Beranda » Syair » Sejawat Bintang Berbentuk Layang-Layang

Sejawat Bintang Berbentuk Layang-Layang

Aku bertanya pada sejawat bintang berbentuk layang-layang?
Mana yang lebih kau sayangi perempuan yang melahirkanmu atau Bapak yang menitipkan benihmu?
Lalu engkau benderang menari, menebar pelangi malam bagi dua bayang hulu keindahan yang katamu selalu menemani.
Aku bertanya pada sejawat bintang berbentuk layang-layang, tentang pilihan yang andaikan tak tertolak.
Serahkan satu pilihanmu saja, dari kelembutan Hawa selimut hidupmu atau kekukuhan Adam pelindungimu itu, mana yang rela kau lepas pergi ini waktu?
Lalu kerlap-kerlipmu memendar tak menentu, limbung sekejap, memuncratkan airmata meteorit yang melesat menghancurkan mata hati siapapun yang sedang memandangmu.
Sejawat bintang berbentuk layang-layang pun mencakar-cakar deret awan tirus yang baginya teman keacuhan.
Engkau marah padanya bintang berbentuk layang-layang?
Lalu engkau mencengkeram awan tirus dalam dengus gemeretak.
Dosa awan tak membau gulungan lava pijar kesedihan yang akan lama menggelegar dari balik kerakmu, baru kutahu.
Kini awan tirus dibuatnya mati.
Bintang layang-layang masih kalap melesat, mencoba susuri jejak tanya pada pusaran lorong gelap tak tersentuh, yang tetap tak berjawab.
Kamu marah bintang berbentuk layang-layang? Ah, jangan kataku.
Karena aku masih harus bertanya-tanya lagi padamu…
Apakah engkau tahu siapa Bapak dan siapa Ibumu, bintang berbentuk layang-layang?
Engkau diam membisu.
Bintang…. mengapa engkau… diam saja… marah?
Ada suara dehem halus di sana, lalu…
“Gedubrak” aku kini jatuh terkena tinjumu.
Hah, tapi aku ternyata masih telentang sejawatku, masih hidup, masih jua bisa bertanya…
Sejawatku bintang berbentuk layang-layang, apakah engkau sungguh mencintai mereka, walau tak jua ada nama keduanya dapat kau sebut, untuk menghias keindahan mimpi-mimpimu?
Sejawatku bintang berbentuk layang-layang, apakah engkau selalu memuja keduanya, walau tak secuil kemegahan yang mereka tinggalkan untukmu?
Apakah engkau selalu merindukannya?
Apakah engkau selalu menangisinya dalam sudut tersembab di hatimu?
Bintang berbentuk layang-layang pun menggelendot dalam pelukan rembulan sejenak, lalu berjingkat-jingkat menari indah tiada tara.
Sebuah awan yang lebih tirus datang menghampar dengan sebuah senyum tertahan.
Lalu bintang berbentuk layang-layang berhenti, kembali menjadi ayat yang diam memandangku.
Lalu kamu? Tanyanya padaku.

Maospati, Selasa 23 Juni 2009
Buat dua hulu keindahan di kampung


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: