Beranda » Penerbang Terbesar Sepanjang Sejarah » 15. James H. Doolittle

15. James H. Doolittle

PILOT PALING JAGO

TAK ADA SEORANG PUN PILOT di dunia yang mampu menyamai karir Jimmy Doolittle — seorang pilot eksperimen, akrobatik, perlombaan, dan pilot tempur, seorang jenderal komandan sekaligus eksekutif bisnis. Sewaktu Jimmi masih kecil, ayahnya sering pulang-pergi antara tambang emas Alaska dan California untuk mencari keberuntungan yang tak pernah diperolehnya. Anaknya juga melakukannya lama setelah itu.

Kehidupan Jimmy muda cukup keras, penuh petualangan keras dan kasar di daerah pertambangan emas Nome. Di sana sang anak “perkasa” tumbuh menjadi seorang boxer tangguh, dan menghasilkan uang dengan tinju yang cukup profesional. Di Los Angeles ia menggunakan uang yang diperolehnya untuk membeli bahan untuk membuat pesawat layang dan sebuah pesawat modifikasi Santos Dumont Demoiselle dari lukisan yang diterbitkan di koran favoritnya, Popular Mechanics. Tak satu pun yang terbang, sehingga Jimmy selamat. Bahkan ia kemudian membeli sebuah sepeda motor.

Menjalani pendidikan dari sekolah dasar dan menengah dan kemudian melanjutkan ke Universitas California, ia bercita-cita menjadi seorang insinyur pertambangan. Namun ketika negaranya terlibat Perang Dunia I, ia meninggalkan kuliah kira-kira setahun menjelang kelulusan, dan bergabung dengan Divisi Penerbangan di Korps Sinyal Angkatan Bersenjata, yang sekarang menjadi Angkatan Udara AS. Ini membawanya beralih dari teknik pertambangan ke dunia penerbangan.

Ia menikahi Josephine Daniels, meskipun orang tua gadis itu meragukan masa depan Jimmy. Mereka menikah di malam Natal tahun 1917. Mereka hanya memiliki uang dua puluh dolar, dan menghabiskan bulan madu mereka di San Diego dimana banyak kafetaria yang memberikan makanan kepada para tentara dan gadisnya.

Jimmy diangkat menjadi letnan dua pada tanggal 11 Maret 1918. Karena kemampuannya terbang ia dipilih menjadi instruktur terbang, sekian lama sehingga ia tidak pernah melihat pertempuran pada Perang Dunia I. Ia tetap berada di korps hingga perang usai. Semangatnya sering membuatnya bermasalah dengan para perwira komandan yang memegang disiplin. Namun kemampuan terbangnya sangat dibutuhkan sehingga ia selalu “lolos” tanpa merusak karirnya.

Pada tahun 1922 Doolittle melakukan penerbangan luncur pertamanya di Amerika Serikat, dan universitasnya mengakuinya dengan menganugerahkan gelar B.A. Sejak saat itu ia menjadi salah satu pilot akrobatik utama di Amerika, demonstrasi formasi aerobatik Doolittle yang pertama sangat memukau. Setelah itu ia atraksi loop pertama di Amerika, dan mungkin pertama di dunia, serta memenangkan kontes Schneider Trophy di Chesapeake Bay pada tahun 1925.

Sementara itu Angkatan Bersenjata telah mengirimnya ke Institut Teknologi Massachusetts yang terkenal untuk studi selama tiga tahun, dimana ia lulus pada tahu 1925 pada usia 28 dengan gelar doktor teknik aeronautika. Selama periode ini ia juga melakukan terbang eksperimen, untuk menguji beban yang diterima pesawat saat melakukan manuver, dan ia pun menulis paper tentang hal ini.

C. M. Keyes, presiden direktur perusahaan Curtiss Wright Corporation, meminta pihak militer untuk meminjamkan Doolittle untuk melakukan demonstrasi pesawat Curtiss di Amerika Selatan. Aerobatik rendah yang dilakukannya di Santiago memukau orang-orang Chili, dan malamnya ia melakukan aerobatik kedua pada sebuah perayaan malam. Suatu malam ia terjatuh dan mengalam patah pergelangan kaki. Namun Jimmy tak mau menyerah. Ia meminta mekaniknya untuk memasang pijakan kaki pada kontrol kemudi, mengikat pergelangan kakinya, dan melakukan pertunjukan terbang dengan mengabaikan rasa sakitnya. Pergelangan kakinya tidak mendapat perawatan yang layak hingga usai seluruh penerbangannya di Amerika Selatan. Saat ia melakukan tour demonstrasi lagi di sana selanjutnya, ia mencoba menghindari pesta para perwira.

Perusahaan Sperry Gyroscope Company, bekerjasama dengan Guggenheim Foundation, memproduksi gyro horizon dan gyro pengatur arah, dan Doolittle dipilih untuk mencobanya pada pesawat uji. Pada tanggal 24 September 1929, ia menutup bagian atas kokpit dan melakukan penerbangan buta pertama dalam sejarah. Setelah mencapai ketinggian tetap, ia melakukan putaran lebar dan meluncur beberapa mil. Ia kembali terbang ke pangkalan udara, dan melayang turun dengan panduan radio dan instrumen terbang buta. Para pengamat di darat menunggu dengan cemas saat sang pilot melayang turun dan meraba ketinggian dengan altimeter sensitif Kollsman. Dengan hati-hati Doolittle merasakan permukaan tanah. Kemudian rodanya mendarat dan pesawat berhenti. Penerbangan buta telah lahir.

Pada tahun 1930 Letnan James H. Doolittle meninggalkan Angkatan Bersenjata untuk bergabung dengan bagian penerbangan perusahaan Shell di St. Louis. Shell memberinya sebuah pesawat penghubung cepat, dan ia pun melakukan sejumlah penerbangan spektakuler di sekitar Amerika Utara, dari pantai ke pantai, ke Meksiko City, dan ikut dalam perlombaan terbang besar untuk pesawat dengan bahan bakar Shell. Shell kembali meminjamkannya ke perusahaan Curtiss untuk mendemonstrasikan produk pesawat tempurnya ke seluruh Eropa terkecuali Inggris.

Doolittle sadar bahwa kekuatan mesin yang lebih besar dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan pesawat tempur militer. Dan ini bisa diperoleh dengan meningkatkan kualitas bahan bakar untuk mesin kompresi tinggi. Ia mempertaruhkan karirnya dengan membujuk Shell untuk memproduksi bahan bakar berkadar oktan 100 untuk memenuhi kebutuhan yang semakin tinggi. Perusahaan kemudian menanamkan dua juta dolar untuk peralatannya. Namun Pemerintah Amerika dan Angkatan Bersenjata ragu-ragu mengambil keputusan untuk membuat mesin yang dapat menggunakan bahan bakar khusus ini. Pimpinan perusahaan Shell yang telah dibujuk oleh Doolittle gemetar karena keuangan perusahaan terancam.  Kemudian Hitler mulai mencaplok Eropa. Pemerintah Amerika Serikat mulai bereaksi. Kekuatan mesin terus dikembangkan untuk memenuhi spesifikasi pesawat yang diinginkan. Hanya perusahaan Shell yang bisa memenuhi persyaratan bahan bakar. Tak lama kemudian mereka kehabisan persediaan bahan bakar dan tak mampu memenuhi permintaan. Mereka pun membangun peralatan baru. Pada Perang dunia II teknologi bahan bakar berperan penting bagi Sekutu dalam mengalahkan Luftwaffe, dan bagi Inggris untuk mempertahankan diri terhadap pesawat pembom.

Pada tahun 1940 Letnan James H. Doolittle kembali bergabung dengan Angkatan Udara AS dan dipromosikan menjadi Letnan-Kolonel. Ia memiliki apa yang jarang dimiliki oleh para perwira AU lain, yaitu hampir semua penghargaan sipil untuk untuk penerbangan pesawat. Ia juga mendapatkan Lencana Jasa Kehormatan untuk karya eksperimental bagi angkatan udara yang telah dilakukannya di McCook Field.Pada tahun yang sama ia dipilih menjadi presiden Institut Ilmu Aeronautika, semacam Royal Aeronautical Society di Amerika.

Sedikit sekali para perwira tinggi yang, dengan persetujuan Presiden Roosevelt, merencanakan serangan udara pertama terhadap Jepang. Di satu sisi ini tak lebih dari sebuah langkah, yang mengancam apa yang dapat dilakukan di masa mendatang. Namun sebagai sebuah pembangkit moral warga AS yang dikejutkan oleh serangan Jepang ke Pearl Harbour serta penaklukkan Filipina, ini menjadi sebuah rencana untuk menenangkan hati presiden. Doolittle dipilih untuk melatih tim kru penerbangan. Ini tidak berarti bahwa ia harus ikut serta di dalamnya. Namun ia tidak bisa dilupakan begitu saja, dan akhirnya diijinkan untuk memimpin serangan.

Pesawat pembom Mitchell B-25 diberangkatkan dengan kapal induk Hornet milik Angkatan Laut AS. Mereka akan diterbangkan pada jarak 400 mil dari Tokyo, sehingga bahan bakar mereka akan cukup untuk terbang ke Cina yang mendukungnya. Namun, kehadiran kapal induk Hornet segera tercium oleh kapal-kapal Jepang, dan pesawat diperintahkan untuk berada pada jarak 800 mil dari target serangan. Tokyo pun dibombardir. Doolittle berhasil terbang ke Cina. Banyak diantara krunya yang tewas atau tertawan. Namun Roosevelt menyerukan untuk menyerang musuh mereka, dan menamai titik awal penyerangan dengan nama “Shangri-La,” nama sebuah tempat dalam novel James Hilton, untuk menjaga rahasia penggunaan kapal induk Hornet.

Serangan berani yang dilakukan oleh Doolittle membuat namanya mencuat di seantero negeri. Ia pun dipromosikan menjadi brigadir-jenderal. Jenderal George G. Marshall, Kepala Staf Angkatan Bersenjata, merekomendasikan Doolittle untuk menerima Medali Kehormatan Kongres, penghargaan tertinggi di AS. Mrs. Doolittle segera dijemput dengan pesawat dan mobil dari California menuju Gedung Putih oleh petugas militer. Dengan dihadiri oleh Marshall, Jenderal H. H. Arnold, Kepala Staf Angkatan Udara AS, dan “Jo” yang tersipu malu, Presiden menganugerahkan medali tersebut kepada Jimmy. Jumlah seluruh medali yang diperoleh Jimmy setelahnya mencapai enam buah.

Eisenhower terpilih untuk memimpin Operation Torch, invasi Anglo-Amerika terhadap Afrika Utara. Doolittle direkomendasikan padanya untuk memimpin kontingen Angkatan Udara Amerika. Eisenhower tidak mengira bahwa seorang pilot perusahaan minyak menjadi salah seorang jenderal komandan. Namun Arnold dengan bijaksana menekankan Doolittle. Eisenhower menerima dengan ragu, namun belakangan mengatakan tidak pernah menyesalinya, dan bahkan menulis surat pujian kepada Doolittle. Doolittle berhasil menjalankan tugasnya di Afrika Utara, melakukan 20 kali penerbangan, dan terlibat dalam serangan lanjutan terhadap pasukan Roma untuk menjaga keamanan kota.

Menjelang invasi Sekutu di Skandinavia, Doolittle telah diberi komando oleh Angkatan Udara ke Delapan AS, yang berkantor di dekat High Wycombe di Buckinghamshire. Ia mendapat tugas berat. Tugas sebelumnya adalah mengawal pesawat tempur untuk mendampingi dan melindungi pesawat-pesawat pembom. Doolittle memerintahkan mereka untuk mengubah taktik dengan serangan agresif terhadap pesawat-pesawat tempur Luftwaffe. Banyak pesawat tempur Jerman yang berhasil dirontokkan. Kekuatan pertahanan Luftwaffe terhadap pesawat-pesawat pembom perlahan-lahan mulai dihancurkan. Dan ketika tingkat kekalahan pesawat pembom mulai berkurang, Doolittle meningkatkan rota perjalanan operasional untuk kru dari 25 menjadi 30 dan akhirnya 35 penerbangan. Angkatan Udara ke-Delapan memainkan peran penting dalam menghancurkan kekuatan Angkatan Udara Jerman. Pada ulang tahun pernikahannya yang ke-27, malam Natal tahun 1944, Doolittle mengirimkan misi terbesar dalam perang ini, kekuatan yang terdiri dari 2.056 pesawat pembom dan 1024 pesawat tempur.

Ketika perang usai Doolittle meninggalkan Angkatan Bersenjata sebagai seorang Jenderal bintang tiga. Pesta selamat datang yang diselenggarakan di Lexington Hotel di New York, sangat besar. Mantan pimpinannya sewaktu di perusahaan Shell ikut hadir. Ia menanyakan tentang banyaknya tawaran yang diberikan untuk Jimmy. Shell menginginkan ia kembali. Dan Shell tak perlu khawatir. Jimmy yang setia bersedia kembali dan menjadi direktur.

Letnan-Jenderal Doolittle kembali menjadi Tuan Doolittle saat kembali ke Shell. Namun Pemerintah Amerika Serikat dan Angkatan Udara sering meminjamnya untuk membantu permasalahan mereka. Kemudian ia kembali menjadi Letnan-Jenderal. Selama beberapa waktu ia menerbangkan pesawat pembom Mitchell sisa perang yang dibelinya. Selanjutnya ia masih sempat membuka jalur penerbangan ke seluruh Amerika Utara, dengan jaringan dan kepercayaannya ia tidak perlu menerbangkan pesawat sendiri — dalam karir ganda sebagai “tuan” sekaligus “jenderal”. Ini juga berkat bantuan Jo, istrinya.

Jimmy tidak salah pilih ketika menikahi Jo Daniels sebagai istri. Penuh pengertian dan sabar, bersedia ditinggal sendirian saat suaminya menjalankan tugas. Ia mengerti bahwa suaminya bahagia dengan pekerjaannya. Di rumahnya ia menyulam ratusan tanda tangan yang diberikan oleh para tamu yang sempat makan di meja makannya. Saat melihat rumah peristirahatan sederhana yang dibeli suaminya di California ia mengerti bahwa ini menunjukkan Doolittle tidak pernah ingin pensiun. Dua orang anak telah dibesarkannya. Tahukah Anda seberapa besar peran istri dalam kehidupan seorang pria? Tidak, namun tidak diragukan lagi bahwa sosok tangguh Jimmy Doolittle sangat berhutang budi pada istrinya, Jo.


1 Komentar

  1. saiful mengatakan:

    trim naskahnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: