Beranda » Penerbang Terbesar Sepanjang Sejarah » 18. Komodor Udara Sir Frank Whittle, K.B.E., C.B., F.R.S.

18. Komodor Udara Sir Frank Whittle, K.B.E., C.B., F.R.S.

REVOLUSIONER DUNIA PENERBANGAN 

FRANK WHITTLE tidak “dilahirkan dengan sendok perak di mulutnya.” Orang tuanya berasal dari latar belakang keluarga kelas-buruh di Lancashire pada akhir abad 19 dan awal abad 20 yang penderitaannya tidak terlihat lagi di Inggris saat ini. Ayahnya telah bekerja di pabrik pemintalan kapas sejak usia 11 tahun dan tidak sempat mengenyam pendidikan pada masa reformasi pendidikan di Inggris. Frank Whittle yakin bahwa jika hidup di lingkungan yang baik maka ayahnya berbakat menjadi seorang insinyur.

Di deretan rumah kelas-buruh di Earlsdon distrik Coventry Frank anak pertama mereka lahir pada tanggal 1 Juni 1907. Dari hasil tabungan dan pinjaman, pada tahun 1916 ayahnya membeli sebuah usaha permesinan kecil yang disebut Leamington Valve dan Piston Ring Company. Keluarga tersebut lalu pindah ke Leamington Spa. Meskipun mempunyai usaha, namun ayah Frank bekerja sendirian. Khususnya pada hari Minggu, ayahnya selalu membuat ide baru dan Frank mulai akrab dengan meja gambar, garisan siku, dan peralatan lainnya. Pada usia 10 tahun ia mulai melakukan pekerjaan praktek dengan membantu ayahnya membor batang klep. Selanjutnya ia menjalankan mesin bubut. Ia dibayar sedikit untuk setiap pekerjaannya.

Frank Whittle masuk ke sekolah kota di Coventry dan Leamington selama enam tahun. Kemudian, pada usia ketika ayahnya mulai bekerja, Frank mendapatkan beasiswa di sebuah sekolah lanjutan yang nantinya menjadi Leamington College. Ia kemudian mendapatkan beasiswa lainnya sebesar sepuluh poundsterling per tahun, namun ia benci PR, dan empat tahun di sekolah barunya tidak menghasilkan apa-apa. Tujuannya hanyalah untuk memperoleh sesuatu dengan usaha minimum. Ia menghabiskan waktu luangnya dengan pergi ke perpustakaan Leamington Spa, membaca buku-buku pengetahuan umum, astronomi, fisiologi, teknik (terutama teknik pesawat terbang), dan mata pelajaran lain di luar kurikulum.

Ia melamar bekerja di AU Kerajaan Inggris sebagai pekerja magang pesawat pada akhir tahun 1922. Berkat ketekunannya membaca buku ia lolos tes tertulis dengan mudah. Namun dalam pemeriksaan fisik ia gagal karena tingginya hanya lima kaki. Ia sempat meminta agar kasusnya dipertimbangkan lagi sebelum akhirnya ia dipulangkan.

Sebelum meninggalkan Halton seorang instruktur pelatihan fisik, Sersan Holmes, memberinya daftar latihan, menunjukkan cara melakukannya, dan menulis surat tentang daftar makanan sehat. Frank mengikuti instruksi ini dengan sungguh-sungguh. Enam bulan kemudian tinggi badannya naik tiga inchi. Ia kembali melamar untuk menjalani pemeriksaan medis. Namun ia ditolak, dan diberitahu bahwa ujian ulang tidak diperbolehkan. Setelah semua usaha untuk mempertimbangkan ulang kasusnya ditolak, Whittley mendaftar lagi sebagai peserta baru tanpa menggunakan referensi sebelumnya. Ia lulus ujian tertulis dan medis, dan ia pun menjadi satu diantara 600 pekerja magang yang diterima di AU Kerajaan Inggris pada bulan September 1923, dan berangkat ke Cranwell. Di sana, selama tiga tahun ia ditugasi memasang perlengkapan pesawat terbang.

Whittley tidak menjalani disiplin ketat dan kehidupan di barak tentara. Ia menghabiskan waktunya di perkumpulan model pesawat terbang, bahkan ketika seharusnya ia mengerjakan tugas lain. Bersama sebuah tim kecil ia menciptakan sebuah model pesawat terbang dengan rentang sayap 10 ½ kaki dan menggunakan mesin bensin dua tak. Tim membuat seluruh bagian pesawat kecuali businya. Model pesawat tersebut menarik perhatian komandannya, Komandan Wing R. J. F. Barton (yang mengomandani Pelatihan Dinas Penerbangan) selama beberapa tahun setelah meninggalkan AU Kerajaan Inggris. Barton memutuskan untuk memperlihatkannya pada Sir Victor Sassoon, Sekretaris Pribadi Menteri Penerbangan, saat ia mengunjungi sekolah. Kerusakan busi menyebabkan pesawat gagal terbang hari itu.

Whittle yakin bahwa model pesawatnya akan menjadi bahan rekomendasinya sebagai kadet. Ia mungkin benar, karena sifat kepemimpinan yang telah ia tunjukkan memang dicari diantara para pekerja magang yang menjalani pelatihan. Frank Whittle langsung diangkat sebagai Satuan Kadet dari Satuan Magang, dengan peningkatan gaji hingga tujuh shilling per hari.

Di masa akhir karirnya sebagai kadet ia menulis sebuah tesis tentang : “Perkembangan Masa Depan Desain Pesawat.” Ini membawanya berpikir tentang turbin bahan bakar, namun belum memikirkan tenaga jet. Pada bulan Juli 1928 ia lolos ujian kadet kedua menjadi perwira di AU Kerajaan Inggris.

Pada usia 21 tahun ia menikahi Miss D. M. Lee dari Coventry, dan mengalami sedikit kesulitan hidup dengan gajinya yang pas-pasan. Ia ditugaskan di skadron tempur No. 111 di Northolt, dimana ia menerbangkan pesawat Siskin selama 15 bulan. Ia kemudian dikirim ke Central Flying school untuk menjalani pendidikan sebagai instruktur terbang. Disana ia menemukan ide untuk mengkombinasikan turbin bahan bakar dengan tenaga jet dalam satu unit.  Ini merupakan ide baru. Sebelumnya, para eksperimenter lain menggunakan turbin bahan bakar sebagai unit pengerak dengan peralatan mekanis. Ia mendiskusikan idenya dengan Perwira Penerbang W. E. P. Johnson, seorang instruktur yang sehari-harinya merupakan seorang insinyur sipil. Johnson membawa Whittle menemui komandannya, Kapten Grup J. C. Baldwin, yang kemudian memberitahu Departemen Penerbangan.

Whittle menjelaskan sketsa dan kalkulasinya kepada W. L. Tweddie, seorang perwira teknik di direktorat riset ilmiah Departemen Penerbangan, dan Dr. A. A. Griffith dari laboratorium Departemen Penerbangan South Kensington. Ia kurang mendapat dukungan. Departemen Penerbangan melihat turbin bahan bakar terkait dengan laporan di tahun-tahun sebelumnya. Griffith mempercayai turbin bahan bakar untuk pesawat berbaling-baling. Ia mengatakan bahwa asumsi Whittle terlalu optimistis, dan kalkulasinya mengandung kekeliruan. Whittle kembali ke Wittering dengan kecewa. Di sana ia menemukan kesalahan yang diungkapkan oleh Griffith.

Departemen Penerbangan menolak proposalnya karena turbin bahan bakar sangat membutuhkan material yang tahan terhadap temperatur tinggi. Material semacam itu belum ada. Tampaknya orang belum menyadari nilainya saat mulai mengembangkan material ini kemudian.

Johnson mendesak Whittle untuk membuat hak paten. Ia membantu membuat draft isian untuk whittle pada tanggal 16 Januari 1930. Sesuai dengan peraturan Whittle harus memberitahu Departemen Penerbangan. Disana ia diberitahu bahwa tidak ada orang yang tertarik. Dengan demikian patennya tidak bisa dirahasiakan. Setelah melengkapi spesifikasi dan diterima, penemuannya dipublikasikan ke seluruh dunia.

Sementara itu Whittle menjadi instruktur terbang dan melakukan atraksi terbang di Pameran AU Kerajaan Inggris di Hendon. Ia lalu dikirim ke Felixstowe sebagai pilot uji pesawat apung eksperimen; ia mencoba tinggal landas dari atas permukaan laut dan mendarat kembali di sana. Pada bulan Agustus 1932 ia ditugaskan di Kursus Teknis Perwira di Depot Pesawat Terbang Henlow. Ia menyelesaikannya dalam waktu 18 bulan dari jatah waktu 2 tahun, dan diberi tugas menguji mesin pesawat di sana. Ia kemudian dipromosikan sebagai letnan penerbang. Ia terus mengembangkan mesin jet di atas kertas, namun tidak dapat mempraktekkannya lebih jauh. Ia telah membicarakannya dengan sejumlah perusahaan namun semuanya mengatakan biayanya terlalu besar.

Pada pertengahan tahun 1934 ia dikirim ke Universitas Cambridge selama dua tahun, dan dipekerjakan di University Air Squadron. Pada bulan Januari 1935, ia harus memperbarui patennya. Departemen Penerbangan memperhatikannya namun tidak dapat memberikan bantuan keuangan secara resmi. Ia mengalami kesulitan. Biaya yang harus dikeluarkan sangat besar. Ia putus asa melihat idenya dinilai secara material. Ia menyimpan uang £ 5 di kantongnya dan membiarkan patennya hilang.

Bulan Mei berikutnya ia menerima surat dari Perwira Penerbang R. D. Williams, yang pernah bertemu dengannya di perusahaan Armstrong Siddeley Motors. Williams telah pensiun dari R.A.F. karena sakit. Surat itu mengatakan bahwa seseorang ingin bergabung dengan proyek pesawat tanpa baling-baling. Williams dan kawannya, J. C. B. Tinling (yang cacat karena kecelakaan di R.A.F.) datang menemui Whittle. Mereka kecewa mendengar bahwa Whittle telah membiarkan patennta hilang. Namun mereka bersedia membantu, membayar untuk paten dengan sejumlah perbaikan serta membiayai pengembangan proyeknya. Tak lama kemudian tiga buah paten diberlakukan mencakup sejumlah perbaikan. Karena Whittle bekerja sebagai perwira, maka Departemen Penerbangan berhak menggunakan paten ini dengan memberi hak komersial kepada Whittle.

M. L. Bramson, seorang keturunan Denmark, kemudian mengajak Falk dkk., para bankir pemodal, dan bertindak sebagai konsultan teknis untuk rencana tersebut. Sebuah perusahaan bernama Power Jets didirikan pada bulan Maret 1936 dengan modal awal £ 10.000. Lewat Whittle Departemen Penerbangan otomatis menjadi bagian dari perjanjian kerjasama perusahaan. L. L. Whyte, salah seorang anggota Falk dkk., menjadi pemimpin perusahaan. Whittle menyerahkan hak patennya kepada perusahaan dengan kompensasi saham perusahaan yang dimiliki olehnya, Williams, dan Tinling. Seperempat dari saham yang dimiliki Whittle harus diberikan kepada Kerajaan. (Selanjutnya Whittle memberikan seluruh sahamnya pada Departemen Penerbangan untuk menunjukkan bahwa ia tidak berambisi komersil terhadap Departemen tersebut, yang menjadi pelanggan utama mesin jetnya). Whittle menjadi kepala insinyur kehormatan sekaligus konsultan teknis selama lima tahun, diluar tugasnya di R.A.F. Departemen Penerbangan menetapkan bahwa pekerjaan ini tidak boleh lebih dari enam jam dalam seminggu tanpa seijin mereka.

Meskipun agak rumit namun ini tetap berjalan. British Thompson-Houston, sebuah pabrik pembuat mesin uap, dipilih untuk membuat suku cadang bagi Power Jets. Whittle harus mengawasi ini dan perusahaan lain yang telah menyiapkan detil baru bisa membuat mesinnya. Ia terus berkonsentrasi pada ujiannya di Universitas Tripos. Kerja yang berlebihan mempengaruhi kesehatannya. Namun ia meraih gelar “Pertama,” dan kemudian dianjurkan untuk melakukan riset setelah lulus. Ini akan memberinya banyak kesempatan untuk menekuni mesin dibandingkan jika ia harus bertugas di R.A.F. Lewat R.A.F. Whittle telah menjalani latihan kependidikan selama sepuluh tahun sejak ia berumur 16 tahun.

Mesin Whittle pertama melakukan ujicoba pertama kali pada tanggal 12 April 1937. Pesawat tak dapat dikendalikan dan mencapai 8000 putaran. Sejumlah perbaikan dan uji coba pun dilakukan, meliputi desain dan material yang dipakai. Departemen Penerbangan terus diberitahu.    Perusahaan Pesawat Kerajaan bergabung dengan Metropolitan-Vickers dalam pembuatan desain pesawat turboprop. Ketika kemajuannya terlihat sejumlah perusahaan lain masuk, pertama Rovers, Rolls-Royce, De Havilland, semuanya berambisi mengembangkannya.

Nasib buruk menimpa perusahaan Power Jets. Perusahaan ini mempunyai musuh yang kuat, dalam bidang pelayanan sipil dan industri. Industri komersial memaksa Pemerintah untuk tidak berlomba dalam mendesain mesin. Sir Stafford Cripps, Menteri Sumberdaya, menasionalisasikan perusahaan Power Jets dengan membelinya seharga £ 135.563 untuk seluruh asetnya; sebagai gantinya mereka menerima royalti jutaan poundsterling.

Power Jets kemudian dilarang menjadi pabrik perakitan. Perusahaan ini hanya melakukan riset. Usaha komersial diberikan kepada perusahaan pembuat mesin. Namun Whittle mendahului mereka, meskipun dengan keterbatasan yang ada. Mesinnya menjadi mesin pertama yang terbang. Pesawat menggunakan mesin Gloster-Whittle E.28/39, pesawat jet pertama Inggris yang berhasil terbang dan dinamai Meteor. Pesawat ini dioperasikan untuk melawan pesawat pembom.

Whittle sangat khawatir. Ia sadar bahwa kekuatan yang besar akan dihadapinya bersama teman-temannya, dan ia hanya bisa bertahan. Ia merasa bahwa para pendukung usaha Power Jets terancam dan dilupakan jasa-jasanya. Whittle sendiri mendapat kehormatan Komandan Ksatria Order of the British Empire dan Companion of the Order of the Bath. Ia diberi hadiah sementara £ 10.000 dan hadiah akhir £ 100.000, tanpa pajak, dan ia dipromosikan sebagai Komodor Udara di masa pensiunnya. Tak ada hadiah uang atau tempat kehormatan untuk orang lain.

Setelah pensiun Whittle diberi penghargaan atas prestasinya dalam mengembangkan unit kekuatan baru. Ia diangkat sebagai Anggota Keluarga Kerajaan, yang merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan di Inggris. Ia menerima gelar kehormatan dari seluruh komunitas yang terkait dengan penerbangan, mesin, dan transportasi. Dan tampaknya semua sependapat bahwa untuk penemuannya tentang tenaga turbojet, Frank White sejajar dengan Trevithick, Watt, Stephenson, dan Parsons dalam sejarah sumberdaya tenaga, dan ia merupakan pencipta kemajuan terbesar di dunia penerbangan sejak era Wright bersaudara. 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: