Beranda » Teori Air Power » Doktrin Angkatan Udara – Selayang Pandang

Doktrin Angkatan Udara – Selayang Pandang

Langkah awal dalam mewujudkan postur Angkatan Udara adalah dengan menyusun doktrin yang akan digunakan.  Berpijak pada kenyataan yang ada bahwa  ruang gerak Angkatan Udara telah meluas, meninggi dan melingkupi seluruh ruang angkasa, maka suatu saat nanti Angkatan Udara tidak lagi mengacu pada Doktrin Kekuatan Udara (Air Power Doctrine) namun mengacu Doktrin Kekuatan Dirgantara (Air Space Doctrine), sebagai asas-asas fundamental yang dijadikan pedoman bagi Angkatan Udara dalam melaksanakan tugas pokoknya.  

Penetapan Doktrin Kekuatan Dirgantara sebagai pengganti dari Doktrin Kekuatan Udara merupakan langkah realistis bagi  Angkatan Udara untuk selangkah lebih maju dalam melihat perubahan lingkungan strategis yang berakibat pada berubahnya postur kekuatan Angkatan Udara modern.  Bukanlah sesuatu yang berlebihan mengingat teknologi, hukum dan  sumber daya manusia yang berkualitas untuk meningkatkan posisi tawar negara melalui kekuatan  Angkatan Udara, harus segera dimiliki.     Ini sekaligus tantangan dan rangsangan bagi generasi muda  Angkatan Udara untuk selalu berpikir maju dan modern, juga penyadaran bagi segenap bangsa Indonesia untuk membangun kekuatan dirgantara sebagai salah satu aset nasional.

Sifat futuristik dari Doktrin Angkatan Udara yang mengacu pada Doktrin Kedirgantaraan, tidak berarti harus meninggalkan nilai-nilai dasar dari doktrin itu sendiri sebagai  “A fundamental strategy to wage the war” dimana doktrin harus dapat diaplikasikan, mengoptimalkan kinerja organisasi, serta mengorganisir seluruh kekuatan yang dimiliki.     Jenderal (AU) Henry H. (“Hap”) Arnold mengatakan “Any Air Force which doesnot keep its doctrines ahead of its equipment and its vision far into the future, can only delude the nation into a false sense of security.”[1] 

Perang dan Konflik Bersenjata

Perang dan konflik bersenjata sering diartikan dalam konteks yang sama.   Dimana, perang sering didiskripsikan sebagai bentuk yang ekstrim dari konflik bersenjata (arm conflict) dan biasanya terjadi antara dua negara.   Konflik bersenjata juga berimplikasi pada pencapaian tujuan dengan cara kekerasan.   Palang Merah International (The Red Cross) mendefinisikan konflik bersenjata sebagai “Any difference between two states leading to the intervention of the members of the armed forces is an armed conflict.”  

Penyelenggaraan perang adalah urusan pemerintah.   Clauzewitz meng-gambarkan bahwa perang adalah “The continuation of policy by other means.”[2]   Jika perang merupakan instrumen dari politik, maka tujuan politik membentuk tujuan militer, lingkup tugas dan intensitas operasi militer.   Perang dan konflik bersenjata bertendensi dalam bentuk bentrokan fisik dan sulit diprediksi.   Faktor ketidaksempurnaan dan ketidakefisienan personel, keterbatasan logistik, cuaca, geografi dan medan musuh dapat menyulitkan dan membuat frustasi pelaksana lapangan.   Lebih lanjut Clausewitz menggambarkan, “In war it is difficult for normal efforts to achieve even moderate results, friction is the force that makes the apparently easy difficult.”[3]    Bahwa perang memerlukan alat penyatu agar semua komponen yang berada di dalamnya mampu seiring-sejalan dalam pelaksanaannya.   Untuk itulah diperlukan doktrin.

Doktrin yang terbentuk sebagai kombinasi dari sejarah, teori dan teknologi, merupakan permasalahan yang sangat mendasar dalam organisasi Angkatan Udara.   Jenderal Curtis Emerson LeMay mengatakan “At the heart of warfare lies doctrine.   It represents the central beliefs for waging war in order to achieve victory.   Doctrine is of the mind, a network of faith and knowledge reinforced by experience which lays the pattern for the utilization of men, equipment, and tactics.   It is building material for strategy.   It is fundamental to sound judgment.”   Ini menunjukkan bahwa doktrin menempati tempat yang strategis dalam organisasi pertahanan, termasuk Angkatan Udara.    

Stratifikasi Doktrin Perang

Stratifikasi doktrin dalam perang terdiri dari sebagai berikut :

1.         Strategi Raya.

Strategi Raya merupakan aplikasi dari sumber daya nasional untuk mencapai tujuan kebijakan nasional.   Strategi Raya berhubungan dengan seluruh aspek yang mempengaruhi perang termasuk bidang ekonomi, industri, politik dan militer.

2.         Strategi Militer (Military Strategy)

Strategi Militer merupakan aplikasi dari kemampuan militer untuk membantu tercapainya tujuan Strategi Raya.    Strategi Militer dirumuskan dari kebijakan politik pemerintah.  Strategi Militer berhubungan erat dengan operasi militer, sumber daya yang digunakan dan langkah-langkah umum yang akan diaplikasikan.

3.         Doktrin Operasional

Doktrin Operasional menggariskan langkah-langkah  dalam penggunaan sumber daya militer dalam mencapai tujuan strategis militer.  Doktrin ini mengatur bagaimana kampanye dan operasi militer diarahkan, direncanakan, beserta seluruh pentahapannya.   Komandan/Panglima pada tingkat operasional, Komando Gabungan/Komando Tugas Gabungan, bertanggung jawab terhadap keseluruhan rencana kampanye dan penghubung utama antara perumusan tujuan militer dan pengawakan kekuatan militer pada tingkat taktis.

4.         Doktrin Taktis

Doktrin Taktis mengatur tentang penggunaan sumber daya militer untuk mencapai tujuan tingkat operasional.   Doktrin taktis adalah tempat dimana taktik lapangan direncanakan, penggelaran kekuatan dan pertempuran dimenangkan.  Doktrin taktis berhubungan erat dengan kegiatan para komandan lapangan.

Kategori Konflik

Dalam pelaksanaan tugas, Angkatan Udara mengenal beberapa macam kategori konflik.   Garis pembatasnya sering kabur karena sebuah konflik biasanya akan meluas dan melewati batas-batas yang ada.   Namun demikian secara umum konflik bias dikategorikan sebagai berikut  :

1.         Perang Umum (General War)

Perang Umum merupakan konflik antara kedua kekuatan karena perbedaan kepentingan, untuk dapat mempertahankan eksistensi masing-masing.   Contoh terakhir dari Perang Umum adalah Perang Dunia II.   Perang Umum mungkin dimulai penggunaan persenjataan konvensional yang terbatas, namun meningkat setiap saat pada penggunaan persenjataan pemusnah massal (weapon of mass destruction).

2.         Konflik Terbatas

Konflik Terbatas merupakan konflik international yang menjadi bagian  dari  Perang Umum, yang di dalamnya tidak diarahkan pada penggunaan senjata nuklir.    Contoh dari Konflik Terbatas adalah Perang Korea.    

3.         Koflik Regional

Konflik Regional merupakan suatu konflik terbatas yang muncul sebagai isu-isu regional.   Konflik mungkin terjadi dalam suatu wilayah regional, namun dampaknya meluas di luar wilayah tersebut.  

4.         Perang Saudara (Civil War)

Perang Saudara adalah perang yang terjadi secara luas dalam suatu negara antara pihak-pihak yang berseberangan.   Salah satu atau kedua pihak mungkin mendapatkan bantuan dari luar negeri

5.         Pemberontakan

Pemberontakan merupakan aksi dari suatu kelompok kecil dalam suatu negara dengan persenjataan terbatas untuk mendorong adanya perubahan politik dengan cara subversi, propaganda, dan tekanan militer.  

6.         Terorisme

Terorisme didefinisikan sebagai aksi kekerasan yang bertujuan politik yang dilakukan oleh suatu kelompok atau individu, biasanya lebih ditonjolkan untuk mempengaruhi masyarakat luas daripada korban yang dihasilkan.

Doktrin Angkatan Udara

Doktrin dapat didefinisikan sebagai “Prinsip-prinsip dasar yang mengarah-kan kekuatan militer untuk melaksanakan kegiatannya dalam rangka mendukung tercapainya tujuan nasional.  Angkatan Bersenjata Inggris memiliki rumusan singkat bahwa “Doctrine is what is taught”.   Dan secara lengkap doktrin adalah “The Body of Principles, beliefs or ideas in any branch of knowledge which is put forth as speculative or self-evidence truth.” Saat diaplikasikan dalam ruang pengabdian TNI Angkatan Udara maka doktrin merupakan “Konsep organisasi tentang kekuatan dirgantara dan apa yang bisa disumbangkannya melalui misi Angkatan Udara dalam mendukung pencapaian tujuan nasional.”

Sejak TNI Angkatan Udara berdiri, sejarah telah mencatat bahwa usaha untuk menyusun doktrin angkatan merupakan perjuangan yang   tidak  mudah.   Ada lima masalah yang dihadapi dalam penyusunan doktrin.  Pertama, TNI Angkatan Udara sering mengesampingkan teori kekuatan dirgantara dan tidak mengacu pada pencapaian misi atau tujuan dalam penyusunan doktrin.   Kedua, itikad TNI Angkatan Udara dalam proses pengaplikasian doktrin pada tataran operasional termasuk perubahan organisasi,  sering tidak serius.   Ketiga,  adanya ketakutan bahwa doktrin akan berlawanan dengan kenyataan yang akan dihadapi sehingga tidak dilaksanakan optimal.  Keempat, obsesi untuk mendapatkan anggaran yang besar tanpa melihat teori kekuatan dalam pelaksanaan program kerjanya.  Untuk masalah ini, Carl Builder menyebutnya dengan nama Icarus SyndromeKelima, adanya intervensi dan pola penyusunan top-down yang membatasi ruang gerak doktrin angkatan.

Kualitas kepemimpinan mungkin merupakan kunci terpenting dari semua masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan doktrin, karena tanpa adanya semangat moral dan kejujuran mustahil doktrin diaplikasikan dengan baik.   Bila doktrin telah disusun dengan anggapan bahwa doktrin itu benar namun pelaksanaannya ditemukan pelanggaran, maka biasanya organisasi akan begitu mudah untuk mengganti/memecat panglima dan komandan lapangan.   Sebaliknya, bila para panglima dan komandan lapangan telah menjalankan doktrin dengan benar namun organisasi tidak pernah berhasil terlepas dari belenggu permasalahan dan kegagalan, seberapa kemampuan para pemimpin untuk mengganti doktrin?

Doktrin Angkatan Udara dibagi menjadi dua bagian yaitu Doktrin Dasar dan Doktrin Operasional. Doktrin Dasar Angkatan Udara memiliki pengertian “Suatu petunjuk umum yang bersifat tetap dalam waktu tertentu tentang bagaimana Angkatan Udara harus diorganisasikan, dilatih, dilengkapi, diawaki dan dipertahankan.  Doktrin Dasar merupakan kerangka kerja TNI Angkatan Udara untuk membangun doktrin operasional dan doktrin taktis.”   Sedangkan Doktrin Operasional TNI Angkatan Udara merupakan “Prinsip-prinsip dasar yang mengarahkan penggunaan kekuatan dirgantara dalam operasi-operasi utama.”   Doktrin Operasional menjelaskan hubungan antara tujuan, kekuatan, lingkungan dan langkah-langkah untuk meyakinkan bahwa operasi-operasi udara menghasilkan kontribusi dalam mencapai tujuan yang digariskan.

Kemampuan Inti TNI Angkatan Udara  Modern 

Kemampuan inti yang perlu dimiliki dalam rangka mewujudkan postur TNI Angkatan Udara  2010 adalah sebagai berikut :

a.         Kemampuan Pengendalian Udara (Control The Air).   Kemampuan pengendalian udara merupakan kemampuan untuk menciptakan kondisi wilayah udara, daratan dan lautan yang aman dari ancaman dan gangguan kekuatan udara musuh, sehingga memberikan kebebasan bergerak bagi kekuatan sendiri.  Kemampuan pengendalian udara merupakan persyaratan utama bagi upaya mempertahankan kedaulatan negara serta keberhasilan suatu operasi militer baik operasi darat, laut atau udara, karena tanpa kemampuan pengendalian udara, suatu negara rawan terhadap serangan udara musuh.

b.         Kemampuan Penyerangan Udara (Air Strike).   Kemampuan penyerangan udara merupakan kemampuan untuk melancarkan serangan dari udara terhadap sasaran baik yang ada di darat ataupun di laut.  

c.         Kemampuan Angkutan Udara (Air Support).   Kemampuan angkutan udara merupakan kemampuan untuk mengerahkan dan memindahkan manusia dan barang melalui media udara, baik pada masa damai maupun pada masa perang.    

Operasi Udara

Operasi udara yang dilaksanakan oleh TNI Angkatan Udara adalah sebagai berikut :

1.         Operasi Udara Pada Masa Perang.

2.         Operasi Udara Selain Perang.

 

 


[1] Dr James A. Mowbray, Air force Doctrine Problems 1926-Present, Air War College Faculty, hlm. 25

[2] C. Von Clausewitz, On War, P. Paret, Princeton, 1976, hlm 121.

[3] On War, Ibid.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: