Beranda » Kedirgantaraan » Sekilas AU Israel

Sekilas AU Israel

Beberapa waktu lalu, kontraversi muncul dikalangan masyarakat tentang rencana pembukaan hubungan dagang antara Indonesia dan Israel.   Hal ini tentunya menarik mengingat selama ini, bangsa kita telah menganggap tabu semua yang berbau Israel.  Banyak  yang menganggap tindakan pemerintah sebagai sebuah pengkhianatan kepada dunia Islam.  

Namun kalau kita melihat dalam sejarah Arab sendiri, justru sikap menutup diri terhadap perkembangan Israel, yang membuat mereka hancur.   Perang dengan kezaliman memang harus selalu dikobarkan.  Namun bukan berarti semua yang berbau Israel dilarang.  Dalam sekian periode waktu, semua buku-buku, koran, dan barang-barang Israel jenis apapun dilarang beredar di Arab. Bahkan di perpustakaan nasional pun tidak mungkin ditemukan buku tentang Israel.    Semua tindakan ini ternyata menjadi malapetaka buat negara Arab.   Karena mereka buta dengan polah tingkah bangsa Israel, maka dengan mudah Israel menyusupkan agen-agennya ke dalam tubuh bangsa Arab.   Arab benar-benar tidak bisa mengenali bagaimana kekhasan Israel.  

Setelah Perang Yom Kippur pada tahun 70-an, maka negara-negara Arab pun mulai terbuka pikirannya.  Saat mereka bertindak sebagai penyerang, ternyata sumber informasi masalah Israel yang mereka miliki sangat terbatas.  Sehingga pada masa setelah perang, Arab mulai mumbuka diri dengan semua masalah Israel.  

Operasi Opera

Delapan pesawat F-16  Israel Air Force (IAF)  terbang pada ketinggian rendah melewati gurun Arab, di senja hari tanggal 7 Juni 1981.   Setiap pesawat membawa 2 buah bomb MK-84 yang masing-masing beratnya 1000 kg dan 3 tanki tambahan (drop tank).   Mereka telah terbang selama 90 menit dari 600 mil perjalanan yang harus ditempuh menuju target.   Target yang direncanakan adalah Reaktor Atom Osirac di dekat Baghdad.  

Selama perjalanan, suara pesawat-pesawat tersebut seakan-akan ingin mengguncang daerah yang dilewati. Terbang pada ketinggian yang sangat rendah agar berada di bawah jangkauan radar Irak.  Dari kejauhan, kedatangan mereka hanya terlihat seperti topan, karena debu padang pasir yang berhamburan.

Misi dengan nama sandi operasi Opera, yang bertujuan untuk mengakhiri usaha Saddam Hussein dalam memproduksi senjata bertenaga plutonium iniakhirnya berhasil dengan gemilang diselesaikan.  Dan operasi Opera menjadi salah satu dari banyak misi spektakular dan menakutkan yang pernah dimainkan AU Israel sejak pertama kali dibentuk 52 tahun yang lalu.  

Kekuatan udara Israel mulai terbentuk pada bulan Nopember 1947, ketika terbentuk kelompok pejuang klandestin yang bernama Haganah, sebelum Israel memproklamirkan kemerdekaannya.   Mereka mengumpulkan pesawat yang masih bisa dipakai dan mendirikan perusahaan penerbangan yang bernama Sherut Avir.   Pesawat yang bisa dikumpulkan antara lain termasuk pesawat kecil seperti American Taylorcat, British Auster, Polish RWD.8 dan RWD.13, dan de-Haviland Dragon Rapide yang bermesin ganda.  

Israel mendeklarasikan kemerdekaannya  pada tanggal 15 Mei 1948, yang kemudian memicu perang regional di Teluk.   Kondisi kekuatan udara pada saat itu tidak sepadan dengan negara lain di Teluk.   Pesawat tempur dan transport milik Mesir, Irak dan Syiria terbang bebas di atas wilayah udara Israel.  

Perang tersebut telah mengakibatkan Amerika dan Inggris mengembargo semua negara di Timur Tengah, termasuk Israel.   Sehingga Israel pada gilirannya harus mencari negara alternatif untuk mendapatkan suku cadang senjatanya.   Semua pesawat yang dimiliki adalah pesawat selundupan dari Eropa.  Pesawat-pesawat tersebut adalah Curtiss C-46 Commando, Boeing B-17, British Mosquito, Douglas DC-5, dan beberapa pesawat kecil lain.   Lalu diikuti 25 pesawat tempur Avia S 199 dari Cekhoslowakia.  

Pesawat S 199 adalah jenis dari Messerschmitt 109, yang ternyata lebih berbahaya bagi penerbangnya daripada untuk musuh karena sulit sekali diterbangkan, bertenaga kecil, dan konstruksinya sangat buruk.   Pada saat take off ataupun landing, pesawat ini sering bablas.   Namun demikian pesawat tempur pertama Israel ini harus secepatnya menjalankan tugas untuk menyerang barisan kendaraan lapis baja di dekat Tel Aviv pada bulan Mei 1948.  

Seminggu kemudian sebuah pesawat S 199 mencatat sejarah sebagai pesawat tempur pertama Israel yang berhasil menembak jatuh 2 C-47 Dakota milik Mesir yang mengadakan serbuan udara ke Tel Aviv.  Angkatan Udara Israel (IAF) dengan julukan Heyl Havir telah datang.  

Setelah itu, Israel membeli pesawat Supermarine Spitfires yang juga dari Cekhoslowakia.   Pesawat bekas PD II ini sebelumnya diterbangkan oleh Cekhoslowakia dan Inggris, dan tidak dipakai lagi di Chekoslowakia setelah invasi Soviet ke negara-negara di Eropa Timur.   Setelah datangnya Spitfire kekuatan militer di Timur Tengah menjadi seimbang.   Israel mulai memikirkan suatu kekuatan udara yang mandiri di atas wilayah udaranya.

Perang kemerdekaan Israel berakhir dengan gencatan senjata pada bulan Januari 1949.   Selama awal tahun 1950, pesawat Spitfire dan Mosquito selalu menghiasi wilayah udara Israel.   Lalu datang pesawat P-51 Mustang yang bergabung dengan kedua pesawat tersebut.   Kedua pesawat tersebut didatangkan dari Swedia.  

Era pesawat jet dimulai saat pesawat Gloster Meteor datang dari Inggris pada bulan Juni 1953.   Dua tahun kemudian, pesawat tempur dan bomber milik Perancis datang, yaitu 75 buah pesawat Dassault Ouragan dan 60 buah pesawat Mystere.  

Perang pecah kembali pada bulan Oktober 1956 dengan adanya kampanye gurun Sinai.   Beberapa jam sebelum kampanye Inggris, Perancis, dan Israel dimulai, pesawat P-51 Mustang milik Israel terbang rendah ke gurun Sinai dan memutuskan jaringan telephone Mesir dengan baling-baling pesawat.   Saat perang berkobar, jet tempur Israel menghadapi melawan Mig 15 dan Mig-17 Mesir.   Israel menggunakan pesawat bermesin piston dan jet untuk menembaki jalan dan posisi musuh.   Pesawat Piper menjalankan misi pengintaian dan pesawat transport mendukung pasukan di belakang garis depan.   Pada pertempuran ini, Israel hanya kehilangan 15 pesawat.  

Setelah tahun 1956, banyak pula kejadian penting yang terjadi dalam tubuh IAF.   Pesawat Ouragan bergabung dengan pesawat Dassault Mystere B-2, SNCASO Vautour bomber, dan jet latih Fouga Magister.   Pesawat Magister yang ekornya berbentuk V menjadi pesawat militer pertama yang dibuat di Israel.   Pada bulan April 1962, Israel menerima pesawat tempur Mirage III yang berkecepatan 2 Mach, yang pada pertempuran pertama pada bulan Juli 1966 berhasil menembak jatuh pesawat Mig-21 Syiria di dataran tinggi Golan.   Pada bulan Agustus 1966, sebuah pesawat Mig-21 Irak dipaksa mendarat di Pangkalan udara Israel.  

Perselisihan antara Israel dan negara tetangganya di utara, Syiria terus memanas.   Penerbang dari kedua belah pihak sering berbaku hantam dan melanggar wilayah udara.   Pertempuran udara yang paling terkenal adalah perang enam hari.   Pada suatu pagi tanggal 5 Juni 1967, semua pesawat tempur Israel yang masih bisa dimiliki, terbang rendah sekali melewati Mediterania untuk sebuah serangan kejutan di garis depan pangkalan udara Mesir.  Hanya 12 pesawat Mirage yang ditinggal di home base untuk mempertahankan wilayah udara Israel. Enam jam setelah serangan, Komandan IAF Mordechai Hod mengumumkan bahwa AU Mesir telah dinetralisir.   Lalu Irak, Jordania, Syiria ikut berperang melawan Israel yang mengakibatkan ratusan pesawat Israel hancur, baik yang ada di darat ataupun ditembak di udara.  

Sebagai akibat dari perang enam hari ini, Perancis mengadakan embargo senjata kepada Israel.   Sebagai ganti, Israel melirik Amerika untuk membantu.   Kedekatan Mesir terhadap Soviet telah mendorong Amerika untuk menjual pesawat A-4 Skyhawk dan F-4 Phantom kepada Israel.   Pesawat A-4 datang pada tahun 1967 dan memiliki kemampuan membawa muatan senjata 4 kali lebih besar dari Mirage III.   F-4 Phantom datang menyusul pada tahun 1969.    Belum satu bulan di sana, F-4 telah ditugaskan untuk menyerang pangkalan rudal SA-2 Mesir.   Dan F-4 akhirnya menjadi andalan Israel dalam setiap pertempuran menghadapi Mesir, Jordania, dan Syiria.   

Dan Israel juga berusaha membuat pesawat tempur sendiri.   Sebuah produksi yang diprogramkan adalah Nasher yang merupakan versi dari Mirage V yang mulai bertugas pada tahun 1972.   Lalu Israel membuat Kfir yang mulai bertugas tahun 1975.   Pesawat ini adalah versi Nasher yang disempurnakan dengan peralatan avionik baru dan mesin GE J 79.   Selama pergolakan di Timur Tengah mulai dari tahun 1969 sampai sekarang,  AU Israel menghadapi tekanan yang berat.   Sehingga Israel selalu memordenisasi sistem senjatanya agar mampu mempertahankan wilayah udaranya.

Targetnya Menjadi Yang Terkuat Di Teluk

Sejak terjadi konflik yang berkepanjangan di Teluk, Israel Air Forces (IAF) harus berhadapan dengan sistem senjata yang tangguh.   Pada saat Israel menyerbu Mesir, mereka harus berhadapan rudal dari darat ke udara dan ratusan senjata anti serangan udara.   Pada perang tahun 1969 sampai 1970, Israel kehilangan 28 pesawat.  

Pertempuran pecah kembali pada tanggal 6 Oktober 1973, saat negara Arab melaksanakan serangan besar-besaran pada kedudukan Israel di Sinai dan dataran tinggi Golan.   Pesawat Mirage IIIC, F-4 Phantom, dan A-4 SkyHawk di terbangkan untuk menghadang serangan.   Pesawat TU-16 Mesir menghajar Tel Aviv dengan rudal dari udara ke darat.   Gelombang serangan dari Mig-17, Mig-21, dan Su-7 menghujani semenanjung Sinai dengan bom dan rocket.   Rudal dari darat ke darat juga menghujani pangkalan strategis Israel.  

Pertempuran yang dinamakan perang Yom Kippur ini berlangsung 18 hari.   Israel kehilangan 100 pesawat tempur.   Pertempuran kecil masih sering terjadi, sampai tahun 1974, saat pasukan perdamaian PBB dikirim ke Sinai.   Pertempuran Yom Kippur telah membuat trauma yang dalam bagi bangsa Israel, sehingga mereka benar-benar membangun angkatan udaranya.   Mereka belajar intelejen, komando, dan komunikasi dengan gigih.   Mereka menggunakan segala macam cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan tehnologi terbaik yang bisa digunakan untuk mempertahankan negaranya.  

Israel mendapatkan pesawat F-15 Eagle pada tahun 1976.   Lalu pada tahun 1980 berdatangan armada F-16 Fighting Falcon yang disana dinamakan F-16 Nets.   Pesawat-pesawat inilah yang akhirnya menjadi tulang punggung Angkatan Udara Israel sampai saat ini.   Dengan pesawat-pesawat itu Israel telah menyerang Syiria.   Menghancurkan 30 pangkalan dan memusnahkan lebih dari 100 pesawat.  

Kita melihat peran  menonjol Amerika yang berada di belakang kekuatan Israel.   Pada tahun 1980 saja Amerika menambahkan sebanyak 25 pesawat F-16.   Lalu Israel memesan 25 F-16 Block 30 lagi di akhir tahun itu dan memesan 60 pesawat F-16 Block 40 sebelum tahun 1990.   Amerika mengirim lagi 50 pesawat F-16 Blok 10 pada pertengahan 90-an.  Ini  belum termasuk yang dikirimkan saat perang teluk.   Pesawat F-16  Israel dibagi dalam 4 macam penugasan.  F-16 A dengan mesin Pratt & Whitney F100 digunakan untuk pesawat latih di skadron, namun bisa digunakan untuk attacker.   F-16 B digunakan untuk mendidik penerbang baru.   Pesawat F-16 C yang bermesin Pratt & Whitney F110 digunakan sebagai attacker dan air superiority.    Dan pesawat F-16 D  dengan tipe mesin F110 yang telah dimodifikasi dengan 2 tempat duduk, digunakan sebagai pesawat segala cuaca dan penyerang malam hari.   F-16 C ini biasa disebut dengan Barak yang berarti cahaya.  Sedang pesawat F-16 D disebut dengan Brakeet  si halilintar.  

Perang teluk telah menyisakan rasa frustasi pada para penerbang tempur Israel yang tidak sempat mengudara saat berlusin-lusin rudal Scud Irak menghancurkan wilayah Israel.   Sehingga diperlukan pesawat yang mampu terbang dan bertempur jarak jauh untuk menghancurkan sasaran di wilayah lawan.   Sehingga setelah perang, Israel langsung memesan pesawat F-15 E.   Bahkan pada tahun 1994 Israel langsung memesan pesawat F-15 I yang akan keluar pertama kali pada tahun ini.  

F-15 I  Raam si kilat, digunakan untuk menghadapi segala macam misi dan operasi jarak jauh.   F-15 I adalah variasi dari F-15 E yang dimodifikasi dengan tujuan untuk meningkatkan jarak jangkau dan beberapa sistem yang lain.   Israel juga telah memesan pesawat F-16 Block 60.   Setelah sekian lama bertugas, Israel akan segera menarik pesawat A-4 Skyhawk, McDonnald Douglas F-4 Phantom, dan Phantom 2000 dari penugasan.   Pesawat-pesawat tersebut memang sudah saatnya untuk dipensiunkan.  

Pengadaan pesawat-pesawat canggih seperti F-16 Block 60 dan F-15 I tersebut tidak lepas dari usaha pemerintah Israel untuk menghadapi ancaman di masa mendatang.   Para petinggi di AU Israel menyatakan bahwa kedua jenis pesawat tersebut hanya sebagai pesawat paling canggih saat ini, namun generasi transisi.  Israel masih menunggu pesawat tempur generasi baru, yang sanggup menjawab tantangan abad XXI.     Program yang telah ditetapkan, pesawat F-15 nantinya akan dibantu pesawat F-22 buatan Lockheed Martin dan pesawat F-16 dibantu pesawat Joint Strike Fighter (JSF) yang sedang di rancang oleh Amerika.  

Pesawat F-22 menjanjikan sebuah superioritas Angkatan Udara Israel di Teluk dalam memulai millenium baru ini.   Demikian juga dengan pesawat JSF. Angkatan Udara Amerika akan mendesain versi F-22 pesanan Israel, yang nantinya akan menggantikan tugas-tugas F-15 E.  

Kalau melihat kondisi geografis Israel, mereka benar-benar harus memperkuat pertahanan udaranya.   Israel dikelilingi oleh Mesir, Jordania, Lebanon dan Syiria yang telah menganggap Israel sebagai musuh alami.   Israel telah punya banyak pengalaman pertempuran, sehingga dengan pasti bisa menentukan apa yang diperlukan dalam sistem pertahanan dan keamanan di negaranya.

Tekanan-tekanan yang dialami, telah juga mendorong Israel untuk mengembangkan sistem intelejen, komando dan pengendalian.   Siapa yang tidak mengenal kehebatan agen-agen Mossad yang mampu bergerak ke seluruh dunia.   Bisa dibayangkan berapa anggaran yang dikeluarkan oleh Israel untuk membiayai operasi intelejen yang dilaksanakan oleh Mossad.   Mereka telah memordenisasi sistem latihan agar sesuai dengan kebutuhan operasi.  

Dalam melatih penerbang baru, AU Israel menggunakan pesawat Zukit yang merupakan versi dari pesawat Fouga CM.170 Magister yang sangat disegani kemampuannya.   Pesawat ini akan tetap digunakan sampai tahun 2005, walaupun usianya bisa lebih dari tahun itu.  

Berdasarkan pertimbangan geo strategi, sebenarnya ancaman yang paling menakutkan Israel adalah bagaimana untuk menghadapi Intermediate Range Ballistic Missile (IRBM), rudal jarak sedang dari negara-negara tetangga.  Mereka mungkin masih trauma dihajar rudal-rudal Scud Irak saat perang teluk.   Sehingga Israel merasa perlu untuk menyiapkan rudal penangkis serangan udara yang lebih baik di masa mendatang.   Saat ini, Israel memang mempunyai satelit pengintai Offeq 3, untuk mewaspadai serangan rudal jarak sedang tersebut.   Namun bagaimana Israel bisa tenang dengan menggantungkan sebuah benda yang jauhnya beribu-ribu kilometer, sedangkan ancaman berada di depan mata.   Saat perang Teluk terjadi, untuk menghadapi rudal Scud Irak “AL-Husein”, Israel mengandalkan rudal Raytheon Patriot Surface to Air Missile (SAM).  Namun hasilnya tidak begitu memuaskan karena Patriot hanya mampu menembak rudal Scud yang sudah melayang dan siap menghancurkan Israel.  Sehingga negara-negara sekutu Israel harus membantu memburu peluncur-peluncur scud. 

Pusat industri dirgantara Israel, Israel Aircraft Industri (biasa disebut Chetz) telah bekerja keras dalam program yang dinamakan Anti Tactical balistic Missile System.   Chetz dengan penuh keyakinan menyatakan bahwa sebuah missile yang andal akan segera dimiliki Israel.   Mereka merancang sebuah missile yang mampu dibawa oleh pesawat tanpa awak.   Sehingga, mereka bisa menghancurkan setiap titik sasaran dengan tepat dan menjadikan Israel menjadi negara yang superior.   Negara-negara Arab harus bangkit jika tidak mau ketinggalan.

 


2 Komentar

  1. rischan mengatakan:

    wah keren nich…thx yaw malah bru taw…klo ada waktu mampir yaw.. hehe🙂 rischan.wordpress.com

  2. amar mengatakan:

    wahhhh… nice info,……
    ijin share yach………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: