Beranda » Dog Fight - Pertempuran Udara » Bertempur Pada Speed 2 Mach – Tinjauan Kemampuan MiG-21

Bertempur Pada Speed 2 Mach – Tinjauan Kemampuan MiG-21

Saat PD II berakhir, perkembangan yang signifikan nampak dalam tehnologi pesawat tempur.  Salah satunya adalah mulai digunakannya gyroscopic computing gunsight.  Dengan alat ini penerbang tinggal mengeset panjang sayap dari pesawat musuh di reflector sight sebagai alat bidik untuk mendapatkan jarak dan posisi yang tepat untuk menembak.  Gun sight sudah bisa menyesuaikan pengaruh gravitasi terhadap arah tembakan.   Untuk mendapatkan posisi yang tepat untuk melepaskan tembakan, maka penerbang wajib melaksanakan tracking, yaitu bermanuver untuk memaksa lawan masuk dalam jarak tembak kita.

Perlengkapan lain yang mulai digunakan adalah G Suit.    Gaya sentrifugal yang dihasilkan oleh karena sebuah belokan yang tajam akan menyedot darah yang ada di kepala dan menyebabkan kesadaran penerbang hilang, black out.   G Suit yang dipakai sepanjang perut ke bawah, dengan otomatis akan menekan bagian tersebut untuk menahan laju sedotan darah yang ada di kepala.   Dengan adanya G Suit, penerbang akan mampu menahan sampai 9 G, walaupun dalam kondisi normal tanpa G suit penerbang bisa menahan 5 – 6 G.

Pada era 50-an, potensi pengembangan pesawat tempur bermesin piston juga telah mencapai titik jenuh.   Negara-negara maju mulai beramai-ramai beralih perhatian pada mesin jet.   Namun demikian pada era ini, Angkatan Udara kita masih menggunakan pesawat tempur bermesin piston, P-51 Mustang yang berada di Skadron Udara 3. Perkenalan dengan pesawat tempur jet dimulai tanun 1955, dengan datangnya pesawat De Haviland DH-1115 Vampire yang menempati Kesatuan Pancar Gas (KPG) di Andir, Bandung.   KPG kemudian berubah nama menjadi Skadron 11, skadron tempur jet pertama kita.   Pangkalan Udara Maospati sendiri masih belum memiliki  skadron.

Pada akhir tahun 50-an, saat gencar-gencarnya Operasi Trikora, maka Pangkalan Udara Maospati diputuskan untuk menjadi home base pesawat-pesawat Angkatan Udara.  Berdasarkan Surat Keputusan Menteri/Kepala Staf Angkatan Udara    Nomor  :  135 tanggal 7 Agustus 1962, yang berisi tentang pembentukan Skadron 12 sebagai home base pesawat MiG-19 di Pangkalan Udara Kemayoran, Skadron 14 sebagai home base pesawat MiG-21F, dan Skadron 41/42 dengan pesawat Tu-16 B/KS di Pangkalan Udara Iswahjudi.   Sebagai persiapan, Indonesia mengirimkan penerbangnya ke Rusia untuk belajar mengawaki MiG-21F dan Tu-16 B/KS pada tahun 1961.   Para penerbang yang belajar MiG-21F adalah Kapten Udara Sukardi, Letnan Udara I Jahman, Letnan Udara I Sobirin Misbach dan Letnan Udara I Saputro.

Sebenarnya, LU I Sobirin Misbach dan LU I Saputro tidak berangkat ke Uni Soviet. Namun mereka menggantikan 2 penerbang lainnya yang terpaksa di grounded setelah tiba di Uni Soviet. LU II Mundung harus pulang karena sakit, sedangkan LU II Suganda harus pulang karena memiliki ukuran badan yang terlalu kecil. LU II Suganda telah mencoba berbagai macam pressure suit, bahkan sampai ukuran terkecil. Namun tak satupun baju terbang yang pas ukurannya. Selama 4 bulan, para penerbang kita belajar terbang di Pangkalan Udara Lugowaya, yang berada di sebuah kota kecil di perbatasan dengan India.

Kalau melihat pressure suit (istilah sekarang G Suit) para penerbang MiG-21 memang memiliki keunikan. G suit yang dipakai penerbang tempur modern hanya dililitkan sepanjang badan dan kaki.  Kalau kita melihatnya sekilas pressure suit penerbang MiG-21 mirip baju penyelam.  Tapi inilah teknologi, yang selalu berkembang menyesuaikan kegunaan dan kenyamanan.

Selain mengirim siswa-siswa tersebut, AURI juga mendatangkan instruktur-instruktur dari Uni Soviet untuk melatih di dalam negeri.  Penerbang yang dididik di dalam negeri adalah Mayor Udara Roesman, sebagai calon komandan skadron MiG-21F.  Program latihan dilaksanakan hampir bersamaan dengan siswa-siswa penerbang yang belajar di Lugowaya.  Setelah menyelesaikan latihan terbangnya, mereka mengajarkan ilmu yang dimiliki kepada para penerbang Skadron.  Penerbang pesawat MiG-21F diambil dari penerbang MiG-17 Skadron 11 dan MiG-19 Skadron 12.

Di awal era 60-an, para penerbang kita mulai mengenal pola pelatihan taktik pertempuran udara modern.   Dengan jumlah pesawat, dukungan instruktur, dan pemeliharaan yang memadai, semua program latihan berjalan dengan sangat efektif.   Diantara pesawat-pesawat tempur yang ada saat itu, yang murni dirancang untuk dog fight jarak dekat adalah MiG-15 dan MiG-17 Skadron 11.  Hanya saja MiG-15 adalah pesawat double seat dan digunakan hanya untuk latihan.   Sedangkan MiG-21F adalah pesawat interceptor.  Walaupun memiliki kecepatan yang tinggi, turning radiusnya besar dan rate turnnya sangat lambat.   Namun MiG-17 tidak dilengkapi dengan radar dan rudal, sehingga hanya menggunakan gun untuk pertempuran udara.   Sedangkan MiG-21F sudah dilengkapi dengan radar dan rudal.   Sehingga pada era MiG-21F adalah saat pertama bagi para penerbang kita merasakan radar dan rudal.

Pesawat MiG-21F dirancang untuk menyergap pesawat bomber jarak jauh, bukan untuk dog fight jarak dekat. Sehingga setelah tiba di Indonesia pada tahun 1962, pesawat-pesawat MiG-21F menjadi pesawat interceptor utama AURI.   Pesawat jet ini mampu melewati kecepatan 2 Mach, dilengkapi rudal udara ke udara K-13A (istilah NATO, AA-2 Atoll) dan sebuah gun.   Dengan mesin Tumanski berkekuatan 11.240 lbs dan berat total 16.500 lbs, pesawat MiG-21 merupakan pesawat dengan Thrust to Weight Ratio (TWR) paling baik pada saat itu, yaitu 5 : 1 (F-16 punya TWR 6.2 : 1). Kehebatan mesin Tumanski dibanding pesawat Amerika saat itu adalah tidak adanya jejak asap yang keluar dari mesin tersebut. 

Perkembangan taktik pertempuran modern dipelajari oleh para penerbang MiG-21F kita.  Patroli malam hari mulai dilakukan dengan sangat efektif.   Dengan dibantu radar permukaan yang baik, para penerbang berlatih penyergapan malam.   Terbang malam adalah sesuatu yang sangat berbahaya, apalagi bila dalam terbang malam tersebut dilaksanakan latihan menembak atau penyergapan, pasti latihan itu menjadi lebih berbahaya lagi.   Namun penerbang MiG-21F kita mampu melaksanakan dengan aman.

Pesawat MiG-21F adalah hasil desain negara beriklim keras, sehingga konstruksinya benar-benar kokoh.   Penerbang-penerbang muda banyak merasakannya saat latihan pendaratan.   Biasanya instruktur akan banyak membantu siswa pada latihan yang berbahayaa ini. Namun para instruktur Uni Soviet tersebut malah membiarkan para siswa melakukannya sendiri. Dalam setiap latihan bagi para penerbang baru, banyak sekali terjadi overshoot atau undershoot landing, bahkan sampai nyebur sawah.   Pesawat MiG-21F ternyata tahan terhadap insiden seperti itu. 

Di era pesawat MiG-21F, penerbang tidak mengenal adanya Foreign Object Damage (FOD) yaitu benda-benda asing yang bisa merusak sistem pesawat.   MiG-21F bisa mendarat di landasan yang berkualitas buruk sekalipun, contohnya adalah landasan Morotai yang berlumut dan tidak layak pakai.   Hal ini berbada dengan pesawat tempur modern yang hanya bisa menggunakan landasan aspal mulus, bebas sampah.

Walaupun bisa dibilang sudah maju, desain MiG-21F sebenarnya masih sangat kasar.  Suatu saat pernah landing gear door (tutup roda pendarat) sebuah pesawat rusak.   Ground crew melepas landing gear door dari pesawat lain sebagai pengganti. Ternyata ukurannya tidak sama !  Ini tidak akan terjadi di pesawat tempur modern.

Selain kemampuan manuver yang rendah, MiG-21F juga memiliki kekurangan dalam masalah endurance.   Endurancenya tidak terlalu lama karena kapasitas bahan bakar internal 1.470 liter dan tanki eksternal 490 liter, hanya bisa digunakan untuk terbang selama 1 jam 45 menit.   Ini tentunya sangat berbahaya bila pesawat terlibat dalam pertempuran udara yang memakan  waktu lama atau menyergap lawan di jarak yang jauh dari pangkalan.

Kecepatan dan ketangguhan MiG-21F juga tidak diimbangi dengan sistem avionik yang memadai.  Di dalam cockpit hanya terdapat peralatan semacam Automatic Direction Finder (ADF).   Sebagai pesawat interceptor, kecepatan yang dimiliki oleh pesawat ini memang boleh diandalkan, namun tanpa adanya sistem avionik yang memadai di cockpit, maka penerbang harus bekerja keras terbang sambil menemukan sasaran di udara.


2 Komentar

  1. haryo mengatakan:

    Terima kasih,,,bravo Tni Au,,semoga tambah jaya..

  2. Muly De La Vega mengatakan:

    Bagaimanapun, pesawat tempur Mig-21 Fishbed tetaplah pesawat tempur yang terbukti ketangguhan, kehandalan, dan kebandelannya. Terbukti, pesawat tempur Mig-21 Fishbed telah terjual hingga 12.000 unit dan ini adalah rekor yang spektakuler untuk ukuran pesawat tempur.

    Hingga kini, pesawat tempur berdesain unik itu masih menjalani masa pengabdian pada angkatan udara berbagai negara di dunia. China juga masih memproduksinya dengan nama Shenyang atau Chengdu dan memiliki nama gaul F-7. Mig-21 Fishbed yang diproduksi oleh China sampai era sekarang masih dipesan oleh angkatan udara beberapa negara Afrika guna menambah kekuatan armada udara mereka,

    Ak-47 di udara adalah julukan lain yang tepat baginya. Bandel dan ternyata mampu ditingkatkan kemampuannya dalam masalah avionika, sistem radar, atau sistem persenjataan modern. Angkatan udara Rumania sudah melakukan modernisasi dengan melibatkan Israeli Aircraft Industries sehingga melahirkan Mig-21 Lancer.

    Ketangguhannya (selain kekurangan dalam hal daya tahan) telah diakui oleh para ace udara USAF atau US Navy dalam perang Vietnam. Kalaupun ia memiliki kekurangan, setahu saya kekurangan itu malah merangsang pilot dan para teknisinya untuk menjadi kreatif. I miss You, Mig-21!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: