Beranda » Jurnalku » “Bu kemana kakiku? Kalau kakiku belum ditemukan, aku nanti nggak bisa jadi tentara!”

“Bu kemana kakiku? Kalau kakiku belum ditemukan, aku nanti nggak bisa jadi tentara!”

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Kalau Allah SWT memberikan kesempatan, lalu kita bisa masuk time tunnel, untuk merasakan derita seorang anak berumur tiga setengah tahun bernama “Tegar”  yang sekarang meringkuk, tanpa kaki kanannya yang terlidas KA… maka kita akan cepat memahami betapa di dunia ini banyak manusia yang dicoba jauh lebih berat daripada beberapa butir debu dan kotoran yang menempel di tubuh dan badan kita, namun kita sering mengeluhkannya daripada membersihkannya.    

Inilah kaca benggala itu……… pembelajaran bagi Ayah, Ibu, Si Kaya, Si Miskin.

Puryanto tega melindaskan kaki anaknya ke KA yang sedang melintas, Minggu (5/7) dinihari sekitar pukul 03.00 WIB. Puryanto melakukan itu karena jengkel keinginannya bersebadan ditolak istrinya. Akibat perbuatan keji ayahnya itu, kaki kanan Tegar putus tepat di beberapa sentimeter di atas mata kaki kanannya.   Saat tidur,  ia mendadak terbangun ketika tubuhnya diangkat ayahnya. Ia kemudian dibawa ke rel KA melalui pematang sawah yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah. “Saya sudah tidak mau saat digendong, tetapi kata Bapak, saya harus ikut ke sawah,” kata Tegar dengan kalimat terputus-putus sembari menahan sakit.  Setelah itu tubuh Tegar dibaringkan paksa di atas rel KA.   Beberapa saat kemudian muncul KA Bangunkarta jurusan Jakarta-Jombang yang melintas dari barat (Jakarta) menuju timur (Jombang).   Kereta ini rutin melintas sekitar pukul 03.00 WIB.  Masyaallah “putuslah kaki kanannya”.

Tegar kini mengalami trauma berat. Selama dua hari menjalani perawatan di RSUP dr Soedono Madiun, anak pertama pasangan muda itu terus menanyakan di mana kaki kanannya yang putus. Setiap kali pertanyaan itu muncul, Devi, Ibunya pun memeluk Tegar dan mengelus-elus kepalanya.  Ibu dua putra yang setiap pukul 02.00 WIB membantu bibinya berjualan jenang di Pasar Mejayan Madiun ini bertambah sedih apabila mengingat perkataan tim dokter bahwa kaki kanan anaknya sudah tidak bisa disambung lagi karena kondisinya remuk serta jeda waktu perawatan sudah lebih dari 6 jam. Karenanya, Devi kerap kali menitikkan air mata apabila Tegar menanyakan kakinya yang putus. Apalagi Tegar bercita-cita ingin menjadi tentara.

“Saya nggak mau ketemu bapak lagi. Biar bapak ditangkap polisi, biar dia dihukum saja,” kata Tegar lirih saat Surya ikut  nimbrung pembicaraan dengan ibunya di RSUP dr Soedono, Senin (6/7).  Ketika ditanya soal ayahnya yang kini masih buron, Tegar sepertinya menyimpan rasa marah. “Waktu mau ditabrak kereta api, bapak mencekik leher saya, saya tidak bisa berteriak. Biar bapak ditangkap saja,” kata Tegar. Devi menuturkan, saat kejadian dirinya sudah berangkat ke Pasar Mejayan. Dua anaknya, yakni Tegar dan Febi Fajar (2), masih tidur di ruang depan bersama ayahnya. Sedangkan keluarga lainnya yang berada di rumah itu adalah kakek dan nenek Tegar, yakni Sukardi, (59) dan Saikem (56).

Tidak ada saksi mata yang melihat bagaimana proses detilnya. Namun menurut Tegar, saat kereta itu lewat, tubuhya tetap dipegangi ayahnya, hingga kemudian kakinya terlindas KA sampai putus, tepatnya di titik beberapa sentimeter di atas mata kakinya.  Tegar mengatakan, setelah kakinya putus, ia masih tersadar, sementara ayahnya sudah tidak ada lagi di tempat itu. Tak ada warga yang menolong, karena saat itu masih pagi buta. Sedangkan Puryanto langsung kabur entah kemana. Terpaksa Tegar dengan menahan sakit berjalan merangkak sekitar 50 meter menuju rumahnya dengan melewati pematang sawah.  “Saya pulang dan berteriak-teriak memanggil kakek,” kata Tegar sambil menangis. Dari rel menuju ke rumah Tegar itu hanya bisa melewati pematang sawah. Baik di utara maupun selatan rel KA, hanya ada persawahan.  Begitu sampai di depan pintu rumah, kakek dan nenek Tegar, Sukardi dan Saikem terbangun karena mendengar teriakan minta tolong cucunya sekitar pukul 03.00 WIB. Begitu membuka pintu, alangkah terkejutnya ketika melihat Tegar menangis dengan kaki kanan sudah buntung. Sukardi dan Saikem pun langsung membawa Tegar ke RSUP dr Soedono Madiun.

Potongan kaki Tegar langsung dibawa polisi ke RSUP dr Soedono. Polisi mengamankan barang bukti berupa secarik kertas berisi tulisan tangan Puryanto yang menuliskan alasan dia berbuat sesadis itu. Dalam selembar kertas yang ditinggalkan di rumahnya itu Puryanto mengaku jengkel pada istrinya, Devi, karena menolak saat diajak berhubungan intim.

Devi mengatakan tak bermaksud menolak keinginan suami. Namun setiap pukul 02.00 WIB, ia harus berangkat ke Pasar Mejayan untuk membantu bibinya, Ny Saimah (53) berjualan jenang. Menurut Devi, hal itu dilakukan untuk mendapatkan uang tambahan demi memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Sebab, dengan penghasilan suami yang hanya bekerja sebagai penjual pentol celup keliling, keluarganya selalu kekurangan. (Dari berbagai sumber) *****

“Orang-orang faqir kaum muslimin mendahului orang-orang kaya mereka dalam hal masuk surga selama setengah hari (di akhirat), yaitu lima ratus tahun.” (HR Abu Hurairoh)

“Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya.” (QS. An-Nisā’  : 135)

“Berapa banyak orang kaya yang kekayaannya tersebut tidak menyibukkan dan melalaikannya dari Allah, sementara berapa banyak orang faqir yang kefakirannya menyibukkan dan melalaikannya dari Allah.” (Imam al-Munāwi)

“Kekayaan dan kefaqiran adalah dua tunggangan, aku tidak peduli yang mana dari keduanya yang aku tunggangi.”  (Umar Ibn al-Khaththāb)

 Maospati, Minggu Sore – 12 Juli 2009

 


2 Komentar

  1. Irwin Sigar mengatakan:

    Artikel ini mengingatkan pada kita bahwa dalam situasi bagaimana pun beban penderitaan yang kita alami kita harus senantiasa bersyukur, karena ternyata di sekitar kita banyak orang yang lebih menderita dibanding kita.Duh, saya senang bisa membaca tulisan Bung kembali, buku bung Tuhan Punya Rencana telah berulang kali kubaca dan tidak membosankan.O ya saya boleh tahu alamat email anda pak Mayor.Dan kapan menulis buku baru lagi?

  2. Irwin Sigar mengatakan:

    Duh saya salut benar dengan kata-kata bijak tokoh muslim Umar tersebut.Terlepas dari semua itu, kayaknya manusia saat ini hanya memandang kemiskinan adalah cobaan dan mereka tidak sadar bahwa kekayaan juga adalah juga cobaan.Itulah sebabnya banyak juga orang kaya yang gagal dalam memaknai kekayaan yang diamanahkan oleh Allah Yang Maha Kaya kepadanya.Padahal ketika kita mati semua kekayaan kita tidak ada artinya.Syukur meskin negara kita terkenal korupnya, namun malaikat-malaikat yang bertugas di bumi pertiwi kita ini tidak mau disogok atau disuap.He he he he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: