Beranda » Teori Air Power » Kemampuan dan Nilai Strategis Air Power

Kemampuan dan Nilai Strategis Air Power

Untuk mengetahui kemampuan air power lebih jauh serta memahami nilai strategis air power, dibawah ini akan diuraikan secara garis besar tentang karakteristik air power, kemampuan inti air power, dan peran-peran yang dilaksanakan oleh air power sehingga air power dinilai memiliki kekuatan yang menentukan yang berdampak strategis. Sebelumnya kita ketahui terlebih dahulu definisi dari air power. Setiap negara memang memiliki definisi air power yang berbeda, namun demikian sebenarnya memiliki substansi yang sama. Negara-negara maju yang mempunyai ke-mampuan air power, pada umumnya mendefinisikan air power dari suatu kekuatan militer, misalnya Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Pengertian tersebut sebagai berikut :

Air Power adalah kemampuan memproyeksikan kekuatan militer di udara atau ruang angkasa oleh atau dari suatu wahana atau missile yang beroperasi diatas permukaan bumi. 

Wahana udara di definisikan sebagai pesawat terbang, helicopter atau pesawat tanpa awak. 

(the ability to project military force in air or space by or from a platform or missile operating above the surface of the earth. Air platforms are defined as any aircraft, helicopter or unmanned air vehicle). 

Sedangkan definisi air power dari negara-negara berkembang seperti halnya Indonesia sebagai berikut :

Kemampuan suatu negara dalam merekayasa dan menggunakan wahana yang beroperasi di atau melalui dirgantara untuk melindungi kepentingan nasional. 

 

Kemampuan Air Power.

Karakteristik Air Power. Pada dasarnya yang disebut dengan karakteristik air power adalah menjelaskan tentang apa yang membedakan air power atau what is distinctive about air power. Karakteristik air power akan menunjukkan kekhususan air power sehingga membedakan dengan kekuatan darat (land power) dan kekuatan laut (sea power). Kekhususan tersebut disebabkan karena media yang dilalui adalah udara yang tidak mengenal batas wilayah maupun rintangan seperti halnya media daratan maupun lautan. Kekhususan tersebut timbul karena dampak produk teknologi yang diwarnai dengan beberapa ilmu antara lain aerodinamika, engineering, phisika, telekomunikasi, perhitungan matematik, ekonomis, cuaca dan logistik sehingga penggunaan udara sebagai media pertempuran memiliki karakteristik yang berbeda. Oleh karena itu angkatan udarapun memiliki kekhususan yang berbeda apabila dibandingkan dengan angkatan darat dan angkatan laut. Sebagai konsekuensi logis, kekuatan udara memiliki aplikasi yang berbeda baik pada tingkat taktis, operasional, maupun strategis. Karakteristik air power selain memiliki daya kemampuan yang membedakan dengan kekuatan lainnya, juga memiliki limitasi

Daya Kemampuan Air Power. Daya kemampuan air power pada dasarnya memiliki tiga dasar kemampuan, antara lain:

a.      Ketinggian. Kemampuan pesawat yang dapat beroperasi di atas suatu ketinggian berarti akan mampu melaksanakan observasi dan memiliki keunggulan dibandingkan dengan kegiatan yang dilakukan di daratan maupun di lautan. Hal tersebut memungkinkan pesawat mampu terbang langsung melaksanakan penyerangan terhadap semua kekuatan musuh, baik yang berada maupun yang tidak berada di garis depan.

b.      Kecepatan. Kecepatan pesawat memungkinkan melaksanakan proyeksi kekuatan militer dengan cepat. Apabila kecepatannya semakin besar, maka misi yang dilaksanakan akan semakin singkat dan tugas yang dapat diselesaikan pada satu periode tertentu semakin banyak. Pada tingkat taktis, apabila kecepatan semakin besar maka akan mengurangi waktu pelaksanaan tugas operasi.

c.      Jangkauan. Seperti kita ketahui bahwa 70% dunia terdiri dari air, 30% daratan dan 100% adalah udara, sehingga kekuatan udara akan memiliki jangkauan yang lebih jauh dibandingkan dengan matra lain. Oleh karena itu pesawat terbang mampu memproyeksikan kekuatan militernya pada jarak yang relatif sangat jauh ke semua arah tanpa mampu dihalangi oleh bentuk permukaan bumi. Jangkauan kekuatan udara dapat bertambah bila dilakukan dneagn pengisian bahan bakar di udara. Jangkau tersebut sangat penting, tidak hanya untuk melaksanakan operasi pada jarak jauh namun juga dapat mencapai daerah sasaran yang terisolasi.

Kemampuan-kemampuan lain dari air power adalah berkat hasil dari penggabungan ketiga kemampuan inti tersebut, misalnya: fleksibilitas, mobilitas, daya tangap, daya konsentrasi, daya penetrasi, dan daya  hancur.

Limitasi. Kekuatan udara juga memiliki limitasi atau hal-hal yang membatasi antara lain:

a.      Tidak Permanen. Pesawat terbang tidak mampu tinggal di udara secara terus menerus, walaupun sudah mempunyai kemampuan mengisi bahan bakar di udara. Pesawat tempur juga tidak dapat dipersenjatai di udara, diganti awak pesawatnya atau melaksanakan perawatan selagi masih terbang. Kondisi ini membuktikan bahwa kekuatan udara tidak dapat tinggal permanen di udara.

b.      Daya Muat Terbatas. Pesawat terbang memuat barang-barang yang terbatas dibandingkan dengan kapal atau kendaraan darat. Namun untuk meningkatkan daya angkut, pesawat terbang bisa melaksanakannya secara berulang.

c.       Kerawanan.  Kekuatan udara memiliki kerawanan terhadap serangan baik yang dilakukan dari udara maupun darat. Kekuatan udara dikategorikan sebagai sasaran yang bernilai tinggi oleh lawan, oleh karena itu kekuatan udara memerlukan pengamanan yang ekstra ketat. Disisi lain kerusakan pesawat di udara tidaklah mudah diselamatkan, sehingga dikategorikan juga sangat rawan.

Kekuatan udara membutuhkan biaya yang sangat mahal karena memerlukan dukungan teknologi tinggi, termasuk biaya operasi dan perawatannya. Peralatan atau pendukung lain yang memerlukan biaya tinggi antara lain : system senjata udara, penerbang, awak pesawat, rudal, radar, simulator, personel spesialis, perlengkapan dukungan, spare part dan pangkalan udara. Limitasi lain, misalnya : Air power sangat tergantung dari pangkalan udara, sensitive terhadap cuaca, dan sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi. Kemampuan Inti (Care Capabilities) dari Air Power. Kemampuan Inti Air Power pada hakekatnya adalah menguraikan tentang apa yang dapat dikerjakan oleh kekuatan udara. Istilah “kemampuan” berarti mempunyai kecakapan tertentu. “Inti” berarti esensi, atau sumber dari segala sesuatu. Jadi “kemampuan inti air power” adalah kecakapan tertentu untuk digunakan sebagai kekuatan militer melalui dimensi ketiga (udara).

Ada 5 (lima) kemampuan inti kekuatan udara, yaitu :

a.      Pendayagunaan Informasi (Information exploitation).

b.      Pengendalian Udara (control of the air).

c.       Dampak Strategis Air Power (Strategic Effect of Air Power).

d.      Penggunaan Kekuatan Gabungan (Joint Forced Employment).

e.      Kemampuan secara terus menerus (Sustainability).

Dari kelima kekuatan inti air power tersebut, Pendayagunaan Informasi merupakan yang paling utama, karena keempat kemampuan yang lain akan bisa berfungsi manakala didukung oleh kemampuan pendayagunaan informasi (misalnya, kegiatan intelijen, pengamatan udara, pengintaian udara dan sebagainya). Agar operasi informasi tersebut dapat berhasil, memang diperlukan data-data intelijen yang akurat. Dengan data-data yang akurat maka kemampuan inti air power dapat dimanfaatkan untuk pengendalian udara, dan kemampuan-kemampuan yang lain.

Nilai Strategis Air Power

Konsep tentang “the Centre of Gravity” pertama kali disampaikan oleh Clausewitz yang mengatakan bahwa kekuatan darat merupakan ‘the hub of all power (kumpulan dari semua kekuatan)’. Namun pada saat ini the center of gravity (pusat kekuatan) musuh sudah terbagi menjadi berbagai bentuk kekuatan dan memiliki derajat kemampuan yang berbeda-beda. Yang jelas dan selalu dicari adalah nilai dan dampak strategisnya. Dampak strategis tersebut dihasilkan dari penghancuran kekuatan lawan dengan daya hancur yang besar dan menentukan. Dari sejarah telah dibuktikan bahwa hal dimaksud hanya bisa dicapai dengan menggunakan air power.

Kemampuan air power dalam mencapai sasaran dengan tepat, daya terobos yang cepat, sampai dengan daya hancur yang besar ke pusat-pusat sasaran terpilih ternyata memiliki dampak strategis yang sangat besar. Dampak strategis tersebut dapat dihasilkan karena air power mampu menghancurkan sasaran terpilih dengan akurasi yang sangat tinggi dan memiliki daya hancur yang sangat hebat. Contoh yang jelas, pada saat pesawat F-117 Stealth Fighter mampu langsung menyerang pada pusat sasaran di Baghdad, ibu kota Iraq, sehingga memiliki nilai dampak strategis yang sangat besar.

Ada empat pelajaran yang dapat ditarik dari penggunaan air power yang memiliki dampak strategis:

·         Air Power sebagai kekuatan pembuat shock. Pelajaran pertama yang dapat diambil bahwa daya shock yang ditimbulkan karena adanya daya pengeboman yang mampu menimbulkan kepanikan dan menurunkan moral penduduk setempat. Selain itu dampak lain yang terjadi adalah timbulnya efek psikologis yang besar bagi  penduduk setempat.

·         Dampak Terhadap Strategi Pertahanan Musuh. Pelajaran ke dua dengan dilaksanakannya pengeboman strategis akan dapat mempengaruhi moral penduduk setempat dan akhirnya strategi musuh yang sudah ditetapkan sebelumnya dalam melaksanakan operasi pertahanan menjadi terganggu dan bahkan bisa gagal sama sekali.

 ·         Dampak terhadap Kepemimpinan Setempat. Pelajaran ketiga, bahwa adanya pengeboman strategis maka reaksi masyarakat setempat akan dapat mempengaruhi kepemimpinan para pejabat di daerah tersebut.

·         Melaksanakan Beberapa Misi. Pelajaran keempat, dengan adanya kemampuan pesawat tempur yang multi roles maka air power mampu melaksanakan beberapa misi dengan sasaran terpilih berdasarkan skala prioritas. Apakah pesawat akan melaksanakan pemboman terlebih dahulu, baru penyekatan udara (intediction), dan kemudian serangan udara langsung (closed air support) atau urut-urutannya dirubah sedemikian rupa berdasarkan skala prioritas.

 Agar lebih jelas bagaimana dampak strategis yang dilaksanakan pada misi pengeboman, dibawah ini akan digambarkan perbedaan rencana kampanye militer (operasi darat, operasi laut, operasi udara, dan operasi khusus), dengan operasi pengeboman udara terhadap sasaran yang bernilai strategis.

 Beberapa tokoh air power dunia telah menyampaikan pendapatnya tentang kehebatan air power. Pendapat dari beberapa tokoh yang terkenal tersebut antara lain adalah sebagai berikut :

 ·         General H.H Hap Arnold dari USAAF (United States Army Air Force) pada waktu Perang Dunia Ke-II menyampaikan bahwa yang paling dipahami bahwa kehebatan air power terletak pada fleksibelitasnya yang tinggi karena asset air power dapat dialihkan dari tugas yang satu ke tugas yang lain dengan cepat.

 ·         General William ‘Billy’ Mitchell dari USAAF menyatakan bahwa pesawat terbang memiliki keunggulan dibandingkan dengan mesin perang yang lain karena mampu sebagai mesin penghancur dan sekaligus sebagai paying perlindungan. Karena setiap akan melaksanakan suatu operasi militer tanpa adanya perlindungan udara (air cover) justru akan menimbulkan resiko yang tinggi. Keyakinannya dibuktikan dengan eksperimennya menenggelamkan bekas kapal Jerman (yang berhasil ditangkap AS) dengan menjatuhkan bom seberat 2000 lbs di Norfolk pada tahun 1921.

 ·         General Giulio Douhet dari Italy mempunyai teori air power yang sangat dikenal yang ditulis pertama kali pada tahun 1921 dengan judul The Command of the Air. Dia menyatakan bahwa barang siapa yang memenangkan peperangan di udara dialah yang akan menang perang.

 ·         Viscount Montgomery of Alamein menyatakan bahwa ‘If we lose the war in the air, we lose the war and we lose it very quickly’ atau apabila kita kalah perang di udara, kita akan kalah perang dan kalah perang dengan cepat.

Pembangunan Air Power di Indonesia

Berbicara tentang pembangunan potensi dirgantara agar mampu me-lindungi kepentingan nasional, memang diakui akan memerlukan upaya yang sangat kompleks dan dengan biaya yang sangat mahal. Namun harus disadari bersama bahwa untuk mewujudkan kekuatan Sishanneg yang handal, ke-hadiran system pertahanan matra udara mutlak diperlukan. Oleh karenanya, diperlukan suatu pemikiran yang realities mengenai keseimbangan antara tuntutan kebutuhan system pertahanan matra udara dengan kemampuan nasional untuk dapat membangunnya, yang pada gilir-annya akan memberikan sumbangan yang sangat bermanfaat bagi bangsa dan negara yang kita cintai bersama.

Sebenarnya perkembangan air power di Indonesia telah terjadi sebelum kemerdekaan atau semasih dijajah oleh Belanda pada tahun 1900-an. Sebagai bukti, Indonesia terdapat begitu banyak lapangan terbang (lebih dari 900 buah lapangan terbang pada masa penjajahan Belanda). Pangkalan Andir yang sekarang bernama Husein Sastranegara misalnya, pada tahun 1900-an telah menjadi pang-kalan udara yang terbesar di Asia Tenggara. Bahkan Jalan Buah Batu di Bandung yang saat ini dipakai sebagai jalan raya, pada saat itu merupakan landasan yang mampu mendukung operasi udara.

Setelah kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, atau delapan bulan kemudian tepatnya pada tanggal 9 April 1946, Indonesia langsung membentuk Angkatan Udara dengan mendapatkan banyak pangkalan udara beserta berbagai jenis. Pesawat terbang yang  ditinggal begitu saja oleh penjajah Belanda. Begitu banyaknya asset udara tersebut namun disisi lain kita belum siap karena masalah Sumber Daya Manusia yang masih minim.

Terlepas dari asset udara yang begitu banyak ditinggalkan oleh Belanda, dikaitkan dengan kondisi saat ini, paling tidak ada 5 (lima) elemen dasar yang perlu dibina dan dikembangkan agar kita mampu memiliki kemampuan air power yang diandalkan. Kelima elemen dasar tersebut sebagai berikut :

1.      Sumber Daya Manusia (SDM). Memperhatikan jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar, diharapkan kita mampu menjaring diantara mereka yang memiliki air mindedness yang tinggi untuk diikutsertakan mengikuti pendidikan dan latihan secara bertahap, bertingkat dan berlanjut. Bagi SDM yang memiliki potensi kedirgantaraan memang harus dibina, diarahkan, dan dididik untuk bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin. SDM tersebut bisa berasal dari masyarakat penerbangan sipil, masyarakat yang ma mpu meningkatkan teknologi kedirgantaraan, dan masyarakat penggemar olah raga kedirgantaraan.

2.      Sumber Daya Alam dan Buatan.  Alat utama system senjata (Alutsista) dan peralatan yang digunakan untuk kepentingan Hankamneg di dirgantara pada dasarnya memerlukan fasilitas dan sarana pendukung. Sarana tersebut merupakan kekuatan cadangan material dan potensi nasional yang bernilai strategis, baik yang berasal dari sumber daya alam maupun sumber daya buatan. Namun demikian, kedua potensi tersebut baru akan menjadi suatu kekuatan nyata apabila tersedia industri kedirgantaraan yang mampu men-dukungnya dan mampu menghasilkan peralatan serta perlengkapan yang bisa merubah potensi tersebut menjadi sarana atau wahana yang bermanfaat. Salah satu sumber daya alam yang sangat berpotensi adalah karena posisi geostrategi Indonesia yang sangat menguntungkan.  Negara kita letaknya di garis khatulistiwa, sehingga 35% dari luas GSO berada diatas wilayah kita dari arah Timur ke Barat.  GSO tersebut telah di-manfaatkan oleh negara-negara yang me-miliki kemampuan teknologi kedirgantaraan dengan menempatkan satelit-satelit mereka di GSO. Seandainya kita mampu me-manfaatkannya dan menyediakan fasilitas yang diperlukan untuk peluncuran satelit ruang angkasa atau kita mampu menjadi ‘launching state’, maka kita akan menjadi negara yang memiliki potensi bisnis yang sangat menguntungkan.  Alasannya karena satelit-satelit yang diluncurkan dari wilayah khatulistiwa menuju ke GSO jarak tempuhnya adalah yang terpendek, oleh karena itu memperoleh nilai ekonomis yang tinggi.

3.      Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.  Pemanfaatan wilayah dirgantara dan sumber daya didalamnya hanya dapat dilakukan dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Oleh karena itu, keberhasilan pembangunan kedirgantaraan nasional akan ditentukan pula oleh besarnya kemampuan dalam pemanfaatan, pengembangan, dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi kedirgantaraan. Untuk mencapai tahapan tersebut, seluruh komponen matra dirgantara harus terus menerus menempa diri, mengejar ketinggalan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun ketrampilan yang diharapkan.

4.      Industri Kedirgantaraan. Industri kedirgantaraan yang dimaksudkan disini adalah industri yang menghasilkan produk-produk yang berguna bagi pemanfaatan wilayah dirgantara beserta sumber daya alam yang ada didalamnya, baik untuk kepentingan kesejahteraan umat manusia maupun keamanan negara. Industri kedirgantaraan terdiri dari dua kelompok besar, yang pertama adalah industri wahana dirgantara, misalnya kumpulan industri utama kedirgantaraan untuk menghasilkan pesawat terbang, rocket, satelit, dan balon udara.  Yang kedua, industri system kedirgantaraan berupa kumpulan industri pendukung yang mampu memproduksi komponen-komponen pesawat terbang termasuk kemampuan dalam melaksanakan over-haul pesawat terbang untuk tujuan mengurangi ketergantungan dari negara-negara pemasok alutsita.

5.      Jasa Kedirgantaraan.  Kebutuhan jasa kedirgantaraan, seperti halnya transportasi udara, telekomunikasi, pelayanan keselamatan terbang, pemeliharaan pesawat terbang, informasi prakiraan iklim dan cuaca, informasi geografi, survey dan pemetaan, serta SAR, sangatlah diperlukan. Oleh karena itu pada masa mendatang perlu penyiapan yang maksimal agar dapat menjamin berlangsungnya aktifitas kedirgantaan, baik untuk kepentingan militer maupun non militer.

Barangkali karena melihat letak geostrategik Indonesia yang sangat strategis dan memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar, diantaranya kekayaan alam laut, hutan, tambang dan mineral yang berlimpah ruah di tanah air kita, dan pertimbangan yang lain maka Prof. DR. Philip Kotler dalam bukunya ‘Marketing Management’ (the Millenium Edition) mengatakan bahwa ‘Five Countries expected to become economic super powers in the next millennium are India, Indonesia, Brazil, China, and Rusia’.

Berkaitan dengan kelima elemen dasar seperti yang telah diuraikan tersebut diatas, dengan memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang sangat besar, maka kita akan berhasil meningkatkan national air power.

Melihat luasnya wilayah Indonesia dan banyaknya pulau-pulau yang ada  maka pesawat angkut dan pesawat yang berkemampuan air surveillance sangat penting bagi kita baik bagi kepentingan pembangunan nasional maupun terwujudnya keamanan nasional (national security).  Berkaitan dengan peran ‘launching state’, maka tidak mustahil bahwa kita akan menjadi negara yang mampu membangun ekonomi dan menjadi negara yang kuat dari penyediaan fasilitas tersebut.  Karena dengan meningkatnya air power nasional berarti suatu pertanda bahwa tenaga kerja pasti akan dapat diserap, anak-anak industri atau industri pendukung akan bermunculan secara alamiah.  Negara juga akan mampu mengamati perkembangan situasi actual di tanah air melalui kegiatan air surveillance.  Berkaitan dengan pesawat angkut, semakin banyak kita memiliki pesawat angkut militer, maka dengan mudah dan cepat kemampuan penggelaran pasukan ke daerah-daerah yang memang memerlukan sarana tersebut (rapid force deployment capabilities).

Perlu Mengembangkan :

 Lima Elemen Dasar Air Power

 “Membangun potensi dirgantara agar mampu melin-dungi kepentingan nasional, memang diakui memerlukan upaya yang sangat kompleks dan biaya yang sangat mahal.  Namun harus disadari ber-sama, bahwa untuk mewu-judkan kekuatan Sishanneg yang andal, kehadiran sistem pertahanan matra udara dengan kemampuan nasional untuk dapat membangunnya, pada gilirannya akan mem-berikan sumbangan yang sangat bermanfaat bagi bangsa dan NKRI, yang kita cintai bersama”.(Marsekal TNI Chappy Hakim).

Sebenarnya  perkem-bangan air power di Indonesia telah terjadi sebelum kemerdekaan, saat masih dijajah oleh Belanda pada tahun 19200-an. Sebagai bukti, di Indonesia terdapat begitu banyak lapangan terbang (lebih dari 900 buah lapangan terbang). Pang-kalan Andir (sekarang Husein Sastranegara), mi-salnya, pada tahun 1900-an telah menjadi pangkalan udara yang tersebar di Asia Tenggara. Bahkan Jl. Buahbatu, Bandung, yang saat ini menjadi jalan raya, pada saat itu merupakan landasan pacu untuk mendukung operasi udara.  

Setelah Kemerde-kaan RI, 17 Augustus 1945, atau sekitar 8 bulan kemu-dian, tepatnya tanggal 9 April 1946, bangsa Indonesia langsung dan serentak membentuk Tentara Re-publik Indonesia Angkatan Udara (TNI AU– sekarang) dengan sejumlah fasilitas pangkalan udara beserta berbagai jenis pesawat terbang, yang ditinggal begitu saja oleh agresor (Belanda). Begitu banyak-nya aset udara tsb., namun di sisi lain kita belum siap karena masalah SDM yang masih minim, baik pener-bang maupun teknisinya.

Terlepas dari aset udara yang begitu banyak ditinggalkan oleh Belanda, dikaitkan dengan kondisi saat ini, paling tidak ada 5 (lima) elemen dasar yang perlu dibina dan dikem-bangkan agar kita memiliki kemampuan air power yang dapat diandalkan. Kelima elemen dasar tersebut terurai di bawah ini.

 

1.  Sumber Daya Manusia  (SDM).

Memperhatikan jumlah penduduk  Indonesia yang sangat besar, diharapkan kita mampu menjaring di antara mereka yang memiliki air min-dedness yang tinggi untuk diikutsertakan mengikuti pendidikan dan latihan secara bertahap, bertingkat dan berlanjut.  agar dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin.  SDM tersebut bisa berasal dari masyarakat penerbangan sipil, masyarakat yang mampu meningkatkan teknologi kedirgantaraan, dan masyarakat penggemar olah raga kedirgantaraan.

2. Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Buatan

Alat utama sistem senjata (alutsista) dan peralatan yang digunakan untuk kepentingan Han-kamneg di dirgantara pada dasarnya memerlukan fa-silitas dan sarana pendu-kung.  Sarana tersebut me-rupakan kekuatan cadang-an material dan potensi nasional yang bernilai strategis, baik yang berasal dari SDA maupun SDB. Namun demikian, kedua potensi tersebut baru akan menjadi suatu kekuatan nyata apabila tersedia industri kedirgantaraan yang mampu mendukung-nya dan mampu meng-hasilkan peralatan serta perlengkapan yang bisa mengubah potensi tersebut menjadi sarana atau wa-hana yang bermanfaat.  Sa-lah satu sumber daya alam yang sangat berpotensi adalah posisi geostrategi Indonesia yang sangat me-nguntungkan.  Negara kita letaknya di garis khatu-listiwa, sehingga 35% dari luas Geo Stationair Orbit (GSO) berada di atas wilayah kita dari arah Timur ke Barat.  GSO tersebut telah dimanfaatkan oleh negara yang memiliki kemampuan teknologi kedirgantaraan dengan menempatkan sa-telit-satelit mereka di GSO.  Seandainya kita mampu memanfaatkannya dan menyediakan fasilitas yang diperlukan untuk pelun-curan satelit ruang angkasa atau kita mampu menjadi “launching state”, maka kita akan menjadi negara yang memiliki potensi bisnis yang sangat menguntungkan.   Alasannya, karena satelit-satelit yang diluncurkan dari wilayah Khatulistiwa menuju ke GSO jarak tempuhnya adalah yang terpendek. Oleh karena itu memperoleh nilai ekonomis yang tinggi.

3.  Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 

Pemanfaatan wilayah dirgantara dan sumber daya di dalamnya hanya dapat dilakukan dengan menggunakan ilmu penge-tahuan dan teknologi.  Oleh karena itu, keberhasilan pembangunan kedirgan–araan nasional akan diten-tukan pula oleh besarnya kemampuan dalam pemanfaatan, pengembangan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi ke-dirgantaraan. Untuk men-capai tahapan tersebut, maka seluruh komponen matra dirgantara harus terus menerus menempa diri, mengejar ketinggalan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun ketrampilan yang diharapkan.

4. Industri Kedirgantaraan.         Industri kedirgantaraan yang dimaksudkan di sini adalah industri yang menghasilkan produk-produk yang berguna bagi pemanfaatan wilayah dir-gantara beserta SDA yang ada didalamnya, baik untuk kepentingan kesejahteraan umat manusia maupun keamanan negara.  Industri kedirgantaraan terdiri dari dua kelompok.           

Yang pertama, adalah industri wahana dir-gantara, misalnya kumpul-an industri utama kedir-gantaraan untuk meng-hasilkan pesawat terbang, roket, satelit, dan balon udara.            

Yang kedua, industri pendukung yang mampu memproduksi komponen-komponen pesawat terbang, termasuk kemampuan da-lam melaksanakan over-haul pesawat terbang untuk tujuan mengurangi keter-gantungan dari negara-negara pemasok alutsista udara.

5. Jasa Kedirgantaraan.           Kebutuhan jasa kedirgantaraan, seperti halnya transportasi udara, telekomunikasi, pelayanan keselamatan terbang, pe-meliharaan pesawat terbang, informasi prakiraan iklim dan cuaca, informasi geografi, survey dan pemetaan serta  SAR,  sangatlah diperlukan.  Oleh karena itu, pada masa mendatang perlu penyiapan yang maksimal agar dapat menjamin ber-langsungnya aktivitas ke-dirgantaraan, baik untuk kepentingan militer maupun non militer.

Barangkali karena melihat letak geostrategik Indonesia yang sangat strategis dan memiliki potensi SDA yang sangat besar, di antaranya ke-kayaan alam laut, hutan, tambang dan mineral yang berlimpah ruah, dan pertim-bangan lain, maka Prof. DR. Philip Kotler dalam bu-kunya “Marketing Management” (The Milenium Edition), mengatakan bahwa :

“Five Countries expected to became economic super powers in the next millenium are India, Indonesia, Brazil, China, and Rusia”. (Cetak tebal oleh Red).  

Berkaitan dengan ke-lima elemen dasar tsb. di atas, dengan potensi SDA yang melimpah  dan SDM yang sangat besar, maka kita akan berhasil meningkatkan national air power.           

Melihat luasnya wila-yah Indonesia dan ba-nyaknya pulau-pulau yang ada, maka pesawat angkut dan pesawat yang berke-mampuan air surveillance sangat penting bagi kita, baik bagi kepentingan pem-bangunan nasional mau-pun bagi terwujudnya keamanan nasional (national security).                                           Berkaitan dengan peran “launching state”, maka tidak mustahil bahwa kita akan menjadi negara yang kuat dari sisi penye-diaan fasilitas tsb. Karena, dengan meningkatnya air power nasional, berarti suatu pertanda bahwa tenaga kerja kita pasti akan dapat diserap, anak-anak industri atau industri pendukung akan bermunculan secara alamiah. Negara juga akan mampu mengamati per-kembangan situasi aktual di tanah air melalui kegiatan air surveillance.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: