Beranda » Teknologi » LIPNUR – Perintis Industri Kedirgantaraan

LIPNUR – Perintis Industri Kedirgantaraan

Sejak lama Indonesia telah dikenal dunia internasional sebagai negara yang mampu membuat pesawat terbang. Si Kumbang, Kunang, Kindjeng, Kolentang, Manjang adalah sebagian diantara pesawat-pesawat buatan Indonesia. Sesungguhnya kiprah bangsa Indonesia di bidang rancangan dan pembuatan pesawat terbang telah dimulai sejak awal kemerdekaan. Kemampuan para teknisi Angkatan Udara Indonesia yang sangat mengagumkan itu, sebenarnya justru karena menghadapi berbagai kesulitan dalam upayanya untuk “menghidupkan” pesawat-pesawat tua peninggalan penjajah Jepang.           

Para teknisi angkatan udara berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh suku cadang yang harus diperoleh dari luar negeri. Untuk memperoleh suku cadang yang dibutuhkannya itu, mereka berani menembus blokade Belanda dengan risiko kehilangan nyawa. Lamanya menunggu datangnya suku cadang itu, membuat para teknisi itu menjadi tidak sabar dan dengan peralatan sangat sederhana, mereka mencoba mencoba membuatnya sendiri. Dengan ketabahan dan kegigihannya itulah maka mereka mampu menghidupkan pesawat yang sangat diperlukan bagi kelangsungan perjuangan kemerdekaan. Itulah yang dilakukan oleh para teknisi angkatan udara dalam menyatakan cintanya kepada bangsa dan negaranya.

Ditekan oleh berbagai persoalan itu, ternyata justru memberikan gagasan yang briliyan bagi para teknisi itu, yaitu membuat pesawat terbang sendiri. Ide cemerlang itu juga dilandasi suatu keyakinan bahwa bangsa yang memiliki industri penerbangan yang kuat akan ampu menjamin ketangguhan kekuatan udara negaranya. Apabila hal itu dapat benar-benar terealisir, maka bangsa Indonesia tidak perlu lagi tergantung kepada negara lain untuk memenuhi kebutuhan pesawat terbnag maupun suku cadangnya.           

Dipelopori Opsir Oedara III Wiweko Supono dan Opsir Muda Oedara Nurtanio Pringgoadisuryo maka paa tahun 1946, dibentuklah Biro Rencana dan Konstruksi. Di bawah pembinaan Biro Rencana dan Konstruksi, para teknisi berhasil membuat 6 buah pesawat Glider. Beberapa pesawat terbang juga berhasil dibuat antara lain WEL-1 (Wiweko Experimental Light). Pesawat angkut ringan bertempat duduk satu orang ini, dibuat oleh Wiweko Supono. Pesawat  ini berhasil melakukan penerbangan perdananya, namun sangat disayangkan bahwa pesawat ini kemudian dirusak oleh orang tak dikenal. Sebuah pesawat Helikopter RI-H, dibuat oleh Sumarsono, namun gagal melakukan penerbangan percobaan, karena terlebih dahulu dihancurkan oleh penjajah Belanda yang menyerang Lanud Maospati pada tahun 1948.           

Selain melaksanakan tugasnya menyiapkan pesawat terbang angkatan udara, para teknisi itu juga membantu mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi para atlet olahraga dirgantara yang sedang tumbuh ketika itu, misalnya aeromodelling, terbang layang dan lain-lain. Mereka menyadari bahwa olahraga dirgantara itu perlu disebarluaskan kepada para generasi muda bangsa, agar tumbuh pemahaman yang mendalam tentang kedirgantaraan. Dari sini diharapkan tumbuh generasi muda patriot dirgantara nasional yang perkasa.           

Sulitnya memperoleh peralatan olahraga mendorong mereka untuk merancang dan membuat pesawat glider maupun pesawat angkut ringan. Untuk memenuhi kebutuhan ini, maka Nurtanio merancang dan membuat pesawat-pesawat luncur (glider) jenis Zogling NG-1.           

Semakin banyaknya kegiatan-kegiatan yang harus diselenggarakan oleh Biro Rencana dan Konstruksi ini mendorong dilakukannya reorganisasi menjadi Depot Penyelidikan, Percobaan dan Pembuatan. Tugas yang dibebankan kepada organisasi baru ini adalah merancang dan membuat pesawat glider, pesawat angkut ringan serta peralatan-peralatan militer lain untuk memenuhi kebutuhan operasi maupun pendidikan dan latihan angkatan udara.           

Pada tahun 1953 di bawah pimpinan Nurtanio Pringgoadisuryo, Depot ini mulai merancang sebuah pesawat terbang yang mampu melaksanakan tugas-tugas sebagai pesawat pengintai ringan bersenjata, yaitu NU-200 Sikumbang (Bee). Prototip pesawat berkapasitas satu orang ini, menggunakan mesin de havilland Gipsy VI berkekuatan 200 daya kuda, dan pada tanggal 1 Agustus 1945 berhasil melakukan uji terbang. Kemudian dibuat versi berikutnya yang dikenal dengan NU-225. Pesawat Si Kumbang-02 ini menggunakan mesin Continental O-470-A berkekuatan 225 daya kuda, berhasil melakukan uji terbang pada 25 September 1957.           

Sepanjang tahun 1957 dimulai pekerjaan modifikasi pesawat Piper L-4J agar dapat digunakan sebagai pesawat latih dasar, yang kemudian lebih dikenal sebagai NU-85 Belalang (Grasshopper). Apabila kegiatan modifikasi ini mampu menghasilkan pesawat yang lebih baik dari pesawat aslinya, maka semua pesawat Piper L-4J akan dimodifikasi menjadi NU-85 Belalang. Prototip pesawat ini berhasil melaksanakan uji terbang pada 17 April 1958. Selanjutnya dilaksanakan program modifikasi terhadap semua pesawat Piper L-4J menjadi Belalang, antara lain dengan mengganti mesin Continental 0-200-A model 90 (90 daya kuda) dengan mesin baru yang berkekuatan lebih besar (100 daya kuda) yaitu Continental 0-200-A model 90 A.           

Selain itu juga dilaksanakan pembuatan pesawat-pesawat Belalang-90, Kunang-25 (Firefly) yang menggunakan sebuah mesin Volkswagen 25 daya kuda, Super Kunang-35, Kunang-50, Kunang-60, Kindjeng-150, Kindjeng B-8m, Kolentang, dan helicopter Manjang.           

Pada bulan Agustus 1961, Depot Penyelidikan, Percobaan dan Pembuatan dikembangkan menjadi Lembaga Industri Penerbangan. Lembaga ini nantinya menggunakan nama Nurtanio untuk menghormati jasa-jasanya; Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (LIPNUR). Nurtanio sendiri meninggal karena kecelakaan pada saat melaksanakan test flight tanggal 21 Maret 1966. Lipnur melaksanakan pembuatan sebuah pesawat serbaguna PZL-104 Wilga setelah memperoleh lisensi dari pabriknya. Di Indonesia ini menggunakan  nama Gelatik (Rice Bird) dan sampai dengan tahun 1969 telah berhasil dibuat sebanyak 56 buah pesawat.           

Pada tanggal 23 Agustus 1976, pabrik pembuat pesawat terbang yang berlokasi di Lanud Husein Sastranegara, Bandung, ini dikembnagkan lagi menjadi PT Industri Pesawat Terbang Husein Sastranegara, Bandung, ini dikembangkan lagi menjadi PT. Industri pesawat Terbang Nurtanio (PT. IPTN). Setelah melakukan pembangunan berbagai fasilitas serta sarana dan prasarana yang diperlukannya, maka IPTN bekerjasama dengan pihak pabrikan, melaksanakan pembuatan berbagai jenis  pesawat terbang, misalnya Casa-212 Aviocar, Casa-235, NBO-105, NBK-117, BN-109, SA-330 Puma, NAS-332 Super Puma,Nbell-412 dan lain-lain. Keberhasilan membuat berbagai jenis pesawat N-250 dan N-2310, keduanya belum selesai dibuat ketika krisis menimpa Indonesia.           

Pada saat PT. IPTN telah berhasil menyelesaikan upaya efisiensinya maka dilakukan perubahan nama menjadi PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI/Iae). Walaupun tidak lagi menggunakan nama Nurtanio, namun tidak dapat disangkal bahwa adanya perusahaan ini tidak terlepas dari jasa Bapak Marsekal Nurtanio Pringgoadisurjo. Di lokasi dimana PT. DI saat ini berada, disitulah Bapak Nurtanio bersama teman-temannya mempelopori membangun sebuah industri pesawat terbang Indonesia.


3 Komentar

  1. islamarket.net mengatakan:

    wah dah lama gak denger dirgantara. perkembangannya sekarang gimana ya?

    • budhiachmadi mengatakan:

      industri dirgantara dan AU, perkembangannya tgt ekonomi dan kebijakan politik ya mas, hanya saya berharap keduanya akan sgr diakselerasi krn salah satu wujud kehormatan bangsa adlh bila memiliki kekuatan dalam keduanya

  2. Mas Muh mengatakan:

    Kalau bisa muain dong suku cadang Pesawat ringan biar mantep…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: