Beranda » Teori Air Power » Kekuatan Udara dan NKRI

Kekuatan Udara dan NKRI

Kita telah melihat bahwa sejak lahir sebagai organisasi yang mandiri tanggal 9 April 1946, banyak yang berubah dari TNI Angkatan Udara.  Profil organisasi dan kekuatan TNI Angkatan Udara sudah jauh berkembang kuantitas dan kualitasnya, namun substansi dasar permasalahan yang ada sepertinya tidak pernah berubah.  As the world changes, the Air Force must change with it.   Unfortunately, it is ill-prepared to move into the world; in fact, the Air Force was becoming increasingly unable to deal effectively with the old world.[1]   Adalah kenyataan yang harus diterima bahwa pertumbuhan signifikan TNI Angkatan Udara dari masa ke masa harus berhadapan dengan variabel tantangan yang terus meluas, serta menuntut postur kemampuan dan kekuatan yang di luar jangkauan.   

Pada saat ini masalah ketergantungan teknologi dan kecilnya anggaran, menjadi kendala utama bagi TNI Angkatan Udara.  Bahkan tingkat kesiapan alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dimiliki telah mencapai titik terendah dalam dua dekade terakhir.   Hal ini berpengaruh langsung pada kemampuan organisasi dalam pelaksanaan tugas pokok.    Selain itu beberapa masalah internal organisasi TNI Angkatan Udara dalam bidang operasi, logistik, manajemen personel, dan bidang-bidang lain juga perlu mendapatkan pembenahan secara bertahap, berlanjut dan berkesinambungan.

Strategi yang telah dijalankan termasuk perubahan demi perubahan yang dilakukan oleh TNI Angkatan Udara, pada dasarnya adalah proses metamorfosa postur dalam dunia yang selalu berubah.   Ke depan, kita perlu strategi yang tepat agar proses tersebut senantiasa menghasilkan eksistensi kemampuan TNI Angkatan Udara yang mampu bernegosiasi dengan variabel tantangan yang terus meluas tersebut, sebagai alat perang maupun sebagai alat diplomasi, pada ruang dan waktu yang telah ditetapkan dengan penyediaan anggaran yang terbatas.  

Kekuatan Udara dan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara kepulauan terbesar yang memiliki garis khatulistiwa terpanjang di dunia.  Wilayahnya membentang di antara dua benua dan dua samudera, membuat NKRI mempunyai posisi yang sangat strategis.    Selain arus lalu lintas laut dan udara yang padat, juga letak Geo Stationary Orbit (GSO) di garis katulistiwa menyebabkan banyaknya satelit di ruang angkasa kita.   NKRI juga memiliki sepuluh area perbatasan dengan negara tetangga, tiga diantaranya yaitu Malaysia, Papua Nugini, dan Timor Leste merupakan perbatasan darat. 

Dalam perjalanan sejarah NKRI, perbedaan kepentingan antar negara di kawasan Asia Tenggara, telah melibatkan kekuatan senjata sebagai salah satu faktor deterent dalam memenangkan diplomasi politik.  Sebagaimana digambarkan oleh Clausewitz, “War is the continuation of policy by other means.”   Perang dalam konteks sebagai faktor kesiapan militer, merupakan instrumen penting dari perjuangan politik negara di dunia internasional.  Sedangkan kekuatan udara modern merupakan ujung tombak teknologi modern yang memiliki faktor deterrent yang lebih besar dibandingkan kekuatan militer lainnya.

Di masa mendatang, tidak ada garansi bahwa perang dan konflik bersenjata akan lenyap sehingga perlu ada pengetahuan dan persiapan agar dapat melaksanakan perang dengan baik.    Sebagaimana dikatakan Frederick the Great, ”War is not an affair of chance.   A great deal of knowledge, study, and meditation is necessary to conduct it well.”    Dan selama negara-negara di muka bumi ini masih menggariskan tujuannya, maka perang, damai, konflik, kriminal dan terorisme akan bercampur aduk dalam roda perjuangan mereka.

Melihat realitas potensi ancaman dan perkembangan strategi perang modern di masa mendatang, Indonesia membutuhkan kekuatan udara yang tangguh.  Karena hanya dengan kekuatan udara akan mampu menyediakan keunggulan pada faktor kecepatan, ketinggian, fleksibilitas, mobilitas, daya penghancur, daya kejut, daya terobos dan daya jangkau untuk menghadapi setiap ancaman terhadap integritas negara dalam konteks strategi perang modern.

Dengan kondisi negara seperti saat ini tentunya tidak mudah untuk mewujudkan postur kekuatan udara yang diharapkan. Membangun, mengoperasikan dan memelihara kekuatan udara membutuhkan biaya mahal.   Namun, wacana-wacana yang berusaha menegaskan urgensi pengembangan kekuatan udara karena alasan mahalnya anggaran tentu saja harus kita singkirkan.  Perang di masa depan dengan segala perubahan dimensinya akan mengandalkan kekuatan udara. Setidaknya ada strategi nasional yang memuat tahapan-tahapan pengembangan kekuatan udara nasional dalam jangka panjang.

 Bagi TNI Angkatan Udara, tuntutan pengembangan jumlah kekuatan tempur yang dimiliki untuk mempertahankan wilayah kedaulatan kita memang mutlak adanya.   Namun dengan rendahnya pembiayaan anggaran negara pada sektor pertahanan, maka memiliki kekuatan tempur besar namun tidak bisa dipertahankan secara terus-menerus tentunya bukanlah solusi terbaik.   Sehingga konsep kekuatan yang paling relevan bagi TNI Angkatan Udara bukan pada sampai sejauh mana kekuatan udara diterapkan, tetapi pada bagaimana prospek pengembangannya di masa depan. 

Strategi dan Perubahan

Organisasi TNI Angkatan Udara merupakan sekumpulan organisasi kecil yang menjalankan berbagai macam fungsi.   Kita harus yakin bahwa dengan perubahan tuntutan situasi dan kondisi, maka setiap saat fungsi-fungsi yang dijalankan satuan-satuan di dalam tubuh TNI Angkatan Udara akan sering berbelit dan bertumpang tindih satu sama lain.  Oleh karena itu, tidak satu katapun yang tepat untuk menjawab persoalan ini kecuali keberanian melakukan perubahan untuk menjawab perkembangan baru.  Organisasi TNI Angkatan Udara harus selalu siap direkonfigurasi untuk menyesuaikan tuntutan perubahan situasi dan kondisi.

Pergantian sejarah telah menjadi saksi bahwa hukum perubahan selalu bersifat konstan.  Selama ini, program perubahan dalam skala besar lebih banyak bersifat top-down (dari atas ke bawah), memiliki visi, dan program-program tersebut juga membutuhkan partisipasi yang lebih besar pada tahap perancangan dan implementasinya.[2]   Hal inipun terjadi dalam sejarah organisasi TNI Angkatan Udara bahwa ide perubahan-perubahan lebih banyak timbul karena kebijakan di tingkat atas.  Namun, konsep tentang perubahan itu sendiri hendaknya memperhatikan aspirasi kelompok bawah (bottom-up) agar mengakomodasi semua masalah yang telah dan sedang dihadapi.

Pada kenyataannya, tidak satupun organisasi yang para personelnya serentak dan sukarela menerima diadakannya perubahan.  Paling tidak pada awalnya, program perubahan  tersebut harus dipimpin secara aktif oleh pemimpin tertinggi.  Karena pasti ada ketakutan, kekhawatiran dan sinisme dalam menanggapi perubahan tersebut.  Ketakutan akan muncul dari kemungkinan yang nyata tentang kehilangan kekuasaan, jabatan, pekerjaan, sampai dengan alokasi dana.  Ini terjadi bila perubahan itu berupa penyusutan (downsize) atau kekhawatiran bahwa para pemimpin dan penggantinya tidak menepati apa yang digariskan.  Sehingga komitmen-komitmen wajib disosialisasikan agar perubahan bisa berjalan berkesinambungan.

Organisasi dan Kemampuan

Mewujudkan sebuah organisasi yang memiliki keunggulan terus menerus dalam pelaksanaan tugas merupakan tantangan yang harus dihadapi TNI Angkatan Udara.  Sebagaimana diungkapkan di depan bahwa langkah maju organisasi TNI Angkatan Udara selalu tertinggal di belakang lompatan perkembangan teknologi dan ancaman.   Bahkan banyak Angkatan Udara negara berkembang diperlakukan sebagai lahan pembuangan sampah industri militer negara maju, dengan hanya memberikan alutsista berkualitas rendah.   Ini terjadi karena setiap negara selalu ingin mempertahankan keunggulan yang terus-menerus terhadap negara lainnya.

Kebijakan pasti telah berulang kali diambil sebelumnya.  Keberhasilan kebijakan sebuah organisasi di masa lalu adalah apa yang kita lihat sekarang, yang  mana, esensi permasalahannya tidak pernah berubah, yaitu ketidakmampuan mengejar laju perkembangan teknologi dan ancaman.  Konsep perubahan yang dilaksanakan tidak menghasilkan apa-apa selain kata berubah itu sendiri.   Sehingga tantangan bagi kita adalah bagaimana kebijakan perubahan tidak bernasib sama seperti fakta sejarah di masa lalu.

Sebuah strategi yang tepat diperlukan untuk mewujudkan sebuah postur TNI Angkatan Udara yang memiliki keunggulan terus-menerus.   Maka TNI  AU perlu memiliki blue print  sebagai  “Detailed plan of work to be done”, bagi TNI Angkatan Udara bukan saja berbicara kuantitas dan kualitas kekuatan yang menjadi tujuannya dan bukan pula keunggulan yang terus menerus.  Menurut Alan Stephens, pola pengembangan Angkatan Udara bisa dibedakan menjadi dua jenis, yaitu threat-specific planning dan threat ambigious planning.   Keduanya mendasarkan pengembangannya berdasarkan pengenalan yang amat baik pada  pola ancaman.   Pola threat-specific planning  seperti yang digunakan oleh Israeli Air Force (IAF), menggariskan rencananya berdasarkan pada spesifikasi ancaman yang jelas.   Dengan pola ini, Israel selalu menemukan skadron-skadron tempurnya sebagai salah satu daya tangkal terbaik untuk menahan serangan dari tetangganya.    Mengapa?    Karena IAF memiliki tujuan jelas dan menggariskan jenis ancaman yang jelas dan terpilih, hingga dengan tepat mencari pesawat dan sistem senjata yang sesuai.    Sedangkan tipe kedua, lebih sulit dari tipe pertama karena pola ini menekankan pada air superiority atau air dominance.

 


[1]  Lt Col Phillip S. Meilinger, The Problem with Our Air Power Doctrine, USAF.

[2] James A. Champy, Bersiap Menghadapi Perubahan Organisasional, dalam The Organization of the Future, the Drucker Foundation, 1997.

[3]  Jay R. Galbraith, Organisasi yang Dapat Direnkofigurasi, dalam The Organization of the Future, the Drucker Foundation, 1997.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: