Beranda »

Abdulrahman Saleh – Bapak Karbol

Menjelang bulan Juli 1947, dr. Abdulrachman Saleh bersama-sama dengan Adisutjipto mendapat tugas dari Pemerintah untuk pergi ke luar negeri. Tugas ini maksudnya mencari bantuan lua negeri berupa instruktur dan obat-obatan untuk PMI.

Hari Bakti TNI kita peringati setiap tanggal 29 Juli. Penetapan hari bakti tersebut bukan tanpa latar belakang. Justru tanggal tersebut tercatat dengan tinta emas sebagai peristiwa suci yang patut dikenang seluruh bangsa Indonesia. Di hari bersejarah itu beberapa pejuang kita gugur saat melaksanakan misi penting di tahun 1947. Salah satu nama pengharum bangsa tersebut tak lain dan tak bukan adalah Abdulrakhman Saleh.

Abdulrahman Saleh yang punya nama kecil, Maman, lahir sebagai salah satu dari 9 putra-putri dr. Mohammad Saleh dan wanita asal Jakarta. Pasangan orang tua yang intelektual tersebut berhasil mengantar 7 anaknya menjadi putra-putri yang membanggakan. Maman hanyalah salah seorang yang berhasil dan menonjol. Perjalanan hidup dan karirnya membuktikan ia sebagai figur berkualitas dan pantang menyerah.

Minat di Segala Bidang

Keluarga dr. Moh. Saleh sering berpindah-pindah tempat tingal. Pada masa itu belum banyak orang pribumi yang bertugas sebagai dokter. Yang ada hanya orang-orang Belanda. Dari jumlah yang sedikit itu, dr. Moh. Saleh termasuk satu diantara yang disegani dan sangat dibutuhkan tenaganya. Oleh sebab kondisi itu, ia terpaksa memboyong keluarganya dari satu kota ke kota lain untuk mendarmabaktikan ilmunya kepada masyarakat. Tak pelak lagi, Maman kecil menghabiskan masa kecilnya di beberapa tempat. Dari Jakarta, lalu ke Boyolali, Kolonedali (Sulteng), Bondowoso, Pasuruan, dan Probolinggo. Kelak di kemudian hari Maman pun menjalani kehidupan yang serupa. Pria kelahiran 1 Juli 1909 itu menghabiskan SD dan MULO-nya dengan angka-angka gemilang. Ia lalu masuk STOVIA (School tot Opleiding van Indische Arsen). Sayangnya, beberapa bulan kemudian sekolah tersebut dibubarkan Belanda, dengan alasan dasar sekolah ini kurang memenuhi syarat-syarat. Sebagai calon dokter, studentnya harus lulus AMS (Algemeene Middelbare School) – setingkat SMA- dulu. Tanpa rasa kecewa, Maman lalu bersekolah lagi, guna mendapatkan ijazah AMS. Begitu lulus ia kembali masuk Sekolah Tinggi Kedokteran, GHS (Geneeskundige Hooge School). Niatnya meniru jejak sang ayah memang tak pernah padam.

Masa-masa ia sebagai mahasiswa merupakan masa penempaan dirinya. Keingintahuannya yang besar mendorong pemuda Maman untuk mencoba segala hal. Aktif berorganisasi, menjadi anggota beragam perkumpulan pemuda, dan berolah raga merupakan sarapannya sehari-hari di samping kegiatannya sebagai mahasiswa kedokteran. Anggota perkumpulan Indonesia Muda itu juga gemar olahraga seperti atletik, anggar, dan berlayar. Semasa di sekolah ini pula ia menikah. Menyunting Ismudiati, guru asal Purworejo, pada tahun 1933 tak memalingkan perhatiannya pada keinginannya masuk organisasi lain seperti KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia) dan Jong Java. Keterlibatannya dalam KBI itu merupakan asal muasal dirinya mendapat julukan Karbol (dari Krullebol). Istilah tersebut diberikan padanya karena ia berani mem-berantas segala hal yang kurang baik dalam organisasi tersebut. Bakat kepemimpinannya memang menonjol. Ia tidak segan mengo-reksi kawan sendiri yang menyeleweng atau kurang disiplin.

Pelopor Kedokteran, Radio, dan Penerbangan

Sebelum Perang Dunia II, di Jakarta telah ada sebuah perkumpulan olah raga terbang (aeroclub). Anggotanya sebagian besar orang Belanda, bukan pribumi. Hal itu salah satu sebabnya karena tingginya biaya yang harus dibayar. Pribumi yang mampu membayar hanya segelintir saja. Abdulrakhman Saleh yang menyukai hal-hal baru merasakan hal ini sebagai tantangan. Dengan segala daya upaya ia berhasil menjadi anggota Aeroclub itu dan dalam waktu singkat ia memperoleh brevet sebagai penerbang.

Seiring dengan waktu, ia pun telah berhasil memperoleh gelar dokternya, dan memperdalam ilmu faal. Mula-mula karirnya dimulai sebagai dosen di NIAS Surabaya, lalu di Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta. Berkat jasanya di bidang medis, FKUI pada tanggal 5 Desember 1958 mengangkatnya sebagai Bapak Faal Indonesia. Laki-laki serba bisa itu merasa tak cukup menggali ilmu. Tahun 1934, radio yang menyiarkan siaran-siaran kesenian ketimuran, bernama V.O.R.O. (Vereniging voor Ooosterse Radio-Oemroep) mula-mula dipimpin oleh Gunari. Dua tahun berikutnya Gunari mempercayakan tongkat kepemimpinannya, periode 1937-1942 V.O.R.O. mengalami perkembangan yang pesat.

Di masa revolusi itu, peranan radio bukan main besarnya! Untuk dapat menyiarkan Proklamasi Kemerdekaan, terpaksa pegawai-pegawai radio bagian teknik termasuk Abdulrakhman Saleh menyalurkan siarannya melalui pemancar bergelombang 16 meter. Kebutuhan untuk mengadakan penyiaran ke luar negeri dirasakan cukup mendesak. Atas keahlian tekniknya siaran radio kita dapat mengudara dengan label Radio Indonesia Merdeka dengan gelombang 85 meter. Lokasinya di kawasan Menteng Raya Jakarta. Sedangkan siaran ke luar negeri, dipancarkan melalui studio yang terletak di Perguruan Tinggi Kedokteran (FKUI kini) dengan nama This is the Voice of Free Indonesia. Waktu itu balatentara Jepang dengan kalap mencari-cari sumber siaran kita di luar studio. Namun usahanya sia-sia. Hal tersebut dapat berhasil atas jerih payah Abdulrakhman Saleh, yang sebenarnya bukan seorang pemimpin dari Jawatan Siaran Radio. Namun karena sifatnya yang ringan tangan dan niatnya yang mencurahkan diri pada perjuangan di bidang radio. Berkat bimbingannya dan bantuan penuh dari para aktivis radio dapat disusun dasar-dasar dari Radio Republik Indonesia pada tanggal 11 September 1945. Semboyan ‘Sekali di Udara tetap di Udara’ membahana atas prakarsa Pak Karbol.

Masa-masa rawan dan genting di Republik kita belum juga usai. Kian hari justru kian berkecamuk. Keterangan antara Pemerintah Indonesia dan kolonialis Belanda makin memuncak. Tentara Kemanan Rakyat (TKR) yang berdiri tanggal 5 Oktober 1945 saat itu telah memiliki Djawatan Penerbangan. Nama itu kemudian berganti menjadi TRI. Berdasarkan Dekrit Presiden pada tanggal 6 April 1946, disempurnakan dengan sebutan TRI Angkatan Udara.

Tugas TRI Angkatan Udara (AURI kini) tidak dapat disebut ringan. Dua tugas utama yang diembannya adalah peningkatan di bidang pembangunan dan pembentukan penerbangan militer, serta usaha merintis jalan ke arah penerbangan Sipil dalam keadaan darurat. Kendala yang dihadapi cukup berat. Mengapa? Pesawat-pesawat yang tersedia kala itu adalah barang-barang rongsokan, berupa kapal-kapal terbang peninggalan Jepang. Hambatan lain adalah langkanya sumber daya manusia yang dapat mengen-darai burung besi itu. Dari segelintir yang ada, nama Abdulrakhman Saleh masuk dalam perhitungan. Sebagai bekas penerbang olah raga sebelum PD II, ia tidak mau ketinggalan menyumbangkan tenaganya.

Diawali dengan belajar mengemudikan pesawat Tjureng bersayap dua dengan instruktur Adisutjipto, ia lalu bergerak mem-pelajari tipe-tipe pesawat lainnya seperti Glider, Hajabusha, dan Bomber.

Pesawat-pesawat yang rusak, mesin-mesinnya diperbaiki sendiri oleh beliau sehingga dapat dipergunakan kembali oleh AURI. Karena kecerdasannya, dalam waktu singkat setelah beberapa lama membantu Adi Sutjipto sebagai instruktur, Abdulrakhman Saleh tahun 1946 diangkat sebagai Komandan Udara Maospati (Madiun). Ia sendiri sekeluarga tinggal di Malang.

Di kota dingin itu ia mendirikan Sekolah Teknik Udara yang pertama. Sedangkan di Madiun, tempatnya berdinas, dibentuknya Sekolah Radio Udara.

Gugur dalam Tugas Mulia

Seorang industrialis India bernama Patnaik meminjamkan pesawatnya jenis Dakota mengangkut obat-obatan untuk PMI. 28 Juli 1947 pers dan radio Malaya telah menyiarkan berita bahwa sebuah pesawat VT-CLA akan tiba keesokan harinya (29 Juli 1947) di Yogya. Pesawat itu mengangkut sejumlah obat-obatan untuk sumbangan Palang Merah Malaka untuk PMI. Pengiriman obat-obatan tersebut tidak saja diketahui dan disepakati pemerintah Inggris dan Belanda, tetapi juga mendapat ijinnya. Kenyataannya, menjelang sore hari, saat pesawat yang ditumpangi sembilan orang itu hendak mendarat di Maguwo dari arah utara muncul dua buah pesawat Mustang Belanda. Dua pesawat pemburu Belanda langsung memuntahkan peluru-pelurunya menghantam VT-CLA tanpa memperdulikan ketentuan yang ada. Beberapa dari semburan peluru tepat mengenai salah satu mesin pesawat. Pesawat oleng, membentur pepohonan dan jatuh terbakar. Seluruh penumpang dinyatakan gugur kecuali satu orang, yakni Gani Handonotjokro. Nama kedelapan penumpang yang tewas adalah Pilot Alexander Noel Constantine, Co-Pilot Roy Hazel-hurst, Juru teknik Bidha Ram,  Juru Radio Opsir Muda Udara I Adi Sumarmo Wirjokusumo. Lalu Komodor Muda Udara Adisutjipto, Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdulrakhman Saleh, Wakil Perdagangan RI di Malaka Zainal Arifin dan Ny. Alexander Constantine.

Gugurnya para pejuang saat menjalankan misi penting itu menyebabkan duka yang sangat mendalam di hati segenap bangsa Indonesia. Kepergian mereka memang mencipta kepedihan panjang, tapi peristiwa itu sekaligus pula membakar semangat dan tekad segenap prajurit TNI AU untuk meneruskan cita-cita besar para pendahulunya.

Jasa-jasa Abdulrakhman Saleh sebagai perintis pendirian Sekolah Teknik radio di Madiun dan Malang mendapat tempat di hati insan di Republik ini. Sebagai penghormatan pada dirinya, nama beliau lalu diabadikan menjadi nama pangkalan terbang di Malang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: