Beranda » Penerbang Terbesar Sepanjang Sejarah » 16. Kapten Grup G. L. Cheshire V.C., D.S.O., D.F.C.

16. Kapten Grup G. L. Cheshire V.C., D.S.O., D.F.C.

MASTER PEMBOM 

LAHIR DI CHESTER pada tanggal 7 September 1917, di masa perang, Geoffrey Leonard Cheshire ikut terlibat perang di kemudian hari. Sebagai anak tertua dari dua bersaudara, ia dibesarkan di sebuah keluarga Inggris yang mapan. Ayahnya adalah seorang tokoh terkenal dalam dunia hukum, menjadi profesor hukum dan bendahara di Exeter College di Universitas Oxford dan kemudian mendapat penghargaan Vinerian Professorship of Jurisprudence.

Leonard dimasukkan ke sekolah Stowe, dan pada usia 13 tahun ia menjadi siswa di sekolah Inggris yang terkenal itu, yang terletak di Buckinghamshire. Disana ia selalu mendapat nilai-rata-rata yang baik di setiap kelas. Ia kurang tertarik dengan olahraga keras seperti sepakbola Rugby, namun ia memainkannya. Ia pandai bermain tenis. Di sekolah ia bergabung dengan Korps Pelatihan Perwira dan memilih bagian senjata mesin. Empat tahun setelah memasuki sekolah Stowe ia pergi ke Jerman; tinggal dengan dua keluarga Jerman yang baik, dan belajar bahasa Jerman dengan bakat dan kecerdasannya.

Selanjutnya ia masuk ke Merton College, Oxford untuk mempelajari ilmu hukum. Kehidupan kuliah yang banyak memberi kebebasan membawanya pada petualangan di London. Ia membeli mobil cepat Alfa Romeo, dan gemar ngebut sehingga pernah “ditilang” karena mengendara dengan kecepatan 60 mil per jam di tempat terbuka. Studinya pun terabaikan.

Sementara itu, ia telah bergabung dengan Skadron Kavaleri Universitas Militer, dan harus selalu bangun pagi untuk melaporkan tugas pada pukul 7.30. Namun sebenanrnya ia agak takut dengan kuda, sehingga tidak bisa menyatu dengan mereka. Binatang yang disukainya adalah anjing (terutama jenis pudel) kucing. “Mereka adalah binatang cerdas,” katanya. Cerdas menurutnya.

Karena ia tidak suka kuda dan orangtuanya juga benci balapan, ia meninggalkan kavaleri dan bergabung dengan Skadron Udara Universitas sebagai seorang pilot Sukarelawan Cadangan Angkatan Udara Inggris pada tanggal 16 November 1937. Para siswa di disini belajar terbang dengan pesawat Avro Tutor tak jauh dari markas Angkatan Udara Inggris di Abingdon. Mereka juga pergi ke kamp musim panas di pangkalan udara Ford di Sussex dengan pesawat Hawker Hart dan pesawat dinas Hind kursi ganda.

Tensi yang meningkat di Eropa mempengaruhi perasaannya. Ia ingin bersenang-senang. Tanpa itu ia tak akan bisa tenang. Munich telah membuat panggung politik dunia mengalami krisis, dan semangatnya pun bangkit. Ia berpikir bahwa perang sudah dekat, sehingga ia akan terpaksa meninggalkan studinya. Saat Mr Neville Chamberlain kembali dan menolak papernya, Cheshire sangat kecewa. Karena karir universitas sudah mendekati akhir ia pun bekerja keras untuk memperbaiki nilai studinya, namun ia sudah terlambat. Ia mendapat gelar kelas dua di bidang hukum.

Menjelang perang ia melamar sebagai perwira tetap di Angkatan Udara Inggris begitu lulus dari universitas, dan ia diterima. Ia melepaskan jabatannya di Sukarelawan Cadangan pada tanggal 7 Oktober 1939, setelah diangkat sebagai perwira penerbang terhitung sejak 7 Januari 1938. Karena telah mengikuti pelatihan terbang sebelumnya, ia melewati kelas pelatihan terbang dasar, dan langsung bergabung dengan Sekolah Pelatihan Terbang No.9 (di pangkalan udara R.A.F. yang berada di Hullavington, Wiltshire) untuk mengikuti kursus kelas menengah. Di sana para siswa dibebaskan untuk memilih tugas yang ingin dijalankan di masa mendatang. Cheshire menyebut pesawat tempur sebagai pilihan pertamanya, dan ditugaskan di pesawat pembom. Ini merupakan awal karirnya untuk meraih gelar V.C., penghargaan untuk pilot tempur pada Perang Dunia I. Setelah enam bulan berada di Hullavington, dan dua bulan pelatihan operasional di Abingdon, Cheshire ditugaskan di skadron No. 102 di Driffield, Yorkshire untuk menerbangkan pesawat pembom malam Whitley. Cheshire cukup senang dengan tugas ini.

“Saya bukan pilot yang baik,” kata Cheshire. “Saya dapat mengendalikan pesawat jika saya ingin, namun saya tak dapat terbang terus-menerus pada kecepatan dan ketinggian tertentu. Karenanya, saya tidak bisa menjadi pilot uji, ataupun pilot tempur yang baik.” Menurutnya ia tidak sebaik Guy Gibson (seorang pilot tempur malam) saat menyerang sebuah bendungan. Mungkin ini telah terlihat sejak masa pelatihan sehingga ia ditempatkan di skadron pembom.

Pada tahun 1940 pesawat-pesawat pembom terbang dalam suatu barisan dengan interval tertentu untuk masing-masing pesawat. Menerbangkan pesawat Whitley yang tidak praktis, Cheshire membuktikan pada teman-temannya bahwa ia selalu siap menanggung resiko uuntuk meraih sukses. Ia sering menjatuhkan bom dari ketinggian di bawah 2000 kaki, meskipun pertahanan Ruhr sangat kuat. Kadang-kadang dalam keadaan terjepit ia memberi perintah kepada krunya dengan kalem. Para kru menyukainya.

Suatu malam di bulan November 1940 target serangan berada di dekat Cologne. Senjata anti pesawat udara sangat lemah. Dengan tenang, saat pesawat Whitley berada di ketinggian 8000 kaki, salah seorang kru bersiap menjatuhkan bom api. Tiba-tiba sebuah peluru mengenai mengenai pesawat dan meledakkan bom tersebut. Dengan cahaya yang menyilaukan dan panas tinggi api menjilat salah satuu sisi badan pesawat. Kokpit dan bagian depan pesawat penuh dengan asap hitam. Salah seorang kru memberitahu sang kapten bahwa pesawatnya terbakar. “Padamkan saja!” Cheshire menjawab. Setengah terkendali, pesawat Whitley itu melayang di malam hari, menjadi target senjata anti pesawat yang melihat cahayanya. Cheshire berhasil mengembalikan kontrol, terus terbang, dan membombardir Cologne.

Operator wireless, Sersan Davidson, mengalami luka bakar di wajah dan tangannya karena pakaiannya terbakar. Saat api berhasil dipadamkan ia tidak dapat melihat. Penembak jitu membantunya untuk menggunakan radio kontrol. Setelah bersusah payah, ternyata peralatan tersebut sudah rusak.

Meskipun pesawat Whitley sulit dikendalikan, namun Cheshire dan pilot pendampingnya mencoba untuk menerbangkannya pulang.  Sersan Davidson menolak untuk mendarat di pangkalan udara terdekat selain Driffield. Untuk keberanian ini Cheshire memperoleh Pangkat Perwira Kehormatan, dan Davidson mendapatkan Medali Terbang Kehormatan. Tiga anggota kru lain yang memadamkan api dan membantu Davidson tidak mendapatkan apa-apa, sebagai hukuman karena terbang dengan kru terlalu banyak.

Di bulan yang sama Cheshire dikirim ke Blind Approach School untuk menjalani pelatihan pendaratan dengan mengandalkan instrumen, dan tugasnya di skadron No. 102 berakhir. Ia kemudian dipindahkan ke skadron No. 35 pada pertengahan Januari 1941 untuk menerbangkan pesawat pembom Halifax. Secara fisik, Cheshire tidak kelihatan seperti seorang pilot tempur. Tingginya hanya 5 kaki 10 ½ inchi. Ia berperawakan tegap, namun kurus, dan bahunya kecil. Bobotnya pun hanya 147 pon. Kelebihannya adalah mental. Ia percaya bahwa yang menjadikan seorang pilot hebat adalah latihan terus-menerus, mempelajari pesawat dan cara menerbangkannya. Seorang pilot harus mengetahui semua bagian pesawat dan peralatannya, seperti seorang pengacara yang mempelajari suatu kasus.

Ia telah menjadi perwira penerbang selama setahun, dan kemudian ia dipromosikan sebagai letnan penerbang. Pada tanggal 7 Maret 1941, namanya muncul di harian London Gazette sebagai salah seorang pilot yang mendapatkan penghargaan Lencana Terbang Kehormatan “atas keberanian dan kesetiaan dalam menjalankan tugas operasi udara.” Dan Cheshire memperolehnya untuk pengabdiannya di skadron No. 102.

Skadron No. 35 menyerang Kiel. Tiga hari kemudian pesawat pembom Halifax dimodifikasi. Cheshire dan para pilot lainnya dikirim ke Amerika Serikat (dengan sebuah konvoi kapal kecil). Mereka melapor ke Atfero (organisasi penerbangan pesawat Amerika untuk Atlantik Utara ke Inggris), namun mereka tidak dikenal. Mereka kemudian pergi ke New York. Cheshire senang dengan gemerlap cahaya dan tempat-tempat hiburan, dan di New York ia bertemu dan menikah dengan Constance Binney, seorang artis yang lebih tua 22 tahun di atasnya. Tiga hari setelah menikah ia menerbangkan pesawat Hudson kembali ke Inggris. Istrinya menyusul dengan menumpang kapal perang pada bulan Oktober 1941. Setelah perang usai istrinya tidak mau tinggal di Inggris, dan Cheshire pun menolak tinggal di Amerika Serikat. Perkawinan mereka pun bubar.

Cheshire bergabung dengan skadron No. 35 selama setahun, dan ikut menyerang Berlin, Essen, Cologne, Bremen, Duisberg, dan kota-kota Jerman lainnya. Terbang di kegelapan, ia mengambil resiko serangan senjata anti pesawat yang terus berkembang. Ia menyamakan senjata anti pesawat dengan senapan yang biasa digunakan oleh pasukan darat di Perang Dunia I. Dengan begitu, ia tidak pernah merasa takut.

“Bagaimanakah seorang penerbang tempur bisa memandang dengan cara itu? Bisakah anda memberitahu saya?” saya bertanya pada Cheshire.

Ia kembali menjelaskan hal ini selama kami berdiskusi, seolah-olah itu merupakan ide baru dan ia menikmatinya. Ia meletakkan tangannya di jidat dan berkata : “Ini seperti mengeluarkan beban yang ada di pikiran,” jawabnya.

“Sebagai contoh, ketika merencanakan pemboman kita tahu bahwa kita akan melewati senjata anti-pesawat. Jika itu dipikirkan maka justru akan berbahaya. Ini harus dilupakan. Kita harus berkonsentrasi pada target serangan, bagaimana agar serangan sukses. Senjata anti-pesawat dianggap sebagai sasaran, namun tidak terlalu penting.”

Dalam permainan biasa, “mata harus tertuju pada bola”. Seorang penerbang yang baik harus dapat mengamati sasaran dan tidak boleh terganggu dengan hal-hal lain. Cheshire mempunyai kemampuan untuk mengabaikan hal-hal lain selain sasaran yang dituju. Dengan begitu, senjata anti-pesawat tidak dianggap sebagai halangan. Dengan konsentrasinya terhadap target serangan, Cheshire berhasil meraih kemenangan dan melewati bahaya yang mengancam.

Cheshire hanya mengalami satu kali masalah, ketika sebuah pesawat Itali mendekat pada jarak 50 kaki dan menembak pesawatnya, namun meleset. Penembak jitu di belakang tidak melihat kehadiran pesawat Fiat. Cheshire berbalik untuk menyerang. Namun pesawat itu selalu lolos. “Tak ada orang Jerman yang bisa melakukannya,” komentar Cheshire.

Promosi menjadi pemimpin skadron datang pada Chesh atau Cheese, (julukannya di skadron No. 35) pada bulan Oktober 1941, dan jabatan tersebut diberikan pada bulan Maret berikutnya. Di akhir operasi terbang keduanya, ia ditugaskan di Unit Pengganti No. 1652 untuk tugas dan instruksi penerbangan. Ia sempat menjalankan empat misi operasional sebelum meninggalkan skadron 35.

Pada bulan Agustus 1942 ia ditugaskan menjadi komandan terbang di skadron No. 76, dan sebulan kemudian ditunjuk menjadi komandan skadron, dengan jabatan sebagai komandan wing. Ia memimpin skadron ini dengan kemampuannya yang luar biasa di sejumlah misi, sebagian besar sukses dan efisiensi skadron ini adalah hasil keteladanannya. Prestasi yang diraihnya banyak direkam oleh juru foto. Pemberian gelar D.S.O. padanya dimuat di koran pada tanggal 19 April 1943, sebagai penghargaan atas pengabdiannya di skadron No. 76.

Ia memimpin operasi, dan dipromosikan sebagai kapten grup pada tanggal 30 Maret 1943. Pada usia 25 tahun ia menjadi kapten grup termuda di R.A.F. Sebuah sub komando baru dikeluarkan antara skadron-skadron dan grup. Disebut pangkalan, sub komando ini bertanggung jawab terhadap sejumlah lapangan terbang operasional, biasanya terdiri dari tiga, serta skadron-skadronnya. Cheshire ditunjuk sebagai komandan deputi di Markas Pangkalan, Marston Moor. Di sana, mengerjakan tugas administratif, ia lepas dari ketegangan selama tiga tugas terakhir. Namun ia tetap berlatih terbang dengan memberi instruksi pada pesawat Halifax.

Skadron No. 617 menjadi bahan pemberitaan karena serangannya yang terkenal terhadap bendungan Möhne dan Eder di Jerman. Karena sukses kepemimpinannya dalam operasi tersebut, Komandan Wing Guy Gibson, yang telah mendapat dua gelar D.S.O dan D.F.C. diberi penghargaan Lencana Victoria. Ia kemudian dipindahtugaskan ke Amerika Serikat bersama Mr Winston Churchill untuk dapat beristirahat.

Cheshire ingin kembali melakukan terbang operasional. Ia kemudian melamar untuk bergabung dengan pemandu di grup No. 8, namun kurang mendapat dukungan. Perwira Penerbang yang memimpin pemandu, Wakil Marsekal Udara D. C. T. Bennett, mengatakan bahwa Cheshire harus lulus tes, dan itu pun belum tentu jaminan buatnya.

Wakil Marsekal Udara Roderick Carr, yang memimpin grup No. 4 tempat Cheshire bertugas, merekomendasikan ia kepada Wakil Marsekal Udara Hon. R. A. Cochrane, yang memimpin grup No. 5 di skadron 617. Akhirnya Cochrane menawarkan kepada Cheshire komando atas skadron tersebut. Untuk itu ia harus melepas pangkat yang diperolehnya, kembali menjadi komandan wing. Sejak saat itu ia memulai masa terpenting dalam karir perangnya.

Sebelum Cheshire memegang komando Cochrane mengharuskannya mengikuti kursus Unit Pengganti Pembom Besar. Setelah menjalani tiga kali operasi penerbangan dengan pesawat Whitley dan Halifax, Cheshire merasa telah siap. Namun ia sadar bahwa Cochrane memang benar, karena ia harus mengetahui semua tentang Lancaster (pesawat barunya) dengan baik. Disamping itu, Cheshire telah lama tidak terbang dan kurang berlatih. Ia tahu kemudian bahwa ternyata ia terbang lebih rendah di skadron 617 pada malam hari, sehingga ia membutuhkan latihan terbang setiap hari. Bahkan sehari saja ia tidak terbang maka kualitas terbangnya akan berkurang.

Ketika grup pemandu didirikan banyak yang menentang. Kepala Marsekal Udara Sir Arthur Harris, komandan Komando Pembom, dan para Komandan Grupnya menginginkan masing-masing gruup memiliki pemandu sendiri. Ini ditolak oleh Departemen Penerbangan, yang menyatakan bahwa seluruh pemandu harus berada di bawah satu grup khusus. Namun skadron No. 617, yang beroperasi di bawah komando Cochrane, kemudian didirikan untuk operasi khusus terhadap bendungan, meskipun telah ada skadron-skadron dari grup pemandu. Tujuan dari grup pemandu adalah untuk mencari dan menandai target operasi dari pesawat-pesawat pembom. Namun dibawah Cheshire skadron 617 mengembangkan suatu metode untuk melakukan hal tersebut secara akurat melebihi semua grup pemandu.

Penemuan metode baru dalam penandaan target serangan terjadi secara tidak sengaja. Pemimpin Skadron Dicky Martin, seorang Australia yang berpengalaman dalam peledakan bendungan, sedang berlatih dengan pesawat Lancaster di atas laut. Ia melihat gugusan rumput laut yang mengambang, dan tiba-tiba berpikir untuk menukik ke sana. Ia berhasil dan melepaskan bom untuk latihan. Bom jatuh tepat di tengah-tengah rumput laut yang mengambang. Ia mengulanginya untuk memastikan bahwa itu bukan kebetulan. Selanjutnya ia kembali ke pangkalan dan bercerita kepada Cheshire. Sang komandan wing pergi dan mencoba apa yang telah dijelaskan oleh Martin, dan hasilnya sama. Ia tahu bahwa ini merupakan cara baru untuk menandai target tepat pada titik sasaran. Dengan demikian ini dijadikan dasar bagi pemandu untuk menukik ke arah target yang ada di bawahnya dari ketinggian dan menjatuhkan bom; atau melakukannya dengan bantuan radar pelacak yang disebut Oboe. Metode pertama ternyata kurang akurat untuk menentukan titik sasaran. Sedangkan Oboe tidak bisa digunakan di luar radius 250 mil. Namun, menukik di atas target sampai ketinggian yang sangat rendah memungkinkan untuk melihat target dengan jelas, dan membidik tepat ke sasaran. Tidak ada batasan jarak, namun tergantung kemampuan pesawat.

Tentu saja ini adalah metode pesawat pembom. Ini tidak sepenuhnya baru. Ini telah digunakan pada perang antara tahun 1914-1918 oleh pesawat-pesawat pembom. Namun ini menjadi baru bagi pesawat pembom Lancester, yang besar dan berat. Dan ini juga baru untuk diterapkan dalam penandaan target dengan skala besar-besaran, terutama di malam hari. Pesawat Lancaster jauh dari ideal untuk keperluan ini, dan Cheshire meminta pesawat Mosquito untuk melakukannya. Ia telah mendahului pemikiran Cochrane. Cochrane pun setuju, dan mengajukannya kepada Harris, sang komandan kepala. Bennett dalam konferensinya, menyatakan bahwa itu tidak dapat dilakukan di malam hari terhadap target senjata anti-pesawat. Cheshire tahu bahwa Munich tidak banyak mengalami kerusakan pada serangan sebelumnya sedangkan Harris menginginkan serangan yang sukses terhadap Munich. Ia menawarkan untuk membom Munich.

Harris memerintahkan pada Cheshire untuk menggunakan pesawat Lancaster di Munich, mencobanya dan memberitahukan hasilnya. Cheshire pun melakukannya. Ia menukik rendah di atas Munich. Dengan panduan bola api yang dikeluarkan oleh pesawat Lancaster lain dari skadron 617 ia terbang rendah selama tiga atau empat menit. Di jantung kota tersebut ia menandai bangunan yang disebutnya titik sasaran. Ia kembali dan melaporkan bahwa ia telah menandai target yang teridentifikasi.

“Baik,” kata Harris. “Pergi dan ledakkan pabrik Renault di Limoges. Lakukan itu dan kamu akan segera mendapatkan pesawat Mosquito.”

Pabrik Renault ini merupakan target yang sangat sulit dibom karena sulitnya menandai lokasi. Skadron No. 617 pun berangkat. Cheshire terbang dengan pesawat Lancasternya, mencari sasaran dan menjatuhkan bom dengan akurat. Sehari kemudian pesawat pengintai-foto memperlihatkan gambar pabrik yang berhasil dihancurkan. Harris pun memberikan empat pesawat Mosquito kepada skadron No. 617, dan komandannya diberi gelar D.S.O. untuk yang kedua kalinya pada tanggal 16 April 1944 untuk kepemimpinannya di skadron 617.

Cheshire dihadapkan dengan target di Munich yang hendak diserang, dan Munich merupakan batas jangkauan serangan pesawat Mosquito. Terbang ke sana dan kembali lagi hanya menyisakan bahan bakar untuk 15 menit terhadap target. Selanjutnya diusulkan untuk memasang tangki bahan bakar yang laebih besar. Namun tanggal serangan susulan telah ditetapkan yaitu malam tanggal 24-25 April 1944. Tak ada waktu untuk mengganti tangki. Cheshire harus melakukannya pada malam tersebut. Sang navigator hanya menghela nafas panjang saat mendengarnya. Pangkalan udara Manston, di North Foreland, adalah pangkalan R.A.F. terdekat dengan Munich. Tangki empat pesawat Mosquito diisi penuh. Cuaca agak buruk di sepanjang rute mereka, dan pengaturan waktu yang tepat sangat diperlukan untuk keberhasilan tugas. Mereka terbang lurus menerobos garis pertahanan Augsburg, dan dari sana hingga ke Munich pesawat terus dihujani tembakan.

Mereka melihat kota dari atas, diterangi oleh bola api yang dilepaskan oleh pesawat Lancaster dari ketinggian. Cheshire mengontak pesawat Mosquito lainnya leat radio dan memberitahu bahwa ia akan masuk. Ia turun hingga ketinggian 700 kaki, menyorot target di bawahnya. Disana terdapat target serangan yang dulu dilihatnya dari pesawat Lancaster. Tepat di atasnya ia melepaskan penanda sasaran. Ia menarik kontrol. Hidung pesawat Mosquito pun naik. Ia berputar-putar di atas Munich pada ketinggian 1000 kaki, untuk memastikan posisi target yang tepat. Ia kemudian mengontak pesawat Mosquito lain untuk mengikutinya secara berurutan. Mereka turun dan Cheshire memberi aba-aba untuk pemboman. Bom pun berjatuhan dari atas. Navigator Cheshire memperhatikan indikator bahan bakar, dan mengatakan saatnya untuk pergi. Selama dua belas menit kembali dari Munich mereka terus ditembaki dari darat, namun tidak mengenai bagian yang vital. Keempat pesawat Mosquito pulang dengan selamat.

Sehari kemudian pesawat pengintai membawa foto dari Munich. Untuk pertama kalinya Munich “porak-poranda.” Metode baru penandaan target ini telah terbukti dalam tugas berat yang harus diemban oleh Komando Pembom, seperti yang disarankan oleh Cheshire.

Penangkis serangan udara dianggap sangat mematikan, namun Cheshire tidak mengalami masalah dengannya. Menurutnya pesawat penanda yang terbang rendah berada di sudut yang sulit dijangkau dengan tembakan, sehingga relatif aman setelah menukik turun. Inilah cara Cheshire membuang pemikiran buruk yang dapat mengganggunya.

Sejak saat itu skadron 617 sering diberi tugas melakukan pemboman yang presisi. Cheshire memimpin sendiri skadron dalam setiap tugasnya, hampir melakukan semua tugas penandaan dari ketinggian rendah, baik dengan pesawat Mosquito maupun Mustang. Bom-bom supersonik Tallboy 12.000 lb berhasil dijatuhkan di dekat peluncur roket di Calais, gudang senjata di lembah Oise, serta kapal perang Jerman Tirpitz setelah Cheshire pergi.

Dua operasi besar lain yang dipimpin oleh Cheshire terkait dengan invasi Eropa. Sepanjang malam, ketika konvoi besar berlayar untuk penyerbuan Normandi, 16 pesawat Lancaster dari skadron No. 617 mengitari 18 kapal kecil di Selat Dover. Pesawat menjatuhkan potongan kertas berlapis logam, sedangkan kapal menerbangkan balon dengan perangkap radar. Tipuan ini mengelabui stasiun radar Jerman seolah-olah sebuah konvoi besar sedang menyeberangi Selat, dan bala bantuan pun didatangkan ke Pas de Calais, menunggu invasi yang sebenarnya tidak ada.

Sekali lagi pada tanggal 14 Juni 1944, Cheshire terbang ke pelabuhan Le Havre pada siang hari untuk melepaskan bom penanda sasaran pada sebuah tempat yang penuh senjata anti-pesawat. Bom Tallboy yang dilepaskan kemudian menciptakan gempa dasar laut yang menghempaskan 14 kapal E, 3 kapal R, 3 kapal torpedo, 16 kapal pendukung, yang berat keseluruhannya mencapai 15.000 ton, membunuh lebih dari seribu marinir Jerman dan menciutkan nyali mereka yang selamat.

Pada tanggal 12 Juli 1944, Cheshire dipindahkan dari komandan skadron 617 ke markas grup No. 5. Ia telah menjalani ratusan operasi, namun ia protes kepada Cochrane karena masih ingin terus. Cochrane tidak mau mengubah keputusan. Lima hari kemudian Cheshire ditugaskan di Sekolah Pelatihan Perwira Lanjutan untuk kursus komandan senior. Sebulan telah berlalu, dan selanjutnya ia ditugaskan Pusat Pengiriman Personel No 18 untuk luar negeri. Dalam perjalanan terbangnya ke markas Komando Udara di Asia Tenggara, Cheshire diberitahu bahwa ia mendapat Lencana Victoria pada tanggal 8 September 1944. Ia mendapat pujian atas karir operasionalnya dari sejak bergabung dengan skadron No. 102. Penghargaan tersebut tidak diberikan kepada sembarang orang yang berani, namun juga atas pengabdiannya dengan pesawat Whitley yang sempat terbakar, serangan ke Munich dan Le Havre, dan menyelesaikan 100 misi.

Pada tanggal 1 Oktober 1944, ia dipromosikan menjadi kapten grup dan ditugaskan di Elemen Komando Udara Timur R.A.F. dan pada tanggal 4 Desember di bagian operasi markas R.A.F. di Benggala. Delapan belas hari kemudian dia ditempatkan di bagian perencanaan delegasi R.A.F. di Washington, AS. Dari sana, ia pergi ke Pulau Marianas di Pasifik bersama Dr William Penney, ilmuwan atom Inggris, yang terbang sebagai pengamat R.A.F. untuk meneliti pesawat pembom Amerika B-29 menjatuhkan bom atom kedua serta bom plutonium di Nagasaki.

Ia dan Penney menggunakan pesawat observasi Superfortress. Cheshire melepas bajunya di kabin yang dipanaskan dan diberi tekanan. Dari ketinggian 39.000 kaki pada tanggal 9 Agustus 1945, sang pilot tempur dan ilmuwan menyaksikan semburan api raksasa dari bom yang meledak, asap pekat yang menunjukkan ledakan dan radiasi yang menyebar dengan kecepatan kilat ke seluruh kota, diikuti dengan bola api yang membubung seperti jamur membentuk awan atom. Ini merupakan operasi Cheshire terakhir, terakhir dalam seluruh peperangan.

Cheshire kembali ke Inggris untuk dirawat di rumah sakit pada tanggal 13 September 1945. Ketegangan panjang telah usai. Namun efeknya tak bisa dihilangkan.

Anak muda ini merasa bahwa di masa perang R.A.F. dapat memenuhi keinginannya. Namun di masa damai R.A.F tidak seperti yang diinginkannya. Bukan disiplin yang menjadi soal baginya. Ia menyadari perlunya itu. Ini hanya karena keadaan yang jauh berbeda. Tujuan yang hendak diraih telah hilang. Ia harus pergi untuk menemukan yang sesuai dengannya, dan pada tanggal 21 Januari 1946 ia pensiun dengan membawa pangkatnya sebagai kapten grup.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: