Beranda » Dog Fight - Pertempuran Udara » Bagaimana Serangan Udara ke Darat Dilakukan

Bagaimana Serangan Udara ke Darat Dilakukan

8 pesawat F-16 Israel terbang dengan sangat rendah menyusuri Gurun Arab yang luas, sore hari 7 Juni 1998.  Begitu rendahnya formasi pesawat tersebut terbang, pasir-pasir gurun pun muncrat tersibak ke kiri kanan track penerbangan.   Dari kejauhan, kedatangan pesawat tersebut terlihat seperti badai.   Orang tidak menyangka kalau gemuruh suara itu adalah rombongan pesawat tempur yang sedang berusaha menembus radar permukaan Irak.  

Formasi pesawat itu pun sudah di desain berbentuk sebuah pesawat sipil berbadan lebar, untuk mengelabui visualisasi radar.   Setiap pesawat telah membawa 2 bom MK 84 (1 bom beratnya 1 ton), 3 tanki cadangan yang digunakan untuk sebuah penerbangan selama 90 menit dan 600 mil menuju target, yakni pusat reaktor atom Osirak di dekat Baghdad.    Sekian lama formasi pesawat itu terbang, akhirnya mulai masuk ke wilayah Irak dan tak satupun terlihat tanda-tanda bahwa gerakan mereka terdeteksi oleh sistem pertahanan Irak.   Padahal gemuruh suara pesawat tersebut bahkan sudah mampu menggetarkan setiap permukaan yang dilewati.   

Konon, pada suatu kesempatan ada rombongan kafilah gurun yang melihat pesawat-pesawat tersebut, mereka malah melambaikan tangannya dan bersorak sorai.   Mereka menyangka bahwa pesawat-pesawat tersebut adalah pesawat milik negaranya.    Misi yang dinamakan dengan Operasi Opera ini akhirnya mendapatkan hasil yang gemilang dan menjadi legenda Angkatan Udara Israel.   Pusat industri terbesar di Irak yang memproduksi senjata nuklir tersebut telah hancur lebur oleh 16 ton bom MK 82.

Tapi jangan pikir hanya penerbang-penerabng Israel saja yang bisa melakukan misi-misi seperti di atas.   Penerbang-penerbang kita apun mampu melaksanakannya, karena sudah dilatihkan secara rutin dalam satu paket siklus latihan.   Kita menyebutnya dengan latihan surface attack tactical.

Menyusuri Lembah, Lolos Dari Radar

 Taktik yang akan dilakukan oleh pesawat tempur pada dasarnya  ada 2 buah, yaitu air to air combat (pertempuran udara)  dan air to ground/surface attacks (serangan udara ke permukaan).  Kedua-duanya menempati tempat yang fundamental bagi kesuksesan sistem pertahanan udara.  Latihan-latihan yang diajarkan kepada para penerbang tempur Iswahjudi juga dimaksudkan agar mereka profesional untuk kedua misi tersebut.  

Pemilihan jenis pesawat, senjata, dan program latihan, disesuaikan dengan tugas pokok yang diemban oleh sebuah Skadron Tempur.   Untuk negara maju, skadron-skadron dikelompokkan berdasarkan kedua taktik diatas tersebut di atas.    Di banyak negara sedang berkembang, banyak terjadi pembelian dan penggunaan pesawat yang tidak sesuai dengan kebutuhan yang sebenarnya.   Faktor pertama, hal ini dikarenakan kurangnya dana.  Pertumbuhan Angkatan Bersenjata sebenarnya paralel dengan pertumbuhan ekonomi.   Negara yang berekonomi lemah sudah pasti memiliki persenjataan yang seadanya, kecuali berada dalam suasana darurat perang yang mengharuskan negara tersebut harus menghutang senjata pada negara lain.  Hal ini juga berlaku pada jumlah pesawat tempur yang dimiliki. Jumlah skadron tempur yang terbatas, akan menyebabkan adanya overlapping mission.   Sebuah Skadron tempur akan mempunyai misi yang beraneka ragam dan kadang kala jauh dari tugas pokok yang seharusnya dikerjakan.   Karena banyaknya misi yang dilaksanakan, jadwal latihan pun juga tidak bisa dilaksanakan dengan standart yang baik.   Padahal untuk sebuah skadron tempur yang baik, pesawat ataupun personil yang melaksanakan harus berbeda walaupun dalam Skadron atau tipe pesawat yang sama.     Faktor yang kedua adalah  minimnya wawasan tentang pentingnya sistem pertahanan udara yang memadai.   Untuk permasalahan ini,  akan menjadi sesuatu yang mutlak tentang  pembentukan sebuah badan/departemen taktik di tingkat Markas besar Angkatan Udara dan Angkatan BersenjataPaling tidak ada sebuah tempat untuk mengkaji setiap perkembangan taktik pertempuran udara dan kebutuhan senjata yang harus dimiliki untuk mampu mempertahankan wilayah kita.   Dengan wawasan tentang taktik pertempuran yang baik, maka akan dengan mudah menentukan senjata yang harus dimiliki.  Faktor ketiga menyangkut masalah politik.   

Dari pengalaman heroik penerbang-penerbang Israel di atas, kita akan mengupas tentang kemampuan Angkatan Udara didalam melaksanakan sebuah serangan udara ke permukaan.   Penghancuran sebuah sasaran di daratan atau di lautan pada dasarnya akan jauh lebih mudah dan efisien bila dilakukan dari ketinggian.   Konsep serangan udara ke permukaan juga sudah lama dikembangkan, bahkan mulai dari Perang Dunia I.   Saat itu penerbang melakukan dengan cara yang sangat sederhana sekali, yaitu dengan menjatuhkan bom/granat yang dilempar dengan tangan.   Mereka membidik sasaran dengan senapan mesin, belum ada alat bantu lain.  Mereka juga tidak perlu rendah untuk menghindar radar, cukup bersembunyi di balik awan.   Bahkan mereka akan terbang tinggi sebelum tiba disasaran agar penglihatan dan posisi bertambah baik. Sejalan dengan perkembangan tehnologi, maka taktik pun berubah.   Bom, roket, dan senapan pintar telah dikembangkan.   Dan yang lebih penting adalah penemuan tehnologi radar yang mengharuskan pesawat harus menentukan sebuah taktik terbaik untuk menghadapi radar lawan.    Sehingga digunakanlah apa yang disebut dengan low level navigation atau surface attack tactical, untuk mudahnya kita sebut saja terbang rendah.    Pesawat akan terbang pada ketinggian serendah-rendahnya dengan route yang terhindar dari radar/pos lawan untuk menghancurkan target yang telah ditentukan.   Radar permukaan model apapun tidak akan bisa melacak pesawat, kecuali radar AWACS atau satelit.   Biasanya, pesawat-pesawat masih dilengkapi dengan peralatan anti radar untuk menambah keyakinan penerbang.   Low level navigation yang baik akan menjamin penerbang    akan sampai pada target untuk melaksanakan surface attack dan terbang kembali ke home base dengan aman tanpa terdeteksi oleh lawan.  

Untuk melaksanakan misi terbang rendah dibutuhkan persiapan yang matang, latihan-latihan rutin, dan waktu yang cukup.   Banyak penerbang yang menemui banyak kesulitan utnuk mengenali route yang dilewatinya.   Betapapun canggihnya peralatan yang dimiliki, dalam bernavigasi penerbang wajib tahu setiap jengkal tanah yang dilewatinya sebagai chek point.   Bisa dibayangkan betapa sulitnya terbang di atas gurun tanpa ada tanda-tanda di permukaan, jika tidak dibantu peralatan dan ketrampilan yang memadai.   Para penerbang baru pada awalnya akan dilatih  untuk terbang pada ketinggian 500 feet (1 meter = 3 feet), mengikuti permukaan tanah.   Kecepatan bervariasi, tergantung jenis pesawatnya.     Pesawat tempur biasanya menggunakan kecepatan 400 sampai 500 mil/jam.   Penerbang akan diajarkan bagaimana untuk terbang tepat waktu, tepat track, dan tepat sasaran.  Tentunya dengan ketinggian yang serendah mungkin (dalam batas aman).   Untuk penerbang senior akan terbang sesuai dengan ketinggian yang digunakan pada operasi sebenarnya, yaitu 200 –300 feet di atas permukaan tanah.  

Jika angin, arah, dan kecepatan pesawat selalu tetap, penerbang tidak akan menemui kesulitan dalam bernavigasi, tanpa bantuan peralatan lain seperti jam, kompas, dan indikator kecepatan.   Namun karena perubahan pada ketiga hal tersebut, penerbang harus selalu menghitung jarak yang telah ditempuh pada waktu tertentu dan dibandingkan dengan tanda-tanda di permukaan bumi.   Maka peralatan minimal yang mutlak harus dimiliki dan dihafalkan adalah jam, kompas, dan peta rute penerbangan yang akan dilaksanakan.  Tentunya untuk pesawat-pesawat modern, sudah jauh berkembang dengan INS, TACAN, GPS.  Penerbang hanya memasukkan koordinat yang akan dilewati, maka pesawat akan diarahkan menuju sasaran yang telah ditentukan.

Untuk melaksanakan misi penyerangan dengan taktik navigasi pada ketinggian rendah, memang kuncinya adalah apa yang disebut dengan Dead Reckoning, gabungan antara peralatan yang ada di cockpit  untuk mendapatkan   perhitungan jarak, waktu, dan arah dengan pembanding tanda-tanda di atas permukaan bumi, yang sudah dipelajari dari peta.   Penerbang harus selalu tahu posisinya setiap saat, dengan melihat jam, kompas dan penunjuk arah di pesawat.   Pengetahuan tentang peta wilayah yang akan dilewati juga harus dimiliki oleh penerbang, sehingga penerbang tidak mengalami loss orientasion, tidak tahu dimana posisinya saat itu.   Untuk sebuah navigasi terbang rendah yang baik, maka diperlukan perencanaan yang baik pula.   Untuk merencanakan sebuah misi, maka target harus ditentukan dulu, baru kemudian memilih rute yang akan dilewati.   Akan sangat mudah bila rute yang direncanakan selalu melewati daerah kawan, karena akan terhindar dari sergapan musuh.   Misalnya saja menghancurkan sarang pemberontak, kapal penyusup, dan sasaran lain yang tidak keluar wilayah negara.   Namun bila sasarannya berada di wilayah negara orang, maka banyak sekali data-data yang diperlukan untuk menentukan rute yang harus dilewati.   Intinya adalah mencari daerah paling aman, efisien, dan efektif untuk misi penghancuran. 

Beberapa masalah yang harus dipertimbangkan dalam pelaksanaan terbang rendah adalah sistem pertahanan musuh, medan yang akan dilewati, kecepatan ke target, ketinggian, cuaca, dan prosedur penembakan target.   Mari kita mendiskusikan faktor-faktor tersebut. Yang pertama, dalam menentukan rute, penerbang harus dilengkapi data intelijen yang sempurna tentang sistem pertahanan musuh.   Penerbang menggambarkan posisi musuh dengan jarak jangkau senjata yang dimiliki pada peta.   Sistem pertahanan musuh biasanya berupa pangkalan udara, rudal darat ke udara, dan artileri pertahanan udara.   Dengan mengetahui posisi pertahanan musuh, maka rute pesawat bisa diarahkan melewati rute yang aman dan diluar jangkauan senjata musuh.   Faktor selanjutnya adalah faktor alam, pengetahuan akan rute yang akan dilewati.    Penerbang harus mempelajari dengan teliti kondisi medan selama rute penerbangan, dari home base sampai menuju target.   Untuk meyakinkan akan posisi selama terbang, maka penerbang harus menggunakan beberapa tanda untuk cross check, misalnya jembatan, tower, dan lain-lainnya.   Agar lebih mudah, penerbang sebaiknya menggunakan sebuah bangunan yang tinggi untuk mengecheck posisi.   Boleh-boleh saja menggunakan selain ketinggian, asalkan mudah dilihat dan besar.   Penerbang harus menghindari sebuah kota kecil, jalan non permanen, rel kecil, dan tanda-tanda lain yang mudah berubah seperti danau yang kering, untuk digunakan sebagai tempat pengechekkan posisi.    Akan sangat menyulitkan bila tanda-tanda alam di peta itu ternyata sudah tidak ada lagi pada penerbangan yang sesungguhnya.  Sehingga tanda-tanda alam yang tidak mudah berubah, harus dipilih oleh penerbang.  

Untuk menambah keyakinan maka bentuk permukaan bumi pada rute yang akan dilewati di gambarkan secara 3 dimensi, khususnya pada daerah-daerah yang berbukit-bukit.   Karena penerbangan yang akan dilaksanakan, benar-benar akan mengikuti bentuk permukaan bumi, sangat rendah sekali.    Dengan terbang sangat rendah maka posisi pesawat akan sulit dideteksi oleh radar lawan.   Sehingga akan semakin baik bila rute penerbangan dipilih berada di balik bukit-bukit.   Dengan penerbangan pada ketinggian rendah, dan mengikuti permukaan bumi  (track crawling), maka penerbang harus melaksanakan dengan apa yang disebut dengan head up navigation,  harus selalu melihat keluar cockpit.   Betapapun canggihnya peralatan di cockpit, penerbang tidak boleh terlena.   Pandangan harus tetap kedepan, agar tahu rintangan alam apa yang ada didepan.   Dengan melihat keluar penerbang juga mempunyai referensi tentang ketinggian pesawatnya, apakah ketinggian yang ada cukup untuk melewati rintangan di depan.   Sering terjadi pesawat bergerak semakin rendah dan penerbang tidak menyadari, ini disebut dengan undetected descent.   Hal ini tentunya sangat berbahaya mengingat dekatnya jarak pesawat dengan permukaan tanah.   Pesawat hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk menubruk tanah, bila penerbang tidak dalam konsentrasi yang baik.   Lihatlah tabel sudut penurunan pesawat terhadap permukaan bumi (descent angle) dan waktu yang dibutuhkan untuk menubruk permukaan.

 

Descend Angle Pesawat          Waktu Untuk Menabrak Permukaan  Bumi

                                               ( Dari ketinggian 30 meter, kecepatan 500 mil/jam)    

                  0.5°                                                                        14.3  detik

                  1.0°                                                                          7.2  detik

                  2.0°                                                                          3.6  detik

                  4.0°                                                                         1.8  detik

 

Faktor berikutnya dalam pelaksanaan terbang rendah adalah kecepatan.   Mengapa kecepatan menjadi faktor penting dalam pelaksanaan taktik penyerangan dengan terbang rendah?   Para Panglima PD II banyak menyimpulkan bahwa kecepatan menjadi penentu kemenangan perang diatas faktor kuantitas.   Kecepatan juga menjadi faktor penentu keberhasilan intelijen perang.    Dalam terbang rendah, manajemen kecepatan menjadi sulit karena taktik yang digunakan mengharuskan pesawat harus menelusuri permukaan  bumi.   Pada saat menanjaki tepian bukit, mungkin saja kecepatan berkurang dan sebaliknya pada saat menuruni lembah.   Dengan manajemen kecepatan yang baik, diharapkan serangan dapat dilaksanakan dengan tepat waktu.   Untuk itu setiap titik belok (turning point), penerbang harus melakukan cross waktu dengan tanda alam di permukaan bumi.   Untuk terbang rendah dengan pesawat jet, koreksi kecepatan hanya dilaksanakan bila penyimpangan dalam setiap check point lebih dari 10 detik.    Dalam setiap turning point biasanya kecepatan juga  turun, karena bertambahnya kemiringan pesawat.   Setelah kecepatan, faktor berikutnya adalah ketinggian.   Terbang yang sangat dekat dengan permukaan tanah dimaksudkan untuk menghindari deteksi musuh.   Terbanglah sampai debu-debu berhamburan dan air lautan berkecipak, muncrat dibelakang ekor pesawatmu.   Ini adalah kiasan betapa penerbang harus terbang sangat rendah selama melakukan terbang rendah dalam misi sebenarnya.    Untuk melaksanakannya, latihan harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya agar menambah familiarisasi penerbang.  Maka ketinggian dibatasi dalam latihan-latihan rutin.   Cuaca yang buruk seperti adanya asap dan kabut sering mengganggu penerbangan, sehingga setiap leg (rute dari suatu turning point ke turning point berikutnya) wajib dituliskan Mimimum Enroute Altitude (MEA), yaitu rintangan tertinggi pada rute tersebut ditambah ekstra ketinggian tertentu.   Bila pandangan sudah tertutup, maka pesawat harus naik sampai ketinggian tersebut (karena dijamin aman dari rintangan di bawah),   melaksanakan terbang instrument, bisa kembali atau melanjutkan penerbangan, sesuai dengan  pertimbangan pimpinan komando terbang.   Penerbang mempunyai batas-batas minimum cuaca untuk melanjutkan atau menggagalkan misi terbang yang akan dilaksanakan.     

Pickle And Booom  !!

Dari semua usaha yang dilakukan oleh penerbang selama rute terbang rendah memiliki tujuan akhir untuk menghancurkan target yang telah ditentukan dengan tepat waktu dan pulang kembali ke pangkalan dengan aman.   Sebab tujuan akhir dari misi terbang rendah, atau Surface Attack Tactical (SAT) adalah memang untuk meletakkan bom, roket, atau amunisi pada sebuah tempat yang tepat bagi benda-benda mahal tersebut untuk meledak tersebut.    Untuk itu, selain pengenalan rute, maka penerbang harus mengenal target yang harus dihancurkan, terutama untuk serangan dengan taktik konvensional dan non guided weapon.   Sehingga dibutuhkan foto target untuk memudahkan penerbang mengenali sasarannya.   Para pembaca mungkin menyangka bahwa mengebom sama mudahnya dengan melempar batu dengan ketapel.   Pengeboman identik dengan perhitungan matematika dan seni.   Semua tehnik yang digunakan, berdasarkan perhitungan  yang nantinya akan dipraktekkan dalam manuver-manuver penembakan.   Seperti pada pelaksanaan terbang rendah sendiri, maka pengetahuan tentang wilayah target yang akan diserang juga sangat penting untuk dipahami, termasuk diantaranya penempatan sistem pertahanan, bentuk permukaan sekitar target, kemampuan senjata pesawat kita, prosedur sebelum dan sesudah serangan.   Untuk memudah serangan maka penerbang harus menggunakan Initial Point (IP) sebagai tempat memulai serangan.   Titik awal serangan ini jaraknya minimum 30 mil untuk memberi tenggang waktu si pesawat menambah kecepatannya dan menghidupkan semua sistem senjata yang ada di pesawat.   Penerbang harus menghindari lewat diatas sistem senjata pertahanan lawan, dengan memilih sudut serang yang tepat.         

Secara garis besar ada 2 macam metoda surface attack, yaitu tehnik akademis dan tehnik pop up.   Tehnik akademis digunakan untuk mendidik siswa baru.   Untuk metoda ini, para penerbang hanya belajar bagaimana untuk memenuhi setiap parameter senjata yang diluncurkan/ditembakkan.   Penerbang cukup terbang pada ketinggian dimana pesawat akan mulai menembak.  Penerbang baru akan dilatihkan tehnik ini, mereka tidak terbang rendah terlebih dahulu, namun langsung menuju ke target dan belajar menembak disana.   Sedangkan metoda yang digunakan pada waktu serangan yang sebenarnya adalah tehnik pop up.    Tehnik pop up ini sebenarnya hanya suatu metoda untuk menempatkan pesawat pada posisi tembak setelah terbang pada ketinggian rendah.   Dari suatu ketinggian rendah, pesawat akan menanjak cepat dengan sudut 20-30 derajat.   Pada saat menanjak inilah, penerbang akan mencari dimana target berada.   Setelah ketinggian cukup, maka penerbang akan memutar dan mengarahkan pesawatnya ke target, menempatkannya pada posisi yamg baik, dan menembakkan senjata di pesawat.   Metoda ini memang cukup sulit, apalagi penerbang belum pernah terbang pada rute yang sama.   Kesempatan penerbang mencari target hanya sesaat pada waktu pesawat menanjak dalam beberapa detik.   Untuk mengurangi resiko hilangnya target dari bidikan, maka perlu sebuah titik serang yang tepat.   Titik serang harus dipilih sebuah tempat yang mudah dikenali.   Peranan alat bantu pada pesawat juga sangat penting apalagi dengan target yang kecil dan tersembunyi.  

Untuk membuat sebuah rencana pop up attack pun juga tidak sembarangan.   Penerbang harus menghitung dengan cermat, semua yang akan dipraktekkan dilapangan.   Setelah ditentukan target yang akan di hancurkan, penerbang harus memilih dan mengenal kemampuan senjata yang akan digunakan, sudut serang dan ketinggian yang akan digunakan untuk melepas amunisi.   Langkah berikutnya kemudian adalah menghitung mundur apa yang akan dilakukan agar pesawat memiliki posisi yang baik untuk melepas amunisi pada kondisi yang diinginkan.   Kita ambil contoh sebuah pesawat F-16 akan menjatuhkan bom dengan ketinggian 2500 feet di atas target, sudut serang 20°, bom MK 82.   Maka penerbang harus menghitung mundur dari saat tombol peluncur bom ditekan sampai pesawat mulai menambah kecepatannya.    Penerbang harus menghitung climb angle, apex altitude, pull down altitude, dan pop up point.   Untuk lebih mudahnya, secara umum proses penyerangan dengan tehnik pop up adalah sebagai berikut,  pesawat akan menanjak keatas membentuk sudut 30° (climb angle), pesawat mulai ditarik dan diarahkan ke arah sudut serang menuju target (pull down altitude).   Pada saat pesawat ditarik turun, masih ada akselerasi keatas yang disebut dengan apex altitude.   Setelah masuk ke sudut serang (roll in), maka penerbang akan membidik selama beberapa detik (tracking) untuk mendapatkan waktu dan parameter yang tepat untuk melepas amunisi (pickle). Untuk pesawat konvensional mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi dalam melaksanakan pop up attack ini, karena kurangnya bantuan dari peralatan pesawat.  Untuk pesawat modern, banyak sekali peralatan yang mempermudah tehnik penerbangan.   Untuk terbang rendah, pesawat seperti F-5, F-16, Hawk 200 sudah dilengkapi dengan INS, dimana penerbang hanya  mengisikan koordinat target yang akan dituju.   Baik arah, jarak, ataupun waktu tempuh menuju target akan diketahui pada display peralatan tersebut.   Sehingga akan mudah juga para penerbang menemukan target.     

Taktik terbang rendah pada kenyataan sebenarnya sudah pasti tidak hanya untuk 1 pesawat saja, bisa lebih tergantung misi yang diemban.   Sehingga kita mengenal bermacam-macam taktik dalam serangan formasi.   Setelah sampai pada titik serang, pesawat bisa berpisah untuk mengadakan serangan individu, atau tetap bersatu dalam sebuah formasi untuk serangan bersama.   Semuanya punya kekurangan dan kelebihan.   Sebuah serangan formasi akan mempunyai daya kejut yang lebih dibandingkan serangan individu.   Karena formasi yang dilaksanakan, konsentrasi penerbang harus lebih baik, karena selain membidik target, penerbang juga harus menjaga pesawatnya dari pesawat lain yang berdekatan.   Bila sang  flight leader gagal membawa formasi pesawat itu menuju target yang sebenarnya maka serangan pun akan gagal.   Untuk serangan individu, digunakan untuk beberapa target yang agak berjauhan, dan hasilnya juga lebih bervariasi.   Bila serangan individu ini dilakukan untuk target yang berdekatan atau sama, maka pesawat yang menyerang belakangan harus menunggu beberapa lama sampai blast (sisa ledakan) hilang, sehingga akan melemahkan daya kejut bagi musuh.   Pesawat yang menyerang belakangan akan punya posisi riskan, karena musuh sudah menyiapkan senjata anti serangan udaranya.

Pada saat ini memang sudah ada pesawat siluman atau pesawat anti radar yang bisa melepas amunisi dari sebuah tempat yang tinggi tanpa bisa dideteksi oleh radar lawan.   Namun tidak satupun kekuatan yang mampu menjamin bahwa pesawatnya akan mampu terhindar dari deteksi radar.   Sehingga taktik terbang rendah untuk misi penyerangan udara ke permukaan tetap menjadi prioritas utama.   Roket ataupun bom pintar pun juga tidak akan dijamin baik perkenaannya dengan tempat peluncuran jauh tinggi di angkasa.   Taktik terbang rendah ini  hanya bisa ditaklukkan dengan pengamatan udara lewat airborne radar dan memperbanyak instalasi radar permukaan di setiap celah permukaan bumi atau sistem pertahanan anti serangan udara yang canggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: