Beranda » Syair » Seorang Lelaki Yang Mengkhianati Pramugari

Seorang Lelaki Yang Mengkhianati Pramugari

Bulan sabit teronggok, berayun-ayun pada mata lelaki senja remaja.
Butiran tasbeh diam membisu, terkejang-kejang dalam gontai genggaman rapuh.
Langkah yang terseret membuatku hanyut luruh, seandainya lidah mengerang di situ.
Kelopak matanya saja pertanda api kehidupan yang tidak pernah surut sejak itu yang bertahun dulu, saat batang dan pelepah tubuhnya memohon mati yang tak pernah mau.
Ananda, apakah ananda tahu mengapa aku menjadi begini?
Terhenyak ananda menemu tafsirkan matrikulasi racau kata dan mimik mengerikan itu.
Butiran tasbeh tetap diam membisu, lebih terkejang-ngerang dalam genggaman getas.
Kelopak mata saja pertanda obor harapan.
Ananda, apakah ananda paham mengapa aku menjadi begini?
Terjengkang ananda menangkap makna getar saraf tak beraturan, beranak pilu.
Ananda, akulah si pegkhianat bagi perempuan itu.
Obor telah layu dan aku pun berlalu.

Gate B-6 Soekarno-Hatta
Bakda Subuh, Jum’at 19 Juni 2009


1 Komentar

  1. fadillahcinta mengatakan:

    Ananda, “sudahlah, bukankan malam akan tetap datang mesti langit tak merindukannya. Begitupun hujan, ia akan tetap turun meski tak seorangpun menginginkannya. Kita hidup untuk bergulir, percayalah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: