Beranda » Dog Fight - Pertempuran Udara » Dog Fight – Rumus Dasar Pertempuran Udara

Dog Fight – Rumus Dasar Pertempuran Udara

Taktik pertempuran pada umumnya didefinisikan sebagai seni atau ilmu dari kekuatan yang sedang bermanuver dalam pertempuran dengan berdasar prisip-prinsip yang telah digariskan.  Dalam arti yang lain adalah sebuah cara untuk mendapatkan hasil yang maksimum dengan usaha dan resiko minimum.  Setapi hari, para penerbang Iswahjudi mengasah ketrampilan, berjumpalitan di udara, mencoba setiap taktik yang dimiliki.  

Taktik pertempuran udara juga kemampuan para penerbang sangat tergantung dari kharakteristik dan kemampuan pesawat.   Dengan pesawat yang baik, dilengkapi kemampuan persenjataan yang memadai, maka penerbang akan mampu melaksanakan setiap taktik untuk mencapai kemenangan pertempuran.   Sebaliknya dengan kemampuan yang rendah, jumlah yang minimum, mustahil para penerbang bisa mempraktekkan taktik-taktik modern.   

Kalau melihat taktik pertempuran udara di awal PD I, kita akan melihat sebuah pola tradisional dari perkembangan pertempuran udara.  Bila pesawat saling bertemu dan bertempur, mereka hanya saling berputar, menembak, dan melempar bahan peledak.  Bila pertempuran di atas belum cukup sampai bahan bakar habis, mereka mengadakan pendaratan darurat, dan berduel kembali di bawah seperti cowboy.  Ditembak mati atau menjadi tawanan akan mengakhiri pertarungan tersebut.  Hal ini mungkin terasa lucu bagi para penerbang fighter modern, namun begitulah nenek moyang para penerbang fighter  berjuang demi bangsanya masing-masing. 

Sejalan dengan perkembangan tehnologi dan pengalaman dari para penerbang, mereka kemudian mengembangkan taktik-taktik pertempuran yang digunakan.  Dalam beberapa leiteratur menyatakan bahwa taktik yang digunakan pertama kali untuk pertempuran udara adalah dengan memanfaatkan ketinggian.  He who has height, controls the battles.  Dengan memiliki ketinggian lebih dari pesawat musuh, maka kecepatan akan semakin bertambah saat menyergap musuh di bawah, memiliki daya kejut yang lebih baik, dan dengan kecepatan yang masih tinggi akan memudahkan pesawat untuk naik lagi/melarikan diri.

Dengan memanfaatkan ketinggian, maka Immelman terinspirasi untuk menciptakan sebuah taktik yang nantinya disebut dengan Immelman turn.  Dari posisi yang lebih tinggi, pesawat diarahkan ke pesawat lawan.  Pada saat membidik target, kecepatan pesawat bertambah.  Sehingga setelah penembakan selesai, pesawat yang masih berkecepatan tinggi, bisa dibawa naik lagi dengan cepat sampai mendekati stall, wing over, dan menyerang lagi.  Di Inggris, Albert Ball mengembangkan taktik penyerangan yang sama, yaitu mengambil start dari ketinggian dan bersembunyi dibelakang pesawat musuh, pada saat jarak sudah didapatkan maka dia langsung menghunjam dan tersemburlah peluru dari senapan mesin Ball.  Hanya saja, Ball belum memanfaatkan vertikal manuver sepenuhnya. 

Oswald Boelcke adalah orang pertama yang mampu menggambarkan setiap pertempuran yang dilakukan dalam sebuah sistem analisa yang baik.  Sejak tahun 1916, Boelcke juga memulai mengajarkan formasi taktik pertempuran.  Boelcke yang kemudian dikenal sebagai tokoh terbesar yang meletakkan dasar-dasar pertempuran udara, menggariskan beberapa rumusan pokok tentang taktik pertempuran udara sebagai berikut  :

 1.       Dapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya sebelum menyerang.  Jika mungkin, letakkan matahari agar selalu dibelakang ekor pesawat.  Keuntungan terbesar dalam sebuah pertempuran adalah faktor daya kejut.  4 sampai 5 pesawat bisa saja hancur tertembak oleh sebuah pesawat yang memiliki tempat persembunyian yang baik. Dengan menempatkan pesawat di ketinggian, apalagi berada pada matahari, maka musuh akan kesulitan untuk melihat posisi kita.  Daya kejut juga didapatkan dengan menggunakan lapisan awan untuk bersembunyi dan mendekat pesawat lawan lewat posisi ekor. Yang perlu disadari, saat itu belum ada RADAR seperti sekarang.

2.       Mulai serangan pada saat yang tepat.  Pengambilan keputusan dan mental penerbang fighter menempati faktor penting dalam situasi perang.  Sebuah serangan yang dimulai terlalu awal justru tidak akan mendapatkan hasil apa-apa.  Serangan tersebut juga akan menambah keberanian musuh untuk menghantam balik posisi kita.

 3.       Tembaklah musuh pada jarak dekat dan saat musuh benar-benar dalam penglihatan kita.   Dalam PD I, tembakan yang baik berada dalam jarak 25 yard atau kurang.  Dalam jarak tembak, pesawat yang diam sebenarnya bisa saja dihancurkan dalam jarak beberapa ratus yard.  Namun lain soal dengan pesawat yang bermanuver.  Dalam menembak, kita harus yakin benar bahwa yang kita tembak adalah pesawat musuh.  Pada saat itu belum ada radio, sehingga mungkin terjadi penerbang tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan dalam cuaca yang kurang baik.

 4.       Bila kita menangkap gerakan musuh, jangan sampai melepas perhatian hingga musuh menghilang lagi.  Bila kita mengikuti menuver musuh, jangan sampai mudah tertipu.  Yakinkan bahwa kita selalu dalam posisi siaga, walaupun musuh sudah terlihat tak berdaya.

 5.       Dalam beberapa bentuk serangan, sangat penting memulainya dari belakang.  Ada 4 alasan mengapa penerbang harus melkukan hal ini.  Pertama, bidikan penerbang tidak ada defleksi karena pesawat menembak dalam posisi level off.  Kedua, waktu bidik menjadi lebih lama, karena musuh tidak melihat kehadiran pesawat kita.  Ketiga, jika pesawat target adalah single seater maka dia tak akan bisa membalas tembakan tanpa membelokkan pesawat ke arah kita.  Keempat, Pesawat kita sangat sulit untuk bisa dilihat.

 6.       Jika musuh datang menyerang dalam jarak dekat, jangan coba-coba lari sambil membelakanginya.  Bawalah pesawat untuk saling berhadapan.

 7.       Jika menyeberang garis pertahanan musuh, jangan sampai kehilangan arah untuk kembali.  Untuk penerbang yang masih muda memang akan dengan sangat mudah kehilangan arah, namun untuk penerbang yang senior mempunyai kewajiban untuk membagi perhatian antara pertempuran dan posisi.

 8.       Miliki dasar-dasar pertempuran kelompok, 4 atau 6.  Ketika pertempuran terbagi menjadi pertempuran 1 lawan 1, pastikan bahwa tidak ada 2 pesawat yang menuju 1 pesawat musuh.

Setelah merumuskan 8 prinsip pertempuran ini, Boelcke membentuk unit tempur pertama Jerman, Jagdstaffel.  Mereka bertempur dengan pesawat yang dimiliki Skadron, melawan pesawat-pesawat sejenis juga pesawat hasil tangkapan.  Jagdstaffel mulai beroperasi aktif pada bulan September 1916.  Namun sayang, sebulan kemudian Boelcke sendiri tewas dalam sebuah serangan formasi dengan para wing man-nya.  Dia gugur karena formasi yang dibentuknya sendiri, ternyata melanggar aturan ke-8 dari Boelcke Fighting Formation Role.

Kelemahan mendasar dari formasi pesawat tempur pada PD I adalah ketiadaan sarana komunikasi antar pesawat.  Sehingga koordinasi pertempuran tidak bisa terlaksana dengan baik.  Pada masa itu, instruksi diberikan leader dengan tanda-tanda tertentu yang mudah dimengerti oleh wing man.  Kode-kode tersebut diberikan dalam bentuk gerakan tangan, cahaya berwarna-warni, dan gerakan pesawat.  Gerakan tangan paling jarang digunakan karena banyak menimbulkan kesalahan.  Namun yang paling sering digunakan adalah dengan gerakan pesawat. Pertempuran udara yang melibatkan jumlah pesawat yang besar, yang biasa disebut Dogfight, mulai sering terjadi pada tahun 1917.

Dog fight yang dilaksanakan oleh para penerbang Iswahjudi tentunya sudah jauh lebih modern, sejalan dengan perkembangan sistem dan tehnologi kedirgantaraan yang dimiliki.   Para penerbang baru mulai dikenalkan pertempuran udara dengan sebuah latihan Basic Fighter Maneuver (BFM).   Pada fase ini penerbang yunior dikenalkan bagaimana mengambil posisi menembak dengan gun dan peluru kendali.   Kedua jenis ini yang sekarang digunakan dalam pertempuran udara di Iswahjudi.  

Sebuah pesawat yang diterbangkan oleh para penerbang senior akan bertindak sebagai pesawat target.   Dengan tingkat kesulitan manuver yang dikurangi, penerbang yunior yang didampingi oleh seorang instruktur di cockpit belakang akan bisa belajar menmbak dengan cara yang benar.

Pada fase BFM, pertempuran hanya dilaksanakan dengan dua pesawat dan manuver yang paling sederhana dan mudah.   Bila penerbang sudah mahir dalam fase ini, maka pelajaran akan dilanjutkan padaa fase Air Combat Maneuver (ACM).   Jumlah pesawat yang ikut dalam pertempuran tetap dua, namun tingkat kesulitan manuver ditingkatkan.   Bahkan pada akhir fase ACM, siswa sudah diperkenankan melakukan free maneuver dimana ia bebas melakukan manuver apapun untuk mempertahankan diri dari serangan musuh.

Pada maneuver dua pesawat, para penerbang yunior juga akan berlatih melaksanakan interception (peyergapan).   Penyergapan dilaksanakan bila ada pesawat musuh yang mencoba menerobos wilayah udara kita.   Dengan bantuan radar permukaan, penerbang akan melaksanakan misi ini.   Penerbang akan belajar bagaimana untuk mencari pesawat musuh yang nampak di layar radar sampai masuk jarak pandang atau jarak tembak yang optimum.   Apabila musuh ternyata mengendus kehadiran pesawat penyergap dan melaksanakan maneuver penyelamatan, bertempur dalam jarak dekat, maka terjadilah dog fight.

Latihan dog fight dalam jumlah yang besar dinamakan dengan Air Combat Tactic (ACT).   Pertempuran bisa dilaksanakan antar 4 pesawat bahkan lebih.   Pada kondisi seperti inilah, situasi menjadi begitu rumit bagi penerbang yang tidak pernah dalam dog fight atau penerbang yang masih memiliki jam terbang minim.   Sehingga penerbang secara kontinyu harus berlatih dari  jumlah pesawat yang kecil sampai jumlah yang besar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: