Beranda » Kedirgantaraan » Skadron Tempur, Cermin Air Power Kita

Skadron Tempur, Cermin Air Power Kita

Suatu saat Wilbur dan Orville Wright menoleh ke belakang, rasanya tidak akan terbayangkan jika apa yang telah dibuat dengan akal jeniusnya, akan berubah menjadi senjata paling mematikan.   Tak lebih dari satu dekade pasca keberhasilannya, pesawat terbang telah menemukan tempat pengabdian paling terhormat, yang justru ada di medan pertempuran. Sungguh ironis memang, pada akhirnya kedua orang itu menyaksikan pertumpahan darah oleh barang ciptaannya.   Namun demikian, sisi baik dari penemuan Wright bersaudara,  berkaitan dengan semakin berkembangnya konsep air power.

Pada awal PD I, saat bangsa kita masih hidup di alam kolonialisme, pesawat-pesawat sudah memasuki arena pertempuran, walaupun penggunaannya masih sangat terbatas. Kemampuan dan jarak jangkau pesawat masih sangat rendah.  Dalam setiap perpindahan dari satu pertempuran ke pertempuran lainnya, pesawat harus diangkut dalam gerbong kereta atau truk. Sehingga kadang-kadang hal ini dianggap sebagai beban bagi pasukan darat.  Apalagi pada saat akan melakukan penerbangan, suara pesawat yang keras sering mengganggu kuda-kuda pasukan kavaleri.  Sehingga, pesawat masih belum sepenuhnya diterima oleh para prajurit di garis depan.   

Pada kelanjutannya, pesawat terbang bisa menggantikan tugas-tugas pasukan pengintai. Sebelumnya, pasukan pengintai harus mengendap ke atas puncak gunung, melewati rimba raya, untuk mengintai posisi lawan.  Dengan pesawat, tugas sulit tersebut bisa menjadi sangat mudah.  Berdasarkan tugas pokok penerbang sebagai pengintai, maka pesawat yang memiliki kecepatan tinggi dan kemampuan tempur yang baik belum terpikirkan saat itu.  Setiap pesawat hanya didesain membawa 2 orang, yaitu penerbang dan observer.  Para penerbang hanya seorang bintara, justru observer yang tugasnya hanya mengintai adalah perwira.  Penerbang pun masih suka dengan pesawat yang mempunyai kecepatan yang rendah, karena dia akan dengan leluasa bisa melihat ke permukaan.   Pesawat juga cukup terbang pada ketinggian 1000 meter di atas permukaan tanah.  Selain lebih jelas melihat ke bawah, senjata di darat sudah tidak mampu menjangkau posisi pesawat dengan ketinggian tersebut.

Mungkin akan terasa sangat lucu bagi kita yang hidup di era modern seperti sekarang bila tahu bahwa pesawat dari pihak yang bermusuhan hanya akan saling menghindar bila saling bertemu.  Namun itulah aturan tak tertulis bagi setiap pesawat pengintai pada saat itu.  Pesawat pun belum bisa membawa beban yang terlalu berat, hingga hanya dilengkapi dengan pistol, dan bila masih memungkinkan ditambah dengan senapan riffle. Senjata inipun tidak pernah digunakan di udara, kecuali pesawat mengalami kerusakan dan penerbang terjebak atau mendarat di wilayah musuh.

Sampai saat ini, air power belum unjuk gigi di medan pertempuran.   Ia hanyalah icon yang kebetulan dilibatkan dalam salah satu misi kecil dalam pertempuran besar.   Belum ada skadron pesawat tempur, apalagi organisasi Angkatan Udara.

Ihwal Skadron Tempur

Sebagai pesawat pengintai, penerbang belum mengenal tugas-tugas penembakan atau pengeboman.  belum juga tejadi adanya pertempuran udara sampai pertengahan tahun 1914.  Sebuah momen paling bersejarah dari perjalanan panjang air power adalah pada tanggal 5 Oktober 1914. Pada hari itulah pertempuran udara untuk pertama kali terjadi, dan istilah pesawat pengintai berubah menjadi pesawat tempur.

Pada hari itu, sebuah pesawat Voisin tipe 3 milik French Air Service, sedang melaksanakan patroli di garis pertempuran.  Penerbangnya Sersan Joseph Frantz dan Sersan Louis Quenault sebagai juru tembak. Saat melihat sebuah pesawat Jerman di wilayah tersebut, mereka mendekat untuk mengambil jarak tembak yang baik.  Pesawat Jerman, antara tidak tahu kehadiran pesawat Perancis tersebut atau mengabaikannya, tak memberikan reaksi apa-apa.  Pesawat yang bermusuhan memang sering mengabaikan pertemuan antar pesawat, karena sudah menjadi hal yang biasa sebelumnya.  Antar pesawat juga tidak saling menembak/mengancam bila saling bertemu.   Namun, itu sebelumnya khan  ?  Karena pada saat itu, senapan mesin Quenault sudah diarahkan pada pesawat Jerman yang benar-benar lengah terhadap bahaya yang sedang mengancam keselamatan jiwa mereka. “Tret..tret..tret..tret” peluru pun berhamburan dari pesawat Voisin, dan menerjang badan pesawat Jerman.  Beberapa detik kemudian, pesawat Jerman sudah melayang, jatuh, dan hancur.  Pesawat dan penerbang Jerman ini menjadi korban pertama dalam pertempuran udara.    

Sejak saat itu, semua pesawat-pesawat mulai dipersenjatai.  Semua negara yang terlibat perang menyadari bahwa penerbang tidak mungkin mengharapkan bahwa dalam setiap misi yang dijalankan mereka terbebas dari setiap rintangan.  Untuk mengatasi segala permasalahan yang dijumpai di udara, mereka harus mempunyai senjata yang memadai untuk mempertahankan diri.  Para penerbang mulai memikirkan metoda yang baik untuk menyergap pesawat musuh.  Mereka dilengkapi dengan pistol, riffle, bom kecil, selain senapan mesin. 

Dengan semakin banyaknya penempatan pesawat terbang dalam setiap posisi di garis depan, maka negara-negara yang terlibat dalam PD I (Inggris, Perancis, Jerman), banyak membentuk satuan-satuan udara untuk mengelola pesawat-pesawat tersebut.  Perancis membentuk satuan-satuan udara yang masing-masing terdiri dari 4 pesawat.  Satuan udara ini dinamakan dengan escadrille.  Sedangkan Inggris membentuk satuan udara yang terdiri dari 3 flight.  Setiap flight terdiri dari 4 pesawat.  Setiap satuan udara sudah dilengkapi dengan personel penerbang, staf, tehnisi, dan personel pembantu lainnya.  Inggris menyebut satuan udaranya dengan nama squadron.  Satuan udara Inggris, squadron, menjadi dasar bagi pembentukan seluruh satuan udara di dunia.

Setelah skadron-skadron tempur bermunculan, industri kedirgantaraan khususnya industri pesawat tempur tumbuh subur.   Mulai tahun 1915, Inggris mulai mengembangkan pesawat tempur single seat.  Sebelumnya, penerbang selalu terbang berdua, ditemani oleh juru tembak. Untuk pola yang baru, penerbang harus terbang sendiri, dengan satu tangan.  Metoda ini sebenarnya meniru apa yang dilakukan oleh pasukan kavaleri saat menunggang kuda.  Sementara satu tangan memegang tali, tangan yang lain digunakan untuk membidik dan menembak lawan.  Memang pada awalnya sangat sulit untuk dilakukan,  namun menimbang keuntungan dan kerugian yang didapat, pola ini nantinya semakin berkembang dan menjadi dasar bagi sistem hands on throttle and stick (hotas), seperti yang dipakai pada pesawat tempur modern.

Salah satu masalah yang dihadapi dalam pemasangan senapan mesin pesawat pada masa pra PD I adalah baling-baling di hidung pesawat yang menghalangi lintasan tembakan.  Salah satu penerbang yang berhasil melaksanakan percobaan senapan mesin adalah Rolland Garros, seorang penerbang Perancis.  Nama penerbang ini paling bersinar pada masa awal PD I.  Pada percobaan yang dilakukan, senapan mesin dipasang sebuah interupter gear, yang bisa mencegah benturan tembakan dengan baling-baling, karena senapan akan tidak aktif pada saat garis tembakan sejajar dengan permukaan baling-baling.  Namun demikian, percobaan ini berakhir dengan kegagalan.  Karena sering kali peluru masih sering nyasar dan menghantam putaran baling-baling.  Hal ini sangat berbahaya, karena baling-baling bisa patah.  Jerman pun yang saat itu mengadakan eksperimen yang sama, mengalami kegagalan karena masalah yang sama. 

 Masalah bisa teratasi saat Rolland Garros bergabung dengan Raymond Saulnier, seorang ahli yang sanggup menjawab semua masalah kegagalan interupter gear.  Dibelakang setiap baling-baling dilapisi besi deflector, sehingga bila ada peluru yang nyasar dan menghantam baling-baling, peluru akan dibelokkan, dan masih mengarah ke pesawat yang dibidik oleh penerbang. Metode ini cukup sukses dalam beberapa percobaan, sehingga mulai digunakan pesawat-pesawat Perancis di medan pertempuran.

Pada tanggal 1 April 1915, Garros dengan senapan Morane-Saulnier tipe L bisa menembak dan menjatuhkan pesawat Albatross Jerman. Setelah itu nama Rolland Garros berkibar dalam kancah pertempuran udara.  Dalam waktu setengah bulan, dia berhasil menembak 5 pesawat Jerman.  Pertempuran udara besar, dog fight,  terjadi di mana-mana, yang menuntut tiap-tiap skadron-skadron tempur untuk berbenah diri. Sayangnya, pada tanggal 18 April 1915, pesawatnya berhasil ditembak pesawat Jerman dan melaksanakan pendaratan darurat di wilayah Jerman.  Garros dan pesawatnya menjadi tawanan perang.  Peristiwa ini menjadi bumerang bagi Perancis.  Bila Perancis merasa sangat pilu atas tertangkapnya Garros, maka Jerman sebaliknya.  Tertangkapnya Garros membawa berkah besar bagi mereka.  Senapan mesin rancangan Garros-Saulnier ternyata telah lama menjadi misteri bagi Jerman.  Dengan tertangkapnya Garros dan pesawatnya, Jerman bisa mengadakan penelitian terhadap sistem senjata Perancis tersebut.  Dan sebuah keberuntungan lagi bagi Jerman, si anak ajaib telah datang, yaitu Anthony Fokker. 

Fokker, oleh Jerman diberi tugas untuk menganalisa pesawat dan senapan mesin Garros.  Fokker melepas senapan dan melihat bahwa deflector yang melindungi baling-baling dari lintasan peluru ternyata bisa lepas saat terkena tembakan nyasar.  Fokker langsung mengambil kesimpulan bahwa yang terpenting dalam sistem senapan mesin adalah meyakinkan bahwa peluru-peluru tidak akan mengenai baling-baling pada saat lintasan mereka bertemu. Fokker mengembangkan sistem senapan mesin dengan semburan pendek.  Peluru hanya akan keluar dari laras bila lintasan peluru dan baling-baling tidak bertemu.  Fokker hanya memerlukan waktu 3 hari untuk membuat kesimpulan ini. Pesawat-pesawat Jerman kemudian dimodernisasi sistem senjatanya. Dan setelah itu mereka banyak memborong korban pesawat-pesawat Perancis dan Inggris.  Senapan mesin jenis baru ini dipasang pada pesawat monoplane Fokker IV.  Dengan pesawat ini, banyak penerbang Jerman melambungkan ketenarannya.  Letnan Oswald Boelcke, salah satu ace (jago tembak) Jerman pertama, berhasil mencoba senapan ini untuk menjatuhkan korban ke-3 sampai 37 korban selanjutnya. Perancis dan Inggris juga tidak mau kalah dalam pengembangan pesawat-pesawatnya, dan terus saling berlomba. 

Dari uraian di atas, terlihat jelas sinergi antara mereka yang ada di medan operasi dan para ilmuwan yang bekerja di belakang meja.   Para penerbang tempur tak akan sukses tanpa ada tehnologi yang dirisetkan oleh orang-orang laboratorium.   Tehnologi tidak bisa begitu saja lahir tanpa adanya usaha, dana, dan perhatian dari pemerintah.   Angkatan Udara hanyalah sebuah icon.  

Satuan-satuan udara Inggris adalah contoh jelas sebuah kekuatan yang lahir dari nol.  Awalnya bernama Air Batalyon yang mengelola squadron, di bawah komando War Office.  Lalu sejalan dengan perkembangan kekuatan udara, Air Batalyon diubah menjadi Royal Flying Corps (RFC).  Dengan semakin banyaknya squadron yang dimiliki oleh Inggris, maka mulai terbentuklah wing, sebagai satuan yang mengendalikan beberapa kelompok squadron.  Namun sayangnya, semua organisasi tersebut masih mengabdi kepada Angkatan Darat. Sehingga Inggris memulai sebuah usaha untuk memisahkan  RFC dari Royal Army Forces.   Berkat usaha kerasnya, Angkatan Udara Inggris nantinya berdiri pada tanggal 1 April 1918, sebagai Angkatan Udara pertama di dunia. 

Lahirnya Skadron Tempur  Kita

Berbeda dengan sejarah terbentuknya squadron, maka sejarah skadron tempur kita adalah sebuah keunikan sebagai elemen kekuatan peninggalan kolonialisme. Di negara pioner Angkatan Udara, yang lahir pertama adalah pesawat, lalu membentuk squadron-squadron, dan meningkat pada tingkatan yang lebih luas.    Sebelum AURI memiliki skadron-skadron yang mumpuni dan belum satupun penerbang tempur kita mampu mengangkasa, pangkalan-pangkalan sudah berserakan dimana-mana dan menanggung beban perawatan ribuan personel.    Pertumbuhan Angkatan Udara kita bersifat top down, bukan bottom up seperti Inggris, AS atau Jerman.   Hal yang nantinya menyulitkan,  menggelembungnya kekuatan yang dimiliki tidak diimbangi fundamen industri kedirgantaraan yang baik.

Skadron tempur kita lahir pertama kali menyusul ditandatanganinya hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) tanggal 23 Agustus 1949.  Salah satu isi kesepakatan ini, Militeire Luchtvaart (ML) harus menyerahkan seluruh kekuatannya di Indonesia kepada AURI.   Sehingga MB AURI pun mewarisi pesawat-pesawat bekas ML.   Awalnya pola pembentukan skadron hanya didasarkan pada letak pesawat.   Sehingga AURI hanya membentuk dua skadron, yaitu Skadron 1 dan Skadron 2.    Skadron Udara 1 membawahi pesawat-pesawat yang berada di Lanud Tjililitan (sekarang Halim PK) dan Skadron 2 membawahi pesawat-pesawat di Lanud Andir (sekarang Husein S.).

Sejak tanggal 21 Maret 1951, pembentukan skadron sesuai standar pertempuran dilaksanakan, dimana pesawat dikelompokkan sesuai dengan jenis dan fungsinya masing-masing.   Salah satu skadron yang terbentuk adalah Skadron 3 Pemburu P-51 Mustang.   Sebagai skadron tempur (pemburu), skadron ini adalah embrio skadron-skadron tempur kita yang lain. Dalam kondisi bangsa seperti saat itu, rasanya sudah sangat hebat bila para penerbang telah ikut dalam berbagai macam operasi. Apalagi dengan keberhasilan Ignatius Dewanto menembak pesawat Allan Pope semasa pemberontakan PRRI.  Riset kedirgantaraan pun sebenarnya sudah dirintis oleh Nurtanio dan kawan-kawan.

Pada akhir 1955 beberapa personil AURI dikirimkan ke Inggris untuk belajar dan mengambil pesawat pemburu baru yang bernama DH-115 Vampire.  Ini adalah awal perkenalan penerbang tempur kita dengan pesawat jet.  AURI mulai mebentuk skadron tempur jet.  Vampire yang didatangkan dari Inggris ditempatkan di Pangkalan Udara Andir, Bandung, dan dimasukkan dalam wadah khusus bernama Kesatuan Pancar Gas (KPG).  KPG diresmikan berdirinya oleh KSAU pada tanggal 20 Pebruari 1956.  KPG ini merupakan embrio skadron tempur jet kita, dengan kekuatan 16 pesawat.   Jumlah yang sudah memenuhi standar baku sebuah squadron.  KPG diubah menjadi Skadron 11 berdasarkan Surat Keputusan KSAU Nomor 56 tanggal 20 Maret 1957, dan mulai beroperasi sejak tanggal 1 Juni 1957 di Pangkalan Udara Husein Sastranegara.  Pesawat Vampire secara resmi menjadi pesawat pertama yang digunakan oleh Skadron 11.    

Saat konfrontasi dengan Belanda di Irian Barat mulai memuncak pada akhir dekade 50-an, pemerintah masih merasa perlu untuk menambah kekuatan udara kita.   Maka datanglah armada 30 buah MiG-15,  65 buah MiG-17,  10 buah MiG-19 dan 24 buah MiG-21F.  Pesawat MiG-19 sebenarnya punya kualitas yang kurang bagus. Namun karena pemerintah Uni Soviet hanya mau memberikan MiG-21F bila pembelian dilakukan satu paket dengan pesawat MiG-19, maka kita dengan terpaksa membawanya serta ke Indonesia.

Untuk menyambut kedatangan pesawat-pesawat baru pada tahun 1962, maka berdasarkan Surat Keputusan Menteri/Kepala Staf Angkatan Udara    Nomor  :  135 tanggal 7 Agustus 1962, yang berisi tentang pembentukan Skadron 12 sebagai home base pesawat MiG-19 di Pangkalan Udara Kemayoran, Skadron 14 sebagai home base pesawat MiG-21F, dan Skadron 41/42 dengan pesawat Tu-16 B/KS di Pangkalan Udara Iswahjudi. Indonesia menjadi negara pertama di luar Pakta Warsawa yang menggunakan pesawat MiG-21F dan Tu-16 B/KS.  Sayangnya semua kekuatan ini harus gugur muda hanya dengan satu kata, embargo !

Besarnya kekuatan yang dimiliki AURI di dekade 60-an, diakui lebih cenderung bersifat crash program, untuk mengusir Belanda dari Irian Barat. Tuntutan akan keberhasilan Operasi Trikora adalah faktor pendorong utama terbentuknya skadron-skadron baru tersebut, termasuk Skadron 11, 12 dan 14 yang mulai 11 September 1962 berada dibawah Wing 300, Komando Pertahanan Udara (Kohanud).  Skadron-skadron tempur kita memang mendapatkan perhatian yang lebih, dengan kekuatan pesawat-pesawat baru juga ditunjang kesiapan operasional pesawat yang begitu baik.   Dalam bidang pelatihan penerbang dan pemeliharaan, instruktur dari Rusia masih mendampingi di skadron.   Terlepas peran dari peran Rusia sebagai pemasok pesawat-pesawat tempur kita, minimnya tehnologi pemeliharaan, dan lemahnya fundamen industri kedirgantaraan dalam negeri, skadron-skadron tempur kita  memiliki kualitas yang baik sekali saat itu. 

Perkembangan Taktik Pertempuran Udara

Apakah taktik pertempuran itu ?  Taktik pertempuran pada umumnya didefinisikan sebagai seni atau ilmu dari kekuatan yang sedang bermanuver dalam pertempuran dengan berdasar prisip-prinsip yang telah digariskan.  Dalam arti yang lain, taktik adalah sebuah cara untuk mendapatkan hasil yang maksimum dengan usaha dan resiko minimum. 

Kalau melihat taktik pertempuran udara di awal PD I, kita akan melihat sebuah pola tradisional dari perkembangan pertempuran udara.  Bila pesawat saling bertemu dan bertempur, mereka hanya saling berputar, menembak, dan melempar bahan peledak.  Bila pertempuran di atas belum cukup sampai bahan bakar habis, mereka mengadakan pendaratan darurat, dan berduel kembali di bawah seperti cowboy.  Ditembak mati atau menjadi tawanan akan mengakhiri pertarungan tersebut.  Hal ini mungkin terasa lucu bagi para penerbang fighter modern, namun begitulah nenek moyang para penerbang fighter  berjuang demi bangsanya masing-masing. 

Sejalan dengan perkembangan tehnologi dan pengalaman dari para penerbang, mereka kemudian mengembangkan taktik-taktik pertempuran yang digunakan.  Dalam beberapa literatur menyatakan bahwa taktik yang digunakan pertama kali untuk pertempuran udara adalah dengan memanfaatkan ketinggian.  He who has height, controls the battles.  Dengan memiliki ketinggian lebih dari pesawat musuh, maka kecepatan akan semakin bertambah saat menyergap musuh di bawah, memiliki daya kejut yang lebih baik, dan dengan kecepatan yang masih tinggi akan memudahkan pesawat untuk naik lagi/melarikan diri.

Taktik pertempuran tergantung banyak dengan perkembangan tehnologi.  Awalnya pesawat tidak mampu melakukan manuver vertikal.  Saat Fokker berhasil menciptakan pesawat yang berkecepatan lebih tinggi di PD I, taktikpun berkembang.  Dengan memanfaatkan ketinggian, maka penerbang Jerman, Max Immelman, terinspirasi untuk menciptakan sebuah taktik kemudian disebut dengan Immelman turn.  Dari posisi yang lebih tinggi, pesawat diarahkan ke pesawat lawan.  Pada saat membidik target, kecepatan pesawat bertambah.  Sehingga setelah penembakan selesai, pesawat yang masih berkecepatan tinggi, bisa dibawa naik lagi dengan cepat sampai mendekati stall, wing over, dan menyerang lagi.  Di Inggris, Albert Ball mengembangkan taktik penyerangan yang sama, yaitu mengambil start dari ketinggian dan bersembunyi dibelakang pesawat musuh, pada saat jarak sudah didapatkan maka dia langsung menghunjam dan tersemburlah peluru dari senapan mesin Ball.  Hanya saja, Ball belum memanfaatkan vertikal manuver sepenuhnya. 

Pertempuran udara memerlukan perencanaan yang matang seperti pertempuran di darat.  Awalnya memang berlangsung begitu sembarangan.  Namun Oswald Boelcke mampu menggambarkan  beberapa taktik pertempuran lalu menganalisanya di bawah. Mulai saat ini ada istilah prebrief dan debrief dalam terbang.   Sejak tahun 1916, Boelcke juga memulai mengajarkan formasi taktik pertempuran.  Boelcke yang kemudian dikenal sebagai tokoh terbesar yang meletakkan dasar-dasar pertempuran udara, menggariskan beberapa rumusan pokok tentang taktik pertempuran udara.   Namun demikian apa yang telah digariskan oleh Boelcke masihlah sangat terbatas.

Kelemahan mendasar dari formasi pesawat tempur pada PD I adalah ketiadaan sarana komunikasi.  Sehingga koordinasi pertempuran tidak bisa terlaksana dengan baik.  Pada masa itu, instruksi diberikan leader dengan tanda-tanda tertentu yang mudah dimengerti oleh wing man.  Kode-kode tersebut diberikan dalam bentuk gerakan tangan, cahaya berwarna-warni, dan gerakan pesawat.  Gerakan tangan paling jarang digunakan karena banyak menimbulkan kesalahan.  Namun yang paling sering digunakan adalah dengan gerakan pesawat.  Pertempuran udara yang melibatkan jumlah pesawat yang besar mulai sering terjadi pada tahun 1917.   Radio komunikasi belum juga digunakan, sehingga Boelcke pun gugur karena minimnya koordinasi dengan para wing man-nya.

Saat Perang Sipil di Spanyol tahun 1936, taktik pertempuran bertambah baik.  Radio komunikasi sudah ditemukan, daya mesin pesawat bertambah besar, dan kemampuan senjata bertambah baik.   Skadron tempur mulai memberlakukan taktik formasi tempur dengan sangat baik untuk patroli.  Saat PD II dimulai pada tahun 1939, skadron-skadron tempur telah berhasil meletakkan taktik-taktik pertempuran yang sampai saat menjadi taktik dasar dari pertempuran udara.

Lalu bagaimana dengan skadron-skadron tempur kita  ?   Tentunya tidak jauh berbeda dengan apa yang telah dikembangkan di negara barat.   Karena kita memang banyak mengadopsi dari taktik-taktik yang telah mereka gunakan.   Sehingga sampai sekarangpun kita selalu mengikuti perkembangan taktik pertempuran modern.   Namun demikian, taktik pertempuran memiliki kekhasan dibanding taktik pertempuran darat ataupun di laut.   Ketergantungan para penerbang terhadap kemampuan dan sistem pesawat begitu besar, sehingga sangat mustahil bagi para penerbang/operator pertempuran udara untuk mampu mengembangkan taktik dengan kondisi dan jumlah pesawat yang berbeda.

Untuk mampu melaksanakan taktik pertempuran 4 lawan 4 pesawat misalnya, tentunya skadron harus mampu menyediakan 8 pesawat dalam satu waktu.   Bila kesiapan pesawat tidak bisa dipenuhi, mustahil latihan bisa dilaksanakan dan penerbang bisa profesional dalam pertempuran udara besar.   Demikian juga dengan sarana dan prasarana lainnya seperti radar, rudal, dan lainnya.  Di banyak negara-negara berkembang termasuk  Indonesia, skadron tempur sering terganggu oleh masalah kurang lancarnya dukungan logistik, kondisi pesawat yang semakin tua, dukungan kesejahteraan yang pas-pasan, yang ujungnya kembali pada minimnya anggaran.  Sejak era pesawat MiG, para penerbang kita sudah mengenal taktik pertempuran modern.   Para penerbang pun bisa dengan cepat menguasai segala macam taktik-taktik sulit tersebut.   Namun dengan kondisi kekuatan skadron yang up and down masih belum mampu memberikan jaminan menaiknya siklus air power kita. Kita sering tidak mampu berbuat apa-apa dengan adanya embargo dan kita pernah kehilangan ratusan pesawat tempur karenanya.  

Pertempuran Jarak Dekat Telah Tergusur Rudal Baru

Kualitas persenjataan juga sudah semakin berkembang dan modern.   Dan lagi-lagi, harganya pun bertambah mahal.   Untuk rudal dari udara ke udara atau rudal dari udara ke darat telah berkembang dengan berbagai macam kelebihannya.   Tentunya ini harus menjadi bahan pemikiran kita.  Dalam era seperti sekarang, pertempuran udara jarak  dekat seperti pada era PD I dan PD II juga sudah jarang terjadi.   Dengan perkembangan sistem radar dan rudal, pertempuran dilaksanakan dalam Beyond Visual Range (BVR), dimana penerbang dari pihak yang bermusuhan bahkan tidak saling melihat.  Rudal jarak dekat dengan sistem infra red seeker dengan jarak tembak efektif 2 mil dan harus dilepaskan dari belakang pesawat lawan (seperti milik F-5 kita) memang sempat merajai di perang Korea dan sesudahnya.  Namun rudal jenis ini sudah mulai ditinggalkan oleh sebagian negara pengguna.  Untuk negara maju sendiri sudah bertumpu pada rudal dengan jangkauan yang lebih jauh dan mampu dilepaskan dari  jarak jauh dan berbagai macam sudut serangan.

Sebagian besar kemenangan yang didapatkan dalam perang udara dalam 4 dekade terakhir telah melibatkan pertempuran jarak dekat antar pesawat tempur yang menggunakan rudal AIM-9 Amerika,   Atoll Rusia,  Shafrir Israel, dan rudal jarak dekat lainnya.   Rudal jarak sedang dan senapan mesin telah mulai menggantikan peran rudal-rudal jarak pendek tersebut sejak dimulainya perang Vietnam.   Sejalan dengan kemajuan tehnologi, faktor politik, dan usaha keunggulan dalam perang, sebagian besar kemenangan yang didapatkan dalam perang teluk dan konflik Kosovo, telah menggunakan rudal jarak sedang.  

Sejak perang teluk 1990-1991, 60% (24 kemenangan) dari kemenangan armada pesawat NATO terhadap Irak didapatkan dengan rudal udara ke udara jarak sedang generasi ketiga dengan sistem radar homing, AIM-7 Sparrow.    Banyak dari rudal tersebut diluncurkan dari jarak yang cukup jauh.   Pesawat Irak lainnya jatuh dengan rudal jarak pendek AIM-9 Sidewinder (12 kemenangan),   senapan mesin (2 kemenangan), 1 pesawat rusak dengan bom 907 kg dan 2 pesawat lagi jatuh pada saat bermanuver.   F-16 dan Hawk 100 kita menggunakan AIM-9 P-4 Sidewinder.

Pada saat ini, USAF telah mulai menggusur rudal lamanya dengan AIM-120 AMRAAM.    Rudal jarak sedang generasi keempat seperti AIM-120 Amerika, R-27 dan R-77 Rusia, dan MICA Perancis dapat diaktifkan pada pertempuran jarak dekat yang seharusnya menggunakan rudal jarak dekat seperti ASRAAM dan AIM-9.   Rudal jarak sedang seperti AIM-120 Amerika dan R-77 juga telah ditingkatkan kemampuannya, sehingga mampu menembak sasaran jarak jauh yang seharusnya menggunakan rudal jarak jauh AIM-54 Phoenix.   Rudal-rudal tersebut adalah jenis rudal jarak sedang yang bisa diluncurkan dari jarak jauh tanpa melihat target dengan mata telanjang, cukup dengan visualisasi pada layar radar.    R-27 adalah rudal radar homing semi aktif yang mempunyai kemampuan hampir sama dengan AIM-7 Sparrow model terbaru.   R-27 juga dibuat dalam jenis infra red missile.   Rudal R-27 bisa dipasang pada pesawat Mig-29 and Su-27.   Sedangkan versi R-27RE memiliki motor rocket lebih besar sehingga kecepatan dan jarak jangkau yang dimiliki menjadi lebih tinggi dibandingkan AIM-7 Sparrow milik NATO.  

Rudal R-77 adalah rudal Rusia yang memiliki sistem dengan kemampuan “fire and forget” setara dengan AIM-120 A/B.  Namun jarak jangkau dan kecepatannya lebih tinggi dibandingkan rudal Amerika tersebut.   Sehingga Amerika berusaha dengan keras untuk meningkatkan kemampuan rudal-rudal jenis AIM-120 untuk mengimbangi musuhnya.  

Rudal udara ke udara milik Perancis, MICA, memiliki jarak jangkau lebih pendek dibanding AIM-120 dan R-27/77, yaitu 30 mil.   Rudal ini mempunyai versi radar aktif ataupun infra red.   Rudal ini dipasang pada pesawat Mirage 2000-5, rencananya akan dipasang untuk pesawat Rafale.  

Amerika, Eropa, dan Rusia sebagai negara desainer senjata paling ampuh, pada saat ini sedang berlomba untuk mengembangkan rudal dengan kemampuan terbaik untuk jenis medium range, yang rencananya akan digunakan untuk abad ke-21.   Rusia sudah menyiapkan beberapa jenis desain rudal seperti Zvezhda Kh-37 dan Novator Ks-172, yang memiliki kecepatan tinggi, jarak jangkau 62 mil, dan sistem penjejak radar homing.  Para petinggi departemen hankam Inggris pun telah memesan sebuah rudal baru jenis Beyond Visual Range Air To Air Missile (BVRAAM), yang akan dipasang pada Eurofighter dengan jarak jangkau lebih besar dan memiliki ketahanan manuver untuk membuat “no escape zone” bagi pesawat musuh yang memiliki manuver tangguh.   Perlombaan yang tak akan pernah usai.  Sampai saat ini, skadron kita yang paling modern, hanya dilengkapi rudal-rudal jarak dekat.  Ini tentunya juga beban berat bagi kita untuk bersaing negara-negara lainnya.

Mencari Konsep Kemandirian

Saat ini  kita telah memiliki skadron-skadron tempur dengan kekuatan pesawat canggih.   Namun bukan berarti daya tangkal air power kita di bidang hankam menjadi lebih baik dari masa sebelumnya.   Kita bisa saja semakin jauh tertinggal dengan pembanding negara-negara tetangga kita yang semakin matang membangun fundamen kekuatannya.   Dari tahun ke tahun kita masih menggunakan istilah “sekedar tranfer tehnologi” saat mencukupi skadron-skadron tempur kita dengan pesawat baru.    Ini tidak bisa kita hindari, dengan daya beli pemerintah yang hanya mampu membelikan pesawat-pesawat pengganti dalam setiap dekade.  Pesawat memang mengalami regenerasi, namun jumlahnya bisa jadi bertambah susut.

Dengan pola pengembangan taktik pertempuran udara yang banyak tergantung dari kualitas dan kuantitas pesawat, rasanya apa yang dilakukan oleh para penerbang tempur kita di masa 60-an sampai sekarang mengalami stagnasi bila kuantitas dan kualitas pesawat dan sistem senjata Angkatan Udara tidak mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah.   Untuk menyelenggarakan latihan tempur udara besar, skadron-skadron akan begitu kesulitan untuk menyediakan jumlah pesawat yang memadai.   Dengan kekuatan 12 –16 pesawat, awalnya skadron memang cukup mampu berlatih secara profesional.   Namun setelah satu dekade, kesiapan skadron biasanya akan menurun menjadi setengah bahkan seperempat dari pesawat yang ada di skadron.  

Demikian juga dengan dukungan logistik.    Bila menyimak trend yang ada, maka dalam satu dekade setelah kontrak pembelian pesawat, dukungan logistik untuk sebuah skadron tempur berjalan lancar.   Setelah itu, tumpukan masalah akan menghimpit kehidupan skadron.    Pintarnya negara barat, mereka menguras kocek Angkatan Udara dari anggaran pemeliharaan pesawat.   Setiap tahunnya,  skadron-skadron tempur menyedot  dana besar untuk merawat pesawat-pesawatnya.  Skadron harus membeli suku cadang,  buku-buku pemeliharaan, disamping berbagai macam aturan tak tertulis lain yang mengikat.  Dengan fundamen industri kedirgantaraan yang lemah, tak ada cara lain lagi untuk mendapatkan dan merawat suku cadang pesawat-pesawat tempur kita, yaitu dengan pergi ke luar negeri dan mengimpor.

Wilayah negara kita melebihi luasnya Eropa.   Beban lain bagi skadron-skadron tempur yang hanya sedikit jumlahnya tersebut, adalah banyaknya misi operasi.  Skadron tempur yang memiliki kekuatan pesawat terbatas harus dibebani berbagai macam operasi yang menyita waktu.   Sehingga skadron harus bergeser ke daerah lain dari waktu ke waktu untuk mendekati touble spot.  Sehingga ada istilah skadron move.  Mau tidak mau, kehadiran skadron tempur memang diperlukan sebagai salah satu daya tangkal sistem hankam kita.   Namun dengan kondisi sampai saat ini, pergerakan kekuatan skadron ke daerah operasi membawa dampak yang mengganggu skadron.   Para penerbang yunior harus menunda program latihan, atau bahkan berhenti berlatih karena ketiadaan pesawat.   Ini terjadi karena jumlah pesawat tempur yang masih aktif sangat terbatas.

Keberadaan skadron tempur juga sudah sekian tahun seakan dikesampingkan.  Ini terjadi karena, gangguan hankam kita dalam 40 tahun terakhir justru tidak pernah melibatkan peran pesawat-pesawat tempur kita dalam peran besar.   Pemberontakan, kerusuhan massa, pertentangan antar etnis, rasanya kurang begitu menarik untuk pelibatan pesawat semacam F-16 atau Hawk 109/209.   Justru yang paling banyak dirasakan perannya adalah pesawat-pesawat angkut.   Nah, ini harus dipikirkan oleh Angkatan Udara.   Masihkah kita mencari pesawat-pesawat tempur berkecepatan supersonik, bertehnologi tinggi namun justru sering menyulitkan kita dalam perawatan dan penggunaannya kurang optimum  ?   Rasanya untuk skadron-skadron tempur, kita akan lebih baik memperbanyak diri dengan pesawat-pesawat Counter Insurgency ( Coin ), pesawat tempur ringan namun dilengkapi sistem senjata yang baik, yang bisa diajak kompromi dengan operasi tempur darat.   Perang dengan negara lain untuk saat ini dan dimasa datang sudah pasti menjadi semacam kemustahilan bagi bangsa-bangsa berbasis ekonomi lemah seperti kita.   Sehingga kekuatan skadron tempur sementara harus dikonsentrasikan untuk membantu menanggulangi ancaman hankam dari dalam negeri.   Ancaman sudah pasti datang setiap waktu, dan Angkatan Udara-lah yang harus menyesuaikan diri, juga mencari bentuk dan kekuatan apa yang harus dimiliki agar tidak selalu ketinggalan peran.

Skadron tempur kita pada saat ini memang tidak bisa menghindar dari sindroma ketergantungan, yang ujungnya adalah embargo.   Tidak bisa tidak, untuk membentuk skadron tempur yang  mampu bersaing dengan ancaman wilayah sekitar, Angkatan Udara harus memiliki pesawat-pesawat tempur yang hanya bisa diperoleh dengan impor.   Untuk membuat sendiri, rasanya tidak mungkin dan tidak begitu menguntungkan untuk negara sedang berkembang seperti kita.   Sehingga dari tahun ke tahun kita memperkuat diri dengan persenjataan hasil impor yang serba instan tanpa ada tranfer tehnologi yang baik.   Setelah itu habis manis sepah dibuang. Tidak bisa tidak,  bahwa fundamen industri kedirgantaraan kita yang lemah memang harus kita perbaiki. Berbicara masalah sumber daya manusia, yaitu kualitas penerbang tempur, rasanya tidak ada yang sulit bagi mereka untuk mengawaki pesawat tempur secanggih apapun.   Namun justru kemandirian air power yang masih di angan-angan itulah masalah besar yang harus terpecahkan.  

Menurut Alan Stephens, dalam mengembangkan Angkatan Udara, ada dua jenis pola pengembangan yang harus kita perhatikan, yaitu threat-specific planning dan threat ambigious planning.   Keduanya mendasarkan pengembangannya berdasarkan pengenalan yang amat baik pada  pola ancaman.   Pola threat-specific planning  seperti yang digunakan oleh Israeli Air Force (IAF), menggariskan rencananya berdasarkan pada spesifikasi ancaman yang jelas.   Dengan pola ini, Israel selalu menemukan skadron-skadron tempurnya sebagai salah satu daya tangkal terbaik untuk menahan serangan dari tetangganya.   Mengapa  ?  Karena IAF memiliki tujuan jelas dan menggariskan jenis ancaman yang jelas dan terpilih, hingga dengan tepat mencari pesawat dan sistem senjata yang sesuai.    Sedangkan tipe kedua, lebih sulit dari tipe pertama karena pola ini menekankan pada air superiority atau air dominance.   Angkatan Udara kita tentunya memilih pola pertama untuk mengembangkan kekuatannya.   Kita cukup mengenali ancaman yang terlokalisir baik yang ada di dalam negeri maupun yang ada di wilayah sekitar. Kita yakin bahwa bangsa ini cukup mampu untuk membentuk organisasi Angkatan Udara, kemandirian air power dengan cara apapun.   Namun sudah siapkah bangsa kita berkorbang banyak untuk kemajuan bersama ?   Pada akhirnya, Angkatan Udara memang harus mencari konsep pengabdian terbaik bagi skadron-skadron tempurnya bagi negeri ini sebelum menuntut bentuk kekuatan yang lebih besar.   Sehingga kekuatan itu tidak akan menggelembung besar namun tanpa makna.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: