Beranda » Penerbang Terbesar Sepanjang Sejarah » 20. Komandan Skadron Neville Duke, D.S.O., O.B.E., D.F.C.

20. Komandan Skadron Neville Duke, D.S.O., O.B.E., D.F.C.

PENYERANG SIANG & PILOT UJI PESAWAT JET 

SEPERTI MICHAEL LITHGOW, Neville Duke mempunyai sosok yang tinggi. Tinggi badannya 6 kaki 3 inchi. Yang membedakannya dengan Lithgow adalah kepalanya sedikit botak di bagian atas. Matanya agak biru. Badannya lebih kurus. Dan ia adalah seorang pendiam. Ia tak banyak bicara, namun merupakan pilot yang paling banyak dibicarakan orang di Inggris saat ini.

Di udara, dengan pesawat jet tempurnya yang kecil, Duke merupakan pilot uji terbaik Inggris di pertengahan abad 20. Tak seorang pun pilot di masanya yang dapat menandingi kemampuan terbangnya dalam hal kecepatan tertinggi sekaligus pada ketinggian rendah. Ia seperti artis yang sempurna dalam menampilkan kebolehannya sebagai seorang pilot jet tempur. (Saya menulis ini pada tahun 1954).

Duke berasal dari Kent. Tinggal di daerah itu sejak masih muda ia sangat tertarik dengan pesawat terbang, karena ia bisa berkeliling melihat pesawat terbang dan mempelajari jenis-jenis pesawat terbang yang melintas. Ia pun membuat modelnya. Ia juga membaca semua buku tentang dunia penerbangan, para pahlawan udara, serta pilot-pilot pemecah rekor terbang jarak jauh dan para pemenang perlombaan terbang. Ia mengunjungi lapangan terbang Angkatan Udara Inggris saat diadakan pameran untuk umum, serta lapangan terbang sipil lainnya. Ia mengikuti kelompok sirkus Cobham saat berada di Kent dan kemudian meninggalkannya untuk ikut terbang dengan uang hasil tabungannya, seharga lima shilling menggunakan pesawat Avro 504, dan pesawat yang lebih mahal, yaitu Airspeed Ferry berpenumpang enam orang.

Pada musim panas tahun 1939 ia berusia 17 ½ tahun. Ia meninggalkan sekolah untuk menjadi seorang juru tulis di sebuah kantor lelang dan kantor agen perkebunan. Namun dalam hatinya ia ingin menjadi anggota komisi dinas AU Inggris pada usia 18 tahun. Ia bergabung dengan R.A.F. pada musim panas tahun 1940 sebagai “Penerbang kelas dua, Duke, N., siswa penerbang.” Pada tanggal 20 Agustus ia melakukan penerbangan pertama dengan menggunakan Tiger Moth. Masa pelatihannya tidak ada yang istimewa. Ia mendapat brevet penerbang dan pangkat perwira pilot di Cadangan Sukarelawan Angkatan Udara Inggris pada bulan Februari 1941. Ia ditugaskan di Skadron No. 92 di Biggin Hill, sebagai pilot Komando Tempur ke 11. Pesawatnya adalah Spitfire V, dan penerbangan operasional pertamanya dilakukan pada tanggal 7 April, 1941. Skadronnya ditugaskan melakukan patroli di pinggiran Perancis, mengawasi Angkatan Udara Jerman setelah kekalahannya pada Perang Inggris. Pada tanggal 24 Juni Duke meraih suksesnya yang pertama dengan menembak jatuh sebuah pesawat Messerschmitt 109. Kemenangan kedua atas pesawat Messerschmitt terjadi pada bulan Agustus.

Pesawat Focke-Wulf 190 muncul kemudian. Pesawat ini lebih unggul, mampu berbelok, naik, sekaligus melebihi kecepatan dan ketinggian pesawat-pesawat tempur AU Inggris. Pesawat ini telah merontokkan banyak pesawat Spitfire sebelum R.A.F. mampu menandinginya. Duke sempat dibebani resiko ini ketika ditugaskan di Afrika Utara. Ia meninggalkan Inggris dengan pesawat Sunderland bersama 13 orang penumpang yang semuanya adalah pejabat. Pesawat ini terbang ke Gibraltar, kemudian ke Malta. Para penumpang kemudian melanjutkan ke Kairo dengan pesawat pembom Wellington. Duke dikirim ke Skadron No. 112. Skadron ini memiliki pesawat Curtiss P.40 Tomahawk. Pesawat Amerika ini harus mendarat dalam kondisi ekor naik. Duke tidak mengetahui ini. Saat pertama kali mendarat dengannya ia menarik tuas ekor seperti pada standar teknis pesawat Spitfire. Pesawat Tomahawk pun terbalik dan jumpalitan di tanah. Duke tidak pernah  mengulanginya lagi.

Perang di gurun sangat berbeda dengan pertempuran di Perancis. Di sini terjadi perang antara tentara dengan udara, pertarungan dengan topan dan badai gurun pasir, dan banyak pesawat jatuh baik dalam pertempuran ataupun tidak. Pada tanggal 30 November 1941, pesawat Duke tertembak. Ia tak terluka dan segera membawa pesawatnya menyelinap diantara semak-semak sambil bersembunyi dan mengamati pesawatnya yang tertembak oleh pesawat Jerman. Tak lama kemudian Duke dijemput oleh patroli kawan. Ia sempat melihat pilot R.A.F. menembak pilot musuh yang meninggalkan pesawatnya yang tertembak jatuh, namun ia tak mau melakukannya karena manganggap itu tidak sportif. Di sepanjang tempat itu terdapat garis pantai yang sangat panjang dan memungkinkan pengungsi masuk ke daerah Tobruk. Orang bisa putus asa apabila mencoba menyusuri tempat itu untuk menuju Kairo.

Pada akhir tahun 1941 skadron tersebut menerima pesawat Curtiss Kittyhawk, dengan senapan mesin 6 ½ inchi dan mesin Allison yang kuat, namun pesawat Messerschmitt 109 dapat terbang lebih tinggi. Pada bulan Maret 1942 Duke berhasil merontokkan enam pesawat musuh pada pertempuran di gurun dan mendapat penghargaan Distinguished Flying Cross. Sebulan kemudian, setelah 161 kali penerbangan dengan total waktu 220 jam, ia ditugaskan menjadi instruktur di El Ballah Fighter School. Di tempat itu, yang terletak di sebelah utara Ismailiyah di Terusan Suez, para siswa diajarkan cara terbang dan bertempur dengan pesawat Curtiss, setelah menggunakan Harvard. Duke berada di sana sampai setelah pertempuran El Alamein.

Skadron No. 92 tiba di Timur Tengah. Duke meminta untuk ditempatkan di skadron lamanya. Setelah bersusah payah akhirnya ia pun boleh bergabung pada bulan November 1942. Rommel kemudian mundur ke Benghazi. Duke melihat diantara kru-darat, beberapa diantaranya adalah pilot pesawat yang sama. Ini merupakan masa dimana banyak pilot yng menjadi kru di darat. Skadron 92 memiliki pesawat Spitfire V.b, dengan hidung bulat sebagai penyaring udara agar tidak masuk ke mesin Merlin yang digunakan. Pesawat ini mengungguli kecepatan Messerschmitt 109.

Pada bulan Januari 1943 Duke bertugas di skadron 92 dan dipromosikan sebagai letnan penerbang. Pada akhir bulan itu ia mendapat gelar D.F.C. Sebelumnya, skadron sempat berganti pesawat Spitfire 9 di Aljazair, dan melakukan terbang patroli bersama terhadap Divisi New Zealand di El Hamma. Komandan Perwira Udara Desert Air Force, Wakil-Marsekal Udara H. Broadhurst, menghubungi skadron 92 dan mencari Duke. Duke mendengarkan telepon yang berbunyi : “Broadhurst di sini. Selamat. Anda telah dianugerahi gelar D.S.O. Luar biasa!” Duke hanya menjawab malu-malu : “Oh, terima kasih, pak.”

Menjelang operasi di Afrika Utara tugas Duke berakhir. Dalam perjalanannya yang kedua ia telah menghancurkan 14 pesawat musuh dalam serangan yang mendadak yang mencakup 202 jam terbang. Ia berharap ditugaskan di Inggris. Namun pada bulan Juni 1943 ia ditempatkan sebagai kepala instruktur terbang di Unit Pelatihan Operasional No. 73 di Abu Suweir, dengan jabatan sebagai pemimpin skadron. Ini dianggap sebagai istirahat. Saat ia berada di sana perebutan Sisilia dan invasi Italia membawa pertempuran jauh ke utara.

Duke kembali lagi ke Desert Air Force pada akhir Februari 1944. Untuk sampai ke sana ia menggunakan pesawat Dakota dari Kairo, El Adem dan Malta menuju Naples. Tentara Sekutu sementara menguasai Cassino. Duke menjadi komandan skadron No. 145. Pesawat Spitfire VIII yang digunakan memiliki dua buah kanon 20 mm, empat senapan mesin 303, dengan mesin Merlin yang kuat. Mereka lebih unggul dibandingkan dengan pesawat Messerschmitt 109 dan Focke-Wulf 190 pada saat itu. Baik pesawat-pesawat tempur Inggris maupun Jerman merupakan pesawat pembom, atau diubah menjadi demikian. Di bawah kepemimpinan Duke skadron 145 terlibat pertempuran di Anzio dan Cassino, terbang jauh ke utara Roma, sendiri ataupun dikawal dengan pesawat pembom Boston. Pada awal Juni ia diberi penghargaan D.F.C. untuk kedua kalinya.

Tiga hari kemudian ia diselamatkan dari pesawat Spitfire-nya yang hancur. Ia lupa untuk melepas tutup kokpit dan memasangnya lagi pada tempatnya. Pakaiannya tersangkut pada tutup dan ia terjepit hingga tali bahunya putus atau terlepas. Namun ia lupa melepas masker oksigennya ini merusak helmnya. Ia pun jatuh di Lago Bracciano, dan parasutnya menariknya hingga ia tenggelam ke air. Setelah lepas dari parasutnya ia berenang di perairan Mae West. Dua orang pemuda Italia datang dengan kapal dan menyelamatkannya. Para petani Italia (meskipun khawatir pasukan Jerman akan kembali) membantu melepas pakaiannya dan memberikan pakaian. Celana panjang mereka seperti jeans, dan jaketnya pendek seperti Charlie Chaplin. Dua orang tentara Amerika bersenjata mesin menjemputnya, awalnya dengan sedikit curiga. Skadronnya dinamai Lago Bracciano “Duke Tolol.”

Pesawat Spitfire sedang berpatroli di sebelah selatan Rimimi pada akhir bulan September, ketika Komandan Perwira Udara, Marsekal Udara W.F. Dickson mengakhiri tugas Duke setelah terbang 193 kali dengan 288 jam terbang, dan telah merontokkan lagi 6 pesawat musuh. Keseluruhannya ia telah menghancurkan 28 pesawat, kemungkinan hilang 3 pesawat, serta rusak 5 pesawat dalam 486 kali penerbangan. Pada tanggal 31 Oktober ia mendarat di pangkalan udara Lyneham, ketinggalan kereta yang menuju Swindon, dan harus pulang berjalan kaki dari stasiun kereta Tonbridge — suatu hal yang jarang terjadi pada seorang pahlawan perang.

Pekerjaan rumah pertamanya adalah memimpin penerbangan komunikasi antara Inverness, Orkneys dan Shetlands. Ia meminta untuk ditugaskan di perusahaan Hawker Aircraft untuk menguji pesawat yang diproduksi. Pada tanggal 1 Januari 1945, ia ditempatkan di perusahaan Hawker sebagai letnan penerbang. Jabatan sebagai pemimpin skadron ditinggalkannya ketika ia mengundurkan diri sebagai komandan skadron. Ia menguji pesawat Tempest dari pangkalan udara Langley, dan tinggal bersama empat pilot uji lainnya di Shooter’s Lodge, dekat Ascot. Pada tahun itu disana ia bertemu dengan gadis yang nantinya dinikahinya, mendapat jabatan tetap di R.A.F. pasca perang dan dipilih untuk mengajar mata pelajaran ke 4 di Empire Test Pilot School yang pertama didirikan di Boscombe Down, pindah ke Cranfield, dan kemudian ke Farnborough. Disana ia menerbangkan sejumlah pesawat jet untuk pertama kalinya — yaitu Meteor dan  Vampire — Lancaster, Lincoln, Mosquito, Seafire, Dakota, pesawat layang Hamilcar, Grunau, dan pesawat lainnya. Ia paling tertarik dengan pesawat jet kecil dan terbang dengan kecepatan tinggi, sehingga diangkat sebagai anggota ke tiga R.A.F. High Speed Flight, yang pemimpinnya yaitu Kapten E. M. Donaldson menciptakan rekor kecepatan terbang tertinggi 616 mil per jam. Duke hanya mempunyai selisih dua jam di bawahnya. Ia terbang ke Ghent dan Praha untuk memamerkan pesawat Meteor. Dan di Praha Pemerintah Ceko menganugerahinya Lencana Militer.

Duke menikahi Miss Gwendoline Fellows di Gereja Dorney, di dekat Windsor, pada tanggal 15 Maret 1947, dan kemudian tinggal di sebuah pondok dekat perkampungan Bray. Selanjutnya Duke menghabiskan hari-harinya di Boscombe Down (tempat ia terbang di Skadron Uji Pesawat Tempur) dan berakhir pekan di Bray. Suatu hari, saat terbang pulang, ia mendarat di lapangan terbang Langley, dan Bill Humble (mantan pilot uji ke dua di perusahaan Hawker yang menjadi kepala pilot uji) menanyai Duke apakah ia mau keluar dari AU Inggris dan bergabung dengan perusahaan Hawker Aircraft Limited.

Duke kembali dipilih sebagai pemimpin skadron dengan sejumlah jenjang karir di R.A.F. pada usia 26, dan kemudian menikah di sana. Namun ia merasa bahwa bertahan di R.A.F. akan membawanya pada tugas administratif cepat atau lambat, sedangkan ia masih ingin terbang. Ia meninggalkan R.A.F. pada bulan Juni 1948 untuk menjadi pilot uji No.3 di perusahaan pesawat Hawker. Humble berhenti terbang tak lama kemudian, dan berpindah ke bagian pemasaran di perusahaan itu. Pemimpin Skadron “Wimpy” Wade naik menjadi kepala pilot eksperimen, dan Duke menggantikan posisinya sebagai pilot No. 2. Mereka bekerjasama mengembangkan pesawat Furies, Tempest, pesawat jet baru Hawker — Hawk, Sea Hawk, dan pesawat eksperimen P.1040 serta P.1052. Saat mengirimkan pesawat Furies ke Angkatan Udara Pakistan dan Angkatan Udara Mesir Duke menciptakan rekor terbang ke Karachi dan Kairo pada tahun 1949 dan 1950. Ia juga sesekali ikut dalam perlombaan terbang di Inggris.

Duke menjalankan tugas baru di R.A.F. pada bulan September 1950 sebagai komandan Skadron Pendukung No. 615 Wilayah Surrey. Mr. Winston Churchill bertindak sebagai Komodor Udara Kehormatan saat itu. Ini mengharuskan Duke melakukan kontak dengan salah seorang pemimpin perang terkenal Inggris, dan kadang-kadang ia harus mengunjungi rumah Churchill di Chartwell Manor, Kent.

Suatu hari Wimpy Wade harus menyelamatkan diri dari pesawat P.1052. Kursi lontarnya gagal untuk mengeluarkannya, dan Wade pun tewas. Duke menjadi pilot uji No. 1 di perusahaan pesawat Hawker. Hampir bersamaan dengan itu, pada Perang Korea, Departemen Penerbangan mengerahkan kekuatan Angkatan Udara Pendukung untuk pelatihan selama 3 bulan berturut-turut. Duke harus memilih antara tugas uji di Hawker atau skadronnya, sebab ia tidak bisa melakukannya sekaligus. Ia kemudian mengundurkan diri sebagai komandan skadron 615, dan dipindahkan ke pasukan cadangan pendukung perwira.

Duke dan istrinya kemudian tinggal di sebuah rumah tua di dekat pangkalan udara Dunsfold, sebelah selatan Guildford di Surrey, tempat dimana pesawat-pesawat tempur buatan Hawker diujicoba setelah zona kontrol bandara London yang baru melarang ujicoba terbang dari lapangan terbang Langley. Dunsfold adalah lapangan terbang yang menyenangkan, dengan landas pacu yang panjang dan lebar. Terdapat mess untuk para staf senior. Menara kontrolnya sesuai dengan standar Angkatan Udara pada masa perang antara tahun 1939 sampai 1945. Kantor Duke berada di belakang menara kontrol membelakangi landas pacu. Ruangan di dalam dinding terhubung dengan ruang pilot uji. Ruang kontrol penerbangan, dengan sudut pandang yang bebas, melakukan kontak dengan pilot saat melakukan penerbangan lewat gelombang radio. Pilot tidak akan kesulitan mengetahui posisinya. Arah pesawat akan diketahui dari ruang kontrol penerbangan. Pilot dapat berkonsentrasi dengan pesawatnya sendiri, karena ada petugas di bawah yang mengawasinya setiap saat secara visual maupun elektronis. Pilot paham bahwa telepon radio menjadi komunikasi verbal antara udara dan darat.

Dari Dunsfold Duke menguji coba prototipe pertama pesawat Hawker P.1067 (prototipe awal dari pesawat Hunter) sebelum muncul di Komunitas Konstruktor Penerbangan Inggris di Pameran Dirgantara Farnborough tahun 1951. Pada tahun berikutnya ia menekankan perlunya peredam suara pada pesawat. Pada tanggal 7 September 1953, dengan menggunakan mesin Rolls-Royce Avon ia memecahkan rekor kecepatan terbang di Littlehampton. Ia terbang pada ketinggian rata-rata kurang dari 50 kaki di atas air, menggunakan pakaian rapat karena panas di kokpit yang dihasilkan oleh gesekan dengan udara. Naiknya temperatur

Menerbangkan jet tempur Hunter tidak selalu menyenangkan. Guncangan sangat keras terjadi saat akan mencapai kecepatan suara. Konsentrasi penuh dan pengetahuan yang luas sangat dibutuhkan. Manuver sedikit saja bisa menambah beban sentrifugal dengan cepat. Pilot akan mendapat beban 4 ½ sampai 5 kali beban tubuhnya, dan kadang sampai 7 ½ kali — disebabkan oleh gaya G — dan pesawat harus terbang dengan batas kecepatan tertentu, yang sewaktu-waktu bisa terlampaui apabila kurang cermat. Ketika turun 30 derajat dari ketinggian 40.000 kaki suara yang dihasilkan mencakup 100 mil persegi dan orang-orang di darat dapat mendengarnya.

Udara di atas bebas dari debu permukaan. Tidak ada yang memantulkan cahaya matahari, sehingga pandangan pilot terbatas hingga sekitar 4 mil. Jika dua buah pesawat jet saling mendekat dengan kecepatan 600 mil per jam saja, maka mereka akan bertemu dalam waktu 12 detik. Dalam hitungan waktu ini pilot harus dapat melihat pesawat di depannya, mengenali lawan atau musuh, dan bermanuver jika diperlukan untuk pertempuran. Pilot mungkin dibatasi oleh kemampuan manuver, namun ia tidak dibatasi oleh kecepatan, kecuali jika ia terlambat bereaksi dengan kecepatan yang ada. Pilot tempur siang hari pun sekarang harus dilengkapi dengan mata elektronik, atau tempatnya akan digantikan oleh robot dan mereka akan tergusur.

“Bagaimanakah seorang pilot uji sipil melakukan tugasnya saat ini?” saya bertanya pada Duke.

“Ia harus memperoleh Lisensi Pilot Sipil dari Departemen Penerbangan, yang harus diperpanjang setiap dua tahun, dan setiap 12 bulan ia harus menjalani pemeriksaan kesehatan untuk melakukan uji terbang. Ia harus memperbaharui Nilai Instrumen Sipil dan lisensi resmi setiap tahun.”

“Dan bagaimana Anda lepas dari semua ini? Apa hobi Anda,” saya bertanya.

“Berlayar,“ jawabnya singkat.

“Dengan yacht?”

“Yacht bermotor.” Ia menunjukkan pada saya foto sebuah kapal kecil. Ini adalah kapal Bonita. Kapal ini ada di Littlehampton, panjangnya 52 kaki dengan mesin Morris Commodore. Kapal ini berjalan mengandalkan kekuatan mesin. Jalannya cukup stabil.”

Saya membayangkan bahwa Duke juga ahli dalam hal ini dengan kecepatan lebih dari 12 mil per menit. Di darat ia menggunakan mobil Jaguar XK-120 berkecepatan 120 mil per jam, di udara ia enam kali lebih cepat. Namun dalam hidup seseorang tidak mesti terpaku pada hal yang sama. Berlawanan dengan pekerjaannya seseorang akan mendapatkan kesenangan. Duke berpendapat bahwa kecepatan bukanlah segalanya. Ia justru merasa santai pada skala kecepatan sangat rendah — 8 knot di laut!

About these ads

3 Komentar

  1. Vinia Rizq Prima mengatakan:

    salam kenal untuk Pak Budi Achmadi, waktu googling saya menemukan blog ini, isinya bagus, jadi sepertinya boleh ya kalau saya sering berkunjung kemari..
    kalo tidak salah, tokoh2 ini beberapa diantaranya ada di Buku The Great Airmen, From The Wrights To The Rocket Age, ditulis oleh Wing Commander Norman Macmillan…
    yang ditulis ulang oleh Marsekal Djoko Poerwoko..

    nice pak, semoga sukses selalu.. :) semoga langit selalu menginspirasi..

    salam hormat

    • budhiachmadi mengatakan:

      Salam kenal, betul sekali, kebetulan saya ketua tim yang ditunjuk Marsekal Poerwoko untuk menerbitkan ulang buku ini dalam bahasa Indonesia. salam…

  2. dhono smanti mengatakan:

    Selamat pagi Komandan …..
    Semakin mantap saja isi blog ini …
    Kalo bisa diberi gambar (photo) biar yang baca tambah pengetahuan …..
    Kalo bisa tampilan blog nya dibuat lebih menarik lagi …..
    Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: