Beranda » Kedirgantaraan » Lahirnya Mahaguru Perang Udara

Lahirnya Mahaguru Perang Udara

 Mustard or mud, sit or blood, greed your teeth and stay there……

Sesakit apapun yang kamu rasakan jangan pernah berpikir untuk meninggalkan pertempuran.  Pertempuran di udara sama sulitnya seperti di darat, maka perlu taktik dan kerjasama yang baik di antara penerbang.

Sebagai pesawat pengintai, penerbang belum mengenal tugas-tugas penembakan atau pengeboman.  belum juga tejadi adanya pertempuran udara sampai pertengahan tahun 1914.  Sebuah momen paling bersejarah dari perjalanan panjang pertempuran udara adalah pada tanggal 5 Oktober 1914. Pada hari itulah sebutan pesawat pengitai berubah menjadi pesawat tempur.

Pada hari itu, sebuah pesawat Voisin tipe 3 milik French Air Service, sedang melaksanakan patroli di garis pertempuran.  Pesawat tersebut diterbangkan oleh Sersan Joseph Frantz dan Sersan Louis Quenault sebagai juru tembak. Kedua penerbang tersebut melihat sebuah pesawat Jerman di wilayah tersebut.  Mereka kemudian mendekati pesawat Jerman tersebut, untuk mengambil jarak tembak yang baik.  Pesawat Jerman, antara tidak tahu kehadiran pesawat Perancis tersebut atau mengabaikannya, tidak memberikan reaksi terhadap mendekatnya pesawat Voisin.  Pesawat yang bermusuhan memang sering mengabaikan pertemuan antar pesawat, karena sudah menjadi hal yang biasa sebelumnya.  Antar pesawat juga tidak saling menembak/mengancam bila saling bertemu.   Namun, itu sebelumnya khan ?  Karena pada saat itu, senapan mesin Quenault sudah diarahkan pada pesawat Jerman yang benar-benar lengah terhadap bahaya yang sedang mengancam keselamatan jiwa mereka. “Tret..tret..tret..tret” peluru pun berhamburan dari pesawat Voisin, dan menerjang badan pesawat Jerman.  Beberapa detik kemudian, pesawat Jerman sudah melayang, jatuh, dan hancur.  Pesawat dan penerbang Jerman ini menjadi korban pertama dalam pertempuran udara.  (Walaupun Jerman menjadi pemicu terjadinya PD I, namun justru Perancis-lah yang pertama memuntahkan amunisinya dalam pertempuran udara)

Sejak saat itu, semua pesawat-pesawat mulai dipersenjatai.  Semua negara yang terlibat perang menyadari bahwa penerbang tidak mungkin mengharapkan bahwa dalam setiap misi yang dijalankan mereka terbebas dari setiap rintangan.  Untuk mengatasi segala permasalahan yang dijumpai di udara, mereka harus mempunyai senjata yang memadai untuk mempertahankan diri.  Para penerbang mulai memikirkan metoda yang baik untuk menyergap pesawat musuh.  Mereka dilengkapi dengan pistol, riffle, bom kecil, selain senapan mesin. 

Mulai tahun 1915, Inggris mulai mengembangkan pesawat tempur single seat.  Sebelumnya, penerbang selalu terbang berdua, ditemani oleh juru tembak. Untuk pola yang baru, penerbang harus terbang sendiri, dengan satu tangan.  Metoda ini sebenarnya meniru apa yang dilakukan oleh pasukan kavaleri saat menunggang kuda.  Sementara satu tangan memegang tali, tangan yang lain digunakan untuk membidik dan menembak lawan.  Memang pada awalnya sangat sulit untuk dilakukan,  namun menimbang keuntungan dan kerugian yang didapat, pola ini nantinya semakin berkembang dan menjadi dasar bagi sistem Hands On Throttle And Stick (HOTAS), seperti yang dipakai pada pesawat tempur modern.

Salah satu masalah yang dihadapi dalam pemasangan senapan mesin pesawat pada masa pra PD I adalah letak propeller di hidung pesawat yang menghalangi lintasan tembakan.  Salah satu penerbang yang berhasil melaksanakan percobaan senapan mesin adalah Rolland Garros, seorang penerbang Perancis.  Nama penerbang ini menjadi nama paling bersinar pada masa awal PD I.  Pada percobaan yang dilakukan, senapan mesin dipasang sebuah interupter gear, yang bisa mencegah benturan tembakan dengan propeller, karena senapan akan tidak aktif pada saat garis tembakan sejajar dengan permukaan propeller blade.  Namun demikian, percobaan ini berakhir dengan kegagalan.  Karena sering kali peluru masih sering nyasar dan menghantam putaran propeller blade.  Hal ini sangat berbahaya, karena blade bisa patah.  Jerman pun yang saat itu mengadakan eksperimen yang sama, mengalami kegagalan karena masalah yang sama. 

Masalah bisa teratasi saat Rolland Garros bergabung dengan Raymond Saulnier, seorang ahli yang sanggup menjawab semua masalah kegagalan interupter gear.  Dibelakang setiap blade (baling-baling) dilapisi besi deflector, sehingga bila ada peluru yang nyasar dan menghantam blade, peluru akan dibelokkan dan berhamburan, namun masih mengarah pesawat yang dibidik oleh penerbang. Metoda ini cukup sukses dalam beberapa percobaan, sehingga mulai digunakan pesawat-pesawat Perancis di medan pertempuran.

Pada tanggal 1 April 1915, Garros dengan senapan Morane-Saulnier tipe L bisa menembak dan menjatuhkan pesawat Albatross Jerman. Setelah itu nama Rolland Garros berkibar dalam kancah pertempuran udara.  Dalam waktu setengah bulan, dia berhasil menembak 5 pesawat Jerman.     Namun sayang, pada tanggal 18 April 1915, pesawatnya berhasil ditembak pesawat Jerman dan melaksanakan pendaratan darurat di wilayah Jerman.  Garros dan pesawatnya menjadi tawanan perang.  Peristiwa ini menjadi bumerang bagi Perancis.  Bila Perancis merasa sangat pilu atas tertangkapnya Garros, maka Jerman sebaliknya.  Tertangkapnya Garros membawa berkah besar bagi mereka.  Senapan mesin rancangan Garros-Saulnier ternyata telah lama menjadi misteri bagi Jerman.  Dengan tertangkapnya Garros dan pesawatnya, Jerman bisa mengadakan penelitian terhadap sistem senjata Perancis tersebut.  Dan sebuah keberuntungan lagi bagi Jerman, si anak ajaib telah datang, yaitu Anthony Fokker. 

Fokker, oleh Jerman diberi tugas untuk menganalisa pesawat dan senapan mesin Garros.  Fokker melepas senapan dan melihat bahwa deflector yang melindungi propeller blade dari lintasan peluru ternyata bisa dilepas.  Fokker langsung mengambil kesimpulan bahwa yang terpenting dalam sistem senapan mesin adalah meyakinkan bahwa peluru-peluru tidak akan mengenai propeller blade pada saat lintasan mereka bertemu.  Sehingga Fokker mengembangkan sistem senapan mesin dengan semburan pendek.  Peluru hanya akan keluar dari laras bila lintasan peluru dan propeller blade tidak bertemu.  Fokker hanya memerlukan waktu 3 hari untuk membuat kesimpulan ini. Pesawat-pesawat Jerman kemudian dimodernisasi sistem senjatanya. Dan setelah itu mereka banyak memborong korban pesawat-pesawat Perancis dan Inggris.

Senapan mesin jenis baru ini dipasang pada pesawat monoplane Fokker IV.  Dengan pesawat ini, banyak penerbang Jerman melambungkan ketenarannya.  Letnan Oswald Boelcke, salah satu ace Jerman pertama, berhasil mencoba senapan ini untuk menjatuhkan korban ke-3 sampai 37 korban selanjutnya. Perancis dan Inggris juga tidak mau kalah dalam pengembangan pesawat-pesawatnya, mereka berlomba dan terus berlomba.  Sejak saat itu pesawat mulai menguasai sebagian jalan pertempuran di PD I secara keseluruhan.

Terbentuknya Skadron tempur

Pada awal PD I, pesawat-pesawat mulai memasuki arena pertempuran.  Namun penggunaannya tentunya masih sangat terbatas, karena kemampuannya yang masih sangat rendah.  Dalam setiap perpindahan dari suatu garis pertempuran, pesawat harus diangkut dalam gerbong kereta atau dinaikkan truk. Sehingga kadang-kadang hal ini dianggap sebagai beban bagi pasukan darat.  Apalagi pada saat akan melakukan penerbangan, suara pesawat yang keras sering mengganggu kuda-kuda pasukan kavaleri.  Pesawat terbang masih belum sepenuhnya diterima oleh para prajurit di garis depan.  

Pada kelanjutannya, pesawat bisa menggantikan tugas-tugas pasukan pengintai yang biasanya memerlukan waktu yang lama untuk menentukan spot-spot posisi musuh di garis depan.  Sebelumnya, tim intelijen harus mengendap-endap ke atas puncak gunung, melewati rimba raya, untuk mengintai posisi lawan.  Dengan pesawat, tugas sulit tersebut bisa menjadi sangat mudah.  Berdasarkan tugas pokok penerbang sebagai pengintai, maka pesawat dengan kecepatan tinggi dan memiliki kemampuan pesawat tempur yang baik belum terpikirkan saat itu.  Setiap pesawat bisa membawa 2 orang, penerbang dan observer.  Para penerbang hanya seorang bintara, justru observer yang bertugas mengintai adalah seorang perwira.   Penerbang lebih suka dengan pesawat yang mempunyai kecepatan yang rendah, karena dia akan dengan leluasa bisa melihat ke permukaan.   Pesawat juga cukup terbang pada ketinggian 3000 feet di atas permukaan tanah.  Karena dengan ketinggian tersebut, senjata di darat sudah tidak mampu menjangkau posisi pesawat.

Mungkin akan terasa sangat lucu bila kita tahu, bahwa pesawat dari pihak yang bermusuhan hanya akan saling menghindar bila saling bertemu.  Namun itulah aturan tak tertulis bagi setiap pesawat pengintai pada saat itu.  Pesawat pun belum bisa membawa beban yang terlalu berat.  Penerbang biasanya hanya dilengkapi dengan pistol, dan bila masih memungkinkan ditambah dengan senapan riffle.  Namun senapan itu tidak pernah digunakan di udara, kecuali pesawat mengalami kerusakan dan penerbang terjebak atau mendarat di wilayah musuh.

Dengan semakin banyaknya penempatan pesawat terbang dalam setiap posisi di garis depan, maka negara-negara yang terlibat dalam PD I (Inggris, Perancis, Jerman), banyak membentuk satuan-satuan udara untuk mengelola pesawat-pesawat tersebut.  Kekuatan udara Amerika belum muncul saat itu, termasuk pembentukan satuan-satuan udara.  Perancis membentuk satuan-satuan udara yang masing-masing terdiri dari 4 pesawat.  Satuan udara ini dinamakan dengan Escadrille.  Sedangkan Inggris membentuk satuan udara yang terdiri dari 3 flight.  Setiap flight terdiri dari 4 pesawat.  Setiap satuan udara sudah dilengkapi dengan personel penerbang, staf, tehnisi, dan personel pembantu lainnya.  Inggris menyebut satuan udaranya dengan nama Squadron.  Satuan udara Inggris Squadron, nantinya menjadi dasar bagi pembentukan seluruh satuan udara di dunia.

Satuan-satuan udara Inggris ini kemudian dibawahi oleh Air Batalyon, di bawah komando War Office.  Sejalan dengan perkembangan kekuatan udara, Air Batalyon diubah menjadi Royal Flying Corps (RFC).  Dengan semakin banyaknya Squadron yang dimiliki oleh Inggris, maka mulai terbentuklah Wing, sebagai satuan yang mengendalikan beberapa kelompok Squadron.  Namun sayangnya, semua organisasi tersebut masih mengabdi kepada Angkatan Darat. Sehingga Inggris memulai sebuah usaha untuk memisahkan  RFC dari Royal Army Forces.   Berkat usaha kerasnya, Angkatan Udara Inggris nantinya berdiri pada tanggal 1 April 1918, sebagai Angkatan Udara pertama di dunia.

Pada saat Perang Dunia I berakhir pada tahun 1918, semua negara yang terlibat perang (Perancis, Inggris, dan Jerman) mendapatkan kerugian yang sangat besar.  Perjanjian perdamaian menuntut Jerman untuk menyerahkan semua pesawat tempur dan mesin-mesin pesawat yang dimiliki.  Kegiatan Angkatan Udara Jerman menjadi beku.  Sedangkan Angkatan Udara Perancis dan Inggris dikurangi kekuatannya menjadi bagian-bagian kecil, seperti rencana sebelum masa perang.  Pada tahun yang sama, telah berdiri organisasi Angkatan Udara pertama di dunia, yaitu Royal Air Force (RAF) milik Inggris.  Organisasi ini berdiri pada tanggal 1 April 1918.  Hal ini tentunya membangkitkan adanya reorganisasi seluruh kekuatan udara dunia saat itu.

Pada saat PD I dimulai, Inggris memang menjadi pioner dalam organisasi kekuatan udara dengan mendirikan Air Batalyon.  Dalam pertumbuhannya, organisasi ini berkembang menjadi Royal Flying Corps (RFC).  RFC-lah yang mengendalikan seluruh pergerakan pesawat tempur Inggris selama PD I.  Dalam rangka pembentukan AU yang berdiri sendiri, maka diadakan peleburan 2 kekuatan udara utama Inggris, yaitu RFC dan Royal Naval Air Service.  Ditunjuk sebagai Kepala Staf AU pertama adalah Lord Viscount Trenchard.  Beliau nantinya disebut sebagai Bapak AU Inggris. Usaha reorganisasi yang dilakukan oleh Inggris berjalan semakin baik dengan diakhirinya PD I.  Semua satuan menjalani proses efisiensi.  Jumlah prajurit AU dikurangi dari 350.000 menjadi 28.000.  Jumlah Skadron dikurangi dari 200 menjadi 25.  Dengan kekuatan yang kecil dan efisien ini, Trenchard telah meletakkan dasar-dasar yang baik untuk AU Inggris yang hebat pada perang selanjutnya, PD II.  Pada tahun 1922, Angkatan Udara Inggris untuk pertama kali mengeluarkan buku petunjuk pokok-pokok organisasi dan petunjuk pelaksanaan lainnya.  Semua prosedur operasi penerbangan tempur dibakukan.

Sistem komunikasi antar pesawat dibakukan dengan menggunakan gerakan pesawat leader.  Penggunaan gerakan tangan sering membingungkan dan pirotehnik banyak merepotkan penerbang pesawat tempur single seater.  Dengan adanya pembakuan sistem komunikasi antar pesawat ini, maka taktik pertempuran bisa berjalan lebih rapi dibandingkan sebelumnya.  Formasi tempur yang dibakukan adalah Vic formation.  Formasi ini memberikan jarak pandang yang baik buat leader dan merupakan formasi yang teraman untuk menembus cuaca buruk.  Jarak antar pesawat adalah 30 yard. Pertimbangan ini diambil karena cuaca di Eropa yang sangat buruk.  Sejak saat itu, mulai berlaku adanya sub formasi bila beberapa pesawat harus berpisah dari formasi awal karena sesuatu masalah seperti cuaca, kerusakan pesawat,  pertempuran, dan lain-lain.

Masa perang yang penuh dengan kegiatan pertempuran udara, memang menyulitkan para penerbang untuk mengkaji taktik-taktik yang digunakan.  Mungkin mereka tahu bahwa taktik lama yang digunakan banyak yang tidak efektif lagi.  Namun para penerbang tidak ada waktu untuk berlatih, sehingga tidak berani untuk keluar dari kebiasaan mereka sebelumnya.  Mereka harus bertempur dan bertempur.  Setelah masa perang, mereka semua mengkaji dan berlatih, membuktikan dan membandingkan berbagai macam taktik yang digunakan.  Dalam buku petunjuk operasi udara pertama tersebut, terdapat beberapa penekanan sebagai berikut  :

1. Kemenangan hanya akan dapat dicapai dengan menggelar semua kekuatan yang memiliki semangat tempur tinggi.

2.Setiap serangan harus diakhiri dengan hilangnya kekuatan musuh untuk membalas serangan.

3.Daya kejut harus selalu menjadi kunci pokok dalam setiap pertempuran.

British Royal Air Force dibawah pimpinan Lord Viscount Trenchard memang telah memiliki dasar-dasar dan pengalaman tempur yang baik saat itu.  Dalam masa PD I, mereka telah biasa menggerakkan ratusan pesawat dalam misi pertempuran. Sehingga mereka memiliki wawasan yang baik untuk merumuskan segala macam operasi pertempuran yang akan dilakukan.

Dalam masa kelahiran organisasi Angkatan Udara, seorang tokoh yang berpengaruh pada masa itu adalah Jendral Guilio Douhet, yang telah menyusun buku berjudul The Command of the Air.  Buku ini telah membuat perwira Italia ini menjadi tokoh berpengaruh dalam pengembangan Air Power di dunia internasional.  Dia menggariskan bahwa peperangan masa depan akan dimenangkan oleh negara yang mengembangkan kekuatan udaranya dengan baik.  Menurut Douhet, hal ini bisa dicapai dengan penggunaan pesawat-pesawat yang bisa menjatuhkan bahan-bahan high explosive untuk menghancurkan bangunan, pembakaran, dan penyebaran gas beracun untuk mencegah pertumpahan darah antar pasukan darat.  Dengan metode ini, kehancuran total di pihak musuh akan bisa dicapai dengan lebih aman. Hal ini sesuai dengan prinsip dasar penggunaan taktik pertempuran. yaitu mencapai hasil yang maksimal dengan resiko terkecil. 

Salah satu teori Douhet yang menarik adalah tentang nilai efektivitas dan efefisiensi operasi pengeboman. Douhet mengasumsikan bahwa target-target yang ada di permukaan tanah biasanya terkonsentrasi dalam area kurang dari 500 m².  Target ini akan bisa dihancurkan oleh hanya 10 pesawat bomber yang masing-masing membawa 2 ton bom, yang dijatuhkan dari ketinggian 10.000 feet oleh penerbang-penerbang yang sudah terlatih dengan baik. Dengan memiliki 1000 buah pesawat bomber, maka 50 target bisa dihancurkan setiap hari. Sehingga pasukan darat tidak perlu repot-repot menggerakkan peralatannya yang sangat sulit dipindahkan dan pasukannya yang bergerak dengan sangat lambat.  Pesawat bomber tidak boleh bergerak sendirian.  Mereka harus dikawal oleh pesawat escort yang memiliki kecepatan yang lebih tinggi dan jarak jangkau yang lebih jauh dari pesawat bomber. 

Kekuatan di laut dan di darat akan bisa dihancurkan dari udara.  Sasaran utama seperti pangkalan militer, garis komunikasi, dan pusat logistik dapat dihancurkan pada hari-hari awal penyerangan.  Untuk dapat melakukan tugas-tugas tersebut secara mandiri, Angkatan Udara harus memiliki organisasi yang independen. Sebaliknya, bagi negara yang diserang, pembangunan sistem pertahanan udara adalah kebutuhan dasar.  Kita tidak boleh membiarkan pesawat-pesawat tersebut mengudara.  Mereka harus dihancurkan di pangkalannya bila mungkin.

Oswald Boelcke, Maha Guru Taktik Pertempuran Udara

Untuk mengenang Kapten Boelcke, musuh kami yang berani dan kesatria (Korps Penerbangan Inggris)         

Pada saat PD I dimulai tahun 1914, Oswald Boelcke masih berusia 23 tahun.  Pada tahun tersebut, dia mendapatkan sertifikat sebagai seorang penerbang dan ditempatkan di satuan udara Jerman di Perancis.  Nama satuan tersebut masih cukup aneh buat Boelcke, yaitu Seksi ke-13.  Namun demikian, dia cukup beruntung karena saudara laki-lakinya yang bernama Wilhelm Boelcke sudah berdinas di sana sebagai observer.       Pada saat itu, pertempuran udara belum dimulai.  Tugas penerbang hanya sebatas membawa observer, yang bertugas mengintai posisi musuh.  Sehingga satuan tersebut banyak memiliki pesawat kursi ganda, namun belum dilengkapi senapan mesin.  Pesawat-pesawat Jerman pun menjalankan tugasnya sebagai pengintai, mencari posisi pasukan sekutu dan menuntun pasukan Jerman ke arah sasaran tersebut.  Bila sudah menemukan sasaran, pesawat akan mengeluarkan tanda yang menimbulkan warna tertentu di udara. 

Pada akhir tahun 1914, Boelcke sudah melakukan 43 kali penerbangan operasional.  Boelcke sebenarnya sudah banyak mendengar tentang adanya pertempuran udara.  Dia dan observernya juga sudah dilengkapi dengan senapan panjang dan pistol.  Namun sejauh itu, dia belum terlibat dalam pertempuran udara.  Pesawat-pesawat Jerman sebagian besar hanya bertugas sebagai pengawal pasukan darat, Scout Aircraft, dan belum dilengkapi senapan mesin.

Setelah tertangkapnya Rolland garros dan keberhasilan Anthony Fokker untuk mendesain senjata baru bagi Jerman, Boelcke yang sudah pindah di seksi ke-62, mendapat kesempatan untuk terbang di pesawat Fokker yang bertempat duduk ganda dan sudah dilengkapi senapan mesin baru.  Sebagai juru tembaknya adalah Letnan Von Wuhlisch.  Pada tanggal 6 Juli 1915, mereka berhasil menembak jatuh pesawat Morane, Perancis. Keberhasilannya yang pertama ini juga menjadi penerbangan terakhir Boelcke di pesawat kursi ganda.

Di satuan yang baru, Boelcke mendapat kawan yang nantinya menjadi pasangan terhebat selama karirnya, yaitu Oberleutnan Max Franz Immelman.  Perpindahan dari pesawat berkursi ganda, ke kursi tunggal memang menimbulkan masalah baru bagi penerbang.  Pada saat penerbang berkonsentrasi untuk mengadakan penyerangan, perhatian penerbang sangat tersita.  Sehingga tidak sempat memperhatikan datangnya ancaman dari arah yang lain.  Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka pesawat-pesawat Jerman mulai terbang berpasangan.   Penerbang yang sering menjadi pasangan Boelcke adalah Immelman.

Kedua orang ini menjadi senjata paling mematikan bagi Jerman.  Pada saat mereka masing-masing berhasil menjatuhkan korban ke-8, pemerintah Jerman menganugerahkan Pour le Merite.  Dua hari kemudian, Boelcke menembak lagi 1 pesawat sekutu.  Pada usia 25 tahun, Boelcke dipromosikan pangkatnya menjadi Kapten dan dipindahkan ke Sivry untuk menghadapi Perancis, sedangkan Immelman dipindahkan ke Douai untuk bertempur melawan Inggris.  Petualangan Immelman berhenti setelah menjatuhkan korban ke-15.  Dia ditembak pesawat Inggris dan tewas.  Sebagai penerbang tempur, Immelman akan selalu dikenang sebagai penemu taktik pertempuran udara vertikal.  Immelman adalah penerbang yang pertama kali menggunakan manuver vertikal.  Keberhasilan Immelman ini didukung oleh pesawat Fokker yang digunakannya.  Pesawat itu memiliki power besar dan kecepatan tinggi.  Sebagai sahabat, Boelcke pun menyempatkan terbang ke Douai dan melepas kepergian sahabatnya tersebut. 

Pada saat Boelcke sudah mengemas 18 korban, Kaisar Jerman mengirim surat kepada Boelcke agar kembali ke garis belakang dan menjadi staf.  Kaisar mengatakan bahwa pengabdian Boelcke sudah lebih dari cukup, dan dia telah menjadi prajurit besar.  Namun Boelcke menolak permintaan kaisar tersebut, dan terus bertempur.  Bahkan sesaat setelah kematian Immelman, Boelcke yang sangat emosional, berusaha mencari dimanapun pesawat sekutu berada, untuk diajaknya berduel.  Boelcke sudah tidak peduli bahwa dia telah melanggar aturan satuannya, yang melarang penerbang bertempur di luar wilayah pertempurannya sendiri dan di luar ijin satuannya.  Saat bertemu pesawat Perancis, Boelcke pun menghajarnya sampai jatuh berantakan. Dia benar-benar ingin melampiaskan rasa kehilangannya atas sahabat terbaiknya.  Saat masalah ini terungkap, Boelcke mengelak dari tuduhan, dan menyampaikan bahwa pesawat Perancis itu jatuh karena ditembak dari bawah oleh artileri Jerman.  Namun alasan tersebut tidak bisa diterima, karena tidak ada pasukan ataupun artileri disana. Dan Boelcke pun mendapat larangan terbang.

Ketika posisi Jerman terdesak oleh Inggris di Somme, Boelcke pun ditarik kembali ke garis depan.  Di satuan yang baru ini, Boelcke mendapatkan penerbang-penerbang muda yang tangguh dan nantinya menjadi murid-murid terbaiknya, termasuk Manfred Von Richthofen (Red Baron). Pada bulan September 1916, Boelcke telah menambah jumlah pesawat korban menjadi 26 buah.  Pada tanggal 17 September, Boelcke membuat sebuah keputusan bersejarah saat memerintahkan anak buahnya untuk bertempur bersama-sama dalam formasi tertentu. Unit terlatih bernama Jagdstaffel. Ini adalah pertama kali dilakukan oleh penerbang, karena sebelumnya mereka selalu terbang dan bertempur sendiri.  Boelcke yang diwaktu senggangnya selalu menganalisa manuver pertempuran yang pernah dilakukan, kemudian mengajarkan teamwork kepada para penerbangnya.  Konsep yang telah ditemukan oleh Oswald Boelcke ini nantinya menjadi dasar bagi pengembangan taktik pertempuran udara modern, dan menjadikannya sebagai Bapak Taktik Pertempuran Udara. Jagdstaffel sendiri kemudian ditempatkan di Cambrai.  Sedangkan pangkalan lawan terdekat adalah Skadron 24 Pangkalan Bertangles, Royal Flying Corps, dengan pesawat DH-2. 

Pada akhir bulan Oktober 1916, Boelcke telah berhasil menjatuhkan 40 pesawat sekutu.  20 pesawat berhasil ditembaknya dalam 2 bulan terakhir.  Pada suatu malam, Boelcke harus tidur awal karena didera keletihan.  Esok paginya Boelcke ternyata mendapat jatah terbang 4 kali.  Namun sepanjang hari itu, tidak terjadi pertempuran di udara.  Sore harinya, Boelcke mendapat telfon dari garis pertahanan Jerman yang meminta bantuan pesawat.  Boelcke langsung melompat ke atas Albatross diikuti Red baron, Bohme, dan 4 penerbang lainnya.  Di atas awan kelabu di dekat garis pertahanan, mereka menemukan pesawat De Havilland Inggris.  Pesawat Perancis yang mengetahui kedatangan 6 pesawat Jerman tersebut langsung melakukan manuver pertahanan.  Beberapa saat kemudian, datang 1 unit pesawat Jerman berjumlah 6 pesawat datang membantu sebagai escort.  Kekuatan jelas tidak seimbang saat itu. Jerman berada di atas angin tentunya. Entah kesalahan apa yang telah di buat oleh formasi pesawat Jerman tersebut, sehingga posisi pesawat menjadi tidak menentu dalam pertempuran tersebut.  Mungkin karena jumlah musuh yang lebih sedikit membuat mereka terlalu bernafsu dan tidak memperhatikan posisi pesawat kawan.  Boelcke dan Bohme tidak memperhatikan bahwa posisi mereka sudah sangat dekat, mereka sama-sama ingin menghabisi Letnan Knight yang berada di pesawat DH-2 Inggris.  Badan pesawat Bohme menyentuh mesin dan sayap pesawat Boelcke.  Pesawat Boelcke yang sudah tidak bisa dikendalikan menghunjam ke bawah.  Boelcke sendiri terlihat masih berusaha untuk mengendalikan pesawatnya.  Pesawat-pesawat Inggris tersebut bisa meloloskan diri, karena para wing man Jerman lebih terkonsentrasi perhatiannya kepada pemimpin, pejuang besar, dan idola mereka yang kini berada dalam pesawat yang tak bertenaga dan tak terkendali, meluncur ke bawah, dan masuk menerobos lapisan awan.  Mereka mengejar turun.  Dalam hati, mengapa bukan salah satu dari mereka yang berada dalam pesawat yang sedang naas tersebut.  Saat keluar di bawah awan, sayap pesawat Boelcke sudah terlempar.  Pesawat Albatross itu jatuh di tanah dan Boelcke tewas seketika. (Thousands fighters can’t change your great soul)  

Dari hasil penyelidikan, diketahui bahwa sabuk pengaman Boelcke ditemukan dalam kondisi kendor.  Kita bisa memaklumi bagaimana payahnya kondisi Boelcke hari itu yang sudah terbang seharian dan didera keletihan yang luar biasa.  Mungkin karena harus cepat-cepat menuju sasaran, Boelcke lupa untuk mengencangkan sabuk pengamannya (His soul is on God’s Hand).  Bangsa Jerman pun berduka cita hari itu.

Dog Fight

Taktik pertempuran pada umumnya didefinisikan sebagai seni atau ilmu dari kekuatan yang sedang bermanuver dalam pertempuran dengan berdasar prisip-prinsip yang telah digariskan.  Dalam arti yang lain adalah sebuah cara untuk mendapatkan hasil yang maksimum dengan usaha dan resiko minimum.  Setapi hari, para penerbang Iswahjudi mengasah ketrampilan, berjumpalitan di udara, mencoba setiap taktik yang dimiliki.  

Taktik pertempuran udara juga kemampuan para penerbang sangat tergantung dari kharakteristik dan kemampuan pesawat.   Dengan pesawat yang baik, dilengkapi kemampuan persenjataan yang memadai, maka penerbang akan mampu melaksanakan setiap taktik untuk mencapai kemenangan pertempuran.   Sebaliknya dengan kemampuan yang rendah, jumlah yang minimum, mustahil para penerbang bisa mempraktekkan taktik-taktik modern.   

Kalau melihat taktik pertempuran udara di awal PD I, kita akan melihat sebuah pola tradisional dari perkembangan pertempuran udara.  Bila pesawat saling bertemu dan bertempur, mereka hanya saling berputar, menembak, dan melempar bahan peledak.  Bila pertempuran di atas belum cukup sampai bahan bakar habis, mereka mengadakan pendaratan darurat, dan berduel kembali di bawah seperti cowboy.  Ditembak mati atau menjadi tawanan akan mengakhiri pertarungan tersebut.  Hal ini mungkin terasa lucu bagi para penerbang fighter modern, namun begitulah nenek moyang para penerbang fighter  berjuang demi bangsanya masing-masing. 

Sejalan dengan perkembangan tehnologi dan pengalaman dari para penerbang, mereka kemudian mengembangkan taktik-taktik pertempuran yang digunakan.  Dalam beberapa leiteratur menyatakan bahwa taktik yang digunakan pertama kali untuk pertempuran udara adalah dengan memanfaatkan ketinggian.  He who has height, controls the battles.  Dengan memiliki ketinggian lebih dari pesawat musuh, maka kecepatan akan semakin bertambah saat menyergap musuh di bawah, memiliki daya kejut yang lebih baik, dan dengan kecepatan yang masih tinggi akan memudahkan pesawat untuk naik lagi/melarikan diri.

Dengan memanfaatkan ketinggian, maka Immelman terinspirasi untuk menciptakan sebuah taktik yang nantinya disebut dengan Immelman turn.  Dari posisi yang lebih tinggi, pesawat diarahkan ke pesawat lawan.  Pada saat membidik target, kecepatan pesawat bertambah.  Sehingga setelah penembakan selesai, pesawat yang masih berkecepatan tinggi, bisa dibawa naik lagi dengan cepat sampai mendekati stall, wing over, dan menyerang lagi.  Di Inggris, Albert Ball mengembangkan taktik penyerangan yang sama, yaitu mengambil start dari ketinggian dan bersembunyi dibelakang pesawat musuh, pada saat jarak sudah didapatkan maka dia langsung menghunjam dan tersemburlah peluru dari senapan mesin Ball.  Hanya saja, Ball belum memanfaatkan vertikal manuver sepenuhnya. 

Oswald Boelcke adalah orang pertama yang mampu menggambarkan setiap pertempuran yang dilakukan dalam sebuah sistem analisa yang baik.  Sejak tahun 1916, Boelcke juga memulai mengajarkan formasi taktik pertempuran.  Boelcke yang kemudian dikenal sebagai tokoh terbesar yang meletakkan dasar-dasar pertempuran udara, menggariskan beberapa rumusan pokok tentang taktik pertempuran udara sebagai berikut  :

 1.      Dapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya sebelum menyerang.  Jika mungkin, letakkan matahari agar selalu dibelakang ekor pesawat.  Keuntungan terbesar dalam sebuah pertempuran adalah faktor daya kejut.  4 sampai 5 pesawat bisa saja hancur tertembak oleh sebuah pesawat yang memiliki tempat persembunyian yang baik. Dengan menempatkan pesawat di ketinggian, apalagi berada pada matahari, maka musuh akan kesulitan untuk melihat posisi kita.  Daya kejut juga didapatkan dengan menggunakan lapisan awan untuk bersembunyi dan mendekat pesawat lawan lewat posisi ekor. Yang perlu disadari, saat itu belum ada RADAR seperti sekarang.

 2.      Mulai serangan pada saat yang tepat.  Pengambilan keputusan dan mental penerbang fighter menempati faktor penting dalam situasi perang.  Sebuah serangan yang dimulai terlalu awal justru tidak akan mendapatkan hasil apa-apa.  Serangan tersebut juga akan menambah keberanian musuh untuk menghantam balik posisi kita.

 3.      Tembaklah musuh pada jarak dekat dan saat musuh benar-benar dalam penglihatan kita.   Dalam PD I, tembakan yang baik berada dalam jarak 25 yard atau kurang.  Dalam jarak tembak, pesawat yang diam sebenarnya bisa saja dihancurkan dalam jarak beberapa ratus yard.  Namun lain soal dengan pesawat yang bermanuver.  Dalam menembak, kita harus yakin benar bahwa yang kita tembak adalah pesawat musuh.  Pada saat itu belum ada radio, sehingga mungkin terjadi penerbang tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan dalam cuaca yang kurang baik.

 4.      Bila kita menangkap gerakan musuh, jangan sampai melepas perhatian hingga musuh menghilang lagi.  Bila kita mengikuti menuver musuh, jangan sampai mudah tertipu.  Yakinkan bahwa kita selalu dalam posisi siaga, walaupun musuh sudah terlihat tak berdaya.

 5.      Dalam beberapa bentuk serangan, sangat penting memulainya dari belakang.  Ada 4 alasan mengapa penerbang harus melkukan hal ini.  Pertama, bidikan penerbang tidak ada defleksi karena pesawat menembak dalam posisi level off.  Kedua, waktu bidik menjadi lebih lama, karena musuh tidak melihat kehadiran pesawat kita.  Ketiga, jika pesawat target adalah single seater maka dia tak akan bisa membalas tembakan tanpa membelokkan pesawat ke arah kita.  Keempat, Pesawat kita sangat sulit untuk bisa dilihat.

 6.      Jika musuh datang menyerang dalam jarak dekat, jangan coba-coba lari sambil membelakanginya.  Bawalah pesawat untuk saling berhadapan.

 7.      Jika menyeberang garis pertahanan musuh, jangan sampai kehilangan arah untuk kembali.  Untuk penerbang yang masih muda memang akan dengan sangat mudah kehilangan arah, namun untuk penerbang yang senior mempunyai kewajiban untuk membagi perhatian antara pertempuran dan posisi.

 8.      Miliki dasar-dasar pertempuran kelompok, 4 atau 6.  Ketika pertempuran terbagi menjadi pertempuran 1 lawan 1, pastikan bahwa tidak ada 2 pesawat yang menuju 1 pesawat musuh.

Setelah merumuskan 8 prinsip pertempuran ini, Boelcke membentuk unit tempur pertama Jerman, Jagdstaffel.  Mereka bertempur dengan pesawat yang dimiliki Skadron, melawan pesawat-pesawat sejenis juga pesawat hasil tangkapan.  Jagdstaffel mulai beroperasi aktif pada bulan September 1916.  Namun sayang, sebulan kemudian Boelcke sendiri tewas dalam sebuah serangan formasi dengan para wing man-nya.  Dia gugur karena formasi yang dibentuknya sendiri, ternyata melanggar aturan ke-8 dari Boelcke Fighting Formation Role.

Kelemahan mendasar dari formasi pesawat tempur pada PD I adalah ketiadaan sarana komunikasi antar pesawat.  Sehingga koordinasi pertempuran tidak bisa terlaksana dengan baik.  Pada masa itu, instruksi diberikan leader dengan tanda-tanda tertentu yang mudah dimengerti oleh wing man.  Kode-kode tersebut diberikan dalam bentuk gerakan tangan, cahaya berwarna-warni, dan gerakan pesawat.  Gerakan tangan paling jarang digunakan karena banyak menimbulkan kesalahan.  Namun yang paling sering digunakan adalah dengan gerakan pesawat. Pertempuran udara yang melibatkan jumlah pesawat yang besar, yang biasa disebut Dogfight, mulai sering terjadi pada tahun 1917.

Dog fight yang dilaksanakan oleh para penerbang Iswahjudi tentunya sudah jauh lebih modern, sejalan dengan perkembangan sistem dan tehnologi kedirgantaraan yang dimiliki.   Para penerbang baru mulai dikenalkan pertempuran udara dengan sebuah latihan Basic Fighter Maneuver (BFM).   Pada fase ini penerbang yunior dikenalkan bagaimana mengambil posisi menembak dengan gun dan peluru kendali.   Kedua jenis ini yang sekarang digunakan dalam pertempuran udara di Iswahjudi.  

Sebuah pesawat yang diterbangkan oleh para penerbang senior akan bertindak sebagai pesawat target.   Dengan tingkat kesulitan manuver yang dikurangi, penerbang yunior yang didampingi oleh seorang instruktur di cockpit belakang akan bisa belajar menmbak dengan cara yang benar.

Pada fase BFM, pertempuran hanya dilaksanakan dengan dua pesawat dan manuver yang paling sederhana dan mudah.   Bila penerbang sudah mahir dalam fase ini, maka pelajaran akan dilanjutkan padaa fase Air Combat Maneuver (ACM).   Jumlah pesawat yang ikut dalam pertempuran tetap dua, namun tingkat kesulitan manuver ditingkatkan.   Bahkan pada akhir fase ACM, siswa sudah diperkenankan melakukan free maneuver dimana ia bebas melakukan manuver apapun untuk mempertahankan diri dari serangan musuh.

Pada maneuver dua pesawat, para penerbang yunior juga akan berlatih melaksanakan interception (peyergapan).   Penyergapan dilaksanakan bila ada pesawat musuh yang mencoba menerobos wilayah udara kita.   Dengan bantuan radar permukaan, penerbang akan melaksanakan misi ini.   Penerbang akan belajar bagaimana untuk mencari pesawat musuh yang nampak di layar radar sampai masuk jarak pandang atau jarak tembak yang optimum.   Apabila musuh ternyata mengendus kehadiran pesawat penyergap dan melaksanakan maneuver penyelamatan, bertempur dalam jarak dekat, maka terjadilah dog fight.

Latihan dog fight dalam jumlah yang besar dinamakan dengan Air Combat Tactic (ACT).   Pertempuran bisa dilaksanakan antar 4 pesawat bahkan lebih.   Pada kondisi seperti inilah, situasi menjadi begitu rumit bagi penerbang yang tidak pernah dalam dog fight atau penerbang yang masih memiliki jam terbang minim.   Sehingga penerbang secara kontinyu harus berlatih dari  jumlah pesawat yang kecil sampai jumlah yang besar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: