka terhalang oleh hujan deras. Smith dan Ulm berputar dan naik, turun dan berbelok untuk menghindari keganasan cuaca. Ini menghambat perjalanan mereka, dan membuat mereka khawatir terhadap persediaan bahan bakar untuk penerbangan panjang melewati samudera. Lyon kesulitan untuk memperkirakan penyimpangan jalur yang telah dibuat oleh pilot malam itu. Namun menjelang subuh ia memperkirakan Suva masih 690 mil nautik di depan. Tidak ada cara lain untuk memastikannya sampai ia melihat matahari tujuh jam kemudian. Perkiraannya tepat, karena tak lama kemudian para kru melihat daratan. Itu adalah Suva. Mereka mendarat pada pukul 3.50 sore hari setelah melewati perjalanan lintas samudera terpanjang saat itu. Mereka telah terbang melintasi garis waktu internasional dan tidak tahu hari di kalender mereka, sehingga saat mendarat di Fiji mereka memperkirakan antara tanggal 4 atau 5 Juni.

Pada tanggal 7 Juni Smith dan Ulm menerbangkan Southern Cross ke arah pantai Naselai, yang dipilih oleh Smith untuk tempat tinggal landas selanjutnya. Disana tangki bahan bakar diisi penuh oleh orang-orang Fiji dengan 40 galon drum yang dibawa ke tempat itu dengan kapal. Penerbangan hanya bisa dilakukan lagi saat ombak surut. Saat mereka hendak berangkat pada tanggal 8 Juni, para kru sempat melihat para gadis Fiji mendekat sambil membawa mangkuk. Sang ketua yang menemani mereka mengatakan bahwa ini merupakan tradisi orang Fiji untuk mengantar kepergian tamu dengan memberi minuman tradisional yangonga dari tangan para gadis. Pukul tiga sore itu keempat penerbang pionir ini berangkat meninggalkan penduduk pulau yang memperhatikan kepergian mereka dari pantai.

Sekitar sejam kemudian Lyon mulai menggunakan catatan tertulis untuk berkomunikasi dengan kru lain. Ini merupakan satu-satunya cara untuk berkomunikasi dalam penerbangan. Smithy membaca bahwa kompas bumi tidak berfungsi. Saat mengisi bahan bakar di Suva dan Naselai mereka lupa untuk mengolesinya dengan oli. Sekarang alat pemandu mereka yang paling berharga tidak berfungsi. Lyon mencoba memperbaikinya namun gagal. Mereka tinggal memiliki kompas magnetik.

Saat gelap, badai tropis melanda mereka. Kaca depan tidak dapat menahan air, dan sang pilot pun basah kuyup kedinginan. Dalam keadaan kedinginan, tiba-tiba kilat menyambar busi dari ketiga mesin pesawat. Pesawat Southern Cross bergetar keras dalam keadaan langit yang ganas. Dalam badai seperti itu kompas magnetik tidak berguna untuk navigasi. Saat kru berpegangan pada kursi, kedua pilot berusaha memperhatikan panel, dan terbang mengandalkan instrumen, berusaha menerbangkan pesawat sebaik mungkin di malam yang bergejolak.

Badai petir berhenti setelah empat jam. Berikutnya menyusul hujan dingin. Subuh pun menguak kegelapan langit samudera yang menakutkan. Pukul tujuh pagi Lyon mulai melihat matahari. Badai telah membawa mereka keluar jalur penerbangan. Ia menginstruksikan pilot untuk berbelok ke arah barat. Mereka telah menyimpang terlalu jauh ke kanan, dan melihat garis pantai Australia 110 mil di selatan arah tujuan mereka. Setelah menyadari bahwa mereka telah jauh tersesat karena badai, mereka berbalik ke utara menuju Brisbane, dimana mereka mendarat pada pukul 10.13. Di ibukotanya Queensland, mereka disambut dengan antusias oleh 15.000 orang. Sehari kemudian mereka terbang ke Sidney, dan takjub melihat 300.000 orang berkumpul di pangkalan udara Mascot untuk menyambut kedatangan navigator udara pertama yang melintasi Samudera Pasifik.

Kingsford-Smith dan Ulm masing-masing diberi Lencana Angkatan Udara dan ditunjuk menjadi pemimpin skadron kehormatan dan letnan penerbang di Royal Australian Air Force atas prestasinya terbang melintasi Samudera Pasifik untuk pertama kalinya. Pemerintah Australia menghadiahkan cek sebesar £ 5.000. Sedangkan presentasi di koran dan pihak swasta menghasilkan uang lebih dari £ 20.000. Mereka juga menerima medali dari American National Geographic Society serta trofi dari Fédération Aéronautique Internationale.

Lyon dan Warner kemudian kembali ke Amerika. Seorang Australia, H. A. Litchfield, dan seorang Selandia Baru, T. H. McWilliams, menggantikan posisi mereka sebagai navigator dan operator radio. Untuk melatih kru baru sekaligus menarik perhatian publik, Kingsford-Smith dan Ulm menerbangkan pesawat Southern Cross 2.090 mil non-stop dari Melbourne ke Perth, lalu kembali ke Adelaide dan Sydney, dengan total perjalanan 4.390 mil. Mereka kemudian merencanakan untuk menyeberangi Laut Tasman dari Sydney ke Christchurch, 1.625 mil melintasi samudera terganas di dunia.

Pesawat Southern Cross tinggal landas dari pangkalan udara Richmond di Sydney saat matahari tenggelam, agar sampai di Selandia Baru siang hari. Laporan cuaca cukup mendukung baik di titik keberangkatan maupun di tempat tujuan. Namun di perjalanan mereka harus melewati cuaca terburuk yang pernah dihadapi oleh Smithy. Malam harinya mereka dilanda badai yang sangat besar. Hujan turun lebat sekali. Smith mencoba untuk naik, namun tidak bisa lebih dari 9.000 kaki. Pesawat diliputi es dan mulai turun karena beban yang berat. Indikator kecepatan udara menunjukkan nol. Smithy mendorong hidung pesawat dan turun, mengira ia sedang jatuh. Namun sebenarnya peralatan tertutup oleh es, dan tidak mencatat apa pun. Ia turun sampai ketinggian 2.500 kaki dan terbang dengan altimeter serta mesin pesawat tanpa indikator kecepatan. McWilliams memberitahu bahwa peralatan radio tidak berfungsi akibat petir. Es mulai meliputi baling-baling pesawat, dan mesin menjadi sangat kasar. Para kru belum pernah merasa begitu takut. Smithy belakangan mengakui bahwa ia hampir panik, karena sangat ketakutan. Yang membuat mereka sedikit lega adalah semua peralatan berjalan baik. Dengan kemampuuan Smithy mengendalikan kontrol pesawat Southern Cross mencoba bertahan. Perlahan es mulai mencair, dan indikator mulai berjalan.

Malam berlalu dan fajar pun menyingsing. Mereka terbang di atas awan, tidak melihat apa-apa selain gumpalan putih. Lalu di kejauhan, memperhatikan garis yang ditunjukkan oleh Litchfield, Smith dan Ulm melihat awan di sebelah kanan yang tidak memudar namun tetap menggumpal dan permanen. Itu merupakan awan yang terdapat di puncak Tasman. Mereka melewati sebuah lubang di awan, turun dengan aman, dan mulai melewati Selat Cook. Mereka mengitari Wellington, kemudian menuju ke arah Christchurch. Pesawat-pesawat tempur Bristol dari Angkatan Udara Selandia Baru datang untuk menjemput mereka dan mengawal sampai ke pangkalan udara Wigram, tempat mereka mendarat pada pukul 9.30 tanggal 11 September 1928, setelah melakukan penerbangan pertama melintasi Laut Tasman dari Australia ke Selandia Baru.

Selama sebulan para penerbang itu menjadi tamu Pemerintah Selandia Baru dan selalu disambut kemana pun mereka terbang dengan pesawat Angkatan Udara negeri itu. Selanjutnya, dengan baling-baling baru yang dipasang pada pesawat Southern Cross, mereka tinggal landas pada pukul lima pagi tanggal 8 Oktober 1928. Smithy dan Ulm dianjurkan untuk tidak terbang pada malam hari di Laut Tasman. Mereka terbang rendah untuk menghindari angin barat. Peristiwa lucu terjadi ketika Ulm yang sedang meregangkan badan secara tidak sengaja menyentuh tombol untuk mematikan mesin. Mesin pun kemudian mati. Smithy yang mengetahuinya menyuruh Ulm memeriksa mesin. Tiba-tiba ia melihat tombol dalam posisi off. Ia langsung menyalakannya dan masalahnya pun teratasi.

Tengah malam mereka melihat cahaya di pesisir Australia, namun tempat pendaratan agak sulit ditemukan. Mereka berputar-putar untuk beberapa saat di atas awan sebelum akhirnya menemukan Sidney. Setelah itu mereka segera menemukan pangkalan udara Richmond dan mendarat pukul dua waktu Sidney, setelah 23 ½ jam berada di udara.

Setelah benar-benar mendapat tempat di masyarakat, Smithy dan Ulm memutuskan untuk memasuki dunia penerbangan komersial, dan membentuk perusahaan yang dinamai Australian National Airways Limited. Mereka membutuhkan perlengkapan untuk itu, dan kemudian pergi ke Inggris dengan Southern Cross untuk membeli pesawat. Keberuntungan tidak menyertai mereka untuk pertama kalinya. Dalam perjalanan dari Sydney ke Wyndham antena radio terjatuh, dan pesawat Southern Cross tidak dapat menerima pesan dari luar, namun dapat mengirim pesan.

Sementara itu seorang agen mereka di Wyndham, yang sebelumnya melaporkan bahwa cuaca cukup baik, melihat cuaca tiba-tiba memburuk dan hujan. Ia memberitahu Sydney agar Southern Cross menunda keberangkatan. Sydney mengirimkan pesan kepada Southern Cross yang sedang terbang. Namun pesawat tidak dapat menerima sinyal. Karena tidak tahu Smithy dan Ulm tetap terbang dalam cuaca buruk, dan heran karena sebelumnya diberitahu bahwa cuaca baik. Penerbangan melintasi Australia berjarak sekitar 2.000 mil, dan mereka dijadwalkan tiba di Wyndham pada pukul 10.30 tanggal 1 April 1929. Namun udara pagi tidak membawa keceriaan buat mereka. Hujan dan awan mengurung mereka. Mereka tidak dapat melihat Wyndham, kecuali lautan yang bergolak.

Setelah mengikuti pantai ke barat laut, mereka sampai ke perkampungan Drysdale Mission. Ulm menjatuhkan pesan tertulis yang menanyakan arah ke Wyndham. Penduduk di bawah tidak berhasil menemukan pesan Ulm. Namun mereka menunjuk ke arah barat daya, ke sebuah tempat yang cocok untuk mendarat. Smithy dan Ulm mengira bahwa Wyndham terletak di sebelah barat-daya, karena menganggap orang di bawah tersebut tahu apa yang ditanyakan. Smithy pun berbelok ke barat-daya. Mereka sampai ke garis pantai yang terletak di sebuah selat. Selain itu hanya terdapat tebing dan hutan. Di sekitarnya hanyalah tanah yang kasar, laut ganas, dan sungai yang dihuni buaya.

Mereka melihat perkampungan kecil lainnya. Ulm kembali menjatuhkan pesan tertulis, menanyakan arah dan jarak ke Wyndham. Sepotong kertas dibentangkan : “Timur 250.” Pesawat Southern Cross tidak mempunyai cukup bahan bakar untuk sampai ke sana. Selama satu jam Smithly terbang ke timur. Bahan bakar hampir habis. Ia mendarat di sebuah tempat berlumpur. Roda pesawat terperosok, namun pesawat tidak terbalik.

Hilangnya pesawat Southern Cross menjadi berita dunia. Operasi penyelamatan pun direncanakan. Sejumlah pesawat dikerahkan untuk mencari. Sementara itu keempat penerbang mulai kelaparan. Mereka mengandalkan makanan bayi yang mereka bawa ke Wyndham, sedikit kopi dan brandy, sebotol gliserin, dan siput yang ada di sekitarnya. Beruntung terdapat banyak air. Mereka digigiti lalat dan nyamuk di malam hari dan tinggal dalam kesengsaraan. Mereka pun semakin lemah. Tak lama kemudian mereka menerima sinyal radio, dan diberitahu cara penyelamatan diri serta perkembangan mereka. Namun mereka tidak dapat mengirim pesan. Mereka lalu mencoba memasang transmitter, menggunakan roda pesawat sebagai drive generator, namun tidak dapat menyalakannya terlalu lama untuk mendapatkan hasilnya. Pada tanggal 12 April salah satu pesawat pencari berhasil mengetahui lokasi mereka, dan menjatuhkan makanan serta persediaan lainnya. Pesawat ini datang setiap hari untuk menjatuhkan makanan. Pada tanggal 15 April sebuah pesawat mendarat di dekat Southern Cross, karena permukaan lumpurnya telah kering oleh cahaya matahari. Sehari kemudian dua pesawat mendarat dengan membawa bahan bakar. Pesawat Southern Cross tinggal landas dari tempat berlumpur pada tanggal 18 April dan terbang menuju Wyndham.

Sementara itu Keith Anderson bersama seorang mekanik, telah berusaha mencari Southern Cross dengan menggunakan pesawat ringan Westland Widgeon. Ia telah mendarat di sebuah gurun. Kedua orang itu akhirnya meninggal karena kehabisan air dan panas yang tinggi. Tragedi ini menjadi pukulan hebat bagi Smithy.

Kejadian ini diselidiki oleh Pengadilan Pemeriksa penemuannya membuktikan tidak benar ada rumor bahwa pendaratan Smithy hanyalah rekayasa untuk menarik perhatian. Penyelidikan membuktikan bahwa kru Southern Cross tidak membawa perlengkapan yang cukup, termasuk radio darurat. Ini menunjukkan bahwa kejadian tersebut masuk akal.

Pada tanggal 25 Juni 1929, sehari setelah laporan komite dikeluarkan, pesawat Southern Cross dengan kru yang sama meninggalkan Sydney menuju Inggris. Mereka meninggalkan Australia dari Derby dan bukan Wyndham, dan melakukan penerbangan non-stop pertama antara Australia dan Singapore. Mereka terbang, dengan persinggahan di Singora, Rangoon, Calcutta, Allahabad, Karachi, Bandar Abbas, Baghdad, Athena, dan Roma, dan sampai di Croydon dengan rekor 12 hari 18 jam.

Fokker menawarkan untuk memperbaiki pesawat Southern Cross di Amsterdam tanpa biaya. Para kru lalu menerbangkannya ke pangkalan udara Schipol, dan menyerahkannya kepada manajer pekerjaan. Ulm kemudian kembali ke Australia, sedangkan Smithy pergi ke Amerika Serikat untuk untuk merencanakan sebuah penerbangan dari Inggris ke Amerika Serikat. Sebelumnya satu-satunya penerbangan melintasi Atlantik Utara pernah dilakukan oleh Kuhl, Huenfeld dan Fitzmaurice dengan sebuah pesawat Junkers sayap tunggal, yang berakhir dengan jatuhnya pesawat di Greenly Island, Labrador.

Di Amerika Serikat Smithy bertemu dengan Anthony Fokker, yang memberinya cek sebesar £ 1.000 untuk biaya organisasi penerbangan Atlantik menandingi ketenaran pesawat Fokker dibandingkan dengan Immelmann, Boelcke, dan von Richthofen. Namun demikian ini merupakan satu langkah yang dari sisi si orang Belanda tersebut.

Dari Amerika Serikat Smith pergi ke Vancouver, dan kemudian berlayar dengan kapal Aorangi ke Australia, untuk mengantar empat pesawat sayap tunggal Avro yang dipesan oleh Australian National Airways. Mesin pesawat-pesawat ini dibuat oleh Fokker di bawah lisesnsi dipasangi dengan mesin buatan Inggris. Di kapal Aorangi Smithy bertemu dengan seorang gadis muda yang nantinya menjadi istrinya sekaligus ibu dari anak laki-lakinya.

Australian National Airways mulai beroperasi pada tanggal 1 Januari 1930, dengan Smithy memegang kontrol untuk penerbangan pertama dari Sydney ke Brisbane. Smithy dan Ulm merupakan pemilik gabungan dan komandan dari Southern Cross  dan keduanya meminta kepada teman-teman direkturnya di A.N.A. untuk pergi mengurus penerbangan Transatlantik dan Transamerika. Namun hadiah hanya diberikan kepada Smith saja, dan meminta Ulm untuk tetap bersama perusahaan. Dengan begitu Ulm meninggalkan penerbangan mengelilingi dunia dengan Southern Cross, dan menjual sahamnya kepada Smithy untuk saham selanjutnya di perusahaan.

Smithy melihat bahwa Fokker benar-benar membangun kembali Southern Cross, dan tidak menyangka bahwa pesawatnya berada dalam kondisi yang sempurna. Mesinnya telah diperbaiki oleh insinyur perusahaan Wright, C. C. Maidment yang telah banyak membantu dalam beberapa penerbangan Smithy sebelumnya. Evert van Dyk, seorang pilot dari perusahaan Royal Dutch Airline, bergabung sebagai co-pilot; J. W. Stannage, operator radio perusahaan yang sebelumnya menemukan pesawat Southern Cross di Australia, juga ikut bergabung dengan Smithy; sedangkan Kapten J. P. Saul bertindak sebagai navigator.

Pada pukul 4.25 pagi tanggal 24 Juni 1930, Smithy menyalakan mesin Southern Cross di Portmarnock Beach Irlandia, dan terbang meninggalkan tanah setelah berjalan 3.000 kaki. Terbang dengan ketinggian rendah, ia menuju ke arah Atlantik dari Galway Bay. Tempat pendaratannya berikutnya adalah Cape Race, yang berjarak 1.900 mil. Navigasi dilakukan lewat komunikasi radio dengan kapal, terutama kapal Transylvania. Kabut menyelimuti pesawat Southern Cross sejak sore, dan selain radio tidak ada peralatan navigasi lain yang mungkin. Usaha untuk naik menghindari kabut membawa pesawat pada angin yang bertiup kencang. Sepanjang malam mereka terbang melewati kabut pada ketinggian 1.000 kaki. Saat mereka mencoba turun antena yang panjangnya 125 kaki menyentuh permukaan air, meskipun altimeter menunjukkan ketinggian 600 kaki dari permukaan laut. Kabut hampir menyentuh permukaan air, sehingga pengukur ketinggian keliru angkanya.

Hal yang mencemaskan lainnya terjadi tak lama kemudian. Navigator mengirim pesan kepada pilot dan menanyakan mengapa mereka tidak mengikuti jalur. Namun mereka merasa telah mengikutinya, namun sekarang mereka melihat bahwa ketiga kompas di pesawat menunjukkan arah yang berbeda-beda, sehingga akibatnya pesawat Southern Cross menyimpang dari jalur. Arah yang ditunjukkan oleh navigator menjadi berbeda ketika pilot membaca kompas. Ada atau tak ada angin, Smithy naik ke atas kabut untuk mengecek posisinya dari matahari. Mereka terbebas dari kabut pada ketinggian 3.500 kaki, dan saat itu kompas bisa berfungsi dengan baik. Partikel kabut di bawahnya mengandung listrik, yang mengganggu pesawat dan mengacaukan kompas tergantung posisinya di pesawat.

Setelah posisinya terhadap matahari diketahui, Stannage mendapat pesan radio dari stasiun pemandu arah di Cape Race dan Belle Isle. Namun mereka harus menemukan lokasi secara visual sebelum kru pesawat Southern Cross dapat menemukan landasan di Harbour Grace lewat sebuah lubang kabut, dimana mereka mendarat dengan mulus setelah 31 ½ jam di udara.

Sehari kemudian pesawat Southern Cross terbang menuju New York. Para kru diberi penghargaan Medali Kehormatan, dan disambut oleh Presiden Hoover dalam jamuan makan di Gedung Putih. Pada tanggal 2 Juli Southern Cross tinggal landas dari lapangan terbang Roosevelt menuju Chicago. Anthony Fokker juga ikut terbang dengan pesawatnya sendiri, mengitari lapangan dan berakrobat di sekitar pesawat Southern Cross tanpa mengindahkan peraturan. Ia pun dipanggil dan dikenai denda. Yang paling mengherankan bagi semua orang adalah bahwa Fokker, yang telah menjadi pilot sejak awal dunia penerbangan, ternyata tidak memiliki lisensi terbang.

Di Chicago Smithy menerima telegram yang yang memberitahukan bahwa ia dipromosikan mendapat penghargaan Komandan Wing Kehormatan di Royal Australian Air Force. Hari berikutnya pesawat bermesin tiga tersebut terbang ke Salt Lake City, dan pada tanggal 4 Juli 1930 menuju Oakland Municipal Airport, San Francisco. Dengan sejumlah penerbangannya pesawat Southern Cross telah memukau dunia. Namun hanya ada satu orang kru yang tak pernah absen pada setiap penerbangannya, yaitu Smithy.

Setelah mendapat penyambutan yang ramah di Amerika, para kru kembali ke Eropa dan pergi ke beberapa tempat. Sedangkan pesawat Southern Cross untuk sementara waktu berada di sekolah terbang Kapten Hancock di Santa Maria. Di Amsterdam Smithy mendapat sambutan yang menakjubkan.

 Ketika berada di Inggris menjelang penerbangannya ke Atlantik, Smithy sempat memesan sebuah pesawat ringan Avian di perusahaan A. V. Roe and Company, untuk memecahkan rekor Bert Hinkler terbang 15 ½ hari antara Inggris dan Australia. Ia berangkat pada tanggal 9 Oktober 1930, dari bandara Heston di sebelah barat London dengan bahan bakar untuk perjalanan 1.700 mil. Sebuah insiden dalam perjalanan terjadi ketika hendak melakukan pendaratan di Singapore, saat Smithy mendarat sebelum tanda-L menyala sepenuhnya untuk mengindikasikan arah angin. Kerusakan kecil segera diperbaiki malam itu dan tidak menghambat jadwal keberangkatan pagi harinya. Ia mendarat di Darwin setelah meninggalkan Inggris selama 9 hari 22 ½ jam dengan jarak 10.070 mil. Tiga hari kemudian ia sampai ke Sydney setelah terbang lewat Cloncurry dan Brisbane, tempat operasi perusahaannya.

Ia menikah di Melbourne pada tanggal 10 Desember 1930. Selama bulan madunya di Tasmania ia sempat berkeinginan untuk mendirikan perusahaan penerbangan lokal di Australia.pada tanggal 16 Januari 1931, Smithy melakukan penerbangan reguler pertama melewati Selat Bass antara Melbourne dan Launceston, ibukota Tasmania. Untuk melengkapi kebahagiaannya, Pemerintah Persemakmuran mempromosikannya sebagai Komodor Udara Kehormatan di Royal Australian Air Force.

Depresi keuangan dunia mulai mempengaruhi bisnisnya, termasuk A.N.A. Dan bencana yang mempengaruhi semua perusahaan penerbangan di dunia ini juga menimpa perusahaannya. Pesawat Southern Cloud yang melayani jalur Sydney ke Melbourne, dengan dua kru dan enam penumpang, menghilang pada tanggal 31 Maret 1931, dan ini merupakan bencana terburuk selama 30 tahun terakhir. Kerugian finansial perusahaan akibat bencana ini mencapai £ 10.000, yang menimbulkan kesulitan besar. Jumlah penumpang menurun akibat sulitnya keuangan, dan penghasilan Smithy dari perusahaan ini pun berkurang.

Sampai saat itu masih terdapat tiga perusahaan penerbangan utama di Australia — A.N.A., Western Australian Airways (W.A.A.), dan Queensland and Northern Territories Air Services (QANTAS). Semuanya merupakan pesaing dari perusahaan jasa pos udara Australia menuju Inggris. Pada bulan April 1931 Imperial Airways melakukan penerbangan eksperimen pertama untuk pos udara dari Inggris ke Australia. Qantas harus menerbangkannya dari Darwin menuju kota-kota di Australia selatan. Namun pesawat Hercules milik Imperial Airways jatuh di Kupang. Qantas lalu menyewa A.N.A. untuk membawa pos dari Kupang. Smithy dan G.U. “Scotty” Allen meninggalkan Sydney dengan pesawat Southern Cross, sampai ke Kupang dalam waktu tiga hari, dan sehari kemudian berangkat menuju Darwin. Di Darwin mereka mengambil pos dari Qantas dan menerbangkannya ke Akyab, dimana mereka menyerahkannya kepada seorang kapten di Imperial Airways. Inggris dan Australia telah terhubung dengan jasa pelayanan pos udara untuk pertama kalinya berkat kerjasama dari tiga perusahaan penerbangan.

Kemudian diusulkan untuk membentuk perusahaan gabungan untuk menangani jasa pos udara dari Australia, dan para wakil dari Qantas, W.A.A. dan A.N.A. bertemu. Namun W.A.A. tidak bersedia bergabung. Qantas menilai keuangan perusahaan A.N.A. tidak aman dan memutuskan untuk maju sendirian. Qantas mempunyai wakil dari Imperial Airways sehingga mempunyai hak di Australia. Selain itu muncul ide untuk membuka rute gabungan antara Imperial Airways-Qantas.

Meskipun A.N.A. telah beroperasi di rute strategis Melbourne-Sydney-Brisbane, mereka tidak dapat bertahan. Perusahaan ini menutup penerbangannya pada bulan Juli 1931. Smithy menggunakan pesawat Southern Cross berkeliling kota-kota di Australia dengan membawa pemumpang sebagai sumber penghasilannya.

Pesaing untuk rute Inggris-Australia muncul kemudian. C. W. A. Scott memecahkan rekor Smithy. James Mollison juga memecahkan rekor waktu Scott dari Australia ke Inggris dengan waktu 8 hari 21 jam. Smithy memutuskan untuk kembali memenangkan rekor, dan meninggalkan Wyndham dengan pesawat Percival Gull pada tanggal 24 September 1931, dengan tujuan untuk mengalahkan rekor Mollison. Ia terpaksa turun karena hujan dan mendarat malam hari di sebuah pantai sekitar 80 mil sebelah selatan Victoria Point. Di tempat itu ia menghabiskan malam dengan mendengarkan suara harimau dan tatapan aneh dari sejumlah penduduk pribumi. Ia harus mengeringkan sistem pengapiannya pagi-pagi sebelum ia dapat berangkat kembali.

Saat terbang melintasi teluk Benggala ia merasa bahwa ia terserang sengatan metahari. Ia merasa sakit, letih dan setengah sadar, dan hampir terjatuh ke lautan. Masalah tersebut (meskipun ia tidak mengetahuinya) disebabkan oleh racun karbon monoksida yang dihasilkan oleh knalpot mesin. Kondisinya semakin memburuk ketika ia mencoba bertahan, sampai akhirnya ia harus mendarat di Asia Minor, Turki karena keberatan mereka atas kehadirannya di zona militer. Ini menyebabkan ia tidak dapat sampai di Inggris pada waktunya untuk mengalahkan rekor Mollison, namun mungkin menyelamatkan hidupnya karena terpaksa harus berhenti. Ia kembali ke Australia dengan naik kapal.

Pemerintah Persemakmuran memberitahu A.N.A. bahwa mereka tidak akan mendapat subsidi. Sebagai usaha terakhir untuk mempertahankan jasa pos udara, A.N.A. mengusulkan untuk melayani pengiriman kartu Natal ke Inggris. Allen meninggalkan Sydney pada tanggal 20 November 1931, dengan membawa 45.288 surat dan paket. Pesawat Avro Ten-nya jatuh di Alor Star di Melayu saat akan tinggal landas dari aeodrome yang berlumpur. Smithy meninggalkan Sydney membawa pesawat Avro Ten lainnya untuk mengambil surat-surat kiriman. Ia tiba di Croydon pada tanggal 16 Desember. Ia lalu diminta untuk mengirim kartu Tahun Baru kembali ke Australia.

Pesawat kemudian dibawa ke Humble untuk perbaikan. Dalam perjalanan pulang ke Croydon, Allen terpaksa mendarat di sebuah kebun buah di Kent akibat kabut tebal. Itu terjadi pada tanggal 8 Januari sebelum pesawat dapat diperbaiki dan melanjutkan perjalanan. Pesawat yang membawa 70.000 surat tersebut sampai ke Sydney 12 hari kemudian, lalu Melbourne dan Launceston hari berikutnya. Namun A.N.A. tidak berhasil mendapatkan kontrak reguler. Sekali lagi Smithy harus membawa pesawat Southern Cross berkeliling untuk dapat bertahan. Pada bulan Juni 1932 ia terbang ke Canberra. Saat tiba di sana namanya tertulis dalam daftar King’s Birthday Honours List, dan malamnya ia beserta istrinya diundang ke perjamuan Gubernur Jenderal di Balai Pemerintah. Perjalanan kelilingnya dilanjutkan dalam rangka peringatan tahun itu. Saat itu ia hampir menghabiskan seluruh kota di Australia, dan memutuskan untuk menuju ke Selandia Baru.

Para kru termasuk Kapten P. G. Taylor dan Stannage. Mereka membawa penumpang di Selandia Baru dari tanggal 12 Januari hingga 26 Maret 1933, saat mereka terbang kembali ke Australia. Namun Smithy tetap tidak mendapatkan surat atau penumpang reguler dalam operasinya. Pada bulan September ia naik kapal ke Inggris. Di sana ia menjumpai pesawat Percivan Gull-nya masih berada di Heston. Ia tinggal landas dari Lympne pada tanggal 4 Oktober, dan sendirian ia dapat mencapai Wyndham dalam waktu 7 hari 4 jam 43 menit. Raja George V mengirimkan telegram ucapan selamat kepadanya, Pemerintah Australia memberikan hadiah uang £ 3.000 bebas pajak, dan tak lama kemudian Smithy ditunjuk menjadi konsultan penerbangan di perusahaan Vacuum Oil Company. Namun dalam benaknya masih terpikirkan penerbangan Australia-Selandia Baru untuk penumpang dan pos. Namun untuk itu ia tidak mendapatkan dukungan.

Ia memutuskan untuk mengikuti Perlombaan Terbang MacPherson Robertson tahun 1934 dari Mildenhall di Inggris ke Melbourne untuk memperingati seabad Negara bagian Victoria. Ia mendapatkan hadiah dan tiket untuk biaya pesawat dan keperluan dalam perjalanan. Ia memutuskan untuk membeli pesawat kursi ganda Lockheed Altair, yang menurutnya paling pantas dicoba. Ia menciptakan sejumlah rekor perjalanan di Australia dengan pesawat Altair, yang ia namai Lady Southern Cross. Pilot pendampingnya adalah P. G. Taylor. Mereka harus terbang ke Inggris untuk mulai. Setelah meninggalkan Sydney, sambungan pada mesin pesawat mulai retak. Smithy berbalik kembali. Namun perbaikan tak dapat dilakukan tepat waktu untuk dapat sampai ke Inggris sebelum perlombaan dimulai. Ia harus mundur. Keputusan pertamanya untuk tidak menggunakan pesawat Inggris sangat jarang dilakukan; sekarang pengunduran dirinya menjadi bahan perdebatan. Begitu mudahnya seorang tokoh nasional gagal dalam waktu semalam.

Smithly memutuskan bahwa yang harus ia lakukan sekarang adalah terbang ke Amerika, menjual pesawatnya dan mendapatkan kembali uangnya. Bersama P. G. Taylor ia melakukan penerbangan Transpasifik pertama dari Australia ke Amerika Serikat antara tanggal 20 Oktober dan 4 November 1934. Ucapan selamat mengalir dari seluruh dunia, dari Hitler dan Musolini, dan dari Gubernur-Jenderal Selandia Baru. Namun saat kehebohan itu usai, Smithy kembali mendapat persoalan. Pesawat Lady Southern Cross harus ditinggal untuk menunggu pembeli, dan ia harus naik kapal pulang ke Australia dan mulai berkeliling lagi dengan pesawat untuk mencari nafkah. Ulm yang telah tinggal di Amerika Serikat, merencanakan untuk terbang ke Australia. Pesawat Airspeed-nya jatuh di Hawaii pada tanggal 3 Desember dan ia bersama kedua temannya tewas.

Saat berkeliling pada awal tahun 1935 Smithly berencana untuk mengantar surat untuk perayaan kota dari Australia ke Selandia Baru. Pemerintah kedua negara setuju untuk bekerjasama. Muatan dan koran ikut dibawa serta. Para filatelis mengirim surat yang berisi perangko-perangko mahal. Semula direncanakan akan digunakan dua pesawat, namun akhirnya diputuskan pesawat Southern Cross akan berangkat sendiri, dengan Smithy, Taylor dan Stannage sebagai kru. Mereka meninggalkan Sydney 25 menit setelah tengah malam pada tanggal 15 Mei 1935. Angin bertiup ke belakang, Southern Cross hampir setengah perjalanan melintasi Laut Tasman, dan semua berjalan baik. Tiba-tiba pada pukul 7 pagi, ujung baling-baling menghantam pipa knalpot yang patah dari mesin bagian tengah. Pesawat terus-menerus bergetar. Smithy segera mematikan motor yang rusak, mengurangi kecepatan mesin satunya, berusaha agar baling-baling yang rusak berhenti berputar agar tidak menghancurkan mesin pesawat. Kemudian ia membuka katup mesin dan berbalik ke tempat mendarat terdekat di Australia yang berjarak 500 mil lebih.

Pesawat Southern Cross kehilangan kecepatan dan ketinggian, dan berusaha mencapai darat pada ketinggian 500 kaki di atas permukaan laut yang ganas. Mesin sebelah kiri terlalu panas. Enam kali Taylor harus naik kabin di sayap yang licin, membawa botol termos untuk mengambil oli dari mesin sebelah kanan untuk mendinginkan mesin sebelah kiri. Usaha ini berhasil menjaga mesin sebelah kiri tetap stabil, dan untuk ini ia diberi penghargaan Medali Keberanian Kerajaan yang kemudian ditukar dengan Lencana George. (Taylor kemudian melakukan sejumlah penerbangan yang terkenal, merintis rute dari Australia ke Afrika Selatan lewat Kepulauan Cocos, dan menerima gelar ksatria.)

Setelah melewati perjalanan pesan radio dari Stannage tentang perjuangan kru pesawat Southern Cross untuk mempertahankan hidupnya tersebar ke seluruh dunia. Bahan bakar harus dibuang untuk mengurangi beban. Selanjutnya juga muatan. Akhirnya sebagian besar surat harus dibuang ke laut. Diantara surat tersebut adalah surat dari Gubernur Jenderal untuk Raja, namun tak seorang pun kru yang mengetahui ini sampai saat Southern Cross mendarat di pangkalan udara Mascot, Sydney, pada pukul empat sore.

Musibah ini merupakan pukulan besar bagi harapan Smithy. Biaya yang telah dikeluarkan sangat banyak. Sebagian besar adalah dari uang pribadinya. Hatinya masih memikirkan penerbangan Transtasman, namun pesawat Southern Cross sudah terlalu tua. Smithy lalu menawarkannya kepada Pemerintah Persemakmuran untuk dipelihara. Kabinet pun menyetujui tawarannya, dan memutuskan untuk membayar Smith £ 3.000 untuk pesawat tersebut. Pada tanggal 18 Juli 1935, pesawat Southern Cross diserahterimakan.

Sementara itu pesawat Altair masih berada di Lockheed dan belum laku. Smithy memutuskan akan menggunakannya untuk memecahkan rekor 71-jam yang dibuat oleh Scott dan Campbell Black pada perlombaan terbang MacPherson Robertson tahun 1934. Hujan es merusakkan pesawat Altair di dekat Brindisi pada tanggal 20 Oktober 1935, ketika baru sampai pada tahap pertama perjalanan. Smithy pun kembali ke London. Bersama Pethybridge sebagai kru kedua ia mulai lagi pada tanggal 6 November. Ia tiba di Allahabad 30 jam kemudian, menyamai waktu Scott dan Black. Sehari kemudian ia menghilang ketika melintasi Teluk Benggala. Apa yang telah terjadi tak pernah diketahui. Sekitar setahun kemudian sebuah roda terdampar di pantai barat Burma. Roda ini diidentifikasi sebagai bagian dari pesawat Altair. Dengan demikian di perairan tersebut Kingsford-Smith diperkirakan tewas. Selama dalam penerbangannya ia selalu merasa bahwa tempat tersebut adalah tempat terganas yang pernah ia temui. Akhirnya laut tersebut pula yang menjadi makamnya tanpa diketahui.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: