Beranda » Kehidupan » Kepemimpinan TIM “Lesson From The Geese”

Kepemimpinan TIM “Lesson From The Geese”

Suatu hari Marsekal Pur Saleh Basarah (Mantan KSAU) mengirim surat kepada penerbang Lanud Iswahjudi.  Isinya adalah naskah Lessons From the Geese (About the Greater Collective and How We Can Learn Each Other), yang saya diterjemahkan sebagai berikut :

 PELAJARAN DARI BURUNG BELIBIS

Tentang Kelompok Yang Lebih Besar dan Bagaimana Saling Belajar Satu Sama Lain

 

Saat burung belibis mengepakkan sayapnya dalam formasi, akan terbentuk gaya angkat yang meringankan kepakan burung di belakangnya. Bila burung terbang berkelompok dengan bentuk formasi “V”,  jarak tempuhnya akan 71% lebih jauh dibanding terbang sendiri.

Hikmahnya  : Kekompakan dan rasa sosial dalam kelompok untuk mencapai tujuan akan membuat kita lebih cepat dan mudah karena sudah ada rasa kepercayaan satu sama lain.

Saat satu belibis keluar dari formasi, ia tiba-tiba akan merasakan beban berat dan kehilangan daya tahan untuk terbang sendiri.  Maka cepat-cepat ia kembali masuk ke formasi untuk mendapatkan keuntungan daya angkat dari burung yang terbang di depannya.

Hikmahnya  : Jika kita memiliki perasaan seperti belibis, tak sekalipun mencoba keluar dari sebuah kelompok yang mengarah pada satu tujuan hidup bersama.  Akan menerima pertolongan yang berimbang dengan apa yang telah kita berikan kepada orang lain. 

Saat pemimpin belibis lelah, ia akan bergeser ke belakang, dan satu angsa di belakang bergeser ke depan sebagai pemimpin baru, secara bergilir. 

Himahnya  : Menjadi pemimpin adalah tugas yang berat, sehingga perlu ada rotasi jabatan.  Seperti juga angsa, anggota komunitas akan bekerja baik bila ada pemerataan hak dan kewajiban, juga rasa saling mengayomi.

Belibis dalam formasi berteriak dari belakang untuk memberi semangat yang di depan, agar menjaga kecepatan.

Hikmahnya  :  Saat berada di belakang atau sebagai anggota kelompok, harus tetap memberi semangat dan sumbangan pemikiran kepada yang memimpin.  Dan anggota harus tetap diberi kebebasan untuk bersuara.

Saat ada belibis yang sakit, terluka atau tertembak, dua belibis akan keluar formasi dan mengikutinya, untuk menolong dan melindungi.  Mereka akan tinggal sampai belibis yang sakit mampu terbang kembali atau tewas.  Berdua akan mengejar formasi di depan, atau terbang dalam formasi sendiri.

Jika kita memiliki perasaan seperti belibis, pasti akan selalu siap untuk menyelesaikan kesulitan rekan satu kelompok, saat kita mampu untuk menolongnya.

Kita coba renungkan ”wisdom” dari di atas dan mengadakan diskusi dengan beberapa penerbang.  Saya merasa ini luar biasa. Teori kepemimpinan tim burung belibis sedikit banyak ikut mendasari apa yang seharusnya dilakukan dalam organisasi apapun, termasuk Angkatan Udara.

Sekarang kita lihat sedikit aplikasi “Lessons From the Geese” dalam pertempuran udara.  Tidak ada istilah single fighter, dimana sebuah pesawat bertempur seorang diri.  Pertempuran harus dilaksanakan dalam formasi tim, dipimpin seorang flight leader.   Setiap anggota formasi juga bertanggung jawab terhadap keselamatan seluruh anggota, saling melindungi antara flight leader dan anggota formasi dari serangan musuh.  Dalam formasi tempur juga ada radio, sehingga leader dan anggota bisa saling berkomunikasi, sebagaimana belibis yang saling berteriak satu sama lain.

Kelompok belibis mampu memiliki teamwork yang baik karena insting mereka telah membentuk polah laku – budaya tim yang sama dalam mencapai tujuan.  Mereka tahu siapa sebagai apa dan siapa berbuat apa.  Tidak perlu lagi ada rame-rame demonstrasi untuk melengserkan jabatan pemimpin, karena saatnya tiba untuk mundur maka tahu dirilah sang belibis terdepan.  Demikian juga dengan belibis yang di belakang, yang sebelumnya menikmati kemudahan dari yang di depannya, mereka mempersiapkan diri dengan baik untuk menggantikan tongkat estafet kepemimpinan sampai saatnya tiba.

Saya yakin teori kepemimpinan burung belibis ini juga mampu diaplikasikan  di perusahan anda.   Pertempuran anda setidaknya memiliki palagan dan masalah yang tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di palagan militer.   Anda memiliki arena pertempuran, tim untuk bertempur, perusahaan kawan, perusahaan lawan, dan punya tujuan pertempuran.  Andaikan dalam hati anda ada insting burung belibis, mungkin perusahaan anda akan mendapatkan keuntungan 71% lebih banyak dari sebelumnya!

Sedangkan menurut Angkatan Udara, definisi dari kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi dan memerintah dengan suatu cara, sehingga orang bisa patuh, percaya, hormat dan bekerja loyal, untuk mencapai tujuan tertentu yang diinginkan.  Menurut saya, kepemimpinan diharapkan tidak hanya untuk mencapai suatu tujuan. Ia harus mampu menciptakan budaya teamwork.  Setidaknya sebaik apa yang dilakukan formasi belibis yang hanya bermodalkan insting.

Tips Bagi Anda Sang Pemimpin

Leader Berarti To Follow First Then To Lead

Bila anda memimpin sebuah institusi, jangan berpikir bahwa anda berlaku sebagai seseorang yang kebal hukum, tidak bisa digusur dan melaksanakan segala sesuatu tanpa dasar. Untuk itu anda harus belajar dari bawah dan menikmati perjuangan komitmen karier sebelum mencapai puncak.  Yakinkah bahwa anda memang sudah cukup baik untuk memimpin setelah sekian lama menjadi orang nomor dua.

Tidak Ada Born Leader

Pemimpin muncul dari latihan dan seleksi.  Tidak ada satu manusiapun yang terlahir dengan stempel “calon pemimpin” di kepalanya.   Namun sejauh mana seleksi dilaksanakan, ini masih sulit untuk menjadi dasar acuan.  Seorang perwira muda sudah merasa cukup terseleksi dengan lulus Taruna dengan predikat terbaik dan menjadi penerbang pesawat tempur jet.  Seorang mahasiswa sudah merasa cukup terseleksi dengan menjadi ketua senat dan lulus dengan IP tertinggi.  Suatu saat mereka tersandung kerikil di arena pertempuran karier mereka langsung bertanya, “Mengapa orang membiarkan orang sehebat saya terdepak ke jurang kehinaan?  Apakah seorang seperti saya cukup pantas menerima perlakuan seperti ini?”  Perasaan ini juga akan dialami oleh banyak pemimpin dalam tataran yang lebih atas.  Sebagaimana seorang Kolonel yang akan naik Marsekal ataupun promosi-promosi lainnya. Terkadang memang menyakitkan bagi kita bahwa seleksi terjadi sepanjang karier kita.  Sepersekian detik sebelum pensiun pun, seleksi akan tetap terjadi. Perasaan born leader pada suatu kelompok juga mengakibatkan sikap ingin mempertahankan kekuasaan dengan segala cara.  Sehingga terkadang menggunakan alasan kelemahan kelompok lain yang seharusnya merupakan rekan satu tim yang harus dilindungi kredibilitasnya.  Timbullah gap antara kelompok yang merasa born leader dan not born leader.   Yang satu ingin terus berkuasa dan diperlakukan sebagai penguasa, sedang lainnya meronta dan berusaha melepaskan diri karena dalam hatinya tidak menerima kondisi ketidak adilan tersebut.

Rotasi Bila Perlu

Menjadikan pemimpin suatu multi organisasi dengan mengambil satu kader dari kelompok tertentu dengan pertimbangan kualitas sebenarnya merupakan perkara lumrah.  Namun jika kelompok tertentu saja yang selalu on seat, dan terjadi dalam kurun waktu lama, pertimbangan kualitas sepertinya akan dianggap basi oleh kelompok lainnya.  Karena setiap individu yang ada dalam multi organisasi tersebut harus merasa sederajat, senasib, dan sepenanggungan. Ini juga akan menimbulkan keresahan.  Satu kelompok akan merasa menjadi born leader, yang terlahir untuk memimpin yang lainnya.  Sedangkan kelompok lainnya menjadi semakin kontra produktif karena hasil jerih patahnya serasa tidak dihargai.  Dalam organisasi militer modern, ide tentang rotasi kepemimpinan gabungan angkatan sebenarnya sangat berguna terhadap munculnya l’es prit de corrs.  Analogi ini tidak mengambil contoh yang terjadi di Indonesia semata (TNI), namun belajar dari pengalaman negara-negara modern.  Aplikasi di lapangan, rotasi kepemimpinan akan membuat setiap prajurit belajar loyal kepada siapapun yang memimpin, tidak pandang baju seragam dan korps.  Bagi para perwira sendiri, mereka akan berlomba-lomba dalam kualitas.

Kenali musuhmu sebagaimana kau kenali dirimu

Musuh tidak harus identik dengan manusia, ia bisa sebuah keadaan yang dapat membuat kita celaka.  Bisa dari alam atau dari kecerobohan sendiri.  Agar selamat, maka berbuat sesuatu harus dengan ukuran.  Jangan membuat sesuatu, sekecil apapun, yang di luar kemampuan diri.   Persiapkan diri, mengetahui kemampuan diri, sebelum berbuat.

 Bukalah Katup Komunikasi

Tidak ada masalah yang tidak terpecahkan  dan terkadang masalah berasal dari diri kita sendiri.  Terkadang kita memang ingin single fighter dalam menyelesaikan masalah, tapi yakinlah bahwa bersikap terbuka  saat keadaan sulit, itu akan menghindarkan diri kita dari keterpurukan yang semakin dalam.

 Cintai, Hormati dan Hargai Anak Buah

Anak buah adalah motor kehidupan satuan.   Kita berikan hukuman apabila memang seharusnya diberikan kepadanya.  Namun di saat normal, kita tidak boleh pelit memberikan kata-kata pujian.   Keberhasilan adalah akumulasi dari keterpaduan.

 Urusan Staf, Kalau Bisa Dipermudah Mengapa Dipersulit?

Hidup dalam jalur komando militer yang memerlukan ketepatan dan kecepatan dalam setiap memberikan instruksi, sudah pasti menjadi sesuatu yang menarik untuk dikaji. Prajurit, khususnya perwira tidak pernah mau bertele-tele dengan urusan staf. Terlalu banyak kalimat saat menuliskan nota instruksi sering membuat anak buah tidak punya waktu untuk menganalisa dan menyimpulkan arah kebijakan atasan. Sebagaimana rekan-rekan ”komandan” mengatakan bahwa hal terpenting dalam perintah tertulis adalah ringkas, mudah dimengerti, dan prosedural. Bagi anda yang hidup di luar lingkaran kehidupan militer, pasti berasumsi bahwa kebiasaan di atas adalah self defense atas sifat malas para pemimpin Angkatan Udara.  Pada kenyataannya itu salah sama sekali. Boleh saya katakan sedikit bahwa itu semua adalah penemuan besar dalam evolusi pencarian jatidiri prajurit dari apa yang terjadi sejak masih menjadi perwira koper (olok-olok untuk perwira paling muda).

Banyak energi positif yang terekspresi dalam sifat pemimpin militer, muncul dari sesuatu yang sepele. Saya sendiri masih percaya bahwa pemimpin yang mudah diikuti oleh anak buah adalah yang sederhana dalam segala hal.  Teringat saat masih perwira muda, ada sebuah joke berbunyi, ”Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah?”  Ejekan ini milik para bawahan kepada sistem ataupun atasan yang selalu bertele-tele dan mengada-ada untuk masalah kecil.  Seorang pemimpin sederhana selalu membuat segala sesuatunya menjadi lebih mudah dengan perhitungan resiko yang terkalkulasi optimum di otaknya.  Seorang pemimpin sederhana akan berbicara menggunakan bahasa orang yang dihadapinya, bukan memaksakan bahasa keinginannya.  Pemimpin yang baik akan membuat anak buahnya selalu hidup nyaman mengelilinginya, bukan hanya tempat pelimpahan overload tugas.  Bisakah anda melakukan ini demi anak buah dan tim anda?

Jangan Selalu Duduk Di Belakang Meja.

Salah besar, jika seseorang berpikir akan mampu menjadi pemimpin yang baik dengan cara memabukkan dirinya dalam karier dan duduk lama di belakang meja.  Ia harus sering berjalan menengok medan pertempuran yang sesungguhnya, banyak mendengar keluh kesah bawahan dan menyampaikan setiap permasalahan kepada para senior.  

Anak Buah dan Teman-Teman Anda, Resiko Jabatan Anda

Seorang  Marsekal Angkatan Udara pun juga harus memastikan dirinya siap menerima resiko dari pekerjaannya juga polah tingkah anak buahnya dan mengatakan tidak terhadap suatu perintah yang absurd.  Sehingga jangan berbuat sesuatu yang melanggar sistem karena hanya ingin menyenagkan hati teman atau anak buah.  Andalah yang akan menanggung akibatnya.

Budaya Adalah Displin Yang Dipaksakan

Banyak diantara kita mengatakan bahwa negara ini memiliki kultur budaya yang tinggi.  Mana buktinya?  Bisa anda menghitung berapa kali anda datang ke kantor tepat waktu?  Berapa kali anda harus menekan klakson mobil setiap meter menuju kantor anda?   Berapa kali anda mangkir dari kantor tanpa ijin atasan anda?   Berapa kali anda tidak tepat janji dengan sitri dan anak anda?   Budaya adalah disiplin yang dipaksakan dengan aturan yang jelas dan tegas sangsinya.   Saat seorang pemimpin atau sebuah institusi tidak memiliki standar   aturan yang jelas dan tegas, maka anda telah membawa seluruh kekayaan institusi, anak istri, dan seluruh anggota, menuju jurang kehancuran.   Tidak ada budaya baru yang lebih baik tercipta tanpa ada aturan hidup yang siap memberi sangsi bagi mereka yang melanggar.

 Reward and Punishment

Berkorbanlah dengan sedikit uang perusahaan untuk meraih teamwork yang menghasilkan keuntungan yang berlipat-lipat, untuk memberikan penghargaan rutin bagi anggota yang telah melakukan tindakan nyata yang menguntungkan institusi.  Bisaa berbentuk anggota teladan, safety award, dan sebagainya.

Strategi Pertama Menjadi Pemimpin Yang Berhasil Adalah menikah Dengan Baik

Menikah adalah sesuatu yang sederhana bagi sebagian orang.  Karena banyak dari kita yang menghabiskan waktu mudanya tanpa merencanakan pernikahan.  Namun, ingatlah bahwa tokoh militer sebesar  Eisenhower, Douglas Mac Arthur, atau John F. Kennedy, berpesan, “Aku mungkin tak akan jadi begini tanpa dukungan istriku.” Dan start awal dalam perjalanan panjang seorang pemimpin besar adalah pernikahan yang bahagia.

Pemimpin Yang Baik Adalah Pemimpin Yang Belajar Mengendalikan Dirinya Sendiri Sebelum Mencoba Mengendalikan Orang Lain.


2 Komentar

  1. a. hendra mengatakan:

    its real lesson learnt….
    salute 4 u major….u r the best

    • budhiachmadi mengatakan:

      terima kasih mas… apapun yang terlihat bisa menjadi ayat Tuhan untuk dipelajari kebajikannya… sukses selalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: