Beranda » Nasional » Indonesian Air Show 1996

Indonesian Air Show 1996

Penyelenggaraan IAS ’96 tak lepas dari sebuah skenario besar untuk menyejajarkan Indonesia di panggung dunia. Rencana yang kalau dirunut ke belakang tak lepas dari master plant pemerintahan Orde Baru sejak dimulainya era kedirgantaraan pada tahun 1976. Kala itu, pemerintah meresmikan pabrik pesawat terbang di Bandung dengan nama PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), menggantikan nama sebelumnya PT Nurtanio. Sejak saat itu, secara ambisius pemerintah menyusun langkah-langkah taktis strategis merancang-bangun pesawat terbang lewat kerjasama dengan pabrik pesawat terbang Spanyol CASA, pesawat CN-235 Tetuko.

Indonesia bangga dapat menyelenggarakan pameran kedirgantaraan bertaraf internasional. Karena, saat itu, tidak banyak negara di dunia yang dapat menyelenggarakan kegiatan sejenis. Selain itu, IAS ’96 juga diselenggarakan pada saat yang tepat. Sebab tahun 1996 telah dicanangkan sebagai Tahun Bahari dan Dirgantara. “Pada tahun 96 inilah kita bangkitkan kembali semangat dan jiwa bahari bangsa kita, serta menggugah kecintaan kita terhadap dirgantara.           

Acara pembukaan yang menggairahkan wajah Indonesia itu, dimeriahkan dengan fly pass pesawat-pesawat TNI AU Northrop F-5E Tiger II, British Aerospace Hawk Mk-53, dan pesawat-pesawat andalan industri dalam negeri mulai dari NC-212, CN-235, helikopter NBO-105, SA.330 Puma, dan AS.332 Super Puma. Pemandu acara dalam bahasa Indonesia dan Inggris juga tak henti-hentinya mengumumkan demonstrasi terbang pesawat komuter N-250 yang disebut sebagai Bintang Pameran IAS ’96. Suasana emosional menghampiri wajah-wajah segenap yang hadir.           

Sekitar sebulan menjelang dimulainya IAS ’96, dunia internasional utamanya pemerhati militer, sempat dibuat geger dan diselimuti perasaan cemburu. Pasalnya, dengan tidak mengecilkan arti kehadiran timaerobatik Red Arrows  dan Golden Dreams dari Inggris serta Elang Biru kebanggaan tuan rumah, panitia menyebut-nyebut bakal ikutnya trio pengebom B-2A, F-117A, dan B-1B. Sekadar mengingatkan, waktu itu keberadaan B-2A dan F-117A benar-benar siluman dan sangat misterius. Hanya segelintir orang baru menyaksikan dan merasakan kehadirannya. Amerika Serikat pun sebagai pemilik, dengan sengaja mengondisikan kemisteriusan kedua armadanya ini. Acara pembukaan itu, kata panitia, masih lagi akan dimeriahkan fly pass pesawat-pesawat tempur Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) yang take off dari kapal induk USS Nimitz.

Sebagai negara berkembang yang pada masa Pemerintahan Orde Baru menargetkan pelaksanaan air show sepuluh tahun sekali (setidaknya paradigmanya demikian hingga IAS ’96), panitia yang dikomandoi para teknokrat itu terbilang berhasil. Setidaknya transaksi yang dilakukan mencapai 4,48 miliar dollar AS atau sekitar Rp10,304 triliun. Senilai 2,73 miliar dollar AS merupakan transaksi dengan IPTN dan 1,75 miliar dollar AS dengan perusahaan nasional lainnya.

Seratus empat belas pesawat dari 22 negara peserta digelar di pelataran parkir IAS ’96. Lebih dari separohnya (59 pesawat) terbang demo (dynamic show) mengitari arena seputar kawasan Bandara Soekarno Hatta untuk menunjukkan kemampuan manuver atau paling tidak memamerkan keandalan sistem teknologi yang digunakan pesawatnya. Termasuk pula diantaranya pesawat-pesawat angkut B777 andalan pabrik Boeing, Concorde ikon British Aerospace dan Aerospatiale, A340 kepunyaan Airbus, N250 andalan IPTN, hingga Sukhoi Su-30 dan Ilyusin IL-76 andalan Rusia yang datang dengan kekuatan penuh. Ketakjuban para penonton semakin menjadi-jadi dengan disuguhkannya manuver-manuver aerobatik dari tim aerobatik selama 15 menit per tim atau sekitar 75 menit per hari.

Lazimnya pada setiap berlangsungnya air show di belahan Bumi manapun, curi-mencuri perhatian jadi kompetisi tersendiri diantara eksibitor, terutama pihak pabrikan. Dalam kesempatan inilah, beberapa kalangan TNI berkesempatan mencicipi terbang dengan penempur spektakuler Su-30. Daftarnya mulai dari Lettu Pnb. Agung Sasongkojati, Lettu Pnb. Andis Solickhin, Lettu Pnb. Budi Ramelan, Lettu Pnb. Nyoman Budi Sedana, Letjen Soejono, Marsma Purnomo Sidhi, Marsma Djatmiko, Marsma Irawan Saleh, Letkol Pnb. Erris Haryanto. Satu-satunya orang sipil yang berkesempatan diajak adalah chief test pilot PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Erwin Danuwinata – penerbang andal ini gugur bersama tim uji PTDI dalam sebuah kecelakaan fatal saat menguji kemampuan LAPES (Low Altitude Parachute Extraction System) pesawat CN-235 versi militer di Lanud Gorda, Serang, Tangerang pada 22 Mei 1997.

 Maksud Rusia tentu jelas, menarik kembali perhatian Indonesia yang pernah jadi operator terbesar pesawat-pesawat produksinya di belahan Selatan, untuk membeli pesawat tempurnya. Dan terbukti, beberapa tahun kemudian Indonesia dalam hal ini TNI AU, hampir saja mengoperasikan satu skadron Su-30MKI, sebelum akhirnya gagal karena terbelit masalah politis dan ekonomis. Secara keseluruhan, IAS ’96 telah berhasil meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa tingkat teknologi yang dikuasai Indonesia di bidang dirgantara sudah mulai diakui dunia.

Bandingkan dengan IAS ’86, bisa disebut IAS ’96 menunjukkan langkah maju yang pasti. Pada IAS ’86, fokus pemerintah waktu itu adalah untuk mendemonstrasikan pada dunia luar dan bangsa Indonesia sendiri bahwa kita sudah menginjak era industri dirgantara. Hal itu terbukti dengan CN-235 hasil desain bersama dengan CASA Spanyol. Waktu itu idenya lebih banyak ditekankan kepada teknologi dengan dukungan dana sepenuhnya oleh pemerintah. Komitmen ini memudahkan dalam pengelolaan dan penyelenggaraan. Lalu tengoklah pelaksanaan IAS ’96, sudah banyak melibatkan kerjasama dengan pihak swasta dan penggalangan dana secara profesional.


1 Komentar

  1. indrihadi mengatakan:

    salam kenal mayor budhiachmadi,

    sekedar tambahan informasi ayah saya juga ikut serta dalam uji coba Sukhoi tersebut, kebetulan waktu itu masih berkedudukan perwira aktif di tni-au hanya saja dikaryakan oleh Mabes TNI di IPTN sebagai Pilot Uji Terbang dan untuk mendampingi ALM Bapak Erwin Danuwinata dalam menerbangkan N250 dan melakukan manuver manuver aerobatik bersama crew lainnya, kebetulan saya juga hadir namun masih kecil🙂 (SMP kalau ngk salah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: