Beranda » Syair » Sebuah Panah Tanpa Busur

Sebuah Panah Tanpa Busur

Seorang lelaki tua terbaring dalam pelukan malam, tidak seperti impian masa kecilnya dipeluk bidadari.   Ia kini gembel, tidak seperti harapan ibu cantiknya yang selalu memejan Fatihah sedari orok menggelendot dalam timangan.  Lalu ia yang mengumpat berjalan mendekat bulan, menempelengnya hingga berkeping-keping.   Ia meloncat-loncat memunguti bintang, menelannya satu per satu.  Turun lagi di sebuah gardu gelap, meratap.

Lelaki tua yang bertahun tegap, kini layu.   Lalu ia menelisik kembali jejak kakinya dalam gelap, bertambahlah koyak, berbilur.   Lalu ia tersesat.   Bahkan untuk menemukan jejak kaki terakhir pun tak mampu.  Ia kini adalah panah tanpa busur.   Setiap langkah ke depan adalah rasa kesakitan bagi siapapun, lalu dirinya. Lelaki tua itu tidak bisa kembali.

Lelaki tua itu kini hanya bisa mengenang untuk menjadi busur bagi siapapun.   Busur yang tidak kemana-mana.

“Daripada terlalu banyak bercita-cita. Diamkan hati agar adamu adalah berguna.”   Secarik kertas kumal digenggam untuk seseorang yang nanti akan menemukan jazadnya.

Maospati, Rabu 16.15 5 Agustus 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: