Beranda » Penerbang Terbesar Sepanjang Sejarah » 19. Letnan-Komandan M. J. Lithgow, O.B.E.

19. Letnan-Komandan M. J. Lithgow, O.B.E.

PILOT KARIR & PILOT UJI PESAWAT JET 

MICHAEL LITHGOW dibesarkan di masa perkembangan penerbangan. Ayahnya, Kapten E.G.R. Lithgow, adalah seorang petugas medis di Central Flying School di Upavon bersama Mayor H. M. Trenchard. Selanjutnya, Lithgow tinggal di dekat pangkalan udara Farnborough, dan waktu kecil ia sering bersepeda ke lapangan terbang untuk menyaksikan pesawat terbang. Pada akhir September 1936 ia menyaksikan Komandan Skadron F.R.D. Swain lepas landas dengan pesawat Bristol sayap tunggal untuk memecahkan rekor ketinggian dengan mencapai 49.967 kaki. Ia mengamati pesawat-pesawat Harvard dan Gladiator terbang. Hal ini bisa mendorongnya untuk belajar terbang, namun saat itu ia tidak mempunyai kecenderungan terhadap dunia penerbangan.

Saat menempuh pendidikan di sekolah swasta Ashdown ia naik pesawat milik Cobham Circus dari sebuah lapangan di dekat sekolah. Ia terbang dengan tiga pesawat dalam sehari, namun tidak begitu hafal dengan jenis-jenis pesawat. Ia menduga bahwa salah satunya mungkin adalah pesawat Leopard Moth berkursi tiga. Perhatiannya terhadap pesawat tidak sampai pada pemikiran untuk menghafal jenis-jenis pesawat yang ia terbangkan. Semuanya hanyalah untuk kesenangan. Dan begitulah ia yang dilahirkan pada tahun 1920 tumbuh bersama pesawat.

Lithgow masuk ke sekolah Cheltenham College, dan berniat menjadi tentara, namun ia lebih memilih Angkatan Laut. Angkatan Laut agak sulit dimasuki kecuali lewat sekolah Dartmouth, hingga Departemen Angkatan Laut mendapat wewenang mengatur armada udara pada tahun 1937. Dengan begitu syarat untuk masuk menjadi lebih mudah bagi seorang pilot, dan Lithgow bergabung dengan armada udara pada bulan Desember 1938 begitu lulus sekolah. Ia dilatih untuk terbang oleh Angkatan Udara Kerajaan Inggris di Netheravon dengan pesawat Tiger Moth, Harvard, dan Battle. Ia kemudian pergi ke Gosport tempat para siswa Angkatan Laut dilatih terbang dengan berbagai macam pesawat armada laut, diantaranya Swordfish, Shark, Sea Gladiator, dan Roc. Para siswa merasa senang menerbangkan pesawat Blackburn Roc. Lithgow menganggapnya sebagai pesawat pembom yang hebat. Dengan rem angin pesawat ini mampu turun dengan stabil pada kecepatan 200 knot, dan akan menjadi pembom yang lebih mematikan jika membawa bom yang lebih besar lagi.

Di akhir pelatihan para siswa diminta untuk memilih antara pesawat penyerang atau pesawat pembom-pengintai-torpedo. Lithgow memilih pesawat penyerang, namun ia diberi pesawat pembom. Pada tahun 1940 ia bergabung dengan Skadron 820 di kapal induk H.M.S. Ark Royal, dan kemudian pindah ke kapal induk Formidable dan Victorious. Ia berada di skadron 820 di kapal induk Ark Royal saat melakukan pengejaran terhadap kapal induk Bismarck. Pesawat Swordfish tinggal landas dengan pistol magnetik pada torpedo mereka. Cuaca saat itu sangat buruk. Mereka melihat kapal H.M.S. Sheffield, dekat dengan kapal Bismarck. Sebagian pilot mengenali kapal tersebut adalah kapal Inggris. Namun sebagian lainnya menyerang, beruntung gelombang laut sangat besar dan pistol magnetik mereka yang sensitif meledak setelah 200 yar sebelum mencapai kapal. Pesawat Swordfish kembali ke kapal induk, dan tinggal landas lagi dengan torpedo berpistol sentuh. Kapal Bismarck kembali ditemukan. Salah satu torpedo ditembakkan dan mengenai kemudi kapal sehingga menghentikannya.

Kecepatan kapal Bismarck yang berkurang memungkinkan kapal Inggris mengejarnya, dan meskipun telah terkepung oleh 18 pesawat Swordfish dari skadron 820 mereka tidak mau menyerah. Mereka telah diperingatkan ketika senjata mulai ditembakkan. Selama 30 menit kapal King George V memuntahkan peluru 14 inchi ke arah kapal Jerman tersebut. Laksamana Sir John Tovey mengirim sinyal dari kapal King George V bahwa ia “tidak dapat menenggelamkan kapal Bismarck dengan tembakan peluru.” Sinya ini diterima oleh Ruang Torpedo di H.M.S. Vernon di Portsmouth.

Para pilot pesawat Swordfish ingin menyerang dengan torpedo mereka, namun mereka diperintahkan untuk tidak bergerak. Kapal penjelajah Dorsetshire diberi komando dan menembakkan lima torpedo secara berturut-turut dari jarak dekat. Kapal Bismarck terbalik dan tenggelam. Pesawat Swordfish tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya, dan sang Laksamana melaporkan bahwa tenggelamnya kapal Bismarck disebabkan oleh serangan dari permukaan laut.

Suatu hari di tahun 1941 ketika telah menempuh perjalanan selama dua setengah hari di Cape Town 600 mil di sebelah barat St. Helena, pesawat Albacore yang sedang berada di kapal mendapat perintah mendadak di malam hari. Cuaca saat itu mendung dan hujan turun. Pemimpinnya membuat tanda api di laut 20 mil dari kapal. Di situlah pesawat Albacore akan berkumpul setelah tinggal landas dari dek penerbangan.

Lithgow berada di urutan kedua terbang menuju lokasi yang ditentukan. Karena badai kencang pesawat Albacore Lithgow kehilangan kendali. Pesawat Albacore ketiga menyusul melintas di atas Lithgow. Badai memaksa kedua pesawat tersebut berdekatan di kegelapan. Pesawat bertabrakan dan jatuh ke laut. Kru pesawat tidak memiliki sampan, dan hanya ada jaket pelampung. Dan kapal induk justru berlayar menjauhi mereka.

Kapal induk telah berlayar sekitar 60 mil sebelum menyadari apa yang telah terjadi. Kapal pun kemudian berbalik. Sementara itu, Lithgow, pendamping dan penembak jitunya menemukan ban dan kemudian berpegangan pada ban tersebut.  Mereka mendengar bunyi kapal, dan baling-balingnya sebelum kru kapal melihat mereka. Selanjutnya teriakan mereka terdengar oleh kru kapal dan mereka pun diangkat setelah enam jam mengapung di laut.

Satu-satunya yang disesali oleh Lithgow adalah karena ia belum pernah sampai ke laut Pasifik, dimana sejumlah kapal induk berhasil melakukan tugas penyerangan terhadap Jepang. Namun jika ia di sana mungkin ia tak akan pernah menjadi pilot uji. Seseorang tidak mungkin mendapatkan semua yang ia inginkan. Pada bulan Oktober 1942 ia ditugaskan selama 12 bulan untuk terbang di Boscombe Down. Kemudian ia dikirim ke perusahaan Vikers-Supermarine untuk bergabung dengan sembilan pilot uji lainnya di bawah J. K. Quill, kepala pilot uji perusahaan. Mereka menerbangkan pesawat Splitfire dari Chattis Field rata-rata tujuh kali sehari, terbang dari hanggar yang dibangun di dekat benteng Danebury Hill, yang sebelumnya merupakan tempat pelatihan kuda pacu di Salisbury Plain.

Pada bulan Februari 1944 ia memasuki kelas kedua di Empire Test Pilots’ School yang dijalankan oleh AU Kerajaan Inggris. Setelah lulus, setahun kemudian ia dikirim ke British Air Commission di Washington sebagai pilot uji angkatan laut, dan ditugaskan di pusat uji penerbangan Angkatan Laut AS di Patuxent River, Maryland. Disana ia menguji pesawat Amerika yang dibuat untuk AL Kerajaan Inggris, diantaranya Wildcat, Avenger, Marauder, dan pesawat jet Airacobra. Ia meninggalkan Patuxent River pada bulan November 1945 untuk kembali ke AL Inggris.

Jeffrey Quill kemudian menulis surat kepadanya, mengajak ia bergabung dengan perusahaan Supermarine sebagai pilot uji sipil, dan ia pun setuju. Setelah bergabung dengan Supermarine pada bulan Desember 1945 ia menerbangkan pesawat air amfibi yang dinamai Seagull, serta jet-jet tempur diantaranya Attacker, Spiteful, Swift, dan pesawat 508 yang memiliki ekor bulat, kemudian pesawat 525 yang merupakan pengembangan dari seri 508 serta prototipe awal dari pesawat N.113 bermesin jet turbo ganda Rolls-Royce Avon. Pada tahun 1954 Lithgow telah menerbangkan lebih dari 100 jenis pesawat dengan waktu terbang sekitar 4000 jam.

Ketika Quill pensiun, Lithgow menjadi kepala pilot uji di Supermarine. Namun kebebasan terbang di atas laut dari kapal induk, dengan komunikasi radio di saat perang tidak dirasakannya lagi. Sebelum melakukan sesuatu seorang pilot sipil harus menjalani pelatihan, lulus ujian, dan mendapatkan lisensi. Seluruh kegiatan terbangnya diatur. Udara tidak lagi bebas di Inggris. Pembatasan ini menghalangi kesenangan Lithgow dalam terbang.

Penerbangan dengan pesawat jet telah menimbulkan banyak masalah. Seringkali pilot menemui guncngan pada ketinggian antara 40.000 hingga 50.000 kaki — dimana orang mengira bahwa angin bertiup tenang. Sejumlah pesawat jet kadang harus turun karena angin bertiup kencang pada ketinggian 45.000 kaki untuk melakukan uji terbang yang akurat. Lithgow berpikir bahwa guncangan mungkin berasal dari riak yang dihasilkan oleh dorongan jet yang menderu di stratosfer udara.

Ketika pertama kali pesawat jet digunakan banyak yang memperkirakan bahwa pertarungan satu-lawan satu di udara akan hilang karena kecepatan pesawat yang sangat tinggi. Namun Perang Korea membuktikan bahwa pandangan ini salah. Pesawat Sabre dan MiG 15 bertempur memperebutkan waktu, memburu ekor seperti yag dilakukan oleh Ball dan Richthofen 35 tahun sebelumnya. Ini lebih berat karena kecepatan dan ketinggiannya lebih. Ini juga lebih ilmiah karena membutuhkan peralatan untuk tekanan udara, oksigen, radio, pemanas, pendingin, parasut, sampan, pelampung, pakaian anti-G, anti keringat, beragam peralatan dan kontrol, mata elektronik, senjata berat, material pesawat yang lentur, sirip, rem, hidrolik, tabung udara, kelistrikan, dan apa saja yang dibutuhkan. Namun prinsip dasarnya tetap sama, yaitu jangan biarkan lawan melihat ekor pesawat anda. Jaga ini. Manusia purba juga melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda. Mereka memukul bagian belakang kepala lawannya dengan pentungan. Pada pertempuran udara kita menggunakan alat yang berbeda namun dengan metode yang sama.

Lithgow melakukan sejumlah penerbangan yang memukau selama bergabung dengan Supermarine. Pada tahun 1950, dengan pesawat Attacker bermuatan militer penuh, ia mencatat rekor kecepatan 533 mil perjam pada sirkuit terbatas 100 km dan memenangkan kejuaraan tantangan Society of British Aircraft Constructors. Pada tanggal 5 Juli 1953, ia menerbangkan pesawat Swift Mark IV dari London ke Paris dalam waktu 19 menit 5 detik dengan kecepatan rata-rata 669,3 mil per jam, sebuah rekor terbang antar kota. Ini merupakan terobosan terbang pesawat Swift pada pameran 20th International Aviation Salon di Paris.

Ketika Neville Duke mencatat rekor kecepatan udara 726,6 mil per jam dengan pesawat Avon Hunter di dekat Littlehampton pada tanggal 7 September 1953, Vickers-Supermarine berniat memecahkan rekor perusahaan Hawker ini dengan pesawat Swift F.4. Karena pesawat Hunter dan Swift menggunakan mesin yang sama kecepatan puncaknya pun tak akan jauh berbeda. Syarat untuk mencapai rekor kecepatan puncak adalah dengan terbang rendah. Ini cocok dengan mesin jet karena akan menghasilkan tenaga terbesar yang diperoleh dari pembakaran oksigen yang banyak terdapat di ketinggian rendah. Namun ini kurang cocok dengan pesawat karena harus terbang di udara yang padat di dekat permukaan tanah. Temperatur permukaan yang panas dan kering menyebabkan udara mengembang, sehingga kepadatannya berkurang. Dalam kondisi ini hambatan udara pada kecepatan tinggi turun lebih cepat dibandingkan dengan penurunan tenaga, dan pesawat dapat terbang lebih cepat di atas tanah. Dengan demikian kondisi ideal untuk memecahkan rekor kecepatan adalah di tempat yang panas dan rendah, dan ini merupakan bukti ilmiah pertama dari pepatah lama “pergi secepat kelelawar keluar dari neraka.”

Rekor perusahaan Hawker dibuat di sepanjang pesisir Selat Inggris. Supermarine memutuskan untuk membuat rekornya di Libya. Di sana, di Afrika Utara, terdapat sebuah lembah yang dikelilingi oleh perbukitan, dimana temperatur bisa mencapai 130 derajat dan bahkan pernah sampai 138 derajat. Mereka juga mempertimbangkan Laut Mati, yang mungkin lebih cocok. Namun biaya untuk ke sana lebih mahal. Peralatan, pengamat dan mekanik diterbangkan ke Libya dengan pesawat Hermes. Di lembah Libya ini Michael Lithgow terbang empat kali pada tanggal 25 September 1953, dengan kecepatan 735,7 mil per jam, sebuah rekor dunia. Kadang-kadang angin di lembah tersebut berubah arah dengan cepat. Ini terjadi pada dua kali terbang, saat ia mencatat 742 mil per jam. Ia mencoba lagi untuk memperbaiki rekornya sendiri, pipa jet terlalu panas dan usaha tersebut dihentikan.

Rekor Lithgow berumur singkat seperti halnya rekor Duke, karena dipecahkan di Amerika. Angkatan Udara AS mempunyai tempat yang cocok untuk memecahkan rekor kecepatan di danau kering Muroc di California. Tempat ini lebih baik dibandingkan lembah Libya. Bahkan, pilot AS diperbolehkan terbang dua kali sejauh 15 km melebihi empat kali terbang 3 km yang harus dilakukan oleh para pilot Inggris dan Eropa. Dalam hal tempat maupun peralatan orang Amerika lebih baik, sehingga perlu dibuat standarisasi yang setara untuk semuanya. Jika tidak maka rekor akan bergantung pada keunggulan teknis. Rekor Lithgow akan bertahan dengan catatan tanggal dan tempat serta kemampuan pelaksanaannya.

Jika anda melihat Michael Lithgow tidak di dekat pesawat anda tidak akan menyangka kalau ia adalah seorang pilot uji. Dengan tinggi 6 kaki, badan besar, rambut lurus, dan mata biru. Logat berbicaranya kalem, dan agak malu-malu uuntuk membicarakan dirinya sendiri. Ia bahkan tidak dapat menjelaskan karakteristik seorang pilot yang baik. “Banyak orang dengan berbagai karakter dapat terbang dengan baik,” katanya. “Perhatikan orang-orang Lancaster yang berani terbang dalam cuaca buruk, namun selalu khawatir saat hendak mendarat dan tinggal landas. Ada juga pilot yang minum brandy kemudian terbang dengan pesawat terbaru. Tak tahulah! Ini adalah pertanyaan yang sulit.”

Ia dan istrinya serta dua anaknya dan seekor anjing Boston tinggal di perkampungan Hampshire di sebuah rumah mess kesatuan Perang Dunia I. Istrinya adalah seorang wanita dengan sosok 5 kaki 7 inchi, ramping, berambut hitam dan mata coklat. Jika diajak bicara ia tidak banyak menjawab, dan terus melanjutkan kesibukannya menjahit. Ia mengatakan bahwa ia mengetahui dunia penerbangan hanya dari pembicaraan suaminya dengan orang lain. Michael Lithgow pun tidak terlalu sering tampil di depan umum. Namun ia adalah seorang penerbang besar, yang menaklukkan tugas sulit untuk menguji coba pesawat jet baru dengan percaya diri sebagai seorang pilot terlatih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: