Beranda » Kehidupan » Ketika Musibah Itu Datang

Ketika Musibah Itu Datang

Semua tertawa bergembira tatkala melihat dan mendengar  berita kelahirannya.

Semua terkejut, sedih dan menangis tatkala mendengar berita kematiannya yang sangat tiba-tiba.  Begitulah  kisah perjalanan hidup manusia.  Ada lahir, ada mati.  Betapa Maha BesarNya Allah….betapa Maha Memiliki Nya Allah.  Kita  semua pasti akan kembali pada yang Memiliki, tak kecuali……  Hanya saja, kelahiran dan  kematian adalah sebuah rahasia.  Sebuah misteri kehidupan yang tak satu pun manusia di bumi ini mampu mengetahui lebih dini.  Ketika kita  mulai diciptakan, maka sejak itulah sudah terjadi kontrak hidup dan kehidupan dari Allah Yang Maha Memiliki

Pagi itu, di cium keningku, kucium tangan suamiku, mengulum senyum, mencium anak-anak yang masih ngolat-ngolet dikasur dan lambaian tangan serta senyum  mengantar kepergiannya ke kantor.   Do’a memang selalu mengalir dihatiku, melepas kepergian suami dengan rasa plong…sudah biasa.  Tak kutemukan hal-hal aneh hari itu. Semua berjalan biasa.  Seperti biasa sebagai ibu rumah tangga, aku pun melanjutkan rutinitas pagi. Aku tahu hari ini mas Syahbudin latihan terakhir, ingin aku lihat tapi kok pekerjaan rumah belum selesai. Aku pikir toh nanti hari    Sabtu,30 Maret 2002 aku dan anak-anak pasti melihatnya. Yah, akhirnya aku urungkan niatku untuk melihat akrobatik tim Jupiter.

Waktu berjalan seiring peredaran matahari, tiba-tiba  hatiku dikejutkan suara gemuruh menggelegar keras sekali, betapa kaget hati ini.  Tapi sungguh tidak terpikir itu suatu musibah.  Aku pikir itu hanya suara latihan nge-bom. Mungkin latihan terakhior pakai bom, begitu yang terlintas dibenakku.  Kemudian suara  mbak Asih memanggilku, “Bu…bu…kenapa  kok asapnya hitam ?”  Lalu aku menjawab, “Ah..itu kan mungkin sisa-sisa asap dari bom tadi …” Sama sekali tidak terpikir itu bunyi kursi lontar atau pesawat jatuh. Sama sekali pikiranku bersih.

Lalu ku lanjutkan  kesibukkanku. Awalnya  perasaanku tenang, ketika pembantuku mendengar ada kecelakaan pesawat  lalu memberi tahu aku, aku masih tidak mungkin mbak.  Tapi ketika dering telpon memberi kabar bahwa ada kecelakaan pesawat, kacau sudah perasaanku.  Ditambah anakku Ersya menelpon dan bertanya “Ma, papah ku terbang nggak ?”  Oh, bertambah miris hati ini. Porak poranda hati ini.   

Dalam waktu  begitu cepat…..semua serba cepat…ternyata hari itu,kamis 28 Maret 2002 aku mendapat ujian dari-NYa. Inna lillahi wa inna illahi raji’un. Segala sesuat adalah milikNya, pasti akan kembali pada yang Memiliki.

 Ya Allah…kalau seandainya…ada malaikat yang memberitahuku bahwa suamiku akan dipanggil, pasti takkan kuijinkan ia pergi kemana pun.  Tapi siapa yang  mampu melakukannya ?  Kalau aku boleh memilih pasti aku inigi mendampinginya sepanjang waktu….tapi aku tidak dapat memilih.  Begitu singkat perjalanan keluarga kami.  Tak pernah kebayang  dalam benakku, musibah ini akan terjadi.

Jam demi jam, menit ke menit, dari detik berganti detik, segala peristiwa mengalir begitu teratur seperti derap langkah TNI berbaris.  Tegap…sigap…hingga  saat terkahir suami dikebumikan. Tapi aku…..?  Oh, sulit sekali rasanya untuk tegap dengan sikap sempurna mengiringi kepergian suami tercinta.

Oh…..rasanya aku tak percaya. Sungguh  sampai detik ini pun rasa tak percaya masih ada dalam pikiranku.  Ternyata……usailah sudah saat-saat indah yang akan kujelang bersama-sama anak-anak tuk mendampinginya……pupuslah sudah harapan yang akan  kujelang tuk melayaninya……..usai-usai-usailah semuanya. 

Aku dan dia sudah berpisah selama-lamanya…….Alam kami sudah beda….

Biarpun demikian, ia masih selalu bersama  kami.  Masih melihat kami, walau kami tak mampu merangkulnya, memeluknya, menciumnya  tapi kami yakin bahwa ia ada di sini bersama kami….dan do’a tulus ikhlas slalu  terus kami mohonkan.

Harapan kami hanya satu, semoga kelak disuatu hari nanti aku dan anak-anak akan bersatu, berkumpul lagi dalam kebahagiaan abadi di sana……

Begitulah…kedukaanku, kehilangan  orang yang sangat menyayangiku, mencintaiku dan orang yang sangat kucintai.  Dari kejadian ini….aku sadar bahwa semua makhluk di atas bumi ini hanya Allah yang memiliki.  Suami, anak, orang tua kita bukanlah milik kita.  Mereka semua memang orang yang  sangat kita sayangi, cintai…tapi ternyata kita hanya berhak sebatas mencintai dan menyayangi  saja, tidak lebih.  Karena mereka semua adalah  milikNya…kita tidak berhak memiliki.

Dari kejadian ini…..ada  banyak yang dapat direnungkan.  Sekedar introspeksi begitulah  kira-kira.  Dunia ini ternyata hanya tiga hari.  Hari kemarin, yaitu hari yang telah lewat dan sudah tidak ada lagi di tangan kesempatan untuk berbuat apa pun.  Hari Esok, yaitu hari dimana  kita tidak dapat mengetahuinya apa yang akan terjadi.  Dan Hari Sekarang, hari dimana kita sedang berada, sedang melakukan sesuatu dalam kehidupan kita, bisa berarti atau bahkan percuma.

Oleh sebab itu…ada baiknya kita pergunakan kesempatan  yang ada selama masih bernafas untuk banyak beribadah dan bertaubat sebelum Yang  Empunya memanggil kita.  Sebab ada kemungkinan nafas kita yang akan datang adalah nafas yang terakhir kali dan bahwa  seutama-utamanya  amal adalah menjaga waktu ketika masih bernafas. Barang siapa kehilangan waktunya berarti ia kehilangan umurnya. (Butir-butir mutiara hikmah, rasihin Abdul Gani)

Dalam  kesedihanku…..aku sadar bahwa aku tak boleh  larut terlalu jauh didalamnya.  Dalam duka lara….aku bersyukur, bahwa ini semua karena rasa sayang Nya pada kami.  Biarpun aku kehilangan suami tercinta, aku masih bersyukur, bahwa  aku masih  mendapat  kebahagiaan dari orang-orang yang menyanyangiku……orangtuaku,adik-adikku,saudara-saudaraku,tetanggaku

Bersyukur…itulah ungkapan yang dapat kurasakan.  Betapa tidak  Allah sudah memberi inilah yang terbaik buat suami tercinta juga buat aku serta anak-anakku.  Betapa bersyukurnya aku, ketika duka itu datang  aku masih punya kesempatan  merasakan kebahagiaan dalam do’a yang terus menerus mengalir.  Betapa sulitnya aku menuangkan rasa syukur itu dalam sebuah kalimat.  Syukurku ……ada di sini, di hati yang  lapang.

Betapa Allah Maha Besar, segala sesuatu terjadi dengan kehendakNya.

Aku bersyukur, ada pelita iman dalam hati. Sehingga aku masih mampu berdiri melaksanakan perintahMu. Aku masih bisa merasakan kasih sayang papa,mama dan ibuku.  Betapa tulus perhatian dan kasih sayang  rekan-rekan, handai tolan.

Tapi aku manusia biasa yang berperasaan, yang keimananku kadang naik-turun. Ketika 23 Mei 2002 berlalu….7  tahun pas aku dan mas Suhut bersatu membina keluarga.

Hatiku bertambah sedih. Rasanya belum puas aku mendampinginya, menemaninya belajar,bersenda gurau, bepergian bersama, masih banyak ingin kami perbaiki.  Kesedihan semakin terasa dengan 2 mutiara kami, ersya dan dhea.  Kasihan mereka, disaat-saat usianya sedang menempel dan mendapatkan figur-potret papahnya, ia pergi kembali pada Yang Memiliki.

Beginilah jika sudah terjadi, kita sebagai manusia  menjadi nyata bahwa kita adalah kecil.  Sudah menjadi rencana Allah Yang Maha Besar.  Ada apakah dibalik rencana Allah  ini ? Ya Rabbi…Allah Yang Maha  Perkasa, tak satu pun dari umat Mu yang bakal tahu  apa  arti dari musibah ini.  Tapi, waktu kan berjalan pastilah bagi orang-orang yang beriman akan tetap merasakan hikmah dibalik musibah ini.  Percayalah.

Besok, lusa atau entah  kapan selama  sisa waktu yang tersedia, pastilah  Allah akan memberi  kebahagiaan.

Sekarang aku hanya bisa menatap ke depan, kadang pula aku menunduk.  Pandangan mataku jauh menatap….mencari titik bumi.  Karena aku tahu, bahwa perjalanan hidupku masih panjang.  Dan masih saja aku berandai-andai…andai saja suamiku masih ada  disisiku bersama-sama meniti masa depan.  Menggandeng ersya dan dhea meraih cita dan cinta.  Seandainya saja ia ada, mungkin yang kutulis tidak seperti ini.  Andai saja ia  bersama kita, mungkin saja  aku masih merasakan dekapan dan pelukannya yang hangat sehingga aku merasa aman.  Kalau saja ia masih di sini, ersya dan dhea tak kan kehilangan figur papahnya serta perhatian dan tumpuan.  Mas suhut….lihat anak-anak kita, mereka masih terlalu dini untuk memahami peristiwa ini, mereka masih menanti  kau  pulang dan berkumpul.   Mas…kau tahu, ersya sekarang pandai menggambar.  Lihatlah ia menggambar peristiwa itu……Mas,  aku tahu….penantian kami sia-sia jika hanya  berharap kau kembali hidup.  Aku sadar bahwa itu adalah hal yang mustahil.  Aku ,ersya  dan  dhea  hanya sanggup meniti sisa umur ini dengan pasrah, berdo’a  serta meningkatkan keimanan-ketaqwaan kami agar ini semua bermanfaat dan sebagai jembatan  agar kita  dapat berkumpul bersama dalam kebahagiaan yang abadi.

“Inna Illahi Wa Inna Illaihi Rajiun”, Selamat jalan mas Syahbudin tercinta, Selamat Jalan Papa.  Semoga  Allah melindungimu  dan memberimu kebahagiaan.

 Ny. Erina SN. Hutasuhut – Istri dari Almarhum Kapten Pnb Syahbudin Nur Hutasuhut, senior di Skadron Udara 14.  ALm gugur saat latihan tim aerobatik di Lanud Iswahjudi tanggal 28 Maret 2002.

Teriring salam dan do’a keluarga,  Jl. Kenanga no.255  (blk Sapto Hudoyo Gallery) Jl.Laksda AdiSutjipto KM9 Maguwaharjo Yogyakarta.  Telp.(0274) 517760

 


1 Komentar

  1. suwanda mengatakan:

    Allah maha Kuasa atas segalanya. Allah memilih hambanya untuk diberi cobaan. Allah juga memilih hambanya untuk diberi pahala. Apa yang ada pada kita semua milik Allah. Maka jika Allah mengambilnya itu adalah hak-Nya. Kita hanya diwajibkan untuk tunduk dan ibadah kepada_nya. Kita boleh meminta, tapi Allah yang menentukan. saudaraku aku yakin engkau orang yang kuat sehingga engkaulah yang diberi cobaan oleh-Nya. Semoga Allah memberikan barokahnya untukmu. amiinn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: