Beranda » Novel - Elang » Serpihan Ketiga – “Hulu Keindahan Tiada Terkira”

Serpihan Ketiga – “Hulu Keindahan Tiada Terkira”

Beginilah hidup saat terluka. Laksana seekor keong berjalan di rimba lebat, begitu lemah, lambat dan semua arah ke depan adalah onak-duri-belukar mengerikan dan menyakitkan terlihatnya. Bintang berkilau di gelap-gulita, fajar tersenyum di pagi buta, matahari benderang membubungkan harapan semesta, tetap saja keong merayap, meratap dan compang-camping. Perjalanan hidup yang diimpikan bahagia berkepanjangan, telah diganjar episode holocaust, di asap dalam kamp konsentrasi lalu mengejang, mati dan tidak secuilpun tercatat sejarah. Hari ini, rumah Mbah Paniyem selalu ramai oleh kedatangan para tetangga, kerabat dan terlalu banyak orang tak dikenal hilir-mudik, riuh-rendah. Rumah yang bertembok blabak di depan, gedhek di kiri-kanan dan belakang, berlantai tanah, kini sangat mengepul asap di belakang, pertanda kegiatan masak-memasak yang luar-biasa gegap-gempita di sana. Kayu bakar mulai datang menggunung di samping rumah. Beras, mi kering dan sayur mayur, yang ditumpahkan dari baskom para pelayat juga mulai menumpuk. Rumah di jalan tanah tak bernama, di susun tersisih itu, kini telah menjadi magnet warga dusun. Mereka mencoba berempati, menghibur sebuah keluarga yang sedang comma, tapi tetap saja yang terasa hanyalah sunyi dan tersayat-sayat sakit, walau Elang belum jua mengucur air mata.

Ibuku bukan Grace Kelly – Her Serene Highness The Princess of Monaco, bukan ratu Guinevere, bukan Gusti Kanjeng Ratu Ayu, tapi ia adalah Siti Fatimah. Seorang wanita yang lahir dan tumbuh dari keluarga biasa di dusun Nggagan, dimana kemiskinan adalah bagian lumrah dari makna kata “biasa” itu, sedangkan kaya adalah cerita tentang desa-desa yang mengelilinginya, tentang beberapa foto tokoh yang wajah buramnya disobek sebelah agar dapat menjadi pembungkus kacang goreng di warung-warung. “Ibumu, Nak, selain cantik bukan main pada masa gadisnya, ia adalah gadis yang cerdas bukan main. Inilah cerita Bapak tentangnya suatu hari. Lalu mulut Bapak tak henti-henti mengumandangkan puja-puji setinggi langit. Mulai dari kemampuan hitung-hitungan tiga digit kali tiga digit, yang selalu bisa langsung tersedia jawabannya di luar kepala. Prestasi Ibu yang selalu menjadi juara di kelasnya, pandai main bola volly, pandai menari, rajin bersih-bersih rumah, rapi dalam penampilan, dijuluki “wong ayu” dan seterusnya. Bapak paling betah untuk berbicara segala kehebatan “wong ayu” – nya itu. Suatu tabiat yang langka di zaman modern ini, dimana banyak laki-laki lebih sering kurang menempatkan istri dan keluarganya pada prioritas utama dari kesehariannya.

Masa depan talenta hebat itu memang harus pupus, musnah, terkubur, tamat. “Dud” istilah warga kampung. Semua harus berhenti, saat Bapak si Britjen meminang gadis yang masih kelas 2 SMP itu. Apakah ini anugerah atau musibah menurut orang-orang sekitar, inilah dunia sempurna yang apabila dihakimi dengan disiplin ilmu apapun, selalu saja benar jawabannya. Wong, nggak salah juga dulu Ibu memilih Bapak. Yang jelas, Bapak – walaupun di kantor berstatus tentara dengan pangkat paling rendah di dunia – ia adalah pemuda paling sukses di dusun Nggagan. Bukan karena kaya, namun sukses menjadi Pak Tentara satu-satunya di dusun tersebut. Jadi wajar bila yang diincar adalah gadis yang cantik dan cerdas. Mungkin ada yang bilang “Malang nian wong ayu itu!” Bisa jadi, mungkin ternampak begitu malangnya hidup Ibu. “Tragis!” Bisa juga, karena memang terwujud begitulah nasib Ibu. “Mengenaskan!” Ya bisa jadi, karena begitu adanya kondisi Ibu. “Tegar!” atau “Bahagia!” atau “Hebat!” Ya mungkin benar juga, karena begitulah sesungguhnya wanita itu. Apapun itu, apapun kata orang tentang Ibu, artikulasiku tentangnya, juga tentang Bapakku, adalah tentang pasangan Baginda “Jenderal dari segala Jenderal” Ali Bin Abi Thalib dan Paduka Putri Siti Fatimah binti Muhammad SAW, yang gemerlap cahayanya membentang memenuhi timur dan barat, hulu keindahan tiada terkira, yang kasih-sayangnya membusur jauh dari kutub utara ke selatan, yang kekuatan cintanya melesat dari pusat gelegar magma inti bumi menembus langit ke tujuh menuju Tuhanku. Tuhan, yang menjadikan Ibu sebagai seseorang dengan sumber kebaikan dan cinta yang menjulang tiada tara lalu kini mengambilnya, telah menjodohkannya dengan orang yang tepat, si Britjen itu.

Awal perjodohan Bapak dan Ibu adalah sebagaimana cerita ketersisihan leluhur keduanya. Syahdan suatu hari, Mbah Paniyem sedang menyabit rumput di tepi sawah. Kebetulan tepian sawah tersebut adalah pematang yang sengaja dibuat lebih besar dari yang lain, untuk jalan utama bagi para petani yang memiliki sawah yang terletak jauh di dalam persawahan. Lalu lewatlah Nyai Lamidin yang baru pulang dari sawahnya. Lalu mereka bertiga terlibat omong kosong, mulai dari urusan sawah, rumput, kambing, beras, hingga akhirnya menyinggung rencana untuk mengenalkan kedua anak masing-masing. Memang hari yang benar-benar berjodoh. Mbah Paniyem punya anak laki-laki tentara dan senang bila punya mantu cantik. Nyai Lamidin beranak gadis cantik, pintar dan sangat senang bila mantunya adalah seorang tentara. Penggalan waktu berikutnya pun begitu terumus matematis dalam persamaan-persamaan yang hasil akhirnya selalu kata bahagia. Mulai dari acara tontonan antara kedua keluarga, pernikahan, boyongan ke rumah dinas tentara, lahirnya Elang si pengikat cinta. Hingga suatu hari semua manusia tersadar bahwa semua konstanta masa depan kehidupan ini memang milik Allah, walaupun orang bilang sudah tahu dan punya rumus-rumusnya. The future isnot ours to see – full stop without comma.

Inilah akhir kisah kasih kedua hulu keindahan itu. Tatkala aku lama duduk, menggeliat, bersila, menggelepar di ujung tikar, sambil memandangi mendiang Ibu, ternyata di luar sana, untuk pertama kali warga dusun melihat bergerombol-gerombol tentara menyerbu dusun mereka. Para tentara itu, datang dengan baju loreng, baju biru dan hijau tua, berbadan tegap, kebanyakan berkumis, dengan polah-tingkah yang berwibawa. Mereka, para tentara yang datang melayat itu, tidak berselempang senjata, tidak terselip pisau Pramuka di pinggangnya (Bertahun-tahun berikutnya aku baru tahu bahwa namanya yang betul adalah pisau sangkur, bukan pisau Pramuka). Prajurit-prajurit itu tidak juga berpistol, tapi bagi warga kampung miskin seperti di dusun Nggagan, mereka, semua tentara itu adalah kelompok menakjuban luar biasa.

Bapak adalah pemuda pertama dan masih satu-satunya dari dusun Nggagan yang bisa melepaskan diri dari keadaan rendah diri, tersisihkan, lalu di-ada kadabra penguasa langit, menjadi tentara. Tiada seorang lainnya dari warga dusun Nggagan bermimpi untuk bisa bernasib seperti Bapak. Syahdan dulu, setiap pulang Bapak pasti menjadi tontonan, bintang pilem. Maka tak heran bila hari ini, saat para tentara yang banyak jumlahnya lewat, maka banyak tua-muda, pria apalagi wanita, berdiri berjajar di pinggir jalan, bengong-melongo, untuk mengaggumi, memuja. Bagi kaum termarginalkan, terisolasi, duafa yang tinggal di rumah-rumah gedhek tanpa kamar mandi, tanpa toilet, di sebuah kampung yang tak satupun jalannya diperkeras dan tak jua diberi nama, maka setiap gerakan manusia kekar itu, yang kebanyakan berkumis, berlidah api, berotot kawat-tulang besi, berkuasa atas hidup orang banyak, bisa memenjarakan orang seketika, bernama bapak tentara, adalah perlambang ketakjuban, ketakutan, keterbelakangan, juga atas nama keadilan hidup yang tidak pernah berpihak padanya.

Ada cerita lagi tentang bapak-bapak tentara itu. Mereka memang dilatih untuk menghadapi segala medan dan cuaca, tapi untuk datang dan pulang malam-malam dari dusun Nggagan, sepertinya mereka harus berpikir berpuluh-puluh kali. Ini bukan masalah pertempuran yang harus mereka menangkan, karena semua kegelapan ini hanyalah pantas menjadi pertempuran kami, yang kebetulan terhubung benang sejarah yang sangat getas pada kehidupan para tentara itu. Keluarga kami adalah sekumpulan orang yang begitu mudah dilupakan dan dengan mudah dapat menerima ketidak-adilan. Bapak hanyalah teman, atau lebih pas bawahan dari bapak-bapak tentara itu, yang memiliki akar-rumput yang jauh dalam belantara kemiskinan. Maka tak heran bila kebanyakan tentara itu memilih segera pulang sebelum pemakaman Ibu, sebelum gelap senja nan datang. Mereka melakukannya bukan tanpa alasan. Terlalu beresiko bagi mereka untuk berada di dusun ini hingga malam hari. Mereka akan berjalan terhentak-hentak di kegelapan, menyusuri jalan bebatuan di tengah persawahan, turun curam-menyeberangi basah-menanjak terengah untuk menaklukkan coakan sungai menganga. Bila hujan turun, maka siapapun orangnya, tak terkecuali para tentara, tak bakal bisa keluar dari dusun yang sudah dikutuk pemerintah dengan sebutan daerah minus dan tertinggal tersebut. Kerinduan warga dusun secara turun-temurun akan adanya sebuah jembatan – malaikat terbuat dari campuran besi, kayu, pasir dan semen – yang pernah melebihi rindunya Datuk Maringgih kepada Siti Nubaya, kini telah membeku. Kerinduan yang membeku karena berjawab kasih tak sampai.

Kasihan Bapak Britjen itu. Inilah hari duka dimana kutemukan kenyataan hebat tentangnya. Britjen adalah selorohan bahasa Jawa yang apabila dipanjangkan adalah “abrit ijen”, berarti merah sendirian dan diperuntukkan tentara golongan tamtama yang berpangkat warna merah, atau Britjen. Kalau Brigjen adalah Brigadir Jenderal, jenderal berbintang satu, maka Britjen bermakna abrit ijen, si merah yang sendirian. Bapak Britjen teladan itu, nampak terlalu sering mengangkat tangan, memberikan salam penghormatan, membungkuk seperti abdi dalem keraton Ngayogjokarto hadiningrat, kepada bapak-bapak tentara yang pamit pulang. Bapak teladan itu lebih banyak menghormat kepada para tamunya daripada menerimanya. Bapak , si merah yang sendirian itu, bagiku telah menjadi Gatutkaca paling tangguh di seluruh dunia. Ia hebat bukan karena berpangkat Brigjen. Maaf, ia tangguh bukan karena berpangkat Britjen, bukan pula karena baju seragamnya, senjatanya. Tapi karena ia selalu menjadikan dirinya sebagai pemuja sejati bagi istri dan anaknya, sampai detik terakhir kini. Ia pun tidak membiarkan dirinya meratap dan meronta, walaupun pedih dan hancur hatinya. Bapak tetap tegar menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai tentara, menghormat dengan gerakan patah-patah, sampai detik ini tatkala aku terus memandangnya, membanggakannya. Lelaki hitam-kurus separoh baya itu terus-terusan, bolak-balik, mengangkat tangan, membungkukkan badan, menghormat para atasannya.

Sore hari, saat bedug bertalu-talu di sekujur dusun Nggagan, kereta pralaya yang tidak beroda, tidak berkuda, berayun-ayun diikuti para pelayat, bergerak menuju pusara. Inilah cerita terdahsyat dari semua catatan harianku nantinya, karena Elang yang belum akhil balig, belum disunat, telah kehilangan Ibu yang dari rahimnya segala keindahan tercipta. Penggal kisah siang hingga sore ini, akhirnya mengamini semua teori tentang roda kehidupan yang selalu bertawaf mencari nilai. Yang di atas akan merasakan di bawah, yang kuat akan menunggu saat datangnya lemah, atau sebaliknya. Tak ada yang abadi dalam satu keadaan. Kekuatanku di pagi hari mulai layu. Awalnya seperti terkena injeksi perasaan sunyi, sepi, lalu muncul sekelebat kisah bahwa Ibu memang lebih baik beristirahat dengan tenang, damai, tidak lagi didera rasa sakit, tidak lagi lumpuh karena saraf-saraf tulang belakangnya telah dirusak kanker, tidak lagi tercabik-cabik hatinya oleh rasa sakit tersilet-silet di sekujur badannya. Lalu aku melihat Ibu telah bebas dari semua derita, sembuh dari semua luka. Ibu telah dipilihkan hari yang tidak bisa digugat kehadirannya. Ibu harus berangkat, agar bisa berjalan, berlari dan menari berpilin-pilin dengan para nabi, para syuhada. Lalu kini aku telah menangis sesenggukan tepat di belakang kereta pralaya. Bendung yang mengenakan baju lebaran tahun kemarin, pemberian Ibu, menggandeng tangan kiriku, lebih keras tangisnya. Bapak menggandeng Mbah Paniyem, sesekali memapahnya. Di belakangku ada Paklik Ngalintir dan istrinya, Modin dan Pak Modin asli, Mbah dan Nyai Lamidin, beberapa kerabat dan puluhan warga dusun. Aku kini adalah keong itu. *****


4 Komentar

  1. wisnu mengatakan:

    cerita yang bagusss..
    ditunggu lanjutannya,bang..:)

  2. enie mengatakan:

    nggak kalah seru dengan laskar pelangi? mmm….ntar dulu mas, kalo ceritanya dah tamat baru ketauan wuehehehe. ayo semanga…..at ^ o ^ bikin bab selanjutnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: