Beranda » Penerbang Terbesar Sepanjang Sejarah » 14. Philip A. Wills, C.B.E.

14. Philip A. Wills, C.B.E.

SANG PENERBANG LAYANG

PHILIP A. WILLS adalah salah satu diantara penerbang layang terbesar dunia. Namun jika anda memperhatikan sosoknya mungkin anda akan sulit mempercayainya. Tingginya 6 kaki 3 ½ inchi, dengan perawakan kurus dan berat badan 168 pon. Matanya abu-abu, rambut tipis keabu-abuan. Penampilannya seperti seorang bisnisman atau kepala perusahaan. Tidak seperti para pilot besar lainnya, penerbangan adalah hobinya, bukan pekerjaan ataupun penghidupannya.

Meskipun begitu sedikit sekali pilot profesional yang dapat menyamai kemampuan Philip Wills saat berada di kokpit pesawat layang, yang daya tariknya terdapat pada kemampuannya melayang, tanpa mesin, baling-baling, jet, ataupun suara.

Berasal dari London, Philip Wills belajar terbang dengan sebuah pesawat Cirrus Moth di London Aeroplane Club tahun 1928 saat berada di pangkalan udara Stag Lane. Saat itu ia berusia 21. Ia terbang karena tertarik dengan penerbangan sebagai kesenangannya di waktu luang. Ia mendapat lisensi sipil Pilot “A”, dan membeli pesawat ringan sendiri. Pada tahun 1930 ia ikut lomba terbang King’s Cup Air Race, namun dua tahun kemudian berpindah ke terbang layang. Sejak itu ia sangat antusias dengan terbang layang. Jika anda bertanya padanya mengapa ia memilih terbang layang dibandingkan dengan terbang dengan tenaga, ia akan menjawab bahwa ia akan segera letih dengan kemampuan menuju ke tempat yang diinginkan dengan kekuatan mesin. “Kemampuan yang dibutuhkan tidak berarti,” katanya. Inilah yang mebuatnya bosan.

Terbang layang menarik baginya karena membutuhkan ketrampilan, dan pengetahuan yang luas agar dapat memanfaatkan arus angin (seperti yang dilakukan oleh burung) dan mengendarainya dengan kegembiraan. Untuk mengetahui bagaimana melakukan ini ia harus tahu segala hal tentang atmosfir dan sifat pesawat yang tidak akan diketahui oleh seorang pilot pesawat bermesin. Kenyataannya, terbang layang merupakan olahraga yang membutuhkan ketrampilan, kekuatan terbang hanyalah sekedar alat transport. Di sini, tentunya kita membandingkan pesawat layang dengan pesawat-pesawat yang digunakan oleh klub-klub terbang yaitu pesawat ringan, yang mesinnya berkekuatan hingga 120 tenaga kuda. Namun seperti kita tahu dari para pilot jarak jauh, pesawat ringan ini juga bisa melintasi samudera. Namun kesenangan sejati Philip Wills adalah terbang mengeksplorasi atmosfer, bukan kemampuan menempuh perjalanan.

Selama dua tahun ia terbang menuruni lereng bukit, naik dan turun sepanjang bukit dengan pesawat tanpa mesin ketika angin bertiup ke atas bukit. Kemudian pada tanggal 18 Maret 1934, ia melakukan penerbangan lintas negeri. Hari itu ia adalah salah satu diantara tiga pilot Inggris yang melakukan terbang layang di Bukit Dunstable untuk pertama kalinya. Setelah berputar-putar di arus panas pada ketinggian 4.500 kaki, ia berhasil menempuh 55 mil dalam waktu dua jam setengah dan menciptakan rekor Inggris.

Untuk memperoleh ketinggian perlu dilakukan sesuatu lebih daripada sekedar naik mengikuti arus angin yang dihasilkan oleh panas matahari dan berhenti ketika awan mulai muncul. Ia harus dapat menggunakan awan itu sendiri sebagai tangga untuk naik ke udara yang lebih tinggi. Ini berarti terbang buta di dalam awan, mengandalkan peralatan. Setelah berusaha melewati sisi awan, ia berhasil terbang ke dalam awan pada tanggal 7 Juni 1936 untuk mendapatkan daya angkat. Ia berhasil mendapatkannya, namun angin bertiup keras. Pesawat layangnya terhempas. Untuk beberapa saat ia mulai kehilangan kendali. Ia gagal, turun, pulih, gagal dan gagal lagi, kemudian jatuh ke bawah. Saat meluncur buta di awan dengan kecepatan tinggi, ia mencapai kecepatan 100 mil per jam, dengan pesawat Hjordis-nya yang hanya dirancang untuk kecepatan 40 mil. Ia lepas dari awan sampai ke udara bebas dengan pesawat layang setengah terbalik, dan ia bersyukur karena desainer dan konstruktor membuat pesawat yang kuat.

Pengalaman itu mengajarkannya tentang perlunya mempelajari terbang buta sebaik mungkin, tidak hanya asal mencoba. Ia berhasil, dan pada bulan Juli 1936 menciptakan rekor tempuh Inggris 104 mil dari Dunstable ke Pakefield lewat pesisir Suffolk dengan pesawat yang sama.

Pada bulan Oktober berikutnya ia harus pergi ke Afrika Selatan untuk mengurusi bisnis. Di tempat itu belum ada yang melakukan penerbangan lintas negeri dengan menggunakan pesawat layang. Ia kemudian mengambil pesawat Kirby Kite untuk mempelajari apa yang bisa dilakukan. Selanjutnya ia terbang 32 mil melewati ketinggian dari Rand Gliding Club di dekat Pretoria hingga ke Germiston airport, Johannesburg dan ini mengejutkan orang-orang setempat. Saat melayang di atas ketinggian dan berputar karena menabrak arus angin, ia diikuti oleh sejumlah burung bangkai. Mungkin burung-burung ini menganggap pesawat Kite sebagai burung besar. Wills dan kawanan burung bangkai tersebut berputar naik, hingga pada ketinggian 2.500 kaki (batas pandangan burung tersebut) mereka meninggalkan Wills untuk mencari bangkai di bawah. Dengan demikian burung-burung tersebut terbang dan melayang untuk mencari makan menggunakan arus panas.

Peristiwa menakutkan terjadi pada Wills setahun kemudian. Sebuah tim Inggris datang untuk bertanding dengan pada kejuaraan terbang layang dunia di Wasserkuppe di pegunungan Rhön, Jerman. Tiga pesawat baru King Kite tergabung dalam satu tim. Wills naik ke atas ke York untuk mencoba pesawat buatan Slingsby ini. Uji coba ini berjalan mulus. Kemudian dilakukan uji coba berputar. Wills berputar ke kiri pada ketinggian 4.500 kaki dan berhasil. Lalu ia berputar ke kanan pada ketinggian 4.000 kaki. Namun ia sulit berhenti. Dari ketinggian 4000 kaki ia berputar tak terkendali. Wills meloncat keluar kanopi. Tiga kali ia mencoba keluar dengan parasutnya. Setiap kali mencoba keluar ia terhempas lagi ke kokpit. Dalam keadaan panik ia teringat untuk memanfaatkan berat badannya. Akhirnya putaran berhenti dengan posisi pesawat King Kite terbalik. Ia menarik kemudi ke belakang dan pesawat kembali pada posisinya semula. Hanya tiga ratus kaki di bawahnya terdapat bangunan pangkalan udara. Ia mendarat dan merasakan sakit di dadanya. Kotak rokoknya yang terbuat dari logam terbelah saat ia terhempas di kokpit. Ini menyelamatkannya dari patah tulang rusuk, namun menimbulkan memar yang lama sembuh. Selanjutnya dipasang kemudi yang lebih besar pada pesawat King Kite dan masalah pun teratasi.

Pada tanggal 30 April 1938, ia memenangkan Sertifikat Emas “C” di Inggris (sekaligus ke tiga di dunia) untuk penerbangannya dari Heston di dekat London sampai ke St. Austell di Cornwall. Selama perjalanan 209 mil dalam waktu enam jam sepuluh menit pesawat Minimoa-nya terbang pada ketinggian antara 700 hingga 7.000 kaki. Kemudian pada tanggal 5 Juni tahun itu, dengan melakukan penerbangan dari Dunstable, ia menciptakan rekor ketinggian 10.080 kaki dengan terbang buta melewati awan kumulus, hingga sayapnya diliputi es selama 3 ½ jam terbang.

Saat pecah perang tahun 1939 Wills masuk ke unit Pendukung Transport Udara. Pada bulan Oktober dan November tahun itu ia diberi waktu 90 menit untuk melakukan penerbangan ganda di Harvard dan melakukan penerbangan solo 150 menit di Harvard dan Battles, dan kemudian ditugaskan untuk menerbangkan pesawat mesin tunggal. Kemudian ia juga ditugaskan untuk menerbangkan pesawat mesin ganda. Pada pertengahan April 1940 (di sekolah terbang Royal Air Force di Upavon) Wills menerima instruksi 220 menit penerbangan ganda dengan pesawat pembom Blenheim, Botha, dan Beaufort, melakukan satu kali penerbangan solo dengan pesawat Blenheim, dan kemudian ditugaskan untuk menerbangkan pesawat dinas bermesin ganda. Ia masih ingat tanggal 16 April 1940 merupakan hari yang sangat melelahkan, saat ia harus berkonsentrasi 2 ½ jam untuk penerbangan ganda dengan tiga tipe pesawat pembom baru, dan satu jam penerbangan solo.

Ketika Pasukan Jerman menginvasi Belanda dan Belgia sebulan kemudian, pesawat layang mereka berhasil membawa pasukan inti secara mengejutkan. Di Inggris jaringan radar pantai dapat mendeteksi pesawat bermesin secara efektif, namun tak seorang pun tahu apakah radar ini dapat mendeteksi pesawat layang. Karena ini bisa digunakan untuk menginvasi Inggris, maka ini penting sekali untuk diketahui. Pada bulan Juni 1940 AU Kerajaan Inggris meminta para pilot layang menjadi sukarelawan untuk melakukan tugas khusus. Wills dan para pilot lain membawa pesawat mereka ke pangkalan udara Christchurch. Pesawat Minimoa milik Wills adalah buatan Jerman. Pesawat-pesawat layang tersebut ditarik melewati Selat Inggris dengan pesawat Avro 504N, pada ketinggian 10.000 kaki, dekat dengan pesisir Perancis. Tugas para pilot sukarelawan adalah untuk menerbangkannya kembali ke daerah tebing Dorset yang berhadapan dengan Worth Matravers, dimana para peneliti radar mendirikan kamp penelitian. Ditengah-tengah pertempuran Battle of Britain pesawat-pesawat layang ini terbang perlahan di bawah pesawat-pesawat tempur Messerschmitt. Mereka tidak dikawal oleh pesawat tempur, sebab para ilmuwan mengharuskan mereka dipisahkan untuk menguji reaksi radar mereka. Tidak ada arus panas di atas laut untuk membantu penerbangan mereka. Mereka terbang dengan sudut layang terbaik yang bisa dilakukan, kadang turun, menjadi sarana pertahanan Inggris yang tersembunyi dan tak bersuara. Keika radar berhasil mendeteksi mereka, keluhan para peneliti terdengar sampai ke Komando Pesawat tempur. Pesawat-pesawat layang tak bersuara itu kemudian terbang menuju daratan, dimana Korps Pengawas yang mengamati gagal menemukan mereka. Sejak saat itu radar pedalaman menjadi kebutuhan dan mulai digunakan di Inggris pada akhir tahun itu.

Wills diundang untuk pindah ke AU Kerajaan Inggris bagian pesawat layang yang segera dibentuk, namun ia memutuskan untuk kembali ke unit Pendukung Transport Udara. Tak lama kemudian pesawat-pesawat pembom bermesin empat dijadwalkan segera tiba dari pabriknya dalam jumlah besar. Para pilot diharuskan segera berkumpul dan menerbangkannya sewaktu-waktu mereka dibutuhkan. Pada tanggal 4 Agustus 1940 Wills pergi ke pangkalan udara eksperimental Boscombe Down di Salisbury Plain, dan menerbangkan pesawat pembom Stirling selama 75 menit bersama co-pilot seorang pemimpin skadron AU Kerajaan Inggris, dan langsung ditugaskan untuk menerbangkan pesawat dinas bermesin empat. Philip Wills sangat terkejut saat itu, karena ia tidak pernah berharap untuk ditugaskan di sebuah pesawat pembom R.A.F. terbesar dalam waktu yang demikian cepat.

Di unit Pendukung Transport Udara ia menerbangkan lebih banyak tipe pesawat dibandingkan dengan para pilot AU Kerajaan Inggris yang tidak menjalankan tugas yang sama. Ia terbang selama 833 jam sebagai pilot angkut dan catatannya menunjukkan 83 jenis pesawat yang ia terbangkan, dari pesawat latih Tiger Moth hingga pesawat pembom Lancaster dan pesawat tempur Meteor. Jarak terbang terjauhnya adalah dari Anson sampai ke Praha.

Akhirnya ia ditunjuk sebagai Direktur Operasi dan komando kedua di unit Pendukung Transport Udara, dan bertanggung jawab atas semua penerbangan serta keperluan teknisnya. Ia membawahi 700 pilot, 100 diantaranya adalah wanita. Jumlah seluruh pilot yang ditugaskan di unit Pendukung Transport Udara adalah 2.000 orang selama masa perang.

Setelah perang usai Pemerintah membentuk perusahaan British European Airways Corporation (B.E.A.), dan menunjuk Mr. Gerard D’Erlanger sebagai pimpinan perisahaan. Sebelumnya ia telah memimpin unit Pendukung Transport Udara, dan merupakan penggagasnya sebelum perang dimulai. Dengan ini, pilot yang karena alasan tertentu, seperti usia, jenis kelamin, dan sebagainya tidak bisa masuk ke R.A.F akan dapat mengabdikan kemampuan terbangnya kepada negara. Wills masuk bersama D’Erlanger ke B.E.A. sebagai manajer teknis. Ia menangani bidang teknis pesawat terbang terutama teknik anti gores, dan mengembangkan pesawat Viking sebagai pesawat operasional pasca-perang untuk penumpang biasa.

Pada tahun 1947 Wills meninggalkan dunia penerbangan profesional dan kembali mengurusi bisnisnya di London, dan melakukan terbang layang sebagai hobinya. Ia ditunjuk sebagai ketua Asosiasi Terbang Layang Inggris, yang menangani terbang layang di Inggris dan membawahi sekitar 20 klub terbang layang sipil. Ada beberapa tingkatan sertifikat pilot terbang layang. Tiga sertifikat nasional “A”, “B”, dan “C”, mensyaratkan penerbangan ½, 1, dan 5 menit untuk kualifikasinya. Untuk memperoleh sertifikat internasional yang dikenal dengan nama “Silver C”, “Gold C”, dan tiga tingkatan “Diamond” untuk “Gold C”. seorang pilot harus menempuh jarak antara 50 sampai 500 kilometer, mencapai ketinggian 1.000 sampai 5.000 meter berada di atas selama lima jam. Untuk mengetahui cara melakukan penerbangan seperti itu tanpa mesin, seorang pilot harus mempelajari kondisi angin yang mendukungnya. Untuk menguasainya perlu sering latihan, kemampuan dan keahlian pilot, serta sedikit keberuntungan.

Pilot pesawat layang terbang di ketinggian dengan memanfaatkan arus angin, kemudian meluncur ke depan dan turun untuk mencari kembali arus angin yang membawanya naik. Kadang-kadang mereka berputar mengikuti arus angin yang bergerak melintasi pedesaan. Ada tiga sumber angin utama untuk memperoleh ketinggian — gelombang udara yang berasal dari perbukitan saat angin bertiup, yang juga terbentuk oleh awan; arus panas yang berasal dari angin yang mendapat panas matahari dan permukaan bumi sehingga temperaturnya lebih besar dari udara di sekitarnya; arus naik yang terdapat pada berbagai macam awan.

Wills jauh lebih berpengalaman sebagai seorang pilot setelah perang, dan ini terlihat dalam kemampuan terbang layangnya. Kamp terbang layang pertama pasca-perang didirikan di Long Mynd, di dekat Gereja Stretton, Shropshire pada bulan Juni 1946 saat Wills telah menempuh 400 jam terbang layang. Pada tanggal 23 Juni ia meluncur dengan pesawat Weihe menuju sebuah lingkaran awan cumulo-nimbus yang bertiup dari pesisir timur Wales dan England. Melayang dengan kecepatan antara 35 dan 60 mil per jam,dalam keadaan mendung dan badai serta hujan angin, menjadi pengalaman mental yang tak tertandingi oleh pilot lain. Wills dengan pesawat Weihe-nya menyatu dengan alam yang liar menggunakan indra tubuhnya untuk merasaka setiap perubahan alam yang terjadi. Setelah melayang selama lima jam dan mencoba untuk mencapai Cardiff, akhirnya ia mendarat di Newport, enam mil sebelum tempat tujuannya. Namun ia telah mencapai ketinggian 15.247 kaki, sebuah rekor baru di Inggris. Selama melayang naik, ia mencapai 2.000 kaki dalam satu menit. Sebenarnya ia masih bisa terbang lebih tinggi namun ia akan kehabisan oksigen.

Kejuaraan Terbang Layang Dunia diadakan setiap dua tahun sekali. Pada tahun 1948 kejuaraan ini diadakan di Samaden, sebuah bandara kecil di dekat St. Moritz di lembah Engadine Swiss. Salah satu ujiannya adalah melakukan terbang segitiga sejauh 101 kilometer melewati pegunungan Alpine dari Samaden. Para pilot terbang layang terbang melintasi daerah pegunungan yang indah, memperoleh ketinggian dari arus angin yang bertiup naik di daerah lembah dan bukit yang berbahaya. Dari titik keberangkatan 5.000 kaki di atas permukaan laut, pesawat Gull IV milik Wills meluncur dari satu puncak bukit ke puncak lainnya, naik sampai 8.000 kaki, lalu 10.000 kaki kemudian pada ketinggian 17.000 kaki ia mulai kehabisan oksigen daln langsung turun ke 15.000 kaki. Ia kembali ke Samaden setelah terbang 127 menit. Sebuah rekor baru Inggris untuk penerbangan segitiga sejauh 100 km. Tujuh pilot dari negara lain terbang lebih cepat hari itu, dengan catatan waktu terbaik 96 menit; sedangkan dari 27 peserta 25 diantaranya berhasil menyelesaikan perlombaan, suatu pertunjukan terbang yang luar biasa.

Empat hari kemudian tiga orang pilot Inggris tinggal landas dari Samaden untuk terbang menuju Maloja Pass melewati Danau Como hingga dataran Lombardy di Italia. Di dekat Danau Mazzola pesawat Donald Greig mengalami kecelakaan. Karena ujung sayapnya rusak pesawat berputar jatuh ke lereng pegunungan. Greig tewas seketika. Sementara itu di bawah lembah Kit Nicholson terbang melintasi sebuah jurang untuk memperoleh angin naik. Tiba-tiba ia terjebak awan. Karena tak bisa melihat, pesawatnya menabrak pegunungan Monte Bellinghera pada ketinggian 10.000 kaki. Malam itu ia tewas di bebatuan pada ketinggian 3.000 kaki di atas lembah, saat para penyelamat terpaksa berhenti untuk melanjutkan perjalanan evakuasi. Wills sendiri tidak memperoleh angin di lembah berbahaya tersebut dan terpaksa mendarat di dekat Dervio di Danau Como, sebuah dataran yang dibuka untuk golf oleh seorang Inggris beberapa tahun sebelumnya.

Para penerbang dunia kembali bertanding di pangkalan udara Cuatro Vientos di pinggiran kota Madrid pada bulan Juli 1952. Wills menerbangkan pesawat Slingsby Sky terbaru yang mempunyai rentang sayap hampir 60 kaki. Di sana ia melakukan penerbangan yang paling memuaskan baginya, meskipun dari sudut pandang pengamat ini tidak terlalu spektakuler. Ia menentukan tujuan terbangnya yaitu kota Zaragoza, yang berjarak 170 mil.

“Sampai ke tempat tujuan adalah suatu keberuntungan yang diimpikan oleh pilot meskipun hanya sekali seumur hidup.” kata Wills. Ini berarti bahwa saat berangkat seorang pilot menentukan jarak terjauh yang hendak dicapainya. Jika anda kurang optimis dan hanya menentukan jarak yang pendek, maka anda akan mendarat di sana dan membuang kesempatan waktu yang diberikan. Jika anda terlalu optimis dan menentukan tujuan yang terlalu jauh maka anda akan kehilangan nilai.”

Terbang memanfaatkan awan cumulo-nimbus adalah usaha yang dilakukan oleh Wills untuk dapat sampai ke tempat yang dituju. Dari sini ia terbang dengan mencari arus panas dan pindah ke arus panas berikutnya, melayang dan naik, melintasi dataran Spanyol yang berwarna coklat kekuning-kuningan. Arus panas terakhir membawanya pada ketinggian 6.000 kaki. Dari sini, karena sulit untuk memperoleh ketinggian lebih maka ia terbang lurus ke arah tempat tujuan. Angin bertiup tenang. Pesawatnya diarahkan maju dan turun untuk mencapai jarak terjauh. Ia sampai ke titik pendaratan di tengah-tengah perkebunan anggur di lembah Ebro pada ketinggian tak lebih dari 100 kaki. Ia berhasil mencapai tujuan terbangnya, persis seperti yang ia rencanakan. Kebahagiaan apalagi yang diinginkan oleh seorang olahragawan selain mendapatkan apa yang ia impikan?

Meskipun demikian penerbangan terbaiknya mungkin adalah saat mengikuti perlombaan di Torresaviñan, 77 mil dari kota Madrid. Ia ditarik oleh pesawat sampai ketinggian 1.500 kaki. Pertama-tama ia turun 200 kaki, kemudian mulai naik. Segera ia mencapai ketinggian 9.000 kaki di atas permukaan laut. Ia terbang di atas kota Barajas dan Alcalá de Henares. Di atas kota Guadalajara ia menabrak arus angin naik yang membawanya pada ketinggian 10.500 kaki di kaki awan. Di atasnya terdapat awan cumulus yang sangat besar. Ia telah menempuh setengah perjalanan ke tempat tujuan. Haruskah ia masuk ke awan untuk memperoleh ketinggian, atau terus terbang? Akhirnya ia memilih masuk ke awan. Pandangannya tertutup sama sekali. Ujung sayap pesawat tidak kelihatan. Tutup kokpit diselimuti kabut. Pesawat berguncang beberapa kali. Kilat muncul di sekitarnya, namun tanpa bahan bakar pesawat aman dari kebakaran. Listrik yang ditimbulkan oleh kilat menimbulkan cahaya biru pucat di sekitarnya. Guncangan yang ditimbulkannya membuat lutut kiri Wills kesakitan. Kabut yang menyelimuti berubah menjadi embun putih. Indikator kecepatan udara membeku, membuat alat ini tidak berfungsi. Konsentrasi sangat diperlukan di saat seperti ini. Wills membersihkan tutup kokpitnya untuk membuat lubang pandangan. Ia terangkat naik hingga ketinggian 20.000 kaki, lalu naik lagi hingga 35.000 dan 40.000 kaki. Ia mencoba untuk keluar dari awan dan terbang lurus ke depan. Namun pesawat Sky terus naik. Altimeter menunjukkan ketinggian 24.000 kaki. Lalu ia masuk ke arus angin turun yang cepat … dan akhirnya sampai ke udara bebas.

Radionya kembali berfungsi. Ia menghubungi mobilnya, dimana istrinya mengikutinya dari bawah. Kru mobil memberitahu ketinggian awan yang menghalangi pandangan ke bawah. Ia lalu melewati sebuah lubang awan. Ia berada di ketinggian 10.000 kaki, 14 mil dari tempat tujuan. Ia baru saja memecahkan rekor ketinggian di Inggris dan mendapatkan sertifikat Diamond untuk ini. Sekarang ia mengarahkan hidung pesawat sky turun. Kecepatannya meningkat hingga 120 mil per jam. Wills sampai ke tempat tujuan di Torresaviñan 88 ½ menit setelah meninggalkan Madrid. Di Madrid ia menjadi juara dunia, gelar yang disandangnya sampai dua tahun sebelum kejuaraan terbang layang berikutnya.

Namun tak ada istilah akhir bagi kejuaraan terbang layang. Dengan pesawat buatan Jerman di Selandia Baru, pada tanggal 29 Desember 1954 Wills kembali memecahkan rekornya sendiri di Inggris. Ia terbang hingga 30.000 kaki saat terbang di atas Mount Cook yang tingginya 12.300 kaki. Disana ia juga menciptakan rekor ketinggian Inggris 28.200 kaki.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: